Cerita tentang Kapal Titanic itu bukan cuma sekadar catatan sejarah yang usang, melainkan sebuah narasi epik tentang ambisi manusia yang bersinggungan dengan takdir alam. Bayangkan, sebuah istana terapung yang diagung-agungkan sebagai “tidak mungkin tenggelam” justru menemui ajalnya di pelayaran perdananya. Kita akan menyelami lebih dalam, dari pesta pora di dek kelas satu hingga kepanikan di malam yang membekukan, untuk memahami bagaimana simbol kemajuan industri itu akhirnya menjadi pelajaran paling mahal bagi dunia.
Kapal raksasa dengan panjang sekitar 269 meter itu dibangun dengan segala keangkuhan teknologi awal 1900-an, lengkap dengan fasilitas mewah seperti kolam renang, gym, dan restoran berkelas bagi penumpang istimewanya. Namun, di balik kemewahan itu, tersimpan serangkaian keputusan keliru dan kepercayaan diri yang berlebihan. Perjalanan empat hari yang seharusnya menjadi kemenangan, berubah menjadi drama kemanusiaan yang paling menyentuh, mengukir nama Titanic bukan sebagai yang tercepat, tetapi sebagai yang paling dikenang.
Latar Belakang dan Konstruksi Kapal Titanic
Pada awal abad ke-20, dunia pelayaran samudera sedang dalam euforia persaingan. Perusahaan-perusahaan seperti White Star Line dan Cunard saling adu gengsi untuk menciptakan kapal terbesar, tercepat, dan termewah. Titanic lahir dari ambisi itu, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih mengejar pita biru untuk kecepatan tertinggi, White Star Line, dibawah kendali J. Bruce Ismay, memilih fokus pada kemewahan, kenyamanan, dan yang terpenting, ukuran yang belum pernah ada sebelumnya.
Titanic dan dua kapal saudarinya, Olympic dan Britannic, adalah proyek “Kelas Olympic” yang dirancang untuk menjadi simbol tak terbantahkan dari kecanggihan teknologi manusia dan kejayaan industri.
Visi ini bukan sekadar soal bisnis, melainkan pernyataan kebanggaan nasional Inggris dan keyakinan bahwa manusia telah menaklukkan alam. Kapal ini dipromosikan sebagai “tidak dapat tenggelam”, sebuah klaim yang lebih didasarkan pada kepercayaan publik terhadap teknologi modern daripada analisis teknis yang mendalam. Setiap bagian dari Titanic, mulai dari lunasnya yang kokoh hingga interiornya yang megah, dibangun dengan keyakinan bahwa ia adalah puncak pencapaian peradaban.
Spesifikasi Teknis dan Fasilitas Mewah, Cerita tentang Kapal Titanic
Untuk memahami betapa besarnya Titanic, bayangkan sebuah bangunan raksasa yang mengapung. Kapal ini bukan hanya besar; ia dirancang dengan presisi insinyur untuk menawarkan stabilitas dan keandalan yang belum pernah terjadi. Di bawah lapisan kemewahan, terdapat mesin uap raksasa dan rangka baja yang rumit. Sementara itu, bagi penumpang kelas satu, Titanic adalah istana terapung yang menawarkan pengalaman hidup yang setara dengan hotel-hotel terbaik di darat.
| Kategori | Spesifikasi | Detail | Catatan |
|---|---|---|---|
| Dimensi | Panjang: 269 meter Lebar: 28 meter Tinggi dari lunas ke anjungan: 32 meter |
Bobot mati: 46.328 ton | Setara dengan gedung setinggi 11 lantai. |
| Propulsi | 2 mesin uap empat silinder triple-expansion 1 turbin Parsons bertekanan rendah |
Total tenaga: 46.000 HP Kecepatan maks: 23 knot (42.5 km/jam) |
Menggunakan 825 ton batu bara per hari. |
| Kapasitas | Penumpang: 2.435 orang Awak: 892 orang |
Total: 3.327 jiwa di kapal | Didesain untuk membawa 64 sekoci kayu, tetapi hanya dipasang 20. |
| Kemewahan | Kolam renang, gym, lapangan squash, pemandian Turki, kafe Parisien, ruang penerimaan bergaya Louis XIV. | Tangga besar kelas satu dengan kubah kaca dan jam kayu oak. | Interior kelas satu meniru Istana Versailles dan Hotel Ritz. |
Titanic dibangun di galangan kapal Harland and Wolff di Belfast, Irlandia Utara. Proses pembangunannya dimulai pada 31 Maret 1909. Ribuan pekerja, dari tukang las hingga pengukir kayu, menghabiskan waktu lebih dari dua tahun untuk menyelesaikan sang raksasa. Kapal akhirnya diluncurkan pada 31 Mei 1911, dan setelah melalui fase perlengkapan interior yang panjang, ia siap untuk pelayaran perdananya pada April 1912.
Seluruh proses ini adalah sebuah mozaik kerja keras, keahlian teknis, dan ambisi yang tak terbatas.
Perjalanan Perdana dan Detik-Detik Menuju Tragedi
Pelayaran perdana Titanic dari Southampton, Inggris, menuju New York City, Amerika Serikat, adalah sebuah peristiwa sosial yang sangat dinantikan. Kapal berangkat pada hari Rabu, 10 April 1912, di tengah sorotan media dan antusiasme publik. Rutenya direncanakan dengan cermat: singgah di Cherbourg, Prancis, dan Queenstown (sekarang Cobh), Irlandia, untuk menaikkan penumpang terakhir, sebelum melaju melintasi Samudra Atlantik menuju tujuan akhir. Perjalanan ini seharusnya menjadi kemenangan besar bagi White Star Line, sebuah demonstrasi sempurna dari kehebatan kapal mereka di hadapan para penumpang ternama dan masyarakat dunia.
Namun, di balik kemewahan dan keceriaan di geladak, Atlantik Utara pada bulan April adalah wilayah yang berbahaya. Musim semi membawa serta gunung-gunung es yang terlepas dari gletser Greenland, hanyut ke jalur pelayaran utama. Laporan-laporan peringatan tentang es mulai berdatangan melalui telegram nirkabel Marconi, tetapi tidak semua sampai ke anjungan kapal dengan tingkat urgensi yang semestinya. Cuaca dingin yang tenah justru menciptakan kondisi ilusi optik yang menyulitkan para pengintai di menara untuk mendeteksi bahaya di kejauhan.
Kronologi dari Keberangkatan Hingga Tabrakan
Source: akamaized.net
Rentang waktu dari 10 hingga 14 April 1912 adalah narasi yang bergerak dari optimisme menuju bencana. Setiap hari membawa kapal lebih jauh ke lautan dan, tanpa disadari, lebih dekat ke titik takdirnya. Urutan peristiwa berikut menggambarkan bagaimana rutinitas pelayaran berubah menjadi krisis dalam hitungan jam.
- 10 April, siang: Titanic berangkat dari Southampton, nyaris bertabrakan dengan kapal New York karena hisapan air dari baling-balingnya yang besar.
- 10 April, malam: Berlabuh di Cherbourg untuk menaikkan penumpang.
- 11 April, siang: Berlabuh di Queenstown, menaikkan penumpang dan surat terakhir yang akan dikirim dari kapal.
- 11 April, sore: Melayar ke Atlantik terbuka dengan kecepatan penuh (22 knot).
- 14 April, sepanjang hari: Beberapa peringatan es dari kapal lain diterima di ruang nirkabel, tetapi pesan kritis dari SS Mesaba terhalang oleh lalu lintas komunikasi penumpang.
- 14 April, 23:40: Pengintai Frederick Fleet melihat gunung es tepat di depan haluan. Bel kapal berbunyi tiga kali dan telepon ke anjungan menyampaikan pesan terkenal: “Iceberg, right ahead!”.
Momen Tabrakan dari Anjungan Kapal
Di anjungan kapal, Malam yang tenah dan dingin tiba-tiba berubah menjadi kekacauan yang teratur. Setelah peringatan Fleet, Petugas Pertama William Murdoch segera memerintahkan “Hard-a-starboard” (belok kiri) dan membalik mesin ke mundur penuh. Dari sudut pandang Kapten Smith yang mungkin sedang beristirahat di kamarnya, getaran keras dan suara gesekan logam yang mengerikan pasti menjadi pertanda buruk. Meskipun manuver menghindar dilakukan, bagian bawah gunung es yang tak terlihat menggores lambung kanan kapal sepanjang kurang lebih 90 meter, merobek pelat baja dan membuka enam dari enam belas kompartemen kedap air ke lautan.
Dalam hitungan detik, Kapten Smith tahu nasib kapalnya. Prinsip desain yang menyatakan kapal dapat tetap mengapung dengan empat kompartemen banjir telah dilanggar; enam kompartemen yang bocor berarti Titanic ditakdirkan untuk tenggelam.
Evakuasi dan Upaya Penyelamatan yang Kacau
Setelah tabrakan, realitas mengerikan perlahan-lahan menyebar di antara awak kapal. Sementara banyak penumpang awalnya mengabaikan getaran dan melanjutkan aktivitas mereka, para perwira dan insinyur di bawah dek sudah melihat air laut yang membanjiri dengan cepat. Perintah untuk membangunkan penumpang dan mempersiapkan sekoci dikeluarkan sekitar tengah malam, tetapi tidak ada latihan darurat yang melibatkan semua penumpang sebelumnya. Akibatnya, kebingungan dan, pada banyak kasus, penyangkalan, melanda.
Proses evakuasi yang seharusnya menjadi prosedur terorganisir justru berubah menjadi adegan kepanikan dan ketidakadilan yang tragis, di mana kelas dan gender sering kali menjadi penentu hidup dan mati.
Di tengah kekacauan ini, teknologi nirkabel Marconi menjadi harapan terakhir. Operator Jack Phillips dan Harold Bride bekerja tanpa henti di ruang radio yang mulai kebanjiran, mengirimkan sinyal distress “CQD” dan yang lebih baru, “SOS”. Panggilan mereka diterima oleh beberapa kapal, tetapi yang terdekat, SS Californian, justru mematikan nirkabelnya untuk malam itu dan awaknya salah mengartikan suar darurat Titanic sebagai hal yang tidak penting.
Nasib ribuan jiwa bergantung pada kapal yang lebih jauh, RMS Carpathia, yang berlayar dengan kecepatan maksimum melalui ladang es berbahaya untuk mencapai lokasi.
Perbandingan Prosedur Evakuasi Antar Kelas
Akses ke geladak dan informasi menjadi pembeda utama antara penumpang kelas satu, dua, dan tiga. Struktur fisik kapal, dengan pagar pemisah dan tangga yang berakhir di geladak kelas dua, secara fisik menghalangi banyak penumpang kelas tiga untuk mencapai sekoci dengan mudah. Selain itu, kebijakan “wanita dan anak-anak dahulu” diterapkan dengan tingkat ketegasan yang berbeda oleh perwira yang berbeda di berbagai bagian kapal.
| Kelas | Akses ke Geladak Sekoci | Informasi yang Diterima | Tingkat Pengawasan Awak |
|---|---|---|---|
| Kelas Satu | Langsung dari ruang penerimaan besar dan suite pribadi ke Geladak Boat. Mudah dan cepat. | Dihubungi secara pribadi oleh pramutama kabin. Diyakinkan bahwa sekoci adalah tindakan pencegahan. | Penuh. Banyak perwira senior berada di area ini, memastikan wanita dan anak-anak naik. |
| Kelas Dua | Harus naik tangga ke Geladak Boat, tetapi jalurnya relatif jelas dan tanpa halangan fisik besar. | Diinstruksikan untuk memakai pelampung dan naik ke geladak, tetapi sering tanpa penjelasan mendesak. | Cukup. Awak hadir untuk mengarahkan, tetapi jumlahnya lebih sedikit. |
| Kelas Tiga | Rumit. Banyak koridor buntu, tangga yang berakhir di geladak tertutup, dan pagar pemisah yang terkunci. Menyebabkan kebingungan. | Sering terlambat dan tidak jelas. Banyak yang tidak mengerti bahasa Inggris. Suara alarm mesin mengganggu instruksi. | Sangat minim. Hanya sedikit awak yang bertugas membimbing ratusan penumpang melalui labirin dek bawah. |
Kedatangan Sang Penyelamat: RMS Carpathia
Setelah berlayar sepanjang malam dengan risiko tinggi, Carpathia tiba di lokasi koordinat yang diberikan Titanic sekitar pukul 04:00 pagi, hampir satu setengah jam setelah Titanic tenggelam. Yang mereka temukan hanyalah lautan yang sunyi, bertabur puing-puing kayu, kursi lipat, dan tubuh yang mengenakan jaket pelampung. Di antara kegelapan, mereka melihat sekoci-kecoci yang tersebar. Proses penyelamatan berlangsung hingga sekitar pukul 08:30, dengan menggunakan jaring dan kursi tali untuk menaikkan 705 orang yang selamat ke kapal yang hangat.
Kapten Arthur Rostron dari Carpathia memerintahkan segala sumber daya disiapkan: selimut, makanan panas, dan ruang umum dialihfungsikan sebagai ruang perawatan. Gambaran kesedihan di wajah para penyintas, yang menyaksikan orang yang mereka cintai hilang dalam kegelapan dan dingin yang membekukan, menjadi memori yang melekat pada semua awak Carpathia yang heroik itu.
Penyelidikan, Perubahan Hukum, dan Warisan yang Abadi
Setelah kejutan dan duka awal, dunia menuntut pertanggungjawaban. Bagaimana mungkin kapal yang disebut “tidak dapat tenggelam” justru tenggelam pada pelayaran perdananya? Dua penyelidikan resmi besar segera digelar: satu oleh Senat Amerika Serikat di bawah Senator William Alden Smith, dan satu lagi oleh Komisioner Bangkai Kapal Inggris yang dipimpin Lord Mersey. Keduanya mewawancarai puluhan saksi, termasuk para penyintas dan ahli, untuk menyusun narasi yang komprehensif tentang sebab musabab tragedi.
Temuan mereka tidak hanya tentang kesalahan teknis atau manusia, tetapi menjadi fondasi bagi revolusi dalam keselamatan maritim internasional.
Sementara itu, bangkai Titanic yang hilang menjadi misteri besar selama 73 tahun. Pencariannya melibatkan teknologi sonar mutakhir dan obsesi pribadi, hingga akhirnya dipimpin oleh oceanographer Dr. Robert Ballard bersama tim Prancis yang menemukannya pada 1 September 1985. Penemuan itu, di kedalaman 3.800 meter di dasar laut, bukan hanya memecahkan misteri, tetapi juga mengubah tragedi dari legenda menjadi realitas fisik yang rapuh.
Kondisinya yang perlahan-lahan dimakan bakteri pemakan besi menjadi metafora yang menyedihkan tentang betapa cepatnya kemegahan manusia bisa sirna.
Temuan Kunci Dua Penyidik Resmi
Penyelidikan Amerika dan Inggris memiliki fokus dan kesimpulan yang sedikit berbeda, mencerminkan kepentingan nasional dan sudut pandang mereka terhadap industri pelayaran.
Penyelidikan Senat AS (Amerika Serikat): “Kami menyimpulkan bahwa tragedi ini disebabkan oleh pelayaran dengan kecepatan tinggi di daerah yang diketahui berbahaya karena adanya es, tanpa mengurangi kecepatan sesuai dengan kondisi. Kapten Smith gagal memastikan peringatan es yang diterima sampai ke anjungan. Lebih jauh, jumlah sekoci yang tidak memadai dan evakuasi yang tidak terorganisir memperbesar korban jiwa. Kami juga menilai negatif perilaku J. Bruce Ismay yang selamat, meskipun tidak melanggar hukum.”
Penyelidikan Komisioner Bangkai Kapal Inggris (Inggris): “Kecelakaan ini disebabkan oleh kerusakan besar pada lambung kapal akibat tabrakan dengan gunung es, yang mengakibatkan banjir pada kompartemen-kompartemennya. Kerusakan ini, pada gilirannya, disebabkan oleh kecepatan kapal yang dipertahankan meskipun telah menerima peringatan es. Penyelidikan ini tidak menemukan bukti bahwa para perwira atau awak kapal lalai dalam tugas mereka setelah tabrakan terjadi. Fokus utama adalah pada desain sekoci dan regulasi yang sudah ketinggalan zaman.”
Warisan dalam Budaya Populer dan Memori Kolektif
Titanic tidak pernah benar-benar tenggelam dari kesadaran kita. Ia hidup melalui puluhan buku, dokumenter, film, dan lagu. Setiap generasi menemukan kembali ceritanya. Film James Cameron tahun 1997 bukan hanya blockbuster, tetapi sebuah fenomena budaya yang memperkenalkan tragedi kepada generasi baru, dengan fokus pada kisah cinta fiksi yang dibingkai oleh rekreasi sejarah yang teliti. Museum seperti Titanic Belfast di lokasi pembuatannya, atau pameran keliling artefak, memungkinkan kita untuk berdiri di replika tangga besar atau menyentuh sebuah batu bara dari ruang ketel, menciptakan hubungan fisik dengan masa lalu.
Titanic telah berubah dari sebuah kapal menjadi sebuah cerita peringatan—tentang ambisi, kelas sosial, ketidaksetaraan, dan kerapuhan manusia di hadapan alam. Ia adalah mitos modern yang terus kita ceritakan untuk memahami siapa kita.
Kisah Titanic yang tragis itu, ya, ibarat bisnis yang gagal paham pasar. Mereka jual kemewahan tanpa tahu apa yang benar-benar dibutuhkan penumpang di tengah samudra. Mirip banget nih sama bahasan tentang Perbedaan Selling Concept, Marketing Concept, dan MAR yang penting banget buat strategi. Kalau aja dulu mereka pakai marketing concept yang fokus pada kebutuhan, bukan cuma jualan gagah, mungkin cerita akhir kapal legendaris ini bisa beda, gak cuma jadi pelajaran pahit di dasar laut.
Wajah-Wajah di Balik Kisah: Tokoh dan Korban: Cerita Tentang Kapal Titanic
Di balik statistik dan fakta teknis, ada ribuan cerita manusia yang terlibat dalam tragedi Titanic. Setiap nama dalam daftar penumpang mewakili sebuah kehidupan, sebuah mimpi yang terputus, atau sebuah keberuntungan yang luar biasa. Memahami peran kunci beberapa individu dan pola keselamatan membantu kita melihat bencana ini bukan sebagai peristiwa monolitik, tetapi sebagai kumpulan pengalaman pribadi yang terjalin dalam malam yang menentukan.
Dari kapten yang legendaris hingga musisi yang terus bermain, mereka semua membentuk mosaik memori yang kompleks dari kapal yang termasyhur itu.
Suasana di geladak selama evakuasi adalah gambaran yang kontras antara ketenangan yang tragis dan kepanikan yang memilukan. Di satu sisi, ada para pria yang mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anak-anak mereka, menerima nasib dengan ketenangan yang menggetarkan. Di sisi lain, ada perjuangan untuk bertahan hidup, teriakan di air yang sedingin es, dan keputusasaan yang melanda ketika sekoci terakhir telah pergi.
Kisah Titanic yang megah dan tragis itu selalu bikin kita merenung. Nggak cuma soal tabrak gunung es, tapi juga tentang bagaimana manusia sering kali berada dalam kondisi tidak dapat menerima sesuatu , seperti anggapan bahwa kapal itu mustahil tenggelam. Nah, penolakan itulah yang akhirnya jadi bagian dari pelajaran pahit dalam sejarah kelam pelayaran sang raksasa laut itu.
Seorang penumpang kelas dua menggambarkan suara mesin yang sekarat sebagai “sebuah raungan yang menyayat hati, campuran dari suara-suara yang mengerikan”, diikuti oleh kesunyian yang lebih mengerikan lagi setelah kapal menghilang.
Profil Singkat Para Pembuat Keputusan
Tiga nama ini paling sering dikaitkan dengan tanggung jawab dan tragedi Titanic, masing-masing dengan peran dan akhir cerita yang berbeda.
Kapten Edward John Smith: Kapten paling senior di White Star Line, berusia 62 tahun dan berencana pensiun setelah pelayaran perdana Titanic. Dikenal sebagai “Captain Millionaire” karena melayani klien kaya. Pengalamannya yang luas justru mungkin menyebabkan kepercayaan diri berlebihan. Ia menerima peringatan es tetapi tidak mengurangi kecepatan secara signifikan. Ia terakhir terlihat di anjungan, memilih untuk tenggelam bersama kapalnya.
Nasibnya menjadi subjek banyak legenda.
Thomas Andrews Jr.: Perancang kapal dan direktur pelaksana Harland and Wolff. Ia berada di kapal untuk mengobservasi masalah apa pun. Setelah tabrakan, ia segera memeriksa kerusakan dan memberi tahu Kapten Smith bahwa kapal akan tenggelam. Dilihat terakhir menatap lukisan di ruang merokok kelas satu, pelampungnya tergeletak di meja. Ia tidak mencoba menyelamatkan diri.
Joseph Bruce Ismay: Chairman dan Managing Director of the White Star Line. Ia yang memulai proyek Kelas Olympic dan ada di kapal. Setelah tabrakan, ia membantu menaikkan penumpang ke sekoci. Ia sendiri naik ke sekoci lipat C ketika sekoci itu akan diturunkan, sebuah tindakan yang membuatnya dicap sebagai pengecut oleh pers. Hidupnya setelah tragedi diwarnai oleh pengasingan dan depresi.
Statistik Korban Selamat: Sebuah Potret Ketidaksetaraan
Angka-angka berikut, meski dingin, bercerita dengan lantang tentang realitas sosial tahun 1912 yang terbawa hingga ke dalam bencana. Mereka mengungkapkan bagaimana prosedur “wanita dan anak-anak dahulu” dan akses fisik ke geladak secara dramatis mempengaruhi peluang untuk hidup.
| Kategori | Jumlah Selamat | Jumlah Meninggal | Persentase Selamat |
|---|---|---|---|
| Kelas Satu (Wanita & Anak) | 140 | 4 | 97% |
| Kelas Satu (Pria) | 57 | 118 | 33% |
| Kelas Dua (Wanita & Anak) | 80 | 13 | 86% |
| Kelas Dua (Pria) | 14 | 154 | 8% |
| Kelas Tiga (Wanita & Anak) | 76 | 89 | 46% |
| Kelas Tiga (Pria) | 75 | 387 | 16% |
| Awak Kapal (Wanita) | 20 | 3 | 87% |
| Awak Kapal (Pria) | 192 | 670 | 22% |
Kisah Heroik dan Tragis Para Penumpang
Beberapa cerita pribadi telah menjadi simbol dari semangat dan kesedihan malam itu. Kelompok Musisi Titanic, yang dipimpin Wallace Hartley, terus memainkan musik untuk menenangkan penumpang hingga menit-menit terakhir. Lagu terakhir yang mereka mainkan masih diperdebatkan, tetapi saksi menyebutkan “Nearer, My God, to Thee” atau “Autumn”. Tidak ada dari mereka yang selamat.
John Jacob Astor IV, salah satu orang terkaya di dunia, menaikkan istri mudanya yang hamil ke sekoci, menanyakan apakah ia bisa ikut karena kondisi istrinya, dan mundur dengan tenang setelah ditolak. Jenazahnya ditemukan dengan jam emas yang masih berjalan. Ida dan Isidor Straus, pemilik department store Macy’s, menolak untuk berpisah. Ida dengan sengaja turun dari sekoci untuk tetap bersama suaminya, dengan kata-kata yang terkenal, “Kami telah hidup bersama selama bertahun-tahun.
Di mana kamu pergi, aku pergi.” Mereka terakhir terlihat duduk berpegangan di geladak.
Kisah-kisah ini, bersama dengan ribuan lainnya yang tidak terceritakan, memastikan bahwa Titanic akan selalu diingat bukan hanya sebagai sebuah kapal yang tenggelam, tetapi sebagai sebuah cerita tentang kemanusiaan dalam momen-momen terujinya.
Simpulan Akhir
Jadi, begitulah Cerita tentang Kapal Titanic berakhir, bukan di pelabuhan New York seperti yang direncanakan, tetapi di dasar laut Atlantik dan dalam ingatan kolektif kita. Tragedi ini meninggalkan lebih dari sekadar puing-puing; ia meninggalkan warisan berupa peraturan keselamatan maritim yang lebih ketat dan peringatan abadi tentang kerendahan hati di hadapan alam. Setiap kali kita mendengar namanya, kita diingatkan bahwa di balik setiap pencapaian terhebat manusia, selalu ada ruang untuk kehati-hatian dan empati.
Kisahnya mungkin telah tenggelam, tetapi pelajarannya tetap mengapung, relevan dari masa ke masa.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah ada anjing yang selamat dari tragedi Titanic?
Ya, tiga anjing kecil dari kelas satu dilaporkan selamat karena dibawa oleh pemiliknya ke dalam sekoci. Mereka adalah jenis Pomeranian dan Pekingese.
Mengapa bangkai Titanic tidak diangkat ke permukaan?
Bangkai Titanic berada di kedalaman hampir 4 km, dengan tekanan air yang sangat ekstrem. Kondisinya juga sangat rapuh dan terkorosi, sehingga upaya pengangkatan secara fisik tidak mungkin dilakukan dan justru akan menghancurkannya.
Benarkah ada kutukan atau firasat buruk tentang Titanic sebelum berlayar?
Beberapa sumber menyebutkan ada sejumlah orang yang membatalkan tiketnya karena merasa tidak nyaman atau bermimpi buruk. Namun, ini lebih dilihat sebagai kebetulan yang dihubung-hubungkan setelah tragedi terjadi, bukan sebagai kutukan yang nyata.
Adakah penumpang terkenal Indonesia atau Asia Tenggara di Titanic?
Tidak ada catatan resmi tentang penumpang yang berasal dari Indonesia atau Asia Tenggara. Mayoritas penumpang berasal dari Eropa dan Amerika.
Bagaimana dengan harta karun dan barang berharga yang ikut tenggelam?
Banyak barang berharga seperti perhiasan, uang, dan artefak masih berada di dalam bangkai. Beberapa telah diangkat dalam ekspedisi penyelamatan, namun status kepemilikannya sering menjadi perdebatan hukum yang rumit.