Pengaruh Elastisitas Permintaan Terhadap Penerimaan Total Usaha bukan sekadar teori ekonomi yang tersimpan rapi di buku teks. Konsep ini justru bernapas dalam setiap keputusan bisnis, dari warung kopi di sudut jalan hingga strategi multinasional. Memahami bagaimana respons konsumen terhadap perubahan harga dapat menjadi senjata rahasia untuk mengoptimalkan pendapatan, sebuah insight yang sering kali luput dari perhatian banyak pelaku usaha.
Dalam bisnis, memahami elastisitas permintaan adalah kunci strategi harga untuk memaksimalkan penerimaan total. Prinsip responsif terhadap perubahan ini mirip dengan cara ilmu pengetahuan memanfaatkan gelombang bunyi untuk berbagai keperluan, seperti yang dijelaskan dalam artikel Pemanfaatan Gelombang Bunyi: Deteksi Keretakan Logam, Umur Batuan, USG Janin, Kedalaman Laut. Sama seperti bunyi yang memberikan data pasti untuk diagnosa, analisis elastisitas memberikan kepastian bagi pengusaha dalam mengambil keputusan penetapan harga yang optimal demi menjaga kelangsungan usaha.
Pada dasarnya, elastisitas permintaan mengukur seberapa sensitif jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harganya. Apakah kenaikan harga justru akan menurunkan total penerimaan, atau malah meningkatkannya? Jawabannya sangat bergantung pada sifat elastis atau tidaknya produk yang ditawarkan. Artikel ini akan mengupas tuntas hubungan krusial tersebut, dilengkapi dengan contoh nyata dan panduan praktis untuk diterapkan langsung dalam mengelola usaha.
Konsep Dasar Elastisitas Permintaan: Pengaruh Elastisitas Permintaan Terhadap Penerimaan Total Usaha
Memahami bagaimana konsumen bereaksi terhadap perubahan harga bukanlah sekadar tebakan, melainkan sebuah ilmu yang dapat diukur. Ilmu ini dikenal sebagai elastisitas permintaan harga, sebuah konsep inti dalam ekonomi yang menggambarkan seberapa sensitif jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harganya. Dengan memahami elastisitas, pelaku usaha dapat memprediksi dampak dari keputusan penetapan harga terhadap volume penjualan, yang pada akhirnya menentukan kesehatan finansial bisnis.
Elastisitas permintaan harga dihitung sebagai persentase perubahan jumlah barang yang diminta dibagi dengan persentase perubahan harga. Rumus dasarnya dapat dituliskan sebagai berikut:
Elastisitas (Ed) = (% Perubahan Jumlah Diminta) / (% Perubahan Harga)
Hasil perhitungan ini menghasilkan sebuah angka yang disebut koefisien elastisitas. Angka inilah yang kemudian mengkategorikan respons permintaan ke dalam tiga kelompok utama: elastis, inelastis, dan elastis uniter. Masing-masing kategori memiliki karakteristik dan implikasi yang sangat berbeda bagi strategi bisnis.
Kategori Elastisitas Permintaan dan Karakteristiknya
Berdasarkan besaran koefisiennya, permintaan suatu barang dapat diklasifikasikan. Klasifikasi ini menjadi fondasi bagi hampir semua keputusan strategis terkait harga dan pemasaran. Sebuah permintaan dikatakan elastis ketika koefisiennya lebih besar dari satu, yang berarti respons kuantitas lebih besar daripada perubahan harga. Sebaliknya, permintaan inelastis memiliki koefisien kurang dari satu, menunjukkan konsumen kurang sensitif terhadap perubahan harga. Sementara itu, elastisitas uniter terjadi ketika koefisien sama persis dengan satu, di mana perubahan harga diimbangi secara proporsional oleh perubahan kuantitas.
| Kategori | Definisi | Koefisien (Ed) | Respons Kuantitas vs. Harga | Contoh Barang/Jasa |
|---|---|---|---|---|
| Elastis | Perubahan harga menyebabkan perubahan jumlah diminta yang lebih besar secara proporsional. | Ed > 1 | Sangat Responsif | Makanan mewah, liburan ke luar negeri, televisi merek tertentu. |
| Inelastis | Perubahan harga menyebabkan perubahan jumlah diminta yang lebih kecil secara proporsional. | Ed < 1 | Kurang Responsif | Bahan bakar minyak (BBM), obat-obatan penting, garam, beras. |
| Elastis Uniter | Perubahan harga menyebabkan perubahan jumlah diminta yang sama besarnya secara proporsional. | Ed = 1 | Proporsional Sempurna | Barang dengan banyak substitusi sempurna di pasar yang sangat kompetitif (jarang terjadi dalam skenario nyata). |
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat dengan mudah menemukan contoh dari setiap kategori ini:
- Permintaan Elastis: Ketika harga tiket pesawat ke Bali naik signifikan, banyak orang mungkin menunda atau membatalkan rencana mereka, beralih ke destinasi lain yang lebih murah atau moda transportasi berbeda. Konsumen memiliki banyak pilihan dan kemewahan untuk bersikap sensitif.
- Permintaan Inelastis: Kenaikan harga rokok akibat kenaikan cukai jarang sekali langsung menghentikan kebiasaan perokok berat. Demikian pula, ketika harga beras naik, rumah tangga umumnya tetap akan membelinya karena merupakan kebutuhan pokok, meski mungkin mengurangi konsumsi barang lain.
- Permintaan Elastis Uniter: Bayangkan sebuah warung kopi di kawasan yang padat dengan kedai kopi sejenis. Jika warung tersebut menaikkan harga kopinya sebesar 5% dan kehilangan tepat 5% pelanggannya yang beralih ke warung tetangga, maka permintaannya mendekati elastis uniter. Penerimaan total warung tersebut akan relatif stabil.
Hubungan Teoritis antara Elastisitas dan Penerimaan Total
Penerimaan total (Total Revenue/TR) adalah jantung dari setiap usaha, yang dihitung dari harga jual per unit dikalikan dengan jumlah unit yang terjual. Hubungan antara elastisitas permintaan dan penerimaan total ini bersifat paradoks dan sering kali kontra-intuitif. Banyak pengusaha berpikir bahwa menaikkan harga selalu akan meningkatkan pendapatan, namun kenyataannya sangat bergantung pada seberapa elastis permintaan atas produk mereka.
Inti dari hubungan ini terletak pada tarik-menarik antara dua variabel: harga (P) dan kuantitas (Q). Perubahan harga akan selalu mempengaruhi kuantitas yang diminta, dan efek bersihnya terhadap P x Q ditentukan oleh besarnya respons kuantitas tersebut, yang tak lain adalah elastisitas.
Dampak Perubahan Harga pada Penerimaan Total
Pada permintaan yang elastis (Ed > 1), persentase perubahan kuantitas lebih besar daripada persentase perubahan harga. Oleh karena itu, jika harga diturunkan, peningkatan kuantitas yang terjual akan sangat signifikan sehingga mampu menutupi penurunan harga per unit dan justru meningkatkan penerimaan total. Sebaliknya, menaikkan harga untuk barang elastis akan menyebabkan penurunan kuantitas yang drastis, sehingga penerimaan total malah merosot.
Sementara itu, pada permintaan yang inelastis (Ed < 1), konsumen kurang sensitif. Penurunan harga hanya akan menyebabkan peningkatan kuantitas yang kecil, sehingga tidak cukup untuk mengkompensasi pendapatan yang hilang dari harga yang lebih murah, alhasil penerimaan total menurun. Di sisi lain, menaikkan harga untuk barang inelastis justru menguntungkan karena penurunan kuantitas yang terjadi sangat minimal, sehingga kenaikan harga per unit berhasil meningkatkan penerimaan total secara keseluruhan.
Ilustrasi Kurva Permintaan Linier
Bayangkan sebuah kurva permintaan linier yang menurun dari kiri atas ke kanan bawah. Pada titik tinggi di kurva (harga mahal, kuantitas rendah), permintaan bersifat elastis. Area penerimaan total di sini dapat diperluas dengan menurunkan harga. Bergerak ke tengah kurva, terdapat titik di mana elastisitas tepat sama dengan satu (elastis uniter), di mana penerimaan total mencapai puncaknya. Melanjutkan pergerakan ke titik rendah di kurva (harga murah, kuantitas tinggi), permintaan berubah menjadi inelastis.
Di area ini, justru menaikkan harga akan meningkatkan penerimaan total, karena penambahan pendapatan dari kenaikan harga mengalahkan kerugian dari sedikitnya penurunan kuantitas.
Langkah Menentukan Strategi Harga Optimal
Untuk memanfaatkan pemahaman ini, pengusaha dapat mengikuti prosedur sistematis. Pertama, estimasi atau pelajari perkiraan elastisitas permintaan untuk produk Anda, baik melalui data historis, survei, atau studi pasar. Kedua, identifikasi di mana posisi harga Anda saat ini berada: apakah di area elastis, inelastis, atau mendekati titik elastis uniter. Ketiga, tentukan tujuan strategis: apakah ingin memaksimalkan penerimaan total, menguasai pasar (market share), atau tujuan lain.
Keempat, ambil keputusan harga: jika permintaan elastis, pertimbangkan penurunan harga untuk meningkatkan volume dan total pendapatan; jika permintaan inelastis, evaluasi ruang untuk menaikkan harga dengan hati-hati. Terakhir, selalu monitor dampaknya terhadap kuantitas terjual dan penerimaan total setelah perubahan harga diterapkan.
Faktor Penentu Elastisitas Permintaan dan Implikasinya
Tingkat elastisitas permintaan suatu produk bukanlah suatu kebetulan. Nilai tersebut dibentuk oleh serangkaian faktor struktural yang melekat pada sifat produk, pasar, dan perilaku konsumen. Memahami faktor-faktor ini memungkinkan pengusaha tidak hanya merespons elastisitas, tetapi juga secara aktif mempengaruhinya melalui strategi bisnis yang tepat.
Faktor-faktor ini berinteraksi secara kompleks, menentukan seberapa besar kekuatan tawar-menawar yang sebenarnya dimiliki oleh konsumen ketika menghadapi perubahan harga. Sebuah produk dengan banyak substitusi, misalnya, secara alami akan memiliki permintaan yang lebih elastis karena konsumen dapat dengan mudah berpindah pilihan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Elastisitas
Lima faktor utama yang paling sering berpengaruh adalah ketersediaan barang substitusi, proporsi pendapatan yang dihabiskan, sifat kebutuhan (pokok vs. mewah), jangka waktu analisis, dan tingkat kegunaan produk. Masing-masing faktor ini bekerja dengan mekanisme yang spesifik. Sebagai contoh, proporsi pendapatan yang dihabiskan mempengaruhi elastisitas karena perubahan harga pada barang yang menghabiskan anggaran besar (seperti mobil atau lemari es) akan lebih terasa dampaknya bagi rumah tangga, sehingga mereka akan lebih berhati-hati dan responsif dibandingkan dengan perubahan harga pada barang murah seperti korek api.
| Faktor Penentu | Penjelasan Mekanisme Pengaruh | Contoh Produk Elastis Tinggi | Contoh Produk Elastis Rendah |
|---|---|---|---|
| Ketersediaan Substitusi | Semakin banyak dan mirip barang pengganti, semakin mudah konsumen beralih saat harga naik, membuat permintaan lebih elastis. | Minuman soda merek A, aplikasi streaming video. | Bensin untuk kendaraan yang sudah dibeli, obat paten tertentu. |
| Proporsi Pendapatan | Barang yang menghabiskan porsi besar anggaran belanja cenderung memiliki permintaan lebih elastis, karena konsumen akan lebih selektif. | Perabotan besar, paket liburan. | Garam, pasta gigi, permen. |
| Sifat Kebutuhan | Barang kebutuhan pokok (necessities) permintaannya cenderung inelastis, sedangkan barang mewah (luxuries) bersifat elastis. | Jam tangan merek mewah, mobil sport. | Beras, air minum, listrik. |
| Jangka Waktu | Dalam jangka pendek, permintaan seringkali lebih inelastis karena konsumen butuh waktu untuk menyesuaikan perilaku. Dalam jangka panjang, elastisitas meningkat. | BBM (respons jangka pendek terbatas). | BBM (dalam jangka panjang, orang bisa pindah ke transportasi umum atau kendaraan listrik). |
| Tingkat Kegunaan/Kepentingan | Barang dengan kegunaan yang sangat khusus atau penting (misalnya, komponen industri vital atau alat medis) cenderung inelastis. | Barang umum dengan banyak alternatif. | Spare part khusus mesin pabrik, insulin bagi penderita diabetes. |
Implikasi bagi Pengambilan Keputusan Bisnis
Source: slidesharecdn.com
Pemahaman mendalam tentang faktor-faktor ini membuka ruang strategis yang jauh lebih luas daripada sekadar penetapan harga. Dalam hal pengembangan produk, menciptakan diferensiasi yang unik dapat mengurangi persepsi adanya substitusi, sehingga membuat permintaan menjadi lebih inelastis dan memberi perusahaan kekuatan harga yang lebih besar. Strategi pemasaran dapat difokuskan untuk mengubah persepsi produk dari “barang mewah” menjadi “kebutuhan” dalam benak konsumen. Manajemen rantai pasokan juga terpengaruh; untuk produk dengan permintaan elastis, efisiensi biaya produksi menjadi kritis untuk mempertahankan harga kompetitif, sementara untuk produk inelastis, ketahanan pasokan dan reliabilitas mungkin lebih penting.
Bahkan keputusan ekspansi ke pasar baru harus mempertimbangkan faktor-faktor elastisitas yang mungkin berbeda di wilayah tersebut.
Studi Kasus Penerapan dalam Dunia Usaha
Teori elastisitas menjadi sangat nyata dan memiliki konsekuensi finansial langsung ketika diterapkan dalam skenario bisnis konkret. Melalui perbandingan dua situasi yang berbeda, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana hukum ekonomi yang tampaknya abstrak itu bekerja dalam praktik, memberikan pelajaran yang tak ternilai bagi pengambilan keputusan.
Mari kita ambil contoh dua perusahaan fiktif yang menghadapi keputusan perubahan harga. Perusahaan pertama menjual produk yang permintaannya elastis, sementara perusahaan kedua bergerak di bidang dengan permintaan yang inelastis. Respons pasar terhadap keputusan yang sama—kenaikan harga—akan menghasilkan outcome yang bertolak belakang.
Skenario 1: Kafe “Nongski” (Produk dengan Permintaan Elastis)
Kafe “Nongski” menjual kopi spesialti di kawasan yang sangat padat dengan kafe sejenis. Harga secangkir Americano adalah Rp 30.000, dengan penjualan rata-rata 200 cangkir per hari. Manajemen mempertimbangkan untuk menaikkan harga menjadi Rp 33.000 (kenaikan 10%). Karena banyaknya substitusi, diperkirakan penjualan akan turun 20% menjadi 160 cangkir per hari.
Penerimaan Total Sebelum: Rp 30.000 x 200 = Rp 6.000.000/hari.
Penerimaan Total Setelah: Rp 33.000 x 160 = Rp 5.280.000/hari.
Perubahan: Penurunan Rp 720.000/hari.
Skenario 2: Apotek “Sehat” (Produk dengan Permintaan Inelastis)
Apotek “Sehat” menjual obat hipertensi generik tertentu yang dikonsumsi rutin oleh pasien. Harga per strip adalah Rp 25.000, dengan penjualan 150 strip per bulan. Apotek menaikkan harga menjadi Rp 27.500 (kenaikan 10%). Karena merupakan kebutuhan rutin dan biaya relatif terhadap pengobatan lain masih kecil, penjualan diperkirakan hanya turun 4% menjadi 144 strip per bulan.
Penerimaan Total Sebelum: Rp 25.000 x 150 = Rp 3.750.000/bulan.
Penerimaan Total Setelah: Rp 27.500 x 144 = Rp 3.960.000/bulan.
Perubahan: Peningkatan Rp 210.000/bulan.
Analisis Perbedaan Hasil, Pengaruh Elastisitas Permintaan Terhadap Penerimaan Total Usaha
Kenaikan harga 10% menghasilkan dua outcome yang berlawanan. Pada Kafe “Nongski”, penurunan kuantitas yang besar (20%) menghapus semua keuntungan dari kenaikan harga per unit dan malah merugikan. Sementara di Apotek “Sehat”, penurunan kuantitas yang sangat kecil (4%) tidak cukup untuk mengimbangi pendapatan ekstra dari harga yang lebih tinggi, sehingga penerimaan total naik. Perbedaan mendasar ini sepenuhnya disebabkan oleh sifat elastisitas permintaan dari masing-masing produk.
Pelajaran Strategis bagi Pengusaha
Dari kedua skenario ini, pelajaran utamanya adalah bahwa “satu ukuran tidak cocok untuk semua” dalam penetapan harga. Sebelum menaikkan atau menurunkan harga, penting untuk menilai terlebih dahulu karakteristik permintaan produk Anda. Menguji harga dalam skala kecil (A/B testing) bisa menjadi cara yang bijak untuk mengestimasi respons konsumen tanpa risiko besar. Selain itu, skenario ini menunjukkan bahwa memiliki permintaan yang inelastis adalah posisi strategis yang menguntungkan, yang dapat diraih melalui diferensiasi produk, membangun loyalitas, atau menguasai pasar barang kebutuhan.
Strategi Manajemen Berdasarkan Elastisitas
Pengetahuan tentang elastisitas permintaan harus diterjemahkan menjadi kerangka kerja strategis yang dapat ditindaklanjuti. Strategi ini tidak terbatas pada keputusan harga semata, tetapi mencakup seluruh aspek manajemen usaha, dari pemasaran hingga pengembangan produk, dengan tujuan akhir untuk menciptakan posisi kompetitif yang lebih kuat dan profitabilitas yang berkelanjutan.
Inti dari strategi ini adalah keselarasan. Setiap tindakan yang diambil harus selaras dengan sifat permintaan yang dihadapi, atau secara aktif berusaha untuk memodifikasinya ke arah yang lebih menguntungkan bagi bisnis. Sebuah perusahaan dengan produk elastis akan menjalankan playbook yang sangat berbeda dibandingkan dengan perusahaan yang produknya inelastis.
Panduan Strategi Penetapan Harga
Untuk barang dengan permintaan elastis, strategi harga harus berfokus pada volume. Penetapan harga penetrasi (penetration pricing) dengan harga awal yang kompetitif dapat digunakan untuk merebut market share. Diskon, promo bundling, dan program loyalitas berbasis volume sangat efektif untuk mendorong peningkatan kuantitas terjual. Prinsipnya adalah menjaga harga agar tetap menarik dibandingkan substitusi yang banyak tersedia. Sebaliknya, untuk barang dengan permintaan inelastis, perusahaan memiliki lebih banyak kelonggaran (pricing power).
Strategi harga premium (premium pricing) dapat diterapkan jika didukung oleh merek yang kuat atau keunikan produk. Kenaikan harga bertahap sering kali dapat dilakukan tanpa mengorbankan volume penjualan yang signifikan, asalkan kenaikan tersebut dapat dijustifikasi.
Taktik Non-Harga untuk Memodifikasi Elastisitas
Cerdiknya, perusahaan tidak harus pasrah menerima tingkat elastisitas yang ada. Melalui taktik non-harga, elastisitas permintaan dapat “dikendalikan”. Diferensiasi produk yang kuat—baik melalui fitur, desain, kualitas, atau pelayanan—menciptakan persepsi bahwa tidak ada substitusi yang benar-benar setara, sehingga membuat permintaan menjadi lebih inelastis. Membangun loyalitas merek (brand loyalty) yang emosional membuat konsumen kurang sensitif terhadap harga pesaing. Investasi dalam pengalaman pelanggan yang unik juga menciptakan switching cost yang tinggi.
Dalam dunia usaha, pemahaman mendalam tentang elastisitas permintaan sangat menentukan strategi penetapan harga dan penerimaan total. Prinsip ini ternyata juga relevan dalam industri kreatif, di mana proses seperti Langkah Pembuatan Karya Musik harus mempertimbangkan respons pasar terhadap harga tiket atau lagu. Dengan demikian, analisis ekonomi ini menjadi fondasi krusial bagi seniman untuk memaksimalkan pendapatan dari karya yang dihasilkan.
Selain itu, edukasi pasar tentang manfaat unik produk dapat menggeser persepsi produk dari komoditas menjadi kebutuhan spesifik.
Metrik untuk Mengestimasi Elastisitas
Untuk dapat menerapkan strategi ini, usaha perlu mengumpulkan data yang relevan. Estimasi elastisitas tidak harus sempurna, tetapi harus didasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
- Data penjualan historis: Catatan harga dan kuantitas terjual dari waktu ke waktu, terutama saat ada perubahan harga.
- Data pesaing: Harga produk substitusi langsung di pasar dan pergerakannya.
- Survei konsumen: Untuk mengukur maksud pembelian (purchase intent) pada berbagai tingkat harga (price sensitivity meter).
- Analisis market share: Perubahan pangsa pasar Anda relatif terhadap perubahan harga Anda atau pesaing.
- Data percobaan (A/B Testing): Hasil dari uji coba harga yang berbeda pada segmen pelanggan yang serupa.
Risiko Mengabaikan Elastisitas Permintaan
Mengabaikan faktor elastisitas dalam strategi bisnis ibarat berlayar tanpa memahami arah angin. Risiko yang paling langsung adalah kesalahan penetapan harga yang dapat memangkas profitabilitas secara drastis, seperti menaikkan harga untuk produk elastis atau memangkas harga untuk produk inelastis. Dalam jangka panjang, kegagalan untuk membangun diferensiasi akan membuat produk terperangkap dalam persaingan harga yang ketat (commoditization), di mana elastisitasnya sangat tinggi dan margin menjadi tipis.
Perusahaan juga dapat kehilangan peluang untuk memaksimalkan pendapatan dari produk-produk yang permintaannya sebenarnya inelastis. Yang paling berbahaya, pengabaian ini dapat menyebabkan misalokasi sumber daya, seperti menginvestasikan modal besar pada promosi untuk menaikkan harga produk yang elastis, tanpa menyadari bahwa strategi tersebut justru kontra-produktif.
Dalam kajian ekonomi, pemahaman mendalam tentang elastisitas permintaan menjadi kunci untuk mengoptimalkan penerimaan total usaha. Konsep ini, layaknya aturan tata bahasa dalam komunikasi, memerlukan ketelitian analisis yang bisa diasah melalui Latihan Pilihan Ganda Tata Bahasa Inggris. Dengan demikian, ketepatan dalam menganalisis respons konsumen terhadap perubahan harga, sebagaimana ketepatan berbahasa, secara langsung menentukan strategi bisnis yang efektif dan berdaya saing tinggi.
Penutupan
Dengan demikian, mengabaikan analisis elastisitas permintaan ibarat berlayar tanpa kompas di tengah laut bisnis yang kompetitif. Pemahaman mendalam tentang bagaimana konsumen merespons harga bukan lagi sebuah opsi, melainkan kebutuhan fundamental. Dari sini, pengusaha dapat merancang strategi yang tidak hanya reaktif terhadap pasar, tetapi juga proaktif dalam membentuknya, memastikan setiap keputusan harga yang diambil mampu mendorong pertumbuhan penerimaan total secara berkelanjutan dan cerdas.
Ringkasan FAQ
Bagaimana cara sederhana mengetahui apakah permintaan produk saya elastis atau inelastis?
Lakukan percobaan harga kecil-kecilan. Naikkan atau turunkan harga secara terukur (misalnya 5-10%) dalam periode tertentu, lalu amati perubahan volume penjualan. Jika persentase perubahan jumlah yang terjual lebih besar dari persentase perubahan harga, permintaan cenderung elastis. Jika perubahan jumlah terjual lebih kecil, permintaan cenderung inelastis.
Apakah elastisitas permintaan suatu produk bisa berubah dari waktu ke waktu?
Sangat bisa. Elastisitas bersifat dinamis dan dapat berubah seiring munculnya produk substitusi baru, perubahan selera konsumen, peningkatan pendapatan masyarakat, atau bahkan karena faktor musiman. Produk yang dulunya dianggap mewah dan inelastis bisa menjadi kebutuhan biasa dan lebih elastis seiring waktu.
Bagaimana dengan barang-barang prestise (Veblen Goods) yang justru lebih laku saat harganya naik?
Barang prestise adalah pengecualian dari hukum permintaan biasa dan memiliki elastisitas permintaan yang positif. Kenaikan harga justru meningkatkan nilai simbolis dan daya tariknya, sehingga permintaan bisa naik. Analisis elastisitas konvensional tidak sepenuhnya berlaku di sini, dan strategi harganya bergantung pada persepsi eksklusivitas dan merek.
Apakah mempertimbangkan elastisitas permintaan hanya penting untuk penetapan harga?
Tidak. Pemahaman elastisitas juga krusial untuk strategi non-harga seperti pengembangan produk, program loyalitas, pemasangan iklan, dan penentuan saluran distribusi. Misalnya, untuk produk elastis, diferensiasi produk menjadi sangat penting untuk mengurangi sensitivitas harga konsumen.