Bahasa Sunda dari apa yang kamu lihat bukan sekadar kumpulan kosakata, melainkan lensa budaya yang mengubah cara kita memandang dunia sekeliling. Setiap sudut pemandangan, setiap aktivitas keseharian, dan setiap bentuk arsitektur ternyata punya namanya sendiri dalam bahasa yang kaya ini, menawarkan kedalaman makna yang sering terlewatkan. Melalui bahasa, kita tidak hanya menyebut, tetapi juga merasakan dan memahami esensi dari apa yang ada di hadapan mata, dari hamparan sawah yang hijau hingga kerumitan ukiran pada rumah adat.
Dari aksara Kaganga yang artistik hingga dialek-dialeknya yang beragam, bahasa Sunda menyimpan peta linguistik yang detail untuk mengarungi realitas visual. Artikel ini akan mengajak untuk membedah kosakata warna dan bentuk, memahami istilah untuk fenomena alam, menyelami kata kerja aktivitas tradisional, hingga mengapresiasi istilah dalam seni dan arsitektur. Dengan demikian, pengetahuan ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi menjadi alat untuk melihat dengan lebih tajam dan terhubung lebih dalam dengan warisan budaya Sunda yang hidup.
Pengenalan Dasar Bahasa Sunda Visual
Memahami bahasa Sunda tidak hanya soal mendengar dan berbicara, tetapi juga tentang “membaca” visual budaya yang diungkapkan melalui aksara, dialek, dan cara pandangnya terhadap ruang. Elemen visual ini menjadi pintu masuk untuk menangkap nuansa dan keunikan budaya Sunda secara lebih mendalam, jauh melampaui sekadar terjemahan kata per kata.
Ciri Khas Aksara Sunda Kaganga
Aksara Sunda, yang sering disebut Aksara Kaganga atau Sunda Kuno, adalah sistem tulisan asli yang memiliki keindahan visual dan filosofis tersendiri. Berbeda dengan aksara Jawa, Aksara Sunda memiliki bentuk yang lebih tegak dan angular, dengan beberapa karakter unik yang mencerminkan pelafalan khas bahasa Sunda. Aksara ini digunakan dalam naskah-naskah kuno seperti Carita Parahyangan. Berikut contoh penulisan kata “Sunda” dalam aksara ini:
ᮞᮥᮔ᮪ᮓ
Karakter di atas dibaca dari kiri ke kanan. Setiap suku kata terbentuk dari konsonan dasar yang diberi tanda vokal. Keberadaan aksara ini menunjukkan tingkat peradaban masyarakat Sunda masa lalu yang telah memiliki tradisi tulis-menulis yang mapan.
Kosakata Dasar untuk Warna, Bentuk, dan Ukuran
Untuk mendeskripsikan dunia visual, penguasaan kosakata dasar tentang atribut fisik seperti warna, bentuk, dan ukuran sangat penting. Kosakata ini menjadi fondasi dalam menyusun observasi terhadap objek atau pemandangan di sekitar.
| Kategori | Bahasa Sunda | Arti | Contoh Penggunaan |
|---|---|---|---|
| Warna | Beureum | Merah | Kembang mawar nu beureum. |
| Warna | Konéng | Kuning | Daun pépé konéng. |
| Warna | Héjo | Hijau | Sabuk sawah nu héjo. |
| Bentuk | Bunder | Lingkaran | Piringna bentukna bunder. |
| Bentuk | Pasagi | Persegi | Jandela imah pasagi. |
| Bentuk | Lonjong | Oval | Wajahna rada lonjong. |
| Ukuran | Gedé | Besar | Tangkal randu nu gedé. |
| Ukuran | Leutik | Kecil | Anak bajing nu leutik. |
| Ukuran | Panjang | Panjang | Jalan nu panjang ka gunung. |
Perbedaan Dialek Bahasa Sunda
Bahasa Sunda memiliki beberapa dialek utama yang perbedaannya cukup terasa, terutama dalam pelafalan. Perbedaan ini bukan sekadar aksen, tetapi juga mencakup kosakata dan struktur kalimat dalam beberapa kasus. Dialek Priangan sering dianggap sebagai standar, sementara dialek Banten dan Cirebon memiliki karakter yang lebih kental.
- Dialek Priangan: Dituturkan di Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan sekitarnya. Pelafalannya jelas dan menjadi dasar bahasa Sunda baku. Contoh: “Mana” (apa), “Dupi” (punya), “Teh” (partikel penanda halus).
- Dialek Banten: Digunakan di Serang, Pandeglang, dan Lebak. Cenderung lebih keras dan tegas, dengan pengaruh bahasa Jawa Banten. Contoh: “Pira” (berapa) menjadi “Piraan”, “Dupi” menjadi “Gaduh”.
- Dialek Cirebon (Dermayon): Berada di perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, sehingga mendapat pengaruh kuat bahasa Jawa Cirebon. Contoh: “Mana” menjadi “Apaan”, “Kumaha” (bagaimana) menjadi “Kepriben”.
Menyusun Kalimat Sederhana untuk Mendeskripsikan Pemandangan, Bahasa Sunda dari apa yang kamu lihat
Mendeskripsikan pemandangan alam dalam bahasa Sunda melibatkan susunan subjek, keterangan tempat, dan atribut deskriptif. Struktur kalimatnya sering kali dimulai dengan subjek atau keterangan tempat, diikuti oleh deskripsi. Penggunaan partikel seperti “nu”, “teh”, dan “mah” memberikan penekanan dan kehalusan.
Sebagai contoh, untuk menggambarkan pemandangan gunung di pagi hari, kita bisa menyusun kalimat dengan runtut. Pertama, tentukan subjek utama, lalu tambahkan detail lokasi, waktu, dan ciri-cirinya. Perpaduan kata sifat dan keterangan akan menghasilkan gambaran yang hidup.
Gunung Tangkuban Parahu teh jangkung pisan, puncakna nyaru ku méga bodas, sedengkeun leuweung di handapna héjo robyak. Cahya panonpoé isuk-isuk nyorotkeun warna-warna éta.
Kalimat tersebut berarti: “Gunung Tangkuban Parahu itu sangat tinggi, puncaknya tersembunyi oleh awan putih, sementara hutan di bawahnya hijau lebat. Cahaya matahari pagi menyoroti warna-warna itu.”
Kosakata untuk Benda dan Fenomena Alam
Alam adalah kanvas utama dalam kehidupan masyarakat Sunda tradisional. Oleh karena itu, bahasa Sunda mengembangkan perbendaharaan kata yang kaya dan spesifik untuk menggambarkan berbagai fenomena alam, dari langit yang berubah-ubah hingga detail bentang alam di bawahnya. Kosakata ini bukan sekadar label, tetapi mengandung pengamatan yang mendalam.
Istilah untuk Awan, Cuaca, dan Kondisi Langit
Masyarakat agraris Sunda sangat bergantung pada membaca tanda-tanda langit. Mereka memiliki beragam istilah untuk awan dan cuaca yang membantu dalam meramal musim atau mempersiapkan aktivitas pertanian. Kata untuk “awan” secara umum adalah “méga”, tetapi ada variasi yang lebih spesifik.
- Méga Cumulus: Awan putih bergumpal-gumpal seperti kapas, pertanda cuaca cerah. Disebut “méga kapas” atau “méga bodo”.
- Méga Mendung: Awan gelap pembawa hujan. Dalam Sunda sering disebut “méga poék” atau “mendung” saja.
- Méga Sirostratus: Awan tipis seperti tabir yang menutupi langit, disebut “méga halimun”.
- Cuaca Panas Terik: “Panas katuhur” atau “pupaning panonpoé”.
- Langit Berawan Sebagian: “Langit rada méga” atau “aya méga sababaraha”.
- Langit Cerah Tak Berawan: “Langit biru bening” atau “langit herang tanpa méga”.
Kosakata Bagian-Bagian Alam
Setiap elemen alam seperti gunung, sungai, sawah, dan hutan memiliki anatomi yang dirinci dalam kosakata Sunda. Pengetahuan ini penting untuk navigasi, bercocok tanam, atau sekadar bercerita tentang lingkungan.
- Gunung: Puncak ( puncak atau gung), lereng ( leret atau papeuh), kaki gunung ( suku gunung), jurang ( jurang).
- Sungai: Hulu ( hulu), hilir ( hilir), tepian ( sisi walungan atau pinggir cai), arus deras ( cai gancang), dasar sungai ( dasar walungan).
- Sawah: Pematang ( galengan), bendungan kecil ( caren), lumpur ( leutak), bibit padi ( binih).
- Hutan: Pepohonan lebat ( leuweung geledegan), semak belukar ( rungkun), jalan setapak ( jalan satapak), cahaya tembus celah daun ( cahaya nu nembus kana leuweung).
Nama Hewan dan Tumbuhan Lokal
Keanekaragaman hayati Jawa Barat tercermin dalam namanya yang khas dalam bahasa Sunda. Banyak nama hewan dan tumbuhan yang hanya dikenal dengan sebutan Sunda, bahkan tidak ada padanan Indonesianya yang umum, atau justru nama Sunda-nya yang lebih populer.
| Bahasa Indonesia | Bahasa Sunda | Bahasa Indonesia | Bahasa Sunda |
|---|---|---|---|
| Bambu | Awi | Burung Elang | Heulang |
| Pakis | Paku | Bajing | Bajing |
| Pohon Randu | Tangkal Randu | Cicak | Céngcéng |
| Pohon Kihujan | Tangkal Kihujan | Kelelawar | Kalong |
| Lumut | Lumut | Ular Sawah | Oray Sawah |
| Jamur | Suung | Kodok | Bangkong |
Frasa Deskriptif untuk Keindahan dan Kesuraman
Bahasa Sunda memiliki kekayaan diksi untuk mengungkapkan emosi terhadap suatu pemandangan, mulai dari kekaguman yang mendalam hingga kesan muram. Frasa-frasa ini sering menggunakan metafora yang dekat dengan alam.
Untuk keindahan, kata-kata seperti “éndah pisan”, “geulis”, “nyaru” (memesona), dan “ngajomlang” (cemerlang) sering digunakan. Sementara untuk kesuraman, kata “suram”, “poék”, “muram”, atau “nyingsieunan” (angker) lebih dominan. Keterangan seperti “pisan” (sekali) atau “kacida” (sangat) digunakan untuk memperkuat.
Pemandangan curug éta geulis kacida, caina herang ngalir ngaliwatan batu-batu hideung nu licin, sora curugna saperti nyanyian ti leuweung.
Sebaliknya, untuk suasana muram:
Leuweung nu lebak éta suram, tangkal-tangkalna ngajangjangkung kalawan cabangna nyarupaan panonpoé. Sora kaluweng nu jauh ngajadikeun hawa leuwih nyingsieunan.
Deskripsi Aktivitas dan Kehidupan Sehari-hari
Denyut nadi budaya Sunda paling terasa dalam aktivitas keseharian warganya, dari tawar-menawar di pasar hingga mengolah sawah. Kosakata yang digunakan dalam konteks ini penuh dengan dinamika dan merekam interaksi sosial serta mata pencaharian tradisional yang masih bertahan.
Kosakata Aktivitas di Pasar Tradisional
Pasar tradisional atau “pasar” adalah ruang sosial yang hidup. Suasana riuh rendah, aroma rempah, dan warna-warni barang dagangan terwakili dalam kosakatanya. Istilah untuk penjual biasanya diawali dengan “pa-” atau “pe-” diikuti nama barang, misalnya “pamayang” (penjual ikan).
- Pelaku: Padagang (pedagang), pembeli (pamayang), tukang ogo (penimbang), juru tulis (penulis di warung).
- Aktivitas: Tawar (nawar), nawarkeun (menawarkan), meuli (membeli), ngajual (menjual), ngadagoan duit récéh (menunggu uang kembalian).
- Barang Dagangan: Sasatoan (hewan ternak), sayuran (sayuran), batu béas (beras dalam jumlah besar), bumbu dapur (bumbu masak), kain batik (kain batik).
- Area Pasar: Los (los pasar), kios (kios), gerobak (gerobak), tempat parkir andong (tempat parkir delman).
Kata Kerja untuk Aktivitas Agraris dan Perikanan
Pertanian, perkebunan, dan perikanan bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah siklus hidup. Kata kerjanya sering bersifat spesifik dan mencerminkan tahapan yang runut, menunjukkan kedalaman pengetahuan lokal.
- Bertani Padi: Ngababad (membabat rumput), ngaseuk (menanam padi dengan tongkat), nandur (menanam), ngoyos (menyiangi), ngapanén (menuai).
- Berkebun: Ngabaladah (membuka lahan), melak (menanam bibit), nyiram (menyiram), mupuk (memupuk), ngala (memetik).
- Menangkap Ikan: Mancing (memancing), ngalaway (menangkap dengan jaring kecil), ngail (mengail), nebak (menombak ikan), ngaberek (mencari ikan di sungai dengan tangan atau alat sederhana).
Istilah Alat Transportasi Tradisional dan Modern
Perkembangan transportasi di tanah Sunda meninggalkan jejak kosakata yang unik, dari yang tradisional hingga adaptasi untuk kendaraan modern.
- Tradisional: Andong/Delman (kereta kuda roda dua), dokar (sejenis delman), gerobak sapi (pedati), getek (rakit bambu untuk menyebrang sungai).
- Modern (dengan istilah khas): Ojek (ojék), angkot (angkot – singkatan dari angkutan kota), colt (kendaraan minibus), motor gede (moge – sebutan untuk motor besar), bémo (kendaraan roda tiga, sekarang sudah langka).
Contoh Kalimat Mendeskripsikan Keramaian Hajatan
Hajatan atau acara selamatan adalah pesta rakyat yang penuh warna dan bunyi. Mendeskripsikannya membutuhkan kata-kata yang bisa menangkap keramaian, keramahtamahan, dan kesemrawutan yang khas.
Suara gamelan, riuh rendah percakapan, dan aroma masakan adalah elemen utama. Penggunaan kata kerja seperti “rame”, “riuh”, “hiliwir”, dan “ngariung” sangat efektif untuk menggambarkan suasana.
Imah hajatan éta rame pisan, sora gamelan saléndro ngahuleng ti jero, sedengkeun di luar para tamu ngariung dina kelompok-kelompok, silih sasauran sarta seuri. Aroma sangu liwet jeung hayam goreng ngabelesat ti dapur, ngajurung lapar.
Deskripsi lain yang lebih fokus pada visual:
Palataran imah pinuh ku kursi rentang nu didamel tina bambu, para ibu maké kebaya warna-warni silih tindih ngalayanan dulang. Cahaya lampu tempel nu digantung ngagambarkeun bayangan warga nu sibak-sibuk, ngajadikeun sorana saperti lebah ngagung.
Arsitektur dan Bentuk Fisik Lingkungan
Lingkungan binaan masyarakat Sunda, dari rumah adat hingga tata ruang kampung, mencerminkan harmoni dengan alam dan struktur sosial. Setiap elemen arsitektur dan penataan ruang memiliki nama dan fungsi filosofis tertentu, yang kini banyak tercermin dalam kosakata sehari-hari untuk menyebut bagian bangunan atau lingkungan.
Elemen Khas Arsitektur Rumah Tradisional Sunda (Imah)
Source: okezone.com
Rumah tradisional Sunda atau “Imah” biasanya berbentuk panggung dengan material utama kayu dan bambu. Atapnya yang paling ikonik adalah “Julang Ngapak”, yang menyerupai sayap burung yang sedang terbang, melambangkan perlindungan dan kesiapan untuk “terbang” (beraktivitas).
- Tatapakan: Fondasi berupa batu atau umpak kayu yang menyangga tiang utama.
- Suhunan Julang Ngapak: Atap dengan kedua sisi yang melebar dan melandai, memberikan ruang bawah atap yang tinggi dan sirkulasi udara baik.
- Hateup: Penutup atap yang terbuat dari ijuk, alang-alang, atau genteng tanah liat.
- Tengah Imah: Ruang utama yang sering kali tanpa sekat, multifungsi untuk menerima tamu dan berkumpul keluarga.
- Pawon: Dapur yang biasanya terpisah atau menyambung di belakang rumah, menjadi pusat aktivitas perempuan.
- Emper: Teras atau bale-bale di depan rumah, tempat bersantai dan mengamati lingkungan.
Nama Bagian Bangunan dalam Bahasa Sunda
Banyak istilah untuk bagian bangunan modern yang diambil dari kosakata arsitektur tradisional, sementara beberapa adalah serapan dari bahasa Indonesia dengan pelafalan Sunda.
| Bahasa Indonesia | Bahasa Sunda | Bahasa Indonesia | Bahasa Sunda |
|---|---|---|---|
| Pintu | Panto | Atap | Suhunan/Hateup |
| Jendela | Jandéla | Lantai | Lanté |
| Tiang | Soko | Dinding | Tembok/Pagar |
| Tangga | Tangga | Plafon | Langit-langit |
| Pagar | Pager | Genting | Genténg |
| Teras | Emper | Kamar | Kamar |
Kosakata untuk Kondisi Jalan dan Permukiman
Deskripsi tentang lingkungan permukiman dalam bahasa Sunda sering kali sangat visual dan terkadang sinis, mencerminkan pengamatan sehari-hari.
- Jalan: Jalan gedé (jalan besar/raya), jalan satapak (jalan setapak), jalan bérésol (jalan berbatu/rusak), jalan nu licin (jalan licin).
- Gang: Gang sempit, gang buntu (gang tembus), gang nu baseuh (gang becek).
- Permukiman:
Kampung, lembur, padumukan, perumahan (untuk perumahan modern). - Tata Ruang: Karang (halaman rumah), sawah (sawah), balong (kolam), pasir (area berbukit/kering), leuwi (bagian sungai yang dalam).
Deskripsi Fisik Situs Budaya
Mendeskripsikan situs budaya seperti makam kuno atau candi membutuhkan kosakata yang formal sedikit, deskriptif, dan penuh rasa hormat. Kata-kata seperti “kuno”, “lapuk”, “kukuh”, dan “sakral” sering muncul.
Sebagai contoh, deskripsi tentang sebuah makam leluhur atau “astana” di daerah Garut akan melibatkan detail fisik dan atmosfer sekitarnya. Pengamatan terhadap material, vegetasi, dan kondisi pelestariannya menjadi penting untuk menggambarkan kesan keseluruhan.
Kompléks makam karuhun éta aya di pasir nu rada luhur. Gapura utama na tina batu andesit nu geus lapuk ku hujan angin, ukiran kaligrafina meh teu katempo. Di jero, makam-makamna ditutupi kain mori bodas, dikurilingan ku tangkal janaka nu geus ngandel. Hawana hening pisan, ngan sora kérékes daun jeung kicau manuk nu kadéngé, ngadatangkeun rasa tenang jeung kahormatan.
Ekspresi Budaya dan Seni Visual: Bahasa Sunda Dari Apa Yang Kamu Lihat
Kekayaan visual budaya Sunda mencapai puncaknya dalam ekspresi seni, dari kain yang dikenakan hingga pertunjukan yang dipentaskan. Setiap motif, properti, dan gerakan memiliki nama serta makna yang dalam, menjadikan bahasa Sunda sebagai katalog hidup dari warisan estetika ini.
Istilah untuk Kain, Motif Batik, dan Perhiasan
Tekstil dan perhiasan tradisional Sunda tidak hanya untuk penampilan, tetapi juga penanda status, usia, dan keyakinan. Motif batik Sunda, misalnya, banyak terinspirasi dari alam sekitar.
- Jenis Kain: Batik (batik tulis/cap), Lurik (kain tenun bergaris), Sarung (sarung), Samping (kain panjang untuk menari).
- Motif Batik Khas: Merak Ngibing (burung merak menari), Kujang Kijang (gabungan senjata kujang dan kijang), Sawat (sayap garuda), Pakan Limar (motif geometris).
- Perhiasan Tradisional: Siger (mahkota pengantin), Kelom Geulis (gelang kaki), Tusuk Konde (sanggul), Bros (peniti hias), Cincin (cincin).
Peralatan dalam Wayang Golek dan Tari Tradisional
Seni pertunjukan wayang golek dan tari adalah dunia yang kompleks dengan perangkatnya sendiri. Nama-nama alat ini sering kali onomatope atau menggambarkan fungsinya.
- Wayang Golek: Wayang (boneka kayu), Cempala (pemukul dari kayu untuk memberi isyarat pada dalang), Kepyak (lempengan logam yang dipukul untuk efek suara), Blencong (lampu minyak tradisional untuk bayangan).
- Tari Tradisional (misal Jaipong/Tari Topeng): Sampur (selendang), Kaca Mata (topeng untuk tari topeng), Gamelan (perangkat musik pengiring: kendang, goong, saron, rebab).
Kosakata Seni Ukir, Anyaman, dan Kerajinan Tangan
Kerajinan tangan Sunda mengandalkan keahlian tinggi, dan kosakatanya mencerminkan teknik dan bahan yang digunakan.
- Seni Ukir (Ukiran): Ngukir (mengukir), Paksi (ukiran burung), Daun Pakis (ukiran motif pakis), Awi (bambu sebagai bahan ukir).
- Anyaman (Anyaman): Nyanyam (menganyam), Hampru (tampah/nyiru), Kérong (keranjang), Caping (topi dari bambu), Bilik (dinding anyaman bambu).
- Kerajinan Lain: Membat (membuat batik), Nenun (menenun), Nyepuh (melapisi logam dengan emas/perak), Ngadamel (membuat).
Mendeskripsikan Pertunjukan Seni atau Upacara Adat
Menggambarkan sebuah pertunjukan atau upacara membutuhkan pilihan kata yang hidup, bisa menangkap gerak, suara, dan emosi yang tersaji. Penggunaan kata kerja yang dinamis dan metafora yang terkait dengan alam atau tubuh sangat efektif.
Deskripsi tentang sebuah pertunjukan wayang golek, misalnya, akan fokus pada interaksi dalang, musik, dan reaksi penonton. Suara gamelan, gerakan wayang, dan narasi dalang menjadi pusat perhatian.
Dalang ngahulengkeun carita Srikandi jeung Bima kalawan suara nu robah-robah, sedengkeun leungeun katuhuna ngagerakkeun wayang golek nu adu pukulan. Kendang ngagebrég, nandaan patempuran, bari goong ngageterkeun hawa. Para panongton di hareupeun layar hipu, mata maranéhna nuturkeun gerak wayang, kadang seuri kadang ngarenghap nalika adegan nu méncé.
Sementara untuk upacara adat seperti “Seren Taun”:
Upacara Seren Taun diangkat ku iring-iringan warga nu mawa hasil bumi dina wadah hatur, dihudangkeun ku sora angklung jeung kacapi. Para sesepuh ngucapkeun doa di tengah sawah, awang-awang pinuh ku harapan. Ritual ieu saperti lukisan hirup nu ngahubungkeun jalma, taneuh, jeung roh karuhun dina satuan warna nu meriah tapi khidmat.
Penutup
Pada akhirnya, mempelajari Bahasa Sunda dari apa yang kamu lihat adalah sebuah perjalanan membuka mata. Ia mengajarkan bahwa bahasa adalah lebih dari alat komunikasi; ia adalah katalog pengalaman, arsip sejarah, dan manifestasi filosofi hidup suatu masyarakat. Setiap istilah untuk bentuk awan, bagian rumah, atau gerakan tari adalah sebuah cerita yang tertahan, menunggu untuk dibaca dan dihayati.
Dengan bekal kosakata ini, pandangan terhadap lingkungan—baik alam, budaya, maupun keseharian—tidak akan pernah sama lagi. Dunia visual menjadi lebih kaya, penuh nuansa, dan bermakna. Jadi, mulailah dari hal sederhana: coba sebutkan dalam hati apa yang kamu lihat sekarang dengan kosa kata Sunda. Langkah kecil itu adalah awal dari sebuah penjelajahan budaya yang tak ternilai harganya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah aksara Sunda (Kaganga) masih digunakan secara aktif dalam kehidupan sehari-hari?
Penggunaan aksara Sunda Kaganga dalam komunikasi sehari-hari saat ini sangat terbatas. Penggunaannya lebih banyak ditemui dalam konteks pelestarian budaya, seperti penulisan nama jalan, prasasti, logo institusi, atau materi pembelajaran di sekolah, bukan untuk percakapan atau tulisan rutin.
Bagaimana cara membedakan dialek Sunda Priangan dan Banten dalam pelafalan?
Perbedaan paling mencolok seringkali pada intonasi dan beberapa bunyi vokal/konsonan. Misalnya, kata “saya” dalam dialek Priangan halus adalah “abdi”, sementara di Banten mungkin terdengar seperti “aing”. Dialek Banten juga dikenal memiliki pengaruh bahasa Jawa Banten dan intonasi yang lebih keras.
Apakah ada kosakata Sunda modern untuk benda-benda teknologi seperti smartphone atau laptop?
Bahasa Sunda banyak menyerap istilah dari Bahasa Indonesia atau Inggris untuk objek teknologi modern. Namun, ada juga upaya kreatif menciptakan padanan, seperti “ponsel pinter” untuk smartphone, meski istilah serapan seperti “HP” atau “laptop” lebih umum dipakai dalam percakapan.
Bagaimana sikap penutur muda Sunda terhadap kekayaan kosakata tradisional ini?
Ada kecenderungan berkurangnya penguasaan kosakata tradisional yang spesifik di kalangan penutur muda perkotaan. Namun, kesadaran untuk melestarikannya justru tumbuh melalui komunitas, media sosial, dan konten kreatif, sehingga banyak kata yang mulai “dihidupkan” kembali.
Apakah mempelajari kosakata visual Sunda membantu memahami budaya Jawa Barat secara lebih luas?
Sangat membantu. Kosakata tentang alam, arsitektur, dan seni mencerminkan hubungan harmonis masyarakat Sunda dengan lingkungan, nilai-nilai kearifan lokal, dan estetika. Memahami katanya berarti mengintip cara berpikir dan nilai-nilai yang dianut dalam budayanya.