Solusi Pertidaksamaan 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 dan Penjelasannya

Solusi pertidaksamaan 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 mungkin terlihat seperti sekumpulan angka dan simbol yang membosankan, tapi sebenarnya di baliknya ada cerita menarik tentang logika, visualisasi, dan bahkan koneksi dengan hal-hal praktis di sekitar kita. Mari kita buka lapisan-lapisannya bukan sebagai tugas sekolah, melainkan sebagai petualangan kecil untuk memahami bagaimana aljabar berbicara dalam bahasa rentang dan kemungkinan. Pertidaksamaan linear seperti ini adalah fondasi untuk berpikir kritis tentang batasan, pilihan, dan solusi yang tak terhitung jumlahnya.

Pada intinya, kita akan menyederhanakan bentuk aljabar tersebut, menemukan titik kritisnya, dan menggambarkan himpunan penyelesaiannya sebagai sebuah sinar di garis bilangan. Proses ini tidak sekadar menghitung, tetapi juga melatih ketelitian karena satu kesalahan kecil dalam menangani tanda negatif atau sifat distributif bisa mengubah arah pertidaksamaan secara total. Dari sini, kita bisa melompat ke interpretasi geometris di bidang Kartesius dan melihat bagaimana ekspresi aljabar itu berubah menjadi garis lurus yang membagi bidang menjadi daerah “benar” dan “salah”.

Mengurai Lapisan Makna Pertidaksamaan Linear dalam Konteks Numerik

0″ title=”Persamaan Dan Pertidaksamaan Linear Satu Variabel” />

Source: cilacapklik.com

Pertidaksamaan linear, pada hakikatnya, adalah pernyataan tentang hubungan ketidaksamaan antara dua ekspresi aljabar. Berbeda dengan persamaan yang mencari titik temu yang pasti, pertidaksamaan justru membuka pintu ke sebuah dunia kemungkinan yang tak terhingga. Filosofi dasarnya terletak pada konsep “rentang” atau “wilayah”. Tanda ‘lebih besar dari’ (>) bukan sekadar simbol; ia adalah pemetaan yang mengidentifikasi semua nilai variabel yang membuat pernyataan itu benar.

Bayangkan Anda mengatakan, “Saya membutuhkan air dengan suhu lebih dari 0 derajat Celsius untuk mencairkan es.” Pernyataan ini tidak mendikte satu suhu tertentu, melainkan seluruh spektrum suhu dari 0,0001°C hingga tak terhingga. Begitulah pertidaksamaan bekerja dalam matematika: ia mendefinisikan sebuah himpunan solusi, sebuah kontinum nilai yang memenuhi syarat.

Dalam konteks numerik, menyelesaikan pertidaksamaan seperti 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 berarti kita sedang mengupas lapisan-lapisan operasi aljabar untuk menemukan inti ketidaksamaan yang paling sederhana. Proses penyederhanaan—mendistribusikan, menggabungkan suku sejenis—pada dasarnya adalah upaya untuk mengisolasi variabel x dari pengaruh konstanta dan koefisien lainnya. Tujuannya adalah untuk mengungkap dengan jelas batas-batas wilayah di mana x boleh berdiam. Setiap langkah manipulasi aljabar harus mempertahankan kebenaran hubungan ketidaksamaan awal, yang menjadi prinsip krusial yang membedakannya dari manipulasi persamaan biasa.

Langkah-Langkah Sistematis Penyelesaian, Solusi pertidaksamaan 2(2x‑3)+2(3‑x)>0

Mari kita telusuri proses penyelesaian 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 dengan metodis. Tabel berikut merinci setiap langkah, transformasi yang terjadi, serta logika di baliknya.

Langkah Proses Aljabar Transformasi Ekspresi Penjelasan Logis
1. Distribusi 2(2x) + 2(-3) + 2(3) + 2(-x) 4x – 6 + 6 – 2x > 0 Menerapkan sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan untuk membuka kurung. Setiap suku di dalam kurung dikalikan dengan faktor di luar.
2. Menggabungkan Suku Konstanta 4x – 2x + (-6 + 6) 2x + 0 > 0 Mengelompokkan dan menjumlahkan suku-suku konstanta. Hasil -6 + 6 adalah 0, yang menghilangkan elemen konstanta dari pertidaksamaan.
3. Menggabungkan Suku Variabel (4x – 2x) 2x > 0 Mengelompokkan dan mengurangi koefisien suku-suku variabel x. Ini menyederhanakan ekspresi menjadi bentuk paling dasar.
4. Mengisolasi Variabel (2x)/2 > 0/2 x > 0 Membagi kedua ruas dengan bilangan positif 2. Operasi ini tidak mengubah arah tanda pertidaksamaan, sehingga diperoleh solusi akhir.

Kesalahan konsep yang paling sering terjadi adalah ketidakkonsistenan dalam menangani perkalian atau pembagian dengan bilangan negatif. Saat menyederhanakan bentuk seperti ini, banyak yang lupa bahwa membagi atau mengalikan kedua ruas pertidaksamaan dengan bilangan negatif mengharuskan pembalikan arah tanda ‘>’ menjadi ‘<'. Dalam soal kita, pembagian dengan +2 tidak membalik tanda. Kesalahan lain adalah menggabungkan suku secara ceroboh sebelum mendistribusikan, misalnya langsung mengurangkan (2x-3) dengan (3-x) di dalam kurung, yang merupakan prosedur yang tidak valid. Untuk menghindarinya, selalu kerjakan operasi distribusi terlebih dahulu, lalu kelompokkan suku sejenis dengan teliti.

Visualisasi solusi x > 0 pada garis bilangan adalah sebuah sinar yang dimulai dari titik 0 dan memanjang tak terhingga ke arah kanan. Titik kritisnya adalah x =
0. Titik ini sendiri bukan bagian dari solusi karena pertidaksamaan kita strictly greater than (>), bukan greater than or equal to (≥). Oleh karena itu, pada titik 0 kita menggambarkan sebuah lingkaran kecil yang terbuka atau tidak terisi.

BACA JUGA  Soal Pilihan Ganda Matematika Pecahan Hewan dan Perbandingan

Seluruh wilayah di sebelah kanan titik 0, yang mewakili semua bilangan real lebih besar dari nol, diarsir atau diberi garis panah yang mengarah ke kanan. Gambaran ini dengan elegan merepresentasikan infinitas solusi: setiap bilangan, baik bulat, pecahan, atau irasional, asalkan positif, akan memenuhi pertidaksamaan awal kita.

Transformasi Geometri dari Ekspresi Aljabar ke Dalam Bidang Kartesius

Setiap ekspresi aljabar linear dapat ditransformasikan menjadi sebuah garis lurus dalam bidang Kartesius. Pertidaksamaan kita, 2(2x‑3)+2(3‑x)>0, setelah disederhanakan menjadi 2x > 0, dapat dikaitkan dengan fungsi linear y = 2x. Hubungannya menjadi sangat jelas: pertidaksamaan awal menanyakan, “Untuk nilai x mana, nilai dari ekspresi 2(2x‑3)+2(3‑x) bernilai lebih dari nol?” Dalam dunia grafik, ini sama dengan bertanya, “Untuk nilai x mana, kurva y = 2(2x‑3)+2(3‑x) berada di atas sumbu x (dimana y > 0)?”

Fungsi y = 2(2x‑3)+2(3‑x) disederhanakan juga menjadi y = 2x. Ini adalah garis lurus yang melalui titik asal (0,0) dengan kemiringan 2. Sumbu x, dimana y = 0, berperan sebagai garis pembatas atau “boundary”. Titik potong garis y = 2x dengan sumbu x adalah di x=0. Wilayah solusi dari pertidaksamaan kita (y > 0) secara geometris adalah seluruh titik-titik pada bidang Kartesius yang terletak di atas garis y=2x?

Tunggu, perlu kehati-hatian. Karena fungsi kita adalah y = 2x, maka kondisi y > 0 secara langsung berarti 2x > 0, atau x > 0. Jadi, daerah penyelesaiannya adalah seluruh titik yang koordinat x-nya positif, terlepas dari nilai y-nya? Tidak tepat. Daerah penyelesaian pertidaksamaan adalah himpunan titik (x, y) yang memenuhi y = 2x DAN sekaligus y > 0.

Karena y selalu sama dengan 2x, maka daerahnya adalah bagian dari garis y=2x itu sendiri di mana x > 0. Namun, interpretasi yang lebih umum untuk pertidaksamaan linear satu variabel seperti ini adalah dengan memandangnya sebagai kondisi pada sumbu x. Visualisasi garis bilangan lebih tepat. Untuk konteks grafik, kita bisa bicara tentang proyeksi solusi ke sumbu x.

Analisis Titik dan Interpretasi Grafik

Tabel berikut membandingkan beberapa nilai x pilihan, menghitung nilai y, dan menginterpretasikannya terhadap pertidaksamaan.

Nilai x pilihan Nilai y = 2x Posisi relatif terhadap sumbu x Interpretasi terhadap 2x > 0
x = -2 y = -4 Titik (-2, -4) di bawah sumbu x 2(-2) = -4 > 0? Salah. x = -2 BUKAN solusi.
x = 0 y = 0 Titik (0, 0) tepat pada sumbu x 2(0) = 0 > 0? Salah. x = 0 BUKAN solusi (titik kritis).
x = 1 y = 2 Titik (1, 2) di atas sumbu x 2(1) = 2 > 0? Benar. x = 1 ADALAH solusi.
x = 0.5 y = 1 Titik (0.5, 1) di atas sumbu x 2(0.5) = 1 > 0? Benar. x = 0.5 ADALAH solusi.

Prosedur menentukan daerah himpunan penyelesaian dengan uji titik sangat straightforward setelah kita memiliki garis batas y = 2x. Karena garis batasnya melalui titik (0,0) dan membagi bidang, kita bisa memilih satu titik uji yang tidak berada tepat di garis batas, misalnya x = 1 (yang menghasilkan titik (1,2)). Titik ini memenuhi pertidaksamaan (2 > 0). Karena pertidaksamaan kita linear dan garisnya lurus, maka seluruh wilayah di “sisi” yang sama dengan titik uji tersebut akan menjadi daerah penyelesaian.

Dalam konteks satu variabel, ini mengonfirmasi bahwa semua x > 0 adalah solusi.

Pemilihan titik uji tidak boleh sembarangan, meskipun prinsipnya bebas. Titik (0,0) adalah titik batas yang seringkali menjadi pilihan paling mudah untuk diuji, tetapi dalam kasus ini justru berada di garis batas sehingga tidak bisa dipakai sebagai penentu daerah. Pilihlah titik yang perhitungannya sederhana, seperti x=1 atau x=-1, dan pastikan titik tersebut tidak memenuhi persamaan garis batas. Keandalan metode ini bergantung pada pemilihan titik uji yang jelas berada di salah satu sisi garis batas.

Kemiringan garis y = 2x adalah 2. Kemiringan yang positif ini menunjukkan garis naik dari kiri ke kanan. Pengaruhnya terhadap “luas” daerah penyelesaian dalam konteks pertidaksamaan satu variabel (x > 0) sebenarnya tidak bervariasi. Daerah solusi tetap adalah semua x positif, terlepas dari apakah kemiringannya 2, 10, atau 0.5. Namun, jika kita membayangkan pertidaksamaan asli sebelum disederhanakan, kemiringan memengaruhi seberapa “cepat” nilai ekspresi tersebut menjadi positif setelah melewati titik kritis x=0.

Garis dengan kemiringan lebih curam (angka lebih besar) akan memberikan nilai y yang lebih besar untuk x > 0 yang sama, menegaskan kepositifannya, tetapi tidak mengubah himpunan solusi dasarnya.

Aplikasi Praktis Nilai Mutlak dalam Verifikasi Solusi Pertidaksamaan

Konsep nilai mutlak, yang secara geometris diartikan sebagai jarak suatu bilangan dari titik nol pada garis bilangan, memiliki kaitan erat dengan pemahaman solusi pertidaksamaan kita, x > 0. Solusi ini dapat dibaca sebagai “himpunan semua bilangan yang jaraknya dari nol adalah positif dan berada di sebelah kanan nol”. Nilai mutlak |x| sendiri merepresentasikan jarak tanpa memandang arah. Pertidaksamaan x > 0 secara implisit membatasi kita hanya pada bilangan-bilangan di mana x sama dengan |x| (karena bilangan positif nilai mutlaknya adalah dirinya sendiri).

BACA JUGA  Pilih Rumus Fungsi Linear yang Tepat Panduan Lengkapnya

Verifikasi solusi dengan substitusi langsung adalah bentuk paling dasar dari pembuktian. Dalam konteks ini, nilai mutlak tidak secara eksplisit muncul dalam manipulasi aljabar, tetapi filosofi tentang “jarak dari titik kritis” dapat memperkaya pemahaman. Titik kritis x=0 berperan sebagai titik pembatas. Kita menguji wilayah di sekitarnya: wilayah x < 0, titik x = 0 itu sendiri, dan wilayah x > 0. Tabel berikut menunjukkan verifikasi ini baik pada bentuk awal yang lebih kompleks maupun bentuk sederhana.

Nilai x (Wilayah) Substitusi ke 2(2x-3)+2(3-x) Substitusi ke 2x Status 2(2x-3)+2(3-x) > 0
x = -1 (x < 0) 2(2(-1)-3)+2(3-(-1)) = 2(-2-3)+2(4) = 2(-5)+8 = -2 2*(-1) = -2 Salah (-2 > 0? Tidak)
x = 0 (titik kritis) 2(0-3)+2(3-0) = 2(-3)+2(3) = -6+6 = 0 2*0 = 0 Salah (0 > 0? Tidak)
x = 2 (x > 0) 2(4-3)+2(3-2) = 2(1)+2(1) = 2+2=4 2*2 = 4 Benar (4 > 0? Ya)

Pertidaksamaan linear sederhana seperti x > 0 mengajarkan kita tentang ketelitian dan batasan dalam pengukuran ilmiah. Dalam dunia nyata, “lebih besar dari nol” sering kali berarti “melebihi suatu ambang batas (threshold) pengukuran”. Misalnya, dalam kimia analitik, konsentrasi suatu zat harus lebih besar dari nol untuk terdeteksi, tetapi alat memiliki Limit of Detection (LoD). Pernyataan x > 0 secara matematis murni, tetapi dalam aplikasi, mungkin perlu ditulis sebagai x > LoD, di mana LoD adalah sebuah bilangan positif kecil yang merepresentasikan batas ketelitian instrumentasi. Ini memperkenalkan konsep toleransi dan signifikansi praktis dari sebuah solusi matematis.

Nah, soal matematika seperti menyelesaikan pertidaksamaan 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 itu melatih logika sistematis. Kemampuan analitis serupa juga dibutuhkan saat kita mencoba Menentukan siapa yang menikah dengan Fadil berdasarkan kriteria usia dan pekerjaan , di mana kita mengevaluasi syarat-syarat tertentu. Pada akhirnya, baik dalam matematika maupun teka-teki logika, yang kita cari adalah himpunan penyelesaian atau jawaban yang paling tepat dan memenuhi semua kondisi yang diberikan.

Teknik verifikasi solusi tidak berhenti pada bilangan bulat. Untuk meyakinkan diri bahwa seluruh interval x > 0 adalah solusi, kita dapat menguji bilangan pecahan atau desimal yang mewakili interior himpunan (seperti x = 0.001, x = 1/3) dan memastikan hasilnya positif. Menguji bilangan yang sangat dekat dengan titik kritis dari arah positif, seperti x = 0.0001, juga memperkuat pemahaman bahwa batas 0 tidak termasuk.

Sebaliknya, menguji bilangan dari eksterior solusi seperti x = -0.0001 akan menghasilkan nilai negatif yang sangat kecil, tetap mengonfirmasi bahwa ia bukan solusi.

Dekonstruksi Logika Simbolik dan Implikasi dalam Penyelesaian Pertidaksamaan

Di balik setiap langkah aljabar yang tampaknya mekanis dalam menyelesaikan 2(2x‑3)+2(3‑x)>0, tersembunyi rangkaian operasi logika yang ketat. Setiap transformasi bukanlah manipulasi simbol belaka, melainkan penerapan hukum logika yang memastikan implikasi dua arah: jika pernyataan awal benar, maka pernyataan setelah transformasi juga benar, dan sebaliknya. Ini penting agar himpunan solusi yang kita peroleh di akhir benar-benar setara dengan himpunan solusi masalah awal, tidak ada yang hilang atau tertambah.

Proses penyelesaian dapat dipetakan ke dalam hukum logika dan sifat aljabar. Mari kita dekonstruksi:

  • Distribusi: Langkah ini didasarkan pada hukum distributif dari aritmetika (a(b+c) = ab + ac), yang merupakan tautologi (pernyataan yang selalu benar). Mengganti 2(2x-3) dengan 4x-6 adalah aplikasi langsung dari hukum ini, sehingga kebenaran pertidaksamaan tetap terjaga.
  • Pengelompokan dan Penjumlahan: Menggabungkan suku sejenis (-6 + 6 menjadi 0) menggunakan sifat asosiatif dan komutatif penjumlahan, serta sifat invers penjumlahan (a + (-a) = 0). Ini adalah penyederhanaan ekspresi tanpa mengubah nilai logisnya.
  • Pembagian dengan Bilangan Positif: Ini adalah aksioma atau sifat fundamental pertidaksamaan: Jika a > b dan c > 0, maka a/c > b/c. Sifat inilah yang membedakan kritis dari penyelesaian persamaan. Karena kita membagi dengan 2 (positif), arah tanda ‘>’ tidak berbalik, sehingga implikasi logika dari 2x > 0 ke x > 0 adalah valid dan reversibel.

Ilustrasi bagan alir logika dimulai dari pertidaksamaan awal sebagai premis. Setiap kotak proses berisi transformasi aljabar yang didukung oleh hukum logika tertentu (Distributif, Asosiatif, Invers Penjumlahan, Sifat Pembagian Pertidaksamaan). Alur tersebut bergerak linear, karena setiap langkah menghasilkan pernyataan yang setara, hingga mencapai konklusi final: x > 0. Bagan ini menegaskan bahwa tidak ada jalan buntu atau asumsi tambahan; ini adalah deduksi murni dari premis yang diberikan.

Perbedaan mendasar antara logika penyelesaian persamaan dan pertidaksamaan terletak pada operasi perkalian/pembagian dengan bilangan negatif dan pengkuadratan. Pada persamaan, jika a = b, maka a*c = b*c untuk semua c real. Pada pertidaksamaan, jika a > b, maka a*c > b*c hanya jika c > 0. Jika c < 0, hubungannya berbalik menjadi a*c < b*c. Kegagalan menjaga logika ini—dengan tidak membalik tanda saat mengalikan/dengan negatif—adalah kesalahan logika yang menyebabkan himpunan solusi menjadi salah. Intinya, penyelesaian pertidaksamaan bukan hanya tentang mencari nilai, tapi tentang mempertahankan kebenaran hubungan urutan (order relation) sepanjang proses manipulasi.

Interkoneksi antara Koefisien Variabel dan Interpretasi Ekonomi Sederhana

Penyederhanaan dari 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 menjadi 2x > 0 bukan hanya permainan aljabar. Dalam lensa ekonomi mikro yang disederhanakan, ia dapat merefleksikan model laba atau titik impas. Bayangkan sebuah usaha kecil. Misalkan: ‘2’ adalah harga jual per unit, ‘(2x-3)’ dan ‘(3-x)’ bisa diinterpretasikan sebagai dua komponen produksi atau penjualan dengan struktur biaya berbeda. Konstanta negatif (-3 dan +3) mewakili biaya tetap atau modal awal.

BACA JUGA  Budaya politik nilai keyakinan sikap dan emosi tentang pemerintahan

Setelah didistribusikan dan disederhanakan, semua biaya tetap saling meniadakan (-6 + 6 = 0), menyisakan 2x > 0. Ini secara metaforis menunjukkan bahwa setelah semua biaya tetap tertutup, laba (yang dimodelkan oleh ekspresi) hanya bergantung pada jumlah unit yang dijual (x) dikali margin kontribusi positif (koefisien 2).

Interpretasi ini menjadi jelas ketika kita memodifikasi koefisien. Perubahan angka-angka dalam pertidaksamaan awal akan mengubah titik impas dan margin.

Skenario Koefisien Dimodifikasi Bentuk Pertidaksamaan Baru (Setelah Disederhanakan) Solusi Interpretasi Ekonomi Metaforis
Biaya tetap lebih besar: 2(2x-5)+2(3-x)>0 2x – 4 > 0 -> x > 2 x > 2 Perusahaan perlu menjual lebih dari 2 unit untuk mulai untung karena biaya tetapnya lebih tinggi.
Harga jual/margin turun: 1(2x-3)+2(3-x)>0 (2x-3)+(6-2x) > 0 -> 3 > 0 Selalu benar (x ∈ R) Setelah disederhanakan, variabel x hilang. Artinya, berapapun jumlah unit yang dijual, perusahaan selalu untung (karena konstanta positif 3). Model mungkin tidak realistis.
Margin negatif: -1(2x-3)+2(3-x)>0 (-2x+3)+(6-2x) > 0 -> -4x + 9 > 0 -> x < 9/4 x < 2.25 Salah satu produk memiliki margin negatif. Perusahaan hanya untung jika menjual di bawah 2.25 unit, yang aneh dalam konteks produksi. Mungkin ini model kerugian yang dibatasi.

Titik potong sumbu x pada grafik fungsi y = 2(2x‑3)+2(3‑x) atau y = 2x, yaitu di x=0, dalam model ekonomi ini merepresentasikan titik impas yang sangat spesifik: titik di mana pendapatan tepat sama dengan biaya, sehingga laba nol. Karena solusi kita x > 0, berarti perusahaan mencapai laba positif tepat setelah melewati titik impas tersebut, untuk setiap unit tambahan yang dijual.

Prosedur merancang model cerita kata sederhana bisa seperti ini: Seorang penjual kue membeli bahan untuk satu kue seharga Rp3.000 (biaya variabel). Dia juga menyewa stan dengan biaya tetap Rp6.
000. Harga jual per kue adalah Rp5.
000.

Jika kita misalkan x adalah jumlah kue yang terjual, maka total biaya adalah Biaya Variabel + Biaya Tetap = 3000x +
6000. Pendapatan adalah 5000x. Agar mendapat laba, Pendapatan > Biaya, jadi 5000x > 3000x +
6000. Sederhanakan menjadi 2000x > 6000, lalu x >
3. Ini analog dengan struktur logika pertidaksamaan kita, di mana setelah disederhanakan menjadi bentuk dasar (koefisien*x > konstanta), kita dapat menentukan minimum unit produksi (x > 3) untuk mencapai laba positif.

Penutupan: Solusi Pertidaksamaan 2(2x‑3)+2(3‑x)>0

Jadi, setelah mengurai semua langkah, dari penyederhanaan aljabar hingga interpretasi grafis dan logis, solusi dari 2(2x‑3)+2(3‑x)>0 ternyata membawa kita pada kesimpulan yang elegan dan kuat: x > 0. Ini lebih dari sekadar jawaban akhir; ini adalah pintu gerbang. Memahami prosesnya memberi kita kerangka untuk menyelesaikan masalah yang lebih kompleks, mengajarkan ketelitian logis, dan bahkan membuka mata untuk melihat bagaimana matematika murni bisa menjadi model metafora untuk dinamika sederhana dalam ekonomi atau pengambilan keputusan.

Intinya, menguasai satu pertidaksamaan berarti membekali diri dengan alat untuk menganalisis berbagai batasan dalam dunia yang penuh dengan ketidaksamaan.

Kumpulan FAQ

Apakah solusi x > 0 berarti semua bilangan positif termasuk pecahan kecil seperti 0,001 adalah solusi?

Ya, benar sekali. Solusi x > 0 mencakup semua bilangan real yang lebih besar dari nol, termasuk pecahan dan bilangan irasional sekalipun, seperti 1/2, 0.001, atau √2. Hanya angka 0 dan semua bilangan negatif yang bukan merupakan solusi.

Mengapa dalam pertidaksamaan, ketika kedua sisi dikali atau dibagi bilangan negatif, tanda pertidaksamaan harus dibalik?

Ini berkaitan dengan urutan bilangan pada garis bilangan. Mengalikan dengan bilangan negatif membalik posisi relatif dua bilangan. Misalnya, 2 < 3 adalah benar, tetapi jika dikali (-1) menjadi -2 > -3. Untuk mempertahankan kebenaran hubungan awal, tanda pertidaksamaan harus dibalik.

Bagaimana jika pertidaksamaan awal memiliki tanda “≥” (lebih besar atau sama dengan) bukan “>”?

Proses penyederhanaannya akan sama persis. Perbedaannya hanya pada himpunan penyelesaian akhir. Jika tanda aslinya “≥”, maka solusinya adalah x ≥ 0. Artinya, angka 0 ikut termasuk dalam solusi, dan pada garis bilangan, titik nol akan diarsir penuh (bukan lingkaran kosong).

Apakah metode penyelesaian ini bisa diterapkan untuk pertidaksamaan dengan bentuk yang lebih rumit, misalnya yang melibatkan kuadrat atau pecahan?

Prinsip dasarnya sama: menyederhanakan dan mengisolasi variabel. Namun, untuk pertidaksamaan kuadrat, pecahan, atau nilai mutlak, ada teknik dan langkah-langkah tambahan yang perlu diperhatikan, seperti mencari titik kritis dari setiap faktor dan menguji interval. Logika dasar tentang tanda dan himpunan penyelesaian tetap menjadi fondasinya.

Leave a Comment