Pimpinan Tentara Sekutu Mendarat di Surabaya Awal Konflik

Pimpinan Tentara Sekutu Mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 bukan sekadar kedatangan pasukan biasa, melainkan sebuah momen krusial yang mengubah peta perjuangan Indonesia pasca-proklamasi. Suasana kota yang masih dipenuhi semangat kemerdekaan bertabrakan dengan misi Sekutu yang mengklaim bertujuan melucuti senjata Jepang dan membebaskan tawanan perang. Kedatangan mereka, dipimpin oleh Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, bagai meletakkan bara di atas tumpukan jerami yang siap menyala.

Peristiwa ini terjadi dalam situasi politik yang sangat labil, di mana Republik Indonesia yang masih muda sedang berjuang mempertahankan kedaulatannya dari berbagai ancaman. Pendaratan tersebut menjadi titik awal dari rangkaian ketegangan, salah paham, dan konfrontasi yang akhirnya memuncak dalam salah satu pertempuran terbesar dan paling heroik dalam sejarah revolusi nasional. Narasi kedatangan “penjaga perdamaian” ini pun segera berubah menjadi cerita tentang benturan dua kedaulatan.

Kedatangan Pimpinan Tentara Sekutu di Surabaya pada Oktober 1945 membawa dinamika kompleks, mirip kerumitan dalam ilmu tajwid yang memiliki aturan tersendiri. Sebelum bergerak lebih jauh, memahami prinsip-prinsip mendasar itu penting, seperti halnya menguasai Macam‑macam Hukum Ikhfa Beserta Contohnya untuk membaca teks dengan benar. Demikian pula, analisis mendalam terhadap peristiwa bersejarah ini memerlukan pendekatan yang sistematis dan teliti agar tidak terjadi kesalahan penafsiran, sebagaimana yang akhirnya memicu gelora perlawanan rakyat Surabaya.

Latar Belakang dan Konteks Sejarah: Pimpinan Tentara Sekutu Mendarat Di Surabaya

Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Dalam vakum tersebut, para pemuda dan tokoh nasionalis memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Situasi di tanah air, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya, penuh dengan gejolak revolusioner. Para pemuda mengambil alih senjata dari tentara Jepang dan membentuk badan-badan perjuangan, sementara pemerintah Republik yang masih sangat muda berusaha mengonsolidasikan kekuasaan.

Kedatangan tentara Sekutu, dalam hal ini Inggris yang tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI), pada dasarnya adalah bagian dari operasi militer yang dikenal sebagai SEAC (South East Asia Command). Tugas resmi mereka adalah melucuti dan memulangkan tentara Jepang, membebaskan tawanan perang Sekutu (terutama Romusha dan interniran Belanda), serta menciptakan stabilitas. Namun, di balik tugas itu, terdapat agenda terselubung Belanda (NICA) yang ikut membonceng untuk kembali menegakkan kekuasaan kolonialnya, menjadikan misi Sekutu sangat ambigu dan rentan konflik.

Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Peristiwa Pendaratan

Peristiwa ini melibatkan aktor utama dan pendukung dengan kepentingan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, terdapat pasukan Inggris dari Divisi India ke-23 dan Divisi India ke-5 di bawah komando SEAC. Mereka didampingi oleh personel NICA yang mulai muncul dengan seragam baru. Di sisi lain, berdiri pemerintah Republik Indonesia, yang di Surabaya diwakili oleh Gubernur Suryo, serta kekuatan massa yang terdiri dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR), laskar pemuda, dan rakyat Surabaya yang baru merasakan udara kemerdekaan.

Timeline Menuju Pendaratan di Surabaya

Rangkaian peristiwa bergerak cepat setelah proklamasi, memuncak pada kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya.

  • 15 Agustus 1945: Jepang menyerah kepada Sekutu.
  • 17 Agustus 1945: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan.
  • 19 September 1945: Insiden Bendera di Hotel Yamato, Surabaya, memanaskan situasi.
  • 25 Oktober 1945: Puncak dari rangkaian ini, sekitar 6.000 pasukan Inggris dari Brigade 49, Divisi India ke-23, pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, mendarat di Surabaya.

Tokoh Penting yang Berhadapan

Interaksi antara pimpinan militer Inggris dan tokoh Indonesia di Surabaya menjadi penentu dinamika yang kompleks. Kedua belah pihak datang dengan latar belakang, mandat, dan ekspektasi yang sama sekali berbeda, menciptakan percakapan yang sarat dengan ketegangan dan salah paham.

BACA JUGA  Pengaruh Jarak Terhadap Gaya Coulomb pada Muatan Listrik Hukum Dasar Kelistrikan

Profil Pimpinan Militer Sekutu dan Tokoh Indonesia

Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, seorang perwira karir Inggris, memimpin Brigade
49. Ia dikenal sebagai perwira yang kompeten dalam pertempuran konvensional, namun kurang berpengalaman menghadapi situasi revolusi rakyat yang chaotic dan penuh semangat nasionalisme. Tugas utamanya adalah teknis: melucuti Jepang dan menjaga keamanan. Di sisi Indonesia, Gubernur Jawa Timur R.M.T.A.

Suryo, seorang administrator yang tenang, dan Residen Surabaya R. Sudirman, menjadi penengah resmi. Namun, kekuatan sesungguhnya juga berada di tangan pemimpin pemuda seperti Sutomo (Bung Tomo), yang pidato radionya mampu membakar semangat juang rakyat.

Nama Tokoh Pihak/Asal Peran Tindakan Kunci
Brigjen A.W.S. Mallaby Tentara Inggris (Brigade 49) Komandan Pasukan Sekutu di Surabaya Memimpin pendaratan, berunding dengan pihak Indonesia, mengeluarkan ultimatum pencabutan senjata.
Gubernur R.M.T.A. Suryo Pemerintah Republik Indonesia Gubernur Jawa Timur Berusaha mengendalikan situasi secara diplomatis, menjadi perwakilan resmi dalam perundingan dengan Mallaby.
Sutomo (Bung Tomo) Laskar Pemuda/Rakyat Surabaya Orator dan Pemimpin Semangat Juang Mengobarkan perlawanan melalui siaran radio, memobilisasi massa untuk menentang kembalinya kolonialisme.
Moestopo Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Panglima TKR Surabaya Mengkoordinasi perlawanan bersenjata, terlibat dalam perundingan teknis dengan pihak Inggris.

Dinamika Interaksi Antara Tokoh Kunci

Interaksi awal antara Mallaby dan pejabat Republik seperti Gubernur Suryo berlangsung dalam suasana yang formal namun tegang. Mallaby menuntut ketaatan pada perintah Sekutu, sementara pihak Indonesia bersikukuh pada kedaulatan mereka. Bung Tomo, di luar struktur formal, menjadi kekuatan penekan yang sulit dikendalikan oleh pemerintah Republik sendiri. Diplomasi Mallaby dengan elit Republik seringkali dikalahkan oleh realitas di jalanan, dimana massa dan laskar yang mendengar pidato Bung Tomo tidak mudah mematuhi perintah gencatan senjata.

Ketidakmampuan Mallaby memahami bahwa kekuasaan di Surabaya terbelah antara pemerintah resmi dan kekuatan revolusioner rakyat menjadi salah satu sumber konflik.

Kronologi Detail Peristiwa Pendaratan

Pendaratan Brigade 49 di Surabaya bukanlah sebuah operasi militer yang menghadapi perlawanan awal, melainkan sebuah masuknya pasukan asing ke dalam kota yang sedang bergolak dalam euforia revolusi. Detail peristiwanya menggambarkan titik awal dari sebuah benturan yang tak terelakkan.

Proses dan Lokasi Pendaratan Pasukan Sekutu

Pada pagi hari 25 Oktober 1945, kapal-kapal perang Inggris berlabuh di Pelabuhan Tanjung Perak. Sekitar 6.000 pasukan dari Brigade 49, Divisi India ke-23, yang terdiri dari tentara Inggris dan Gurkha, mulai mendarat. Mereka kemudian bergerak menduduki posisi-posisi strategis di kota, seperti gedung-gedung pemerintahan, kantor pos, pusat komunikasi, dan kompleks-kompleks yang sebelumnya ditempati Jepang. Pendaratan dilakukan tanpa tembakan, karena pihak Indonesia tidak memiliki informasi yang jelas tentang maksud dan komposisi pasukan ini.

Kondisi Surabaya dan Respons Awal Masyarakat

Surabaya saat itu adalah kota yang “merah putih”. Bendera Republik berkibar di mana-mana, semangat revolusi berkobar, dan senjata hasil rampasan dari Jepang banyak dipegang oleh laskar dan pemuda. Respons awal terhadap pendaratan Inggris adalah campuran antara keheranan, kewaspadaan, dan penolakan diam-diam. Masyarakat melihat seragam asing yang berbeda dengan Jepang, tetapi juga melihat orang-orang Belanda (NICA) yang mulai menunjukkan diri. Suasana waspada segera menyelimuti kota.

Pernyataan Penting di Awal Kontak

Salah satu sumber kesalahpahaman utama adalah pengumuman yang dibuat oleh pimpinan Sekutu. Mereka menyebarkan selebaran dan membuat pengumuman yang isinya dianggap merendahkan kedaulatan Republik.

Semua senjata api, senjata tajam, dan bahan peledak harus diserahkan kepada Angkatan Darat India. Semua orang yang masih membawa senjata setelah batas waktu tersebut akan ditembak mati.

Ultimatum seperti ini, yang tidak membedakan antara tentara Jepang yang kalah dengan pejuang Republik, diterima sebagai penghinaan terhadap kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan. Ini bukan perintah teknis, melainkan dianggap sebagai pernyataan politis untuk melucuti kekuatan Republik.

Alur Peristiwa dari Pendaratan hingga Awal Kontak, Pimpinan Tentara Sekutu Mendarat di Surabaya

Setelah mendarat dan menduduki pos-pos penting, pimpinan Inggris segera mencari kontak dengan pihak berwenang Indonesia. Pertemuan antara Brigjen Mallaby dengan Gubernur Suryo dan Residen Sudirman pun terjadi. Dalam pertemuan itu, Mallaby menyatakan maksud kedatangannya yang “netral”. Namun, tuntutan untuk menyerahkan senjata dan munculnya NICA segera merusak klaim netralitas tersebut. Dalam hitungan jam, kota yang awalnya diam menyaksikan pendaratan, mulai bergejolak dengan protes dan unjuk rasa.

BACA JUGA  Definisi LAN Jaringan Lokal Pengertian Komponen dan Fungsinya

Dampak dan Reaksi Spontan Pasca Pendaratan

Pendaratan 25 Oktober 1945 bertindak sebagai katalis yang memobilisasi seluruh kekuatan revolusi di Surabaya. Reaksi yang muncul bukan hanya dari pemerintah, tetapi terutama dari kekuatan massa yang terorganisir di tingkat akar rumput, mengubah situasi dari ketegangan menjadi konflik terbuka.

Reaksi Elemen Masyarakat dan Pemerintah Republik

Pimpinan Tentara Sekutu Mendarat di Surabaya

Source: akamaized.net

Pemerintah Republik, baik di Surabaya maupun di pusat (Jakarta/Yogyakarta), berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka berusaha menghindari konflik frontal dengan Sekutu yang memiliki kekuatan superior dengan alasan diplomasi. Di sisi lain, mereka tidak mampu dan mungkin juga tidak sepenuhnya ingin meredam amarah rakyat dan pemuda yang melihat kedatangan Sekutu sebagai ancaman nyata terhadap kemerdekaan. Reaksi spontan justru datang dari badan-badan perjuangan, laskar pemuda, dan TKR lokal.

Mereka mulai mengorganisir pengepungan dan gangguan terhadap pos-pos Inggris.

Insiden Awal Pemicu Ketegangan

Gesekan pertama terjadi hampir bersamaan dengan aktivitas pasukan Inggris. Insiden kecil seperti perebutan gedung, penyekatan jalan oleh pemuda, dan saling sindir antara tentara Inggris dengan pejuang Indonesia dengan cepat memanas. Titik kritisnya adalah ketika pesawat-pesawat Inggris mulai terbang rendah di atas kota, yang dianggap sebagai intimidasi, dan selebaran ultimatum yang menyebar. Rakyat Surabaya tidak lagi melihat mereka sebagai pembebas, melainkan sebagai pasukan pendudukan baru.

Pendaratan Pimpinan Tentara Sekutu di Surabaya pada 25 Oktober 1945 menandai babak baru konflik yang menegangkan. Dalam situasi penuh tekanan seperti itu, menjaga kondisi fisik tentu menjadi prioritas, mengingat penyakit seperti beri-beri dapat melemahkan daya tahan. Untuk itu, memahami Cara Mencegah Beri-beri: Konsumsi Banyak nutrisi tertentu menjadi pengetahuan praktis yang vital, sebagaimana vitalnya strategi bagi para pejuang kala itu.

Ketangguhan fisik, yang didukung oleh pola makan tepat, adalah modal tak ternilai dalam menghadapi setiap tantangan, termasuk dalam gelora perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Konsekuensi Langsung dalam Minggu Pertama

Minggu pertama setelah pendaratan menciptakan realitas baru di Surabaya.

  • Terjadi pembagian wilayah de facto: daerah-daerah yang dikuasai Inggris dan daerah yang dikuasai laskar Republik.
  • Komunikasi antara Mallaby dan pemerintah Republik menjadi sangat intens tetapi tidak produktif, karena mandat Mallaby tidak bisa memenuhi tuntutan pengakuan kedaulatan Republik.
  • Pasukan Inggris, yang awalnya hanya bertugas teknis, terjebak dalam situasi perang gerilya perkotaan yang tidak mereka pahami.
  • Semangat perlawanan rakyat Surabaya terkristalisasi dan siap meledak, yang akhirnya dipicu oleh tewasnya Brigjen Mallaby pada 30 Oktober 1945.

Representasi dalam Media dan Memori Kolektif

Peristiwa pendaratan dan eskalasinya direkam dan diceritakan melalui lensa yang sangat berbeda, membentuk narasi yang beragam baik pada masa itu maupun dalam ingatan sejarah bangsa.

Liputan Media Masa Itu

Media internasional, khususnya pers Inggris, pada awalnya melaporkan peristiwa dari sudut pandang “operasi penegakan hukum dan ketertiban” di wilayah yang dianggap masih chaos. Pemberitaan sering menyebut pejuang Indonesia sebagai “extremist gangs” atau “terrorists”. Sebaliknya, media perjuangan Indonesia seperti Suara Rakjat dan Merdeka menggambarkannya sebagai bentuk perlawanan heroik terhadap kembalinya penjajahan. Siaran radio Bung Tomo menjadi media yang paling efektif, langsung memanggil emosi dan semangat juang pendengarnya dengan kata-kata yang berapi-api.

Komemorasi dalam Monumen dan Situs Sejarah

Memori peristiwa ini hidup dalam bentuk fisik di Surabaya. Monumen yang paling ikonik adalah Tugu Pahlawan, yang dibangun di bekas lokasi Kantor Gubernur Jawa Timur yang menjadi salah satu titik panas pertempuran. Museum Sepuluh Nopember di bawah tugu tersebut mengabadikan jejak perjuangan, termasuk konteks pendaratan Sekutu sebagai pemicunya. Lokasi seperti Jembatan Merah dan Gedung Internatio juga dikenang sebagai tempat peristiwa-peristiwa penting dalam interaksi dan konflik antara pihak Indonesia dengan Brigjen Mallaby.

Deskripsi Ilustrasi Visual Suasana Pendaratan

Sebuah ilustrasi visual yang menggambarkan suasana pendaratan akan menunjukkan kontras yang tajam. Di latar belakang, kapal perang Inggris berwarna kelabu dengan meriam yang mengarah ke pantai, mendominasi perairan Tanjung Perak. Di dermaga, barisan panjang pasukan Sekutu dalam seragam khaki dan topi baja turun dari kapal pendarat, dengan wajah waspada. Di kejauhan, di balik barikade dan tumpukan karung pasir, terlihat kerumunan penduduk Surabaya—beberapa dengan bambu runcing dan senjata rampasan—mengamati dari balik sudut bangunan dan atap rumah.

Bendera Merah Putih masih berkibar di menara-menara, sementara pesawat tempur Inggris melintas rendah di langit yang berawan, menyempurnakan gambaran sebuah kota di ambang pertempuran.

Perbandingan Narasi Sejarah dari Berbagai Perspektif

Narasi resmi Indonesia menempatkan pendaratan sebagai awal dari agresi Sekutu (yang diboncengi NICA) yang berusaha merongrong kemerdekaan, sehingga perlawanan rakyat Surabaya adalah sah dan heroik. Historiografi Belanda lama sering melihatnya sebagai upaya restorasi hukum dan ketertiban yang dihambat oleh kelompok ekstremis. Perspektif akademis modern, termasuk dari sejarawan Inggris, cenderung melihatnya sebagai tragedi akibat misi yang ambigu, kesalahpahaman budaya, dan kegagalan kepemimpinan militer Inggris (Mallaby) untuk memahami dinamika revolusi nasionalis.

BACA JUGA  Jenis Kain Milano Premium Bahan Premium Nyaman dan Elegan

Ketiga perspektif ini bertemu pada satu titik: pendaratan itu adalah titik awal yang menentukan bagi pertempuran besar yang akan menyusul.

Signifikansi dalam Konflik Bersenjata Selanjutnya

Pendaratan 25 Oktober 1945 bukanlah sebuah episode yang terisolasi. Peristiwa ini merupakan pemantik yang langsung menyulut rangkaian reaksi berantai, mengubah jalannya revolusi Indonesia dari fase perebutan kekuasaan ke fase pertahanan bersenjata frontal melawan kekuatan asing yang diakui dunia.

Katalisator Menuju Pertempuran Surabaya

Ketegangan yang terakumulasi sejak pendaratan menemukan momentumnya dengan tewasnya Brigjen Mallaby pada 30 Oktober. Kematiannya menjadi casus belli bagi Inggris. Mayor Jenderal E.C. Mansergh, yang menggantikan Mallaby, mengeluarkan ultimatum kedua yang lebih keras: semua pemimpin Indonesia dan penduduk bersenjata harus menyerah sebelum 10 November 1945 pagi. Ultimatum ini ditolak mentah-mentah, dan pada tanggal itulah Pertempuran Surabaya yang legendaris dan paling berdarah dalam revolusi dimulai.

Tanpa kesalahpahaman dan ketegangan sejak pendaratan 25 Oktober, eskalasi ke pertempuran skala penuh mungkin tidak akan terjadi dengan cepat dan dahsyat seperti itu.

Tindakan Pimpinan Sekutu Respon Indonesia Dampak Eskalasi
Pendaratan tanpa koordinasi yang jelas dengan pemerintah Republik. Kebingungan, kemudian pengepungan dan harassing terhadap pos-pos Inggris. Menciptakan suasana permusuhan dan ketidakpercayaan sejak jam pertama.
Penyebaran ultimatum pelucutan senjata yang bersifat mutlak. Dianggap sebagai penghinaan, ditolak, justru mempersenjatai diri lebih kuat. Mengubah misi teknis menjadi konflik politik tentang pengakuan kedaulatan.
Penerbangan intimidasi dan show of force. Memicu kemarahan massa dan solidifikasi perlawanan. Mengukuhkan citra Inggris sebagai musuh, bukan penjaga perdamaian.
Pembiaran dan penggunaan simbol-simbol NICA. Mengonfirmasi kecurigaan bahwa misi Sekutu adalah kedok Belanda. Menghilangkan peluang untuk netralitas dan menjadikan konflik sebagai perang kemerdekaan.

Perubahan Strategi Militer dan Diplomasi

Pasca peristiwa pendaratan dan pertempuran Surabaya, terjadi perubahan strategis pada kedua belah pihak. Inggris, yang mengalami korban besar, mulai lebih berhati-hati dan cenderung memilih pendekatan diplomatik di daerah lain, meski tetap melakukan operasi militer. Bagi Indonesia, Pertempuran Surabaya membuktikan bahwa perlawanan bersenjata rakyat bisa dilakukan, tetapi juga menunjukkan betapa mahalnya harga yang harus dibayar. Pemerintah Republik kemudian lebih mengedepankan kombinasi diplomasi di meja perundingan (seperti Perjanjian Linggajati) dengan perang gerilya, alih-alih konfrontasi frontal skala besar.

Posisi dalam Peta Perjuangan Diplomasi Internasional

Peristiwa pendaratan dan pertempuran dahsyat yang menyusulnya secara tidak langsung membawa persoalan Indonesia ke forum internasional. Kekerasan dan korban jiwa yang besar, termasuk di pihak Inggris, menarik perhatian dunia, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara Asia seperti India dan Arab. Dunia mulai bertanya, apa sebenarnya yang terjadi di Indonesia? Perjuangan bangsa Indonesia tidak lagi dilihat sebagai kerusuhan lokal, tetapi sebagai sebuah revolusi nasional yang serius.

Ini memberikan tekanan moral kepada Belanda dan mendukung perjuangan diplomasi Indonesia untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan di kemudian hari.

Ringkasan Terakhir

Dengan demikian, pendaratan pimpinan Tentara Sekutu di Surabaya menjadi sebuah babak pembuka yang menentukan. Peristiwa itu bukan akhir, melainkan awal dari sebuah episode besar yang membuktikan tekad baja rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya. Dari momen inilah lahir perlawanan sengit yang kemudian menggetarkan dunia, menunjukkan bahwa diplomasi harus didukung dengan kekuatan di lapangan. Jejak-jejak sejarahnya tetap hidup, mengingatkan kita bahwa kemerdekaan diraih dengan harga yang mahal dan kedaulatan bukanlah sesuatu yang bisa ditawar.

Kedatangan Pimpinan Tentara Sekutu di Surabaya pada Oktober 1945 menciptakan reaksi keras yang tak terhindarkan, sebuah dinamika konflik yang ibarat proses kimiawi di mana suatu senyawa terpecah menjadi partikel-partikel bermuatan. Mirip dengan prinsip 10 Contoh Reaksi Ionisasi, misalnya CH3COONa → CH3COO⁻ + Na⁺ , situasi di Surabaya kemudian terionisasi menjadi dua kutub: semangat perlawanan rakyat yang membara di satu sisi dan tekanan militer di sisi lain, yang akhirnya memicu ledakan pertempuran sengit 10 November.

Ringkasan FAQ

Apakah tujuan awal Sekutu benar-benar hanya melucuti Jepang?

Secara resmi, ya. Namun, dalam praktiknya, mereka juga membawa serta pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang bertujuan untuk mengembalikan pemerintahan kolonial Hindia Belanda, sehingga menimbulkan kecurigaan besar dari pihak Indonesia.

Bagaimana reaksi pemimpin nasional seperti Soekarno-Hatta terhadap pendaratan ini?

Soekarno dan Hatta awalnya mengambil pendekatan diplomatis dan berusaha mencegah konflik terbuka. Mereka bahkan terbang ke Surabaya untuk meredakan ketegangan, tetapi situasi di lapangan sudah sangat panas dan sulit dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah pusat.

Apakah ada upaya perundingan sebelum terjadi kontak senjata?

Ya, dilakukan beberapa perundingan antara perwakilan Republik Indonesia di Surabaya dengan Brigjen Mallaby. Kesepakatan gencatan senjata sempat dicapai, tetapi sering dilanggar di lapangan karena miskomunikasi dan ketidakpercayaan antara pasukan Sekutu dengan para pejuang dan massa.

Mengapa Surabaya yang menjadi titik pendaratan penting?

Surabaya adalah kota pelabuhan utama, pusat militer, dan simbol kekuatan perlawanan rakyat. Menguasai Surabaya berarti mengendalikan Jawa Timur dan memberikan sinyal kuat terhadap kedaulatan Republik. Selain itu, banyak terdapat depot senjata dan tawanan perang Sekutu di sana.

Leave a Comment