Position Vectors and Perpendicular Distance from a Point to a Plane bukan sekadar rumus mati di buku teks, melainkan kunci untuk membuka visualisasi ruang tiga dimensi yang begitu dinamis. Konsep ini memungkinkan kita mengukur seberapa ‘jauh’ atau ‘dekat’ suatu objek terhadap sebuah permukaan datar imajiner di alam semesta koordinat, sebuah operasi fundamental yang menjadi tulang punggung dalam dunia desain grafis, robotika, hingga analisis arsitektural.
Dengan memahami vektor posisi sebagai ‘alamat’ suatu titik dan vektor normal sebagai ‘arah tegak’ suatu bidang, kita seolah-olah memiliki peta dan kompas navigasi di ruang matematika yang abstrak.
Diskusi ini akan mengajak Anda menyelami bagaimana kedua gagasan ini berpadu secara elegan. Mulai dari memahami persamaan bidang dalam dua format yang berbeda—vektor dan kartesian—hingga menurunkan rumus ajaib untuk menghitung jarak terpendek secara tegak lurus. Kita akan melihat bahwa di balik formula yang tampak kompleks, tersembunyi logika geometris yang sangat intuitif tentang proyeksi dan sudut siku-siku, dilengkapi dengan contoh penyelesaian masalah nyata yang memperkuat pemahaman.
Konsep Dasar Vektor Posisi dan Persamaan Bidang
Bayangkan kita berada di sebuah ruang kosong yang sangat luas, seperti ruang hampa di luar angkasa. Untuk memberi tahu seseorang di mana posisi kita, kita butuh sebuah patokan. Dalam matematika, patokan itu seringkali adalah titik asal atau origin, yang kita sebut titik O(0,0,0). Vektor posisi adalah “anak panah” yang dimulai dari titik O dan berujung di titik yang ingin kita tunjuk, misalnya titik A.
Konsep vektor posisi dan jarak tegak lurus dari titik ke bidang dalam matematika mengajarkan presisi dan sudut pandang absolut. Layaknya upaya memahami kompleksitas suatu sistem budaya dari sudut pandang yang tepat, kajian mendalam terhadap Sistem Kebudayaan Suku Osing di Banyuwangi memerlukan pendekatan yang terstruktur dan analitis. Demikian halnya, menentukan jarak terpendek dalam ruang vektor mensyaratkan ketepatan rumus dan pemahaman mendalam terhadap hubungan geometris antar elemen.
Jika koordinat A adalah (3, -1, 2), maka vektor posisinya, biasanya ditulis sebagai a atau OA, adalah (3, -1, 2). Vektor ini adalah bahasa fundamental untuk mendeskripsikan lokasi dalam ruang tiga dimensi.
Dari vektor posisi ini, kita bisa membangun objek yang lebih kompleks, seperti sebuah bidang datar. Sebuah bidang dalam ruang dapat didefinisikan dengan dua hal: sebuah vektor yang tegak lurus terhadapnya (disebut vektor normal, n), dan sebuah titik yang diketahui berada di bidang tersebut. Hubungan ini melahirkan dua bentuk persamaan yang sangat berguna.
Bentuk Vektor dan Kartesian Persamaan Bidang
Bentuk vektor persamaan bidang memanfaatkan perkalian titik (dot product). Jika n = (a, b, c) adalah vektor normal, dan titik A dengan vektor posisi a terletak pada bidang, maka untuk sembarang titik R(x, y, z) pada bidang, vektor AR akan tegak lurus terhadap n. Ini menghasilkan persamaan elegan: n ⋅ (r – a) = 0, atau n ⋅ r = n ⋅ a. Misalkan n ⋅ a = d, maka bentuk standarnya adalah n ⋅ r = d.
Dengan menuliskan r = (x, y, z) dan n = (a, b, c), persamaan vektor tersebut dapat diekspansi menjadi bentuk kartesian (atau skalar) yang lebih familiar: ax + by + cz = d. Perlu diperhatikan, seringkali bentuk ini ditulis sebagai ax + by + cz + D = 0, di mana D = -d. Kedua format ini sama-sama powerful, tetapi dengan kelebihan dan konteks penggunaan yang berbeda.
| Format Vektor (n ⋅ r = d) | Format Kartesian (ax + by + cz = d) |
|---|---|
| Secara geometris sangat intuitif, langsung menunjukkan vektor normal dan titik acuan. | Lebih mudah untuk mensubstitusi koordinat titik secara langsung. |
| Memudahkan operasi vektor seperti proyeksi dan pencarian sudut. | Praktis untuk menentukan posisi relatif titik dengan mensubstitusi ke persamaan. |
| Representasinya tidak unik; perkalian persamaan dengan skalar tetap menggambarkan bidang yang sama. | Koefisien a, b, c secara langsung merupakan komponen vektor normal. |
| Kurang langsung untuk menggambarkan grafik atau plot tanpa dikonversi terlebih dahulu. | Ketika D (atau d) bernilai nol, bidang pasti melalui titik asal, sebuah fakta yang langsung terlihat. |
Menentukan Persamaan Bidang dari Vektor Normal dan Sebuah Titik
Prosedur ini merupakan aplikasi langsung dari konsep. Misalkan diketahui vektor normal n = (2, -1, 3) dan titik A(1, 4, -2) yang dilalui bidang. Langkah pertama adalah menyusun bentuk vektor: n ⋅ (r – a) = 0 → (2, -1, 3) ⋅ (x-1, y-4, z+2) =
0. Selanjutnya, kita hitung perkalian titiknya: 2(x-1) + (-1)(y-4) + 3(z+2) =
0. Disederhanakan, diperoleh 2x – 2 – y + 4 + 3z + 6 = 0, yang akhirnya menjadi persamaan kartesian: 2x – y + 3z + 8 = 0.
Proses ini menunjukkan bagaimana informasi geometris (vektor normal dan sebuah titik) diubah menjadi persamaan aljabar yang dapat dimanipulasi.
Jarak Terpendek dari Titik ke Bidang: Formula dan Turunan
Pertanyaan klasik dalam geometri analitik adalah: seberapa jauh sebuah titik dari sebuah bidang? Jarak yang dimaksud selalu merujuk pada jarak tegak lurus atau terpendek, karena garis tegak lurus adalah lintasan terpendek menuju bidang. Konsep ini bukan hanya abstraksi matematis, tetapi fondasi dalam navigasi, grafika komputer untuk rendering, dan analisis kesalahan dalam rekayasa.
Penurunan Rumus Jarak Tegak Lurus
Source: geeksforgeeks.org
Misalkan kita memiliki bidang π dengan persamaan ax + by + cz + D = 0 (dengan vektor normal n = (a, b, c)) dan titik P(x₁, y₁, z₁) di luarnya. Kita ingin mencari panjang ruas garis yang ditarik dari P tegak lurus ke bidang, misalnya berujung di titik Q. Vektor QP (dari Q ke P) sejajar dengan vektor normal n.
Jarak d yang kita cari adalah panjang proyeksi vektor dari sembarang titik di bidang (sebut saja R dengan vektor posisi r₀) ke titik P, pada arah vektor normal. Secara vektor, d = | n ⋅ (p – r₀)| / || n||. Karena R terletak di bidang, memenuhi a·x₀ + b·y₀ + c·z₀ = -D. Dengan melakukan manipulasi aljabar, bentuk ini dapat disederhanakan menjadi rumus sakti yang terkenal:
d = |ax₁ + by₁ + cz₁ + D| / √(a² + b² + c²)
Rumus ini secara ajaib mengompresi seluruh proses geometri proyeksi menjadi satu baris perhitungan aritmetika.
Ilustrasi Proses Geometri Proyeksi
Bayangkan sebuah sinyal laser yang dipancarkan dari titik P tepat tegak lurus ke arah sebuah dinding (bidang). Titik dimana sinyal itu mengenai dinding adalah Q. Untuk menemukan Q, kita seolah-olah “menarik” titik P sepanjang garis yang sejajar dengan vektor normal bidang hingga menyentuh bidang. Panjang tarikan inilah jarak d. Dalam kalkulasi vektor, kita membutuhkan vektor normal yang telah dinormalisasi (panjangnya 1).
Jaraknya kemudian adalah nilai absolut dari perkalian titik antara vektor normal satuan ini dengan vektor yang menghubungkan titik di bidang ke P. Rumus di atas telah melakukan normalisasi (dibagi √(a²+b²+c²)) dan perhitungan perkalian titik (ax₁+by₁+cz₁+D) secara sekaligus.
Kondisi Khusus dalam Perhitungan Jarak
Beberapa skenario memerlukan perhatian khusus. Pertama, jika hasil substitusi koordinat P ke persamaan bidang (ax₁ + by₁ + cz₁ + D) menghasilkan nol, maka titik P terletak persis di bidang, dan jaraknya adalah
0. Kedua, rumus di atas sudah mencakup normalisasi. Jika kita menggunakan vektor normal yang belum ternormalisasi, kita harus membaginya dengan panjang vektor normal tersebut, sebagaimana terlihat pada penyebut √(a²+b²+c²).
Mengabaikan langkah ini akan menghasilkan nilai yang bukan jarak sebenarnya. Ketiga, tanda dari (ax₁ + by₁ + cz₁ + D) sebelum diambil nilai absolutnya menyimpan informasi: ia menunjukkan di sisi mana titik P berada relatif terhadap bidang, sesuai dengan arah vektor normal.
| a, b, c, D | Titik P (x₁, y₁, z₁) | Nilai ax₁+by₁+cz₁+D | Jarak d |
|---|---|---|---|
| 2, -1, 3, 8 | (1, 4, -2) | 2(1) -1(4) +3(-2) +8 = 0 | 0 (titik di bidang) |
| 1, 2, 2, -12 | (1, 1, 1) | 1(1)+2(1)+2(1)-12 = -7 | |-7|/√(1+4+4) = 7/3 |
| 0, 0, 1, -5 | (3, -10, 7) | 0(3)+0(-10)+1(7)-5 = 2 | |2|/√(0+0+1) = 2 |
| 1, -1, 1, 0 | (2, 3, 4) | 1(2)-1(3)+1(4)+0 = 3 | |3|/√(1+1+1) = √3 |
Penyelesaian Masalah Terkait Vektor Posisi dan Jarak: Position Vectors And Perpendicular Distance From A Point To A Plane
Kekuatan sejati dari konsep vektor posisi dan rumus jarak terlihat ketika kita menerapkannya untuk menyelesaikan masalah geometri yang lebih kompleks. Dari mencari jarak antara dua bidang sejajar hingga menemukan bayangan sebuah titik, pendekatan vektor memberikan metode yang sistematis dan elegan.
Jarak antara Dua Bidang Sejajar
Dua bidang dikatakan sejajar jika vektor normalnya saling sejajar (sama atau kelipatan skalar). Untuk mencari jaraknya, kita cukup mengambil satu titik sembarang dari salah satu bidang, lalu menghitung jarak titik tersebut ke bidang yang satunya menggunakan rumus standar. Misalnya, bidang π₁: 2x – 3y + 6z = 14 dan π₂: 2x – 3y + 6z = -5. Vektor normalnya identik, (2, -3, 6).
Pilih titik yang mudah pada π₁, misalnya dengan mensubstitusi y=0 dan z=0, didapat x=7, jadi titik P(7,0,0). Jarak P ke π₂ adalah d = |2(7) -3(0) +6(0) +5| / √(4+9+36) = |14+5|/7 = 19/7. Jadi, jarak antara kedua bidang sejajar itu adalah 19/7 satuan.
Mencari Bayangan (Refleksi) Titik terhadap Bidang, Position Vectors and Perpendicular Distance from a Point to a Plane
Mencari bayangan titik P terhadap bidang adalah mencari titik P’ sedemikian sehingga bidang merupakan garis bagi tegak lurus ruas garis PP’. Langkah-langkahnya terstruktur:
- Hitung jarak d dari titik P ke bidang menggunakan rumus.
- Tentukan vektor normal satuan û dari bidang. û = (a, b, c) / √(a²+b²+c²).
- Jika titik P berada di “sisi positif” bidang (nilai ax₁+by₁+cz₁+D > 0), maka bayangan P’ diperoleh dengan bergerak dari P sejauh 2d dalam arah berlawanan dengan û. Secara vektor: p’ = p – 2d û.
- Jika titik P berada di “sisi negatif”, maka bergerak sejauh 2d searah dengan û: p’ = p + 2d û.
Rumus umum yang menggabungkan kedua kasus adalah p’ = p – 2
– ( (ax₁+by₁+cz₁+D) / (a²+b²+c²) )
– (a, b, c) .
Verifikasi Posisi Garis terhadap Bidang
Untuk memeriksa hubungan sebuah garis dan sebuah bidang, vektor posisi menjadi alat yang ampuh. Diberikan garis dengan persamaan parametrik r = r₀ + t v dan bidang ax+by+cz+D=0.
Konsep vektor posisi dan jarak tegak lurus dari titik ke bidang, yang fundamental dalam geometri analitik, ternyata memiliki aplikasi praktis yang mengejutkan. Prinsip untuk menghitung jarak terdekat ini dapat dimanfaatkan dalam desain teknis, misalnya untuk mengoptimalkan insulasi dan ketebalan material pada Tangki Air Panas Berbentuk Tabung Dua Lapis. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang bidang dan titik dalam ruang vektor menjadi kunci dalam merancang solusi engineering yang efisien dan presisi.
- Garis Sejajar Bidang: Vektor arah garis v harus tegak lurus terhadap vektor normal bidang n. Artinya, perkalian titik v ⋅ n harus sama dengan nol. Selain itu, satu titik pada garis (misal r₀) tidak boleh terletak pada bidang (substitusi tidak menghasilkan nol).
- Garis Terletak pada Bidang: Dua kondisi harus dipenuhi. Pertama, v ⋅ n = 0 (garis sejajar bidang). Kedua, satu titik pada garis (misal r₀) harus memenuhi persamaan bidang (substitusi menghasilkan nol). Jika kedua syarat terpenuhi, maka seluruh garis berada di dalam bidang.
Jarak Titik Asal ke Sebuah Bidang
Kasus khusus yang sering muncul adalah menghitung jarak dari titik asal O(0,0,0) ke bidang ax+by+cz+D=
0. Substitusi langsung ke rumus memberikan d = |a·0 + b·0 + c·0 + D| / √(a²+b²+c²) = |D| / √(a²+b²+c²). Hasil ini sangat interpretatif: besarnya konstanta D (setelah dinormalisasi oleh panjang vektor normal) secara langsung merepresentasikan jarak bidang dari titik asal. Jika D=0, bidang pasti melalui titik asal.
Visualisasi dan Interpretasi Geometris
Memahami geometri di balik rumus adalah kunci untuk menguasai konsep ini. Bayangkan vektor normal bidang sebagai sebuah tiang yang berdiri tegak lurus di atas permukaan bidang yang rata. Jarak dari sebuah titik ke bidang adalah panjang bayangan tiang tersebut jika kita menyorotkan titik itu ke arah yang sejajar dengan tiang hingga menyentuh bidang.
Hubungan Geometris Titik, Vektor Normal, dan Jarak
Vektor normal n memberikan orientasi kemiringan bidang dalam ruang. Setiap titik di ruang, melalui koordinatnya, memiliki “skor” ketika dinilai oleh persamaan bidang (ax+by+cz+D). Nilai absolut skor ini, setelah dinormalisasi, adalah jarak fisik tegak lurusnya. Tanda skor tersebut menunjukkan di sisi mana titik itu berada; semua titik dengan skor positif berada di satu sisi, yang negatif di sisi berlawanan, dan yang nol tepat berada di permukaan bidang.
Bayangkan bidang sebagai permukaan laut (level 0). Vektor normal menunjukkan arah “atas”. Titik dengan skor positif seperti perahu di atas laut, skor negatif seperti ikan di bawah laut, dan besarnya skor adalah kedalaman atau ketinggiannya.
Dalam geometri analitik, konsep vektor posisi dan jarak tegak lurus dari titik ke bidang memberikan kerangka matematis yang presisi untuk mengukur ruang. Namun, penerapan konsep ini dalam konteks nyata, seperti saat kita perlu Tolong Saya, Teman‑Teman , mengingatkan bahwa solusi seringkali lahir dari kolaborasi. Pada akhirnya, ketepatan perhitungan vektor dan jarak tersebut tetap menjadi fondasi untuk memetakan dan menyelesaikan berbagai persoalan teknis yang kompleks.
Analog Proyeksi Ortogonal dalam Dunia Nyata
Konsep proyeksi titik ke bidang mirip dengan cara bayangan kita bekerja di bawah sinar matahari tengah hari. Saat matahari tepat di atas kepala (berada di arah tegak lurus tanah), bayangan kita adalah proyeksi tegak lurus tubuh kita ke atas tanah. Titik di ujung kepala kita diproyeksikan menjadi sebuah titik di tanah tepat di bawahnya. Panjang dari kepala ke titik bayangan di tanah itu adalah “jarak” dari titik (kepala) ke bidang (tanah).
Dalam grafika komputer, proses serupa digunakan untuk menentukan bagaimana sebuah objek 3D akan terlihat pada layar 2D (bidang proyeksi).
Permasalahan Kontekstual dalam Desain Arsitektur
Seorang arsitek merancang atap sebuah gazebo berbentuk bidang miring dengan persamaan 2x + y + 2z – 10 = 0 (dalam meter, relatif terhadap suatu sistem koordinat). Sebuah lampu hias akan digantung pada titik P(1, 2, 5). Untuk memastikan lampu tidak menyentuh atap dan memiliki ruang yang cukup, arsitek perlu menghitung jarak tegak lurus lampu ke atap. Dengan rumus, d = |2(1) + 1(2) + 2(5)
-10| / √(4+1+4) = |2+2+10-10|/3 = 4/3 ≈ 1.33 meter.
Ini berarti lampu berada sekitar 1.33 meter di atas atap (karena hasil substitusi positif), informasi kritis untuk menentukan panjang kabel yang aman.
Interpretasi Tanda dari Rumus Jarak
Nilai pembilang sebelum diabsolutkan, S = ax₁ + by₁ + cz₁ + D, bukanlah sekadar bagian dari perhitungan. Ia adalah besaran bernilai tanda (signed distance). Jika vektor normal (a,b,c) dianggap menunjukkan arah “sisi positif” dari bidang, maka:
- S > 0: Titik P berada di sisi positif bidang (searah dengan n).
- S = 0: Titik P persis di bidang.
- S < 0: Titik P berada di sisi negatif bidang (berlawanan arah dengan n).
Dengan demikian, rumus d = |S|/|| n|| memberikan jarak mutlak, sementara S/|| n|| memberikan jarak bertanda, yang berguna dalam algoritma komputer grafis untuk menentukan visibilitas atau sisi mana yang dilihat.
Latihan dan Penerapan Lanjutan
Untuk mengasah pemahaman, cobalah menyelesaikan latihan berikut. Soal-soal ini dirancang bertingkat, mulai dari penerapan rumus langsung hingga memadukan beberapa konsep.
Latihan Soal Bertingkat
Mudah: Diketahui bidang 3x – 4z – 9 = 0. Hitunglah jarak dari titik (1, -2, 5) ke bidang tersebut.
Petunjuk: Pastikan persamaan bidang dalam bentuk ax+by+cz+D=0 (b=0). Gunakan rumus langsung.
Sedang: Tentukan persamaan bidang yang melalui titik (1, 2, 3) dan sejajar dengan bidang 2x – y + 3z + 6 = 0. Selanjutnya, hitung jarak antara kedua bidang sejajar itu.
Petunjuk: Bidang sejajar memiliki vektor normal yang sama. Gunakan titik yang diberikan untuk menentukan konstanta D bidang baru. Lalu, gunakan prosedur jarak antar bidang sejajar.
Sulit: Titik A(2, -1, 3) direfleksikan terhadap bidang x – 2y + 2z – 4 = 0 menghasilkan titik A’. Tentukan koordinat A’. Kemudian, hitunglah volume balok yang dibentuk oleh vektor OA, OA’, dan vektor normal bidang tersebut (O adalah titik asal).
Petunjuk: Gunakan rumus refleksi titik terhadap bidang. Volume balok dapat dihitung dengan nilai absolut dari triple scalar product (|(OA × OA’) ⋅ n|).
Perbandingan Metode Mencari Jarak
| Metode Rumus Langsung | Metode Proyeksi Vektor | Metode Optimasi (Minimasi) |
|---|---|---|
| Cepat, praktis, hanya membutuhkan substitusi aritmetika. Sangat efisien untuk perhitungan tunggal. | Memanfaatkan definisi geometris: d = |compn RP|. Membutuhkan vektor normal n dan vektor dari titik di bidang (R) ke titik P. | Menggunakan kalkulus dengan meminimalkan fungsi kuadrat jarak dari titik P ke titik sembarang Q(x,y,z) pada bidang. Paling umum secara konseptual tetapi paling berat komputasinya. |
| Kurang memberikan insight geometris secara langsung. Kesalahan mudah terjadi jika lupa menormalisasi (menghitung penyebut). | Secara visual lebih jelas, langsung bekerja dengan vektor. Membutuhkan pemahaman konsep proyeksi dan titik pada bidang. | Berguna dalam masalah optimasi yang lebih umum, misalnya mencari titik terdekat pada permukaan kurva. Jarang digunakan untuk bidang karena ada rumus langsung yang lebih sederhana. |
| Terbaik untuk penyelesaian soal eksak dan implementasi algoritma komputer yang sederhana. | Bagus untuk pembuktian dan pemahaman konsep, serta ketika informasi diberikan dalam format vektor. | Lebih merupakan pendekatan umum yang dapat diterapkan pada berbagai permukaan, bukan hanya bidang datar. |
Konsep dalam Persamaan Bola yang Menyinggung Bidang
Konsep jarak titik ke bidang adalah jantung dari pencarian persamaan bola yang menyinggung sebuah bidang. Misalkan kita ingin bola dengan pusat C(p, q, r) menyinggung bidang π: ax+by+cz+D=
0. Syarat singgungnya adalah jarak dari pusat bola C ke bidang π harus persis sama dengan jari-jari bola R. Dengan demikian, kita memiliki persamaan: R = |ap + bq + cr + D| / √(a²+b²+c²).
Jika pusat dan jari-jari diketahui, kita bisa memeriksa hubungannya dengan bidang. Jika pusat dan bidang diketahui, kita dapat menentukan jari-jari bola singgung. Ini banyak digunakan dalam pemodelan gelembung, lensa, atau dalam algoritma collision detection.
Bukti Terpadu Rumus Jarak Menggunakan Dot Product
Bukti elegan rumus jarak dapat disusun dengan rapi menggunakan vektor posisi. Misalkan bidang π diberikan oleh n ⋅ r = d, dengan n sebagai vektor normal. Ambil titik P dengan vektor posisi p dan titik Q pada bidang dengan vektor posisi q. Vektor QP adalah p – q. Jarak dari P ke bidang adalah panjang komponen vektor QP yang sejajar dengan n, yaitu |comp n QP| = |(p – q) ⋅ û|, di mana û adalah vektor normal satuan.
Karena Q di bidang, n ⋅ q = d. Maka:
d = |(p – q) ⋅ (n/|| n||)| = |(p ⋅ n
-q ⋅ n)/|| n||| = |(p ⋅ n
-d)| / || n||
Dengan menuliskan p = (x₁, y₁, z₁) dan n = (a, b, c), serta mengingat d dalam bentuk kartesian sering ditulis sebagai -D, kita sampai pada bentuk klasik: d = |ax₁ + by₁ + cz₁ + D| / √(a²+b²+c²). Bukti ini memadukan vektor posisi, produk titik, dan konsep proyeksi menjadi satu kesatuan yang koheren.
Kesimpulan
Dengan demikian, penguasaan atas vektor posisi dan perhitungan jarak tegak lurus ke sebuah bidang bukan lagi sekadar pencapaian akademis, melainkan penguasaan sebuah alat berpikir yang ampuh. Konsep ini memberikan presisi dalam mendeskripsikan hubungan spasial, memungkinkan kita untuk merefleksikan titik, mengukur kesejajaran, dan bahkan merancang geometri yang presisi dalam aplikasi teknologi mutakhir. Pada akhirnya, pemahaman mendalam ini mengajarkan bahwa dalam kekakuan angka dan rumus, terdapat keindahan logika yang mampu memetakan realitas ruang di sekitar kita.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah jarak yang dihitung selalu bernilai positif?
Ya, jarak sebagai besaran skalar selalu bernilai positif atau nol. Rumus yang melibatkan nilai absolut (|ax1 + by1 + cz1 + d|) menjamin hasil non-negatif. Namun, nilai di dalam tanda absolut bisa positif atau negatif, yang memberikan informasi di sisi mana titik tersebut berada relatif terhadap bidang.
Bagaimana jika vektor normal bidang yang diketahui belum berupa vektor satuan (belum ternormalisasi)?
Rumus jarak standar ax+by+cz+d=0 sudah mengakomodasi hal ini. Penyebut √(a²+b²+c²) secara otomatis menormalisasi pengaruh vektor normal. Jika Anda menggunakan bentuk n · r = d dengan n yang bukan vektor satuan, maka rumus jaraknya menjadi |n · r – d| / |n|.
Apakah konsep ini bisa dipakai untuk menghitung jarak dari garis ke bidang?
Ya, dengan syarat garis dan bidang tersebut sejajar. Jika sejajar, ambil sembarang titik pada garis, lalu hitung jarak titik tersebut ke bidang menggunakan rumus yang sama. Jarak itulah yang menjadi jarak antara garis dan bidang.
Apa aplikasi paling praktis dari perhitungan jarak titik ke bidang dalam dunia nyata?
Aplikasinya sangat luas, misalnya dalam grafika komputer untuk deteksi tabrakan (collision detection), dalam sistem GPS dan mapping untuk menghitung ketinggian relatif terhadap permukaan referensi, atau dalam desain CAD/CAM untuk memastikan toleransi dan clearance antara komponen mesin.