Nama Presiden ke‑5 – Nama Presiden ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab disapa SBY bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan sebuah babak penting dalam transisi demokrasi Indonesia. Figur yang muncul sebagai presiden pertama hasil pemilihan langsung ini membawa serta aura militer yang terdisiplin, dilengkapi dengan gelar doktor yang menunjukkan kedalaman analisisnya, menciptakan sebuah persona kepemimpinan yang unik di tengah euforia reformasi. Kehadirannya di Istana Merdeka pada periode 2004-2014 menandai era stabilisasi pasca-krisis multidimensi, sebuah tugas berat yang diemban dengan gaya yang kerap disebut kalem dan penuh perhitungan.
Lahir di Pacitan, Jawa Timur, pada 9 September 1949, SBY membawa latar belakang keluarga tentara yang kuat. Karirnya cemerlang di militer, membawanya menduduki berbagai posisi strategis sebelum akhirnya terjun ke dunia politik. Sepanjang dua periode pemerintahannya, bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kemudian Boediono, sejumlah kebijakan ekonomi makro, pembangunan infrastruktur, dan penanganan bencana besar menjadi sorotan. Pemerintahannya juga diwarnai dinamika politik yang kompleks, menghadapi tekanan dari koalisi partai di parlemen hingga berbagai tantangan keamanan, yang semuanya membentuk warisan dan kontribusinya yang masih terus dibicarakan hingga kini.
Profil dan Latar Belakang
Sebelum namanya menjadi identik dengan Istana Merdeka, perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono telah diwarnai oleh disiplin militer, studi akademik yang mendalam, dan pengalaman panjang di kabinet pemerintahan. Lahir di Pacitan, Jawa Timur, pada 9 September 1949, SBY—sapaan akrabnya—tumbuh dalam keluarga yang sangat menghormati nilai-nilai kesederhanaan dan pengabdian. Ayahnya, R. Soekotjo, adalah seorang pensiunan tentara, sementara ibunya, Siti Habibah, mengasuhnya dengan penuh ketekunan.
Latar belakang inilah yang kemudian membentuk karakternya yang tenang, tertib, dan selalu terukur.
Karier militernya adalah fondasi yang kokoh. Lulusan terbaik Akabri tahun 1973 ini kemudian mendalami ilmu militer di dalam dan luar negeri, termasuk di Fort Benning, AS, dan Webster University. Puncak karier militernya adalah ketika ia diangkat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) pada tahun 1999, di tengah masa transisi politik yang sangat bergejolak pasca-Reformasi. Setelah pensiun dari militer, bakat strategis dan ketenangannya di bawah tekanan membawanya ke dunia politik sipil.
Ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di era Presiden Abdurrahman Wahid, kemudian Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri. Posisi-posisi kunci inilah yang melengkapi portofolionya sebelum akhirnya memutuskan untuk maju dalam Pilpres langsung pertama Indonesia tahun 2004.
Riwayat Pendidikan Formal
Pendidikan SBY mencerminkan komitmennya pada pengembangan keahlian, baik di bidang militer, manajemen, maupun hubungan internasional. Berikut adalah perjalanan akademisnya yang cukup lengkap:
| Tahun | Institusi | Gelar | Bidang Studi |
|---|---|---|---|
| 1970-1973 | Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) | Letnan Dua Infanteri | Ilmu Militer |
| 1976 | Fort Benning, Amerika Serikat | – | Airborne and Ranger Course |
| 1981-1982 | U.S. Army Infantry School, AS | – | Infantry Officer Advanced Course |
| 1982-1983 | Universitas Webster, AS | M.A. | Management |
| 1990-1991 | U.S. Army Command and General Staff College | – | Ilmu Komando dan Staf |
| 1995-1996 | Institut Pertanian Bogor (IPB) | M.Sc. | Ilmu Tanah |
| 2004 | Institut Pertanian Bogor (IPB) | Dr. | Ilmu Ekonomi Pertanian |
Masa Kepresidenan dan Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia selama dua periode penuh, dari 20 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2014. Pada periode pertama (2004-2009), ia didampingi oleh Jusuf Kalla, dan pada periode kedua (2009-2014) oleh Boediono. Kemenangannya dalam Pilpres langsung pertama menjadi penanda baru demokrasi Indonesia, di mana rakyat secara langsung memilih pemimpinnya dengan mandat yang kuat. Visi yang diusungnya adalah mewujudkan Indonesia yang lebih aman, adil, demokratis, dan sejahtera, dengan slogan “Bersama Kita Bisa”.
Pemerintahannya berfokus pada pembenahan fundamental di berbagai sektor. Di bidang ekonomi, stabilitas makro dijaga ketat, sementara di bidang hukum dan keamanan, upaya pemberantasan korupsi serta penanganan konflik di daerah menjadi prioritas. Gaya pemerintahannya yang sering disebut konsensus dan hati-hati tercermin dalam berbagai kebijakannya, yang menuai pujian sekaligus kritik.
Kebijakan Unggulan dan Kontroversial, Nama Presiden ke‑5
Selama satu dekade memimpin, SBY mengeluarkan sejumlah kebijakan yang berdampak luas dan masih menjadi bahan perbincangan hingga kini.
- Pemberantasan Korupsi melalui KPK: Memberikan dukungan politik kuat pada Komisi Pemberantasan Korupsi di awal pemerintahannya, yang berhasil mengadili banyak pejabat tinggi dan politisi.
- Kebijakan Subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM): Beberapa kali menaikkan harga BBM bersubsidi (2005, 2008, 2013) untuk membebaskan anggaran negara. Kebijakan ini selalu memicu protes besar namun dianggap perlu untuk kesehatan fiskal.
- Pembangunan Infrastruktur Jangka Panjang: Meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025 sebagai cetak biru pembangunan infrastruktur, logistik, dan industri.
- Kebijakan Luar Negeri Aktif: Meningkatkan peran Indonesia di kancah global, seperti menjadi mediator konflik Filipina-Moro, serta aktif dalam G20 dan forum internasional lainnya.
- Reformasi Birokrasi: Meluncurkan program rasionalisasi pegawai negeri sipil dan sistem penggajian yang lebih terstruktur, meski implementasinya dianggap lambat.
Suara dari Mimbar Kenegaraan
Source: akamaized.net
Pidato-pidato SBY dikenal dengan bahasa yang tertata, penuh perhitungan, dan sering menyelipkan syair atau quotes berbahasa Inggris. Salah satu pernyataan yang paling diingat adalah komitmennya terhadap demokrasi dan stabilitas.
Kita tidak akan mundur dalam memajukan demokrasi. Kita akan terus memperkuatnya, karena demokrasi adalah harga mati bagi masa depan bangsa Indonesia. Namun, demokrasi harus berjalan seiring dengan stabilitas, hukum, dan rasa saling menghormati.
Prestasi dan Kontribusi Nasional
Pemerintahan SBY berhasil membawa Indonesia melalui krisis global 2008-2009 dengan relatif stabil, di mana pertumbuhan ekonomi tetap positif ketika banyak negara lain mengalami resesi. Peringkat investasi Indonesia juga ditingkatkan menjadi
-investment grade* oleh lembaga pemeringkat internasional, sesuatu yang belum terjadi sejak krisis 1998. Di bidang sosial, program-program seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan Jamkesmas diperluas cakupannya untuk melindungi masyarakat miskin dari guncangan ekonomi.
Pembangunan infrastruktur mulai mendapat perhatian serius, meski sering dikritik karena tempo pelaksanaannya. Proyek-proyek seperti pembangunan Jalan Tol Trans-Jawa yang dipercepat, pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama, dan revitalisasi bandara serta pelabuhan mulai digarap pada masa pemerintahannya.
Rekap Capaian Penting Pemerintahan
| Bidang | Nama Program/Capaian | Tahun | Deskripsi Singkat |
|---|---|---|---|
| Ekonomi | Pencapaian Investment Grade | 2011-2012 | Fitch Ratings dan Moody’s menaikkan peringkat utang Indonesia ke level investment grade setelah 14 tahun. |
| Sosial | Program Keluarga Harapan (PKH) | 2007 | Program bantuan sosial bersyarat untuk keluarga sangat miskin, menjadi fondasi sistem perlindungan sosial nasional. |
| Politik & Hukum | Penyelesaian Konflik Aceh | 2005 | Mempertahankan dan mengimplementasikan Nota Kesepahaman Helsinki yang mengakhiri konflik bersenjata di Aceh. |
| Lingkungan | Moratorium Izin Hutan | 2011 | Menerbitkan Instruksi Presiden untuk menunda pemberian izin baru pada hutan alam primer dan lahan gambut. |
Penghargaan dan Pengakuan
Atas upayanya dalam memajukan demokrasi dan pembangunan, SBY menerima beberapa penghargaan internasional. Ia dianugerahi World Statesman Award oleh Appeal of Conscience Foundation AS pada 2009, dan Global Champion for Resilience Award dari UNISDR pada 2012 atas kepemimpinan dalam pengurangan risiko bencana. Di dalam negeri, kebijakannya dalam menstabilkan ekonomi dan politik mendapatkan pengakuan dari berbagai kalangan, meski selalu disertai dengan evaluasi kritis.
Dinamika Politik dan Tantangan
SBY memulai pemerintahannya dengan modal politik yang sangat besar: ia adalah presiden pertama hasil pilihan rakyat langsung dengan perolehan suara mayoritas. Namun, koalisi pemerintahannya yang sangat luas—sering disebut “kabinet pelangi”—justru menjadi tantangan tersendiri. Koalisi yang terdiri dari banyak partai dengan kepentingan berbeda-beda seringkali membuat proses pengambilan keputusan menjadi lamban dan penuh kompromi. Di sisi lain, oposisi di parlemen menjadi sangat minor, yang mengurangi fungsi checks and balances.
Tantangan berat datang silih berganti. Di awal pemerintahannya, bencana alam besar seperti gempa bumi dan tsunami di Aceh (2004) dan gempa di Yogyakarta (2006) membutuhkan respons cepat dan kemampuan manajemen krisis yang baik. Krisis keuangan global 2008 juga menguji ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Di bidang politik, hubungan dengan DPR pada masa awal cukup baik, tetapi semakin menemui ketegangan seiring waktu, terutama terkait dengan investigasi kasus korupsi yang menjerat sejumlah politisi.
Kritik dan Suara Oposisi
Gaya kepemimpinan SBY yang deliberatif dan cenderung menghindari konflik frontal menuai kritik dari banyak pengamat dan politisi oposisi. Mereka menilai gaya ini menyebabkan pemerintah terlihat lamban dan tidak tegas, terutama dalam menangani kasus-kasus besar.
Pemerintahan ini seperti sedang mengemudikan mobil besar dengan rem tangan yang masih ditarik. Ada keinginan untuk melaju, tetapi ada juga ketakutan yang berlebihan untuk mengambil risiko yang diperlukan. Hasilnya, kita bergerak, tetapi sangat pelan dan kehilangan momentum untuk lompatan yang lebih besar.
Kritik semacam ini sering dilontarkan oleh tokoh-tokoh yang menginginkan langkah reformasi yang lebih radikal dan cepat, terutama dalam pemberantasan korupsi dan pembenahan birokrasi.
Warisan dan Dampak Pasca Kepresidenan
Setelah tidak lagi menjabat, SBY tetap menjadi figur publik yang aktif namun memilih untuk tidak berada di garis depan politik praktis sehari-hari. Ia lebih banyak menyuarakan pandangan melalui kanal-kanal opini, ceramah, dan media sosial. Perannya seringkali sebagai “elder statesman” yang memberikan nasihat dan kritik konstruktif terhadap pemerintahan yang berjalan, meski kadang juga memicu polemik.
Untuk mewadahi aktivitas intelektual dan sosialnya, ia mendirikan Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) yang telah ada sebelumnya, dan lebih mengaktifkan perannya. Selain itu, ia juga kerap menjadi pembicara dalam forum-forum internasional tentang demokrasi, kepemimpinan, dan keamanan global. Kecintaannya pada dunia tulis-menulis dan musik juga semakin terlihat pasca kepresidenan.
Karya Tulis Pasca Jabatan
SBY telah menerbitkan beberapa buku yang merefleksikan pemikirannya tentang kepemimpinan, perjalanan hidup, dan kondisi bangsa.
- “Selalu Ada Pilihan” (2015): Buku pertama setelah lengser, berisi kumpulan esai dan refleksi tentang nilai-nilai kehidupan dan kepemimpinan.
- “Merajut Kembali Keindonesiaan Kita” (2018): Membahas tantangan bangsa seperti intoleransi, radikalisme, dan ancaman terhadap Pancasila.
- “Menjaga Demokrasi: Catatan dari Istana” (2020): Memoar dua jilid yang menguraikan catatan hariannya selama menjadi presiden, memberikan sudut pandang pertama tentang peristiwa-peristiwa penting.
- Berbagai Buku Kumpulan Puisi dan Lagu: Seperti “Kembali ke Cinta” dan “Ibu”, yang menunjukkan sisi personal dan artistiknya.
Pengaruh pemikirannya, khususnya mengenai pendekatan keamanan yang komprehensif (*comprehensive security*) dan pentingnya menjaga stabilitas demokrasi, masih menjadi rujukan dalam diskursus politik dan pertahanan Indonesia. Model pemerintahan koalisi super mayoritas yang ia praktikkan juga menjadi pelajaran berharga tentang kompleksitas dan kelemahan sistem politik Indonesia.
Perbandingan dengan Pemimpin Lain: Nama Presiden Ke‑5
Dengan dua periode atau 10 tahun masa jabatan, SBY menjadi presiden dengan masa pemerintahan terlama di era Reformasi. Ia melanjutkan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang memerintah selama kurang lebih 3 tahun, dan kemudian diteruskan oleh Joko Widodo yang juga terpilih untuk dua periode. Durasi yang panjang ini memberinya waktu yang cukup untuk menerapkan agenda pembangunannya, tetapi juga membuatnya menghadapi siklus penilaian publik yang lebih kompleks.
Gaya kepemimpinannya sangat kontras dengan pendahulunya, Megawati, yang lebih lugas dan minim kata. SBY lebih analitis, komunikatif, dan sangat memperhatikan citra serta narasi. Dibandingkan dengan penerusnya, Jokowi, yang lebih fokus pada pembangunan infrastruktur fisik dan pendekatan blusukan, SBY lebih menekankan pada stabilitas makro, diplomasi internasional, dan aspek-aspek keamanan tradisional. Latar belakang militer dan akademisnya membentuk pendekatan yang sangat terstruktur dan berhati-hati.
Analisis Perbandingan dalam Beberapa Aspek
| Aspek Perbandingan | Susilo Bambang Yudhoyono | Megawati Soekarnoputri (Pendahulu) | Joko Widodo (Penerus) |
|---|---|---|---|
| Latar Belakang | Militer dan Akademisi | Politisi Keluarga | Pengusaha dan Politisi Lokal |
| Gaya Komunikasi | Formal, Tertata, Multibahasa | Minim Kata, Tegas | Santai, Blusukan, Analogi Sederhana |
| Fokus Kebijakan Ekonomi | Stabilitas Makro, Iklim Investasi | Pemulihan Pasca Krisis | Infrastruktur Fisik, Deregulasi |
| Pendekatan Politik | Koalisi Luas, Konsensus | Oposisi Kuat ke Parlemen | Koalisi Pendukung Tetap, Pendekatan Teknokratis |
Persamaan yang mencolok antara SBY dan Jokowi adalah keduanya berhasil memenangkan dua periode pemilihan langsung, menunjukkan tingkat penerimaan publik yang berkelanjutan. Namun, dalam kebijakan ekonomi, SBY mewarisi kondisi yang mulai membaik dari era Megawati dan melanjutkannya dengan konsolidasi, sementara Jokowi mewarisi fondasi yang relatif stabil dari SBY dan mendorong akselerasi pembangunan. Perbedaan utama terletak pada instrumen yang diprioritaskan: SBY pada kebijakan makro dan regulasi, sedangkan Jokowi pada proyek-proyek fisik dan penyederhanaan birokrasi.
Penutup
Menyimpulkan perjalanan kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono ibarat membaca sebuah novel dengan banyak lapisan narasi. Di satu sisi, capaian stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi yang konsisten, serta pengakuan internasional atas tata kelola demokrasi dan penanganan perubahan iklim menjadi titik terang. Di sisi lain, warisannya juga dihadapkan pada kritik mengenai lambannya penanganan korupsi dan kesenjangan sosial yang masih menganga. Pasca kepresidenan, melalui Yayasan Dharma Bhakti Sosial (Dharmais) dan aktivitasnya di kancah global, SBY tetap menjadi suara yang didengar, menunjukkan bahwa pengaruh seorang mantan presiden tidak pernah benar-benar padam.
Pada akhirnya, terlepas dari berbagai penilaian, era SBY telah mengukir dirinya sebagai fase konsolidasi demokrasi yang menentukan arah Indonesia modern.
Panduan Pertanyaan dan Jawaban
Apa julukan atau panggilan akrab untuk Susilo Bambang Yudhoyono selain SBY?
Ia juga sering dipanggil “Bang SBY” atau “Pak SBY” oleh masyarakat dan media. Dalam dunia militer, ia memiliki nama panglima “Pancawarna”.
Apakah SBY pernah mencalonkan diri menjadi presiden untuk periode ketiga?
Tidak. SBY menghormati batasan konstitusi yang hanya memperbolehkan maksimal dua periode. Ia tidak mencalonkan diri lagi setelah periode kedua berakhir pada 2014.
Selain politik, apa hobi atau ketertarikan pribadi SBY yang dikenal publik?
SBY dikenal sebagai seorang yang menyukai musik dan seni. Ia pandai bermain gitar, menulis lagu, dan menyanyi. Beberapa lagu ciptaannya bahkan pernah dirilis secara komersial. Ia juga hamil melukis.
Bagaimana peran SBY dalam penanganan bom Bali II pada 2005?
SBY, yang baru setahun menjabat, langsung memimpin penanganan krisis. Ia mengunjungi lokasi kejadian, memastikan evakuasi korban, dan memperkuat komitmen perang terhadap terorisme, yang mendapat perhatian dan pujian internasional.
Apakah SBY aktif di media sosial?
Ya, setelah tidak menjabat, SBY cukup aktif di platform media sosial seperti Twitter dan Instagram (@sb_yudhoyono) untuk menyampaikan pemikiran, kegiatan, dan terkadang puisi atau karyanya di bidang seni.