Menentukan massa jenis es dari selisih volume 5 cm³ pada 45 g terdengar seperti teka-teki fisika yang serius, bukan? Tapi percayalah, di balik angka-angka itu tersimpan cerita menarik tentang sifat unik air yang justru memuai saat membeku. Fenomena anomali air ini bukan cuma teori di buku, melainkan kunci memahami mengapa es batu mengapung di minuman kita dan mengapa pipa bisa pecah saat musim dingin.
Mari kita selami lebih dalam, karena dari selisih volume yang kecil itu, kita bisa mengungkap rapatan si benda padat yang dingin ini.
Secara sederhana, massa jenis adalah ukuran seberapa padat materi itu dikemas dalam suatu volume. Bayangkan sekilo bulu dan sekilo besi; besi terasa lebih berat karena partikelnya lebih rapat. Nah, es adalah pengecualian yang menarik. Ketika air berubah wujud menjadi es, volumenya justru bertambah sekitar 9%, sehingga massa jenisnya menjadi lebih kecil daripada air cair. Itulah mengapa es selalu mengapung.
Percobaan dengan selisih volume 5 cm³ pada massa 45 gram ini adalah cara praktis dan elegan untuk membuktikan dan menghitung secara numerik keunikan alam tersebut.
Prinsip Dasar Massa Jenis dan Fenomena Penyusutan Volume Es: Menentukan Massa Jenis Es Dari Selisih Volume 5 Cm³ Pada 45 g
Bayangkan kamu memegang sepotong styrofoam dan sebuah batu dengan ukuran yang hampir sama. Meski volumenya mirip, batu terasa jauh lebih berat di tangan. Perbedaan sensasi berat inilah yang secara kasar menggambarkan konsep massa jenis, yaitu seberapa banyak massa yang dipadatkan dalam suatu volume. Secara ilmiah, massa jenis adalah perbandingan antara massa suatu benda dan volumenya. Semakin tinggi massa jenisnya, berarti partikel-partikel penyusun benda itu lebih rapat dan padat dalam ruang yang diberikan.
Air, zat yang tampak biasa, menyimpan keanehan yang luar biasa. Hampir semua zat di alam ini memadat dan menyusut ketika membeku, karena partikelnya bergerak lebih lambat dan dapat saling merapat. Namun, air justru melakukan sebaliknya. Saat mendingin di bawah 4°C, molekul air mulai membentuk struktur kristal heksagonal yang rapat namun justru meninggalkan banyak ruang kosong di antaranya. Struktur es yang seperti sangkar ini membuat volumenya mengembang sekitar 9% dibandingkan saat dalam keadaan cair.
Inilah anomali air yang sangat terkenal. Itu sebabnya es batu mengambang di atas air minummu, botol soda bisa pecah jika dibekukan, dan pipa ledeng bisa meledak saat musim dingin. Fenomena ekspansi ini berarti massa jenis es lebih rendah daripada massa jenis air cair, sebuah sifat penyelamat bagi ekosistem perairan karena es yang mengapung menjadi insulator yang melindungi kehidupan di bawahnya.
Perbandingan Massa Jenis Berbagai Material
Memahami angka massa jenis akan lebih mudah jika kita membandingkannya dengan material lain yang sudah familiar. Tabel berikut menyajikan perbandingan tersebut, lengkap dengan implikasi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari.
| Material | Keadaan | Massa Jenis (g/cm³) | Contoh Penerapan/Konsekuensi |
|---|---|---|---|
| Air | Cair (4°C) | ~1.00 | Standar referensi; benda dengan massa jenis <1 akan mengapung. |
| Air | Padat (Es, 0°C) | ~0.92 | Mengapung di air; menyebabkan ekspansi yang dapat merusak wadah. |
| Aluminium | Padat | ~2.70 | Logam ringan untuk badan pesawat dan rangka sepeda. |
| Kayu Jati | Padat | ~0.65 – 0.80 | Mengapung di air; digunakan untuk perabotan dan perahu. |
Pengukuran Volume Benda Tidak Beraturan
Mengukur volume kubus atau bola itu mudah, cukup pakai rumus geometri. Lalu bagaimana dengan batu atau sepotong es yang bentuknya abstrak? Di sinilah peran gelas ukur dan prinsip Archimedes menjadi krusial. Metode paling sederhana adalah metode perpindahan air. Kamu isi gelas ukur dengan air hingga volume tertentu, catat angka awalnya.
Lalu, masukkan benda (es) ke dalamnya dengan hati-hati. Kenaikan permukaan air menunjukkan volume benda tersebut. Prinsipnya, volume air yang dipindahkan sama persis dengan volume benda yang tercelup. Untuk es yang mengapung, metode ini perlu modifikasi karena tidak semua bagian es tercelup. Biasanya, es didorong hingga tenggelam sepenuhnya menggunakan penusuk yang tipis, dan selisih pembacaan volume sebelum dan sesudah es dimasukkan (dengan penusuk) memberikan volume total es.
Kehati-hatian ekstra diperlukan karena es dapat mencair dengan cepat dan mempengaruhi pembacaan.
Menentukan massa jenis es dari selisih volume 5 cm³ pada massa 45 g itu sebenarnya prinsip dasarnya sederhana: massa jenis = massa / volume. Nah, dalam analisis data, ketelitian mengidentifikasi pola atau anomali sangat krusial, mirip seperti saat kita harus menemukan Bilangan yang tidak setara dalam daftar berikut. Kemampuan ini melatih logika yang sama bergunanya untuk memastikan perhitungan kita akurat, sehingga dari data selisih volume tadi, massa jenis es bisa kita hitung dengan tepat, yaitu 0.9 g/cm³.
Perhitungan Indikasi Perubahan Kerapatan
Mari kita lihat bagaimana selisih volume yang teramati bisa mengungkap perubahan massa jenis. Misalkan kita punya 45 gram air murni. Saat cair pada 4°C, volumenya adalah V air = massa / massa jenis = 45 g / 1.00 g/cm³ = 45 cm³. Ketika air ini membeku menjadi es, ia memuai. Jika kita ukur volume es tersebut dan ternyata selisihnya 5 cm³ lebih besar dari volume air awalnya, maka volume es (V es) adalah 45 cm³ + 5 cm³ = 50 cm³.
Massa tetap 45 gram karena pembekuan tidak mengubah jumlah materi. Dengan demikian, massa jenis es dapat dihitung: ρ es = massa / V es = 45 g / 50 cm³ = 0.9 g/cm³. Nilai ini mendekati nilai referensi dan secara jelas menunjukkan penurunan kerapatan.
“Anomali air, di mana ia mencapai kerapatan maksimum pada 4°C dan mengembang saat membeku, adalah salah satu sifat yang paling penting bagi kehidupan di Bumi. Tanpanya, danau dan lautan akan membeku dari dasar ke permukaan.” – Kutipan tentang keunikan air.
Interpretasi Data Selisih Volume 5 cm³ pada Massa 45 Gram
Angka 5 cm³ dalam percobaan ini bukanlah volume es itu sendiri, melainkan selisih antara volume akhir (es) dan volume awal (air sebelum dibekukan). Ini adalah besaran kunci yang secara langsung mengkuantifikasi fenomena pemuaian. Dalam konteks percobaan, angka ini memberitahu kita seberapa besar air tersebut “membengkak” setelah berubah wujud menjadi padat. Jika tidak ada pemuaian, selisihnya akan nol, dan massa jenis es akan sama dengan air, yaitu 1 g/cm³.
Namun, selisih positif sebesar 5 cm³ justru membuktikan bahwa volume bertambah, sehingga massa jenis pasti turun di bawah 1.
Secara fisis, hubungannya adalah V es = V air + ΔV, di mana ΔV adalah selisih 5 cm³ tersebut. Karena massa (m) konstan, maka massa jenis air ρ air = m / V air dan massa jenis es ρ es = m / (V air + ΔV). Dengan massa 45 gram dan asumsi ρ air = 1 g/cm³, kita sudah mendapatkan V air = 45 cm³.
Jadi, interpretasi langsung dari ΔV=5 cm³ adalah penambahan volume sebesar 11% dari volume air awal, yang berujung pada penurunan massa jenis sekitar 10%.
Pengaruh Variasi Selisih Volume terhadap Hasil Perhitungan
Massa sampel yang tetap sebesar 45 gram menjadi variabel kontrol, sementara selisih volume yang mungkin teramati akan menghasilkan nilai massa jenis es yang berbeda-beda. Tabel berikut menunjukkan skenario hipotetis untuk menggambarkan sensitivitas hasil terhadap pengukuran ΔV.
| Massa Es (g) | Selisih Volume ΔV (cm³) | Volume Es Ves (cm³) | Massa Jenis ρes (g/cm³) |
|---|---|---|---|
| 45 | 3 | 48 | 0.9375 |
| 45 | 5 | 50 | 0.9000 |
| 45 | 7 | 52 | 0.8654 |
Isolasi Aljabar untuk Volume Es
Dalam prakteknya, volume awal air sebelum pembekuan (V air) mungkin tidak langsung diketahui, tetapi bisa diestimasi dari massa dan massa jenis air pada suhu tertentu. Dari persamaan dasar: ΔV = V es
-V air. Kita tahu V air = m / ρ air. Maka, untuk mengisolasi V es, kita substitusi: V es = ΔV + V air = ΔV + (m / ρ air).
Dengan demikian, hanya dengan data massa (m), selisih volume terukur (ΔV), dan asumsi ρ air (misalnya 0.998 g/cm³ pada 20°C), kita dapat memperoleh volume es tanpa perlu mengukur V air secara terpisah sebelum pembekuan.
Tata Letak dan Teknik Pengamatan Percobaan
Bayangkan sebuah laboratorium dasar dengan meja yang rata. Di atasnya terdapat gelas ukur silinder bening berkapasitas 100 mL, diletakkan di atas permukaan datar untuk memastikan pembacaan yang akurat. Gelas ukur ini diisi air hingga tanda 50 mL. Sebuah potongan es yang telah ditimbang massanya (45 g) dengan hati-hati dimasukkan ke dalam air menggunakan penjepit. Es tersebut akan mengapung.
Sebuah jarum atau kawat tipis yang panjang digunakan untuk menenggelamkan es secara perlahan hingga seluruh volumenya terendam tanpa menyentuh dasar gelas ukur secara berlebihan. Mata pengamat sejajar dengan permukaan cairan untuk membaca meniskus, yaitu lengkungan bawah permukaan air. Pembacaan dilakukan dengan cepat untuk meminimalkan efek pelelehan. Angka yang terbaca, katakanlah 95 mL, dikurangi volume air awal (50 mL) memberikan volume es (45 mL), atau selisih volumenya dapat dihitung jika volume air awal diketahui dari massa.
Metodologi Kalkulasi dan Sumber Ketidakpastian dalam Pengukuran
Meski konsepnya terlihat sederhana, mendapatkan nilai massa jenis es yang akurat dari percobaan ini penuh dengan jebakan. Beberapa sumber ketidakpastian bisa muncul dari awal persiapan hingga pembacaan akhir, dan memahami hal ini penting untuk menilai validitas hasil. Ketelitian alat ukur, seperti timbangan dan gelas ukur, memberikan batas dasar. Gelas ukur biasa seringkali hanya memiliki skala terkecil 1 mL, sehingga ketidakpastian pembacaannya bisa ±0.5 mL.
Untuk volume 50 mL, kesalahan ini sudah signifikan. Kemudian, kondisi es itu sendiri menjadi faktor kritis. Es yang digunakan mungkin tidak benar-benar padat; bisa jadi mengandung gelembung udara yang terperangkap selama pembekuan, yang membuat volume terukur menjadi lebih besar dari volume es murni, sehingga massa jenis yang dihitung jadi lebih rendah dari seharusnya.
Sumber kesalahan lain yang sering diabaikan adalah sublimasi dan pelelehan. Es dapat menyublim (berubah langsung dari padat ke gas) atau mencair selama penimbangan dan pengukuran volume. Saat ditimbang, massa yang hilang akibat sublimasi akan membuat hasil massa lebih rendah. Saat di dalam gelas ukur, es yang mencair akan menambah volume air, sehingga pembacaan volume total menjadi bias. Suhu lingkungan juga bermain peran; air dalam gelas ukur memuai jika suhunya naik, mempengaruhi pembacaan volume awal.
Interaksi antara permukaan es yang basah karena lelehan dan alat juga dapat mempengaruhi hasil timbangan.
Prosedur Terstruktur Perhitungan Massa Jenis
Setelah data mentah terkumpul, ikuti langkah sistematis berikut untuk menghitung massa jenis es.
- Catat massa es (m) dalam satuan gram. Contoh: m = 45.0 g.
- Catat volume air awal dalam gelas ukur (V1) dalam satuan cm³ atau mL (1 mL = 1 cm³). Contoh: V1 = 50.0 cm³.
- Masukkan es ke dalam gelas ukur, pastikan seluruhnya terendam, dan baca volume baru (V2). Contoh: V2 = 95.0 cm³.
- Hitung volume es: V es = V2 – V1 = 95.0 – 50.0 = 45.0 cm³.
- Hitung massa jenis es: ρ es = m / V es = 45.0 g / 45.0 cm³ = 1.00 g/cm³. (Catatan: contoh angka ini menghasilkan ρ=1, yang tidak sesuai anomali air, menunjukkan adanya kesalahan dalam contoh pengukuran hipotetis ini. Pada data soal, dengan ΔV=5, perhitungannya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya).
- Jika yang diketahui adalah selisih volume (ΔV), hitung: V es = (m / ρ air) + ΔV. Asumsikan ρ air = 1.00 g/cm³ untuk penyederhanaan, atau gunakan nilai lebih akurat sesuai suhu.
Metode Alternatif Pengukuran Massa Jenis Es
Selain metode selisih volume dengan gelas ukur, terdapat beberapa pendekatan lain. Metode pertama adalah menggunakan piknometer, sebuah botol kecil bervolume sangat tepat. Es ditimbang, kemudian dimasukkan ke dalam piknometer yang diisi penuh dengan air. Kelebihan air yang tumpah dikeringkan dan seluruh sistem ditimbang. Dari selisih massa, volume es dapat dihitung dengan presisi tinggi.
Kelebihan metode ini adalah akurasi yang sangat baik, namun kelemahannya adalah prosedur yang rumit dan risiko es mencair selama proses.
Metode kedua adalah metode Archimedes murni dengan neraca pegas. Es ditimbang massanya di udara, lalu ditimbang lagi saat seluruhnya tercelup dalam air. Gaya apung yang terukur langsung memberikan volume es. Kelebihan metode ini adalah cepat dan langsung, cocok untuk demonstrasi. Kelemahannya adalah kebutuhan untuk menenggelamkan es sepenuhnya tanpa ada gelembung udara yang menempel, dan lagi-ligi, pelelehan dapat mempengaruhi hasil.
“Suhu lingkungan yang fluktuatif dapat mengubah massa jenis air referensi dan menyebabkan ekspansi termal pada alat gelas. Pengukuran yang teliti mengharuskan pencatatan suhu air dan es, serta melakukan percobaan dalam interval waktu singkat untuk menstabilkan kondisi.” – Pertimbangan penting untuk akurasi.
Aplikasi Praktis Pengetahuan Massa Jenis Es dalam Konteks Ilmiah dan Rekayasa
Nilai massa jenis es yang sekitar 0.92 g/cm³ bukan sekadar angka di buku teks. Angka ini memiliki implikasi luas dan nyata dalam dunia rekayasa dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang teknik sipil, khususnya di daerah beriklim dingin atau kutub, pemahaman ini penting untuk merancang fondasi bangunan, jalan, dan pipa yang harus menahan tekanan dari es yang terbentuk di sekitarnya. Es yang memuai dapat menghasilkan tekanan hingga ratusan megapascal, cukup untuk meretakkan beton dan melengkungkan pelat baja.
Perancang struktur harus memperhitungkan potensi volume es ini untuk memilih material dan desain yang sesuai, misalnya dengan memberikan ruang muai atau menggunakan bahan yang lebih fleksibel.
Dalam sistem pendingin dan kriogenik, massa jenis es mempengaruhi efisiensi perpindahan panas dan desain penukar kalor. Lapisan es yang terbentuk pada koil evaporator memiliki konduktivitas termal yang berbeda dengan air, sehingga mempengaruhi laju pendinginan. Insinyur perlu memodelkan ketebalan dan kepadatan lapisan es ini untuk mengoptimalkan sistem. Di bidang klimatologi dan oseanografi, massa jenis es laut versus air laut menentukan stratifikasi kolom air, sirkulasi arus global, dan proses pembentukan gunung es yang berdampak pada navigasi.
Faktor Desain Struktur di Lingkungan Bersalju
Berikut adalah tabel yang memetakan hubungan beberapa parameter kunci dalam desain struktur yang berinteraksi dengan es.
| Massa Jenis Es (g/cm³) | Tekanan Muai Teoritis | Suhu Ambient | Faktor Keamanan Direkomendasikan |
|---|---|---|---|
| 0.917 (murni) | Sangat tinggi (terkandung) | < 0°C | Minimal 2.0 |
| 0.85 – 0.90 (salju padat) | Sedang hingga tinggi | -5°C s.d. 0°C | 1.5 – 1.8 |
| >0.92 (es dengan inklusi) | Tinggi dan tidak merata | Berfluktuasi sekitar 0°C | >2.5 |
Peran dalam Pembentukan Gunung Es dan Ekosistem
Karena massa jenisnya yang lebih rendah, es mengapung dengan sekitar 90% volumenya terendam di bawah air. Fakta ini memiliki konsekuensi dramatis. Sebuah gunung es yang tampak besar di permukaan laut sebenarnya menyimpan volume yang jauh lebih besar dan berbahaya di bawah air, menjadi ancaman bagi kapal. Secara ekologis, es yang mengapung menciptakan habitat unik di permukaan bawahnya, menjadi tempat berlindung dan mencari makan bagi organisme tertentu.
Es laut juga memantulkan sinar matahari (albedo tinggi), sehingga mempengaruhi iklim global. Perubahan massa jenis es karena kandungan garam atau gelembung udara dapat mempengaruhi seberapa dalam es tersebut mengapung, yang pada gilirannya mempengaruhi proses pencairan dan pertukaran panas antara laut dan atmosfer.
Pengembangan Pelapis Anti-Beku pada Sayap Pesawat
Insinyur material memanfaatkan pemahaman mendalam tentang pembentukan es, termasuk bagaimana massa jenis dan struktur kristal es terbentuk pada permukaan, untuk mengembangkan pelapis canggih. Mereka mendesain permukaan sayap pesawat dengan lapisan hidrofobik atau mengandung bahan kimia yang menghambat adhesi es. Tujuannya adalah membuat lapisan es yang terbentuk memiliki ikatan yang lemah dengan permukaan sayap dan memiliki struktur yang keropos (massa jenis lebih rendah), sehingga mudah pecah dan terlepas oleh aliran udara atau sistem de-icing mekanis.
Penelitian berfokus pada bagaimana tekstur mikro permukaan dapat mengontrol pertumbuhan kristal es, mencegah terbentuknya lapisan es padat dan rapat yang berbahaya bagi aerodinamika.
Eksperimen Simulasi dan Variasi Parameter untuk Pemahaman Mendalam
Untuk membuktikan hubungan proporsional antara massa dan selisih volume ketika massa jenis konstan, kita bisa melakukan simulasi perhitungan. Ambil massa jenis es referensi ρ es = 0.92 g/cm³. Jika massa sampel berubah, volume es akan berubah sesuai rumus V = m/ρ. Selisih volume ΔV = V es
-V air. Karena V air = m/ρ air (dengan ρ air=1), maka ΔV = m/0.92 – m/1 = m*(1/0.92 – 1) ≈ m*0.087.
Ini menunjukkan bahwa ΔV sebanding lurus dengan massa (m). Artinya, untuk setiap penambahan massa es, selisih volumenya akan bertambah dengan faktor sekitar 0.087. Contoh, untuk m=45 g, ΔV ≈ 3.9 cm³; untuk m=90 g, ΔV ≈ 7.8 cm³. Perbedaan dengan data soal (ΔV=5 cm³) muncul dari asumsi nilai massa jenis yang sedikit berbeda.
Skenario Eksperimen dengan Gelembung Udara, Menentukan massa jenis es dari selisih volume 5 cm³ pada 45 g
Bayangkan sebuah eksperimen hipotetis di mana es yang digunakan mengandung banyak gelembung udara kecil yang terperangkap di dalamnya.
- Es dengan massa 45 gram ini memiliki dua komponen: materi es murni dan udara.
- Saat diukur volumenya dengan metode perpindahan air, yang terukur adalah volume total, termasuk volume udara.
- Volume terukur (V total) akan lebih besar daripada volume es murni sebenarnya (V es murni).
- Perhitungan massa jenis menjadi ρ hitung = m total / V total. Karena V total membesar, nilai ρ hitung akan lebih kecil dari massa jenis es murni.
- Hasilnya akan menunjukkan nilai massa jenis es yang jauh lebih rendah dari 0.92 g/cm³, misalnya 0.85 g/cm³, yang secara keliru dapat dianggap sebagai anomali yang lebih ekstrem.
Perbandingan dengan Nilai Referensi dan Analisis Penyimpangan
Nilai massa jenis es murni pada 0°C dari literatur ilmiah yang terpercaya adalah sekitar 0.9167 g/cm³. Hasil dari percobaan kita, yang mungkin sekitar 0.9 g/cm³, perlu dianalisis penyimpangannya. Penyebab perbedaan bisa sistematis, seperti penggunaan air yang tidak tepat pada suhu 4°C (sehingga ρ air bukan tepat 1), atau es yang tidak murni seperti telah dibahas. Kesalahan acak berasal dari ketelitian pembacaan volume dan massa.
Jika hasil percobaan konsisten lebih rendah, kemungkinan besar ada gelembung udara atau es telah mencair sebagian sebelum pengukuran volume. Jika hasil lebih tinggi, mungkin ada kesalahan dalam mengukur selisih volume, atau es terdorong terlalu dalam sehingga menekan air dan pembacaan volume menjadi lebih kecil dari seharusnya.
“Selalu gunakan sarung tangan isolasi atau penjepit saat menangani es untuk percobaan, bukan hanya untuk mencegah tangan dingin, tetapi juga untuk meminimalkan perpindahan panas dari kulit yang mempercepat pelelehan. Pastikan area kerja kering untuk menghindari kecelakaan terpeleset, dan lap segera tumpahan air.” – Panduan keselamatan laboratorium dasar.
Terakhir
Source: slidesharecdn.com
Jadi, begitulah ceritanya. Dari pengamatan selisih volume yang tampak sepele, yaitu 5 cm³, kita berhasil mengulik dan menghitung massa jenis es. Perhitungan ini bukan sekadar angka mati, melainkan pintu masuk untuk memahami prinsip fisika yang bekerja di sekitar kita, mulai dari ancaman gunung es terhadap pelayaran hingga inovasi material anti-beku di dunia penerbangan. Eksperimen ini mengajarkan bahwa hal-hal besar seringkali berawal dari detail pengukuran yang cermat.
Pada akhirnya, memahami massa jenis es berarti memahami salah satu keanehan alam yang justru mendukung kehidupan. Anomali air yang membuat es mengapung ini melindungi ekosistem perairan selama musim dingin. Jadi, lain kali melihat es batu di gelas, ingatlah bahwa di balik kristal bening itu ada cerita panjang tentang kerapatan, volume, dan keajaiban fisika yang bisa kita hitung dengan teliti. Selamat bereksperimen, dan selalu perhatikan detailnya!
Sudut Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah selisih volume 5 cm³ itu selalu konstan untuk es bermassa 45 gram?
Tidak selalu. Nilai selisih volume bergantung pada suhu dan kemurnian es. Es yang lebih dingin atau mengandung gelembung udara dapat menghasilkan selisih volume yang berbeda, sehingga mempengaruhi hasil perhitungan massa jenis.
Mengapa harus menggunakan prinsip Archimedes atau gelas ukur dalam pengukuran ini?
Karena es memiliki bentuk tidak beraturan dan dapat mencair. Mengukur volume benda tidak beraturan secara akurat paling mudah dilakukan dengan metode pencelupan (prinsip Archimedes) menggunakan gelas ukur berisi air.
Bagaimana jika massa esnya bukan 45 gram, melainkan lebih berat atau lebih ringan?
Prinsipnya tetap sama. Selisih volume yang diamati akan berbanding lurus dengan massa jika massa jenis es-nya sama. Anda tinggal menyesuaikan perhitungannya. Tabel dalam Artikel menunjukkan skenario untuk variasi massa.
Apa sumber kesalahan terbesar dalam percobaan praktik ini?
Selain ketelitian alat baca, proses sublimasi (es menyublim menjadi uap) dan pelelehan es yang terlalu cepat selama pengukuran dapat mengubah massa dan volume sesungguhnya, sehingga menjadi sumber ketidakpastian utama.
Apakah nilai massa jenis es dari percobaan ini akan sama persis dengan nilai di buku teks?
Mungkin mendekati, tapi jarang sama persis. Perbedaan bisa muncul karena suhu es yang tidak tepat 0°C, adanya ketidakmurnian dalam air, atau kesalahan sistematik dalam pengukuran volume dan massa.