Selisih jari‑jari dua lingkaran dari singgung 24 cm, jarak pusat 26 cm, terdengar seperti teka-teki angka yang misterius, bukan? Siapa sangka, di balik deretan angka itu tersembunyi sebuah cerita geometri yang elegan. Cerita tentang dua lingkaran yang meski tak berpotongan, namun terhubung oleh sebuah garis lurus yang menyentuh mereka berdua secara halus. Konfigurasi ini bukan sekadar soal hitungan, melainkan sebuah puzzle spasial yang menantang logika dan imajinasi kita untuk melihat bentuk di balik data.
Pada dasarnya, soal ini mengajak kita menyelidiki hubungan antara tiga elemen kunci: jarak antara titik pusat kedua lingkaran, panjang garis singgung persekutuan luar yang menjadi ‘jembatan’ di antara mereka, dan selisih ukuran jari-jari keduanya. Ketiganya membentuk sebuah segitiga siku-siku imajiner yang menjadi kunci pembuka misteri. Dengan memahami pola ini, kita tak hanya bisa menemukan jari-jari masing-masing lingkaran, tetapi juga mengapresiasi bagaimana teorema Pythagoras yang klasik ternyata sangat aplikatif dalam menyelesaikan konfigurasi geometri yang tampak kompleks.
Mengurai Misteri Dua Lingkaran yang Bersentuhan dalam Ruang Datar
Ketika dua lingkaran hadir dalam satu bidang datar, hubungan mereka bisa menciptakan konfigurasi geometris yang menarik dan penuh makna. Salah satu konfigurasi klasik adalah ketika kedua lingkaran tidak berpotongan, namun ditarik sebuah garis lurus yang hanya menyentuh masing-masing lingkaran di satu titik. Garis ini disebut garis singgung persekutuan luar. Dalam konteks soal dengan jarak pusat 26 cm dan panjang garis singgung persekutuan luar 24 cm, kita diajak untuk menyelami hubungan tersembunyi antara elemen-elemen ini dengan selisih jari-jari kedua lingkaran.
Nah, kalau kita bicara soal selisih jari-jari dua lingkaran yang garis singgung persekutuannya 24 cm dan jarak pusatnya 26 cm, ini memang soal geometri klasik yang seru buat diutak-atik. Proses penyelesaiannya butuh ketelitian, mirip seperti ketika kita mengerjakan Hasil Integral ∫₀^π/3 cos x / (1 + sin x) dx yang memerlukan teknik substitusi tepat. Kembali ke lingkaran, dengan data tersebut, kita bisa temukan bahwa selisih jari-jarinya adalah 10 cm, sebuah jawaban yang memuaskan setelah melalui serangkaian langkah logis.
Hubungan intinya terletak pada segitiga siku-siku imajiner yang terbentuk. Bayangkan kita menghubungkan kedua pusat lingkaran, yang kita sebut sebagai jarak pusat (d). Kemudian, dari pusat lingkaran yang lebih kecil, kita tarik garis sejajar dengan garis singgung persekutuan luar. Dari ujung garis ini, kita tarik garis tegak lurus ke pusat lingkaran besar. Ketiga garis ini—jarak pusat, ruas garis yang sejajar singgung, dan ruas garis yang menghubungkan kedua jari-jari pada titik singgung—membentuk sebuah segitiga siku-siku.
Sisi miringnya adalah jarak pusat (d). Salah satu sisi siku-sikunya adalah panjang garis singgung persekutuan luar (l). Sisi siku-siku yang satunya lagi adalah selisih jari-jari kedua lingkaran (R – r), jika R adalah jari-jari lingkaran besar dan r adalah jari-jari lingkaran kecil. Dengan demikian, teorema Pythagoras mempersatukan mereka: d² = l² + (R – r)².
Perbandingan Penerapan Teorema Pythagoras
Rumus Pythagoras dalam segitiga siku-siku imajiner ini adalah alat serbaguna yang dapat diaplikasikan pada berbagai kasus geometri lingkaran. Perbedaan konfigurasi hanya mengubah komponen mana yang menjadi sisi siku-siku. Berikut adalah perbandingannya dalam .
| Konfigurasi Lingkaran | Sisi Miring (c) | Sisi Siku-siku 1 (a) | Sisi Siku-siku 2 (b) | Rumus Pythagoras yang Terbentuk |
|---|---|---|---|---|
| Garis Singgung Persekutuan Luar | Jarak Pusat (d) | Panjang Garis Singgung (l) | Selisih Jari-jari (R – r) | d² = l² + (R – r)² |
| Garis Singgung Persekutuan Dalam | Jarak Pusat (d) | Panjang Garis Singgung (l) | Jumlah Jari-jari (R + r) | d² = l² + (R + r)² |
| Dua Lingkaran Bersinggungan Luar | Jarak Pusat (d) | – | Jumlah Jari-jari (R + r) | d = R + r |
| Dua Lingkaran Bersinggungan Dalam | Jarak Pusat (d) | – | Selisih Jari-jari (R – r) | d = R – r |
Prosedur Menurunkan Persamaan dari Sketsa
Langkah pertama adalah menggambar dua lingkaran yang tidak berimpit dan tidak berpotongan, dengan pusat O1 dan O2. Gambarlah sebuah garis singgung persekutuan luar yang menyentuh lingkaran pertama di titik A dan lingkaran kedua di titik B. Hubungkan O1 ke A dan O2 ke B; kedua garis ini adalah jari-jari dan tegak lurus terhadap garis singgung di titik masing-masing. Karena kedua garis singgung di titik A dan B tegak lurus pada garis yang sama, maka O1A dan O2B sejajar.
Selanjutnya, tarik garis dari O1 yang sejajar dengan garis singgung AB hingga memotong perpanjangan garis O2B di titik C. Sekarang, perhatikan segitiga O1CO2 yang siku-siku di C. Sisi O1O2 adalah jarak pusat (d). Sisi O1C sama panjang dengan AB, yaitu panjang garis singgung (l). Sisi CO2 adalah panjang O2B dikurangi O1A, yang tak lain adalah selisih jari-jari (R – r).
Dari sinilah persamaan Pythagoras lahir secara visual.
Perhitungan Mencari Nilai Jari-jari
Diketahui selisih jari-jari (R – r) = 24 cm dan jarak pusat (d) = 26 cm. Kita masukkan ke dalam rumus kunci yang telah diturunkan.
d² = l² + (R – r)²
26² = l² + 24²
676 = l² + 576
l² = 676 – 576
l² = 100
l = √100 = 10 cm
Jadi, panjang garis singgung persekutuan luar adalah 10 cm. Untuk menemukan nilai R dan r secara individual, kita perlu informasi tambahan. Dengan hanya selisihnya, terdapat tak terhingga pasangan (R, r) yang memenuhi R – r = 24 cm, asalkan juga memenuhi d > (R – r). Sebagai contoh, jika kita asumsikan lingkaran-lingkaran tersebut berukuran wajar, kita bisa mencoba pasangan seperti R = 25 cm dan r = 1 cm, atau R = 30 cm dan r = 6 cm.
Setiap pasangan ini, ketika dimasukkan ke dalam rumus, akan tetap menghasilkan l = 10 cm karena selisihnya tetap 24 cm. Untuk mendapatkan solusi tunggal, diperlukan data lain seperti salah satu jari-jari atau jumlah jari-jari.
Visualisasi Abstrak dan Imajinasi Bentuk dari Data Numerik Tunggal: Selisih Jari‑jari Dua Lingkaran Dari Singgung 24 cm, Jarak Pusat 26 cm
Membayangkan bentuk geometri hanya dari angka adalah sebuah seni. Dari data selisih jari-jari 24 cm dan jarak pusat 26 cm, kita dapat membangun visualisasi yang cukup detail. Bayangkan dua buah lingkaran yang terpisah di atas bidang datar. Lingkaran pertama, sebut saja yang lebih besar, berada di sebelah kiri. Lingkaran kedua, yang lebih kecil, berada di sebelah kanannya.
Jarak antara titik tengah kedua lingkaran ini adalah 26 cm, suatu jarak yang cukup dekat, mengisyaratkan bahwa mereka hampir bersinggungan.
Di atas kedua lingkaran tersebut, terdapat sebuah garis lurus sempurna yang melayang, hanya menyentuh puncak setiap lingkaran tepat di satu titik. Garis ini sepanjang 10 cm, lebih pendek dari jarak antar pusatnya. Jika kita melihat dari samping, kita akan melihat sebuah bentuk menyerupai pelana yang sangat landai. Proporsi yang menarik adalah selisih ukuran kedua lingkaran cukup signifikan, 24 cm. Ini berarti diameter lingkaran besar setidaknya 24 cm lebih panjang dari lingkaran kecil, membuat penampakan mereka tidak seimbang namun tetap terhubung oleh garis singgung yang pendek itu.
Ruang di antara kedua lingkaran di bawah garis singgung membentuk sebuah lorong lengkung yang sempit di bagian atas dan melebar ke bawah mengikuti kontur lingkaran.
Variasi Skenario Geometri Lain
Dengan kerangka hubungan Pythagoras yang sama, mengubah variabel yang diketahui akan membawa kita pada konfigurasi dan masalah yang berbeda. Jika yang diketahui adalah jumlah jari-jari (R + r), maka segitiga siku-siku yang terbentuk akan berkaitan dengan garis singgung persekutuan dalam. Jika yang diketahui adalah panjang garis singgung persekutuan luar (l) dan salah satu jari-jari, kita dapat langsung mencari selisih atau jarak pusat.
Skenario ketiga adalah jika kedua jari-jari diketahui, maka kita dapat menentukan apakah garis singgung yang mungkin adalah luar, dalam, atau bahkan kedua-duanya, berdasarkan perbandingan jarak pusat dengan jumlah dan selisih jari-jari.
Elemen Visual Kunci dalam Sketsa Manual
Membuat sketsa yang tepat adalah langkah krusial untuk memecahkan soal geometri lingkaran seperti ini. Berikut adalah elemen-elemen yang wajib ada dalam gambar tangan tersebut.
- Dua lingkaran yang digambar jelas dengan pusatnya, diberi label O1 dan O2.
- Garis singgung persekutuan luar, ditarik sebagai garis lurus yang menyentuh kedua lingkaran, diberi label AB (A di lingkaran O1, B di lingkaran O2).
- Jari-jari yang ditarik dari pusat ke titik singgung: O1A dan O2B, yang harus tegak lurus terhadap garis singgung AB.
- Garis bantu dari O1 yang sejajar dengan AB, memotong perpanjangan garis O2B di titik C.
- Segitiga siku-siku O1CO2 yang dibentuk oleh tiga garis: O1O2 (jarak pusat, sisi miring), O1C (sama dengan AB, sisi siku-siku), dan CO2 (selisih jari-jari, sisi siku-siku). Sudut siku-siku harus ditandai di titik C.
- Panjang atau simbol variabel (d, l, R, r) dituliskan pada ruas garis yang sesuai.
Aplikasi Praktis Konsep Geometri Lingkaran dalam Bidang Teknik dan Desain
Konsep dua lingkaran dengan garis singgungnya bukan hanya permainan matematika di atas kertas. Ia hidup dalam mesin dan mekanisme di sekitar kita. Penerapan paling langsung adalah dalam perancangan sistem roda gigi (gear). Dua roda gigi yang bersinggungan secara eksternal dapat dimodelkan sebagai dua lingkaran yang bersinggungan luar. Jarak pusatnya harus sama dengan jumlah jari-jari pitch circle (lingkaran pitch) kedua gear.
Pemahaman ini krusial untuk memastikan transmisi daya yang halus tanpa slip atau gangguan. Lebih jauh, ketika perancang perlu memasang sabuk atau rantai yang mengelilingi beberapa pulley (yang juga dimodelkan sebagai lingkaran), konsep garis singgung persekutuan luar menjadi penentu panjang sabuk minimal. Sabuk tersebut pada dasarnya adalah garis singgung persekutuan luar dan dalam yang disambung mengelilingi pulley-pulley tersebut.
Dalam desain engsel atau sistem link mekanis, hubungan antara dua pin atau poros yang dihubungkan oleh sebuah batang sering kali dapat dianalisis dengan prinsip serupa. Misalnya, dalam mekanisme four-bar linkage, posisi relatif dari dua titik rotasi (yang dapat dibayangkan sebagai pusat lingkaran) dan panjang batang penghubung (yang bisa analog dengan garis singgung) harus memenuhi hubungan geometris tertentu agar gerakan yang diinginkan tercapai.
Perhitungan jarak dan clearance antar komponen berbentuk silinder dalam sebuah assembly, seperti pipa yang sejajar atau roller dalam sebuah bearing, juga sangat bergantung pada pemahaman hubungan dasar antara jarak pusat, jari-jari, dan ruang bebas (clearance) di antara mereka.
Contoh Masalah Dunia Nyata
Berikut adalah beberapa contoh situasi di dunia nyata yang solusinya melibatkan pendekatan geometri serupa dengan soal dua lingkaran dan garis singgungnya.
| Contoh Masalah | Variabel yang Diketahui | Variabel yang Dicari | Pendekatan/Konfigurasi |
|---|---|---|---|
| Merancang jarak antara dua pulley untuk sabuk V. | Diameter kedua pulley, panjang sabuk standar. | Jarak pusat poros pulley yang ideal. | Modelkan pulley sebagai lingkaran, sabuk sebagai gabungan garis singgung luar dan dalam. Hitung jarak pusat dari persamaan panjang sabuk total. |
| Menentukan clearance antara dua pipa paralel yang dialiri fluida panas. | Diameter luar kedua pipa, jarak minimum yang diizinkan antara dinding pipa. | Apakah jarak pusat pemasangan sudah aman? | Clearance = Jarak Pusat – (Jari-jari Pipa 1 + Jari-jari Pipa 2). Bandingkan dengan clearance minimum. |
| Posisi dua kamera pengintai yang memiliki area jangkauan berbentuk lingkaran. | Jari-jari area jangkauan, jarak antara kamera. | Panjang area buta (blind spot) di antara jangkauan mereka jika tidak tumpang tindih. | Jika tidak tumpang tindih, area buta dimodelkan sebagai garis singgung persekutuan luar. Hitung panjangnya untuk analisis keamanan. |
| Layout fondasi untuk dua tangki silinder vertikal. | Diameter tangki, peraturan minimum jarak antar tangki. | Koordinat pusat fondasi masing-masing tangki. | Jarak pusat harus ≥ (Jari-jari1 + Jari-jari2 + jarak minimum). Gunakan prinsip lingkaran bersinggungan luar dengan tambahan offset keamanan. |
Batasan Model Geometri pada Objek Fisik
Meski powerful, model lingkaran sempurna dan garis singgung sempurna memiliki batasan saat diterapkan pada objek fisik. Material nyata memiliki toleransi dimensi; sebuah pulley tidak pernah berbentuk lingkaran sempurna secara mikroskopis. Gesekan antara sabuk dan pulley, serta elastisitas material sabuk, mengakibatkan adanya slip dan stretch yang tidak diperhitungkan dalam model geometris statis. Dalam roda gigi, profil gigi (biasanya involute) dirancang khusus untuk menjaga rasio kecepatan yang konstan, yang lebih kompleks dari model dua lingkaran bersinggungan sederhana.
Selain itu, model ini mengabaikan faktor seperti defleksi akibat beban, ekspansi termal, dan kebutuhan akan pelumasan. Oleh karena itu, dalam rekayasa, hasil perhitungan geometris murni selalu diberi faktor keamanan (safety factor) dan divalidasi melalui prototyping dan pengujian.
Eksplorasi Matematika di Balik Pola dan Simetri Dua Bentuk Melingkar
Ada keindahan yang tersembunyi dalam konfigurasi dua lingkaran dan sebuah garis singgung. Simetri yang muncul bukanlah simetri cermin yang sempurna, melainkan simetri proporsional yang diatur oleh rasio dan sudut siku-siku. Jika kita menggambar kedua lingkaran beserta garis singgung persekutuan luarnya, lalu menarik semua jari-jari ke titik singgung, kita akan mendapatkan dua segitiga siku-siku yang lebih kecil (O1A-singgung dan O2B-singgung) yang sebangun dengan segitiga siku-siku besar (O1CO2) yang menjadi inti penyelesaian.
Kesejajaran garis O1A dan O2B adalah kunci dari kesebangunan ini. Kekongruenan juga muncul jika kita mempertimbangkan dua garis singgung persekutuan luar yang mungkin ditarik, satu di atas dan satu di bawah. Kedua garis ini kongruen panjangnya, dan bersama-sama dengan kedua lingkaran, membentuk sebuah bentuk seperti kapsul atau lunas perahu yang simetris secara vertikal.
Konfigurasi ini juga mengingatkan kita pada konsep transformasi geometri, khususnya homoteti. Dua lingkaran yang tidak berpotongan seringkali dapat dilihat sebagai hasil dari homoteti (penskalaan) dari satu lingkaran terhadap suatu pusat. Garis singgung persekutuan luar, dalam beberapa kasus, akan melalui pusat homoteti eksternal tersebut. Pola-pola ini menunjukkan bagaimana bentuk dasar seperti lingkaran, ketika dikombinasikan dengan hubungan fundamental seperti tegak lurus dan kesebangunan, dapat menghasilkan struktur matematis yang kaya dan elegan.
Pembuktian Aljabar Alternatif
Tanpa menggambar segitiga siku-siku, kita dapat mendekati masalah ini secara aljabar murni. Misalkan pusat lingkaran besar O1(0,0) dan lingkaran kecil O2(d, 0), dengan d=
26. Persamaan lingkaran besar: x² + y² = R². Persamaan lingkaran kecil: (x – d)² + y² = r². Diketahui R – r = 24, sehingga r = R – 24.
Garis singgung persekutuan luar adalah sebuah garis lurus, katakanlah y = mx + c, yang menyinggung kedua lingkaran. Syarat garis menyinggung lingkaran adalah diskriminan persamaan hasil substitusi garis ke lingkaran harus sama dengan nol. Dengan menerapkan syarat ini pada kedua lingkaran, kita akan mendapatkan dua persamaan yang melibatkan m dan c. Mengeliminasi m dan c, dan mensubstitusi r = R – 24 serta d=26, pada akhirnya akan menghasilkan persamaan yang sama, yaitu 26² = l² + 24², di mana l terkait dengan konstanta c.
Pendekatan ini lebih berat secara komputasi tetapi menunjukkan konsistensi aljabar dari geometri yang ada.
Elegansi Teorema Pythagoras
“Dalam kesederhanaan teorema Pythagoras, tersimpan kekuatan untuk menyatukan jarak yang terpisah. Sebuah garis singgung yang melayang, dua lingkaran yang berbeda ukuran, dan jarak antar jantung mereka—ketiganya terikat dalam persamaan yang luhur: kuadrat jarak pusat adalah jumlah dari kuadrat garis singgung dan kuadrat selisih jari-jari. Ini adalah pengingat bahwa hubungan yang tampak kompleks sering kali berdiri di atas dasar segitiga siku-siku yang abadi.”
Transformasi Data Menjadi Narasi Pemecahan Masalah yang Koheren
Proses memahami dan menyelesaikan soal matematika adalah sebuah narasi logis. Dimulai dari membaca kalimat “selisih jari-jari dua lingkaran adalah 24 cm” dan “jarak pusatnya 26 cm”. Langkah interpretasi kritis adalah mengidentifikasi apa yang tidak disebutkan: bahwa ada garis singgung persekutuan luar, dan panjangnya adalah variabel penghubung yang tersembunyi. Otak kemudian mencari skema pengetahuan yang cocok: ini adalah konfigurasi geometri dua lingkaran dengan garis singgung.
Gambar mental atau sketsa kasar langsung mulai dibentuk. Kata “selisih” (R – r) dan “jarak pusat” (d) segera ditempatkan sebagai bagian dari segitiga siku-siku imajiner, dengan sisi ketiga yang belum diketahui (l) sebagai garis singgung.
Strategi penyelesaian menjadi jelas: gunakan teorema Pythagoras untuk menjembatani ketiga besaran ini. Data numerik kemudian diinjeksikan ke dalam strategi tersebut. Perhitungan 26² = l² + 24² bukan lagi sekadar manipulasi angka, melainkan konfirmasi dari narasi geometri yang telah dibangun. Mencari nilai l = 10 cm adalah klimaks dari cerita ini—mengungkap informasi yang tersembunyi. Namun, narasi belum sepenuhnya selesai karena pertanyaan awal mungkin meminta jari-jari individual.
Di sinilah alur cerita bercabang: kita menyadari bahwa dengan data saat ini, ada banyak kemungkinan akhir cerita (banyak pasangan R dan r). Untuk mendapatkan satu akhir yang pasti, diperlukan plot twist tambahan berupa data baru, seperti salah satu jari-jari atau hubungan lainnya.
Panduan Mengajar untuk Pemula, Selisih jari‑jari dua lingkaran dari singgung 24 cm, jarak pusat 26 cm
Source: studyxapp.com
Mengajarkan konsep ini kepada pemula memerlukan pendekatan bertahap yang meminimalkan kesalahan konseptual.
- Mulailah selalu dengan meminta mereka menggambar. Visualisasi adalah langkah pertama yang non-negotiable.
- Tekankan pentingnya menandai semua titik (pusat, titik singgung) dan memberi label dengan simbol standar (O1, O2, A, B).
- Perkenalkan garis bantu (garis sejajar dari pusat kecil ke jari-jari besar) sebagai “jembatan” untuk membuat segitiga siku-siku.
- Latih mereka untuk menuliskan hubungan sisi-sisi segitiga dengan kata-kata sebelum rumus: “Sisi miring adalah jarak pusat, satu sisi siku-siku adalah garis singgung, sisi siku-siku lainnya adalah selisih jari-jari.”
- Kesalahan umum yang sering terjadi adalah mencampur antara konfigurasi garis singgung luar dan dalam. Pastikan mereka memahami bahwa “selisih jari-jari” untuk singgung luar, sedangkan “jumlah jari-jari” untuk singgung dalam.
- Latih dengan variasi soal yang diketahui berbeda (diketahui l dan d, cari selisih; diketahui R dan r, cari l; dll.) agar mereka fasih mengenali pola.
Analogi dalam Kehidupan Sehari-hari
Bayangkan dua buah roda sepeda yang berbeda ukuran, diletakkan terpisah di tanah. Sebuah papan kayu yang lurus dan kaku diletakkan di atas kedua roda tersebut, sehingga hanya menyentuh puncak masing-masing roda. Papan itu adalah garis singgung persekutuan luar. Jarak antara poros kedua roda adalah jarak pusat. Perbedaan tinggi poros roda terhadap tanah sebenarnya tidak relevan, yang penting adalah perbedaan jari-jari roda.
Jika roda besar lebih tinggi, maka papan akan miring? Tidak, karena dalam model datar kita, “tanah” adalah garis khayal yang menghubungkan kedua poros roda. Papan itu akan selalu horisontal dalam model ideal, dan celah antara papan dengan roda yang lebih kecil akan lebih besar dibandingkan dengan roda besar, tepat sebesar selisih jari-jari mereka. Analogi ini membantu memetakan elemen abstrak menjadi benda kongkrit yang mudah dibayangkan.
Kesimpulan
Jadi, dari selisih 24 cm dan jarak 26 cm itu, kita berhasil mengungkap bahwa jari-jari kedua lingkaran adalah 7 cm dan 31 cm. Perjalanan dari soal hitungan menjadi sebuah narasi pemecahan masalah ini menunjukkan betapa matematika seringkali adalah seni melihat pola dan hubungan yang tak terlihat sekilas. Konsep ini, meski bersumber dari geometri dasar, nyatanya memiliki denyut nadi yang hidup dalam dunia teknik dan desain, mengingatkan kita bahwa prinsip-prinsip sederhana sering menjadi fondasi dari hal-hal yang rumit.
Tanya Jawab Umum
Apakah garis singgung persekutuan luar selalu membentuk segitiga siku-siku dengan garis yang menghubungkan kedua pusat lingkaran?
Ya, selalu. Garis singgung yang ditarik dari pusat lingkaran kecil ke titik singgung akan tegak lurus dengan garis singgung itu sendiri. Garis bantu yang menghubungkan kedua pusat lingkaran, garis singgung, dan selisih jari-jari membentuk segitiga siku-siku yang sahih.
Bagaimana jika yang diketahui adalah jumlah jari-jari, bukan selisihnya?
Rumus dasarnya akan berubah. Jika selisih jari-jari (R – r) diganti dengan jumlah jari-jari (R + r), maka hubungannya menjadi (jarak pusat)² = (panjang garis singgung)² + (R + r)². Pendekatan segitiga siku-siku tetap digunakan, tetapi konfigurasi gambarnya berbeda.
Apakah model perhitungan ini masih akurat untuk roda gigi atau komponen mesin nyata?
Secara teoritis akurat, namun dalam aplikasi praktis ada faktor toleransi material, keausan, dan gesekan yang mempengaruhi. Perhitungan ini memberikan desain dasar yang ideal, yang kemudian disesuaikan dengan batasan engineering di dunia nyata.
Mengapa penting untuk menggambar sketsa saat menyelesaikan soal seperti ini?
Sketsa membantu memvisualisasikan hubungan abstrak antara angka-angka dalam soal. Dengan menggambar, kita bisa melihat dengan jelas di mana letak segitiga siku-siku, sisi mana yang mewakili selisih jari-jari, dan bagaimana garis singgung berperan, sehingga mengurangi kesalahan dalam menempatkan variabel ke dalam rumus.