Frekuensi dan Panjang Gelombang dari Y = 0,05 sin(4πt+20πx) Diungkap

Frekuensi dan Panjang Gelombang dari Y = 0,05 sin(4πt+20πx) mungkin terlihat seperti sekumpulan angka dan simbol yang acak bagi yang baru pertama kali melihatnya. Tapi percayalah, di balik tampilan matematisnya yang sedikit menakutkan itu, tersembunyi cerita lengkap tentang sebuah gelombang—seberapa cepat ia bergetar, seberapa jauh ia merambat, dan bagaimana ia menghantarkan energi. Persamaan ini bukan sekadar tugas sekolah; ini adalah kunci untuk memahami bahasa universal gelombang, dari suara yang kita dengar hingga sinyal yang menghubungkan dunia.

Dengan menganalisis angka-angka dalam persamaan tersebut, khususnya konstanta 4π dan 20π, kita bisa mengupas identitas gelombang ini layaknya detektif yang memecahkan kode. Kita akan menemukan frekuensi, panjang gelombang, dan kecepatannya. Amplitudo sebesar 0,05 juga punya cerita sendiri, menyingkap besarnya energi yang dibawa. Mari kita telusuri bersama bagaimana rumus yang tampak sederhana ini merekam seluruh dinamika gerak gelombang dalam ruang dan waktu.

Menyingkap Identitas Gelombang Tersembunyi dalam Persamaan Y = 0,05 sin(4πt+20πx)

Persamaan Y = 0,05 sin(4πt+20πx) bukan sekadar kumpulan simbol matematika yang abstrak. Di balik bentuknya yang sederhana, ia menyimpan cetak biru lengkap tentang karakter sebuah gelombang berjalan. Kunci untuk membongkar rahasia ini terletak pada dua konstanta penting: 4π yang mengiringi variabel waktu (t) dan 20π yang mengiringi variabel posisi (x). Angka-angka ini sebenarnya adalah bahasa kode yang langsung memberitahu kita tentang seberapa cepat gelombang bergetar dan seberapa rapat pola ulangannya di ruang.Argumen fungsi sinus, yaitu (4πt + 20πx), merupakan jantung dari persamaan.

Bagian yang mengandung ‘t’, yaitu 4πt, terkait dengan dinamika gelombang terhadap waktu. Koefisien di depan ‘t’ ini bernilai 4π, yang dalam dunia gelombang dikenal sebagai frekuensi sudut (ω). Sementara itu, bagian yang mengandung ‘x’, yaitu 20πx, mengungkapkan struktur gelombang dalam ruang. Koefisien di depan ‘x’ ini bernilai 20π, yang disebut sebagai bilangan gelombang (k). Dari dua nilai kunci inilah semua sifat gelombang yang teramati bisa kita turunkan.

Frekuensi biasa (f) didapat dari ω dibagi 2π, dan panjang gelombang (λ) didapat dari 2π dibagi k. Kecepatan rambat gelombang pun dengan mudah ditemukan melalui hubungan v = ω/k atau v = fλ.

Ekstraksi Parameter Gelombang dari Argumen Sinus

Proses mengekstrak parameter gelombang dari persamaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sistematis yang jelas. Pendekatan ini memisahkan pengaruh waktu dan ruang untuk kemudian menyatukannya kembali dalam pemahaman yang komprehensif.

Langkah-langkah Sistematis:

1. Identifikasi bentuk umum

Y = A sin(ωt ± kx). Bandingkan dengan persamaan yang diberikan: Y = 0,05 sin(4πt + 20πx).

2. Isolasi koefisien waktu

Dari suku 4πt, diperoleh frekuensi sudut ω = 4π rad/s.

3. Hitung frekuensi (f)

f = ω / (2π) = (4π) / (2π) = 2 Hz. Artinya, ada 2 siklus gelombang lengkap yang melewati suatu titik setiap detiknya.

4. Isolasi koefisien ruang

Dari suku 20πx, diperoleh bilangan gelombang k = 20π rad/m.

5. Hitung panjang gelombang (λ)

λ = 2π / k = (2π) / (20π) = 0.1 m. Artinya, jarak antara dua puncak gelombang yang berdekatan adalah 10 sentimeter.

6. Tentukan kecepatan fase (v)

v = ω / k = (4π) / (20π) = 0.2 m/s. Bisa juga dengan v = fλ = 2 Hz

0.1 m = 0.2 m/s.

Tabel Parameter Dasar Gelombang

Berikut adalah rangkuman besaran-besaran fundamental gelombang yang dihasilkan dari analisis konstanta dalam persamaan.

Besaran Simbol Nilai Cara Perolehan
Frekuensi f 2 Hz f = ω/2π = (4π)/(2π)
Panjang Gelombang λ 0.1 m λ = 2π/k = (2π)/(20π)
Bilangan Gelombang k 20π rad/m Koefisien langsung dari suku x
Kecepatan Fase v 0.2 m/s v = ω/k = fλ

Visualisasi Dinamis Hubungan Antara Getaran Waktu dan Pola Ruang

Bayangkan sebuah tali yang sangat panjang direntangkan secara horizontal. Pada momen awal (t=0), tali itu telah dibentuk menjadi pola sinusoidal yang sempurna, seperti rangkaian bukit dan lembah miniatur dengan jarak puncak ke puncak tepat 10 sentimeter. Itulah “foto” gelombang kita pada waktu nol. Sekarang, hidupkan waktu. Pola bukit dan lembah itu tidak diam; seluruh profil bentuk gelombang mulai bergerak sepanjang tali.

BACA JUGA  Hitung GGL Baterai 1Ω 0 5A dan Kisah Gaya Gerak Listrik

Setiap titik pada tali naik dan turun secara vertikal mengikuti irama sinus, tetapi keseluruhan pola bergeser secara horizontal. Gerakan ini menciptakan ilusi seolah-olah bentuk gelombang “berjalan” ke kiri atau kanan. Dalam kasus persamaan kita dengan tanda plus (+20πx), gelombang merambat ke arah sumbu x negatif, atau ke kiri jika sumbu x mengarah ke kanan.Keindahan gerak ini terletak pada hubungan yang tetap antara osilasi waktu di satu titik dan pola spasial di seluruh ruang.

Jika kamu fokus pada satu titik tertentu di tali, misalnya di x=0, kamu akan melihat titik itu bergerak naik-turun 2 kali setiap detik. Namun, jika kamu mengambil foto cepat (snapshot) pada waktu tertentu, misalnya t=0.25 detik, kamu akan melihat seluruh pola telah bergeser dari posisi awalnya. Pergeseran ini terjadi karena fase gelombang, yaitu argumen (4πt+20πx), harus tetap konstan untuk mengikuti pergerakan sebuah puncak tertentu.

Pengaruh Koefisien t dan x terhadap Bentuk Gelombang

Nilai koefisien yang mengalikan variabel waktu (t) dan posisi (x) secara langsung mengontrol karakter visual dan kinematika gelombang. Perubahan pada koefisien-kofisien ini akan mengubah pengalaman mengamati gelombang, baik pada suatu momen tertentu maupun pada suatu titik tertentu.

  • Koefisien waktu (ω=4π): Nilai ini menentukan seberapa cepat gelombang berosilasi. Angka yang lebih besar akan membuat gelombang bergoyang lebih cepat, sehingga pada suatu titik tertentu, naik-turunnya akan lebih sering. Pada snapshot waktu, perubahan koefisien ini tidak mengubah bentuk kurva, tetapi mengubah seberapa jauh profil tersebut telah bergeser dari posisi t=0.
  • Koefisien posisi (k=20π): Nilai ini menentukan kerapatan gelombang. Angka yang lebih besar akan menghasilkan panjang gelombang yang lebih pendek, sehingga pada suatu momen tertentu, bukit dan lembah gelombang akan terlihat lebih rapat dan berjumlah lebih banyak dalam jarak yang sama. Ini secara langsung mengubah bentuk kurva yang terlihat dalam snapshot.
  • Hubungan Keduanya: Perbandingan ω/k menentukan kecepatan rambat. Jika kedua koefisien diperbesar dengan faktor yang sama, kecepatan tetap, tetapi gelombang akan berosilasi lebih cepat dan memiliki pola yang lebih rapat.

Contoh Perhitungan Pergerakan Puncak Gelombang

Mari kita lacak pergerakan satu puncak gelombang, misalnya puncak pertama di sebelah kanan titik asal pada saat t=0. Puncak terjadi ketika nilai sinus maksimum, yaitu saat fasenya sama dengan π/2, 5π/2, dan seterusnya. Untuk kemudahan, kita ambil fase π/

2. Pada t=0

Fase = 4π(0) + 20πx = 20πx. Agar fase = π/2, maka 20πx = π/2, sehingga x = (π/2) / (20π) = 1/40 = 0.025 m. Jadi, puncak berada di x = 2.5 cm.Pada t=0.25 detik: Fase = 4π(0.25) + 20πx = π + 20πx. Agar fase tetap π/2 (mengikuti puncak yang sama), maka π + 20πx = π/2.

Ini menghasilkan 20πx = π/2 – π = -π/2, sehingga x = (-π/2) / (20π) = -1/40 = -0.025 m.

Prinsip Dasar: Puncak gelombang bergerak untuk mempertahankan nilai fase total (ωt + kx) yang konstan. Pergeseran posisi puncak dari x₁ ke x₂ dalam selang waktu Δt memenuhi hubungan ωΔt + k(x₂

  • x₁) = 0, yang mengarah pada kecepatan v = (x₂
  • x₁)/Δt = -ω/k. Hasil perhitungan di atas menunjukkan puncak bergerak dari x=+0.025 m ke x=-0.025 m dalam 0.25 detik, yang konsisten dengan kecepatan -0.2 m/s.

Interpretasi Fisikal Amplitudo 0,05 dalam Konteks Energi dan Intensitas

Frekuensi dan Panjang Gelombang dari Y = 0,05 sin(4πt+20πx)

Source: co.id

Angka 0.05 pada persamaan Y = 0,05 sin(4πt+20πx) bukanlah angka hiasan. Ia adalah amplitudo gelombang, yang menyatakan simpangan maksimum dari titik setimbang, dalam satuan meter. Dalam konteks gelombang tali, ini berarti titik-titik pada tali bergerak naik-turun dengan jarak maksimum 5 sentimeter dari posisi rata-ratanya. Makna fisisnya jauh lebih dalam: amplitudo adalah penentu utama energi yang dibawa oleh gelombang. Energi gelombang mekanik, seperti pada tali atau suara, tidak tersimpan dalam kecepatan rambatnya, tetapi dalam gerakan osilasi partikel mediumnya.Energi total yang diusung gelombang berbanding lurus dengan kuadrat amplitudonya.

Hubungan ini fundamental. Untuk gelombang pada tali, energi per satuan panjang yang dirambatkan sebanding dengan A², frekuensi kuadrat (ω²), dan massa jenis linear tali. Artinya, jika kita menggandakan amplitudo menjadi 0.10, energi yang dibawa gelombang bukan menjadi dua kali lipat, melainkan empat kali lipat. Peningkatan amplitudo sepuluh kali lipat menjadi 0.50 akan meningkatkan energinya menjadi seratus kali lipat! Inilah sebabnya mengapa dalam dunia nyata, meningkatkan kekuatan sinyal (energi) seringkali memerlukan usaha yang jauh lebih besar daripada sekadar menambah amplitudo sedikit.

Intensitas gelombang, yaitu daya yang ditransmisikan per satuan luas, juga mengikuti aturan yang sama: berbanding lurus dengan kuadrat amplitudo. Jadi, gelombang dengan amplitudo 0.05 ini membawa paket energi yang spesifik, dan pengukurannya dalam skenario dunia nyata—misalnya dengan mengukur perpindahan maksimum sebuah sensor atau tekanan suara maksimum—langsung memberikan gambaran tentang kekuatan gelombang tersebut.

BACA JUGA  Tentukan Diameter Lingkaran pada Gambar dari Arsitektur hingga Seni

Dampak Perubahan Amplitudo terhadap Energi Gelombang

Mengubah amplitudo sambil mempertahankan frekuensi dan panjang gelombang (yang bergantung pada ω dan k) adalah seperti mengubah “volume” gelombang tanpa mengubah “nada” dan “kecepatan”-nya. Perubahan ini memiliki implikasi energi yang dramatik dan dapat diprediksi secara kuantitatif.

  • Amplitudo Dua Kali Lipat (0.05 → 0.10): Energi gelombang menjadi (0.10/0.05)² = 2² = 4 kali lebih besar. Gelombang akan terlihat atau terdengar lebih “kuat” secara signifikan, membawa energi empat kali lipat untuk meresonansi objek atau memindahkan partikel medium.
  • Amplitudo Sepuluh Kali Lipat (0.05 → 0.50): Energi gelombang melonjak menjadi (0.50/0.05)² = 10² = 100 kali lebih besar. Ini adalah peningkatan yang masif. Dalam konteks praktis, gelombang dengan energi sebesar ini mungkin sudah memasuki wilayah non-linear atau dapat menyebabkan kerusakan jika medium tidak mampu menanganinya.
  • Prinsip Keteguhan: Frekuensi dan panjang gelombang yang tetap menjamin kecepatan rambat dan pola interferensi gelombang tidak berubah. Hanya “kekuatan” setiap titik pada pola gelombang itulah yang berubah.

Tabel Perbandingan Energi Relatif Berdasarkan Amplitudo, Frekuensi dan Panjang Gelombang dari Y = 0,05 sin(4πt+20πx)

Asumsi: Medium, frekuensi (2 Hz), dan panjang gelombang (0.1 m) identik. Energi dihitung secara relatif terhadap kasus amplitudo dasar 0.05.

Nah, dari persamaan gelombang Y = 0,05 sin(4πt+20πx), kita bisa hitung frekuensinya 2 Hz dan panjang gelombangnya 0,1 meter. Analisis seperti ini mengingatkan kita bahwa setiap sistem punya parameter yang bisa dievaluasi, mirip seperti ketika kita mengkaji Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Pancasila pada Orde Lama untuk memahami dinamika politik masa itu. Kembali ke fisika, pemahaman mendalam tentang frekuensi dan panjang gelombang ini krusial untuk memprediksi perilaku gelombang secara tepat.

Amplitudo (A) dalam meter Perbandingan (A/A₀) Energi Relatif (E/E₀) Interpretasi Kualitatif
0.05 (Dasar) 1 1 Energi acuan. Simpangan maksimum 5 cm.
0.10 2 4 Energi 4x lebih besar. Simpangan maksimum 10 cm.
0.50 10 100 Energi 100x lebih besar. Simpangan maksimum 50 cm.

Aplikasi Praktis Pola 4πt+20πx dalam Teknologi Modern

Gelombang dengan spesifikasi f=2 Hz dan λ=0.1 m (v=0.2 m/s) mungkin terdengar lambat dan besar untuk konteks gelombang tali biasa. Namun, prinsip matematika yang sama persis berlaku untuk gelombang dengan frekuensi jauh lebih tinggi dan panjang gelombang jauh lebih pendek, yang merupakan tulang punggung teknologi modern. Bayangkan gelombang elektromagnetik, seperti gelombang radio atau cahaya. Persamaan medan listrik atau magnetiknya memiliki bentuk matematis serupa.

Dengan mengubah skala konstanta ω dan k, kita dapat mendesain gelombang untuk aplikasi spesifik. Sebagai contoh, gelombang dengan frekuensi sekitar 2.4 GHz (ω ≈ 4.8π x 10⁹ rad/s) dan panjang gelombang sekitar 12.5 cm (k ≈ 16π rad/m) adalah jantung dari komunikasi Wi-Fi dan Bluetooth. Pola “4πt+20πx” menjadi “4.8π x 10⁹ t + 16π x” yang jauh lebih padat, tetapi esensi analisisnya tetap sama.Dalam pencitraan medis seperti ultrasonografi, gelombang suara frekuensi tinggi (misal 5 MHz) yang dipancarkan ke tubuh memiliki panjang gelombang dalam orde milimeter di dalam jaringan.

Panjang gelombang yang pendek ini (hasil dari nilai k yang besar) sangat penting untuk resolusi. Ia menentukan seberapa detail sebuah struktur kecil dapat dibedakan dalam gambar. Prinsip difraksi dan interferensi, yang sangat bergantung pada perbandingan antara panjang gelombang dan ukuran celah atau penghalang, sepenuhnya diatur oleh bilangan gelombang k dalam persamaan kita. Gelombang dengan λ=0.1 m akan mengalami difraksi yang sangat kuat jika melewati celah berukuran serupa, menyebar dengan sudut yang lebar.

Sebaliknya, untuk “melihat” detail kecil, kita membutuhkan gelombang dengan λ yang jauh lebih kecil daripada objek yang diamati, yang berarti nilai k harus sangat besar.

Interaksi Gelombang dengan Penghalang Berdasarkan Panjang Gelombang

Ilustrasi interaksi gelombang kita (λ=0.1 m) dengan sebuah penghalang yang memiliki celah sempit selebar 0.05 m (setengah panjang gelombang). Ketika muka gelombang bidang mencapai penghalang, hanya bagian yang sesuai dengan lebar celah yang diteruskan. Karena celah lebih kecil dari panjang gelombang, fenomena difraksi akan sangat menonjol. Gelombang yang keluar dari celah tidak lagi berupa berkas lurus; ia akan menyebar ke segala arah membentuk pola setengah lingkaran, seolah-olah celah itu sendiri menjadi sumber gelombang baru titik.

Intensitasnya akan berkurang secara signifikan karena energi tersebar. Jika di belakang celah diletakkan layar, akan terlihat daerah terang yang luas dan tidak tajam, bukan titik tajam. Ini menggambarkan mengapa dalam teknologi radar atau komunikasi, menggunakan panjang gelombang yang sesuai dengan ukuran antena atau apertur sangat penting untuk mendapatkan berkas yang terarah dan tidak menyebar.

BACA JUGA  Energi Kinetik Benda di Titik Tertinggi setelah Tembakan 60° 400 J dan Analisis Gerak Parabola

Prosedur Memanipulasi Persamaan untuk Panjang Gelombang Lebih Pendek

Untuk aplikasi resolusi tinggi seperti mikroskopi optik atau sonar berpresisi, panjang gelombang perlu diperpendek sambil mempertahankan kecepatan rambat di medium yang sama (misalnya, kecepatan cahaya dalam vakum tetap konstan, kecepatan suara dalam jaringan tubuh relatif konstan). Berikut adalah prosedur konseptual memanipulasi persamaan awal.

  • Tetapkan Kecepatan Target: Kecepatan fase v harus tetap konstan. Dari persamaan awal, v = ω/k = 0.2 m/s. Untuk menjaga v tetap, perbandingan ω/k harus selalu 0.2.
  • Tentukan Panjang Gelombang Baru: Misalkan kita menginginkan panjang gelombang 5 kali lebih pendek, yaitu λ_baru = 0.02 m. Maka, bilangan gelombang baru k_baru = 2π/λ_baru = 2π/0.02 = 100π rad/m.
  • Hitung Frekuensi Sudut Baru: Untuk menjaga v=0.2 m/s, ω_baru = v
    – k_baru = 0.2 m/s
    – 100π rad/m = 20π rad/s.
  • Susun Persamaan Baru: Persamaan gelombang baru menjadi Y = A sin(20πt + 100πx). Frekuensinya meningkat dari 2 Hz menjadi 10 Hz, sementara panjang gelombang memendek dari 0.1 m ke 0.02 m, dengan kecepatan tetap 0.2 m/s.

Eksplorasi Matematis Variasi Phase Constant dan Pengaruhnya terhadap Profil Gelombang

Fase gelombang total dalam persamaan kita adalah (4πt+20πx). Nilai inilah yang dimasukkan ke dalam fungsi sinus untuk menentukan simpangan Y. Penambahan sebuah konstanta fase φ, sehingga menjadi Y = 0,05 sin(4πt+20πx + φ), tidak mengubah sifat dinamis gelombang seperti frekuensi, panjang gelombang, atau kecepatan. Yang berubah adalah keadaan awal gelombang. Konstanta φ ini menggeser seluruh profil gelombang secara spasial pada waktu nol (t=0).

Ia menentukan di mana posisi puncak, lembah, dan titik nol gelombang berada saat kita mulai mengamati. Dalam banyak aplikasi, seperti pada interferensi gelombang dari dua sumber, perbedaan fase (Δφ) antar gelombang adalah penentu utama apakah mereka akan saling menguatkan atau melemahkan.

Contoh Numerik Pergeseran Fase

Mari kita amati gelombang pada saat t=0 dengan menambahkan konstanta fase φ yang berbeda.Persamaan dasar (φ=0): Y = 0,05 sin(20πx). Pada x=0, sin(0)=0, jadi Y=0. Titik asal berada di titik setimbang dan sedang bergerak ke arah positif (karena koefisien waktu positif).Untuk φ = π/2: Y = 0,05 sin(20πx + π/2). Pada x=0, sin(π/2)=1, jadi Y=0.05. Titik asal sudah berada di simpangan maksimum positif (puncak) pada saat t=0.

Profil gelombang secara keseluruhan telah bergeser ke kiri sejauh λ/4 dibandingkan kasus φ=

0. Untuk φ = π

Y = 0,05 sin(20πx + π). Pada x=0, sin(π)=0, jadi Y=0. Namun, karena fasenya π (180 derajat), titik ini berada di titik setimbang tetapi sedang bergerak ke arah negatif. Profil gelombang terbalik (inversi) dan bergeser sejauh λ/2.

Aturan Umum Pergeseran Fase: Penambahan konstanta fase positif (+φ) pada argumen sinus menyebabkan seluruh bentuk gelombang bergeser ke arah sumbu x negatif (ke kiri) sejauh Δx = -φ/k. Sebaliknya, fase negatif menyebabkan pergeseran ke kanan. Pergeseran sebesar φ = 2π setara dengan satu panjang gelombang penuh, mengembalikan gelombang ke profil yang sama persis secara visual.

Terakhir

Jadi, begitulah kisah lengkap di balik Y = 0,05 sin(4πt+20πx). Dari mengurai konstanta untuk menemukan frekuensi 2 Hz dan panjang gelombang 0.1 meter, hingga membayangkan aplikasinya dalam teknologi dan memahami bagaimana perubahan kecil seperti menambah fase bisa menggeser seluruh gelombang. Intinya, persamaan ini adalah sebuah blueprint, sebuah cetak biru yang elegan yang menggambarkan sebuah fenomena dinamis dengan presisi matematis. Pemahaman terhadapnya bukan hanya tentang menyelesaikan soal, tetapi tentang membuka mata terhadap pola-pola fundamental yang mengatur alam dan teknologi di sekitar kita.

FAQ Terperinci: Frekuensi Dan Panjang Gelombang Dari Y = 0,05 Sin(4πt+20πx)

Apakah gelombang ini termasuk gelombang transversal atau longitudinal?

Persamaan ini bersifat umum. Untuk menentukan jenisnya, kita perlu tahu arah getaran relatif terhadap arah rambat. Jika Y adalah simpangan tegak lurus arah rambat (sumbu x), maka ia transversal. Jika Y menyatakan variasi rapatan/sepanjan arah rambat (x), maka ia longitudinal. Dari notasi standar, Y = 0,05 sin(4πt+20πx) sering dimodelkan sebagai gelombang transversal pada tali.

Satuan apa yang digunakan untuk besaran dalam persamaan ini?

Persamaan tersebut konsisten secara dimensional. Biasanya, ‘t’ dalam sekon (s), ‘x’ dalam meter (m), sehingga amplitudo 0,05 juga dalam meter (m). Konstanta 4π harus memiliki satuan rad/s, dan 20π memiliki satuan rad/m, agar argumen sinus tidak bersatuan.

Bagaimana jika tanda dalam argumen sinus menjadi minus, misalnya sin(4πt – 20πx)?

Perubahan tanda pada suku spasial (20πx) mengubah arah rambat gelombang. Bentuk sin(4πt + 20πx) merambat ke arah sumbu x negatif, sedangkan sin(4πt – 20πx) merambat ke arah sumbu x positif. Frekuensi dan panjang gelombangnya tetap sama.

Dapatkah persamaan ini menggambarkan gelombang suara atau cahaya?

Secara matematis, bisa, karena bentuknya umum. Namun, nilai numerik frekuensi dan panjang gelombangnya menentukan kelayakan. Gelombang dengan f=2 Hz dan λ=0.1 m lebih cocok untuk gelombang mekanik pada tali atau permukaan air, bukan cahaya tampak (yang frekuensinya sangat tinggi) atau suara di udara (yang panjang gelombangnya biasanya lebih panjang pada frekuensi rendah).

Apa yang terjadi jika kita mengganti fungsi sinus (sin) dengan kosinus (cos)?

Penggantian sin dengan cos setara dengan menambahkan konstanta fase (φ) sebesar π/2 radian, karena cos(θ) = sin(θ + π/2). Jadi, Y = 0,05 cos(4πt+20πx) sama dengan Y = 0,05 sin(4πt+20πx + π/2). Profil gelombang akan mengalami pergeseran fase seperempat panjang gelombang pada saat t=0.

Leave a Comment