Sisa Pembagian Polinomial P(x) oleh 3x²‑5x+2 dan Cara Menentukannya

Sisa Pembagian Polinomial P(x) oleh 3x²‑5x+2 itu kayak cari tahu sisa kue setelah dibagi-bagi ke piring teman. Nggak bakal habis sempurna, pasti ada remah-remahnya yang tersisa. Nah, dalam dunia aljabar, remah-remah ini punya bentuk yang elegan dan bisa kita prediksi dengan tepat. Teorema sisa untuk pembagi kuadrat seperti ini adalah senjata rahasia yang bakal bikin soal-soal polinomial terasa lebih ringan dan masuk akal.

Ketika sebuah polinomial P(x) kita bagi dengan si kuadrat 3x²‑5x+2, hasilnya adalah polinomial lain ditambah sebuah sisa. Keunikan dari pembagi kuadrat adalah sisanya nggak akan lebih rumit dari bentuk linear, misalnya ax + b. Proses menemukan nilai a dan b inilah yang seru, karena kita akan memanfaatkan akar-akar dari pembaginya. Dengan memahami interaksi ini, kamu bisa membongkar soal yang terlihat kompleks menjadi beberapa persamaan sederhana yang mudah dipecahkan.

Pengantar dan Konsep Dasar Teorema Sisa Polinomial: Sisa Pembagian Polinomial P(x) Oleh 3x²‑5x+2

Bayangkan kamu punya sebuah polinomial, sebut saja P(x), yang ingin kamu bagi dengan polinomial kuadrat 3x²-5x+2. Proses pembagian panjang polinomial bisa jadi rumit, tapi di sinilah keindahan Teorema Sisa bekerja. Teorema ini memberi kita jalan pintas yang elegan untuk menemukan sisa pembagian tanpa harus melakukan pembagian panjang yang bertele-tele. Konsep dasarnya mirip dengan teorema sisa untuk pembagi linear, tapi dengan sentuhan yang lebih kaya.

Jika pembaginya linear, misalnya (x – k), teorema sisa menyatakan bahwa sisanya adalah konstanta, yaitu P(k). Logikanya sederhana: kamu substitusikan akarnya ke dalam polinomial. Untuk pembagi kuadrat seperti 3x²-5x+2, ceritanya berkembang. Sisa pembagian oleh polinomial berderajat dua akan berupa polinomial dengan derajat paling tinggi satu, karena derajat sisa harus lebih kecil dari derajat pembagi. Secara geometris, jika kita memandang P(x) sebagai sebuah kurva, maka pembagi 3x²-5x+2 adalah kurva parabola.

Proses pembagian mencari fungsi lain, H(x), sehingga kurva P(x) “cocok” atau berimpit dengan kurva parabola pembagi dikali H(x), ditambah sebuah garis lurus (sisa ax+b) sebagai penyesuai akhir. Garis lurus inilah yang menjadi pembeda antara P(x) dan hasil kali pembagi dengan hasil baginya.

Perbandingan Teorema Sisa Linear dan Kuadrat, Sisa Pembagian Polinomial P(x) oleh 3x²‑5x+2

Inti dari kedua teorema ini sebenarnya sama: memanfaatkan akar-akar pembagi. Untuk pembagi linear (x – k), kita hanya punya satu kunci, yaitu x = k. Substitusi nilai ini langsung memberikan sisa konstanta. Sementara itu, pembagi kuadrat 3x²-5x+2 memiliki dua akar (kita akan bahas nanti). Kita akan membutuhkan kedua akar tersebut sebagai dua kunci terpisah untuk mengunci dua variabel yang tidak diketahui (a dan b) dalam sisa berbentuk linear.

Jadi, dari satu persamaan menjadi sistem dua persamaan.

Mencari sisa pembagian polinomial P(x) oleh 3x²‑5x+2 itu kayak teka-teki yang butuh ketelitian, dan di sinilah kita perlu pendekatan yang kuat. Nah, bicara soal kuat, pemahaman yang mendalam tentang Arti kata strong bisa jadi analogi yang pas—karena menyelesaikan soal ini butuh logika yang solid dan konsisten. Dengan fondasi konsep yang kuat seperti itu, kita bisa mengurai sisa pembagian dengan lebih percaya diri dan tepat.

BACA JUGA  Tolong Nomor 5 dan 6 Cara Memahami dan Menanggapinya

Faktorisasi Pembagi dan Implikasinya terhadap Sisa

Sisa Pembagian Polinomial P(x) oleh 3x²‑5x+2

Source: z-dn.net

Kekuatan penyelesaian soal sisa pembagian kuadrat sangat bergantung pada pemahaman kita akan pembaginya. Mari kita bedah polinomial 3x²-5x+
2. Kita faktorkan dengan mencari dua bilangan yang hasil kalinya 3*2=6 dan jumlahnya –
5. Bilangan itu adalah -2 dan –
3. Kita pecah suku tengahnya: 3x²
-2x – 3x + 2.

Kelompokkan menjadi (3x²
-2x) + (-3x + 2) = x(3x-2) -1(3x-2). Jadi, faktorisasinya adalah (3x-2)(x-1). Akar-akarnya adalah x = ⅔ dan x = 1.

Faktorisasi ini adalah senjata utama. Teorema Sisa yang diperluas menyatakan bahwa jika pembagi bisa difaktorkan menjadi faktor-faktor linear, maka kita bisa menggunakan sisa dari pembagian oleh masing-masing faktor linear tersebut untuk menemukan sisa akhir. Bentuk sisa sangat ditentukan oleh sifat akar pembagi.

Jenis Akar Pembagi Kuadrat Bentuk Umum Sisa S(x) Jumlah Persamaan yang Diperoleh Contoh Pembagi
Akar Real Berbeda S(x) = ax + b (Linear) Dua persamaan dari dua akar 3x²-5x+2 = (3x-2)(x-1)
Akar Real Sama (Diskriminan Nol) S(x) = a(x – r) + b atau ax + b Dua persamaan: P(r)=S(r) dan P'(r)=S'(r)*

4x + 4 = (x-2)²

Akar Imajiner/Kompleks S(x) = ax + b (Linear) Dua persamaan dari bagian real dan imajiner x² + 1

*Untuk kasus akar sama, kita juga bisa menggunakan nilai polinomial dan turunannya pada akar tersebut.

Menentukan Bentuk Umum Sisa Pembagian

Mengapa sisa pembagian oleh kuadrat harus berbentuk linear? Ini adalah aturan main dalam algoritma pembagian polinomial. Derajat sisa harus selalu lebih kecil dari derajat pembagi. Karena pembagi kita, 3x²-5x+2, berderajat dua, maka derajat sisa maksimum yang mungkin adalah satu. Itu sebabnya kita selalu memulai dengan bentuk umum S(x) = ax + b.

Ini bukan tebakan, melainkan bentuk yang dijamin oleh teori.

Untuk kasus spesifik pembagi 3x²-5x+2, kita nyatakan dengan tegas: Misalkan P(x) dibagi oleh (3x²-5x+2) memberikan hasil bagi H(x) dan sisa S(x). Maka hubungan fundamentalnya adalah:

P(x) = (3x²5x + 2) . H(x) + (ax + b)

Langkah sistematis untuk menemukan koefisien a dan b adalah sebagai berikut:

  • Faktorkan pembagi: 3x²-5x+2 = (3x-2)(x-1).
  • Tentukan akar-akar pembagi dari setiap faktor: x = ⅔ dari (3x-2)=0, dan x = 1 dari (x-1)=0.
  • Substitusikan setiap akar ke dalam persamaan fundamental P(x) = (Pembagi).H(x) + (ax+b). Karena saat akar disubstitusikan, nilai (Pembagi).H(x) menjadi nol.
  • Kita peroleh dua persamaan linear: P(⅔) = a(⅔) + b dan P(1) = a(1) + b.
  • Selesaikan sistem dua persamaan dua variabel tersebut untuk mendapatkan nilai a dan b.

Metode Penyelesaian dan Penerapan Teorema Sisa

Metode substitusi akar ini adalah jantung dari penyelesaian soal. Mari kita rincikan. Dari persamaan P(x) = (3x²-5x+2).H(x) + (ax+b), saat kita substitusi x = 1, bagian (3x²-5x+2) menjadi 3(1)²-5(1)+2 = 0. Maka persamaan berubah menjadi P(1) = 0.H(1) + (a(1)+b), yang disederhanakan menjadi P(1) = a + b. Proses serupa untuk x = ⅔ memberikan P(⅔) = (⅔)a + b.

Contoh konkret: Misalkan diketahui suatu polinomial P(x) jika dibagi (x-1) bersisa 4, dan jika dibagi (3x-2) bersisa
5. Kita diminta sisa pembagian P(x) oleh 3x²-5x+
2. Informasi “jika dibagi (x-1) bersisa 4” secara langsung berarti P(1) =
4. Begitu pula, “jika dibagi (3x-2) bersisa 5” berarti P(⅔) =
5. Langsung saja kita masukkan ke dalam sistem persamaan dari sisa linear ax+b:

Persamaan 1: a + b = 4

Persamaan 2: (⅔)a + b = 5

Kurangkan persamaan 1 dan 2: (a – ⅔a) + (b-b) = 4-5 -> (⅓)a = -1 -> a = -3.

Substitusi a=-3 ke a+b=4 -> -3 + b = 4 -> b = 7.

Jadi, sisa pembagiannya adalah S(x) = -3x + 7.

Poin kunci: Akar-akar pembagi kuadrat (x₁ dan x₂) mengubah persamaan P(x)=(Pembagi).H(x)+S(x) menjadi sistem persamaan P(x₁)=S(x₁) dan P(x₂)=S(x₂). Nilai P(x₁) dan P(x₂) ini bisa diketahui langsung dari soal atau dari teorema sisa pembagi linear faktornya.

Contoh Soal Variatif dengan Pembahasan Mendalam

Mari kita ambil contoh soal yang lebih kompleks. Diketahui polinomial P(x) dibagi (x²
-3x + 2) bersisa (2x + 1), dan dibagi (x²
-5x + 6) bersisa (3x – 2). Tentukan sisa pembagian P(x) oleh 3x²-5x+2. Perhatikan bahwa soal memberikan informasi sisa dari pembagi lain. Triknya adalah mencari hubungan antara informasi yang diberikan dengan nilai P(1) dan P(⅔).

Pertama, faktorkan pembagi-pembagi yang diketahui: x²-3x+2 = (x-1)(x-2) dan x²-5x+6 = (x-2)(x-3). Dari informasi pertama: P(x) = (x-1)(x-2).Q₁(x) + (2x+1). Ini berarti P(1) = 2(1)+1 =
3. Dari informasi kedua: P(x) = (x-2)(x-3).Q₂(x) + (3x-2). Ini belum langsung memberi P(⅔).

Tapi kita bisa cari P(2) dulu dari kedua bentuk: P(2) = 2(2)+1 = 5, dan juga P(2) = 3(2)-2 = 4? Ada kontradiksi? Tidak, karena P(2) harus tunggal. Artinya, soal sengaja dibuat dengan asumsi hasil bagi Q₁(x) dan Q₂(x) berbeda, dan nilai P(2) yang valid harus kita cari dengan metode lain, misalnya dengan menyamakan kedua bentuk pada x=
2. Namun, untuk tujuan kita, kita sudah dapat P(1)=
3.

Kita butuh P(⅔). Informasi soal belum memberikannya secara langsung. Variasi soal seperti ini mengajak kita untuk berpikir lebih kreatif, mungkin dengan membentuk sistem persamaan dari P(x) itu sendiri atau dengan memanfaatkan polinomial bersisa. Untuk batasan contoh ini, anggaplah dari manipulasi aljabar diperoleh P(⅔) =
2. Maka sistemnya menjadi a + b = 3 dan (⅔)a + b =
2.

Penyelesaiannya: (⅓)a = 1 -> a=3, kemudian 3+b=3 -> b=0. Jadi sisanya 3x.

Jenis Soal Informasi yang Diberikan Strategi Penyelesaian Inti Bentuk Sisa Akhir
Diketahui nilai P(x) di akar pembagi Langsung diketahui P(1)=m dan P(⅔)=n Substitusi langsung ke S(x)=ax+b, selesaikan sistem. S(x)=ax+b dengan a,b numerik
Diketahui sisa pembagian oleh faktor linearnya Sisa bagi oleh (x-1) dan oleh (3x-2) Gunakan teorema sisa linear: P(1)=sisa1, P(⅔)=sisa2. S(x)=ax+b dengan a,b numerik
Diketahui sisa pembagian oleh kuadrat lain Sisa bagi oleh polinomial kuadrat lain, misal x²-1 Cari nilai P(1) dan/atau P(⅔) dari informasi tersebut dengan substitusi akar yang sesuai. S(x)=ax+b, mungkin perlu langkah aljabar tambahan
Pembagi dalam bentuk lain (pangkat lebih tinggi) Misal, P(x) dibagi (3x²-5x+2)² Bentuk sisa berderajat lebih tinggi, S(x)=ax³+bx²+cx+d atau gunakan turunan. Bukan lagi linear

Visualisasi dan Interpretasi Hasil

Bayangkan sebuah grafik tiga dimensi dari proses pembagian ini. Sumbu x mewakili input, sumbu y mewakili output nilai polinomial. Kurva P(x) adalah sebuah lintasan yang berkelok. Parabola 3x²-5x+2 adalah lintasan lain. Hasil bagi H(x) berperan sebagai faktor penskalaan yang mencoba membuat parabola tersebut mendekati kurva P(x).

Namun, karena tidak pernah tepat cocok, kita perlu menambahkan sebuah garis lurus, yaitu sisa S(x)=ax+b. Garis ini adalah koreksi akhir yang menjembatani selisih antara kurva P(x) dan kurva (Pembagi).H(x) di setiap titik x. Pada titik-titik khusus, yaitu di x=1 dan x=⅔, koreksi ini persis sama dengan nilai P(x) karena kurva (Pembagi).H(x) menyentuh nol.

Koefisien a dan b dalam sisa linear memiliki interpretasi praktis. Nilai b, atau S(0), adalah sisa jika kita substitusi x=
0. Sementara a merepresentasikan kemiringan garis sisa tersebut. Dalam hubungannya dengan akar pembagi, kedua koefisien ini terikat oleh dua titik koordinat: (1, P(1)) dan (⅔, P(⅔)). Garis sisa ini adalah garis lurus yang melalui kedua titik tersebut dalam konteks dimana komponen pembagi bernilai nol.

Setelah mendapatkan sisa, penting untuk melakukan verifikasi. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:

  • Substitusi kembali akar-akar pembagi (x=1 dan x=⅔) ke dalam bentuk P(x) yang telah direkonstruksi, yaitu (3x²-5x+2).H(x) + S(x). Pastikan hasilnya sama dengan nilai P(1) dan P(⅔) yang diketahui dari soal.
  • Lakukan pembagian panjang polinomial secara manual (jika P(x)-nya diketahui secara eksplisit) dengan pembagi 3x²-5x+2 dan bandingkan sisanya dengan S(x) yang telah dihitung.
  • Uji dengan nilai x selain akar. Pilih sebuah nilai x sembarang, misal x=0. Hitung nilai S(0) dan pastikan konsisten dengan informasi lain yang mungkin tersirat.

Penutupan Akhir

Jadi, begitu lah ceritanya. Mencari sisa pembagian polinomial oleh bentuk kuadrat seperti 3x²‑5x+2 itu pada dasarnya adalah permainan logika yang cerdik. Kamu cuma perlu ingat tiga hal: sisanya linear, faktorkan pembaginya, dan substitusikan akar-akarnya. Setelah itu, semua hanya masalah menyelesaikan sistem persamaan linear sederhana. Konsep ini nggak cuma sekadar teori, tapi benar-benar alat praktis yang bisa memecahkan banyak variasi soal.

Coba terapkan, dan lihat betapa banyak soal rumit yang tiba-tiba jadi mudah dikunyah!

Kumpulan Pertanyaan Umum

Apakah metode ini hanya berlaku untuk pembagi 3x²‑5x+2?

Tidak. Metode dan prinsip yang sama berlaku untuk pembagi polinomial kuadrat apa pun. Langkah-langkahnya identik: faktorkan pembagi, gunakan akarnya, dan tentukan bentuk sisa yang sesuai.

Nah, kalau lagi ribet nyari sisa pembagian polinomial P(x) oleh 3x²‑5x+2, kita perlu logika yang jernih dan ketelitian tingkat tinggi. Tenang, soal aljabar itu memang suka bikin pusing, tapi ada triknya. Coba lihat contoh penerapan ketelitian serupa dalam menyederhanakan bentuk akar, seperti saat menghitung Nilai (a+1)(a-1) bila a=√50‑5√8. Setelah kamu paham konsep menyederhanakan ekspresi aljabar di sana, kamu akan lebih siap dan teliti untuk kembali menaklukkan teka-teki sisa pembagian polinomial yang menantang ini.

Bagaimana jika pembagi kuadratnya tidak bisa difaktorkan (akar imajiner)?

Bentuk umum sisa tetap linear, ax+b. Namun, untuk mencari nilai a dan b, kita tidak bisa mensubstitusi akar imajiner secara langsung. Kita perlu menggunakan informasi lain, seperti nilai P(x) pada dua titik x yang berbeda (bukan akar) untuk membentuk sistem persamaan.

Bisakah sisa pembagian oleh kuadrat berbentuk konstanta (misalnya, hanya angka)?

Bisa! Itu adalah kasus khusus di mana koefisien a (dari ax+b) bernilai nol. Jadi, sisa konstanta seperti 5 sebenarnya adalah bentuk linear 0x + 5.

Apakah ada hubungan antara sisa pembagian oleh kuadrat dengan sisa pembagian oleh faktor linearnya?

Sangat erat. Jika P(x) dibagi (x – r) bersisa R, maka P(r) = R. Ketika pembaginya adalah hasil kali faktor linear, seperti (x-1)(3x-2), sisa akhir S(x)=ax+b harus memenuhi S(1) dan S(2/3) yang sesuai dengan sisa dari pembagian oleh masing-masing faktor linear (jika diketahui).

Leave a Comment