Methods used by England, France, and Spain monarchs to centralize power Strategi Raja Eropa Abad 16-17

Methods used by England, France, and Spain monarchs to centralize power bukan sekadar teori sejarah yang membosankan, melainkan sebuah drama politik besar-besaran yang mengubah peta kekuasaan Eropa selamanya. Bayangkan, para raja dan ratu di abad 16-17 itu seperti CEO dari startup kerajaan yang lagi galak-galaknya melakukan merger dan akuisisi, tapi yang diakuisisi adalah kekuasaan para bangsawan feodal yang sudah turun-temurun.

Mereka punya satu misi utama: memusatkan segala kendali ke tangan mereka, menciptakan negara yang lebih solid, dan tentu saja, mengamankan tahta untuk keturunan mereka. Ini adalah era di ketika istana bukan hanya tempat tinggal, melainkan mesin propaganda; ketika hukum dan agama menjadi alat legitimasi; dan ketika perang serta ekonomi diatur langsung dari pusat.

Melalui pendekatan yang berbeda-beda namun dengan tujuan yang serupa, monarki Inggris, Prancis, dan Spanyol merancang strategi yang cerdik dan seringkali tanpa kompromi. Henry VII dan Henry VIII di Inggris merombak sistem hukum dan administrasi untuk menjinakkan para bangsawan. Louis XIV dari Prancis dengan gemilang mempersonifikasikan negara dalam dirinya di Versailles, sambil mengirim para intendant untuk mengawasi provinsi. Sementara itu, Ferdinand dan Isabella di Spanyol menggunakan agama—melalui Inkuisisi—dan kekayaan dari Dunia Baru untuk menyatukan kerajaan-kerajaan Iberia yang beragam.

Masing-masing menghadapi tantangannya sendiri, dari parlemen yang kritis hingga pemberontakan daerah, tetapi jejak langkah mereka dalam membentuk negara modern masih terasa hingga kini.

Konsep Sentralisasi Kekuasaan Monarki di Eropa Abad 16-17: Methods Used By England, France, And Spain Monarchs To Centralize Power

Pada abad ke-16 dan 17, peta politik Eropa mengalami perubahan besar yang ditandai dengan munculnya negara-negara bangsa yang kuat dan terpusat. Monarki di Inggris, Prancis, dan Spanyol, meski dengan konteks dan tantangan yang berbeda, sama-sama berusaha mengonsolidasikan kekuasaan mereka, menggeser sistem feodal lama yang terfragmentasi. Tujuannya jelas: menciptakan pemerintahan yang stabil, efisien, dan loyal sepenuhnya kepada mahkota, serta mampu membiayai birokrasi dan tentara permanen untuk menghadapi ancaman internal maupun eksternal.

Latar belakang masing-masing kerajaan ini unik. Inggris baru saja keluar dari perang saudara yang panjang (Perang Mawar), sehingga fokusnya pada penciptaan stabilitas internal. Prancis, dengan wilayah yang luas dan bangsawan provinsi yang sangat kuat, harus berjuang keras untuk menundukkan mereka. Sementara Spanyol, yang baru saja menyelesaikan Reconquista dan menemukan dunia baru, dihadapkan pada tantangan mengintegrasikan berbagai kerajaan (seperti Castile dan Aragon) serta mengelola kekayaan kolonial yang luar biasa.

Tabel berikut memberikan gambaran awal perbandingan ketiganya.

Negara Periode Puncak Tantangan Utama Sasaran Sentralisasi
Inggris Dinasti Tudor (1485-1603) Pasca Perang Mawar, kekuatan bangsawan feodal yang otonom, ancaman dari luar. Stabilitas internal, supremasi hukum kerajaan, kontrol atas gereja.
Prancis Pemerintahan Louis XIV (1643-1715) Kekuatan besar bangsawan dan provinsi, perang agama (Huguenot). Personifikasi negara dalam raja, kontrol absolut atas administrasi, militer, dan budaya.
Spanyol Monarki Katolik & Habsburg Awal (1479-1665) Integrasi kerajaan-kerajaan Iberia yang berbeda, mengelola imperium global, menjaga kemurnian agama. Kesatuan agama (Katolik), administrasi kerajaan yang terstandarisasi, aliran kekayaan dari koloni.

Konsolidasi Kekuasaan Politik dan Administratif

Untuk mewujudkan negara yang terpusat, langkah pertama dan terpenting adalah merebut kendali administratif dari tangan bangsawan feodal yang selama ini bertindak seperti penguasa kecil di wilayahnya. Ketiga monarki ini mengembangkan instrumen kebijakan yang cerdik dan terkadang keras untuk mencapai tujuan tersebut.

Strategi Administratif Dinasti Tudor di Inggris

Henry VII, raja pertama Tudor, memulai dengan pendekatan yang sistematis. Ia membentuk Court of Star Chamber, sebuah pengadilan khusus yang bertugas mengadili bangsawan kuat yang dianggap mengganggu ketertiban umum. Pengadilan ini terkenal cepat dan seringkali berat sebelah mendukung mahkota, sehingga efektif menakuti para bangsawan. Selain itu, Henry VII sangat ketat dalam menegakkan hukum terhadap pemeliharaan tentara pribadi, praktik yang biasa dilakukan bangsawan untuk menunjukkan kekuatan.

BACA JUGA  Pengertian Dwigatra Dua Pilar Utama Dalam Sistem

Putranya, Henry VIII, melangkah lebih jauh dengan memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik Roma melalui Undang-Undang Supremasi 1534. Dengan menjadikan dirinya kepala Gereja Inggris, ia tidak hanya mendapatkan kekayaan besar dari penyitaan properti biara, tetapi juga menempatkan institusi keagamaan yang sangat berpengaruh di bawah kendali langsung mahkota.

Sistem Intendant Louis XIV di Prancis

Louis XIV, Sang Raja Matahari, menyempurnakan alat sentralisasi melalui sistem intendant. Ia mengangkat para intendant, yang biasanya berasal dari kalangan bangsawan rendahan atau borjuis kaya yang sepenuhnya bergantung pada raja, untuk dikirim ke setiap provinsi. Tugas mereka sangat luas dan langsung melemahkan otoritas bangsawan lokal. Berikut adalah langkah-langkah kunci yang mereka lakukan:

  • Mengawasi pemungutan pajak (taille) untuk memastikan aliran dana lancar ke kas kerajaan, bukan ke kantong bangsawan.
  • Merekrut tentara untuk angkatan bersenjata kerajaan, mengurangi ketergantungan pada pasukan yang disediakan bangsawan feodal.
  • Menjadi hakim utama dalam peradilan, menggeser peran pengadilan-pengadilan feodal.
  • Mengawasi pekerjaan umum dan ketertiban umum, menjadi perpanjangan tangan raja di segala urusan.

Standardisasi Pemerintahan Monarki Katolik Spanyol

Ferdinand dan Isabella memulai proses integrasi dengan menaklukkan kerajaan Granada yang Muslim, tetapi upaya mereka lebih dari sekadar penaklukan militer. Mereka mendirikan Dewan Kerajaan ( Consejo Real) yang lebih teratur dan mengangkat pejabat kerajaan ( corregidores) untuk mengawasi kota-kota, mengurangi otonomi pemerintah kota. Penerus mereka, terutama Charles V dan Philip II, mengembangkan sistem dewan ( Consejos) yang terspesialisasi untuk menangani wilayah berbeda (seperti Dewan Hindia) atau masalah khusus.

Ini menciptakan birokrasi sentral yang kompleks di Madrid, yang bertujuan untuk menerapkan kebijakan yang seragam di seluruh kerajaan Spanyol yang sangat luas dan beragam, dari Eropa hingga Amerika.

Negara Monarki/Penguasa Instrumen Kebijakan Efek pada Kekuasaan Feodal
Inggris Henry VII & Henry VIII Court of Star Chamber, Pembubaran Biara-Biara, Penegakan Hukum terhadap Tentara Pribadi. Melemahkan kekuatan hukum dan militer bangsawan, mentransfer kekayaan gereja ke mahkota.
Prancis Louis XIV Sistem Intendant, Pengadilan Kerajaan di Versailles. Menggantikan peran administratif dan yudisial bangsawan lokal dengan birokrat kerajaan yang loyal.
Spanyol Ferdinand, Isabella, & Habsburg Dewan Kerajaan (Consejos), Pejabat Kerajaan (Corregidores), Inkuisisi. Menggeser pusat pengambilan keputusan ke istana kerajaan, menstandardisasi administrasi di wilayah-wilayah yang berbeda.

Penguatan Kekuasaan Ekonomi dan Keuangan Kerajaan

Kekuasaan politik yang absolut mustahil dipertahankan tanpa dukungan finansial yang kuat. Monarki-monarki ini memahami bahwa untuk membiayai tentara permanen, birokrasi yang berkembang, dan proyek-proyek megah mereka, mereka perlu menguasai perekonomian. Filosofi merkantilisme menjadi panduan utama: kekayaan negara diukur dari cadangan logam mulia, dan perdagangan harus dikontrol ketat untuk memastikan ekspor lebih besar daripada impor.

Merkantilisme Inggris dan Prancis

Inggris menerapkan kebijakan seperti Navigation Acts yang mewajibkan barang dari koloni hanya diangkut oleh kapal Inggris, memastikan keuntungan bagi pedagang dan pelaut lokal sekaligus meningkatkan pendapatan bea cukai kerajaan. Perusahaan-perusahaan dagang berpiagam kerajaan, seperti East India Company, diberi monopoli perdagangan dengan wilayah tertentu, dengan imbalan sebagian keuntungan dan pinjaman kepada mahkota. Prancis di bawah Louis XIV dan menteri keuangannya, Colbert, menjalankan Colbertisme—versi Prancis dari merkantilisme.

Colbert mendirikan manufaktur kerajaan, memberikan subsidi kepada industri dalam negeri, dan memberlakukan tarif tinggi untuk barang impor. Tujuannya adalah membuat Prancis mandiri dan menjadi pengekspor utama, sehingga emas dan perak mengalir ke kas kerajaan.

Kebijakan Fiskal dan Monopoli Kerajaan Spanyol

Spanyol memiliki sumber kekayaan yang spektakuler: Dunia Baru. Monarki Spanyol memberlakukan monopoli ketat atas perdagangan kolonial melalui sistem flota (armada) dan pelabuhan tunggal seperti Sevilla. Semua emas dan perak dari tambang Potosí dan Zacatecas secara teoritis seperlimanya ( el quinto real) menjadi hak mahkota. Namun, efektivitas kebijakan fiskal Spanyol justru sering dipertanyakan. Kekayaan yang melimpah ini malah menyebabkan inflasi parah di Spanyol, sementara industri dalam negeri terbengkalai karena lebih mudah mengimpor barang dari Eropa lain.

Selain itu, beban pajak yang berat untuk membiayai perang-perang di Eropa seringkali menimbulkan perlawanan di wilayah seperti Catalunya dan Belanda.

Perbandingan Efektivitas Kebijakan Fiskal

Dari segi efektivitas, Inggris dan Prancis, meski dengan kesulitan sendiri, berhasil membangun basis ekonomi yang lebih berkelanjutan untuk mendukung sentralisasi. Kebijakan mereka mendorong industri dan perdagangan dalam negeri. Sementara Spanyol, meski secara nominal paling kaya, justru mengalami kesulitan mengubah aliran logam mulia menjadi kekuatan ekonomi yang stabil. Kekayaannya banyak habis untuk membiayai perang dan konsumsi, bukan investasi produktif, sehingga pada akhirnya justru melemahkan posisi jangka panjang kerajaan meski awalnya terlihat sangat perkasa.

BACA JUGA  Pengaruh Bentang Pegunungan pada Kehidupan Manusia Bentuk Ekosistem hingga Budaya

Penegakan Kekuasaan melalui Hukum, Militer, dan Agama

Setelah menguasai administrasi dan perbendaharaan, monarki perlu alat penegak untuk memastikan kepatuhan. Alat-alat itu adalah hukum yang bersifat memaksa, militer yang loyal, dan ideologi (seringkali agama) yang mempersatukan. Kombinasi ketiganya menciptakan negara yang tidak hanya kuat, tetapi juga memiliki legitimasi di mata rakyatnya.

Reformasi Hukum dan Pengadilan Tudor, Methods used by England, France, and Spain monarchs to centralize power

Dinasti Tudor secara cerdik menggunakan hukum sebagai alat sentralisasi. Selain Court of Star Chamber, mereka memperkuat pengadilan-pengadilan prerogatif kerajaan lainnya. Mereka juga sering memanfaatkan Parlemen untuk mengesahkan undang-undang yang memperkuat posisi mereka, menciptakan kesan bahwa kebijakan raja didukung oleh “suara negara”. Dengan demikian, penentangan terhadap raja tidak lagi hanya dianggap sebagai pembangkangan politik, tetapi pelanggaran hukum yang dapat diadili oleh lembaga-lembaga kerajaan.

Militer Permanen dan Teater Kekuasaan Louis XIV

Louis XIV memahami bahwa angkatan bersenjata permanen ( standing army) adalah penangkal utama bagi pemberontakan bangsawan maupun invasi asing. Ia membangun tentara profesional yang besar, dilatih secara terstandar, dan loyal kepada negara (yang adalah dirinya), bukan kepada komandan feodal mereka. Selain itu, Versailles bukan sekadar istana mewah. Ia adalah mesin politik dan militer yang canggih. Dengan memaksa bangsawan tinggal di sana, Louis XIV mengalihkan mereka dari basis kekuatan di provinsi, mengubah mereka dari penguasa militer menjadi pesaing dalam ritual istana untuk mendapatkan perhatian raja.

Istana itu sendiri, dengan tata letak kamar tidur raja yang menjadi pusat dari segala aktivitas, adalah representasi fisik dari negara yang terpusat mutlak.

Inkuisisi dan Kesucian Darah di Spanyol

Methods used by England, France, and Spain monarchs to centralize power

Source: havefunwithhistory.com

Di Spanyol, agama menjadi alat pemersatu dan pemurnian yang paling ampuh. Inkuisisi Spanyol, yang secara teknis bertanggung jawab kepada mahkota dan bukan Paus, digunakan tidak hanya untuk menindas bidah, tetapi juga untuk memantau dan menindas kelompok yang dianggap tidak loyal, termasuk conversos (orang Yahudi yang berpindah agama) yang dicurigai masih mempraktikkan keyakinan lama. Konsep limpieza de sangre (kesucian darah) menjadi persyaratan sosial untuk menduduki jabatan penting, menciptakan hierarki berdasarkan kemurnian agama dan etnis.

Kebijakan ini memastikan bahwa elit yang memerintah adalah Katolik “murni” yang loyal kepada mahkota, sekaligus menciptakan identitas nasional Spanyol yang erat dengan Katolik ortodoks.

“L’État, c’est moi” (Negara adalah saya). Pernyataan yang sering dikaitkan dengan Louis XIV ini, meski mungkin apokrif, secara sempurna menangkap esensi sentralisasi absolut. Ia menyatakan bahwa tidak ada pemisahan antara institusi negara dan pribadi sang raja. Kedaulatan, hukum, dan administrasi semuanya berpusat dan terwujud dalam satu orang, menghilangkan ruang bagi otoritas perantara mana pun.

Representasi Visual dan Simbolik Kekuasaan

Pada era di dimana komunikasi massa belum ada, citra visual adalah alat propaganda yang sangat kuat. Monarki-monarki ini dengan cermat mengelola citra mereka melalui seni, arsitektur, dan ritual untuk memproyeksikan kekuasaan, kemewahan, dan legitimasi ilahi kepada rakyatnya yang sebagian besar buta huruf.

Ikonografi Kekuasaan Monarki Tudor

Portret Raja Henry VIII yang dilukis oleh Hans Holbein the Younger adalah contoh masterful. Henry digambarkan berdiri dengan pose yang kokoh, kaki terbuka lebar, mengenakan pakaian mewah yang menonjolkan bahunya yang lebar, dan langsung menatap penonton dengan mata yang tajam. Lukisan ini bukan sekadar gambar diri; ini adalah pernyataan kekuasaan yang terlihat. Ia menyampaikan kekuatan, kekayaan, dan kewenangan yang tak terbantahkan.

Selain itu, penggunaan lambang mawar Tudor (gabungan mawar Lancaster dan York) pada segala hal, mulai dari arsitektur hingga dokumen resmi, adalah simbol berkelanjutan yang mengingatkan semua orang tentang perdamaian dan persatuan yang dibawa dinasti ini setelah perang saudara.

Seni dan Ritual di Versailles sebagai Alat Kontrol

Versailles adalah total work of art yang dirancang untuk memuliakan Louis XIV. Setiap aspek istana dan tamannya mengandung pesan simbolis. Lukisan dinding, patung, dan air mancur sering menggambarkan Louis sebagai Apollo (Dewa Matahari), menegaskan perannya sebagai pusat alam semesta Prancis. Ritual harian seperti lever (kebangkitan) dan coucher (peniduran) raja diangkat menjadi upacara publik yang rumit, di mana bangsawan bersaing untuk mendapatkan kehormatan membantu raja mengenakan baju atau menyampaikan lilin.

Ritual ini secara harfiah menjadikan tubuh raja sebagai pusat negara, dan partisipasi di dalamnya adalah bentuk pengakuan terhadap hierarki absolut yang ia ciptakan.

Simbol Kekuasaan Spanyol di Koloni

Di wilayah kolonial Spanyol di Amerika, simbol-simbol kekuasaan digunakan untuk menegaskan dominasi dan mengubah lanskap budaya. Pendirian kota-kota dengan pola grid yang teratur di sekitar plaza mayor (alun-alun utama), di mana gereja dan balai kota berdiri, adalah penegasan ulang tatanan Eropa dan kekuasaan kerajaan atas tanah yang “liar”. Koin perak yang dicetak dengan gambar raja Spanyol dan lambang kerajaan, seperti yang berasal dari Potosí, menjadi alat propaganda yang beredar di seluruh dunia, menyebarkan citra kekayaan dan kekuasaan Spanyol.

BACA JUGA  Instruksi yang tepat apa ya dan cara membuatnya efektif

Bahkan seni keagamaan di gereja-gereja kolonial sering menyertakan simbol kerajaan, menyatukan kekuasaan ilahi dan kekuasaan duniawi mahkota Spanyol dalam imajinasi penduduk jajahan.

Hambatan dan Konflik dalam Proses Sentralisasi

Jalan menuju negara terpusat tidak pernah mulus. Setiap langkah yang diambil oleh mahkota untuk memperkuat cengkeramannya hampir selalu menimbulkan perlawanan dari kelompok-kelompok yang merasa hak tradisionalnya terancam. Konflik-konflik ini, meski sering keras, justru membentuk karakter dan batas-batas dari sentralisasi itu sendiri.

Oposisi Parlemen dan Perang Saudara di Inggris

Di Inggris, upaya sentralisasi oleh Stuart (penerus Tudor) yang ingin memerintah secara absolut tanpa Parlemen akhirnya menemui jalan buntu. Parlemen, yang mewakili kepentingan bangsawan tanah dan kelas menengah yang berkembang, bersikeras pada hak-hak tradisionalnya, terutama dalam hal persetujuan pajak. Ketegangan ini memuncak dalam Perang Saudara Inggris (1642-1651) yang berakhir dengan eksekusi Raja Charles I. Meski monarki kemudian dipulihkan, konflik ini menghasilkan Revolusi Agung 1688 yang menegaskan prinsip supremasi parlemen dan membatasi kekuasaan raja secara konstitusional.

Sentralisasi di Inggris akhirnya harus berbagi dengan lembaga perwakilan.

Pemberontakan Fronde di Prancis dan Separatisme di Spanyol

Prancis menghadapi pemberontakan besar bangsawan dan parlemen regional yang dikenal sebagai Fronde (1648-1653) pada masa kecil Louis XIV. Pengalaman pahit ini sangat membentuk pandangan Louis dewasa, meyakinkannya bahwa hanya kekuasaan mutlak yang dapat mencegah kekacauan. Kemenangannya atas Fronde memungkinkannya untuk kemudian memberlakukan sistem absolutisme tanpa tanding. Di Spanyol, upaya sentralisasi oleh Count-Duke of Olivares untuk menyeragamkan pajak dan kewajiban militer di semua kerajaan (kebijakan Union of Arms) justru memicu pemberontakan besar di Catalunya (1640-1659) dan Portugal (1640, yang berakhir dengan kemerdekaan Portugal).

Perlawanan dari kerajaan-kerajaan dengan hak tradisional ( fueros) yang kuat ini menunjukkan batas keras dari sentralisasi Spanyol dan melemahkan imperiumnya secara signifikan.

Negara Sumber Oposisi Bentuk Konflik Hasil bagi Sentralisasi
Inggris Parlemen, Bangsawan Puritan, Kelas Menengah. Perang Saudara (1642-1651), Revolusi Agung (1688). Sentralisasi akhirnya dibatasi oleh konstitusi dan supremasi parlemen; monarki konstitusional.
Prancis Bangsawan Tinggi, Parlemen Regional (terutama Paris). Pemberontakan Fronde (1648-1653). Kemenangan mutlak mahkota; memperkuat tekad Louis XIV untuk absolutisme penuh dan sistem intendant.
Spanyol Kerajaan-Kerajaan dengan Fueros (Catalunya, Portugal), Bangsawan Regional. Pemberontakan di Catalunya (1640-1659), Restorasi Kemerdekaan Portugal (1640). Melemahkan upaya sentralisasi; Spanyol terpaksa mengakui beberapa hak khusus, kehilangan Portugal selamanya.

Terakhir

Jadi, apa yang bisa kita petik dari seluruh narasi ambisi dan taktik ini? Proses sentralisasi kekuasaan oleh monarki Inggris, Prancis, dan Spanyol pada akhirnya adalah cerita tentang transisi—dari dunia feodal yang terpecah belah menentukenah bentuk awal negara bangsa yang terpusat. Meski metode mereka berbeda, mulai dari manipulasi hukum ala Tudor, teater kekuasaan ala Louis XIV, hingga pemaksaan keseragaman religius ala Spanyol, intinya sama: konsolidasi kewenangan adalah kunci untuk kelangsungan dan stabilitas.

Namun, kisah ini juga mengingatkan bahwa kekuasaan yang terpusat selalu menuai resistensi; Parlemen Inggris, pemberontakan Fronde di Prancis, dan perlawanan Catalunya di Spanyol adalah bukti bahwa jalan menuju sentralisasi penuh dengan tarik-ulur. Pada akhirnya, warisan mereka bukan hanya istana megah atau undang-undang baru, melainkan fondasi birokrasi, identitas nasional, dan konsep kedaulatan yang masih menjadi bahan kajian menarik untuk memahami politik kekuasaan di era mana pun.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Apakah sentralisasi kekuasaan ini berhasil sepenuhnya tanpa cacat?

Tidak sama sekali. Setiap monarki menghadapi hambatan besar. Di Inggris, Parlemen terus menjadi penyeimbang. Di Prancis, sistem intendant justru kadang menciptakan birokrasi yang korup. Di Spanyol, ketergantungan pada emas Dunia Baru justru merusak ekonomi domestik dalam jangka panjang.

Sentralisasi adalah proses, bukan hasil final yang sempurna.

Mengapa agama menjadi alat sentralisasi yang begitu ampuh, khususnya bagi Spanyol?

Di era tersebut, agama adalah identitas dan pemersatu sosial yang paling kuat. Dengan menggunakan Inkuisisi dan konsep “limpieza de sangre”, Monarki Katolik Spanyol menciptakan musuh bersama (non-Kristiani dan converso) sekaligus standar loyalitas tunggal kepada mahkota, yang melampaui kesetiaan feodal kepada bangsawan lokal.

Bagaimana rakyat biasa terdampak oleh kebijakan sentralisasi ini?

Hidup mereka menjadi lebih teratur namun juga lebih banyak dikontrol dan dikenai pajak. Di satu sisi, hukum kerajaan yang lebih standar bisa mengurangi kesewenang-wenangan bangsawan lokal. Di sisi lain, pajak untuk membiayai tentara tetap dan birokrasi kerajaan membebani mereka, dan kebijakan merkantilisme sering membatasi pilihan ekonomi.

Apakah ada penguasa di luar ketiga negara ini yang menggunakan metode serupa?

Ya, proses serupa terjadi di berbagai monarki Eropa lainnya, seperti di Prussia di bawah Friedrich Wilhelm I atau di Rusia di bawah Tsar Peter the Great. Mereka juga memberlakukan pajak terpusat, membangun tentara profesional, dan melemahkan bangsawan untuk memperkuat kekuasaan monarki absolut.

Manakah di antara ketiga negara tersebut yang strategi sentralisasinya paling berkelanjutan?

Secara struktural, Inggris sering dianggap memiliki fondasi yang paling berkelanjutan karena melibatkan lembaga seperti Parlemen dalam prosesnya, meski sering bertikai. Model absolutisme Prancis ala Louis XIV mencapai puncak kejayaan tetapi rapuh dan akhirnya berkontribusi pada Revolusi Prancis. Sentralisasi Spanyol sangat bergantung pada aliran emas dari koloni, sehingga rentan ketika sumber itu menipis.

Leave a Comment