Pengaruh Elastisitas Penawaran dan Permintaan terhadap Kerugian Beban Baku Perpajakan Analisis Lengkap

Pengaruh Elastisitas Penawaran dan Permintaan terhadap Kerugian Beban Baku Perpajakan bukan sekadar teori ekonomi yang rumit, melainkan sebuah peta navigasi penting bagi para pembuat kebijakan. Ketika pemerintah memutuskan untuk mengenakan atau menaikkan pajak, dampaknya tak pernah merata. Ada yang hanya merasakan sedikit getahnya, sementara yang lain justru terpukul berat. Rahasia di balik ketimpangan ini ternyata tersembunyi dalam konsep yang disebut elastisitas—seberapa peka konsumen dan produsen terhadap perubahan harga.

Diskusi ini akan mengupas tuntas bagaimana sensitivitas harga dari kedua sisi pasar tersebut menjadi penentu utama besarnya kerugian efisiensi atau beban baku. Mulai dari memahami fondasi konseptual elastisitas, mekanisme visual bagaimana pajak menggeser keseimbangan pasar, hingga analisis mendalam tentang interaksi antara elastisitas permintaan dan penawaran yang akhirnya membentuk luas area kerugian. Pemahaman ini krusial untuk merancang kebijakan fiskal yang lebih cerdas, efektif, dan minim distorsi terhadap perekonomian.

Analisis elastisitas penawaran dan permintaan mengungkap besarnya kerugian beban baku (deadweight loss) akibat pajak, di mana pasar yang kaku justru memikul beban lebih berat. Prinsip kesetimbangan ini, serupa dengan dinamika reaksi kimia seperti yang dijelaskan dalam Konsentrasi Fe³⁺ pada kesetimbangan reduksi Ag⁺ oleh Fe²⁺ , menunjukkan bagaimana kondisi awal menentukan hasil akhir. Dengan demikian, memahami titik keseimbangan yang presisi, baik di pasar maupun lab, menjadi kunci untuk meminimalkan distorsi dan kerugian ekonomi yang tak perlu.

Konsep Dasar Elastisitas dalam Ekonomi

Untuk memahami bagaimana pajak bisa menciptakan kerugian bagi masyarakat, kita harus terlebih dahulu menguasai konsep elastisitas. Dalam ekonomi, elastisitas mengukur seberapa sensitif respons suatu variabel terhadap perubahan variabel lain. Dua jenis elastisitas yang paling krusial adalah elastisitas harga permintaan dan elastisitas harga penawaran. Keduanya menjadi kunci untuk memprediksi perilaku pasar ketika ada intervensi, seperti pengenaan pajak.

Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas harga permintaan mengukur persentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat perubahan harga sebesar satu persen. Intinya, ini menunjukkan seberapa “rewel” atau “fleksibel” konsumen terhadap perubahan harga. Rumus perhitungannya adalah:

Ed = (% Perubahan Jumlah Diminta) / (% Perubahan Harga)

Jika nilai absolut Ed lebih besar dari 1, permintaan dikatakan elastis, artinya konsumen sangat responsif terhadap perubahan harga. Sebaliknya, jika nilai absolutnya kurang dari 1, permintaan bersifat inelastis, menunjukkan bahwa konsumen kurang sensitif terhadap perubahan harga.

Elastisitas Harga Penawaran

Sementara itu, elastisitas harga penawaran mengukur persentase perubahan jumlah barang yang ditawarkan akibat perubahan harga sebesar satu persen. Konsep ini menggambarkan kemampuan dan kesigapan produsen dalam menyesuaikan produksinya ketika harga berubah. Faktor-faktor yang memengaruhi elastisitas penawaran antara lain: ketersediaan bahan baku, kompleksitas teknologi produksi, fleksibilitas kapasitas pabrik, dan jangka waktu yang tersedia untuk menyesuaikan produksi. Dalam jangka pendek, penawaran cenderung lebih inelastis karena produsen sulit mengubah kapasitas, sedangkan dalam jangka panjang, penawaran menjadi lebih elastis.

Karakteristik Permintaan dan Penawaran Elastis vs Inelastis

Perbedaan mendasar antara kondisi elastis dan inelastis dapat diringkas dalam tabel berikut. Pemahaman ini vital untuk mengantisipasi dampak kebijakan ekonomi.

Karakteristik Permintaan/ Penawaran Elastis Permintaan/ Penawaran Inelastis Implikasi Dasar
Nilai Koefisien |Ed| atau |Es| > 1 |Ed| atau |Es| < 1 Respons terhadap harga sangat tinggi pada yang elastis, dan rendah pada yang inelastis.
Kurva Lebih landai (mendatar) Lebih curam (tegak) Perubahan harga kecil menyebabkan perubahan kuantitas yang besar pada kurva elastis.
Respons Konsumen/Produsen Sangat sensitif terhadap harga. Ada banyak substitusi atau bukan kebutuhan mendesak. Kurang sensitif terhadap harga. Barang bersifat kebutuhan pokok atau tidak ada substitusi mudah. Kebijakan harga (seperti pajak) akan sangat mengubah perilaku di pasar elastis.
Contoh Umum Makanan di restoran mewah, barang elektronik non-utama. Bahan bakar minyak, obat-obatan penyelamat nyawa, garam. Pajak pada barang elastis lebih mungkin mengurangi transaksi secara drastis.
BACA JUGA  Pengaruh Elastisitas Permintaan Terhadap Penerimaan Total Usaha Strategi Harga

Contoh Barang dengan Elastisitas Berbeda

Berikut adalah contoh konkret dari dunia nyata yang menggambarkan variasi elastisitas:

  • Permintaan Inelastis: Beras bagi sebagian besar rumah tangga Indonesia. Kenaikan harga cenderung tidak terlalu mengurangi konsumsi karena merupakan makanan pokok. Demikian pula dengan rokok bagi perokok berat, di mana kecanduan membuat permintaan relatif tidak elastis.
  • Permintaan Elastis: Paket liburan ke luar negeri. Jika harganya naik signifikan, banyak orang akan menundanya atau mencari destinasi lokal yang lebih murah.
  • Penawaran Inelastis: Tanah di pusat kota. Jumlahnya terbatas dan tidak bisa ditambah, sehingga kenaikan harga tidak serta-merta membuat penawaran bertambah banyak dalam jangka pendek.
  • Penawaran Elastis: Kaos oblong produksi lokal. Dengan mesin dan bahan baku yang mudah didapat, produsen dapat dengan cepat menambah produksi jika harga jualnya menarik.

Mekanisme Beban Baku Perpajakan

Ketika pemerintah mengenakan pajak atas suatu barang, niatnya biasanya untuk mengumpulkan pendapatan. Namun, ada efek samping yang sering luput dari perhatian: distorsi terhadap keputusan ekonomi yang efisien. Distorsi inilah yang dalam literatur ekonomi disebut sebagai deadweight loss atau beban baku perpajakan. Beban baku merupakan kerugian kesejahteraan sosial (surplus konsumen dan produsen) yang hilang dan tidak berpindah ke siapa pun, termasuk pemerintah.

Analisis elastisitas penawaran dan permintaan krusial untuk mengukur kerugian beban baku perpajakan, di mana pasar yang inelastis cenderung menanggung beban lebih berat. Prinsip kolaborasi dan semangat tim dalam merancang strategi ini serupa dengan energi yang dibutuhkan saat Buat Yel‑Yel untuk Gugus 6 , yang bertujuan membangun kohesi dan identitas kelompok. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang dinamika pasar dan soliditas tim menjadi fondasi untuk meminimalkan distorsi ekonomi dan mencapai efisiensi yang optimal.

Definisi Beban Baku

Beban baku perpajakan adalah selisih antara total surplus (kesejahteraan) yang dihasilkan pasar dalam kondisi ekuilibrium tanpa pajak dan total surplus setelah pajak diberlakukan. Kerugian ini muncul karena pajak mendorong harga naik bagi konsumen dan/atau menekan harga yang diterima produsen, sehingga menggeser kuantitas transaksi menjauhi titik keseimbangan yang optimal. Akibatnya, terjadi transaksi yang menguntungkan secara sosial (di mana nilai bagi konsumen melebihi biaya bagi produsen) yang tidak terjadi.

Diagram Penciptaan Beban Baku

Pengaruh Elastisitas Penawaran dan Permintaan terhadap Kerugian Beban Baku Perpajakan

Source: slidesharecdn.com

Bayangkan sebuah diagram penawaran dan permintaan standar. Kurva permintaan melandai ke bawah dari kiri atas ke kanan bawah, dan kurva penawaran melandai ke atas dari kiri bawah ke kanan atas. Titik potongnya adalah ekuilibrium awal (P*, Q*). Ketika pajak per unit diterapkan, terjadi “baji pajak” yang memisahkan harga yang dibayar konsumen (Pc) dan harga yang diterima produsen (Pp), di mana Pc = Pp + pajak.

Kuantitas baru yang diperdagangkan (Qt) lebih kecil dari Q*.

Pada diagram tersebut, area yang merepresentasikan pendapatan pajak pemerintah adalah persegi panjang yang dibatasi oleh Pc di atas, Pp di bawah, dan garis vertikal di Qt. Beban baku digambarkan oleh segitiga kecil yang hilang di antara kurva permintaan dan penawaran, terletak di antara kuantitas Qt dan Q*. Segitiga ini mewakili surplus dari transaksi yang seharusnya terjadi (antara Qt dan Q*) tetapi batal karena distorsi harga akibat pajak.

Area ini benar-benar hilang dari peredaran ekonomi, tidak dinikmati oleh konsumen, produsen, maupun pemerintah.

Perbandingan Beban Baku pada Berbagai Elastisitas Permintaan

Besarnya segitiga beban baku sangat ditentukan oleh elastisitas. Dalam pasar dengan permintaan yang sangat inelastis (misalnya, insulin untuk penderita diabetes), kurva permintaannya hampir vertikal. Pajak akan sangat menaikkan harga bagi konsumen, tetapi hanya sedikit mengurangi kuantitas yang dibeli. Segitiga beban bakunya sangat kecil, karena hampir tidak ada transaksi yang hilang. Sebaliknya, dalam pasar dengan permintaan yang sangat elastis (misalnya, buah mangga impor spesifik), kurva permintaannya sangat landai.

Pajak kecil saja dapat menyebabkan penurunan kuantitas yang dramatis karena konsumen mudah beralih ke substitusi. Segitiga beban bakunya akan sangat besar, mencerminkan banyaknya transaksi menguntungkan yang sirna. Prinsipnya semakin elastis permintaan atau penawaran, semakin besar potensi beban baku yang ditimbulkan oleh pajak.

Interaksi Elastisitas dengan Dampak Pajak

Elastisitas bukan hanya menentukan besarnya beban baku, tetapi juga bagaimana beban pajak tersebut didistribusikan di antara pelaku pasar. Siapa yang lebih banyak menanggung beban—konsumen atau produsen—bukan semata-mata ditentukan oleh siapa yang secara hukum membayar pajak ke pemerintah, melainkan oleh kekuatan relatif respons mereka terhadap harga.

Elastisitas Permintaan dan Distribusi Beban Pajak

Prinsipnya, pihak yang memiliki alternatif paling sedikit—atau dengan kata lain, yang lebih inelastis—akan menanggung beban pajak yang lebih besar. Jika permintaan lebih inelastis daripada penawaran, konsumen tidak mudah mengurangi pembelian meski harga naik. Dalam skenario ini, produsen dapat meneruskan sebagian besar beban pajak kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga. Sebaliknya, jika permintaan sangat elastis, konsumen akan segera meninggalkan barang tersebut jika harganya naik.

BACA JUGA  Menentukan Harga Jual Optimal Barang A untuk Maksimum Profit Strategi dan Analisis

Produsen, yang takut kehilangan penjualan, terpaksa menyerap sebagian besar beban pajak dengan menerima harga bersih yang lebih rendah, sehingga mereka yang menanggung beban lebih besar.

Peran Elastisitas Penawaran terhadap Beban Baku, Pengaruh Elastisitas Penawaran dan Permintaan terhadap Kerugian Beban Baku Perpajakan

Elastisitas penawaran memainkan peran simetris. Penawaran yang inelastis (misalnya, produk pertanian musiman) berarti produsen sulit menyesuaikan output sebagai respons terhadap harga. Dalam situasi ini, pajak cenderung menciptakan beban baku yang lebih kecil karena kuantitas yang diperdagangkan tidak berkurang banyak. Namun, produsen akan sangat terbebani karena mereka tidak bisa dengan mudah beralih ke produksi lain. Di sisi lain, penawaran yang elastis memperbesar potensi beban baku.

Jika pajak membuat usaha menjadi kurang menguntungkan, produsen dapat dengan cepat mengalihkan sumber daya mereka ke sektor lain, menyebabkan penurunan kuantitas yang tajam dan menciptakan segitiga beban baku yang luas.

Skenario Kombinasi Elastisitas dan Dampaknya

Interaksi antara elastisitas permintaan dan penawaran menghasilkan berbagai skenario dampak pajak. Tabel berikut menyajikan empat kombinasi utama.

Elastisitas Permintaan Elastisitas Penawaran Distribusi Beban Pajak Besar Beban Baku
Inelastis Elastis Sebagian besar ditanggung konsumen. Produsen mudah keluar pasar, sehingga konsumen harus membayar lebih. Kecil hingga menengah. Karena permintaan tidak sensitif, penurunan kuantitas terbatas.
Elastis Inelastis Sebagian besar ditanggung produsen. Konsumen mudah beralih, memaksa produsen menyerap pajak. Kecil hingga menengah. Karena penawaran tidak sensitif, penurunan kuantitas juga terbatas.
Inelastis Inelastis Terbagi relatif merata, tergantung derajat inelastisitas masing-masing. Tidak ada pihak yang punya “jalan keluar” mudah. Paling kecil. Perubahan kuantitas sangat minimal, sehingga segitiga beban baku hampir tidak ada.
Elastis Elastis Terbagi relatif merata, tetapi keduanya berusaha menghindari beban dengan mengurangi transaksi. Paling besar. Baik pembeli maupun penjual sangat responsif, menyebabkan kuantitas anjlok drastis dan beban baku maksimal.

Studi Kasus dan Aplikasi Praktis

Mari kita terapkan konsep-konsep di atas pada komoditas yang sering menjadi subjek kebijakan fiskal: bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis Premium atau Pertalite. Analisis terhadap BBM memberikan gambaran nyata tentang dilema antara target penerimaan negara dan efisiensi ekonomi.

Elastisitas Permintaan dan Penawaran BBM

Dalam jangka pendek hingga menengah, permintaan terhadap BBM bersifat sangat inelastis. BBM adalah sumber energi utama untuk transportasi logistik, angkutan umum, dan kendaraan pribadi. Konsumen dan bisnis memiliki sedikit substitusi langsung yang praktis dan murah. Oleh karena itu, kenaikan harga akibat pajak tidak serta-merta mengurangi konsumsi secara signifikan; orang mungkin akan mengurangi perjalanan yang tidak penting, tetapi aktivitas ekonomi inti tetap berjalan.

Di sisi penawaran, dalam konteks Indonesia dengan kilang yang kapasitasnya terbatas, penawaran BBM juga cenderung inelastis dalam jangka pendek. Impor bisa menjadi penyeimbang, tetapi juga melibatkan biaya dan kebijakan yang kompleks.

Dalam analisis ekonomi, besarnya kerugian beban baku perpajakan sangat ditentukan oleh elastisitas penawaran dan permintaan. Prinsip dasar ini, yang mengatur beban ekonomi, memiliki paralel dengan fondasi ideologis suatu bangsa. Sejarah mencatat bahwa Istilah Pancasila sebagai Dasar Negara Pertama Diajukan Soekarno di BPUPKI menjadi pondasi kokoh yang mengarahkan kebijakan, mirip seperti bagaimana teori elastisitas menjadi landasan krusial untuk menganalisis distorsi dan inefisiensi yang timbul dari intervensi kebijakan fiskal dalam pasar.

Dampak Kenaikan Pajak dan Beban Baku

Dengan asumsi permintaan dan penawaran yang inelastis, kenaikan pajak atas BBM akan menghasilkan gambaran yang spesifik. Pemerintah akan memperoleh pendapatan pajak yang relatif besar karena kuantitas yang terjual tidak turun banyak. Beban pajak akan banyak dibebankan kepada konsumen, terlihat dari kenaikan harga di pom bensin. Namun, segitiga beban baku yang tercipta diperkirakan kecil. Kerugian efisiensi utama bukan pada hilangnya banyak transaksi, tetapi pada penurunan daya beli masyarakat (karena harga lebih tinggi) dan potensi tekanan inflasi yang menyebar ke berbagai sektor ekonomi.

Beban baku tetap ada, meski secara geometris di diagram tampak kecil, dampak sosialnya luas.

Implikasi Kebijakan bagi Pembuat Regulasi

Analisis elastisitas dan beban baku memberikan pelajaran penting bagi perancang kebijakan pajak. Kebijakan yang ideal berusaha meminimalkan beban baku sambil mencapai tujuan penerimaan atau pengaturan.

Pajak sebaiknya dikenakan pada barang-barang dengan permintaan dan penawaran yang inelastis untuk meminimalkan distorsi terhadap aktivitas ekonomi dan memaksimalkan penerimaan. Namun, pertimbangan keadilan dan dampak sosial harus menjadi prioritas. Mengenakan pajak tinggi pada kebutuhan pokok yang inelastis, seperti BBM, dapat bersifat regresif dan membebani kelompok berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, pendekatan yang komprehensif, termasuk penggunaan kembali pendapatan pajak untuk program kompensasi atau infrastruktur publik, menjadi krusial untuk mengimbangi efek negatifnya.

Visualisasi dan Simulasi Dampak

Memvisualisasikan konsep beban baku melalui grafik dan simulasi sederhana dapat memperdalam pemahaman intuitif. Berikut adalah deskripsi dan prosedur yang menggambarkan bagaimana elastisitas mengubah lanskap dampak pajak.

BACA JUGA  Larangan Perkawinan Kerabat Dekat dalam Islam Alasan Biologis dan Hikmahnya

Deskripsi Dua Grafik Perbandingan

Grafik pertama menggambarkan pasar dengan permintaan yang sangat inelastis, kurvanya hampir vertikal. Setelah pajak diterapkan, baji pajak membentuk persegi panjang pendapatan pemerintah yang tinggi dan memanjang, tetapi segitiga beban baku di sampingnya sangat tipis dan sempit, hampir seperti garis. Ini menunjukkan kerugian efisiensi yang minimal. Grafik kedua menunjukkan pasar dengan permintaan yang sangat elastis, kurvanya hampir horizontal. Baji pajak yang sama justru menghasilkan persegi panjang pendapatan pemerintah yang pendek namun lebar, dan di sampingnya terdapat segitiga beban baku yang sangat besar dan melebar.

Kontras antara kedua grafik ini secara visual membuktikan bahwa beban baku membengkak ketika kurva permintaan atau penawaran semakin landai (elastis).

Ilustrasi Naratif Pasar Elastis

Bayangkan pasar aplikasi streaming musik berlangganan. Sebelum pajak, harga langganan Rp 50.000 per bulan dengan 10 juta pelanggan. Kurva permintaan sangat elastis karena banyak substitusi (platform streaming lain, YouTube gratis, dll). Ketika pemerintah mengenakan pajak Rp 10.000 per langganan, perusahaan berusaha meneruskan ke harga menjadi Rp 60.
000.

Respons konsumen cepat dan masif: 3 juta pelanggan memutuskan untuk berhenti berlangganan karena merasa harganya sudah tidak worth it. Kuantitas ekuilibrium baru turun drastis menjadi 7 juta. Harga yang diterima produsen setelah bayar pajak turun menjadi Rp 50.000 (Rp 60.000 – Rp 10.000), sama seperti harga lama, tetapi mereka kehilangan 3 juta pelanggan. Pergerakan ini menunjukkan bagaimana pada pasar elastis, pajak kecil pun dapat menggerus kuantitas secara signifikan dan menciptakan wilayah beban baku yang luas dari transaksi 7 juta hingga 10 juta pelanggan yang batal.

Prosedur Menghitung Luas Beban Baku

Meski perhitungan tepat membutuhkan data spesifik bentuk kurva, pendekatan dengan asumsi linier dapat dilakukan. Berikut langkah-langkah estimasinya:

  • Kumpulkan Data: Tentukan harga dan kuantitas ekuilibrium awal (P*, Q*). Ketahui besaran pajak per unit (t). Estimasi koefisien elastisitas harga permintaan (Ed) dan penawaran (Es) di sekitar titik ekuilibrium.
  • Hitung Perubahan Kuantitas: Gunakan rumus yang diturunkan dari definisi elastisitas untuk memperkirakan perubahan kuantitas (ΔQ) akibat pajak. Rumus pendekatannya adalah ΔQ ≈ (Q*
    – t
    – (Ed
    – Es)) / (P*
    – (Es – Ed)).
  • Tentukan Harga Baru: Hitung harga yang dibayar konsumen (Pc = P* + (ΔP yang dibebankan ke konsumen)) dan harga yang diterima produsen (Pp = P*
    -(ΔP yang ditanggung produsen)). Secara geometris, Pc – Pp = t.
  • Hitung Luas Segitiga: Beban baku didekati sebagai luas segitiga. Rumusnya adalah: Luas Beban Baku = 0.5
    – t
    – |ΔQ|. Dengan kata lain, setengah dikali besaran pajak per unit dikali absolute penurunan kuantitas yang terjadi.
  • Interpretasi: Angka yang dihasilkan merupakan nilai uang dari kerugian kesejahteraan sosial murni akibat distorsi pajak, terlepas dari pendapatan yang berhasil dikumpulkan pemerintah.

Akhir Kata: Pengaruh Elastisitas Penawaran Dan Permintaan Terhadap Kerugian Beban Baku Perpajakan

Pada akhirnya, eksplorasi mendalam mengenai Pengaruh Elastisitas Penawaran dan Permintaan terhadap Kerugian Beban Baku Perpajakan mengantarkan pada satu kesimpulan yang tegas: elastisitas adalah jantung dari analisis dampak pajak. Beban baku yang besar, yang mencerminkan hilangnya kesejahteraan masyarakat, justru akan membengkak ketika pajak dikenakan pada barang-barang dengan permintaan atau penawaran yang elastis. Artinya, kebijakan pajak yang ideal tidak bisa disamaratakan. Ia harus dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik unik setiap pasar.

Dengan memetakan elastisitas secara cermat, pemerintah dapat meminimalkan distorsi, mengoptimalkan penerimaan, dan pada gilirannya menciptakan sistem perpajakan yang lebih adil serta efisien bagi seluruh pihak.

FAQ dan Solusi

Apakah beban baku pajak selalu buruk bagi perekonomian?

Secara teori, beban baku merepresentasikan inefisiensi dan hilangnya kesejahteraan (surplus) yang tidak dinikmati oleh siapa pun, termasuk pemerintah. Jadi, ia memang dianggap sebagai “kerugian” dari sisi efisiensi alokatif. Namun, pajak sendiri diperlukan untuk membiayai public goods dan program pemerintah. Tujuannya adalah meminimalkan beban baku ini sambil tetap mencapai tujuan penerimaan atau pengaturan sosial dari pajak tersebut.

Bagaimana jika baik permintaan maupun penawaran sama-sama inelastis sempurna?

Dalam skenario ekstrem ini, kuantitas yang diperdagangkan di pasar tidak berubah sama sekali meskipun pajak dikenakan. Pajak hanya akan menggeser harga yang diterima produsen dan dibayar konsumen. Konsekuensinya, beban baku pajak akan bernilai nol karena tidak ada transaksi yang hilang. Namun, distribusi beban pajak akan sangat bergantung pada negosiasi kekuatan relatif antara kedua belah pihak.

Apakah ada cara untuk mengurangi beban baku tanpa menghapus pajak?

Ya, salah satu prinsip utama adalah dengan mengenakan pajak yang lebih tinggi pada barang-barang yang permintaan atau penawarannya inelastis (seperti rokok atau bahan bakar tertentu). Dengan demikian, perubahan perilaku konsumen dan produsen akan minimal, sehingga transaksi yang hilang sedikit dan beban baku dapat ditekan. Prinsip ini dikenal sebagai Ramsey Rule atau teori pajak yang optimal.

Bagaimana elastisitas memengaruhi siapa yang akhirnya menanggung beban pajak?

Pihak yang kurang elastis (lebih tidak peka terhadap harga) akan menanggung proporsi beban pajak yang lebih besar. Jika permintaan lebih inelastis daripada penawaran, konsumen akan menanggung sebagian besar beban pajak melalui kenaikan harga. Sebaliknya, jika penawaran lebih inelastis, produsen yang akan lebih banyak menanggungnya dalam bentuk penurunan harga yang mereka terima.

Leave a Comment