Kesamaan Bahasa Mandarin dan Korea dengan Bahasa Indonesia dan Malaysia itu bukan sekadar kebetulan belaka, melainkan jejak sejarah yang hidup dalam setiap ucapan kita. Bayangkan, secangkir teh hangat yang kita nikmati atau sepiring mi yang kita lahap ternyata menyimpan cerita panjang tentang pelayaran para pedagang di masa lampau. Kata-kata sederhana itu telah menjadi jembatan budaya yang diam-diam menghubungkan Nusantara dengan daratan Asia Timur, membuktikan bahwa interaksi manusia jauh lebih dalam dan berkesan daripada yang tercatat dalam buku sejarah.
Topik ini mengajak kita menyelami lebih dari sekadar kosakata serapan. Kita akan menelusuri kemiripan struktur kalimat yang membuat belajar bahasa-bahasa ini terasa familiar, menyibak sistem kesopanan yang terselubung dalam diksi sehari-hari, hingga mengeksplorasi filosofi bunyi onomatopoeia yang ternyata banyak direkam dengan cara serupa. Bahkan, gelombang budaya pop dan teknologi modern turut membawa serta kata-kata baru, melanjutkan tradisi pertukaran linguistik yang telah berlangsung berabad-abad.
Jejak Kosakata Serapan dalam Kuliner Nusantara dan Asia Timur
Percakapan di warung kopi atau di pasar tradisional Nusantara seringkali diwarnai oleh kata-kata yang akrab di telinga, namun menyimpan jejak pelayaran panjang. Kata-kata seperti “teh”, “kecap”, dan “mi” bukan sekadar nama makanan; mereka adalah artefak linguistik yang hidup, bukti nyata dari pertukaran budaya maritim yang intens berabad-abad lalu. Melalui rute perdagangan laut, terutama Jalur Rempah dan jaringan perdagangan Tiongkok ke Nusantara, para pedagang dan perantau membawa serta komoditas sekaligus sebutannya.
Proses penyerapan kata-kata ini ke dalam bahasa Melayu kemudian menjadi cermin dari interaksi yang erat dan adaptasi budaya.
Rute perdagangan yang paling berpengaruh dalam proses ini adalah jalur maritim dari Tiongkok Selatan, khususnya daerah Fujian dan Guangdong, menuju pusat-pusat perdagangan di Selat Malaka dan Jawa. Para pedagang Hokkien (Minnan) dan Hakka adalah aktor utama yang memperkenalkan berbagai bahan dan teknik kuliner. Kata “teh” sendiri, misalnya, berasal dari dialek Hokkien “tê”, berbeda dengan sebutan “cha” dari dialek Kanton yang justru lebih banyak tersebar ke dunia melalui rute darat.
Dominasi pelabuhan-pelabuhan di Nusantara yang berinteraksi dengan pedagang Hokkien membuat varian “teh” yang kita kenal menjadi standar. Begitu pula dengan “kecap” yang berasal dari Hokkien “kôe-chiap”, yang awalnya merujuk pada saus ikan fermentasi, lalu beradaptasi di Nusantara menjadi saus kedelai manis yang khas.
Perbandingan Kosakata Serapan Kuliner
Source: the101.world
Proses adaptasi linguistik ini menarik untuk ditelusuri. Kata-kata asing tersebut tidak diterima begitu saja, tetapi mengalami penyesuaian fonologis agar sesuai dengan sistem bunyi bahasa Melayu. Proses seperti reduplikasi (pengulangan kata) sering digunakan untuk mengadopsi kata benda asing, meski pada kasus teh, kecap, dan mi, bentuk dasarnya langsung diserap. Penyesuaian vokal dan konsonant lebih lazim, seperti perubahan nada bahasa Mandarin yang hilang dan digantikan oleh tekanan kata, atau perubahan konsonan akhir yang tidak ada dalam Melayu.
| Bahasa Sumber | Kata Asli | Arti Asli | Adaptasi di Indonesia/Malaysia | Contoh Penggunaan |
|---|---|---|---|---|
| Mandarin (Hokkien) | tê (茶) | Daun/minuman teh | Teh | “Ia memesan secangkir teh hangat.” |
| Mandarin (Hokkien) | kôe-chiap (鮭汁) | Saus ikan fermentasi | Kecap | “Sate ini lebih enak diberi kecap manis.” |
| Mandarin | miàn (面) | Mie, adonan tepung | Mi/Mie | “Untuk makan siang, ia membuat mi goreng.” |
| Korea | kimchi (김치) | Sayuran fermentasi pedas | Kimchi | “Restoran itu menyajikan kimchi sebagai banchan.” |
Analisis fonologis menunjukkan bahwa bahasa Melayu cenderung menghilangkan konsonan akhir “-n” pada “miàn” menjadi “mi”, dan menyederhanakan diftong serta nada. Kata “kôe-chiap” kehilangan suku kata “koe” dan berubah menjadi “kecap”, menyesuaikan dengan pola suku kata terbuka yang dominan. Proses ini bukan sekadar penyederhanaan, melainkan naturalisasi agar kata asing tersebut dapat diucapkan dengan mudah oleh penutur lokal dan terintegrasi sepenuhnya ke dalam percakapan sehari-hari, hingga asal-usulnya hampir terlupakan.
Pola Kalimat yang Mirip Sebuah Kebetulan atau Warisan Linguistik
Salah satu hal pertama yang menarik perhatian pelajar bahasa Mandarin, Korea, Indonesia, atau Malaysia adalah kemiripan urutan kata dalam kalimat dasar. Pola Subjek-Predikat-Objek (SPO) yang dominan di keempat bahasa ini menciptakan rasa familiar yang menguntungkan bagi pembelajar. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah apakah kemiripan ini merupakan kebetulan linguistik semata—konsekuensi dari semua bahasa ini tergolong “isolating” atau analitis—atau ada benang merah sejarah yang menghubungkannya.
Secara linguistik, keempat bahasa tersebut memang memiliki tipologi yang mirip: mereka adalah bahasa analitis yang mengandalkan urutan kata dan partikel fungsi, bukan perubahan bentuk kata (infleksi), untuk menyampaikan makna gramatikal. Karakteristik ini membuat struktur SPO menjadi pilihan yang efisien dan logis. Namun, pengaruh historis, khususnya kontak budaya yang panjang antara dunia Melayu dan Tiongkok, mungkin turut memperkuat dan memantapkan pola ini.
Meskipun tidak ada bukti kuat tentang pengaruh gramatikal langsung dari Mandarin ke Melayu, kontak intensif dalam perdagangan dan administrasi selama berabad-abad dapat menciptakan kecenderungan untuk menyelaraskan pola berpikir dan berujar, yang pada gilirannya terefleksi dalam struktur kalimat.
Contoh Pola Kalimat Dasar dan Tanya
Berikut adalah perbandingan langsung untuk melihat kemiripan dan perbedaan kecil dalam konstruksi kalimat deklaratif dan tanya sederhana.
- Kalimat Deklaratif (SPO):
- Indonesia: Saya membaca buku.
- Malaysia: Saya membaca buku.
- Mandarin: Wǒ kàn shū. (我 看 书。)
- Korea: Naneun chaek-eul ilg-eo. (나는 책을 읽어.)
- Kalimat Tanya (Partikel/Pemarkah):
- Indonesia: Apakah kamu makan nasi?
- Malaysia: Adakah kamu makan nasi?
- Mandarin: Nǐ chī fàn ma? (你 吃 饭 吗?)
- Korea: Bap meogeosseoyo? (밥 먹었어요?)
Konsep “isolating language” merujuk pada bahasa yang menggunakan kata-kata mandiri dan urutan kata yang ketat untuk menyampaikan relasi gramatikal, berbeda dengan bahasa “inflectional” seperti Latin atau Rusia yang mengubah bentuk kata. Karakteristik ini, yang dimiliki bersama oleh Mandarin, Korea, Indonesia, dan Malaysia, menjadi fondasi bersama yang mempermudah proses pembelajaran timbal balik. Penutur bahasa-bahasa ini telah terbiasa dengan logika “satu kata, satu fungsi” dan pentingnya posisi dalam kalimat, sehingga transisi ke bahasa saudaranya terasa lebih intuitif.
Kemiripan dalam membentuk kalimat tanya juga signifikan. Bahasa Indonesia dan Malaysia menggunakan kata tanya atau partikel di awal (“apakah”, “adakah”), mirip dengan partikel “ma” dalam Mandarin yang diletakkan di akhir. Bahasa Korea sering kali mengandalkan intonasi atau akhiran hormat untuk membentuk pertanyaan. Pola-pola ini, meski berbeda secara permukaan, berasal dari prinsip yang sama: menambahkan penanda khusus pada struktur SPO dasar untuk mengubah modus kalimat dari pernyataan menjadi pertanyaan.
Sistem Honorifik yang Tersamar dalam Bahasa Indonesia dan Malaysia
Bahasa Korea dan Mandarin terkenal dengan sistem honorifiknya yang kompleks dan terstruktur, di mana pilihan kata, partikel, dan bahkan bentuk kata kerja harus disesuaikan berdasarkan status sosial, usia, dan keakraban antara pembicara dan lawan bicara. Sistem yang demikian kaku secara formal tidak ditemukan dalam Bahasa Indonesia dan Malaysia. Namun, bukan berarti kedua bahasa Melayu ini tidak memiliki mekanisme untuk mengekspresikan kesopanan dan strata sosial.
Sebaliknya, konsep kesopanan yang kuat dari Asia Timur itu menemukan padanannya dalam bentuk yang lebih halus dan tersamar, terutama melalui diksi, pilihan kata ganti, dan sapaan.
Di Indonesia dan Malaysia, strata sosial dan rasa hormat diungkapkan secara leksikal dan pragmatis. Penggunaan kata ganti orang kedua seperti “Anda”, “Bapak/Ibu”, “Saudara/i”, atau bahkan penyebutan gelar dan nama lengkap menggantikan fungsi partikel subjek honorifik dalam Korea atau kata ganti “nín” (您) dalam Mandarin. Pilihan kata kerja dan kosakata juga dapat ditingkatkan kesopanannya, misalnya dengan menggunakan “bersedia” daripada “mau”, atau “menyampaikan” daripada “bilang”.
Gradasi ini, meski tidak se-sistematis perubahan konjugasi kata kerja, menunjukkan sensitivitas sosial yang sama mendalamnya.
Pemetaan Sapaan dan Padanan Fungsional
| Bahasa | Kata/Sapaan | Konteks Penggunaan | Padanan Fungsional (Indonesia/Malaysia) |
|---|---|---|---|
| Mandarin | Nín (您) | Kata ganti orang kedua formal/penghormatan | Anda / Bapak/Ibu + [nama keluarga] |
| Mandarin | Lǎoshī (老师) | Sapaan untuk guru/dosen, juga sebagai gelar hormat | Pak Guru / Ibu Guru / Dosen + [nama] |
| Korea | -ssi (-씨) | Akhiran netral untuk nama orang (setara Mr./Ms.) | Saudara/i + [nama] / Bapak/Ibu + [nama] |
| Korea | Seonbae (선배) | Sapaan untuk senior di sekolah/tempat kerja | Kakak Tingkat / Senior / Mas/Mbak + [nama] |
Gradasi Kesopanan dalam Percakapan
Perbedaan tingkat kesopanan dapat diamati dengan jelas dalam percakapan sehari-hari. Dalam konteks informal antar teman sebaya, bahasa yang digunakan sangat langsung. Namun, dalam situasi formal atau ketika berbicara dengan atasan atau orang yang lebih tua, terjadi pergeseran leksikal yang signifikan.
Contoh Percakapan Informal: “Lo udah makan belum? Aku laper nih.” (Bahasa Indonesia gaul). Struktur ini sangat langsung, mirip dengan percakapan akrab dalam bahasa Korea tanpa akhiran honorifik (-요/-습니다) atau penggunaan bahasa Mandarin sehari-hari.
Pernah nggak sih, kamu ngeh bahwa ada kemiripan mencolok antara Bahasa Mandarin, Korea, dengan Bahasa Indonesia dan Malaysia? Seperti kata serapan atau struktur kalimat. Nah, menariknya, dalam dunia matematika, kita juga menemukan pola dekomposisi yang rapi, mirip cara kita melacak akar bahasa. Ambil contoh, Aljabar: Metode Doolittle , sebuah teknik memecah matriks jadi komponen yang lebih sederhana. Prinsip ‘memilah lalu menyatukan’ ini serupa banget lho dengan cara kita melacak kemiripan kosakata antar bahasa-bahasa tadi, yang meski terlihat berbeda, punya fondasi logika yang bisa ditelusuri.
Contoh Percakapan Formal: “Bapak sudah makan? Saya ingin mengajak Bapak makan siang bersama jika berkenan.” Di sini, penggunaan sapaan “Bapak”, kata ganti “saya”, dan frasa “jika berkenan” berfungsi seperti partikel honorifik atau pilihan kata kerja formal dalam bahasa Korea dan Mandarin. Meskipun tidak mengubah bentuk kata kerja “makan”, keseluruhan diksi dan nada kalimat telah ditinggikan untuk menunjukkan penghormatan.
Filosofi Bunyi dan Makna dalam Kosakata Dasar
Di balik struktur gramatikal dan kosakata serapan, terdapat lapisan bahasa yang lebih primal dan universal: dunia onomatopoeia dan ideophone. Kata-kata yang meniru bunyi (onomatopoeia) atau menggambarkan sensasi, bentuk, atau tekstur (ideophone) sering kali menunjukkan kemiripan yang mencolok antar bahasa yang secara historis tidak berkerabat. Fenomena ini mengisyaratkan adanya kesamaan persepsi sensorik manusia terhadap dunia di sekitarnya. Ketika mendengar suara “bruk” untuk benda jatuh atau “guk guk” untuk suara anjing, penutur bahasa Indonesia, Korea, dan Mandarin dapat langsung menangkap maknanya, karena bunyi itu sendiri yang menjadi jembatan makna.
Kesamaan ini muncul karena pembentukan kata-kata tersebut didasarkan pada imitasi langsung terhadap bunyi asli di alam. Proses fonetik manusia memiliki keterbatasan dalam mereproduksi bunyi tertentu, sehingga hasilnya sering kali jatuh pada rangkaian konsonan dan vokal yang serupa. Misalnya, bunyi letupan bibir untuk meniru suara benda jatuh atau pecah cenderung menggunakan konsonan bilabial seperti /p/, /b/, atau /k/ yang dihentikan secara tiba-tiba.
Demikian pula, suara hewan sering kali diimitasi berdasarkan persepsi pendengaran manusia, yang bisa menghasilkan bentuk fonetis yang paralel di budaya yang berbeda.
Contoh Onomatopoeia yang Mirip, Kesamaan Bahasa Mandarin dan Korea dengan Bahasa Indonesia dan Malaysia
- Suara benda jatuh/pecah: Korea “ppajyeo” (빠져) vs. Indonesia “byur” atau “bruk”. Keduanya menggunakan bunyi letupan untuk menggambarkan dampak.
- Suara ketukan: Mandarin “dūdū” (嘟嘟) untuk mengetuk pintu vs. Indonesia “tok tok”. Bunyi konsonan dental /t/ atau /d/ sering dipilih untuk suara ketukan keras.
- Suara tertawa: Korea “kkikkik” (끼끼끽) vs. Indonesia “kekek”. Vokal /i/ dan /e/ serta konsonan /k/ sering dikaitkan dengan suara cekikikan.
- Suara desis/berbisik: Mandarin “xīxīsūsū” (窸窸窣窣) untuk suara gesekan halus vs. sensasi “sisik” atau “gesek” dalam Melayu.
- Suara anjing: Korea “meong meong” (멍멍) vs. Mandarin “wāng wāng” (汪汪) vs. Indonesia “guk guk”. Meski berbeda, ketiganya menggunakan suku kata tertutup dengan konsonan nasal (/ng/) atau letupan (/g/, /k/) untuk meniru gonggongan.
- Suara kucing: Korea “yaong” (야옹) vs. Mandarin “miāo” (喵) vs. Indonesia “meong”. Vokal /a/ dan /o/ serta konsonan nasal /ng/ atau /m/ adalah pola umum.
- Suara ayam: Korea “kkokkkogyeol” (꼬꼬댁) vs. Mandarin “gēgē” (咯咯) vs. Indonesia “kukuruyuk” (jantan) atau “petok petok” (betina). Bunyi /k/ dan /g/ dominan.
- Suara air menetes: Korea “jolak jolak” (졸락졸락) vs. sensasi “tik tik” dalam Indonesia.
- Suara benda berdering: Mandarin “línglíng” (铃铃) vs. Indonesia “kring kring”. Bunyi /l/ dan /r/ cair serta konsonan /ng/ sering digunakan.
- Suara napas/bernafas: Korea “hadeuk hadeuk” (하득하득) untuk terengah-engah vs. Indonesia “hah hah”. Bunyi aspirasi /h/ dan vokal terbuka /a/ merepresentasikan tarikan napas dalam.
Ilustrasi deskriptif tentang proses ini menunjukkan bagaimana otak manusia mengolah input auditori dan mengonversinya menjadi unit bunyi bahasa yang diskrit. Ketika seseorang mendengar benda keramik jatuh dan pecah, telinga menangkap serangkaian bunyi letupan, gesekan, dan resonansi. Bahasa-bahasa di Asia Timur dan Nusantara kemudian “memotret” momen auditori ini dengan fonem yang tersedia dalam inventaris mereka. Hasilnya mungkin “peng” (Mandarin), “ppang” (Korea), atau “pyar” (dalam beberapa dialek Melayu).
Perbedaan ini kecil dibandingkan dengan kesamaan intinya: penggunaan konsonan letupan bilabial (/p/, /b/) untuk merepresentasikan momen tumbukan awal. Refleksi ini membuktikan bahwa meskipun bahasa memisahkan kita, cara kita merasakan dan mengkategorikan dunia melalui bunyi memiliki dasar sensorik yang sangat mirip.
Transformasi Kosakata Teknologi Modern dari Bahasa Mandarin ke Bahasa Melayu
Gelombang pertukaran linguistik antara dunia Melayu dan Asia Timur tidak berhenti pada masa rempah dan mi. Di era digital ini, arus baru kosakata terus mengalir, terutama dari Bahasa Mandarin, membentuk perbendaharaan kata teknologi dan budaya pop di Indonesia dan Malaysia. Berbeda dengan pengaruh Korea yang lebih baru dan banyak terjadi melalui konten media (K-pop, drama) yang mempertahankan istilah aslinya seperti “oppa”, “aegyo”, atau “mukbang”, pengaruh Mandarin sering kali masuk secara lebih halus, baik langsung dari Mandarin Standar maupun melalui dialek Hokkien yang sudah berakar, dan mengalami proses adaptasi morfologis yang dalam.
Bahasa adalah organisme yang hidup, dan kosakata teknologinya adalah cabang yang tumbuh paling cepat. Ia menyerap nutrisi dari mana saja, terutama dari pusat-pusat inovasi. Dalam konteks Nusantara, selain serapan langsung dari Barat, terdapat aliran kata yang telah melakukan perjalanan dua tahap: dari konsep global, diwujudkan dalam kata Mandarin, lalu diadopsi dan disesuaikan oleh kehausan bahasa Melayu akan istilah baru.
Fenomena ini sangat terlihat dalam istilah-istilah terkait internet dan gawai. Kata seperti “gawai” (gadget) diduga kuat memiliki koneksi dengan kata Hokkien “gâu-á” yang berarti alat atau perkakas, meskipun ada juga teori lain. Proses yang lebih jelas terlihat pada penerjemahan makna atau calque, diwhere konsep dalam Mandarin diterjemahkan kata per kata ke dalam Melayu. Contoh klasik adalah “klik” yang diserap langsung, tetapi frasa seperti “rumah panjang” untuk “homepage” (dari Mandarin “shǒuyè” 首页, yang secara harfiah ‘halaman pertama’) menunjukkan strategi adaptasi yang lebih kreatif.
Kosakata Teknologi dan Koneksi Etimologis
| Kata dalam Indonesia/Malaysia | Kemungkinan Asal/Koneksi Mandarin | Arti/Konteks | Estimasi Masuk (Abad) |
|---|---|---|---|
| Gawai | Hokkien: gâu-á (工具?) = alat, perkakas | Perangkat elektronik/gadget | Ke-20/21 |
| Unggah | Mandarin: shàng chuán (上传) = ‘naik + kirim’ | Upload (mengirim data ke server) | Ke-20/21 |
| Unduh | Mandarin: xià zài (下载) = ‘turun + muat’ | Download (mengambil data dari server) | Ke-20/21 |
| Situs | Latin ‘situs’ via Inggris, tetapi padanan konsep “wǎngzhàn” (网站) = ‘jaringan + stasiun’ | Website | Ke-20 |
| Laman | Arab ‘laman’ (tanah), tetapi sejajar dengan “yèmiàn” (页面) = ‘halaman + permukaan’ | Page (halaman web) | Ke-20 |
Strategi adaptasi morfologis yang terjadi sangat beragam. Pertama, ada penerjemahan makna (calque) seperti pada “unggah” dan “unduh” yang mencontoh struktur semantis Mandarin “shàng chuán” dan “xià zài”. Kedua, terjadi kombinasi dengan kata lokal untuk memperjelas makna, misalnya “meng-unggah” dimana prefiks Melayu “meng-” ditambahkan pada akar kata serapan. Ketiga, ada penyerapan langsung dengan penyesuaian ejaan, seperti “blog” yang menjadi “blog” tanpa perubahan, meskipun untuk konsep yang sama, Mandarin menggunakan “bókè” (博客).
Keempat, penggunaan kembali kata arkais atau daerah yang diberi makna baru, seperti “gawai”. Proses-proses ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia dan Malaysia tidak pasif menerima serapan, tetapi aktif mengolah dan mengintegrasikannya ke dalam sistem leksikal mereka sendiri, meneruskan tradisi adaptasi yang telah berlangsung sejak zaman kapal layar.
Ringkasan Penutup: Kesamaan Bahasa Mandarin Dan Korea Dengan Bahasa Indonesia Dan Malaysia
Jadi, apa yang kita anggap sebagai bahasa yang benar-benar terpisah ternyata dirajut oleh benang-benang sejarah yang sama. Dari rempah-rempah hingga gawai, dari struktur kalimat yang mirip hingga cara kita meniru suara kucing, semua itu bercerita tentang manusia yang terhubung. Menelusuri kesamaan ini bukan hanya soal linguistik, tetapi juga sebuah pengakuan bahwa identitas budaya kita bersifat cair, lentur, dan selalu diperkaya oleh pertemuan dengan yang lain.
Mungkin, dengan memahami kedekatan ini, kita bisa lebih menghargai kekayaan bahasa sendiri sekaligus membuka pintu untuk mempelajari bahasa tetangga dengan rasa penasaran dan kedekatan yang baru.
Informasi Penting & FAQ
Apakah kemiripan ini membuat bahasa Indonesia jadi mudah dipelajari penutur Mandarin atau Korea?
Iya, ada kemudahan di beberapa aspek, terutama dalam struktur kalimat dasar Subjek-Predikat-Objek dan kosakata serapan yang sudah familiar. Namun, tata bahasa detail, konjugasi kata kerja, dan pelafalan bunyi tertentu tetap menjadi tantangan yang perlu dipelajari.
Mana yang pengaruhnya lebih kuat, bahasa Mandarin atau Korea, terhadap bahasa Indonesia dan Malaysia?
Pengaruh bahasa Mandarin jauh lebih tua, dalam, dan meluas, terutama melalui kontak perdagangan maritim selama berabad-abad yang menyentuh kosakata dasar. Pengaruh Korea lebih baru, banyak datang melalui gelombang budaya pop (Hallyu) di era modern dan lebih terbatas pada kosakata kontemporer.
Apakah ada pengaruh bahasa Indonesia/Malaysia ke bahasa Mandarin atau Korea?
Pengaruh secara linguistik langsung sangat kecil. Namun, beberapa kata untuk komoditas khas Nusantara seperti “cengkeh” atau “pala” mungkin masuk melalui penyebutan dalam catatan sejarah atau perdagangan, tetapi adaptasinya tidak sebanyak sebaliknya.
Bagaimana kita bisa membedakan kata serapan dari Mandarin dengan yang dari bahasa lain seperti Sanskerta atau Arab?
Kata serapan dari Mandarin seringkali berkaitan dengan benda kongkret, kuliner, dan perdagangan (teh, kecap, tauge, cincau). Dari segi bunyi, sering memiliki pola vokal ‘a’, ‘i’, ‘u’ yang khas dan konsonan akhir terbatas. Berbeda dengan Sanskerta yang banyak di ranah abstrak/spiritual atau Arab di ranah agama dan hukum.
Apakah kemiripan struktur kalimat berarti penerjemahan mesin antara bahasa-bahasa ini lebih akurat?
Secara teori, kemiripan struktur dasar (S-P-O) dapat membantu. Namun, akurasi penerjemahan mesin sangat bergantung pada ketersediaan data korpus yang besar, pemahaman konteks budaya, dan penanganan idiom. Kemiripan struktur hanyalah salah satu faktor dari banyak faktor penentu.