Penjelasan Daur Lisis Lisogenik Struktur Ciri dan Metagenorganisme Virus

Penjelasan Daur Lisis, Lisogenik, Struktur, Ciri, dan Metagenorganisme Virus ini bakal bikin kamu paham betapa uniknya dunia makhluk super mini ini. Mereka bukan sekadar penyebab flu biasa, tapi entitas yang hidup di ambang batas definisi “kehidupan”, punya strategi replikasi cerdik, dan struktur yang sederhana namun mematikan. Mari kita selami lebih dalam, karena memahami virus berarti memahami salah satu kekuatan alam yang paling mendasar dan seringkali tak terlihat.

Dari bagaimana mereka menginfeksi sel dengan dua strategi berbeda—meledakkan atau bersembunyi—sampai alasan mengapa mereka disebut metagenorganisme, topik ini akan mengupas tuntas seluk-beluk virus. Kita akan menjabarkan arsitektur tubuhnya yang minimalis, mengklasifikasikan keragaman mereka, dan melihat dampak interaksinya dengan inang, mulai dari menyebabkan penyakit hingga dimanfaatkan untuk terapi gen. Semua dijelaskan dengan runtut agar kamu mendapat gambaran komprehensif.

Daur Hidup Virus: Lisis dan Lisogenik

Virus, sebagai entitas yang tidak bisa bereproduksi sendiri, punya cara yang cerdik dan beragam untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Dua strategi utama yang paling terkenal adalah daur litik dan daur lisogenik. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang sama-sama berbahaya, tetapi dengan pendekatan dan waktu eksekusi yang berbeda. Memahami perbedaan ini adalah kunci untuk mengerti bagaimana infeksi virus bisa berkembang dengan cepat atau justru bersembunyi diam-diam di dalam tubuh kita.

Perbedaan mendasar terletak pada nasib sel inang dan waktu replikasi. Daur litik adalah serangan langsung dan brutal; virus masuk, mengambil alih mesin sel, memperbanyak diri, lalu menghancurkan sel untuk menyebarkan keturunannya. Sementara itu, daur lisogenik lebih mirip strategi penyusupan jangka panjang. Virus menyelipkan materi genetiknya ke dalam genom inang, hidup tenang sebagai “tamu tak terlihat,” dan baru akan beraksi ketika kondisi tertentu memicunya.

Perbandingan Daur Litik dan Lisogenik

Untuk melihat perbedaannya dengan lebih jelas, tabel berikut merangkum perbandingan dari beberapa aspek kunci kedua daur hidup virus ini.

Aspect Daur Litik Daur Lisogenik
Tahapan Utama Penetrasi, Sintesis, Perakitan, Lisis. Penetrasi, Penggabungan (Profage), Replikasi Bersama, Induksi (jika terjadi).
Durasi Siklus Relatif singkat (menit hingga jam). Sangat panjang, bisa seumur hidup sel inang.
Kondisi Sel Inang Diambil alih sepenuhnya, lalu hancur (lisis). Tetap hidup dan berfungsi normal, membelah bersama materi genetik virus.
Hasil Akhir Kematian sel inang dan pelepasan banyak virion baru. Sel inang tetap hidup (siklus lisogenik) atau mengalami lisis jika terjadi induksi.

Tahapan Rinci Daur Lisogenik

Daur lisogenik adalah sebuah proses yang rumit dan penuh strategi. Berikut adalah urutan kejadian yang terjadi, mulai dari pertemuan pertama hingga kemungkinan kebangkitan virus.

  • Penetrasi dan Injeksi: Virus menempel dan menyuntikkan materi genetiknya (biasanya DNA) ke dalam sitoplasma sel bakteri inang.
  • Penggabungan (Integrasi): DNA virus, yang sekarang disebut sebagai profage, secara spesifik menyisipkan dirinya ke dalam kromosom DNA bakteri. Enzim dari virus memfasilitasi proses rekombinasi genetik ini.
  • Replikasi Bersama: Profage yang telah terintegrasi menjadi bagian tak terpisahkan dari sel inang. Setiap kali sel bakteri membelah diri melalui replikasi DNA normal, profage juga ikut direplikasi dan diteruskan ke kedua sel anak. Virus secara pasif “menumpang” berkembang biak.
  • Induksi: Pada suatu titik, kondisi stres seperti radiasi UV, bahan kimia tertentu, atau penurunan kesehatan sel dapat memicu profage untuk memisahkan diri dari kromosom inang. Setelah terlepas, profage memasuki daur litik: mengambil alih sel, bereplikasi, dan akhirnya melisiskan sel inang untuk melepaskan virus-virus baru.

Konsep Profage dalam Daur Lisogenik

Profage adalah inti dari strategi daur lisogenik. Istilah ini merujuk pada materi genetik virus (biasanya DNA) yang telah berhasil menyatu dan menjadi satu dengan kromosom inang. Dalam wujud ini, virus tidak aktif secara reproduktif; gen-gennya yang berbahaya untuk replikasi ditekan oleh represor protein yang diproduksi oleh profage itu sendiri. Status profage ini memberikan keuntungan bagi virus karena memastikan materi genetiknya direplikasi setiap kali sel membelah, sehingga menyebar ke populasi sel inang tanpa harus membunuhnya.

BACA JUGA  Mohon Penjelasan Lengkap Seni Meminta dan Menyampaikan Informasi

Fenomena ini juga dapat memberikan sifat baru pada bakteri inang, seperti kemampuan memproduksi toksin, seperti yang terjadi pada bakteri Corynebacterium diphtheriae penyebab difteri, di mana toksinnya justru dikode oleh gen dari profage.

Struktur dan Komponen Penyusun Virus

Untuk memahami bagaimana virus bekerja, kita harus mengenal anatomi mereka. Virus, dalam bentuk partikel infeksiusnya yang lengkap, disebut virion. Virion adalah paket minimalis yang dirancang dengan efisiensi tinggi hanya untuk satu tujuan: mengirimkan materi genetik dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Strukturnya mungkin terlihat sederhana, tetapi setiap komponen memiliki fungsi yang sangat spesifik dan krusial.

Struktur Dasar Virion dan Fungsinya

Sebuah virion pada dasarnya terdiri dari dua komponen utama. Pertama, asam nukleat, yang bisa berupa DNA atau RNA, beruntai tunggal atau ganda. Ini adalah “buku panduan” atau genom virus yang berisi semua instruksi untuk membajak sel inang. Kedua, asam nukleat ini dibungkus dan dilindungi oleh sebuah mantel protein yang disebut kapsid. Kapsid tersusun dari subunit protein berulang yang disebut kapsomer.

Fungsi kapsid adalah melindungi asam nukleat yang rapuh dari kerusakan fisik dan kimia di lingkungan luar sel, serta berperan dalam menempel pada permukaan sel inang yang spesifik. Kombinasi asam nukleat dan kapsid ini disebut nukleokapsid.

Virus Berselubung dan Tanpa Selubung

Beberapa virus memiliki lapisan tambahan di luar kapsidnya, yang membedakan mereka menjadi dua kelompok besar. Virus tanpa selubung (naked virus) hanya terdiri dari nukleokapsid. Mereka umumnya lebih stabil di lingkungan luar dan tahan terhadap disinfektan berbasis pelarut lipid. Contohnya adalah virus penyebab polio (poliovirus) dan kutil (human papillomavirus). Sebaliknya, virus berselubung (enveloped virus) memiliki membran lipid bilayer yang menyelubungi nukleokapsidnya.

Selubung ini sebenarnya berasal dari membran sel inang (bisa dari membran plasma, retikulum endoplasma, atau nukleus) saat virus keluar dari sel. Pada selubung ini tertanam protein-protein virus (seperti spike glycoprotein) yang sangat penting untuk menempel dan masuk ke sel inang baru. Virus seperti HIV, influenza, dan SARS-CoV-2 adalah contoh virus berselubung. Mereka umumnya lebih mudah dinonaktifkan oleh sabun dan disinfektan karena selubung lipidnya dapat rusak.

Morfologi Kompleks Bakteriofag

Beberapa virus, terutama bakteriofag (virus yang menginfeksi bakteri), memiliki struktur yang sangat kompleks dan mirip dengan pesawat pendarat luar angkasa. Bayangkan sebuah struktur dengan “kepala” berbentuk ikosahedral (seperti bola segi banyak) yang di dalamnya tersimpan DNA virus. Kepala ini tersusun dari banyak kapsomer. Dari kepala, menjulur sebuah “leher” yang menghubungkannya dengan struktur mirip “ekor”. Ekor ini terdiri dari selubung ekor yang dapat berkontraksi dan sebuah batang ekor di tengahnya.

Di ujung bawah ekor terdapat “lempeng dasar” yang dilengkapi dengan beberapa “serabut ekor”. Serabut ekor inilah yang berfungsi seperti kaki pendarat, yang secara spesifik mengenali dan menempel pada reseptor di dinding sel bakteri. Setelah menempel, selubung ekor berkontraksi, mendorong batang ekor menembus dinding sel, dan DNA dari kepala virus disuntikkan ke dalam sitoplasma bakteri, meninggalkan kapsid kosong di luar.

Fungsi Kapsid dan Protein Penempelan

Kapsid bukan sekadar pelindung pasif. Bentuk dan susunan protein pada permukaannya menentukan spesifisitas inang. Protein pada kapsid atau pada selubung virus (disebut protein adhesin atau ligan) akan berikatan secara komplementer dengan molekul reseptor tertentu di permukaan sel inang. Ikatan ini sangat spesifik, seperti kunci dan gembok. Misalnya, protein spike SARS-CoV-2 berikatan dengan reseptor ACE2 pada sel manusia, sementara serabut ekor bakteriofag T4 mengenali molekul lipopolisakarida pada dinding sel E. coli.

Tanpa kecocokan ini, virus tidak bisa menginfeksi sel tersebut. Selain untuk penempelan, kapsid juga membantu dalam proses pelepasan genom virus ke dalam sel dan dalam perakitan virion baru di dalam sel yang terinfeksi.

Ciri-Ciri dan Karakteristik Virus sebagai Metagenorganisme

Virus selalu berada di ambang batas definisi kehidupan. Mereka tidak bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam kerajaan makhluk hidup tradisional seperti Monera, Protista, Fungi, Plantae, atau Animalia. Karena sifatnya yang unik dan “di antara” ini, virus sering disebut sebagai metagenorganisme atau organisme di luar kehidupan seluler. Mereka menantang pemahaman kita tentang apa itu “hidup”.

Virus sebagai Metagenorganisme, Penjelasan Daur Lisis, Lisogenik, Struktur, Ciri, dan Metagenorganisme Virus

Klasifikasi sebagai metagenorganisme muncul karena virus tidak memenuhi semua kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan kehidupan secara seluler. Mereka tidak memiliki sel, tidak melakukan metabolisme sendiri (tidak menghasilkan energi ATP, tidak bernapas, tidak makan), dan tidak dapat bereproduksi tanpa bantuan mesin seluler inang. Namun, mereka memiliki materi genetik (DNA atau RNA) dan berevolusi melalui seleksi alam. Status mereka lebih mirip sebagai paket informasi genetik yang parasitik dan mandiri, yang hanya “menjadi hidup” ketika berada di dalam lingkungan sel inang yang tepat.

BACA JUGA  Harga Pertukaran dalam Pengakuan Piutang Dasar Nilai dan Dampaknya

Ciri-Ciri Pembeda Virus dari Organisme Seluler

Beberapa ciri utama yang membedakan virus dari bakteri atau sel eukariotik adalah:

  • Struktur Aseluler: Virus tidak memiliki sitoplasma, organel, atau membran sel yang khas. Mereka hanya terdiri dari asam nukleat dan protein, kadang plus selubung lipid.
  • Tidak Memiliki Metabolisme Mandiri: Virus tidak memiliki enzim untuk menghasilkan energi atau menyintesis protein sendiri (kecuali beberapa enzim khusus seperti reverse transcriptase). Mereka sepenuhnya bergantung pada ribosom, tRNA, dan bahan baku sel inang.
  • Reproduksi melalui Replikasi dan Perakitan: Virus tidak membelah diri seperti sel. Mereka bereproduksi dengan cara merakit komponen-komponennya (asam nukleat dan protein) yang disintesis terpisah di dalam sel inang.
  • Hanya Aktif dalam Sel Hidup: Di luar sel inang, virus berada dalam fase kristal atau partikel inert. Mereka seperti flash disk yang berisi program berbahaya, tidak berguna sampai dimasukkan ke dalam komputer (sel inang).

Pendapat Ahli tentang Status “Hidup” Virus

Perdebatan tentang apakah virus itu hidup atau tidak masih berlangsung di kalangan ilmuwan. Perbedaan pendapat ini mencerminkan kompleksitas definisi kehidupan itu sendiri.

“Virus adalah makhluk ‘di tepi kehidupan’. Mereka memiliki gen, berevolusi melalui seleksi alam, dan bereplikasi dengan menciptakan salinan diri mereka sendiri. Namun, mereka tidak memiliki struktur seluler, yang biasanya dianggap sebagai unit kehidupan terkecil. Tanpa sel inang, virus hanyalah partikel organik yang inert.”

Sumber dari berbagai literatur virologi.

Implikasi Sifat Metagenorganisme terhadap Pengobatan

Sifat unik virus ini justru menjadi tantangan sekaligus peluang dalam pengobatan. Karena virus menggunakan mesin sel kita, sulit menemukan obat yang membunuh virus tanpa merusak sel inang. Kebanyakan obat antivirus bekerja dengan menghambat enzim spesifik virus (seperti protease atau reverse transcriptase) atau mencegah penempelan/virus masuk ke sel. Vaksin, di sisi lain, memanfaatkan sifat virus yang dapat dikenali sistem imun. Pemahaman bahwa virus adalah parasit intraseluler obligat juga menjelaskan mengapa antibiotik, yang menyerang dinding sel atau metabolisme bakteri, sama sekali tidak efektif melawan infeksi virus seperti flu atau pilek biasa.

Keanekaragaman dan Klasifikasi Virus

Dunia virus sangatlah beragam, jauh melampaui jenis-jenis yang biasa kita dengar. Untuk memetakan keanekaragaman ini, para virolog mengklasifikasikan virus berdasarkan beberapa karakteristik fisik dan kimiawinya yang paling mendasar. Tidak seperti makhluk hidup yang menggunakan sistem taksonomi Linnaeus, klasifikasi virus lebih berfokus pada sifat partikel virion dan strategi replikasinya.

Parameter Klasifikasi Virus

Tiga parameter utama yang paling sering digunakan untuk mengelompokkan virus adalah:

  1. Jenis Asam Nukleat: Ini adalah pembeda paling fundamental. Virus bisa memiliki DNA atau RNA. Asam nukleat ini bisa beruntai tunggal (ss) atau ganda (ds), linier atau sirkular. Misalnya, virus cacar memiliki dsDNA, sementara virus campak memiliki ssRNA.
  2. Morfologi Kapsid: Bentuk kapsid umumnya heliks (seperti tabung spiral) atau ikosahedral (bola bersegi banyak). Virus mosaik tembakau memiliki kapsid heliks, sedangkan adenovirus memiliki kapsid ikosahedral.
  3. Ada atau Tidaknya Selubung (Envelope): Seperti yang telah dibahas, keberadaan selubung lipid membedakan virus menjadi enveloped dan non-enveloped, yang mempengaruhi stabilitas dan cara penularannya.

Contoh Famili Virus dan Penyakitnya

Berikut adalah beberapa contoh famili virus penting yang menginfeksi manusia, diklasifikasikan berdasarkan materi genetiknya.

Famili Virus Jenis Materi Genetik Contoh Penyakit pada Manusia
Herpesviridae DNA untai ganda Herpes simplex, Cacar air, Mononukleosis
Poxviridae DNA untai ganda Cacar (Smallpox), Cacar monyet (Mpox)
Picornaviridae RNA untai tunggal (+) Polio, Hepatitis A, Pilek (beberapa jenis)
Orthomyxoviridae RNA untai tunggal (-) segmental Influenza (Flu)
Retroviridae RNA untai tunggal (+) dengan reverse transcriptase AIDS (HIV), Leukemia tertentu

Spesifisitas Inang pada Virus

Penjelasan Daur Lisis, Lisogenik, Struktur, Ciri, dan Metagenorganisme Virus

Source: siswapedia.com

Virus umumnya memiliki kisaran inang yang sangat spesifik. Sebuah virus mungkin hanya menginfeksi satu spesies, atau bahkan hanya jenis sel tertentu dalam satu organisme (disebut tropisme). Misalnya, virus HIV terutama menginfeksi sel T helper yang memiliki reseptor CD
4. Spesifisitas ini ditentukan terutama oleh dua faktor: keberadaan reseptor seluler yang cocok dengan protein virus, dan ketersediaan mesin seluler di dalam sel inang yang dapat mendukung replikasi virus tersebut.

Inilah mengapa banyak virus hewan tidak dapat menginfeksi manusia, dan sebaliknya, meskipun “spillover” atau loncatan antarspesies tetap mungkin terjadi, seperti pada virus flu burung atau SARS-CoV-2.

Perbedaan Replikasi Virus RNA dan DNA

Lokasi dan mekanisme replikasi genom sangat bergantung pada jenis asam nukleat virus. Virus DNA (seperti herpes atau cacar) umumnya menggunakan enzim polimerase dari sel inang untuk mereplikasi DNA-nya di dalam nukleus sel. DNA virus berperilaku mirip dengan DNA inang. Sebaliknya, virus RNA memiliki variasi yang lebih luas. Virus RNA beruntai positif (seperti virus polio) langsung dapat berfungsi sebagai mRNA dan diterjemahkan menjadi protein oleh ribosom inang.

Virus RNA beruntai negatif (seperti virus influenza) harus dibawa enzim transkriptase untuk membuat untai positif terlebih dahulu. Kelompok khusus seperti Retrovirus (HIV) bahkan lebih rumit: mereka membawa enzim reverse transcriptase untuk mengubah RNA mereka menjadi DNA, kemudian DNA ini menyisip ke dalam genom inang, menjadi provirus yang permanen.

BACA JUGA  Buat Diagram Venn Panduan Lengkap dari Konsep ke Aplikasi

Interaksi Virus dengan Inang dan Dampaknya

Hubungan antara virus dan sel inangnya bukan sekadar cerita penyerangan dan penghancuran. Interaksi ini bervariasi, menghasilkan spektrum dampak yang luas, dari kematian sel seketika hingga hubungan ko-eksistensi yang panjang dan rumit. Memahami dinamika ini penting untuk mengantisipasi perjalanan penyakit dan merancang strategi terapi.

Dampak Infeksi Virus terhadap Sel Inang

Setelah menginfeksi, virus dapat menyebabkan beberapa kemungkinan akhir pada sel inang:

  • Lisis: Ini adalah hasil klasik daur litik. Sel pecah dan mati karena dijejali virion baru, seperti yang terjadi pada infeksi virus flu atau pilek yang merusak sel-sel saluran pernapasan.
  • Transformasi: Beberapa virus, terutama virus DNA seperti papillomavirus dan beberapa retrovirus, dapat menyebabkan sel inang berubah menjadi sel kanker. Virus ini menyisipkan gen onkogennya atau mengaktifkan onkogen sel, membuat sel membelah tak terkendali.
  • Keadaan Persisten: Virus hidup berdampingan dengan sel dalam waktu lama tanpa segera menghancurkannya. Ini bisa terjadi melalui daur lisogenik (pada bakteri) atau infeksi persisten pada sel eukariot, di mana virus terus-menerus menghasilkan keturunan baru secara perlahan tanpa melisiskan sel, seperti pada infeksi Hepatitis B kronis.
  • Latensi: Mirip dengan lisogeni pada bakteri, virus seperti Herpes simplex memasuki fase dorman. Genomnya tetap ada di dalam sel (di dalam nukleus), tetapi tidak aktif bereplikasi. Virus dapat “bangun” (reaktivasi) di kemudian hari karena pemicu seperti stres atau penurunan imunitas, menyebabkan kekambuhan penyakit.

Mekanisme Pertahanan Non-Spesifik: Interferon

Sel inang tidak pasif. Salah satu senjata pertahanan non-spesifik terpenting melawan virus adalah interferon. Ketika sebuah sel mendeteksi infeksi virus (misalnya, melalui keberadaan RNA virus di sitoplasmanya), sel tersebut akan memproduksi dan melepaskan protein interferon. Interferon ini tidak langsung menyerang virus, melainkan berfungsi sebagai “sistem peringatan dini”. Ia berdifusi ke sel-sel di sekitarnya dan mengikat reseptor di permukaannya, memicu sel-sel tersebut untuk memasuki keadaan “siaga antivirus”.

Dalam keadaan ini, sel meningkatkan produksi protein yang dapat menghambat sintesis protein virus, mendegradasi RNA virus, dan secara umum membuat lingkungan sel menjadi kurang bersahabat bagi replikasi virus.

Viroid dan Prion: Agen Infeksius yang Lebih Sederhana

Di luar virus, ada entitas infeksius yang bahkan lebih sederhana dan menantang pemahaman kita. Viroid adalah molekul RNA sirkular kecil telanjang tanpa kapsid protein sama sekali. Mereka hanya menginfeksi tumbuhan, mengganggu regulasi gen dan menyebabkan penyakit seperti pada kentang dan jeruk. Sementara itu, prion lebih misterius lagi. Mereka bukan asam nukleat, melainkan protein yang terlipat secara abnormal.

Prion yang menular dapat menyebabkan protein normal di otak (misalnya, protein PrP) berubah bentuk menjadi bentuk prion juga, menumpuk, dan menyebabkan degenerasi saraf yang fatal. Penyakit sapi gila (BSE) dan Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD) pada manusia disebabkan oleh prion.

Peran Virus dalam Terapi Gen dan Bioteknologi

Di balik sifatnya yang merusak, virus justru dimanfaatkan dalam bioteknologi modern. Kemampuan virus untuk memasukkan materi genetiknya ke dalam sel inang dengan efisien dimanfaatkan dalam terapi gen. Virus yang telah dilucuti gen penyakitnya dan dimasuki gen terapi dijadikan sebagai “kendaraan” atau vektor untuk mengantarkan gen penyembuhan ke dalam sel pasien. Adenovirus dan Lentivirus (keluarga Retrovirus) adalah vektor yang umum digunakan.

Dalam penelitian, bakteriofag digunakan untuk mempelajari genetika molekuler. Bahkan, terapi fag (menggunakan virus untuk membunuh bakteri) sedang dikembangkan kembali sebagai alternatif potensial menghadapi ancaman resistensi antibiotik.

Ringkasan Terakhir

Jadi, begitulah sekelumit kisah tentang virus, entitas yang menantang segala definisi konvensional kita tentang hidup dan mati. Mereka mengajarkan kita bahwa dalam kesederhanaan yang ekstrem tersimpan kompleksitas strategi yang luar biasa. Memahami daur hidup, struktur, dan sifat metagenorganisme mereka bukan cuma urusan hafalan biologi, tapi langkah krusial untuk mengantisipasi ancaman kesehatan masa depan dan memanfaatkan potensi mereka dalam bioteknologi. Pengetahuan ini adalah senjata terbaik kita dalam dialog tak berkesudahan dengan dunia mikro yang tak kasat mata.

FAQ dan Panduan: Penjelasan Daur Lisis, Lisogenik, Struktur, Ciri, Dan Metagenorganisme Virus

Apakah virus bisa mati?

Virus tidak bisa “mati” seperti organisme hidup karena tidak memiliki metabolisme. Mereka lebih tepat disebut tidak aktif (inaktif) atau terdenaturasi ketika struktur protein atau asam nukleatnya rusak, misalnya oleh panas, bahan kimia, atau radiasi, sehingga kehilangan kemampuan menginfeksi.

Mengapa antibiotik sama sekali tidak mempan untuk melawan virus?

Antibiotik dirancang untuk mengganggu proses metabolisme atau struktur sel bakteri yang hidup, seperti pembentukan dinding sel atau sintesis protein. Virus tidak memiliki proses metabolisme atau struktur seluler tersebut, sehingga antibiotik tidak punya target untuk diserang.

Apa itu “virus tidur” dan bagaimana bisa bangun kembali?

“Virus tidur” merujuk pada virus dalam daur lisogenik atau infeksi persisten yang tidak aktif bereplikasi. Mereka bisa “bangun” (induksi) akibat pemicu stres pada sel inang, seperti radiasi UV, paparan bahan kimia tertentu, atau penurunan imunitas, yang menyebabkan profage atau genom virus memulai daur litik.

Apakah ada manfaat virus bagi manusia selain sebagai vaksin?

Ya. Dalam terapi gen, virus yang dimodifikasi digunakan sebagai “kendaraan” (vektor) untuk menyisipkan gen sehat ke dalam sel pasien. Dalam ekologi, bakteriofag (virus pemangsa bakteri) bisa digunakan sebagai alternatif antibiotik (fagoterapi) dan mengontrol populasi bakteri di lingkungan.

Bagaimana cara virus yang hanya terdiri dari protein (prion) bisa “bereplikasi”?

Prion tidak bereplikasi seperti virus. Mereka adalah protein yang salah lipat (misfolded) yang dapat menginduksi protein normal sejenis dalam sel inang untuk berubah menjadi bentuk salah lipat juga. Proses ini menumpuk protein abnormal yang merusak, terutama di jaringan saraf, dan menular.

Leave a Comment