Peran PGRI dalam Membangun Karakter Bangsa Melalui Guru dan Kolaborasi

Peran PGRI dalam Membangun Karakter Bangsa itu bukan sekadar wacana di seminar, tapi aksi nyata yang dimulai dari ruang guru dan merambah ke setiap sudut kelas. Bayangkan, di tangan para guru yang tergabung dalam PGRI-lah, nilai-nilai luhur Pancasila diolah jadi sikap hidup sehari-hari. Mereka itu ibarat arsitek karakter yang tak hanya mengajar matematika atau sejarah, tetapi juga merajut integritas, gotong royong, dan rasa hormat dalam diri setiap generasi penerus.

Sejak berdiri dengan semangat pasca-kemerdekaan, PGRI telah konsisten menjadikan pendidikan karakter sebagai jantung perjuangannya. Organisasi ini tidak berhenti pada retorika, tetapi merancang strategi, program pelatihan konkret, dan membangun jembatan kolaborasi dengan semua pihak. Tujuannya satu: memastikan guru tak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga kuat menjadi teladan dan fasilitator yang membentuk pribadi siswa yang utuh dan berakhlak mulia.

Pendahuluan dan Landasan Filosofis

Membangun karakter bangsa dalam konteks pendidikan Indonesia bukan sekadar tentang menanamkan sopan santun atau disiplin semata. Ini adalah upaya kolektif yang mendalam untuk membentuk identitas dan kepribadian generasi penerus yang berakar pada jati diri Indonesia, siap menghadapi kompleksitas zaman. Proses ini bertujuan menciptakan manusia Indonesia yang utuh, yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki kekuatan moral, empati sosial, dan ketangguhan mental.

Di sinilah peran pendidikan karakter menjadi sentral, dan PGRI hadir sebagai salah satu aktor utama yang menggerakkannya dari garis depan: melalui para guru.

Landasan filosofis dari seluruh upaya ini tak lain adalah Pancasila. Bagi PGRI, Pancasila bukan mantra yang dihafal, melainkan roh hidup yang harus diwujudkan dalam setiap interaksi pendidikan. Setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai karakter yang konkret dan bisa diterjemahkan dalam praktik mengajar sehari-hari. Nilai-nilai utama seperti integritas, gotong royong, tanggung jawab, hormat-menghormati, dan keadilan sosial menjadi fokus perjuangan PGRI dalam membentuk karakter peserta didik.

Pemetaan Nilai Karakter Berbasis Pancasila dalam Praktik Sekolah

Untuk memvisualisasikan bagaimana nilai-nilai filosofis Pancasila diturunkan menjadi perilaku nyata di sekolah, tabel berikut menunjukkan hubungan yang erat antara sila, nilai karakter, dan contoh aksi yang bisa langsung diterapkan oleh guru dan siswa dalam ekosistem sekolah.

Sila Pancasila Nilai Karakter Turunan Contoh Praktik di Sekolah Peran Guru
Ketuhanan Yang Maha Esa Religius, Toleransi, Kejujuran Menghormati perbedaan ibadah, mengawali pembelajaran dengan doa sesuai keyakinan, kantin kejujuran. Menjadi contoh dalam sikap toleran dan memberikan ruang aman untuk perbedaan.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Empati, Peduli, Anti-Perundungan Program mentoring senior-junior, proyek sosial membantu warga sekitar sekolah, sistem pengaduan peer bullying yang aman. Fasilitator dalam membangun empati dan penengah yang adil dalam konflik.
Persatuan Indonesia Cinta Tanah Air, Gotong Royong, Menghargai Keberagaman Pameran budaya nusantara, kerja bakti membersihkan sekolah, pembelajaran kolaboratif dengan kelompok heterogen. Perancang aktivitas yang mempromosikan kerja sama dan apresiasi terhadap budaya lain.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Demokratis, Tanggung Jawab, Menghargai Pendapat Pemilihan ketua kelas yang demokratis, diskusi kelas dengan tata tertib musyawarah, sistem piket yang disepakati bersama. Memoderasi diskusi, mengajarkan cara berargumen yang santun, dan mendelegasikan tanggung jawab.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Adil, Peduli Lingkungan, Sukarela Program beasiswa untuk teman yang kurang mampu, bank sampah sekolah, kegiatan bakti sosial ke panti asuhan. Mengajak siswa melihat ketidakadilan di sekitar dan merancang aksi nyata untuk berkontribusi.

Peran Historis dan Perkembangan PGRI

PGRI lahir dari rahim perjuangan kemerdekaan, tepatnya pada 25 November 1945. Pada masa itu, membangun karakter bangsa adalah soal mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih dengan darah dan air mata. Para guru, yang tergabung dalam PGRI, menyadari bahwa kemerdekaan politik harus diisi dengan kemerdekaan berpikir dan berperilaku yang bermartabat. Mereka bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga pejuang yang membentuk mentalitas bangsa yang merdeka, berdaulat, dan berkepribadian.

Evolusi peran PGRI dari masa ke masa selalu selaras dengan tantangan karakter yang dihadapi bangsa. Di era Orde Lama dan Orde Baru, PGRI berjuang mempertahankan netralitas dan martabat profesi guru di tengah tekanan politik. Pasca Reformasi, perannya bergeser menjadi lebih aktif dalam merumuskan kebijakan pendidikan karakter yang partisipatif. PGRI tak lagi hanya sebagai obyek, tetapi mitra kritis pemerintah dalam menyusun kurikulum yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, seperti yang terlihat dalam pengarusutamaan Pendidikan Karakter Pancasila.

BACA JUGA  Tolong Nomor 5 dan 6 Cara Memahami dan Menanggapinya

Contoh konkret program PGRI di masa lalu yang berdampak besar adalah gerakan “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang bukan sekadar slogan. Gerakan ini mendorong guru untuk bekerja dengan ketulusan dan pengorbanan di daerah terpencil, menjadi teladan ketangguhan dan dedikasi. Pada era 80-90an, PGRI juga aktif menggelar penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) untuk guru, yang meski kontroversial, menunjukkan upaya sistematis untuk menyebarkan nilai-nilai dasar negara.

Semangat Pendiri dalam Membangun Karakter

Semangat para pendiri PGRI dalam membangun karakter tercermin dalam pesan-pesan mendasar yang masih relevan hingga kini. Salah satu tokoh kunci, Rh. Koesnan, pernah menegaskan:

“Guru itu bukan tukang yang mengajar, tetapi pahlawan yang mendidik. Tugas kita bukan hanya memenuhi otak dengan ilmu, tetapi terutama memanusiakan manusia, membangun jiwa yang merdeka dan berakhlak mulia untuk Indonesia.”

Kutipan ini menyiratkan bahwa sejak awal, PGRI memposisikan guru sebagai arsitek karakter bangsa, dengan fokus pada humanisasi dan kemerdekaan jiwa, jauh melampaui sekadar transfer pengetahuan.

Strategi dan Program Kontemporer PGRI

Strategi utama PGRI dewasa ini berfokus pada penguatan kompetensi guru sebagai teladan karakter yang hidup dan inspiratif. PGRI memahami bahwa karakter tidak bisa diajarkan hanya melalui ceramah, tetapi harus diteladankan dan dialami. Oleh karena itu, strateginya adalah membekali guru dengan kesadaran, keterampilan, dan metode yang membuat mereka mampu menjadi “role model” sekaligus fasilitator yang efektif dalam proses internalisasi nilai.

Program pelatihan guru yang diselenggarakan PGRI dirancang untuk menyentuh berbagai aspek, dari pedagogi hingga pengembangan diri. Beberapa program unggulannya antara lain:

  • Pelatihan Guru Penggerak Merdeka Belajar: Memperkuat kemampuan guru dalam menciptakan lingkungan belajar yang memerdekakan, penuh empati, dan mendorong inisiatif siswa.
  • Workshop Pendidikan Karakter Integratif: Melatih guru mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam semua mata pelajaran, bukan hanya PKn atau Agama.
  • Program Guru Digital yang Beretika: Membekali guru untuk memanfaatkan teknologi digital dengan cerdas dan bertanggung jawab, serta mengajarkannya pada siswa untuk melawan hoaks dan cyberbullying.
  • Pelatihan Manajemen Kelas Berbasis Nilai: Teknik mengelola kelas yang menekankan pada disiplin positif, resolusi konflik, dan pembentukan kebiasaan baik.
  • Retreat dan Refleksi untuk Guru: Program penguatan spiritual dan mental guru agar memiliki ketangguhan, kesabaran, dan energi positif yang dibutuhkan untuk mendidik.

Rincian Program Pelatihan dan Capaian Karakter

Untuk memberikan gambaran yang lebih terstruktur, tabel berikut merinci beberapa jenis program, target peserta, metode pelaksanaan, serta capaian karakter yang diharapkan muncul pada diri guru dan, pada gilirannya, pada siswa mereka.

Jenis Program Sasaran Guru Metode Pelatihan Capaian Karakter yang Diharapkan
Merdeka Berkarakter Guru Mata Pelajaran Umum (SD-SMP) Workshop Lokakarya, Simulasi Mengajar, Lesson Study Kreatif, Mandiri, Bertanggung Jawab atas pembelajaran
Digital Literacy & Citizenship Guru SMP/SMA dan Pengelola Lab Komputer Pelatihan Hybrid, Pembuatan Konten Edukatif, Analisis Kasus Beretika Digital, Kritis, Bijak dalam Berkomunikasi
Peace Education and Conflict Resolution Guru Bimbingan Konseling & Wali Kelas Role-Play, Mediation Training, Studi Kasus Bullying Empati, Komunikasi Non-Kekerasan, Adil
Kepemimpinan Pelajar Pancasila Guru Inti dan Ketua Jurusan Outbound, Project-Based Learning Design, Coaching Gotong Royong, Demokratis, Visioner

Contoh modul hasil pelatihan PGRI yang mudah diterapkan adalah “Modul Icebreaker Nilai Kebersamaan”. Modul ini berisi aktivitas 15 menit awal pelajaran, seperti “Puzzle Kebangsaan” dimana siswa dalam kelompok kecil menyusun potongan gambar bendera daerah dan mendiskusikan kekhasannya. Modul sederhana ini langsung melatih kerja sama, komunikasi, dan sekaligus menguatkan wawasan kebhinekaan.

Implementasi di Lingkungan Sekolah dan Kelas: Peran PGRI Dalam Membangun Karakter Bangsa

Implementasi pendidikan karakter yang paling menentukan terjadi di ruang-ruang kecil bernama kelas dan interaksi sehari-hari di sekolah. Di sini, teori dan pelatihan bertransformasi menjadi praktik hidup. Guru memegang kunci utama untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut secara organik, tanpa terkesan menggurui atau dipaksakan.

Integrasi Nilai dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Prosedur integrasi nilai karakter ke dalam RPP dimulai dari perumusan tujuan pembelajaran. Selain tujuan kognitif dan psikomotorik, guru wajib mencantumkan tujuan afektif atau sikap yang ingin dikembangkan. Misalnya, dalam pelajaran IPA tentang ekosistem, tujuan karakternya bisa “menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan”. Langkah pembelajaran kemudian dirancang untuk mencapai tujuan itu, seperti menyisipkan diskusi tentang dampak sampah plastik dan merencanakan aksi pungut sampah di sekitar sekolah sebagai bagian dari tugas.

BACA JUGA  Perbandingan Energi Potensial Benda 1 2 kg dan Benda 2 4 kg

Penilaiannya tidak hanya pada laporan, tetapi juga pada proses kerja sama dan kontribusi aktif selama proyek.

Aktivitas Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Kerja Sama dan Tanggung Jawab

Peran PGRI dalam Membangun Karakter Bangsa

Source: pendidikankhas.com

Sebuah contoh aktivitas yang powerful adalah proyek “Warung Kejujuran Sekolah”. Siswa dibagi dalam tim yang bertanggung jawab atas berbagai divisi: logistik (mengatur barang dagangan), keuangan (mencatat pemasukan/pengeluaran), desain (membuat poster), dan operasional (melayani). Proyek ini mengasah kerja sama karena setiap divisi saling bergantung. Tanggung jawab diuji dalam pengelolaan uang dan barang yang harus akurat. Nilai kejujuran menjadi fondasi utama yang menentukan keberlangsungan warung.

Guru berperan sebagai konsultan yang memantau dan melakukan refleksi mingguan bersama tim.

Desain Ruang Kelas yang Mendukung Pendidikan Karakter

Bayangkan sebuah ruang kelas yang fisiknya sudah “berbicara” tentang karakter. Dindingnya tidak kosong, tetapi dipajangi hasil karya siswa dari berbagai proyek, quote inspiratif dari para pahlawan dan ilmuwan, serta infografis sederhana tentang nilai-nilai Pancasila. Ada sudut baca yang nyaman dengan buku-buku bertema keberagaman dan kepahlawanan. Pengaturan tempat duduknya fleksibel, bisa berbentuk kelompok, lingkaran, atau huruf U, memudahkan diskusi dan kolaborasi.

Tempat sampah dipilah dengan jelas (organik, anorganik). Ruangan ini sendiri adalah guru yang diam, mengingatkan setiap penghuninya tentang nilai-nilai yang dijunjung bersama.

Guru sebagai Fasilitator dan Teladan

Peran guru dalam ekosistem ini bergeser dari instruktur menjadi fasilitator dan teladan. Sebagai fasilitator, guru merancang pengalaman belajar yang memungkinkan siswa menemukan dan mempraktikkan nilai-nilai karakter. Sebagai teladan, konsistensi adalah kunci. Bagaimana guru menyapa satpam, membersihkan papan tulis setelah mengajar, mengakui kesalahan ketika keliru, atau menolong siswa yang kesulitan; semua itu adalah kurikulum tersembunyi yang paling melekat di memori siswa.

Setiap interaksi, dari koridor, kantin, hingga ruang guru, adalah ruang kelas sesungguhnya bagi pendidikan karakter.

Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan

PGRI menyadari bahwa membangun karakter bangsa adalah tugas yang terlalu besar untuk dipikul oleh guru dan sekolah saja. Karakter terbentuk dari tiga pilar yang saling menguatkan: sekolah, keluarga, dan masyarakat. Oleh karena itu, PGRI aktif menjadi jembatan dan fasilitator yang merangkul semua pemangku kepentingan dalam ekosistem pendidikan karakter.

Peran serta Orang Tua dan Komunitas

PGRI memfasilitasi peran serta orang tua melalui program seperti “Parenting Class” yang diadakan secara rutin, membahas tema seperti pengasuhan di era digital, komunikasi positif, dan penanaman disiplin. PGRI juga mendorong terbentuknya “Komite Sekolah” yang aktif, bukan hanya dalam urusan dana, tetapi juga dalam menyusun program karakter bersama, seperti festival budaya atau kerja bakti lingkungan yang melibatkan warga sekitar. Kemitraan dengan pemerintah dan LSM dijalin untuk menyusun kebijakan yang berpihak pada pendidikan karakter, misalnya dengan Kemdikbudristek dalam sosialisasi Kurikulum Merdeka, atau dengan lembaga keagamaan dalam program penguatan karakter religius.

Sinergi Empat Pilar Pendukung Karakter

Keberhasilan pendidikan karakter bergantung pada keselarasan peran dari semua pihak. Tabel berikut membandingkan kontribusi dan mekanisme sinergi yang ideal antara guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.

Pemangku Kepentingan Peran Utama Kontribusi Spesifik Mekanisme Sinergi
Guru (PGRI) Teladan & Fasilitator Inti Mengintegrasikan nilai dalam pembelajaran, menjadi konselor bagi siswa. Menyelenggarakan pertemuan rutin dengan orang tua, melaporkan perkembangan karakter siswa.
Orang Tua Pendidik Pertama & Utama Menjaga konsistensi nilai di rumah, memberikan contoh perilaku sehari-hari. Hadir dalam parenting class, terlibat dalam proyek sekolah, komunikasi aktif dengan wali kelas.
Masyarakat/Komunitas Lingkungan Sosial Penguat Menyediakan ruang praktik nilai (karang taruna, rumah ibadah, lapangan), memberikan feedback. Mendukung program sekolah (menjadi narasumber, menyediakan fasilitas), mengawasi perilaku siswa di lingkungan.
Pemerintah Regulator & Fasilitator Sistem Menyusun kurikulum, menyediakan anggaran dan pelatihan, membuat regulasi pendukung. Berkoordinasi dengan PGRI dalam penyusunan kebijakan, memantau implementasi melalui dinas pendidikan.

Sebuah studi kasus sukses bisa dilihat di Kabupaten Banyuwangi, dimana PGRI setempat menggagas kolaborasi “Sekolah Rawat Budaya”. Program ini merespons kekhawatiran akan lunturnya nilai kesopanan dan cinta budaya lokal. PGRI bermitra dengan dinas pendidikan, paguyuban seniman, dan orang tua untuk memasukkan pelajaran etiket lokal dan kesenian tradisional ke dalam kegiatan ekstrakurikuler wajib. Guru-guru dilatih oleh seniman, orang tua menyediakan alat musik tradisional, dan pemerintah daerah menyelenggarakan festival bulanan.

Hasilnya, tidak hanya degradasi moral yang terantispasi, tetapi juga muncul kebanggaan pada identitas budaya yang menjadi fondasi karakter positif.

Tantangan dan Inovasi ke Depan

Dunia yang berubah cepat menghadirkan tantangan baru yang kompleks bagi pendidikan karakter. Pengaruh media digital dan gempuran informasi yang tak terbendung seringkali mengikis nilai kesabaran, empati, dan kebenaran substantif. Generasi Z dan Alpha yang lahir sebagai digital native membutuhkan pendekatan yang sama sekali berbeda, yang tidak melawan arus teknologi, tetapi memanfaatkannya untuk memperkuat karakter.

PGRI itu nggak cuma sekadar organisasi guru, tapi lebih kayak arsitek karakter bangsa yang kerja di balik layar. Mereka bikin fondasi nilai-nilai lewat pendidikan, dan untuk memperkuat peran itu, para guru bisa banget manfaatkan Bantuan menjawab dan cara pengerjaannya sebagai salah satu alat pendukung. Dengan begitu, proses mendidik jadi lebih efektif dan kontribusi PGRI dalam membentuk generasi berintegritas pun makin terasa nyata di setiap ruang kelas.

BACA JUGA  Aplikasi Simpan Kuota HP lewat WiFi Solusi Cerdas Atur Paket Data

Respons terhadap Pengaruh Media Digital

PGRI merespons tantangan digital ini dengan tidak bersikap defensif. Alih-alih melarang, PGRI melalui berbagai pelatihannya mengajak guru untuk memahami platform digital yang digemari siswa, dari TikTok hingga game online. Strateginya adalah mengajarkan literasi digital kritis: bagaimana membedakan fakta dan hoaks, memahami jejak digital, serta menggunakan media sosial untuk kampanye nilai-nilai positif. Guru didorong menjadi “influencer” karakter di ruang digital mereka sendiri, membuat konten edukatif yang menarik dan relatable bagi siswa.

Konsep Inovatif untuk Generasi Z dan Alpha, Peran PGRI dalam Membangun Karakter Bangsa

Agar relevan, pendidikan karakter perlu diramut dengan bahasa dan medium generasi baru. Konsep yang bisa diadopsi PGRI antara lain “Character Gamification”, dimana nilai-nilai seperti tanggung jawab, gotong royong, dan kejujuran diintegrasikan dalam sistem poin atau badge di platform sekolah, mirip pencapaian dalam game. Konsep lain adalah “Project-Based Digital Citizenship”, dimana siswa diberi proyek untuk menganalisis kasus cyberbullying atau hoaks di lingkungan mereka dan merancang kampanye anti-hoaks di Instagram.

Pendekatan ini membuat pendidikan karakter menjadi experiential dan kontekstual.

Rekomendasi Kebijakan untuk Guru di Era Disrupsi

Untuk memperkuat peran guru, rekomendasi kebijakan berbasis bukti yang perlu didorong oleh PGRI adalah:

  • Pengurangan Beban Administratif: Merevisi sistem yang membebani guru dengan dokumen, sehingga mereka punya lebih banyak waktu dan energi untuk interaksi personal membangun karakter siswa.
  • Pelatihan Berkelanjutan yang Personal: Program pelatihan tidak satu untuk semua, tetapi bisa dipilih guru berdasarkan kebutuhan kelasnya, dengan fokus pada keterampilan sosial-emosional dan manajemen konflik.
  • Insentif Non-Materi untuk Guru Teladan Karakter: Memberikan apresiasi dan kesempatan pengembangan diri bagi guru yang secara konsisten berhasil membangun iklim kelas yang positif dan inklusif.
  • Integrasi Asesmen Karakter yang Autentik: Mengembangkan instrumen penilaian karakter yang tidak berupa tes, tetapi melalui portofolio, observasi, dan refleksi diri siswa, serta melibatkan umpan balik dari teman sebaya dan orang tua.

Visi PGRI Menghadapi Tantangan Global

Visi PGRI ke depan adalah memposisikan guru Indonesia sebagai agen penjaga moral dan jati diri bangsa di tengah pusaran globalisasi. PGRI membayangkan guru yang tidak hanya mencetak siswa yang kompetitif secara global, tetapi juga yang berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila. Karakter bangsa yang dibangun adalah karakter yang resilient, adaptif, penuh empati, dan mampu membawa kontribusi positif bagi perdamaian dunia. PGRI akan terus menjadi wadah yang memberdayakan guru untuk menjadi garda terdepan dalam merawat karakter Indonesia, memastikan bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi justru memperkuat, bukan melunturkan, kepribadian bangsa yang telah diperjuangkan sejak 1945.

Penutupan Akhir

Jadi, sudah jelas kan? Membangun karakter bangsa itu pekerjaan besar yang mustahil dilakukan sendirian. PGRI hadir sebagai simpul penggerak yang menyatukan tenaga guru, mengasah kompetensinya, dan menggalang kekuatan bersama orang tua hingga pemerintah. Tantangan di era digital dan generasi baru memang kompleks, tapi dengan inovasi dan konsistensi, peran PGRI tetap krusial. Pada akhirnya, masa depan bangsa yang berkarakter kuat dimulai dari komitmen kita hari ini untuk mendukung setiap langkah guru di garis depan pendidikan.

FAQ dan Informasi Bermanfaat

Apakah keanggotaan di PGRI wajib bagi semua guru?

Tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan. PGRI adalah organisasi profesi yang menjadi wadah pengembangan kompetensi, advokasi, dan pemberdayaan guru. Bergabung dengan PGRI memberi akses pada pelatihan, jaringan, dan sumber daya untuk mendukung peran guru, termasuk dalam pendidikan karakter.

PGRI punya peran krusial membangun karakter bangsa lewat pendidikan yang tak cuma transfer ilmu, tapi juga penyederhanaan nilai-nilai kompleks menjadi laku hidup. Mirip seperti saat kita perlu Sederhanakan (x² + 4x + 3) ÷ (x + 1) , guru-guru PGRI mengajak kita memecah persoalan kebangsaan yang ruwet menjadi hal mendasar: integritas, gotong royong, dan kecintaan pada tanah air. Pada akhirnya, proses menyederhanakan itu sendiri adalah inti dari pendidikan karakter yang mereka usung.

Bagaimana cara guru yang bukan anggota PGRI bisa mengakses program pelatihan karakter mereka?

Banyak program PGRI, terutama yang bekerja sama dengan pemerintah daerah atau kementerian, terbuka untuk semua guru. Informasinya biasanya disebarkan melalui dinas pendidikan setempat atau website resmi PGRI. Mengikuti seminar dan workshop yang diselenggarakan juga sering kali bisa diikuti secara umum.

Apakah fokus PGRI hanya pada karakter siswa? Bagaimana dengan kesejahteraan guru?

Tidak. Membangun karakter bangsa dimulai dari guru yang sejahtera dan bermartabat. PGRI berjuang pada dua garis depan: memperkuat kompetensi guru (termasuk sebagai teladan karakter) dan secara simultan memperjuangkan peningkatan kesejahteraan serta perlindungan profesi guru. Keduanya saling berkaitan.

Bagaimana menilai keberhasilan program pendidikan karakter yang diusung PGRI?

Keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai rapor sikap, tetapi dari perubahan perilaku nyata siswa di sekolah dan masyarakat. PGRI sering menggunakan metode pemantauan jangka panjang, studi kasus, dan umpan balik dari orang tua serta komunitas untuk mengevaluasi dampak programnya.

Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung peran PGRI dalam membangun karakter?

Orang tua dapat terlibat aktif dalam forum komite sekolah yang difasilitasi PGRI, menyelaraskan nilai yang diajarkan di sekolah dengan praktik di rumah, dan berkomunikasi intensif dengan guru. Kolaborasi sinergis antara guru (PGRI) dan orang tua adalah kunci efektivitas pendidikan karakter.

Leave a Comment