Mengenal Teks Eksplanasi itu seperti mendapat kunci untuk membuka kotak misteri alam semesta dan kehidupan sehari-hari. Teks ini bukan sekadar paparan biasa, melainkan sebuah narasi ilmiah yang dirancang untuk menjawab rasa penasaran kita tentang “bagaimana” dan “mengapa” suatu peristiwa bisa terjadi. Dari proses turunnya hujan hingga alasan di balik gempa bumi, teks eksplanasi hadir sebagai penuntun yang logis dan sistematis.
Dengan struktur yang jelas terdiri dari pernyataan umum, deretan penjelas, dan interpretasi, teks ini membedah fenomena secara bertahap. Ciri khasnya terletak pada penggunaan konjungsi kausalitas seperti ‘sebab’, ‘karena’, dan ‘sehingga’ yang merajut alur sebab-akibat, serta kalimat pasif yang menempatkan fenomena sebagai subjek utama. Pemahaman terhadapnya bukan hanya soal memenuhi tugas sekolah, tetapi juga melatih kerangka berpikir analitis dan kritis dalam mencerna informasi.
Pengertian dan Ciri-Ciri Teks Eksplanasi: Mengenal Teks Eksplanasi
Dalam keseharian, kita sering bertanya “mengapa” dan “bagaimana”. Mengapa langit berwarna biru? Bagaimana pesawat yang begitu berat bisa terbang? Nah, teks eksplanasi adalah jenis tulisan yang secara khusus dibuat untuk menjawab rasa penasaran itu. Secara sederhana, teks eksplanasi adalah teks yang bertujuan menerangkan proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena, baik fenomena alam, sosial, budaya, maupun ilmiah.
Fokus utamanya bukan pada mendeskripsikan seperti apa sesuatu itu, melainkan pada menjelaskan sebab-akibat dan mekanisme di balik suatu peristiwa.
Untuk dapat dikenali, teks eksplanasi memiliki ciri khas tertentu, baik dari segi struktur maupun bahasa yang digunakannya. Ciri kebahasaan ini yang membuat penjelasannya terasa logis dan ilmiah, meski bisa disajikan dengan gaya yang mudah dicerna.
Ciri Kebahasaan dan Struktural Teks Eksplanasi, Mengenal Teks Eksplanasi
Teks eksplanasi memiliki pola bahasa yang khas. Pertama, teks ini banyak menggunakan konjungsi kausalitas, yaitu kata penghubung yang menunjukkan hubungan sebab-akibat, seperti karena, sebab, sehingga, akibatnya, dan oleh karena itu. Kedua, karena fokusnya pada proses atau fenomena, bukan pada pelaku, maka penggunaan kalimat pasif juga lebih dominan. Selain itu, teks ini seringkali dipenuhi dengan istilah-istilah teknis yang relevan dengan topik yang dibahas, misalnya “evaporasi”, “presipitasi”, atau “rotasi”.
Secara struktur, teks eksplanasi memiliki alur yang jelas dan umumnya terdiri dari tiga bagian utama: pernyataan umum tentang fenomena, deretan penjelas tentang prosesnya, dan interpretasi atau penutup. Struktur ini membedakannya dari teks deskripsi yang lebih bersifat menggambarkan atau teks prosedur yang bersifat instruksional.
| Ciri | Deskripsi | Contoh Kata | Contoh Kalimat |
|---|---|---|---|
| Konjungsi Kausalitas | Kata penghubung yang menunjukkan hubungan sebab-akibat. | Karena, sehingga, akibatnya, oleh karena itu. | Energi panas matahari sangat tinggi, sehingga air di permukaan bumi menguap. |
| Kalimat Pasif | Kalimat yang subjeknya dikenai tindakan, menekankan pada proses. | Diuapkan, dipanaskan, terbentuk, dilepaskan. | Uap air kemudian didinginkan dan berkondensasi menjadi awan. |
| Istilah Teknis | Kata-kata khusus dalam bidang ilmu tertentu. | Evaporasi, kondensasi, presipitasi, fotosintesis. | Proses penguapan air laut disebut evaporasi. |
| Verba Material | Kata kerja yang menunjukkan tindakan fisik atau peristiwa. | Menguap, bergerak, membeku, bertabrakan. | Partikel es di dalam awan saling bertabrakan dan menyatu. |
Struktur Utama Teks Eksplanasi
Agar penjelasan yang disampaikan runtut dan mudah diikuti, teks eksplanasi disusun dengan struktur yang baku. Struktur ini berfungsi seperti peta yang membimbing pembaca untuk memahami fenomena dari pengenalan umum hingga ke pemahaman yang lebih mendalam. Ketiga bagian tersebut saling mengikat dan membentuk satu kesatuan penjelasan yang utuh.
Mari kita ambil contoh fenomena alam “Terjadinya Pelangi” untuk melihat bagaimana setiap bagian struktur ini bekerja.
- Pernyataan Umum: Bagian ini merupakan pembuka yang berisi pengenalan atau pernyataan umum tentang fenomena yang akan dijelaskan. Fungsinya untuk menarik perhatian pembaca dan memberikan gambaran awal. Contoh: “Pelangi adalah fenomena optik dan meteorologi yang memancarkan spektrum warna cahaya di langit. Ia muncul sebagai busur cahaya berwarna-warni setelah hujan turun atau di sekitar air terjun.”
- Deretan Penjelas (Urutan Sebab-Akibat): Ini adalah inti dari teks eksplanasi. Bagian ini berisi penjelasan rinci dan berurutan tentang proses terjadinya fenomena tersebut, seringkali dijelaskan secara bertahap. Contoh: “Proses terbentuknya pelangi dimulai ketika cahaya matahari melewati butiran-butiran air hujan yang masih melayang di atmosfer. Cahaya putih tersebut kemudian dibiaskan atau dibelokkan saat memasuki tetesan air. Setelah dibiaskan, cahaya dipantulkan di dinding belakang tetesan, dan akhirnya dibiaskan lagi saat keluar dari tetesan.
Pembiasan ini menguraikan cahaya putih menjadi spektrum warna yang kita lihat sebagai merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.”
- Interpretasi (Opsional, tapi sering ada): Bagian ini berisi penafsiran atau kesimpulan dari penulis mengenai fenomena yang telah dijelaskan. Bisa berupa ringkasan, penekanan pentingnya fenomena, atau komentar penutup. Contoh: “Dengan demikian, pelangi bukanlah benda nyata yang dapat didekati, melainkan ilusi optik yang indah hasil interaksi sempurna antara cahaya, air, dan sudut pandang pengamat. Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana hukum fisika bekerja dalam keindahan alam.”
Langkah-Langkah Menyusun Teks Eksplanasi
Source: infokekinian.com
Menulis teks eksplanasi yang baik memerlukan perencanaan yang sistematis. Prosesnya tidak sekadar menumpahkan pengetahuan, tetapi menyusunnya menjadi narasi yang informatif dan mudah dicerna. Mulailah dari topik yang benar-benar kamu pahami atau yang ingin kamu gali lebih dalam, karena antusiasme terhadap topik akan terpancar dalam tulisan.
Setelah topik dipilih, langkah kunci adalah mengembangkan ide untuk bagian deretan penjelas. Pastikan alur penjelasan bersifat kronologis atau logis, misalnya dari sebab ke akibat, dari bagian terluar ke terdalam, atau dari proses awal hingga akhir. Penggunaan diagram alur atau mind map bisa sangat membantu untuk memvisualisasikan hubungan antar tahapan sebelum mulai menulis.
Kerangka Tulisan untuk Topik “Terjadinya Gerhana Bulan”
Berikut adalah contoh kerangka sistematis untuk topik “Terjadinya Gerhana Bulan”:
- Pernyataan Umum: Mendefinisikan gerhana bulan dan kapan fenomena ini dapat diamati.
- Deretan Penjelas (Proses):
- Kondisi awal: Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan dalam satu garis lurus (syzygy).
- Mekanisme: Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi jatuh ke permukaan Bulan.
- Jenis-jenis gerhana bulan (total, parsial, penumbra) berdasarkan bagian bayangan Bumi yang dilalui Bulan.
- Perubahan warna Bulan menjadi kemerahan (blood moon) selama gerhana total akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.
- Interpretasi: Menyimpulkan bahwa gerhana bulan adalah peristiwa astronomi yang dapat diprediksi dan menjadi bukti keteraturan sistem tata surya.
Untuk mengembangkan setiap paragraf dalam deretan penjelas, buatlah kalimat topik yang kuat dan jelas. Kalimat topik ini akan menjadi penuntun bagi kalimat-kalimat penjelas setelahnya.
Bumi, yang diterangi Matahari, akan menghasilkan dua jenis bayangan di angkasa: umbra (bayangan inti yang gelap) dan penumbra (bayangan samar).
Ketika Bulan bergerak masuk ke dalam bayangan penumbra Bumi, terjadilah gerhana bulan penumbra, di mana cahaya Bulan hanya sedikit meredup.
Warna merah tembaga pada Bulan selama gerhana total terjadi karena cahaya Matahari yang tersisa dibelokkan (dibias) oleh atmosfer Bumi ke arah Bulan.
Contoh Analisis Teks Eksplanasi Singkat
Menganalisis teks yang sudah jadi adalah cara terbaik untuk memahami penerapan teori. Mari kita kupas sebuah teks pendek tentang “Proses Terjadinya Hujan” untuk melihat struktur dan ciri kebahasaannya dalam aksi.
Teks Contoh: Hujan adalah peristiwa turunnya butiran air dari atmosfer ke permukaan Bumi. Proses ini diawali dengan penguapan air dari laut, danau, atau tumbuhan akibat pemanasan sinar matahari. Uap air tersebut kemudian naik ke atmosfer yang lebih dingin. Pada ketinggian tertentu, uap air mengalami kondensasi, yaitu berubah menjadi titik-titik air kecil yang membentuk awan. Titik-titik air dalam awan kemudian saling bertabrakan dan menyatu hingga membentuk butiran air yang berat.
Butiran air yang terlalu berat untuk ditopang oleh udara akhirnya jatuh ke Bumi sebagai hujan. Dengan demikian, hujan merupakan bagian penting dari siklus air yang menjaga keseimbangan alam.
Analisis Struktur dan Kebahasaan
| Kutipan Kalimat | Jenis Struktur | Analisis Kebahasaan | Fungsinya |
|---|---|---|---|
| “Hujan adalah peristiwa turunnya butiran air dari atmosfer ke permukaan Bumi.” | Pernyataan Umum | Menggunakan kalimat definisi yang jelas dan langsung. | Memperkenalkan fenomena yang akan dijelaskan kepada pembaca. |
| “Proses ini diawali dengan penguapan air… akibat pemanasan sinar matahari.” | Deretan Penjelas | Menggunakan konjungsi kausalitas akibat dan verba material diawali, penguapan, pemanasan. | Menjelaskan penyebab pertama dalam rantai proses. |
| “Uap air tersebut kemudian naik ke atmosfer yang lebih dingin.” | Deretan Penjelas | Menggunakan konjungsi kronologis kemudian dan istilah teknis atmosfer. | Menunjukkan tahapan berurutan setelah penguapan. |
| “Pada ketinggian tertentu, uap air mengalami kondensasi, yaitu berubah menjadi titik-titik air kecil…” | Deretan Penjelas | Menggunakan istilah teknis kondensasi dan kalimat penjelas dengan kata yaitu. | Menerangkan proses teknis dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. |
| “Dengan demikian, hujan merupakan bagian penting dari siklus air…” | Interpretasi | Menggunakan frase penanda kesimpulan Dengan demikian. | Menyimpulkan penjelasan dan menekankan makna atau pentingnya fenomena. |
Perbandingan dengan Jenis Teks Lain
Memahami perbedaan teks eksplanasi dengan jenis teks lainnya membantu kita dalam menentukan format penulisan yang tepat sesuai tujuan.
Seringkali, teks eksplanasi disalahartikan sebagai teks deskripsi atau prosedur karena sama-sama membahas suatu objek atau proses.
Perbedaan mendasar terletak pada tujuannya. Teks eksplanasi bertujuan menerangkan “mengapa” dan “bagaimana” suatu fenomena terjadi. Sementara itu, teks deskripsi bertujuan menggambarkan “seperti apa” suatu objek sehingga pembaca seolah-olah melihat atau merasakannya. Di sisi lain, teks prosedur bertujuan memberikan petunjuk “langkah-langkah” untuk melakukan atau membuat sesuatu.
- Teks Eksplanasi vs. Teks Deskripsi:
- Tujuan: Eksplanasi menjelaskan proses penyebab; Deskripsi melukiskan keadaan.
- Pola Penyajian: Eksplanasi menggunakan pola sebab-akibat/kronologis proses; Deskripsi menggunakan pola spasial (dari atas ke bawah, luar ke dalam).
- Contoh: Eksplanasi menjelaskan mengapa langit berwarna biru (hamburan Rayleigh); Deskripsi menggambarkan pemandangan langit biru yang cerah di sore hari dengan awan putih berarak.
- Teks Eksplanasi vs. Teks Prosedur:
- Tujuan: Eksplanasi memberikan pemahaman; Prosedur memberikan instruksi untuk ditiru.
- Ciri Bahasa: Eksplanasi banyak menggunakan kalimat pasif dan konjungsi kausalitas; Prosedur didominasi kalimat imperatif (perintah) dan konjungsi temporal ( pertama, lalu, setelah itu).
- Struktur: Eksplanasi memiliki struktur pernyataan umum-deretan penjelas-interpretasi; Prosedur memiliki struktur tujuan-langkah-langkah.
- Contoh: Eksplanasi menjelaskan bagaimana ragi membuat adonan roti mengembang (proses fermentasi); Prosedur menjelaskan langkah-langkah mengolah adonan roti hingga mengembang.
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Kemampuan memahami dan menulis teks eksplanasi bukan sekadar keterampilan akademis. Ia adalah fondasi dari literasi sains yang sangat dibutuhkan di era informasi seperti sekarang. Dengan literasi ini, kita tidak mudah termakan hoaks, bisa memahami berita sains dengan kritis, dan mengambil keputusan yang lebih rasional berdasarkan pemahaman proses, bukan sekadar asumsi.
Fenomena yang bisa dijelaskan dengan teks eksplanasi ada di mana-mana. Mulai dari pertanyaan sederhana seperti mengapa sendok logam terasa lebih dingin daripada sendok kayu (konduktivitas panas), bagaimana kerja vaksin di dalam tubuh (respon imun), hingga proses kompleks seperti pembentukan gunung berapi (tektonik lempeng) atau penyebab krisis ekonomi global (fenomena sosial-ekonomi).
Teks Eksplanasi dalam Artikel Majalah Sains Populer
Bayangkan kamu membaca sebuah artikel di majalah sains populer dengan judul “Misteri Migrasi Kupu-Kupu Monarch”. Artikel itu tidak hanya memuat foto-foto cantik ribuan kupu-kupu yang memenuhi pohon, tetapi juga menyajikan penjelasan mendalam. Penulis akan memaparkan bagaimana kupu-kupu yang rentan ini mampu melakukan perjalanan ribuan kilometer dari Amerika Utara ke Meksiko. Penjelasannya mencakup penggunaan medan magnet bumi sebagai kompas, navigasi dengan posisi matahari, serta peran insting yang diwariskan secara genetis meski perjalanan tersebut memerlukan beberapa generasi kupu-kupu.
Artikel semacam itu adalah teks eksplanasi yang hidup; ia mengubah keajaiban alam yang kita lihat menjadi sebuah narasi proses ilmiah yang memukau, sehingga kita bukan hanya terpana, tetapi juga paham.
Akhir Kata
Jadi, menguasai teks eksplanasi pada dasarnya adalah mengasah kemampuan untuk tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menelusuri jejak logika di balik setiap kejadian. Keterampilan ini menjadi fondasi literasi sains yang penting di era banjir informasi, di mana kita dituntut untuk memisahkan antara fakta yang dijelaskan dengan runtut dan sekadar opini. Dengan mulai berlatih menulis atau menganalisis teks eksplanasi dari fenomena sederhana di sekitar, kita secara tidak langsung sedang membangun nalar yang lebih terstruktur dan tajam dalam memandang dunia.
Panduan FAQ
Apa perbedaan paling mendasar antara teks eksplanasi dan teks laporan hasil observasi?
Teks eksplanasi fokus pada proses “mengapa” dan “bagaimana” suatu fenomena terjadi, sedangkan teks laporan hasil observasi lebih menekankan pada deskripsi fakta, ciri, atau klasifikasi dari objek yang diamati tanpa harus menjelaskan proses kausalitasnya secara mendalam.
Apakah teks eksplanasi selalu membahas fenomena alam?
Tidak selalu. Meski sering digunakan untuk fenomena alam seperti tsunami atau fotosintesis, teks eksplanasi juga dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial (seperti pengangguran), budaya (munculnya tren), atau bahkan teknis (cara kerja mesin pencari).
Bagaimana cara membedakan bagian “deretan penjelas” dengan “interpretasi” dalam struktur teks?
Deretan penjelas berisi urutan sebab-akibat yang detail dan faktual tentang proses fenomena. Sementara itu, interpretasi adalah bagian penutup yang berisi kesimpulan, pandangan, atau simpulan penulis tentang implikasi dari fenomena yang telah dijelaskan tersebut.
Apakah dalam teks eksplanasi diperbolehkan menyertakan opini pribadi?
Pada bagian inti (pernyataan umum dan deretan penjelas), teks harus bersifat objektif dan faktual. Opini atau sudut pandang penulis dapat dimasukkan secara halus pada bagian interpretasi, selama disajikan sebagai refleksi atau kesimpulan yang logis dari penjelasan sebelumnya.