Menghitung Luas Daerah Arsiran pada Persegi dengan Persegi Tambahan

Menghitung Luas Daerah Arsiran pada Persegi dengan Persegi Tambahan itu kayak main puzzle geometri yang bikin penasaran. Siapa sangka, dari dua bentuk persegi yang ditempel atau ditumpuk, kita bisa dapat area misterius yang perlu diungkap luasnya. Nah, tugas kita adalah jadi detektif angka yang membongkar rahasia di balik setiap arsiran itu, dengan logika sebagai senjata utamanya.

Nah, ngitung luas arsiran di persegi plus tambahannya itu kayak puzzle, perlu ketelitian dan logika yang jernih. Prinsip sama juga berlaku buat hal lain yang butuh perawatan detail, kayak Cara memulihkan dan memelihara masjid yang perlu pendekatan terstruktur. Jadi, balik lagi ke soal arsiran, intinya kita harus paham dulu bentuk utuh dan bagian-bagiannya sebelum bisa menemukan jawaban yang tepat.

Topik ini sebenarnya adalah aplikasi seru dari konsep luas bangun datar yang kita kenal. Intinya, kita akan berhadapan dengan sebuah persegi utama, lalu ada persegi lain—bisa lebih kecil, bisa lebih besar—yang nempel di sisinya atau malah masuk ke dalam. Daerah yang diarsir itu bisa berupa sisa-sisa bentuk, potongan, atau gabungan dari beberapa bagian. Tantangannya adalah memilih strategi tepat: apakah mengurangi, menambah, atau memotong-motong bentuk untuk menemukan jawabannya.

Pengenalan Konsep Dasar

Dalam dunia geometri, seringkali kita menemui soal atau ilustrasi yang menampilkan suatu bangun datar dengan bagian tertentu yang diarsir. Daerah arsiran ini bukan sekadar hiasan; ia merepresentasikan area spesifik yang perlu kita hitung luasnya. Luas daerah arsiran pada dasarnya adalah ukuran bidang datar yang diwarnai atau diberi pola dalam suatu gambar gabungan bangun datar. Karakteristik utamanya adalah bentuknya yang seringkali tidak beraturan, tercipta dari irisan, gabungan, atau pengurangan antara dua atau lebih bangun datar sederhana.

Salah satu konfigurasi yang kerap muncul melibatkan sebuah persegi utama dan satu atau lebih persegi tambahan. Persegi utama adalah bangun inti, sementara persegi tambahan biasanya menempel pada salah satu sisinya, baik di luar, di dalam, atau bahkan bertumpang tindih sebagian. Hubungan posisi antara keduanya inilah yang menentukan bentuk unik dari daerah arsiran. Sebagai contoh visual, bayangkan sebuah persegi besar. Sebuah persegi tambahan yang lebih kecil bisa menempel persis di tengah salah satu sisi luar persegi besar, membentuk bentuk seperti huruf “L”.

Variasi lain, persegi tambahan bisa menutupi sebagian sudut persegi utama, sehingga daerah arsiran justru berada di area persegi utama yang tidak tertutupi. Kemungkinan ketiga, persegi tambahan bisa diletakkan sepenuhnya di dalam persegi utama, sehingga daerah arsiran adalah area di dalam persegi utama yang berada di luar persegi kecil tersebut.

Definisi dan Karakteristik Luas Daerah Arsiran

Luas daerah arsiran merupakan besaran dua dimensi yang menunjukkan seberapa besar wilayah yang diarsir. Dalam konteks perhitungan, daerah ini sering kali bukan bangun datar dasar seperti persegi atau segitiga murni, melainkan bentuk komposit. Karakteristik kuncinya adalah keberadaannya selalu bergantung pada hubungan antara dua atau lebih bangun geometri. Ia bisa berupa sisa dari pengurangan, hasil penambahan, atau bahkan irisan dari beberapa bangun.

Pemahaman ini menjadi pondasi karena kita tidak bisa serta-merta mengalikan sisi kali sisi; kita perlu membongkar konfigurasinya terlebih dahulu.

Persegi Utama dan Persegi Tambahan

Persegi, dengan keempat sisi yang sama panjang dan sudut siku-sikunya, menjadi elemen dasar yang mudah dikenali. Dalam pola soal ini, persegi utama biasanya memiliki ukuran yang lebih besar dan menjadi acuan. Persegi tambahan, yang ukurannya bisa lebih kecil atau sama, ditempatkan dengan relasi spesifik terhadap persegi utama. Posisi menempel di sisi luar adalah yang paling umum, menciptakan daerah arsiran yang mencakup seluruh gabungan keduanya atau hanya bagian tertentu.

Memahami bagaimana kedua bangun ini berinteraksi secara spasial—apakah terpisah, bersinggungan, atau bertumpang tindih—adalah langkah pertama yang krusial sebelum melakukan hitungan apa pun.

Variasi Posisi dan Bentuk Daerah Arsiran

Beberapa variasi posisi persegi tambahan menghasilkan pola daerah arsiran yang berbeda-beda. Jika persegi tambahan menempel di luar tanpa tumpang tindih, daerah arsiran biasanya adalah gabungan total kedua persegi, atau kadang hanya persegi tambahannya saja. Pada skenario tumpang tindih sebagian, misalnya persegi tambahan menutupi sebagian sudut persegi utama, daerah arsiran justru menjadi area persegi utama yang tidak tertutup ditambah mungkin bagian dari persegi tambahan.

BACA JUGA  Jelaskan Pengertian dan Hubungan Objek Material serta Formal Geografi

Sementara itu, jika persegi tambahan berada di dalam, daerah arsiran klasiknya adalah “bingkai” atau “pagar” yang mengelilingi persegi kecil di dalam persegi besar. Setiap variasi memerlukan pendekatan perhitungan yang sedikit berbeda.

Prinsip dan Rumus Pendekatan Perhitungan

Menghitung Luas Daerah Arsiran pada Persegi dengan Persegi Tambahan

Source: gauthmath.com

Kunci utama dalam menghitung luas daerah arsiran yang bentuknya tidak beraturan adalah dengan memecahkannya menjadi bentuk-bentuk beraturan yang kita sudah pahami rumusnya. Prinsip paling mendasar dan paling sering digunakan adalah Luas Arsiran = Luas Total (Keseluruhan Gambar) – Luas Bagian yang Tidak Diarsir. Prinsip ini efektif ketika bagian yang tidak diarsir lebih mudah untuk dihitung. Sebaliknya, jika daerah arsiran terdiri dari beberapa potongan yang terpisah, prinsip penjumlahan luas masing-masing potongan menjadi lebih relevan.

Rumus-Rumus Dasar yang Esensial

Sebelum melompat ke soal yang kompleks, pastikan penguasaan terhadap rumus dasar ini sudah mantap. Untuk persegi, luas dihitung dengan sisi × sisi atau . Persegi panjang menggunakan panjang × lebar. Segitiga, yang sering muncul sebagai hasil dari pemotongan diagonal, luasnya adalah ½ × alas × tinggi. Dalam beberapa soal, teorema Pythagoras ( a² + b² = c²) dibutuhkan untuk mencari panjang sisi yang belum diketahui, terutama jika muncul segitiga siku-siku.

Ingat baik-baik: Luas Persegi = s × s. Luas Segitiga = ½ × a × t. Rumus ini adalah senjata utama.

Metode-Metode Perhitungan, Menghitung Luas Daerah Arsiran pada Persegi dengan Persegi Tambahan

Terdapat beberapa pendekatan sistematis untuk menyelesaikan masalah luas daerah arsiran. Pemilihan metode bergantung pada kemudahan dalam mengidentifikasi bagian-bagian bangun. Metode pengurangan luas sangat powerful ketika bentuk keseluruhan jelas dan bagian yang dibuang juga terdefinisi dengan baik. Metode penambahan luas bagian cocok untuk daerah arsiran yang terpisah-pisah. Sementara dekomposisi bentuk adalah jurus andalan ketika daerah arsiran itu sendiri bisa dipotong-potong menjadi bangun sederhana.

Metode Konsep Dasar Kapan Digunakan? Contoh Analogi
Pengurangan Luas Mengurangi luas bagian yang tidak diarsir dari luas total bangun. Bagian yang tidak diarsir berbentuk beraturan dan mudah dihitung. Seperti menghitung luas kertas yang tersisa setelah dipotong bentuk persegi di tengahnya.
Penambahan Luas Bagian Menjumlahkan luas beberapa daerah arsiran yang terpisah. Daerah arsiran terdiri dari dua atau lebih potongan yang tidak bersentuhan. Seperti menghitung total cat yang dibutuhkan untuk mengecat beberapa pigura yang terpisah.
Dekomposisi Bentuk Membagi daerah arsiran menjadi beberapa bangun sederhana, lalu menjumlahkannya. Daerah arsiran tunggal dapat dipotong menjadi persegi, segitiga, dll. Seperti memotong-motong kue yang bentuknya aneh menjadi potongan persegi dan segitiga untuk dibagikan.

Identifikasi Dimensi dan Informasi

Langkah paling kritis sebelum mulai menghitung adalah melakukan inventarisasi data. Tandai semua panjang sisi yang diketahui langsung dari soal. Selanjutnya, identifikasi dimensi yang belum diketahui tetapi diperlukan untuk perhitungan. Seringkali, informasi ini tersembunyi dan harus ditemukan melalui relasi geometris. Misalnya, jika persegi tambahan menempel di sisi persegi utama, maka panjang salah satu sisi persegi tambahan mungkin sama dengan sisi persegi utama.

Gampang banget, sebenarnya, inti dari Menghitung Luas Daerah Arsiran pada Persegi dengan Persegi Tambahan itu tentang memecah area kompleks jadi bagian-bagian sederhana. Logika serupa bisa lo terapkan untuk menyelesaikan soal Hitung luas daerah terbatas kurva y=9, sumbu X, x=-1, x=3 yang konsepnya mirip: mencari area di bawah garis datar. Nah, setelah paham prinsip dasarnya, kamu bakal lebih jago lagi deh ngolah arsiran di bangun datar yang tampak ruwet itu!

Atau, jika ada garis diagonal, teorema Pythagoras bisa diterapkan. Selalu tanyakan pada diri sendiri: “Ukuran apa saja yang saya butuhkan untuk menghitung luas ini, dan bagaimana cara mendapatkannya dari data yang ada?”

Variasi Pola dan Posisi Persegi Tambahan

Keindahan dan sekaligus tantangan dari soal luas daerah arsiran terletak pada variasinya. Pola penempatan persegi tambahan yang berbeda langsung mengubah strategi penyelesaiannya. Dengan mengelompokkan berdasarkan pola, kita bisa membangun kerangka berpikir yang lebih terstruktur. Mari kita telusuri beberapa variasi umum beserta langkah sistematis untuk menyelesaikannya.

Persegi Tambahan Menempel di Luar

Dalam pola ini, persegi tambahan bersinggungan dengan sisi persegi utama tanpa ada bagian yang saling menutup. Daerah arsiran biasanya adalah gabungan kedua bangun. Langkah penyelesaiannya relatif langsung:

  • Hitung luas persegi utama (L1).
  • Hitung luas persegi tambahan (L2).
  • Jumlahkan kedua luas tersebut (L_arsir = L1 + L2).
  • Perhatikan baik-baik: jika yang diarsir hanya salah satu bangun saja, maka langkah penjumlahan diganti dengan hanya mengambil luas bangun yang diarsir.

Persegi Tambahan Tumpang Tindih Sebagian

Ini adalah variasi yang lebih menantang. Bagian dari persegi tambahan menutupi area persegi utama. Daerah arsiran bisa jadi adalah gabungan kedua bangun dikurangi area tumpang tindih, atau hanya bagian-bagian tertentu saja. Langkah penyelesaian memerlukan kejelian:

  • Identifikasi area tumpang tindih (biasanya berbentuk persegi atau persegi panjang kecil).
  • Hitung luas total jika kedua bangun digabung tanpa memperhitungkan tumpang tindih (L1 + L2).
  • Hitung luas area tumpang tindih (L_tumpang).
  • Luas arsiran yang merupakan gabungan = (L1 + L2) – L_tumpang.
  • Jika yang diarsir hanya bagian yang tidak tertutup, maka hitung luas masing-masing bangun dan kurangi bagian yang tertutup dari masing-masingnya sebelum dijumlah.
BACA JUGA  Hitung nilai 10P2 15C3 12P2 12C3 dan Kuasai Permutasi Kombinasi

Persegi Tambahan di Dalam Persegi Utama

Skenario ini menghasilkan daerah arsiran berbentuk bingkai. Persegi kecil berada tepat di dalam persegi besar, mungkin di tengah atau menempel di sisi dalam. Daerah arsiran adalah area antara kedua persegi.

  • Hitung luas persegi utama (L_besar).
  • Hitung luas persegi tambahan di dalam (L_kecil).
  • Kurangi luas kecil dari luas besar: L_arsir = L_besar – L_kecil.
  • Perhatikan posisi persegi kecil. Jika tidak di tengah, pastikan untuk mengidentifikasi semua dimensi yang diperlukan untuk menghitung L_kecil dengan tepat.

Beberapa Persegi Tambahan dengan Ukuran Berbeda

Soal bisa dikembangkan dengan menambahkan lebih dari satu persegi tambahan, mungkin menempel pada sisi yang berbeda. Daerah arsiran bisa menjadi sangat kompleks.

  • Gambarkan sketsa ulang dan beri label setiap bagian.
  • Hitung luas setiap komponen secara terpisah: persegi utama dan setiap persegi tambahan.
  • Identifikasi area yang mungkin bertumpang tindih antar persegi tambahan (jika ada).
  • Gunakan prinsip gabungan dan pengurangan secara sistematis. Metode dekomposisi sering kali paling ampuh here—bagi daerah arsiran menjadi beberapa bagian yang benar-benar terpisah dan mudah dihitung.

Teknik Penyelesaian Soal Langkah demi Langkah: Menghitung Luas Daerah Arsiran Pada Persegi Dengan Persegi Tambahan

Mari kita praktekkan prinsip dan variasi di atas dengan mengerjakan sebuah contoh soal yang menggabungkan beberapa konsep. Bayangkan sebuah persegi utama ABCD dengan panjang sisi 12 cm. Pada sisi AB, ditempelkan persegi tambahan AEFB dengan sisi 8 cm (sehingga AE = 8 cm, dan titik E terletak pada perpanjangan garis AB). Kemudian, dari titik sudut C persegi utama, ditarik garis diagonal ke titik sudut A.

Daerah yang diarsir adalah daerah di dalam persegi utama ABCD yang berada di luar segitiga AEC, ditambah seluruh luas persegi tambahan AEFB. Tugas kita adalah menghitung total luas arsiran.

Contoh Soal Kompleks dengan Tumpang Tindih

Berikut adalah penyelesaian langkah demi langkah dari soal di atas:

  1. Memahami Gambar dan Daerah Arsiran: Kita punya persegi ABCD (sisi 12 cm). Persegi AEFB (sisi 8 cm) menempel di luar pada sisi AB. Segitiga AEC dibentuk oleh titik A, sudut C persegi, dan titik E di luar persegi. Daerah arsiran terdiri dari dua bagian: (a) Seluruh persegi AEFB, dan (b) Bagian persegi ABCD yang tidak tertutup segitiga AEC.
  2. Menghitung Luas Bagian 1 (Persegi Tambahan): Luas AEFB = 8 cm × 8 cm = 64 cm².
  3. Menganalisis Segitiga AEC: Segitiga ini memiliki alas AE. Panjang AE = panjang sisi AB + panjang sisi persegi kecil? Hati-hati! Titik A ke B adalah 12 cm (sisi persegi utama). Persegi kecil menempel, sehingga titik E berada di perpanjangan AB. Jadi, panjang AE = AB + BE?

    Tidak tepat. Karena AEFB adalah persegi dengan sisi 8 cm, maka panjang AE = 8 cm. Perhatikan bahwa titik B berada di antara A dan E? Tidak. Dalam deskripsi “persegi AEFB menempel pada sisi AB”, maka sisi AB persegi utama adalah juga salah satu sisi persegi tambahan.

    Jadi, A-B adalah sisi bersama. Dengan demikian, A-E adalah sisi lain dari persegi tambahan yang tegak lurus AB (atau sejajar dengan AD). Mari kita klarifikasi: Jika persegi AEFB menempel pada AB, maka titik sudutnya adalah A, E, F, B. Sisi AB adalah sisi bawah persegi utama dan juga menjadi sisi salah satu sisi persegi tambahan. Jadi, titik E adalah sudut di “atas” dari sisi A yang membentuk sisi tegak persegi tambahan.

    Maka, segitiga AEC memiliki alas AC (diagonal persegi utama) dan tinggi? Menjadi rumit. Mari kita definisikan ulang soal untuk konsistensi: Anggap persegi tambahan menempel ke luar sepanjang sisi AB, sehingga AB adalah sisi persekutuan. Maka, titik E dan F berada di luar persegi utama, dengan AE tegak lurus AB dan panjangnya 8 cm. Segitiga AEC dibentuk oleh titik A, E (sudut persegi kecil), dan C (sudut persegi utama berseberangan dengan A).

  4. Menghitung Luas Segitiga AEC: Segitiga AEC dapat dilihat dengan alas AE (8 cm) dan tinggi = jarak dari titik C ke garis yang diperpanjang AE. Jarak tersebut sama dengan panjang sisi persegi utama, yaitu 12 cm, karena C terletak tepat 12 cm secara horizontal dari garis AD yang sejajar AE? Mari kita pikirkan koordinat. Letakkan titik A di (0,0). Maka B di (12,0).

    Karena persegi AEFB dengan sisi 8 cm menempel di atas sisi AB (asumsi), maka E di (0,8). Titik C berseberangan dengan A, jadi C di (12,12). Segitiga AEC memiliki titik A(0,0), E(0,8), C(12,12). Luasnya dapat dihitung dengan rumus ½

    |x1(y2-y3)+ x2(y3-y1)+ x3(y1-y2)|. Atau lebih mudah

    alas = AE = 8 (vertikal). Tinggi adalah jarak horizontal dari C ke garis AE (garis x=0), yaitu 12. Jadi Luas Segitiga AEC = ½ × 8 × 12 = 48 cm².

  5. Menghitung Luas Bagian 2 (di dalam ABCD di luar segitiga): Luas persegi utama ABCD = 12 × 12 = 144 cm². Luas bagian di dalam ABCD yang diarsir adalah total luas ABCD dikurangi luas segitiga AEC yang memotongnya. Jadi, 144 cm²

    48 cm² = 96 cm².

  6. Total Luas Arsiran: Jumlahkan bagian 1 (persegi kecil) dan bagian 2 (area dalam persegi besar yang tersisa): 64 cm² + 96 cm² = 160 cm².

Strategi Kunci: Selalu dekomposisi masalah. Jangan melihat gambar sebagai satu kesatuan yang rumit. Pecah menjadi bagian-bagian yang diarsir, cari tahu bentuk masing-masing, dan temukan cara paling efisien untuk menghitung luas tiap bagian—entah dengan pengurangan, penjumlahan, atau rumus langsung.

Kesalahan Umum dan Pencegahannya

Beberapa jebakan sering mengganggu. Pertama, kesalahan dalam mengidentifikasi dimensi, terutama ketika ada garis yang tampaknya sebagai sisi tetapi bukan. Kedua, lupa mengurangkan area tumpang tindih saat menjumlahkan luas, sehingga hasilnya menjadi terlalu besar. Ketiga, salah menerapkan rumus, misalnya menggunakan rumus persegi untuk bentuk yang sebenarnya adalah segitiga. Cara menghindarinya adalah dengan selalu membuat sketsa ulang dan memberi label pada setiap titik sudut dan panjang sisi yang diketahui.

Tuliskan rencana perhitungan sebelum mulai berhitung, dan periksa konsistensi satuan. Terakhir, lakukan pengecekan logis: apakah hasil luas arsiran mungkin lebih besar dari luas total bangun terbesar? Jika iya, ada yang salah.

Aplikasi dan Latihan Soal Bervariasi

Untuk mengasah kemampuan, tidak ada cara yang lebih baik daripada berlatih dengan variasi soal. Berikut tiga soal dengan tingkat kesulitan berbeda. Cobalah selesaikan sendiri terlebih dahulu sebelum melihat petunjuk yang diberikan. Gambar deskriptif di bawah ini diharapkan dapat divisualisasikan dari uraian yang diberikan.

Sketsa Deskripsi Diketahui Ditanya Petunjuk Penyelesaian
Sebuah persegi utama dengan sisi 10 cm. Sebuah persegi tambahan dengan sisi 6 cm menempel tepat di tengah salah satu sisinya, di bagian luar. Seluruh gabungan bangun diarsir. Sisi persegi utama = 10 cm. Sisi persegi tambahan = 6 cm. Luas total daerah arsiran. Ini adalah kasus penjumlahan langsung. Hitung luas masing-masing persegi dan jumlahkan. Perhatikan bahwa persegi tambahan menempel di luar, tidak ada tumpang tindih.
Persegi ABCD sisi 15 cm. Di dalamnya, terdapat persegi kecil EFGH yang titik-titik sudutnya terletak tepat pada titik tengah masing-masing sisi ABCD. Daerah arsiran adalah daerah di dalam ABCD tetapi di luar EFGH (berbentuk bingkai). Sisi persegi besar (ABCD) = 15 cm. Persegi kecil terbentuk dari titik tengah sisi-sisi besar. Luas daerah arsiran (luas bingkai). Gunakan metode pengurangan. Cari luas persegi kecil. Sisi persegi kecil dapat ditemukan dengan menghubungkan titik tengah; gunakan teorema Pythagoras pada segitiga siku-siku di sudut-sudut persegi besar. Atau, luas persegi kecil selalu setengah dari luas persegi besar jika dibentuk demikian.
Persegi P dengan sisi 20 cm. Pada dua sisi yang berdekatan (misalnya sisi kanan dan atas), ditempel masing-masing sebuah persegi panjang tambahan dengan lebar 4 cm. Panjang persegi panjang sama dengan sisi persegi utama. Kedua persegi panjang ini bertemu di satu sudut. Daerah arsiran adalah total gabungan ketiga bangun (persegi utama + dua persegi panjang), tetapi area pertemuan kedua persegi panjang (sebuah persegi kecil 4cm x 4cm) hanya dihitung sekali. Sisi persegi utama = 20 cm. Lebar persegi panjang tambahan = 4 cm. Panjangnya = sisi persegi (20 cm). Luas total daerah arsiran. Ini melibatkan penjumlahan dengan satu area tumpang tindih. Hitung luas persegi utama, luas dua persegi panjang, lalu jumlahkan. Karena area sudut (4×4) terhitung dua kali dalam penjumlahan persegi panjang, kurangkan sekali. Rumus: L_arsir = L_persegi + (2 × L_persegipanjang)

L_persegi_kecil_tumpang.

Panduan Memeriksa Kebenaran Hasil

Setelah mendapatkan angka akhir, lakukan validasi. Pertama, perkirakan secara kasar: bandingkan luas arsiran dengan luas persegi utama. Apakah masuk akal? Kedua, gunakan metode alternatif jika memungkinkan. Misal, pada soal bingkai, hitung luas empat segitiga siku-siku di sudut sebagai alternatif selain metode pengurangan.

Jika hasilnya sama, kemungkinan besar jawaban Anda benar. Ketiga, pastikan satuan sudah konsisten (cm²) dan penulisannya tepat. Proses pengecekan ini bukan formalitas, melainkan bagian integral dari pemecahan masalah yang teliti.

Simpulan Akhir

Jadi, gimana? Sudah kebayang kan serunya jelajah dunia arsiran ini? Kuncinya cuma satu: jangan panik lihat gambarnya. Pecah saja masalah besar itu jadi bagian-bagian kecil yang sudah kamu kuasai rumusnya. Setiap soal yang berhasil kamu pecahkan itu bukti kalau logika dan ketelitianmu lagi naik level.

Teruslah berlatih dengan variasi soal yang berbeda, karena di situlah kejelianmu benar-benar ditempa. Selamat berhitung, dan semoga setiap daerah arsiran yang kamu temui jadi teka-teki yang menyenangkan untuk dipecahkan!

Area Tanya Jawab

Bagaimana jika ukuran sisi persegi tambahan tidak diketahui, hanya perbandingannya?

Kamu bisa memisalkan sisi tersebut dengan sebuah variabel (misal, ‘x’). Lalu, gunakan informasi lain dalam soal (seperti keliling total, luas total, atau hubungan geometri) untuk membentuk persamaan dan mencari nilai ‘x’ tersebut.

Apakah daerah arsiran selalu berbentuk persegi atau persegi panjang?

Tidak selalu. Seringkali daerah arsiran justru berbentuk bangun datar lain, seperti segitiga, trapesium, atau bentuk L (gabungan persegi panjang). Itulah mengapa dekomposisi bentuk menjadi kunci penyelesaian.

Kapan harus menggunakan teorema Pythagoras dalam soal ini?

Teorema Pythagoras digunakan ketika kamu perlu mencari panjang sisi yang tidak diketahui, yang membentuk segitiga siku-siku. Misalnya, ketika persegi tambahan menempel di sudut, sering terbentuk segitiga siku-siku di area yang tidak diarsir.

Adakah cara cepat atau rumus khusus untuk luas daerah arsiran?

Tidak ada rumus ajaib yang berlaku universal. Setiap susunan bentuk punya karakteristik unik. “Rumus” terbaik adalah pemahaman kuat pada prinsip dasar: Luas Arsiran = Luas Total – Luas Tidak Diarsir, serta kemampuan memandang bentuk secara kreatif.

Bagaimana cara membedakan kapan menggunakan metode pengurangan dan kapan metode penambahan bagian?

Lihatlah daerah arsirannya. Jika daerah arsiran adalah sisa dari sebuah bentuk besar yang dikurangi, gunakan pengurangan. Jika daerah arsiran justru merupakan gabungan dari beberapa bentuk kecil yang terpisah, maka hitung masing-masing lalu jumlahkan.

Leave a Comment