Infrastruktur Penunjang Wisata Makassar Ditingkatkan Kunjungan Meningkat Signifikan

Infrastruktur Penunjang Wisata Makassar Ditingkatkan, Kunjungan Meningkat menjadi bukti nyata bahwa kota ini tak lagi sekadar transit. Geliat pembenahan menyeluruh selama tiga tahun terakhir, mulai dari bandara hingga fasilitas publik di kawasan ikonik, telah mengubah wajah pariwisata Ibu Kota Sulawesi Selatan. Transformasi ini bukan sekadar polesan kosmetik, melainkan fondasi kokoh yang dibangun untuk menyambut lebih banyak tamu dengan pelayanan yang lebih baik.

Anggaran yang dialokasikan pemerintah daerah menunjukkan komitmen serius, dengan realisasi pembangunan di sektor transportasi, akomodasi, dan kawasan wisata berjalan signifikan. Hasilnya, koridor utama menuju destinasi seperti Pantai Losari dan Fort Rotterdam kini lebih lancar, didukung oleh pertumbuhan hotel dan restoran yang pesat. Data statistik kunjungan pun membuktikan korelasi positif antara infrastruktur yang memadai dengan minat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk mengeksplorasi lebih dalam keindahan Makassar.

Gambaran Umum Peningkatan Infrastruktur Wisata Makassar

Infrastruktur Penunjang Wisata Makassar Ditingkatkan, Kunjungan Meningkat

Source: go.id

Dalam tiga tahun terakhir, Kota Makassar menunjukkan komitmen serius dalam transformasi sektor pariwisatanya melalui percepatan pembangunan infrastruktur penunjang. Geliat ini tidak hanya terasa di kawasan ikonis seperti Pantai Losari, tetapi merambah hingga ke destinasi yang sebelumnya terkesan tersembunyi. Pemerintah Daerah, melalui Dinas Pariwisata, menjadikan peningkatan aksesibilitas, kenyamanan, dan daya tarik fasilitas sebagai kunci utama untuk menggeser persepsi Makassar dari sekadar kota transit menjadi destinasi yang layak dijelajahi berhari-hari.

Jenis infrastruktur yang mendapat perhatian mencakup empat pilar utama. Pertama, infrastruktur transportasi, baik bandara, pelabuhan, hingga jaringan jalan arteri dan lokal. Kedua, revitalisasi kawasan wisata inti, termasuk penataan pedestrian dan ruang terbuka publik. Ketiga, fasilitas umum penunjang seperti toilet, tempat parkir, dan pusat informasi. Keempat, pengembangan akomodasi yang beragam, mulai dari homestay hingga hotel berbintang, untuk menampung lonjakan wisatawan dengan berbagai segmen anggaran.

Perbandingan Kondisi Infrastruktur Sebelum dan Sesudah Peningkatan

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai transformasi yang terjadi, berikut adalah perbandingan signifikan di beberapa sektor vital penunjang pariwisata Makassar.

Sektor Kondisi Sebelum (Kurang Lebih 3 Tahun Lalu) Kondisi Sesudah (Kini) Dampak Utama
Transportasi Akses jalan ke beberapa destinasi (e.g., Lantebung) kurang mulus; transportasi umum terbatas. Perbaikan jalan menyeluruh; pengoperasian Trans Mamminasata dan pengembangan jalur pedestrian di pusat kota. Waktu tempuh ke objek wisata memendek; mobilitas wisatawan tanpa kendaraan pribadi meningkat.
Kawasan Wisata Fasilitas di Losari dan Benteng Rotterdam dasar; terbatasnya area duduk dan penerangan. Revitalisasi total kawasan Losari (taman, lampu dekoratif, amphitheater); penataan ulang Fort Rotterdam dengan museum yang diperbarui. Pengalaman berkunjung lebih nyaman dan instagramable; durasi kunjungan wisatawan bertambah.
Fasilitas Umum Toilet umum terbatas dan kurang terawat; minim petunjuk arah digital. Pembangunan toilet umum berstandar tinggi (retrofit); pemasangan papan informasi digital interaktif di titik strategis. Meningkatkan kepuasan wisatawan dan mendukung kebersihan kota.
Akomodasi Dominasi hotel kelas menengah ke atas di pusat kota; pilihan budget terbatas. Booming hotel boutique dan budget hotels di berbagai lokasi; berkembangnya homestay di kawasan sekitar destinasi. Pilihan menginap lebih beragam; mampu menampung peningkatan jumlah wisatawan dengan kebutuhan berbeda.

Dari sisi anggaran, Pemerintah Kota Makassar mengalokasikan dana yang signifikan untuk pembangunan ini. Pada APBD 2022 misalnya, dialokasikan lebih dari Rp 150 miliar khusus untuk pengembangan pariwisata, dengan porsi besar untuk infrastruktur. Realisasinya mencapai di atas 90%, yang terlihat dari penyelesaian proyek-proyek fisik seperti revitalisasi kawasan dan pembangunan fasilitas penunjang. Anggaran ini sering kali dikombinasikan dengan dana dari Kementerian PUPR untuk proyek-proyek strategis nasional yang mendukung pariwisata, seperti pembangunan dan perbaikan jalan.

Dampak Peningkatan Infrastruktur terhadap Jumlah Kunjungan Wisatawan

Hubungan antara pembenahan infrastruktur dan peningkatan kunjungan wisatawan di Makassar terlihat sangat jelas dan hampir bersifat langsung. Setiap kali sebuah proyek infrastruktur besar diselesaikan, terjadi gelombang kedatangan wisatawan yang penasaran untuk mencoba pengalaman baru. Data dari Dinas Pariwisata Kota Makassar menunjukkan tren kenaikan yang konsisten, mengonfirmasi bahwa investasi di bidang fisik ini membuahkan hasil yang konkret.

BACA JUGA  Barisan Aritmetika Tiga Bilangan dengan Hubungan Dua Kali

Sebagai contoh, setelah peresmian revitalisasi kawasan Pantai Losari tahap pertama yang dilengkapi dengan Taman Samudera dan lampu hias spektakuler, terjadi peningkatan kunjungan mingguan hingga 40% di akhir pekan. Demikian pula, perbaikan akses jalan menuju Kampung Wisata Lantebung yang sebelumnya terpencil, langsung mendongkrak kunjungan dari yang hanya puluhan menjadi ratusan orang per hari, terutama dari wisatawan domestik.

Komposisi dan Tren Kunjungan Wisatawan

Sebelum adanya peningkatan infrastruktur masif, komposisi wisatawan didominasi oleh wisatawan domestik dalam perjalanan dinas atau transit, dengan persentase wisatawan mancanegara yang masih rendah. Posisi Makassar sebagai hub di Indonesia Timur membuat banyak turis asing hanya singgah. Setelah pembenahan, terjadi perubahan. Proporsi wisatawan mancanegara yang tujuan utamanya adalah Makassar mulai bertambah, meski domestik tetap menjadi mayoritas. Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada kunjungan individu dan keluarga kecil (FIT – Free Independent Traveler) dibandingkan dengan grup besar, yang menandakan bahwa kemudahan akses dan informasi membuat orang lebih percaya diri untuk berwisata secara mandiri.

Faktor-faktor infrastruktur yang paling sering disebutkan oleh wisatawan dalam keputusan mereka mengunjungi Makassar antara lain:

  • Aksesibilitas yang Lebih Baik: Jalan yang mulus dan transportasi umum yang mulai tertata memudahkan eksplorasi ke berbagai sudut kota.
  • Kenyamanan Fasilitas Publik: Ketersediaan toilet bersih, area duduk yang teduh, dan tempat parkir yang aman sangat meningkatkan nilai tambah.
  • Estetika dan Fotogenik Destinasi: Kawasan seperti Losari yang tertata rapi dengan pencahayaan artistik menjadi daya tarik utama bagi generasi muda.
  • Konektivitas Digital: Tersedianya Wi-Fi publik di titik tertentu dan papan informasi digital membantu wisatawan dalam navigasi.

Tren kenaikan angka kunjungan sangat nyata di destinasi utama. Losari kini jarang sepi, bahkan pada hari kerja. Fort Rotterdam, dengan museum yang telah direnovasi, menarik minat bukan hanya untuk sekadar foto tetapi juga untuk mempelajari sejarah. Destinasi baru yang sebelumnya terkendala akses, seperti Pulau Samalona dan Taman Nasional Bantimurung (yang dekat dengan Makassar), juga mencatat peningkatan pengunjung berkat perbaikan jalur transportasi menuju dermaga dan jalan nasional.

Analisis Infrastruktur Transportasi Penunjang Pariwisata: Infrastruktur Penunjang Wisata Makassar Ditingkatkan, Kunjungan Meningkat

Pilar terpenting dalam pengalaman wisata adalah bagaimana wisatawan tiba dan bergerak di dalam destinasi. Makassar memahami hal ini, sehingga fokus besar diberikan pada modernisasi dan integrasi sistem transportasinya. Bandara Sultan Hasanuddin International Airport telah mengalami perluasan terminal, menambah kapasitas dan kenyamanan bagi penumpang yang terus meningkat. Di sisi laut, Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar tidak hanya melayani penumpang kapal pelayaran, tetapi juga dikembangkan sebagai bagian dari waterfront city yang menarik.

Jaringan jalan menjadi perhatian serius. Pembangunan dan pelebaran jalan, seperti di jalur menuju Bandara dan kawasan metropolitan Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa, Takalar), secara signifikan mengurangi kemacetan. Yang lebih penting, jalan-jalan penghubung ke objek wisata di pinggiran kota, seperti ke kawasan karst Maros atau pantai-pantai di Takalar, kini lebih layak dan aman untuk dilalui berbagai jenis kendaraan.

Efisiensi Rute dan Pengalaman Transportasi Umum

Dengan infrastruktur transportasi yang baru, rute perjalanan wisata menjadi lebih efisien. Sebagai contoh, sebuah perjalanan satu hari yang menggabungkan Fort Rotterdam, Museum Kota Makassar, dan berbelanja di Somba Opu kini dapat dilakukan dengan lebih lancar berkat jalur pedestrian yang terhubung dan ketersediaan transportasi umum. Wisatawan dapat mulai dari Fort Rotterdam, berjalan kaki menyusuri koridor pedestrian yang teduh ke museum, lalu naik Trans Mamminasata atau angkutan online menuju Somba Opu tanpa kesulitan berarti.

Pengalaman menggunakan transportasi umum terbaru, khususnya Trans Mamminasata, memberikan kesan berbeda. Halte-halte yang didesain modern dengan informasi rute yang jelas tersedia di titik-titik strategis. Bus yang digunakan relatif baru, ber-AC, dan terjadwal, meskipun frekuensinya masih dapat ditingkatkan. Tarifnya sangat terjangkau, membuatnya menjadi pilihan yang menarik bagi wisatawan backpacker atau mereka yang ingin merasakan kehidupan lokal. Keberadaan aplikasi peta digital yang terintegrasi juga membantu wisatawan dalam merencanakan perjalanan menggunakan moda transportasi ini.

Peningkatan infrastruktur penunjang wisata di Makassar, seperti revitalisasi kawasan pantai Losari dan Bandara Sultan Hasanuddin, terbukti mendongkrak angka kunjungan wisatawan secara signifikan. Geliat positif ini selayaknya diimbangi dengan pengembangan produk budaya lokal yang inovatif dan berkelanjutan, misalnya melalui Pemanfaatan limbah kayu sebagai media kerajinan batik. Dengan demikian, daya tarik kota tidak hanya bertumpu pada fasilitas fisik, tetapi juga pada kekayaan seni yang memperkuat identitas dan memberikan nilai ekonomi tambah bagi masyarakat.

Perbandingan kapasitas dan konektivitas sebelum dan sesudah peningkatan cukup tajam. Dulu, konektivitas sangat bergantung pada angkutan kota (pete-pete) dengan rute yang rumit dan bandara dengan terminal yang sudah padat. Kini, bandara dengan kapasitas lebih besar mampu menangani lebih banyak penerbangan langsung dari kota-kota besar, sementara konektivitas darat diperkuat oleh jalan tol dan jalan nasional yang diperlebar. Konektivitas laut juga berkembang dengan adanya rencana pengembangan kapal cepat (fast boat) yang lebih reguler menuju destinasi kepulauan seperti Taka Bonerate, membuka akses ke wisata bahari premium.

BACA JUGA  Menu Standar Microsoft Word 2007 Kecuali Perubahan Antarmuka Ribbon

Fasilitas Pendukung dan Akomodasi yang Berkembang

Peningkatan infrastruktur tidak hanya tentang jalan dan bandara, tetapi juga tentang tempat wisatawan beristirahat, makan, dan mendapatkan informasi. Geliat pembangunan di Makassar telah memicu pertumbuhan yang pesat di sektor akomodasi dan fasilitas pendukung. Hal ini merupakan respon alami dari pasar terhadap meningkatnya permintaan, sekaligus bagian dari strategi untuk memastikan wisatawan yang datang memiliki pengalaman yang memuaskan dan ingin kembali.

Kawasan kuliner dan pusat perbelanjaan tumbuh sebagai magnet tambahan. Losari menjadi epicentrum kuliner bukan hanya dengan hidangan lautnya, tetapi juga dengan berdirinya kafe-kafe modern dengan view laut. Kawasan seperti Jalan Penghibur dan Daeng Tompo juga semakin ramai dengan restoran yang menawarkan berbagai pilihan, dari makanan tradisional Makassar hingga masakan internasional. Pusat perbelanjaan besar dan modern sudah menjadi bagian dari skyline kota, menawarkan wisata belanja dan hiburan dalam ruangan.

Kategorisasi dan Pertumbuhan Akomodasi

Pertumbuhan akomodasi di Makassar sangat terdiversifikasi, memenuhi seluruh segmen pasar. Perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Peningkatan infrastruktur penunjang wisata di Makassar, seperti revitalisasi kawasan dan fasilitas publik, terbukti mendongkrak angka kunjungan wisatawan secara signifikan. Dalam konteks perencanaan yang matang, penting untuk memahami prinsip dasar perhitungan ruang, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan mengenai Volume Limas dengan Alas Segitiga Siku-siku 6 × 8 cm dan Tinggi 15 cm. Dengan pendekatan terukur dan berorientasi solusi seperti itu, pembangunan infrastruktur di Kota Daeng terus bergerak maju, menciptakan fondasi kokoh bagi pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan.

Jenis Akomodasi Daerah Pertumbuhan Utama Kapasitas Tambahan (Perkiraan) Fasilitas Unggulan
Budget (Hostel, Homestay) Sekitar Losari, Panakkukang, Masjid Raya Bertambah ratusan kamar dari homestay dan hostel baru Wi-Fi cepat, dapur bersama, area sosial, harga sangat terjangkau.
Menengah (Boutique Hotel, Bintang 3) Pusat kota, jalan utama dekat bandara Puluhan properti baru dengan total ribuan kamar Desain unik bernuansa lokal, kolam renang kecil, restoran in-house, layanan tour desk.
Mewah (Bintang 4 & 5) Kawasan CBD Panakkukang dan Pantai Losari Beberapa tower hotel internasional baru Ballroom besar, spa & fitness center lengkap, multiple restaurants, view kota/laut.

Inovasi pada fasilitas publik juga mendapat perhatian. Toilet umum di kawasan wisata seperti Losari dan Benteng Rotterdam kini dibangun dengan standar tinggi, bersih, dan dipelihara secara rutin. Taman-taman kota tidak hanya sebagai penghijauan, tetapi dirancang dengan tempat duduk yang nyaman, area bermain anak, dan pencahayaan seni, sehingga menjadi destinasi tersendiri di malam hari. Area parkir di sekitar destinasi wisata mulai ditata dengan sistem yang lebih rapi, termasuk pembangunan parkir gedung di beberapa titik untuk mengatasi kekurangan lahan.

Strategi dan Rencana Keberlanjutan Pengembangan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur bukanlah pekerjaan yang selesai dalam satu periode. Pemerintah Kota Makassar telah menyusun rencana induk yang berorientasi pada keberlanjutan untuk memastikan bahwa geliat pariwisata tidak hanya sesaat. Visinya adalah menciptakan ekosistem pariwisata yang terintegrasi, yang tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dan menjaga kelestarian warisan budaya serta alam.

Rencana induk pariwisata daerah menetapkan beberapa prioritas kunci terkait infrastruktur untuk lima tahun ke depan. Fokusnya akan bergeser dari pembangunan di pusat kota ke pengembangan destinasi penyangga di wilayah metropolitan Mamminasata. Infrastruktur pendukung seperti pengolahan air limbah (IPAL) terpusat di kawasan wisata, pengembangan sistem transportasi terpadu yang benar-benar terintegrasi antar moda, serta penguatan jaringan listrik dan internet ke daerah-daerah wisata baru akan menjadi agenda utama.

Integrasi dengan Warisan dan Kemitraan Pemeliharaan, Infrastruktur Penunjang Wisata Makassar Ditingkatkan, Kunjungan Meningkat

Upaya pelestarian menjadi prinsip dalam setiap proyek infrastruktur baru. Sebagai contoh, dalam proyek revitalisasi kawasan sejarah seperti sekitar Benteng Rotterdam, material dan desain yang digunakan dipilih yang selaras dengan karakter bangunan kolonial, tanpa merusak struktur asli. Pembangunan jalur pedestrian dan taman diintegrasikan dengan situs cagar budaya, sehingga menciptakan narasi perjalanan yang edukatif. Untuk destinasi alam seperti Taman Nasional Bantimurung, pembangunan fasilitas penunjang dilakukan dengan sangat hati-hati untuk meminimalkan dampak ekologis, menggunakan material ramah lingkungan dan sistem pengelolaan sampah yang ketat.

BACA JUGA  Contoh Kalimat Bahasa Inggris Sederhana Struktur dan Penggunaannya

Kemitraan antara pemerintah, swasta, dan komunitas adalah kunci dari keberlanjutan. Sebuah contoh yang baik adalah pengelolaan Kampung Wisata Lantebung. Pemerintah membangun akses jalan dan fasilitas dasar, swasta dapat berinvestasi dalam pengelolaan homestay atau kafe, sementara komunitas lokal yang tergabung dalam kelompok sadar wisata bertanggung jawab atas kebersihan, keamanan, dan penyediaan atraksi budaya. Model kemitraan seperti ini memastikan bahwa infrastruktur yang telah dibangun dengan anggaran tidak kecil dapat dipelihara dengan baik, karena ada rasa kepemilikan dari semua pihak yang terlibat langsung dalam aktivitas pariwisata.

Peningkatan infrastruktur wisata Makassar, dari revitalisasi kawasan pantai Losari hingga penyempurnaan akses bandara, terbukti mendongkrak angka kunjungan wisatawan secara signifikan. Dalam konteks pengembangan destinasi, perlindungan terhadap kekayaan intelektual, seperti desain ikonik atau konten promosi kreatif, menjadi aspek krusial yang perlu dipahami secara mendalam, sebagaimana dijelaskan dalam ulasan mengenai Hak Cipta: Definisi dan Pemiliknya. Pemahaman ini mendukung terciptanya ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan beretika, sehingga kemajuan infrastruktur fisik di Kota Daeng dapat diiringi dengan kemajuan dalam aspek legalitas dan kreativitas yang terlindungi.

Persepsi dan Pengalaman Stakeholder Terkait Peningkatan

Sukses tidaknya suatu pembangunan infrastruktur pada akhirnya diukur dari bagaimana para pemangku kepentingan merasakan manfaatnya. Di Makassar, respons dari pelaku usaha, wisatawan, dan masyarakat lokal terhadap perubahan yang terjadi sebagian besar sangat positif, meski disertai dengan harapan-harapan untuk penyempurnaan ke depan. Dialog antara pemerintah dan stakeholder ini menjadi umpan balik yang vital untuk perencanaan tahap selanjutnya.

Pelaku usaha pariwisata, seperti pengelola hotel dan tour guide, merasakan dampak langsung. Okupansi hotel-hotel di pusat kota menunjukkan peningkatan yang stabil, terutama di akhir pekan dan musim liburan. Tour guide mendapatkan lebih banyak permintaan untuk paket wisata kota yang lengkap, berbeda dengan sebelumnya yang lebih banyak melayani tur singkat atau transit. Para pedagang di sekitar Losari dan Somba Opu mengaku omzet mereka meningkat seiring dengan ramainya kunjungan, meski mereka juga berharap penataan lokasi berjualan dapat dibuat lebih permanen dan tertib.

Testimoni dan Harapan untuk Keberlanjutan

Berikut adalah beberapa suara yang merepresentasikan pengalaman langsung:

“Dulu ke Losari cuma lihat laut, duduk di tembok, terus pulang. Sekarang banyak spot buat foto, taman buat anak main, kafe buat nongkrong. Keluarga jadi betah lama-lama. Toiletnya juga bersih, jadi nggak was-was,” ujar Andi, wisatawan domestik asal Jakarta yang sedang berlibur.

“Sebagai tour operator, kami sekarang bisa menawarkan itinerary yang lebih variatif dan nyaman. Akses ke Lantebung yang dulu susah sekarang jadi mudah, itu jadi selling point baru. Tapi transportasi umum antar destinasi utama masih perlu ditingkatkan frekuensinya agar wisatawan mandiri benar-benar bisa mengandalkannya,” tambah Bunda Sari, pemilik biro perjalanan lokal.

Masyarakat lokal yang tinggal di sekitar kawasan wisata umumnya menyambut baik pembangunan infrastruktur baru, karena meningkatkan akses dan nilai ekonomi wilayah mereka. Namun, ada kekhawatiran terkait kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dan potensi kepadatan lalu lintas. Mereka berharap dapat lebih dilibatkan dalam proses perencanaan agar pembangunan tidak mengganggu tata kehidupan sosial mereka. Asosiasi Pariwisata seperti ASITA Makassar memberikan masukan agar pengembangan ke depan lebih terintegrasi secara digital, misalnya dengan satu platform tiket terpadu untuk berbagai atraksi dan transportasi, serta pelatihan berkelanjutan bagi SDM lokal untuk mengelola fasilitas baru dengan standar profesional.

Harapan besar mereka adalah agar momentum positif ini tidak berhenti, tetapi terus dikawal dengan komitmen dan evaluasi yang rutin.

Simpulan Akhir

Dengan fondasi infrastruktur yang kini jauh lebih kokoh, Makassar telah melompat ke peta destinasi pariwisata utama Indonesia. Peningkatan yang terlihat bukanlah titik akhir, melainkan babak awal dari sebuah perjalanan panjang menuju pariwisata yang berkelanjutan dan berkelas. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat lokal menjadi kunci untuk menjaga momentum positif ini. Ke depannya, integrasi pembangunan dengan warisan budaya serta alam akan menentukan bagaimana kota ini dikenang oleh setiap wisatawan yang datang.

Makassar telah siap menyambut, kini giliran dunia untuk menjelajahinya.

Daftar Pertanyaan Populer

Apakah peningkatan infrastruktur ini juga dirasakan di destinasi wisata alam sekitar Makassar?

Ya, pembangunan jaringan jalan dan peningkatan aksesibilitas turut membuka konektivitas menuju destinasi alam di sekitarnya, seperti Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan wisata bahari di Kepulauan Spermonde, sehingga perjalanan menjadi lebih efisien.

Bagaimana dengan tarif transportasi umum yang baru, apakah masih terjangkau bagi wisatawan?

Pemerintah mengedepankan aspek keterjangkauan. Meski fasilitas lebih modern dan nyaman, tarif transportasi umum seperti bus tetap disubsidi dan kompetitif, dengan rute yang lebih terintegrasi ke titik-titik wisata.

Apakah ada program khusus untuk melatih masyarakat lokal menyambut pariwisata yang meningkat?

Terdapat berbagai program capacity building yang diinisiasi oleh dinas pariwisata dan asosiasi, seperti pelatihan pemandu wisata, kewirausahaan kuliner, dan pelayanan hospitality untuk memberdayakan masyarakat sekitar kawasan wisata.

Bagaimana strategi mengatasi potensi kepadatan lalu lintas akibat lonjakan wisatawan?

Strategi jangka pendek meliputi pengaturan parkir dan manajemen arus lalu lintas di titik padat. Untuk jangka panjang, pengembangan transportasi massal yang terintegrasi dan pedestrian area menjadi prioritas dalam rencana induk.

Leave a Comment