Sakit Akibat Batu Ginjal di Bagian Tertentu Peta Rasa Nyeri

Sakit Akibat Batu Ginjal di Bagian Tertentu bukan sekadar nyeri pinggang biasa. Rasanya seperti ada kekuatan tak terlihat yang mencengkeram dari dalam, sebuah perjalanan sensasi menusuk yang bermigrasi mengikuti jalur sempit saluran kemih. Bagi yang pernah mengalaminya, pengalaman ini sering dicatat sebagai momen paling menyiksa dalam hidup, di mana tubuh dan pikiran seolah dikalahkan oleh kristal kecil yang bergerak pelan namun penuh tuntutan.

Nyeri ini memiliki geografi yang unik dan dapat dipetakan. Ia berawal dari punggung bawah, lalu merambat seperti gelombang panas atau aliran listrik ke perut bagian samping, turun ke pangkal paha, dan bahkan bisa mencapai area kemaluan atau testis. Setiap perpindahan lokasi batu menciptakan babak baru dalam drama rasa sakit, lengkap dengan tekstur yang berbeda—mulai dari tumpul dan mendesak hingga tajam dan menyayat—serta respons tubuh seperti mual dan keringat dingin yang menyertainya.

Geografi Nyeri Batu Ginjal: Peta Sensasi Tubuh Manusia

Nyeri akibat batu ginjal bukanlah rasa sakit yang statis. Ia adalah seorang musafir yang bergerak mengikuti perjalanan batu, meninggalkan jejak sensasi yang berbeda di setiap titik tubuh yang dilaluinya. Memahami peta migrasi nyeri ini bukan hanya membantu identifikasi, tetapi juga memberi gambaran tentang di mana sebenarnya batu tersebut sedang berada.

Perjalanan dimulai dari sebuah titik tumpul dan dalam di punggung bawah, tepat di bawah tulang rusuk terakhir. Sensasi awalnya sering digambarkan seperti ada beban berat atau tekanan yang dalam, seolah-olah seseorang menekan kuat area ginjal dari dalam. Tekstur nyerinya seperti pegal yang meresap, namun perlahan berubah menjadi tusukan tajam yang berdenyut seiring dengan irama detak jantung. Saat batu mulai bergerak dari ginjal dan memasuki ureter, sensasinya berubah drastis.

Rasa tumpul itu meledak menjadi nyeri tajam yang menusuk, yang kemudian mulai bermigrasi ke depan dan ke bawah.

Nyeri ini merambat mengikuti jalur ureter, melintasi pinggang samping menuju perut bagian bawah. Di perjalanannya, ia bisa menimbulkan sensasi panas seperti terbakar di sepanjang jalurnya, atau justru perasaan dingin yang menggigil akibat respons sistem saraf otonom. Ketika batu mencapai sepertiga bawah ureter, dekat kandung kemih, sensasinya berpusat di perut bagian bawah dan selangkangan. Pada pria, nyeri dapat menjalar hingga ke ujung testis, menimbulkan sensasi ditarik-tarik.

Pada wanita, nyeri sering terasa di bibir vagina. Di titik ini, sering kali muncul sensasi panas yang sangat spesifik dan mendesak untuk buang air kecil, meski yang keluar hanya sedikit.

Karakteristik Nyeri pada Fase Perjalanan Batu

Karakteristik nyeri berubah secara signifikan tergantung posisi batu. Tabel berikut membandingkan pengalaman nyeri di empat lokasi kritis.

Lokasi Batu Lokasi Spesifik Nyeri Kualitas Rasa Pemicu Gerakan Durasi Khas
Kaliks Ginjal Punggung bawah satu sisi, sangat terlokalisir. Nyeri tumpul, pegal, atau tekanan konstan. Minimal, mungkin memburuk dengan lompatan atau guncangan. Konstan atau hilang-timbul dalam jam.
Ureter Proksimal (Bagian Atas) Pinggang samping (flank), menjalar ke perut depan. Kolik tajam, menusuk, intensitas sangat tinggi, berdenyut. Setiap gerakan, bahkan napas dalam dapat memperparah. Gelombang paroksismal (serangan) 20-60 menit.
Ureter Distal (Bagian Bawah) Perut bawah, selangkangan, alat kelamin. Tajam dan mendesak, disertai sensasi panas dan ingin berkemih. Berjalan, duduk, atau mengejan. Gelombang panjang dengan sensasi terbakar konstan.
Kandung Kemih Di atas tulang kemaluan, ujung saluran kencing. Rasa mengganjal, nyeri terbakar saat berkemih, desakan mendadak. Berkemih, terutama di akhir aliran. Selama dan sesaat setelah berkemih.

Interpretasi Otak atas Sinyal Nyeri yang Ekstrem

Mengapa nyeri batu ginjal sering disebut sebagai yang terparah? Jawabannya terletak pada cara otak menginterpretasi sinyal dari saluran kemih yang tersumbat. Ureter, saluran yang menghubungkan ginjal ke kandung kemih, dilapisi serat otot halus yang bergerak secara peristaltik untuk mendorong urine. Ketika batu menyumbat, otot-otot ini berkontraksi dengan kekuatan maksimal dan terus-menerus untuk mencoba mendorong penghalang tersebut. Kontraksi isometrik yang kuat ini mengaktifkan reseptor nyeri (nosiseptor) secara masif.

Sinyal nyeri visceral ini kemudian dibawa oleh saraf ke sumsum tulang belakang dan naik ke otak. Di otak, khususnya di area yang disebut insula dan korteks cingulate anterior, sinyal ini diinterpretasikan sebagai ancaman sistemik yang mendesak. Otak tidak memiliki “peta” yang detail untuk organ dalam seperti ureter, sehingga ia menginterpretasi ancaman tersebut dengan skala yang sangat besar dan menyebar, menciptakan pengalaman nyeri yang meluas, dalam, dan hampir tak tertahankan.

BACA JUGA  Pembayaran Tiket Bioskop Hitung Hutang Cecep ke Teman

Kombinasi antara intensitas sinyal dan ketidakmampuan otak untuk melokalisir sumbernya dengan tepat inilah yang membentuk pengalaman nyeri kolik ginjal yang begitu mengerikan.

Dialog Diam-Diam Antara Batu dan Saraf Simpatetik

Perjalanan batu di dalam ureter tidak hanya memicu nyeri lokal. Ia memulai sebuah percakapan diam-diam namun dahsyat dengan sistem saraf otonom, khususnya cabang simpatetik, yang bertanggung jawab atas respons “fight or flight”. Dialog inilah yang menghasilkan gejala sistemik yang sering menyertai serangan kolik ginjal.

Rasa sakit akibat batu ginjal di bagian pinggang atau perut bawah sering digambarkan seperti gelombang yang datang tak terduga, intensitasnya bisa berubah-ubah layaknya angka dalam Soal Operasi Pecahan Campuran Pilihan Ganda. Nah, memahami pola nyeri yang fluktuatif ini penting, karena mirip dengan menganalisis langkah-langkah penyelesaian soal, agar kita bisa menentukan tindakan medis yang tepat dan tidak sekadar menebak-nebak.

Mekanismenya dimulai ketika batu mengiritasi dan meregangkan dinding ureter. Iritasi ini mengaktifkan serabut saraf visceral yang langsung terhubung ke sumsum tulang belakang. Dari sana, sinyal darurat tidak hanya dikirim ke otak untuk dirasakan sebagai nyeri, tetapi juga memicu refleks saraf otonom. Sistem saraf simpatetik menjadi sangat aktif, menyebabkan pelepasan hormon stres seperti adrenalin. Inilah yang memicu gejala seperti berkeringat dingin, kulit pucat, dan perasaan gelisah atau takut yang mendalam tanpa sebab yang jelas.

Sinyal yang berlebihan dari ureter juga dapat “membanjiri” pusat mual di batang otak melalui koneksi saraf yang berdekatan, sehingga menyebabkan mual dan muntah hebat, meskipun tidak ada masalah pada lambung itu sendiri.

Posisi Tubuh yang Meredakan dan Memperparah Nyeri

Pasien sering secara intuitif menemukan posisi tertentu yang dapat sedikit meredakan penderitaan. Sebaliknya, gerakan tertentu justru menjadi pemicu yang jelas. Berikut adalah beberapa posisi dan gerakan beserta alasan fisiologis di balik efeknya.

  • Berguling-guling atau Tidak Bisa Diam: Ini adalah respons otomatis terhadap nyeri visceral yang ekstrem. Gerakan konstan mungkin merupakan upaya bawah sadar untuk “mengalihkan” sistem saraf atau menemukan posisi di mana tekanan pada ureter sedikit berkurang.
  • Membungkuk ke Sisi yang Sakit: Posisi ini terkadang dapat meredakan ketegangan pada otot-otot dinding perut dan fascia yang ikut tegang akibat nyeri alih (referred pain), sehingga memberikan rasa lega semu meski batu tetap ada.
  • Berjalan atau Berdiri Tegak: Seringkali memperparah nyeri, terutama saat batu di ureter proksimal. Gravitasi meningkatkan tekanan kolumn urine di atas batu, yang memperberat distensi dan memicu kontraksi ureter yang lebih kuat.
  • Menekan atau Memijat Area yang Sakit: Tekanan eksternal yang kuat justru dapat meningkatkan tekanan internal pada sistem kemih yang sudah tersumbat, sehingga biasanya memperburuk rasa sakit.

Pengalaman Subjektif Gelombang Nyeri Kolik

Pengalaman nyeri kolik ureter seringkali melampaui sensasi fisik semata, mengubah persepsi pasien terhadap waktu dan ruang di sekitarnya.

“Saat gelombang itu memuncak, dunia di luar seakan menghilang. Suara ruang UGD memudar jadi dengungan putih, wajah orang-orang di sekitar berubah kabur. Satu-satunya realitas adalah gelombang api yang bergulir dari pinggang ke selangkangan, berdenyut selaras dengan detak jantung yang berdebar kencang di telinga. Waktu membentang; menit terasa seperti jam. Lalu, tiba-tiba, ada jeda. Rasa sakitnya surut seperti air pasang, meninggalkan kelelahan yang mendalam dan tubuh yang gemetar. Di fase tenang yang menipu itu, ada bisikan harap, ‘Sudah selesai.’ Tapi pengetahuan di balik ketakutan tahu bahwa itu hanya jeda sebelum gelombang berikutnya datang menghantam.”

Anatomi Ketidaknyamanan di Balik Tulang Panggul

Sakit Akibat Batu Ginjal di Bagian Tertentu

Source: disway.id

Ketika batu ginjal mencapai ureter distal, yaitu bagian yang terletak jauh di dalam rongga panggul dekat kandung kemih, diagnosis sering menjadi rumit. Nyeri di area ini dengan mudah disalahartikan sebagai radang usus buntu, kista ovarium yang pecah, nyeri ovulasi, atau pada pria, torsio testis. Kebingungan ini bukan tanpa dasar; ia berakar pada sebuah fenomena neurologis yang disebut “referred pain” atau nyeri alih.

Organ-organ dalam tubuh kita, termasuk ureter, usus buntu, dan ovarium, memiliki persarafan yang relatif sedikit. Sinyal sakit dari organ-organ ini, ketika sampai di sumsum tulang belakang, “berbagi” jalur naik (neuron) yang sama dengan sinyal dari area kulit dan otot tertentu di tubuh. Otak, yang lebih terbiasa menerima sinyal dari permukaan tubuh, salah mengartikan asal sinyal tersebut. Misalnya, saraf dari ureter distal (segmen sepertiga bawah) masuk ke segmen saraf tulang belakang yang sama (T11-L1) dengan saraf yang melayani kulit di area perut bawah, selangkangan, dan paha atas.

BACA JUGA  Langkah-langkah Pencetakan Dokumen Dari Digital Ke Fisik

Oleh karena itu, iritasi pada ureter distal diinterpretasikan otak seolah-olah datang dari area kulit atau otot di perut bawah dan selangkangan, yang persis adalah area dimana nyeri apendisitis atau masalah ginekologi juga dirasakan.

Membedakan Nyeri Batu Ginjal dari Kondisi Lain, Sakit Akibat Batu Ginjal di Bagian Tertentu

Meski lokasinya bisa tumpang tindih, karakteristik nyeri dan gejala penyertanya memiliki perbedaan mendasar. Tabel berikut menguraikan perbedaannya.

Jenis Nyeri Lokalisasi & Penyebaran Sifat Nyeri Gejala Penyerta Khas
Nyeri Batu Ginjal Dimulai dari pinggang, menjalar ke perut bawah & selangkangan sesuai jalur ureter. Kolik: bergelombang, sangat intens, tidak membaik dengan perubahan posisi. Mual/muntah hebat, berkeringat dingin, darah dalam urine (hematuria), desakan berkemih.
Nyeri Otot Pinggang (Low Back Pain) Terpusat di otot punggung bawah, dapat menjalar ke pantat atau paha belakang. Kaku, pegal, atau tajam seperti ditusuk, membaik dengan istirahat atau posisi tertentu. Keterbatasan gerak punggung, nyeri tekan pada otot, jarang disertai gejala sistemik seperti mual.
Nyeri Infeksi Saluran Kemih (ISK) Terpusat di kandung kemih (suprapubik) dan uretra. Rasa terbakar konstan saat berkemih, desakan terus-menerus, nyeri tumpul di perut bawah. Demam (jika naik ke ginjal), anyang-anyangan, urine keruh atau berbau kuat.
Nyeri Sindrom Iritasi Usus (IBS) Perut bagian mana saja, seringkali di perut bawah, bersifat difus. Kram atau kejang yang terkait dengan pola BAB, membaik setelah buang air besar. Perubahan kebiasaan BAB (diare/konstipasi), kembung, perut bergas.

Sensasi Distensi dan Kejang pada Dinding Ureter

Bayangkan sebuah selang air yang sangat tipis dan elastis, dengan dinding setebal hanya beberapa milimeter, tiba-tuba tersumbat oleh sebuah kerikil. Pompa di hulu (ginjal) terus memproduksi dan mendorong cairan (urin) ke dalam selang tersebut. Inilah yang terjadi pada ureter yang tersumbat batu. Tekanan hidrostatik dari urin yang terhambat secara cepat meningkat di segmen ureter di atas batu. Dinding ureter yang tipis itu kemudian meregang melebihi kapasitas elastisnya.

Perenggangan atau distensi yang mendadak dan kuat inilah yang menjadi stimulus utama rasa sakit. Reseptor regang (stretch receptors) di dinding ureter mengirim sinyal bahaya secara berlebihan. Sebagai respons, lapisan otot polos ureter berkontraksi kejang dalam upaya mendorong obstruksi. Kontraksi spastik ini sendiri menambah rasa sakit. Sensasi yang dihasilkan adalah perasaan kram atau kejang yang sangat dalam, disertai tekanan yang seolah ingin meledak dari dalam, sebuah perasaan distensi yang menyiksa karena terjadi di saluran sempit yang tidak dirancang untuk menahan tekanan seperti itu.

Ritme Siklus Nyeri dan Interval Tenang yang Menipu: Sakit Akibat Batu Ginjal Di Bagian Tertentu

Salah satu aspek paling menjebak dari nyeri kolik ginjal adalah polanya yang siklik, dengan periode tenang yang dapat disalahartikan sebagai kesembuhan. Pola ini bukanlah keanehan, melainkan cerminan langsung dari fisiologi ureter yang sedang berjuang. Ureter bukanlah pipa statis; ia adalah tabung berotot yang bergerak dengan gelombang kontraksi ritmis disebut peristaltik untuk mendorong urine.

Ketika batu menyumbat, otot-otot di segmen ureter di atasnya akan berkontraksi dengan kekuatan maksimal dalam upaya mendorong batu tersebut. Kontraksi maksimal inilah yang menciptakan puncak gelombang nyeri. Namun, seperti otot lainnya, otot polos ureter dapat mengalami kelelahan. Setelah berkontraksi secara intens selama 20 hingga 60 menit, otot-otot itu “kelelahan” dan masuk fase relaksasi. Pada fase relaksasi ini, tekanan di belakang batu sedikit berkurang, aliran urine mungkin bisa melewati celah kecil di sekitar batu, dan nyeri menghilang secara signifikan atau bahkan sama sekali.

Inilah interval tenang yang menipu. Sayangnya, setelah otot pulih, siklus akan berulang. Ginjal terus memproduksi urine, tekanan kembali terbangun, dan kontraksi kejang dimulai lagi, membawa gelombang nyeri berikutnya. Pola ini dapat berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari sampai batu berpindah atau sumbatan teratasi.

Tanda Peringatan Selama Interval Tenang

Interval tenang adalah hal yang normal dalam siklus kolik, namun adanya tanda-tanda tertentu justru mengindikasikan komplikasi serius yang memerlukan penanganan segera.

  • Demam dan Menggigil: Ini adalah tanda bahaya paling kritis. Ini mengindikasikan bahwa urin yang terhambat telah terinfeksi bakteri, menyebabkan pielonefritis (infeksi ginjal) atau bahkan urosepsis. Infeksi di balik sumbatan adalah keadaan darurat karena tekanan dapat mendorong bakteri masuk ke aliran darah.
  • Nyeri Berubah dari Kolik Menjadi Tumpul dan Konstan: Jika nyeri tajam bergelombang berubah menjadi sakit tumpul yang terus-menerus di pinggang, ini bisa mengindikasikan hidronefrosis yang signifikan. Ginjal yang terus menerus teregang oleh tekanan urin mulai mengalami kerusakan struktural.
  • Penurunan Produksi Urin atau Sama Sekali Tidak Bisa Berkemih (pada kasus batu di kedua sisi atau ginjal tunggal): Ini menandakan sumbatan total yang mengancam fungsi ginjal secara keseluruhan dan memerlukan dekompresi segera.

Mencatat dan Mengkomunikasikan Siklus Nyeri kepada Dokter

Informasi detail tentang pola nyeri adalah alat diagnostik yang sangat berharga. Catatlah hal-hal berikut untuk didiskusikan dengan dokter.

“Catat waktu dimulainya setiap gelombang nyeri dan berapa lama berlangsung. Coba beri skala intensitas dari 1 sampai

10. Perhatikan apakah ada perubahan pola

apakah interval tenang semakin pendek? Apakah lokasi nyeri yang menjalar berubah? Apakah nyeri puncak terasa semakin kuat atau justru melemah? Apakah nyeri berubah sifat dari kolik menjadi tumpul? Sampaikan juga gejala apa saja yang muncul di fase tenang, seperti apakah masih ada desakan berkemih atau rasa tidak nyaman yang tersisa.

Data ini membantu menentukan seberapa aktif ureter berusaha mendorong dan apakah ada tanda bahaya komplikasi.”

Fenomena Psikosomatik Rasa Sakit di Ujung Saraf Panggul

Setelah batu ginjal berhasil dikeluarkan atau dihancurkan, perjalanan pasien seringkali belum sepenuhnya usai. Banyak yang melaporkan sensasi aneh yang terus bertahan, seperti nyeri samar, rasa mengganjal, atau ketidaknyamanan di area yang sebelumnya menjadi episentrum penderitaan. Fenomena ini bukan imajinasi belaka, melainkan jejak yang ditinggalkan pengalaman nyeri ekstrem pada sistem saraf dan pusat pemrosesan di otak.

BACA JUGA  Pengertian Egaliter Dari Masa Prasejarah Hingga Kehidupan Modern

Pengalaman nyeri yang sangat intens, seperti kolik ginjal, dapat meninggalkan “memori nyeri” (pain memory) yang dalam pada sistem saraf. Proses ini disebut sensitisasi sentral. Sederhananya, jalur saraf yang membawa sinyal nyeri dari area panggul ke otak menjadi seperti jalan tol yang terlalu sering dilalui—mereka menjadi hiper-responsif. Akibatnya, setelah sumber nyeri (batu) hilang, rangsangan normal yang sebelumnya tidak terasa, seperti kandung kemih penuh, gerakan usus, atau bahkan sentuhan ringan di kulit pinggang, dapat diinterpretasikan ulang oleh sistem saraf yang sudah “terlatih” ini sebagai ancaman atau nyeri.

Ketakutan dan kecemasan akan kekambuhan memperkuat siklus ini, mengaktifkan sistem limbik (pusat emosi) yang kemudian dapat memperburuk persepsi nyeri.

Peran Otak dan Melatih Ulang Respons Nyeri

Pengalaman nyeri diproses bukan hanya di area sensorik otak, tetapi juga di daerah yang mengatur emosi (sistem limbik, seperti amigdala) dan kognisi (korteks prefrontal). Setelah episode nyeri traumatik, amigdala mungkin tetap dalam keadaan siaga tinggi, sementara korteks prefrontal—yang bertugas menilai konteks dan mengatur respons—mungkin kesulitan “meyakinkan” sistem bahwa ancaman sudah berlalu. Inilah dasar dari nyeri kronis pasca-penyembuhan. Teknik “melatih ulang” otak berfokus pada memutus hubungan antara sensasi tubuh normal dengan respons takut-sakit.

Ini dapat dilakukan melalui terapi seperti latihan pernapasan dalam dan meditasi mindfulness untuk menenangkan sistem saraf, terapi kognitif-perilaku untuk mengelola pikiran cemas tentang nyeri, serta secara bertahap dan aman kembali melakukan aktivitas normal untuk memberi bukti baru kepada otak bahwa gerakan tertentu tidak lagi berbahaya.

Sensasi Phantom dan Rasa Mengganjal Semu

Sensasi “phantom pain” atau rasa mengganjal yang terus ada di daerah ginjal atau kandung kemih setelah batu hilang memiliki beberapa kemungkinan penyebab neurologis. Pertama, bisa jadi merupakan sisa peradangan atau iritasi ringan pada dinding ureter yang butuh waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya. Kedua, dan yang lebih kompleks, adalah perubahan pada peta sensorik di otak. Area di korteks sensorik yang mewakili saluran kemih bagian atas mungkin telah berubah strukturnya akibat bombardir sinyal nyeri yang lama.

Ketika area otak ini tetap aktif tanpa input yang jelas dari pinggang, ia dapat menghasilkan sensasi semu, mirip dengan fenomena pada anggota tubuh yang diamputasi. Kombinasi antara sensitisasi saraf perifer yang tersisa dan reorganisasi peta sensorik di otak inilah yang menciptakan pengalaman mengganjal atau tidak nyaman yang sulit dijelaskan namun sangat nyata bagi penyintas batu ginjal.

Pemungkas

Memahami perjalanan Sakit Akibat Batu Ginjal di Bagian Tertentu adalah langkah pertama untuk mengambil kendali. Dari sensasi migrasi yang liar hingga siklus nyeri yang menipu, pengetahuan ini mengubah pengalaman dari sesuatu yang menakutkan menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Meski rasa sakitnya bisa sangat personal dan subjektif, mekanisme di baliknya mengikuti logika anatomi dan neurologi yang jelas.

Akhirnya, mengarungi episode batu ginjal bukan hanya tentang menghilangkan batu, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dalam tubuh sendiri. Dengan mengenali pola, memahami tanda bahaya, dan menyadari bahwa bahkan setelah batu hilang, pikiran mungkin butuh waktu untuk pulih, perjalanan menuju penyembuhan menjadi lebih terarah. Dengarkan tubuh, catat setiap sinyalnya, dan jadikan informasi itu sebagai panduan dalam dialog dengan tenaga medis untuk meraih solusi terbaik.

FAQ Umum

Apakah nyeri batu ginjal selalu dimulai dari pinggang?

Tidak selalu. Meski klasik dimulai dari pinggang belakang (flank), nyeri bisa pertama kali dirasakan di perut bawah atau selangkangan jika batu sudah turun ke ureter bagian distal. Lokasi awal nyeri sangat bergantung pada posisi batu saat itu.

Mengapa rasa sakitnya datang secara bergelombang?

Gelombang nyeri disebabkan oleh kontraksi ritmik (peristaltik) otot ureter yang berusaha mendorong batu. Kontraksi ini memuncak lalu lelah, menciptakan siklus nyeri hebat diikuti masa tenang yang menipu.

Bisakah nyeri batu ginjal hanya terasa di satu titik kecil dan tidak berpindah?

Bisa, terutama jika batu terjepit dan tidak bergerak di satu tempat untuk waktu lama. Nyeri akan terlokalisasi di area tersebut, meski tetap intens dan mungkin disertai gejala sistemik seperti mual.

Apakah tingkat keparahan nyeri berkorelasi langsung dengan ukuran batu?

Tidak selalu. Batu kecil yang bergerak dan menyumbat aliran urin dapat menyebabkan nyeri yang jauh lebih hebat daripada batu besar yang diam di rongga ginjal. Faktor penyumbatan dan iritasi lebih berpengaruh.

Mengapa setelah batu dikeluarkan, kadang masih terasa sakit atau tidak nyaman di area yang sama?

Ini bisa disebabkan oleh memori nyeri (pain memory), iritasi sisa pada saluran kemih, atau sensasi fantom (phantom sensation) karena saraf yang sebelumnya terus-terusan terstimulasi butuh waktu untuk beradaptasi kembali.

Leave a Comment