Tiada Lebih Jahat Dari Orang yang Memenuhi Lambungnya Menurut Hadis Tirmidzi

Tiada Lebih Jahat Dari Orang yang Memenuhi Lambungnya Menurut Hadis Tirmidzi. Pernyataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang satu ini menghentak kesadaran, mengajak kita berefleksi sejenak di tengah gemerlap dunia yang serba berlimpah. Betapa sederhana peringatan ini, namun menusuk langsung ke pusat gaya hidup modern yang seringkali abai. Di balik nasihat tentang makan ini, tersimpan hikmah besar yang menyentuh aspek kesehatan, spiritualitas, hingga keadilan sosial.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi ini bukan sekadar larangan makan banyak, tetapi sebuah peringatan tegas tentang kejahatan yang tersembunyi di balik nafsu yang tak terkendali. Dalam konteks masyarakat Arab saat itu yang akrab dengan kesederhanaan, peringatan ini menjadi penyeimbang. Memenuhi lambung di sini bermakna luas, meliputi sikap rakus, berlebihan, dan melampaui batas kebutuhan, baik secara harfiah maupun kiasan, yang oleh para ulama ditempatkan sebagai pembahasan penting dalam kitab akhlak dan fikih.

Pengantar dan Konteks Hadis

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya ini menyentuh persoalan mendasar dalam kehidupan manusia: hubungan kita dengan makanan. Hadis ini datang bukan dalam ruang hampa, melainkan di tengah masyarakat Arab yang, meski dikenal sederhana, mulai mengenal strata sosial dan kemewahan seiring berkembangnya peradaban Islam. Dalam konteks ini, Nabi Muhammad SAW mengingatkan tentang sebuah “kejahatan” yang mungkin dianggap remeh.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya dari sahabat Al-Miqdad bin Ma’dikarib, dan beliau menilainya sebagai hadis hasan gharib. Status ini menunjukkan bahwa meski jalur periwayatannya tidak sekuat hadis mutawatir, kandungannya diterima dan diamalkan oleh para ulama. Makna “memenuhi lambungnya” atau dalam bahasa Arab “mal`a ibn Adam” secara harfiah adalah mengisi rongga perut hingga penuh. Namun, secara kiasan dalam perspektif syariat, ia melampaui sekadar kenyang fisik.

Ia mencakup sikap rakus, tidak terkontrol, dan menjadikan makan sebagai tujuan utama, sehingga mengabaikan etika, kesehatan, dan hak orang lain.

Kedudukan Hadis dalam Literatur Fikih dan Akhlak

Para ulama klasik menempatkan pembahasan hadis ini dalam bab akhlak dan zuhud, sekaligus menjadi pondasi fikih tentang adab makan. Imam Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, menjadikan pengendalian nafsu makan sebagai gerbang pertama menuju penyucian jiwa. Dalam kitab-kitab fikih, prinsip untuk tidak berlebihan ini menjadi dasar ditetapkannya hukum makruh terhadap makan hingga terlalu kenyang, karena ia berdampak pada kelalaian ibadah dan merusak tubuh yang merupakan amanah dari Allah.

Tafsir Makna “Kejahatan” dalam Konteks Perut

Penyebutan “tiada yang lebih jahat” tentu sangat kuat dan provokatif. Ini bukan berarti menafikan kejahatan lain seperti mencuri atau membunuh, tetapi lebih menekankan pada aspek kejahatan terhadap diri sendiri yang sering diabaikan dan menjadi sumber kejahatan lain. Kejahatan ini bersifat internal, merusak dari dalam, dan melemahkan fondasi spiritual seorang hamba sebelum ia terjun ke dalam dosa-dosa eksternal.

BACA JUGA  Kewajiban Warga Negara Berdasarkan Pasal 30 UUD 1945 Wujud Bela Negara

Konsekuensi Jasmani dan Hikmah Syar’i, Tiada Lebih Jahat Dari Orang yang Memenuhi Lambungnya Menurut Hadis Tirmidzi

Ilmu medis modern secara jelas membuktikan bahwa makan berlebihan adalah akar dari banyak penyakit: obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga gangguan pencernaan. Tubuh dipaksa bekerja keras melampaui kapasitasnya. Hikmah syar’i dari larangan ini ternyata selaras dengan ilmu pengetahuan. Islam mengajarkan pencegahan (preventif) sebelum pengobatan. Menjaga porsi makan adalah bentuk syukur atas nikmat tubuh yang sehat dan upaya untuk menjaganya.

Dampak Spiritual dan Kekerasan Hati

Imam Al-Ghazali menggambarkan dengan sangat tajam hubungan antara perut yang penuh dan hati yang keras. Makanan berlebihan menimbulkan uap yang memenuhi otak, menyebabkan kelambatan berpikir, kantuk, dan kemalasan. Pada akhirnya, ini berujung pada malasnya seseorang untuk shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir. Jiwa menjadi berat dan cenderung mengikuti hawa nafsu. Dari sinilah kemudian penyakit hati seperti rakus, tamak, dan tidak pernah merasa puas bermula.

Seseorang yang selalu memenuhi lambungnya akan sulit merasakan kepuasan batin (qana’ah) karena orientasinya telah terdistorsi pada kepuasan material yang tak pernah terpenuhi.

Panduan Praktis Menghindari Sikap Berlebihan dalam Makan

Melawan kebiasaan memenuhi lambung memerlukan kesadaran dan strategi yang praktis. Berikut adalah prinsip dan langkah yang bisa diterapkan untuk mengembalikan makan pada proporsinya sebagai penunjang ibadah, bukan tujuan utama.

Prinsip Dasar Contoh Penerapan Manfaat untuk Jiwa Manfaat untuk Raga
Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan Membaca basmalah dengan kesadaran, mengingat bahwa makanan adalah energi untuk taat. Menguatkan niat ibadah, melatih pengendalian diri. Mencegah obesitas dan penyakit metabolik.
Berhenti sebelum kenyang Menyisakan sedikit ruang di perut, berhenti makan saat rasa lapar sudah hilang. Melatih sikap qana’ah (cukup) dan tidak rakus. Pencernaan lebih ringan, tidur lebih nyenyak.
Memilih yang halal dan baik (thayyib) Memperhatikan sumber makanan dan nilai gizinya, bukan hanya rasa. Hati menjadi tenang dan bersih dari syubhat. Tubuh mendapat nutrisi optimal, lebih berenergi.
Makan bersama dan berbagi Mengundang tetangga atau teman untuk makan bersama, tidak makan sendirian. Memupuk rasa syukur dan mempererat ukhuwah. Mengontrol porsi karena adanya interaksi sosial.

Langkah-langkah konkret yang bisa dibiasakan dalam tiga fase makan adalah sebagai berikut:

  • Sebelum makan: Pastikan makanan halal, cuci tangan, baca doa, dan tarik nafas untuk mengingat tujuan makan. Sajikan porsi secukupnya di piring, hindari mengambil langsung dari wadah besar.
  • Selama makan: Kunyah dengan perlahan dan baik (minimal 20 kunyahan per suap), nikmati setiap rasa, dan hindari distraksi seperti menonton atau bermain ponsel. Berhenti sejenak di tengah makan untuk mengecek rasa kenyang.
  • Sesudah makan: Berhenti tepat saat merasa bisa makan lagi tetapi sudah tidak lapar. Baca doa syukur, bersihkan sisa makanan di piring dan tangan. Lakukan aktivitas ringan seperti berjalan perlahan, bukan langsung tidur.
BACA JUGA  Tiga Cerpen dengan Teks Prosedur Karya Sastra Unik

Adab Makan Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau makan dengan tiga jari, menjilati jari-jemarinya setelah makan, tidak pernah mencela makanan, dan paling sering makan hanya sampai kenyang yang menegakkan tulang punggungnya (tidak membuncit). Beliau juga sering mencampur kurma dengan mentimun atau makan roti dengan cuka, menunjukkan kesederhanaan dan variasi yang sehat. Cara makan beliau adalah antitesis langsung dari “memenuhi lambung”.

Imam Asy-Syafi’i pernah berpesan, “Barangsiapa ingin tubuhnya sehat dan kuat, hendaknya sedikit makan dan sedikit minum, sedikit tidur dan sedikit bersendau gurau, serta sedikit berhubungan badan. Dan barangsiapa yang melampaui batas dalam empat perkara ini, maka ia telah merusak kesehatannya.”

Dampak Sosial dan Ekonomi dari Pola Hidup Berlebihan

Sikap berlebihan dalam makan bukan hanya urusan pribadi. Ia memiliki dimensi sosial yang luas. Di dunia di mana ketimpangan distribusi pangan masih menjadi masalah besar, kebiasaan “memenuhi lambung” berkorelasi dengan pemborosan (israf) yang merugikan masyarakat.

Israf dalam konteks modern memiliki banyak wajah: membeli makanan dalam porsi besar lalu menyisakan banyak di piring, membuang makanan yang masih layak makan karena alasan estetika, atau trend “mukbang” yang mengagungkan konsumsi berlebihan sebagai tontonan. Semua ini bertentangan dengan semangat hadis yang mengajarkan kehati-hatian dan rasa tanggungjawab.

Tanggung Jawab Sosial Muslim yang Kaya

Islam sangat menekankan hak orang miskin dalam harta orang kaya. Zakat fitrah dan zakat mal adalah mekanisme formalnya. Namun, di luar itu, ada tanggungjawab moral untuk tidak berlebihan sehingga ada yang bisa dibagikan. Seorang muslim diajarkan untuk memeriksa tetangganya sebelum ia dan keluarganya tidur dengan perut kenyang. Pola konsumsi yang terkontrol secara otomatis membebaskan sumber daya yang bisa dialihkan untuk sedekah dan membantu mereka yang kelaparan.

Sikap Hemat (Iqtishad) Sikap Boros (Israf) Dampak untuk Diri Dampak untuk Umat
Membeli sesuai kebutuhan, tidak impulsif. Membeli karena lapar mata dan trend. Keuangan lebih terkontrol, hati tenang. Stabilitas harga pangan, distribusi lebih merata.
Memanfaatkan sisa makanan (dihangatkan/diolah ulang). Membuang makanan sisa langsung ke tempat sampah. Melatih kreativitas dan rasa syukur. Mengurangi beban sampah dan masalah lingkungan.
Berkongsi makanan saat makan di luar. Memesan banyak menu untuk diri sendiri. Terhindar dari kekenyangan, lebih sehat. Mengurangi food waste dari restoran.
Bersedekah dengan uang yang dihemat dari pola makan sederhana. Mengalokasikan semua dana untuk konsumsi pribadi. Mendapat pahala dan keberkahan harta. Mengurangi kesenjangan, menguatkan solidaritas sosial.

Ilustrasi dan Perbandingan untuk Pemahaman Mendalam

Tiada Lebih Jahat Dari Orang yang Memenuhi Lambungnya Menurut Hadis Tirmidzi

Source: santridigital.id

Bayangkan dua karakter yang hidup dalam lingkungan yang sama. Fahri menerapkan adab makan islami: porsinya cukup, waktunya teratur, dan penuh kesadaran. Setelah makan, tubuhnya ringan, pikirannya jernih, dan ia memiliki energi untuk shalat Isya berjamaah serta membaca Al-Qur’an dengan khusyuk. Hidupnya produktif dan hatinya terasa lapang.

Sebaliknya, Rizki menjadikan makan sebagai pelarian. Piringnya selalu penuh, ia makan dengan cepat sambil menonton, dan tidak berhenti sebelum sesak. Setelah makan, yang ia rasakan adalah kantuk yang berat, tubuh lesu, dan perut yang tidak nyaman. Shalat Isya? Mungkin tertunda atau dilakukan dengan sangat malas.

BACA JUGA  Sel Eukariotik Bereproduksi Lebih Cepat Berkat Banyak Organel Bermembran

Pikirannya berkabut, dan ia mudah tersulut emosi. Dalam jangka panjang, Fahri menikmati kesehatan yang baik dan ketenangan jiwa, sementara Rizki bergumul dengan masalah berat badan dan spiritualitas yang kering.

Qana’ah versus Memenuhi Lambung

  • Qana’ah merasa cukup dengan apa yang ada. Memenuhi Lambung selalu merasa kurang dan ingin tambah.
  • Qana’ah bersyukur atas nikmat sesuap nasi. Memenuhi Lambung mengeluh meski telah menghabiskan sepiring penuh.
  • Qana’ah membebaskan hati dari ketergantungan pada materi. Memenuhi Lambung memperbudak diri pada nafsu dan keinginan.
  • Qana’ah membuka pintu rezeki yang tak terduga. Memenuhi Lambung justru bisa mempersempit rezeki karena hilangnya keberkahan.

Deskripsi Visual Kondisi Setelah Makan

Setelah makan berlebihan, gambaran seseorang adalah: duduk atau berbaring dengan malas, napas sedikit berat, mata berair dan mengantuk, wajah terlihat lesu dan tanpa semangat. Di dalam, perut terasa penuh dan sesak, terkadang disertai rasa mual atau ingin sendawa. Pikiran menjadi lamban, sulit berkonsentrasi, dan keinginan satu-satunya adalah beristirahat. Sebaliknya, setelah makan secukupnya, seseorang tetap bisa berdiri dan beraktivitas dengan ringan.

Napasnya normal, mata terjaga, dan wajahnya segar. Di dalam, perut terasa nyaman, tidak ada beban. Pikiran tetap jernih dan siap untuk melanjutkan aktivitas produktif atau ibadah dengan penuh kesadaran.

“Orang yang makan terlalu banyak tidak bisa berpikir dengan baik, tidak bisa mencintai dengan baik, dan tidak bisa tidur dengan baik.” — Virginia Woolf. Perkataan penulis non-Muslim ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan untuk tidak berlebihan dalam makan adalah nilai universal yang diakui oleh berbagai budaya dan kebijaksanaan manusia.

Terakhir: Tiada Lebih Jahat Dari Orang Yang Memenuhi Lambungnya Menurut Hadis Tirmidzi

Demikianlah, peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa pengendalian diri dalam hal yang paling dasar—seperti makan—adalah fondasi dari karakter yang mulia. Dengan tidak memenuhi lambung, seseorang bukan hanya menjaga kesehatannya, tetapi juga melunakkan hatinya, mempertajam spiritualitasnya, dan turut serta menciptakan keseimbangan dalam masyarakat. Mari kita jadikan setiap suap nasi sebagai bentuk ibadah dan syukur, dengan selalu mengingat bahwa ruang di perut kita sebaiknya dibagi tiga: untuk makanan, minuman, dan udara, sebagaimana tuntunan yang mulia.

Panduan Tanya Jawab

Apakah hadis ini berarti kita tidak boleh kenyang sama sekali?

Tidak. Yang dilarang adalah “isyba'” atau memenuhi lambung secara berlebihan hingga sangat kekenyangan. Kenyang yang wajar untuk menopang aktivitas dan ibadah tetap dibolehkan, dengan prinsip tidak melampaui sepertiga kapasitas perut.

Bagaimana jika makanan yang berlebih itu adalah hak kita sendiri dan tidak mengurangi hak orang lain?

Islam mengatur hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan sesama). Sikap israf atau berlebihan dalam mengonsumsi hak sendiri tetap merupakan kemaksiatan karena melanggar perintah Allah untuk tidak berbuat boros, merusak tubuh yang merupakan amanah, dan dapat mengeraskan hati.

Apakah dampak memenuhi lambung terhadap ibadah sehari-hari seperti shalat dan baca Al-Qur’an?

Dampaknya sangat nyata. Kondisi kekenyangan sering menyebabkan kantuk, malas, dan berat untuk bergerak, sehingga dapat mengurungkan niat untuk shalat malam atau mengkhatamkan tilawah. Hati juga menjadi kurang khusyuk dalam beribadah.

Bagaimana cara membedakan antara makan untuk kekuatan dan makan karena nafsu?

Makan untuk kekuatan memiliki tujuan yang jelas: agar mampu beribadah dan beraktivitas dengan baik. Cirinya adalah berhenti sebelum kenyang dan merasa cukup dengan yang halal. Makan karena nafsu lebih didorong keinginan lidah, cenderung berlebihan, dan seringkali menginginkan jenis makanan tertentu secara berlebihan meski tubuh tidak membutuhkannya.

Leave a Comment