Surah Pengganti Al‑‘Asr dalam Tarawih dengan Rata‑Rata 5 Ayat bukan sekadar urusan teknis mengganti bacaan, melainkan sebuah seni menjaga ritme spiritual di tengah malam yang sunyi. Bayangkan, dalam kesibukan zaman sekarang, jamaah tetap bisa merasakan kekhusyukan Tarawih yang utuh tanpa harus terburu-buru, berkat pemilihan surah-surah pendek yang sarat makna. Ini adalah bentuk fleksibilitas indah dalam ibadah, di mana substansi dan keindahan Al-Qur’an tetap bisa dihadirkan dalam bingkai waktu yang terbatas.
Praktik ini berakar pada pemahaman fikih yang mendalam dan pertimbangan yang sangat manusiawi. Seorang imam atau panitia masjid tidak asal memilih, tetapi mempertimbangkan panjang rata-rata ayat, kedalaman tema, kesesuaian dengan suasana malam, serta kemudahan bacaan untuk jamaah dari berbagai kalangan. Tujuannya jelas: menciptakan pengalaman ibadah yang mengalir, khusyuk, dan meninggalkan kesan mendalam di hati setiap yang hadir, meski dengan durasi bacaan yang lebih singkat.
Mengurai Konsep “Surah Pengganti” dalam Ritual Tarawih Berdasarkan Panjang Rata-Rata Ayat
Source: brandedpoetry.com
Shalat Tarawih, dengan ritme dan durasinya yang khas, sering kali membutuhkan pertimbangan khusus dalam pemilihan bacaan surah. Di balik lantunan ayat yang terdengar, terdapat filosofi keseimbangan antara kekhusyukan, kemampuan rata-rata jamaah, dan keinginan untuk menyelesaikan khatam Al-Qur’an selama Ramadan. Konsep “surah pengganti” muncul bukan sekadar untuk variasi, melainkan sebagai solusi praktis untuk menjaga keseragaman panjang bacaan, memastikan shalat berjalan dengan tenang dan teratur, tanpa memotong momentum spiritual yang telah terbangun.
Filosofi pemilihan surah dalam Tarawih sangat erat dengan prinsip kemudahan (taysir) dalam Islam. Seorang imam, selain bertanggung jawab atas ketepatan bacaan, juga harus peka terhadap kondisi jamaah yang beragam, mulai dari orang tua, anak-anak, hingga mereka yang harus bekerja keesokan harinya. Membaca surah dengan rata-rata ayat yang sepadan, seperti lima ayat, menciptakan prediktabilitas durasi. Hal ini bukan mengurangi makna, tetapi justru mengalihkan fokus jamaah dari kekhawatiran akan shalat yang terlalu panjang kepada penghayatan makna.
Ritme yang teratur ini juga memudahkan bagi mereka yang ingin mengikuti khataman secara mental, karena dapat memperkirakan progres pembacaan Al-Qur’an dari malam ke malam.
Perbandingan Surah-Surah dengan Rata-Rata Lima Ayat
Beberapa surah pendek dalam Al-Qur’an memiliki panjang sekitar lima ayat dan membawa tema yang sangat dalam. Tabel berikut membandingkan beberapa di antaranya untuk memberikan gambaran pilihan yang tersedia bagi seorang imam.
| Nama Surah | Tema Utama | Konteks Penurunan | Kesesuaian untuk Shalat Malam |
|---|---|---|---|
| Al-Asr (103) | Peringatan tentang kerugian dan penyelamatan melalui iman, amal saleh, nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. | Makkiyah; menekankan fondasi akidah dan akhlak. | Sangat sesuai; ringkas namun syarat pesan esensial kehidupan, membangkitkan refleksi. |
| Al-Kautsar (108) | Kabur gembira dan perintah beribadah serta berkurban sebagai rasa syukur. | Makkiyah; sebagai hiburan dan penguatan bagi Rasulullah SAW. | Membangun suasana syukur dan ketundukan, cocok untuk rakaat yang bernada positif. |
| Al-Ma’un (107) | Kritik terhadap orang yang mendustakan agama, yang lalai dari shalat dan enggan menolong. | Makkiyah; menyoroti kesenjangan antara pengakuan dan perbuatan. | Cocok sebagai peringatan yang tajam namun singkat, mengingatkan tentang hakikat ibadah. |
| Al-Quraisy (106) | Pengingat akan nikmat keamanan dan rezeki, serta seruan untuk menyembah Tuhan Pemilik Ka’bah. | Makkiyah; mengaitkan kemakmuran ekonomi dengan kewajiban beribadah. | Menenangkan dan mengingatkan pada nikmat Allah, sesuai untuk membangun rasa aman dalam ibadah. |
Kriteria Penetapan Surah Pengganti dalam Fikih dan Tradisi
Penetapan surah pengganti Al-‘Asr atau surah pendek lainnya biasanya merujuk pada beberapa pertimbangan yang bersumber dari literatur fikih dan adaptasi lokal. Secara fikih, para ulama sepakat bahwa membaca surah setelah Al-Fatihah dalam shalat sunnah memiliki fleksibilitas yang besar. Tidak ada ketentuan baku yang mengharuskan urutan tertentu, kecuali anjuran untuk memperlama bacaan pada rakaat pertama. Kriteria utama yang digunakan komite masjid atau imam sering kali meliputi kedekatan tema dengan surah yang digantikan, kemiripan panjang ayat dan durasi baca, serta tingkat kesulitan tajwid yang tidak memberatkan imam dalam kondisi shalat panjang.
Tradisi lokal juga berperan, di mana surah-surah tertentu mungkin telah akrab di telinga jamaah setempat sehingga meminimalkan kebingungan.
Prosedur Praktis Penggantian Bacaan dalam Tarawih Berjamaah
Agar penggantian surah berjalan lancar dan tidak mengganggu kekhusyukan, diperlukan prosedur yang jelas dan komunikasi yang baik. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan.
- Perencanaan Awal: Imam atau panitia ibadah menyusun daftar bacaan untuk seluruh Tarawih di bulan Ramadan, termasuk menentukan malam-malam tertentu di mana surah pengganti akan digunakan. Rencana ini sebaiknya dibuat sebelum Ramadan dimulai.
- Koordinasi Internal: Imam mendiskusikan pilihan surah pengganti dengan muadzin atau pengurus masjid yang memahami seluk-beluk pelaksanaan, memastikan semua pihak mengetahui perubahan yang akan terjadi.
- Sosialisasi kepada Jamaah Pengumuman dapat disampaikan secara lisan sebelum shalat Isya atau melalui pamflet kecil di papan pengumuman masjid. Tujuannya bukan untuk meminta persetujuan, tetapi untuk memberikan informasi agar jamaah tidak terkejut.
- Pelaksanaan yang Konsisten: Saat tiba malam yang telah ditentukan, imam membacakan surah pengganti dengan jelas dan tenang. Kekonsistenan dalam menerapkan rencana yang telah diumumkan akan membangun kepercayaan jamaah.
- Evaluasi: Setelah pelaksanaan, imam dapat mengevaluasi respons jamaah secara informal, apakah durasi dan pilihan surah tersebut tetap menjaga kekhusyukan dan kenyamanan bersama.
Resonansi Spiritual Surah Pendek Sebagai Pengganti dalam Bingkai Waktu Singkat Ibadah Malam
Dalam kesibukan hidup modern, waktu untuk beribadah sering kali terasa terbatas, termasuk durasi shalat Tarawih yang bisa diikuti oleh jamaah. Di sinilah surah-surah pendek berperan strategis. Mereka ibarat mutiara-mutiara kecil yang padat makna, dirancang untuk menyampaikan pesan spiritual yang dalam dalam bingkai waktu yang singkat. Penggunaan surah pengganti dengan panjang serupa bukanlah pemiskinan pengalaman, melainkan pendalaman yang terfokus. Ketika jamaah mendengar surah pendek yang jarang dikumandangkan, perhatian mereka sering kali lebih tertangkap, dan makna per kata menjadi lebih terasa, sehingga potensi untuk menghayati kandungannya justru meningkat.
Potensi pesan spiritual dalam surah pendek sangatlah besar. Surah Al-Asr, misalnya, dalam tiga ayatnya saja telah merangkum seluruh konsep keselamatan hidup. Ketika digantikan dengan surah lain seperti Al-Kafirun yang menegaskan kemurnian tauhid, atau Al-Ikhlas yang merangkum konsep ketuhanan, pesan yang disampaikan tetap fundamental dan menyentuh inti akidah. Pergantian ini justru dapat memperkaya palet spiritual jamaah. Mereka tidak hanya mengulang hafalan yang sama setiap tahun, tetapi diperkenalkan pada variasi pesan Ilahi yang sama pentingnya.
Hal ini mempengaruhi penghayatan dengan cara membangunkan kesadaran yang mungkin tertidur karena rutinitas, dan memberikan nuansa baru dalam refleksi spiritual mereka selama bulan Ramadan.
Seorang ulama kontemporer menyatakan, “Shalat sunnah, termasuk Tarawih, memberikan ruang yang luas bagi imam untuk berijtihad dalam memilih bacaan yang sesuai dengan kondisi jamaah dan konteks zaman. Fleksibilitas ini adalah rahmat. Di era di mana perhatian manusia mudah terpecah, menyajikan rangkaian surah pendek yang padat makna bisa lebih efektif untuk menyentuh hati dan mudah diingat setelah shalat usai, daripada membaca ayat-ayat panjang yang mungkin kurang tertangkap maknanya oleh sebagian jamaah karena kelelahan atau faktor lainnya.”
Contoh Surah Pengganti dan Analisis Urutannya dalam Tarawih
Selain Al-Asr, beberapa surah lain dengan karakteristik panjang serupa dapat dipertimbangkan. Misalnya, Surah Al-Lahab (5 ayat) yang berisi peringatan keras, Surah An-Nashr (3 ayat) yang berbicara tentang pertolongan Allah dan kemenangan, serta Surah Al-Fil (5 ayat) yang mengisahkan kekuasaan Allah menghancurkan musuh. Kesesuaian urutan pembacaannya dalam rakaat Tarawih dapat diatur berdasarkan nada dan tema. Surah An-Nashr yang bernada kemenangan dan syukur sangat cocok dibaca pada sepuluh malam terakhir Ramadan, menyambut Lailatul Qadar.
Sementara Surah Al-Fil, yang menceritakan kekuatan Allah, dapat dibaca lebih awal untuk mengingatkan pada perlindungan-Nya. Urutan ini menciptakan alur psikologis dan spiritual yang berproses dari pengenalan kekuasaan Allah, peringatan, hingga penegasan tauhid dan kabar gembira.
Suasana Majelis Tarawih dengan Lantunan Surah Pendek yang Sarat Makna
Bayangkan sebuah ruang utama masjid yang dipenuhi jamaah pada sepertiga malam terakhir. Udara sejuk Ramadan menyelinap melalui jendela yang terbuka. Imam berdiri untuk memimpin rakaat kesekian. Alih-alih membacakan surah panjang yang lazim, suara yang tenang namun jelas itu melantunkan Surah Al-Qari’ah. Setiap kata yang pendek dan bernada keras—”Al-Qari’ah, mal al-Qari’ah?”—seakan mengguncang kesadaran yang mengantuk.
Mata yang tadinya terpejam perlahan terbuka, pikiran yang melayang tiba-tiba disadarkan pada gambaran hari kiamat yang dahsyat. Dampak psikologisnya langsung dan intens. Tidak ada waktu untuk lengah, karena pesan utuh telah disampaikan dalam beberapa detik. Kemudian, pada rakaat berikutnya, imam membacakan Surah Al-Kautsar dengan nada yang lebih lembut dan penuh syukur, seolah memberikan obat penenang setelah peringatan yang mengejutkan. Perubahan dinamika emosional ini membuat jamaah tetap terlibat secara mental, menciptakan pengalaman Tarawih yang tidak monoton dan penuh kejutan makna yang menyegarkan.
Penelusuran Historis Variasi Bacaan Tarawih dan Evolusi Praktik Penggantian Surah
Variasi bacaan dalam shalat Tarawih bukanlah fenomena baru, melainkan memiliki akar yang dalam sejak masa awal Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, shalat malam Ramadan dilaksanakan dengan pola yang fleksibel. Riwayat menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak selalu membaca surah yang sama atau dengan urutan yang ketat setiap malam. Tradisi khataman Al-Qur’an dalam Tarawih sendiri populer pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA ketika beliau menyatukan jamaah di belakang satu imam.
Dari sinilah, kebutuhan akan pengaturan bacaan mulai muncul, namun tetap dengan semangat untuk memudahkan dan tidak memberatkan.
Seiring berkembangnya mazhab-mazhab fikih, pandangan tentang bacaan dalam shalat sunnah semakin dikodifikasi. Mazhab Syafi’i, yang banyak dianut di Nusantara, menganjurkan untuk membaca surah-surah tertentu pada rakaat-rakaat shalat Tarawih berdasarkan urutan mushaf, tetapi ini adalah anjuran (sunah) bukan kewajiban. Mazhab Hanbali memberikan kebebasan yang lebih luas. Perbedaan penekanan inilah yang kemudian melahirkan ragam tradisi lokal. Di beberapa daerah, imam mungkin khatam dengan membaca setengah juz per malam secara berurutan, sementara di daerah lain, imam memilih surah-surah pendek tertentu yang dibaca berulang atau diselang-seling untuk menyesuaikan dengan durasi shalat yang telah disepakati bersama jamaah.
Faktor Non-Teknis yang Mempengaruhi Pemilihan Surah
Di luar pertimbangan fikih murni, faktor geografis, kultural, dan sosio-politik turut membentuk kecenderungan suatu komunitas. Di daerah dengan mayoritas jamaah pekerja, misalnya, sering kali dipilih surah-surah yang lebih pendek agar shalat tidak terlalu lama. Tradisi pesantren mungkin cenderung mempertahankan bacaan panjang untuk melatih mental santri. Pengaruh rekaman murottal dari qari’ tertentu yang terkenal juga dapat membuat suatu surah menjadi populer dibaca dalam Tarawih.
Bahkan, pada masa penjajahan, pemilihan surah-surah yang mengandung pesan perjuangan dan kesabaran bisa jadi lebih sering dikumandangkan sebagai bentuk spiritual resistance.
Kronologi Perkembangan Tradisi Bacaan Tarawih
- Masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin: Shalat Tarawih dilaksanakan dengan bacaan yang fleksibel, panjang pendeknya bervariasi, lebih menekankan pada kekhusyukan pribadi dan berjamaah.
- Abad Pertengahan Islam: Berkembangnya tradisi khataman Al-Qur’an dalam Tarawih di masjid-masjid besar, disertai dengan penyusunan “jadwal” bacaan per malam untuk memudahkan khatam dalam 29 atau 30 malam.
- Penyebaran Mazhab Fikih: Anjuran-imam mazhab tentang urutan bacaan mulai mempengaruhi praktik di daerah-daerah yang mengikutinya, meskipun variasi tetap ada.
- Era Modern (Abad 20-21): Munculnya kebutuhan penyesuaian durasi shalat di perkotaan, memunculkan praktik penggunaan surah-surah pengganti dengan panjang rata-rata tertentu. Sosialisasi melalui pengumuman tertulis atau lisan menjadi hal yang umum.
Pembahasan Kitab Klasik tentang Opsi Penggantian Bacaan
Kitab-kitab fikih klasik, seperti Al-Majmu’ Imam An-Nawawi (Syafi’i) atau Al-Mughni Ibn Qudamah (Hanbali), secara umum membahas hukum bacaan dalam shalat. Mereka menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an setelah Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah, dan yang dibaca boleh ayat mana saja dari Al-Qur’an. Untuk shalat sunnah, kebolehannya lebih luas. Batasan utama yang ditekankan adalah menghindari bacaan yang justru membatalkan shalat (seperti ayat yang mengandung ejekan) dan menjaga kesopanan.
Untuk shalat panjang seperti Tarawih, para ulama klasik lebih banyak memberikan tips agar imam memperhatikan kondisi jamaah, tidak memperlama bacaan hingga memberatkan, dan dianjurkan untuk membaca dengan tartil. Konsep “penggantian” surah tertentu dengan surah lain yang sepadan tidak dibahas secara eksplisit sebagai sebuah aturan, karena hal itu sudah tercakup dalam kebebasan memilih bacaan yang diberikan kepada imam, asalkan tetap dalam koridor kaidah tajwid dan tartil yang benar.
Implementasi Teknis dan Dampak Akustik Pembacaan Surah Pengganti dalam Setting Tarawih
Mengintegrasikan surah pengganti dalam skema Tarawih 20 rakaat memerlukan perencanaan yang matang agar tidak mengacaukan target khataman atau membuat jamaah bingung. Sebuah skenario yang mungkin adalah dengan menetapkan bahwa pada malam-malam tertentu—misalnya malam-malam kerja di pertengahan pekan—imam akan menggunakan paket surah pendek ber-rata-rata lima ayat. Sebagai contoh, jika target khataman tetap 30 juz dalam 30 malam, maka pada malam-malam “khusus” tersebut, imam dapat membaca rangkaian surah dari juz 30 (Amma) yang panjangnya setara, sementara pada malam lain tetap melanjutkan bacaan secara berurutan dari mushaf.
Dalam praktek Tarawih, ada tradisi mengganti Surah Al-‘Asr dengan surah lain yang rata-rata 5 ayat, sebagai bentuk variasi bacaan. Refleksi tentang penerapan nilai dalam tradisi ini mengingatkan kita pada kompleksitas penerapan nilai dasar lainnya, seperti yang dibahas dalam analisis Kelebihan dan Kekurangan Penerapan Pancasila di Era Orde Baru. Sama seperti memilih surah pengganti yang tepat, memahami dinamika sejarah itu membantu kita menghayati esensi nilai-nilai dengan lebih mendalam dan kontekstual dalam ibadah maupun kehidupan berbangsa.
Dengan demikian, keseimbangan antara variasi, kekhusyukan, dan pencapaian khatam tetap terjaga.
Dalam skenario detail, misalnya untuk satu malam dengan 20 rakaat, imam dapat membagi 10 surah pendek (seperti Al-Asr, Al-Kautsar, An-Nasr, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Lahab, Al-Ma’un, Al-Kafirun, dan Al-Quraisy) menjadi pasangan-pasangan untuk dua rakaat sekali salam. Setiap pasangan dipilih berdasarkan keselarasan tema atau kontras yang bermakna. Pendekatan ini memastikan durasi shalat tetap stabil dan mudah diprediksi, sekaligus memberikan warna bacaan yang beragam namun tetap dalam koridor yang mudah diikuti oleh jamaah pemula sekalipun.
Analisis Akustik dan Tajwid Surah Calon Pengganti
Aspek akustik sering luput dari pertimbangan, padahal sangat krusial di masjid yang besar. Surah-surah dengan banyak huruf qalqalah (seperti dalam Al-Lahab) atau ghunnah panjang (seperti dalam Al-Ikhlas dengan “Ahad”) memerlukan penanganan khusus agar terdengar jelas di sudut ruangan. Huruf-huruf tebal (tafkhim) seperti dalam lafaz “Rabb” pada surah pendek juga harus dibaca dengan jelas. Seorang imam perlu memilih surah pengganti yang tidak hanya pendek maknanya, tetapi juga “ramah” secara akustik terhadap suara dan gaya bacaannya sendiri.
Surah dengan banyak huruf sibilan (seperti ‘s’, ‘sy’) bisa kurang jelas jika sound system kurang bagus, sementara surah dengan vokal panjang dan konsonan yang jelas cenderung lebih mudah ditangkap.
Pemetaan Surah Pilihan untuk Implementasi
| Nama Surah | Tingkat Kesulitan Tajwid | Durasi Pelafalan Rata-rata | Frekuensi dalam Khataman Tarawih |
|---|---|---|---|
| Al-Ikhlas | Sedang (perhatian pada mad dan ghunnah) | ~25 detik | Sangat Sering (biasa dibaca tiap rakaat ketiga pada witir) |
| Al-Falaq | Rendah hingga Sedang | ~35 detik | Sering (bagian dari “al-Mu’awwidzat”) |
| Al-Kafirun | Rendah | ~40 detik | Cukup Sering |
| An-Nashr | Sedang (ada mad wajib muttasil) | ~20 detik | Jarang (lebih sering dibaca mandiri) |
Langkah Sosialisasi Penggunaan Surah Pengganti
Agar transisi berjalan mulus, panitia ibadah dapat mengambil langkah-langkah berikut.
- Musyawarah Awal: Mengadakan rapat kecil dengan imam, muadzin, dan perwakilan jamaah tetap untuk menyampaikan ide dan mendengar masukan mengenai rencana penggunaan surah pengganti.
- Pengumuman Multichannel: Menginformasikan melalui media yang tersedia: pengumuman lisan setelah shalat Isya, poster di papan pengumuman masjid, dan grup WhatsApp jamaah jika ada. Jelaskan alasan (misal: untuk kenyamanan bersama) dan sebutkan contoh surah yang akan dibaca.
- Pembagian Jadwal Tertulis: Membuat kalender kecil berisi jadwal bacaan per malam selama Ramadan yang dapat diambil jamaah. Pada malam-malam yang menggunakan surah pengganti, dapat diberi tanda atau catatan khusus.
- Umpan Balik: Membuka saluran bagi jamaah untuk memberikan tanggapan setelah beberapa hari pelaksanaan, guna menilai apakah durasi dan pilihan surah sudah tepat.
Simpul-Simpul Tafsir yang Menghubungkan Al-‘Asr dengan Kandidat Surah Pengganti dalam Narasi Tarawih
Surah Al-Asr sering dianggap sebagai ringkasan seluruh ajaran Islam. Pesan utamanya tentang kerugian abadi dan resep penyelamatan melalui iman, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, membentuk jaringan tema yang mudah terhubung dengan surah-surah pendek lainnya. Jaringan ini dibangun di atas poros tauhid (pengesaan Allah), peringatan (indzar) terhadap akibat buruk dari pengingkaran, dan kabar gembira (busyra) bagi orang beriman.
Dengan memahami jaringan ini, pergantian bacaan dalam Tarawih tidak lagi terasa sebagai penggantian yang acak, melainkan peralihan yang bermakna dalam sebuah narasi spiritual yang lebih besar.
Misalnya, setelah Al-Asr menegaskan pentingnya iman dan amal, seorang imam dapat membacakan Surah Al-Kafirun pada rakaat berikutnya sebagai penjelasan operasional dari “haq” (kebenaran) yang harus dipegang, yaitu kemurnian tauhid yang tidak boleh dikompromikan. Atau, dapat dilanjutkan dengan Surah Al-Ma’un yang menggambarkan contoh nyata dari orang yang “merugi” karena mengabaikan amal saleh, khususnya dalam hal kepedulian sosial. Dengan demikian, setiap surah saling menguatkan dan menjelaskan, menciptakan sebuah mozaik pesan yang koheren meskipun surahnya berbeda-beda.
Perbandingan Pesan Inti Al-Asr dengan Dua Kandidat Pengganti, Surah Pengganti Al‑‘Asr dalam Tarawih dengan Rata‑Rata 5 Ayat
Mari kita bandingkan pesan inti Surah Al-Asr dengan dua surah potensial penggantinya: Surah Al-Qari’ah dan Surah An-Nashr.
Surah Al-Asr menitikberatkan pada konsep kerugian universal dan solusinya. Ia bersifat general dan filosofis.
Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menafsirkan, “Surah ini adalah satu surah yang seandainya Al-Qur’an hanya diturunkan surah ini saja, niscaya sudah cukup bagi manusia sebagai petunjuk.”
Surah Al-Qari’ah menggambarkan detil mengerikan dari “kerugian” tersebut di hari kiamat. Ia adalah ilustrasi visual dari konsep kerugian dalam Al-Asr. Jika Al-Asr menyatakan “sesungguhnya manusia dalam kerugian”, maka Al-Qari’ah menunjukkan bagaimana wujud kerugian itu: timbangan amal yang ringan dan neraka Hawiyah.
Surah An-Nashr di sisi lain, dapat dilihat sebagai kabar gembira dan buah dari mengamalkan resep Al-Asr. Ia berbicara tentang pertolongan Allah dan kemenangan, yang diikuti dengan perintah bertasbih, memuji, dan memohon ampunan—yang merupakan bentuk konkrit dari “amal saleh” dan “saling menasihati dalam kesabaran” setelah mencapai kemenangan.
Elemen Linguistik dan Estetika dalam Pemilihan Beruntun
Pertimbangan estetika juga berperan. Beberapa surah pendek memiliki uslub (gaya bahasa) yang mirip, seperti pola sumpah (aqsam) yang digunakan dalam Al-Asr (“Demi masa”) dan Al-Adiyat (“Demi kuda perang yang berlari kencang”). Kesamaan diksi seperti kata “al-ghamr” (kerugian) dalam Al-Asr dan “al-hasrah” (penyesalan) dalam surah lain dapat menciptakan resonansi linguistik. Seorang imam yang cermat dapat menyusun urutan bacaan yang tidak hanya padat makna, tetapi juga indah didengar karena keselarasan gaya bahasanya, seolah-olah surah-surah itu saling merespons satu sama lain.
Membentuk “Cerita” Spiritual dalam Rangkaian Tarawih
Rangkaian surah pendek dalam satu malam Tarawih sebenarnya dapat membentuk alur cerita mini. Misalnya, dimulai dengan Surah Al-Quraisy yang mengingatkan nikmat keamanan dan rezeki (sebagai pengantar syukur). Dilanjutkan Surah Al-Kafirun yang menegaskan komitmen tauhid di tengah nikmat itu. Kemudian Surah Al-Ma’un yang mengingatkan bahaya kemunafikan sosial. Lalu diakhiri dengan Surah Al-Ikhlas sebagai penegasan ulang kemurnian tauhid.
Rangkaian ini membawa jamaah dalam sebuah perjalanan refleksi: dari mengakui nikmat, memperbarui komitmen, melakukan introspeksi, hingga kembali memurnikan keyakinan. Pengalaman spiritual seperti ini jauh lebih kaya dan terstruktur daripada sekadar mendengar bacaan tanpa melihat koneksi di antaranya.
Ringkasan Penutup: Surah Pengganti Al‑‘Asr Dalam Tarawih Dengan Rata‑Rata 5 Ayat
Jadi, eksplorasi mengenai surah pengganti Al-‘Asr ini membuka wawasan bahwa Tarawih adalah ruang hidup yang dinamis. Ia mampu beradaptasi dengan konteks tanpa kehilangan ruhnya. Pilihan surah-surah pendek dengan rata-rata lima ayat bukanlah pengurangan nilai, melainkan konsentrasi makna. Setiap rakaat menjadi seperti mutiara-mutiara waktu yang diisi dengan pesan Ilahi yang padat, menyentuh langsung ke relung hati, dan membuktikan bahwa dalam kesederhanaan bacaan seringkali terkandung kekuatan resonansi spiritual yang justru lebih menggema.
Detail FAQ
Apakah mengganti surah dalam Tarawih berarti menyalahi sunnah?
Tidak. Imam memiliki kebebasan (ikhtiyar) untuk memilih surah apa saja setelah Al-Fatihah dalam shalat sunnah, termasuk Tarawih, selama urutannya dalam mushaf diperhatikan jika membaca lebih dari satu surah. Fleksibilitas ini justru bagian dari kemudahan dalam syariat.
Surah selain Al-‘Asr apa saja yang cocok dengan kriteria rata-rata 5 ayat?
Beberapa contohnya adalah Surah Al-Qadr (5 ayat), Surah Al-Kautsar (3 ayat), Surah Al-Lahab (5 ayat), dan Surah An-Nashr (3 ayat). Pemilihannya juga mempertimbangkan tema, konteks penurunan, dan kesesuaian dengan suasana ibadah malam.
Bagaimana jika ada jamaah yang keberatan atau merasa asing dengan surah pengganti?
Komunikasi dan sosialisasi dari takmir masjid sebelum Ramadhan sangat penting. Pengumuman lisan atau tulisan tentang variasi bacaan yang akan digunakan dapat meminimalisir kebingungan dan menambah wawasan jamaah.
Apakah pertimbangan akustik masjid benar-benar mempengaruhi pemilihan surah?
Sangat mempengaruhi. Surah dengan banyak huruf qalqalah (pantulan) atau mad (panjang) yang jelas lebih mudah terdengar di masjid besar. Pertimbangan teknis ini justru menunjukkan perhatian pada kenyamanan jamaah dalam menikmati lantunan ayat.