Alasan Masjid Zahir Dibangun Simbol Kejayaan Kedah

Alasan Masjid Zahir Dibangun ternyata bukan sekadar untuk tempat ibadah biasa, lho. Bayangkan, di jantung Alor Setar, ada sebuah mahakarya yang berdiri gagah sejak 1912, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Kedah. Masjid ini adalah buah pemikiran dan dedikasi Sultan Muhammad Jiwa Zainal Abidin II, yang membangunnya di atas bekas lokasi pertempuran, mengubah narasi perang menjadi pusat kedamaian dan pencerahan.

Arsitekturnya yang megah dengan lima kubah besar itu bukan cuma untuk keindahan, tapi adalah pernyataan tegas tentang identitas dan kedaulatan.

Lebih dalam lagi, pembangunan Masjid Zahir adalah jawaban atas kebutuhan akan sebuah landmark peradaban Islam yang memadukan fungsi religius, sosial, dan politik. Ia dirancang sebagai pusat gravitasi baru bagi masyarakat, tempat di mana nilai-nilai Islam bersenyawa dengan kearifan lokal Melayu. Dari proses pembangunannya yang melibatkan tokoh-tokoh kunci dan dana dari kas kesultanan, hingga pemilihan nama “Zahir” yang bermakna “yang nyata” atau “yang menonjol”, semua elemen itu berkumpul untuk menciptakan sebuah monumen hidup yang terus berdenyut hingga hari ini.

Latar Belakang dan Sejarah Pembangunan

Alasan Masjid Zahir Dibangun

Source: googleusercontent.com

Sebelum Masjid Zahir berdiri megah, Alor Setar, sebagai ibu kota Kesultanan Kedah, sudah memiliki beberapa masjid. Namun, ada sebuah keinginan yang menggelora dari Sultan untuk membangun sebuah masjid negara yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi monumen kebanggaan dan identitas Islam yang kuat bagi seluruh rakyat Kedah. Pada awal abad ke-20, semangat kemajuan dan pembangunan fisik sedang gencar-gencarnya, dan pembangunan masjid agung menjadi bagian dari narasi tersebut.

Tokoh Kunci dan Garis Waktu Pembangunan

Inisiatif pembangunan Masjid Zahir dipelopori oleh Sultan Abdul Hamid Halim Shah, Sultan Kedah ke-25. Beliau adalah penguasa yang visioner dan sangat memperhatikan perkembangan agama serta infrastruktur negerinya. Dana pembangunan masjid ini sepenuhnya berasal dari wakaf Sultan dan keluarga kerajaan, menunjukkan komitmen pribadi yang sangat besar. Proses pembangunannya sendiri berlangsung dalam kurun waktu yang relatif singkat namun penuh ketelitian.

  • 1913: Sultan Abdul Hamid Halim Shah memerintahkan pembangunan Masjid Zahir di atas tanah bekas lokasi benteng Kota Setar.
  • 1915: Peletakan batu pertama sekaligus awal konstruksi masjid.
  • 15 Oktober 1915: Masjid Zahir diresmikan dan digunakan untuk pertama kalinya untuk salat Jumat. Tanggal ini kemudian diperingati setiap tahun.

Desain awal masjid, dengan lima kubah hitam besar yang menjadi ciri khasnya, pada dasarnya sudah sangat mirip dengan yang kita lihat sekarang. Perubahan yang terjadi lebih pada pemeliharaan, pengecatan ulang, dan penambahan fasilitas pendukung seperti plaza dan tempat wudhu yang lebih modern, tanpa mengubah struktur dan wajah arsitektur utamanya yang telah ditetapkan sejak awal.

BACA JUGA  Lembaga Keadilan untuk Menegakkan HAM yang Dibentuk Solon Reformasi Hukum Athena

Nah, pembangunan Masjid Zahir di Kedah itu punya sejarah yang dalam, lho, sebagai simbol kemenangan dan identitas. Ceritanya bakal makin seru kalau kita paham konteks geografis dan politiknya, termasuk memahami betul Pengertian Wilayah NKRI sebagai sebuah kesatuan yang utuh. Dengan memahami batas-batas kedaulatan itu, kita jadi lebih menghargai alasan mengapa masjid megah ini didirikan untuk memperkuat akar budaya dan spiritual di tanahnya.

Makna Filosofis dan Simbolik

Setiap pilihan dalam pembangunan Masjid Zahir sarat dengan makna yang dalam, mulai dari tanah tempatnya berpijak hingga nama yang disandangnya. Ini bukan sekadar bangunan, tapi sebuah pernyataan yang dibangun dari batu dan rohani.

Lokasi dan Nama “Zahir”

Masjid ini dibangun di atas tapak bekas medan perang, tepatnya di tempat para pahlawan Kedah gugur mempertahankan negeri dari serangan Siam pada tahun
1821. Pemilihan lokasi ini adalah sebuah simbol transformasi yang powerful: dari tanah yang disirami darah para syuhada menjadi rumah untuk mengingat Keagungan Ilahi. Nama “Zahir” sendiri diambil dari gelar Sultan yang membangunnya, “Zahiruddin”. Dalam bahasa Arab, “Zahir” berarti “yang nyata” atau “yang tampak”.

Nama ini merefleksikan harapan agar masjid ini menjadi manifestasi nyata dari keimanan, sekaligus pusat peradaban Islam yang menonjol dan terlihat oleh semua.

Simbol Arsitektur dan Identitas Kedah

Lima kubah hitam besar yang menjadi mahkota Masjid Zahir adalah simbol paling mencolok. Angka lima jelas merujuk pada Rukun Islam, pondasi dasar kehidupan seorang Muslim. Warna hitam pada kubah, yang langka pada masanya, memberikan kesan megah, anggun, dan berwibawa. Desain keseluruhan masjid, meski terinspirasi dari luar, sepenuhnya dibangun oleh tukang-tukang lokal Kedah. Hal ini menjadikan Masjid Zahir bukan hanya rumah ibadah, tetapi juga kebanggaan lokal, sebuah monumen yang menunjukkan kemampuan dan kearifan masyarakat Melayu-Kedah dalam mengadopsi dan mengadaptasi gaya arsitektur global tanpa kehilangan jati diri.

Arsitektur dan Desain Bangunan: Alasan Masjid Zahir Dibangun

Keindahan Masjid Zahir langsung menyergap pandangan siapa pun yang mendekatinya. Gaya arsitekturnya adalah sebuah dialog elegan antara tradisi Islam, pengaruh global, dan sentuhan lokal. Ia sering dijuluki sebagai salah satu masjid terindah di Asia Tenggara, dan gelar itu sama sekali tidak berlebihan.

Elemen Arsitektur Utama

Dominasi lima kubah hitam besar adalah pemandangan pertama yang tak terlupakan. Kubah utama yang terbesar diapit oleh empat kubah lainnya di setiap penjuru, semuanya berbentuk bawang dengan puncak runcing. Menara tunggalnya yang ramping, juga berwarna hitam, berdiri dengan gagah di sisi masjid. Bagian mihrab, atau ceruk imam, dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an yang rumit dan indah. Ornamen geometris dan floral yang khas seni Islam menghiasi banyak bagian fasad dan interior, menciptakan pola yang berirama dan menenangkan.

Bagian Bangunan Material & Ornamen Fungsi Utama Inspirasi Desain
Kubah (5 buah) Struktur beton, dilapisi cat hitam; puncak runcing (finial) Atap utama; simbol Rukun Islam; penanda visual ikonik. Masjid Sultan Riau-Pulau Penyengat & Masjid Azizi di Langkat; dengan adaptasi warna hitam.
Menara Struktur beton, cat hitam; beranda kecil di puncak. Tempat muadzin mengumandangkan azan; penanda waktu salat. Gaya menara Ottoman, tetapi dengan proporsi yang lebih ramping.
Mihrab & Mimbar Kayu ukir dan batu; kaligrafi ayat Al-Qur’an; ornamen geometris. Mihrab sebagai penunjuk arah kiblat; Mimbar untuk khotbah. Seni kaligrafi dan ukiran tradisional Melayu-Islam.
Interior Ruang Salat Lantai marmar, pilar-pilar kokoh, lampu gantung kristal, ventilasi alus. Ruang utama berjemaah; menciptakan atmosfer tenang dan khidmat. Konsep ruang luas masjid-masjid besar Turki, dengan pendinginan alami khas tropis.
BACA JUGA  Setarakan reaksi KCSN dengan AgNO₃ Panduan Lengkap dan Praktis

Pengaruh arsitektur Masjid Zahir sangat kuat dari Masjid Sultan Riau-Pulau Penyengat dan Masjid Azizi di Langkat, Indonesia. Namun, arsiteknya, Syeikhul Hajj Sa’ad bin Said, berhasil menyaring inspirasi itu dan menciptakan sebuah masterpiece yang khas Kedah. Suasana interiornya luas, lapang, dan sejuk. Pilar-pilar putih yang kokoh menopang struktur, sementara lantai marmar yang dingin memberikan kenyamanan. Pencahayaan alus dari jendela-jendela besar dan lampu gantung kristal menambah aura sakral saat waktu salat tiba.

Peran dan Fungsi Sosial Kemasyarakatan

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah yang fotogenik, Masjid Zahir berdenyut sebagai jantung kehidupan masyarakat Muslim Kedah. Fungsinya meluas jauh dari ritual ibadah harian, merambah ke ranah pendidikan, sosial, dan budaya.

Pusat Aktivitas Keagamaan dan Pendidikan, Alasan Masjid Zahir Dibangun

Setiap hari, masjid ini menjadi titik kumpul untuk salat lima waktu dan Jumat. Suara azan dari menaranya adalah penanda waktu yang diandalkan warga. Namun, aktivitasnya tidak berhenti di sana. Masjid Zahir menjadi tempat penyelenggaraan sekolah agama, pengajian kitab untuk semua usia, kelas membaca Al-Qur’an (tahsin), serta ceramah-ceramah keislaman dari ulama lokal maupun nasional.

  • Penyelenggaraan majelis taklim rutin untuk ibu-ibu dan remaja.
  • Kelas bahasa Arab dan Fardhu Ain untuk anak-anak.
  • Menjadi tempat konsultasi dan bimbingan keluarga (rukyah syar’iyyah).
  • Pusat koordinasi zakat, fitrah, dan sedekah untuk disalurkan kepada asnaf.
  • Tempat pelaksanaan akad nikah dan upacara keagamaan lainnya.

Pemelihara Tradisi dan Penanda Peradaban

Masjid Zahir juga aktif memelihara tradisi Melayu-Islam yang khas, seperti kenduri kesyukuran, peringatan maulidur Rasul, dan bacaan berzanji. Keberadaannya yang ikonik telah menyatu dengan identitas Kota Alor Setar. Ia adalah landmark pertama yang dicari, sebuah kebanggaan kolektif yang terus dipupuk dari generasi ke generasi.

“Masjid Zahir bukan cuma kubah hitam dan menara. Ia adalah nafas Kedah. Dari sinilah denyut Islam di negeri ini bermula, dari lokasi syuhada ia dibangun, menjadi mercusuar yang mengingatkan kita bahwa peradaban dimulai dari sujud yang ikhlas dan komunitas yang bersatu.”

Warisan dan Pengakuan

Nilai historis, arsitektural, dan sosial Masjid Zahir telah diakui secara resmi, mengukuhkannya bukan hanya sebagai aset Kedah, tetapi sebagai warisan bernilai nasional dan bahkan internasional.

Status Warisan dan Prestasi

Masjid Zahir telah ditetapkan sebagai Bangunan Warisan Kebangsaan di bawah Jabatan Warisan Negara Malaysia. Ini adalah pengakuan tertinggi atas signifikansi sejarah dan budayanya. Prestasi yang paling membanggakan adalah ketika masjid ini dinobatkan sebagai Masjid Terindah Ketiga di Dunia oleh sebuah portal perjalanan global, menempatkannya di peta dunia pariwisata religi. Di tingkat nasional, ia sering disebut sebagai salah satu dari sepuluh masjid terindah di Malaysia.

BACA JUGA  Yang Memberi Nama Romadhon Asal Usul dan Maknanya

Upaya Pelestarian dan Signifikansi

Pemeliharaan masjid dilakukan secara berkala dan sangat hati-hati oleh pihak Kesultanan Kedah bersama dengan Jabatan Agama Islam Kedah. Setiap renovasi atau penambahan fasilitas selalu mempertimbangkan aspek autentisitas dan keaslian bentuk aslinya. Jika dibandingkan dengan masjid bersejarah lain di Malaysia, seperti Masjid Kampung Laut di Kelantan atau Masjid Jamek Sultan Ibrahim di Johor, signifikansi Masjid Zahir terletak pada perpaduan yang sempurna antara nilai sejarah lokasi, keunikan desain arsitektur (kubah hitam), dan perannya yang tak tergantikan sebagai masjid negara bagi sebuah kesultanan yang masih bertahan.

Ia adalah simbol hidup yang terus berfungsi, bukan sekadar monumen yang diam.

Ringkasan Terakhir

Jadi, kalau ditanya apa inti dari semua pembahasan ini, jawabannya jelas: Masjid Zahir bukan cuma bangunan dari batu dan mortar. Ia adalah narasi yang dibangun, warisan yang dirawat, dan jiwa yang hidup. Keberadaannya mengajarkan bahwa sebuah bangunan suci bisa melampaui fungsinya, menjadi guru sejarah, penjaga tradisi, dan pemersatu komunitas. Melihatnya yang tetap kokoh dan berfungsi hingga sekarang, kita diajak untuk menghargai setiap upaya pelestarian dan memahami bahwa warisan semacam inilah yang membentuk karakter sebuah bangsa.

Masjid Zahir mengingatkan kita bahwa di balik setiap kubah dan menara, tersimpan cerita tentang alasan manusia berbudaya dan beriman.

Nah, kalau kamu penasaran kenapa Masjid Zahir dibangun di atas makam pahlawan, itu kan erat dengan sejarah dan penghormatan. Untuk memahami narasi seperti ini, penting banget lho mengerti struktur bahasa, misalnya dengan Cara Menentukan Preposisi dalam Kalimat agar penjelasan “dibangun di atas” atau “untuk mengenang” jadi lebih tepat. Jadi, alasan pendiriannya pun bisa kita tangkap lebih mendalam, bukan sekadar fakta biasa.

FAQ Terkini

Apakah Masjid Zahir masih menggunakan arsitektur asli 100 persen?

Tidak sepenuhnya. Meski struktur utama dan desain eksterior tetap dipertahankan, tentu ada pemeliharaan, renovasi, dan penambahan fasilitas modern di beberapa bagian untuk kenyamanan jamaah, seperti sistem audio, listrik, dan sanitasi, tanpa mengorbankan keaslian bentuk dan ornamen utamanya.

Bolehkah wisatawan non-Muslim masuk ke dalam Masjid Zahir?

Boleh, dengan syarat dan ketentuan tertentu seperti mengenakan pakaian yang sopan dan menutup aurat (jubah biasanya disediakan), menghormati waktu salat, serta tidak mengganggu kegiatan ibadah. Pengunjung disarankan untuk mengecek jam kunjungan yang berlaku.

Mengapa kubah Masjid Zahir berjumlah lima, apakah ada makna khusus?

Ya, lima kubah utama itu sering diinterpretasikan melambangkan lima Rukun Islam, yang merupakan fondasi utama ajaran agama. Simbolisme ini memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pendidikan dan pengamalan ajaran Islam.

Apakah ada masjid lain di dunia yang mirip dengan Masjid Zahir?

Desain Masjid Zahir terinspirasi kuat dari Masjid Azizi di Langkat, Indonesia, dan secara tidak langsung memiliki kemiripan gaya dengan masjid-masjid Kesultanan Utsmaniyah, terutama dalam bentuk kubah besarnya, meski tetap memiliki karakter Melayu yang kental.

Selain salat, aktivitas komunitas apa yang paling populer di Masjid Zahir?

Selain jadi pusat salat Jumat dan hari raya, masjid ini aktif menyelenggarakan pengajian, kelas mengaji Al-Qur’an untuk semua usia, ceramah agama, pernikahan, serta menjadi titik distribusi bantuan sosial untuk masyarakat sekitar.

Leave a Comment