Berikan contoh 10 hadis kecil dan 10 hadis besar panduan lengkap

Berikan contoh 10 hadis kecil dan 10 hadis besar itu kayak buka peta harta karun dalam Islam, lho. Bukan cuma buat koleksi, tapi buat ngerti banget pesan-pesan dari langit yang diturunkan ke Nabi Muhammad. Ada yang redaksinya langsung dari Allah, ada yang dari Rasulullah sendiri dengan bahasa manusiawi. Yuk, kita selami bareng-bareng biar pemahaman keagamaan kita nggak cuma kulitnya aja, tapi sampai ke sumsumnya.

Membedakan hadis qudsi (kecil) dan nabawi (besar) itu kunci awalnya. Kalau hadis qudsi, isinya wahyu tapi kata-katanya dari Rasulullah, sementara hadis nabawi sepenuhnya berasal dari beliau baik ide maupun kata-katanya. Dengan ngulik kedua jenis ini, kita bakal dapetin panduan hidup yang komplit, dari yang sifatnya sangat spiritual sampai yang praktis banget buat ngatur hubungan sama orang lain dan diri sendiri.

Pengantar dan Konsep Dasar Hadis

Kalau kita bicara tentang sumber ajaran Islam, Al-Qur’an pasti jadi yang utama. Tapi, ada satu sumber lain yang posisinya sangat istimewa, seperti cahaya yang menerangkan bagaimana Al-Qur’an itu dijalankan dalam keseharian. Itulah hadis. Bayangkan Al-Qur’an sebagai konstitusi, sementara hadis adalah penjelasan detail, tafsir praktis, dan contoh langsung dari sang pemimpin tertinggi, Nabi Muhammad SAW. Memahami hadis bukan cuma urusan akademis, tapi pintu masuk untuk merasakan Islam yang hidup dan aplikatif.

Secara bahasa, hadis berarti ‘perkataan’, ‘cerita’, atau ‘komunikasi’. Dalam istilah ilmu agama, hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat jasmani dan akhlaknya. Nah, di dalam khazanah hadis ini, ada klasifikasi menarik berdasarkan siapa yang ‘pemilik’ redaksinya. Di sinilah kita mengenal Hadis Qudsi (sering disebut hadis kecil) dan Hadis Nabawi (atau hadis besar).

Perbedaan utamanya ada pada sumber redaksi. Hadis Qudsi maknanya dari Allah, tapi kata-katanya dirangkai oleh Nabi. Sementara Hadis Nabawi, baik makna maupun redaksinya berasal dari Nabi sendiri. Mempelajari keduanya memberi kita perspektif lengkap: dari pesan ilahi yang langsung (Qudsi) hingga panduan praktis manusiawi dari sang teladan (Nabawi).

Perbedaan Mendasar Hadis Qudsi dan Hadis Nabawi

Mari kita bedah lebih dalam. Hadis Qudsi itu unik. Ia seperti jembatan antara wahyu Al-Qur’an dan sabda Nabi biasa. Isinya adalah firman Allah, namun disampaikan dengan bahasa Rasulullah, dan tidak termasuk dalam mushaf Al-Qur’an. Biasanya diawali dengan frasa “Allah berfirman” atau “Rasulullah bersabda atas apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya”.

Sifatnya seringkali lebih global, berbicara tentang rahmat, azab, dan hakikat ketuhanan. Sedangkan Hadis Nabawi adalah otoritas penuh Nabi sebagai manusia pilihan. Redaksinya murni dari beliau, membahas hal yang sangat detail; mulai dari tata cara wudhu, etika jual beli, hingga nasihat untuk rumah tangga. Keduanya sama-sama sumber hukum, tapi ‘rasa’ dan konteks turunnya berbeda.

Contoh Hadis Kecil (Hadis Qudsi) dan Penjelasannya

Untuk merasakan nuansa Hadis Qudsi, mari kita simak beberapa contohnya. Hadis-hadis ini punya ‘greget’ yang berbeda. Mereka menyentuh relung hati yang paling dalam tentang hubungan hamba dan Tuhannya. Di bawah ini adalah sepuluh hadis Qudsi populer yang sering menjadi renungan para ulama dan pencinta spiritualitas.

No Teks Arab Terjemahan Tema Inti
1 يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي… Allah berfirman: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…” Prasangka Baik dan Dzikir
2 قَالَ اللَّهُ: ابْنَ آدَمَ، مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي… قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟… Allah berfirman: “Wahai anak Adam, Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku…”. Hamba berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu sedang Engkau Tuhan semesta alam?”… Hak-Hak Sosial sebagai Ibadah
3 يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْعِبَادُ كُلُّهُمْ عَالِلٌ إِلَّا الْمُتَحَابِّينَ فِيَّ… Allah berfirman: “Semua hamba adalah keluarga-Ku, kecuali mereka yang saling mencintai karena Aku…” Cinta karena Allah
4 قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا… Allah berfirman: “Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu engkau bertemu Aku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku sedikitpun…” Luasnya Ampunan Allah
5 يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ: أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا، فَمَنْ عَبَدَ لِي شَيْئًا… Allah berfirman: “Akulah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Barangsiapa menyembah sesuatu selain-Ku…” Keesaan dan Konsekuensi Syirik
6 قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ… Allah berfirman: “Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh pada sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amalan lalu di dalamnya ia menyekutukan-Ku…” Ikhlas dalam Beramal
7 يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ… Allah berfirman: “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu…” Kekuatan Doa dan Harapan
8 قَالَ اللَّهُ: أَذْهَبْتُمْ حَسَنَاتِكُمْ وَلا أُبَالِي، غَفَرْتُ لَكُمْ… Allah berfirman (pada hari kiamat): “Kalian telah menghabiskan kebaikan kalian? Aku tidak peduli. Aku telah mengampuni kalian…” Kedermawanan Allah di Akhirat
9 يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: مَا يُرِيدُ الْعَبْدُ بِقَضَاءِ حَاجَتِهِ إِلَّا أَنَا… Allah berfirman: “Tidaklah seorang hamba berniat untuk memenuhi kebutuhannya (saat berdoa) kecuali Aku…” Allah Pemberi Kebutuhan
10 قَالَ اللَّهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، اصْبِرْ تَنَلْ، وَارْضَ تَسْلَمْ… Allah berfirman: “Wahai anak Adam, bersabarlah maka engkau akan mendapat, ridhailah maka engkau akan selamat…” Nasihat tentang Sabar dan Ridha
BACA JUGA  Konversi 200 cc Air ke Gelas Panduan Praktis Sehari-hari

Penjelasan Mendalam Dua Hadis Qudsi Pilihan

Dari sepuluh hadis di atas, mari kita renungkan dua yang paling sering menggugah hati.

Hadis Qudsi No. 1: “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Ini adalah undangan sekaligus peringatan. Allah seakan-akan berkata, “Anggap saja Aku seperti yang kau bayangkan.” Kalau kita berprasangka Allah Maha Pengampun, maka pengampunan itu yang akan kita dapat. Kalau kita sangka Allah pelit rezeki, maka hidup kita akan dipenuhi kecemasan dan kekurangan yang kita ciptakan sendiri. Hadis ini menempatkan tanggung jawab besar di pundak kita: membentuk gambaran Tuhan yang positif.

Ini bukan soal membohongi diri, tapi tentang memilih untuk fokus pada sifat Rahmat-Nya yang mendahului Murka-Nya. Dalam konteks kehidupan, ini mengajak kita untuk selalu optimis dan husnudzan, karena dunia merespons berdasarkan prasangka kita.

Hadis Qudsi No. 2: “Aku sakit namun engkau tidak menjenguk-Ku.”
Ini adalah revolusi konsep ibadah. Allah mengaitkan diri-Nya dengan makhluk yang paling lemah, sakit, dan membutuhkan. Saat kita menjenguk orang sakit, sejatinya kita sedang “menjenguk” Allah dalam wujud ciptaan-Nya. Ibadah vertikal (hablum minallah) terwujud nyata dalam hubungan horizontal (hablum minannas). Hadis ini menghancurkan dikotomi antara urusan dunia dan akhirat, antara sosial dan ritual.

Ia mengajarkan bahwa spiritualitas yang sejati adalah yang turun ke bumi, menyentuh keringat dan air mata sesama. Setiap kebaikan pada makhluk adalah kebaikan pada Sang Pencipta.

Contoh Hadis Besar (Hadis Nabawi) dan Penjelasannya: Berikan Contoh 10 Hadis Kecil Dan 10 Hadis Besar

Berbeda dengan nuansa ilahiah Hadis Qudsi, Hadis Nabawi menghadirkan sosok Nabi Muhammad SAW yang sangat manusiawi, praktis, dan detail. Sabda-sabdanya adalah manual kehidupan. Berikut sepuluh hadis nabawi yang menjadi pilar dalam akidah, ibadah, dan akhlak seorang muslim.


  • 1. Niat dalam Beramal.
    “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Perawi utama: Umar bin Khattab.


  • 2. Rukun Islam.
    “Islam dibangun atas lima perkara: syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” (HR. Bukhari-Muslim). Perawi utama: Abdullah bin Umar.


  • 3. Larangan Berbuat Zalim.
    “Takutlah kalian pada doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari). Perawi utama: Ibnu Abbas.


  • 4. Tanda Iman.
    “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim). Perawi utama: Anas bin Malik.


  • 5. Menyingkirkan Gangguan.
    “Iman itu ada lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Yang paling tinggi adalah perkataan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan…” (HR. Muslim).

    Mencari contoh 10 hadis kecil dan 10 hadis besar itu penting banget untuk memahami ajaran Islam secara bertahap. Nah, sebelum masuk ke contoh-contohnya, ada baiknya kita pahami dulu pondasi nilai manusia dalam Islam, seperti yang dijelaskan dalam ulasan tentang Pengertian Martabat, Harkat, dan Derajat. Pemahaman ini bakal bikin kita lebih menghayati makna di balik setiap hadis, baik yang kecil tentang adab sehari-hari maupun hadis besar tentang prinsip keyakinan, sehingga pencarian contohnya jadi lebih bermakna dan kontekstual.

    Perawi utama: Abu Hurairah.


  • 6. Keutamaan Silaturahmi.
    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya…” (HR. Bukhari-Muslim). Perawi utama: Abu Hurairah.


  • 7. Larangan Marah.
    “Janganlah marah.” Beliau mengulanginya berkali-kali. (HR. Bukhari).

    Perawi utama: Abu Hurairah.


  • 8. Cinta kepada Nabi.
    “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orangtuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari-Muslim). Perawi utama: Anas bin Malik.


  • 9. Dua Nikmat yang Diabaikan.
    “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Perawi utama: Abdullah bin Abbas.


  • 10. Tawakal yang Benar.
    “Ikatlah untamu (dengan tali), lalu bertawakallah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi). Perawi utama: Anas bin Malik.

Latar Belakang dan Implikasi Tiga Hadis Nabawi

Mari kita telusuri kisah di balik tiga hadis di atas untuk memahami konteks dan kedalamannya.

Hadis tentang Niat (No.1). Hadis ini diriwayatkan Umar bin Khattab dan menjadi hadis pertama dalam banyak kitab hadis utama. Konteks turunnya berkaitan dengan hijrah. Saat itu, ada seorang yang berhijrah hanya untuk menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais, bukan semata-mata karena Allah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa nilai sebuah tindakan heroik sekalipun (seperti hijrah) bisa menjadi sia-sia jika niatnya melenceng. Implikasinya dalam kehidupan sehari-hari sangat luas.

Saat kita bekerja, belajar, atau bahkan beramal sosial, hadis ini mengajak kita untuk terus-menerus melakukan koreksi niat. Apakah ini untuk pujian, uang, atau benar-benar karena Allah dan mencari kebaikan? Niat yang lurus akan mengubah rutinitas menjadi ibadah.

Nah, kalau lagi cari contoh 10 hadis kecil dan 10 hadis besar, kita perlu ketelitian yang sama kayak saat menganalisis suatu reaksi kimia yang spesifik. Misalnya nih, memahami detail kenapa Reaksi larutan dengan gas halogen yang tidak dapat berlangsung itu penting banget buat mengerti batasan-batasannya. Sama halnya, dalam mengkaji hadis, kita harus paham konteks dan klasifikasinya secara mendalam agar pemahaman agamamu makin kuat dan tidak sekadar hafalan doang.

Hadis tentang Larangan Marah (No.7). Seorang sahabat datang kepada Nabi dan meminta nasihat yang singkat namun padat. Nabi hanya menjawab, “Jangan marah.” Beliau mengulanginya beberapa kali. Ini menunjukkan bahwa mengendalikan amarah adalah fondasi dari banyak kebaikan akhlak. Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan, hadis ini adalah obat stres. Implikasinya, kita diajak untuk membangun mekanisme diri: ketika marah datang, berwudhulah, duduk jika berdiri, diam jika berbicara.

Ini bukan melarang emosi, tapi melarang tindakan destruktif yang lahir dari emosi tak terkendali. Banyak perselisihan rumah tangga dan pertemanan yang bisa dicegah dengan mengamalkan hadis sederhana ini.

Hadis tentang Mengikat Unta (No.10). Ini adalah penjelasan sempurna tentang tawakal yang salah kaprah. Tawakal bukan berarti pasif dan menyerahkan segalanya tanpa usaha. Seorang Badui yang meninggalkan untanya tanpa diikat lalu berkata “Saya bertawakal kepada Allah” justru ditegur oleh Nabi. Pesannya jelas: lakukan sebab-sebab duniawi yang mungkin kamu lakukan, baru setelah itu serahkan hasilnya pada Allah. Implikasinya, dalam mencari rezeki, kita harus bekerja keras (mengikat unta).

Dalam menjaga kesehatan, kita harus berolahraga dan makan sehat (mengikat unta). Dalam belajar, kita harus membaca dan berlatih (mengikat unta). Setelah usaha maksimal dilakukan, barulah hati tenang karena percaya pada ketentuan Allah yang terbaik.

Perbandingan dan Aplikasi Praktis

Setelah melihat contoh-contohnya, sekarang kita bisa menyusun perbandingan yang lebih sistematis. Memahami tabel perbandingan ini akan memudahkan kita mengidentifikasi dan menghayati setiap jenis hadis yang kita temui.

Aspek Hadis Qudsi Hadis Nabawi Catatan
Sumber Redaksi Makna dari Allah, redaksi dari Nabi. Makna dan redaksi dari Nabi. Ini pembeda paling utama. Qudsi adalah ‘kutipan’ dari Allah, Nabawi adalah ‘karya orisinal’ Nabi.
Sanad (Mata Rantai Periwayat) Sanadnya bersambung hingga Nabi. Sanadnya bersambung hingga Nabi. Dari sisi sanad, keduanya sama. Keduanya harus melalui proses verifikasi yang ketat.
Cakupan Kandungan Cenderung global: tentang sifat Allah, rahmat, azab, hari akhir, dan hubungan transendental hamba-Tuhan. Sangat luas dan detail: mencakup akidah, ibadah ritual (thaharah, shalat, dll), muamalah (ekonomi, politik), akhlak, hingga adab sehari-hari. Hadis Nabawi adalah kitab panduan teknis kehidupan. Hadis Qudsi lebih seperti kitab renungan spiritual.
Kata Pembuka Khas Biasanya diawali: “Allah berfirman…” atau “Rasulullah bersabda tentang apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya…”. Diawali dengan: “Rasulullah bersabda…” atau “Nabi melakukan…”. Ini cara termudah untuk identifikasi awal saat membaca teks hadis.
Kedudukan Hukum Sebagai sumber hukum, namun jika bertentangan dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an didahulukan. Sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an, dan sebagai penjelas utama Al-Qur’an. Kedudukannya sebagai sumber hukum adalah setara, hanya sumber redaksinya yang berbeda.

Mengidentifikasi Jenis Hadis Baru

Ketika kamu menemukan sebuah teks hadis baru, ada langkah sederhana yang bisa diikuti. Pertama, lihat kata pembukanya. Jika ada frasa eksplisit “Allah berfirman” atau semacamnya yang menunjukkan Nabi sedang meriwayatkan firman, itu mengarah ke Hadis Qudsi. Kedua, perhatikan tema besarnya. Apakah isinya berbicara langsung tentang Allah, janji-Nya, ancaman-Nya, dengan gaya bahasa yang mirip Al-Qur’an tapi tidak ada dalam mushaf?

Itu ciri kuat Qudsi. Ketiga, cek dalam kitab-kitab khusus. Hadis Qudsi biasanya dikumpulkan dalam kitab tersendiri seperti “Al-Ithafat As-Saniyyah bil Hadits Al-Qudsiyyah”. Jika tidak ditemukan indikasi tersebut, dan hadis itu membahas hukum praktis, kisah Nabi, atau nasihat umum, kemungkinan besar itu adalah Hadis Nabawi.

Pohon Ilmu Khazanah Hadis

Bayangkan sebuah pohon ilmu yang kokoh. Akarnya yang menghujam dalam adalah Al-Qur’an, sumber utama segala sumber. Batang pohon yang besar dan kuat adalah Sunnah/Hadis secara umum, yang tumbuh langsung dari akar Al-Qur’an. Dari batang ini, tumbuh dua cabang besar yang saling melengkapi. Cabang pertama adalah Hadis Qudsi, cabang yang menjulang tinggi ke langit, berbuah pesan-pesan spiritual tentang ketuhanan.

Cabang kedua adalah Hadis Nabawi, cabang yang lebat dan rindang, dengan ranting-ranting yang banyak: ada ranting Akidah, ranting Ibadah, ranting Muamalah, dan ranting Akhlak. Setiap ranting berdaun lebat berupa sabda-sabda praktis Nabi. Pohon ini disirami oleh ilmu Musthalah Hadis (untuk verifikasi), dipupuk oleh pemahaman para ulama (Syarah), sehingga menghasilkan buah yang manis berupa pemahaman Islam yang utuh (Fiqh dan Akhlak).

Eksplorasi Tema dan Kandungan

Dari sepuluh contoh Hadis Qudsi yang kita bahas, ada benang merah tema yang terus berulang. Tema-tema ini seperti nada dasar dari musik spiritual dalam Islam.

Tema yang paling menonjol adalah Kedekatan dan Kasih Sayang Allah. Banyak hadis Qudsi menekankan bahwa Allah itu dekat, pengampun, dan selalu membuka pintu taubat seluas-luasnya (seperti pada hadis no. 4 dan 7). Tema kedua adalah Hakikat Ibadah yang Holistik, dimana ibadah sosial disejajarkan dengan ibadah ritual (hadis no. 2).

Tema ketiga adalah Pentingnya Niat dan Keikhlasan (hadis no. 6), bahwa Allah tidak menerima amal yang dicampuri syirik kecil sekalipun. Tema-tema ini membentuk kerangka berpikir bahwa hubungan dengan Allah harus dibangun di atas cinta, harap, dan ketulusan, bukan hanya rasa takut semata.

Nilai Akhlak dari Hadis Nabawi

Sepuluh hadis Nabawi yang kita kumpulkan adalah paket lengkap pembentuk karakter. Mari kita urai nilai-nilai utamanya. Pertama, Integritas dan Kejujuran yang dimulai dari niat yang bersih (hadis 1). Kedua, Keadilan dan Empati, dengan larangan berbuat zalim (hadis 3) dan perintah mencintai saudara seperti diri sendiri (hadis 4). Ketiga, Kepedulian Sosial, yang tercermin dalam perintah menghormati tamu (hadis 6) dan menyingkirkan gangguan dari jalan (hadis 5).

Keempat, Pengendalian Diri, terutama dalam mengelola amarah (hadis 7). Kelima, Keseimbangan antara Usaha dan Pasrah (tawakal) seperti dalam hadis mengikat unta (hadis 10). Nilai-nilai ini bukan teori, tapi karakter praktis yang jika diterapkan akan membentuk pribadi yang dipercaya dan dihormati di mana saja.

Cara Menghafal dan Mengamalkan Hadis, Berikan contoh 10 hadis kecil dan 10 hadis besar

Berikan contoh 10 hadis kecil dan 10 hadis besar

Source: slidesharecdn.com

Menghafal hadis itu seperti menanam pohon, butuh proses. Berikut langkah-langkah yang bisa dicoba.

  1. Pilih yang Relevan. Jangan dulu mengejar jumlah. Pilih 1-2 hadis dari daftar di atas yang paling menyentuh masalahmu saat ini. Misal, kalau mudah marah, fokuslah pada hadis “Jangan marah”.
  2. Pahami Makna dan Konteksnya. Baca penjelasan (syarah) singkat tentang hadis itu. Ketika kamu pahami kisah di baliknya dan tafsirannya, hafalan akan melekat lebih kuat.
  3. Gunakan Metode Pengulangan. Baca hadis beserta terjemahannya 10-20 kali sehari. Tulis di sticky note dan tempel di meja belajar atau kulkas. Dengarkan melalui audio.
  4. Kaitkan dengan Aktivitas. Buat tekad: “Setiap kali saya akan mulai bekerja, saya ingat hadis tentang niat.” Atau, “Setiap kali melewati batu di jalan, saya ingat hadis tentang menyingkirkan gangguan.”
  5. Ajak Orang Lain. Ajarkan hadis yang baru kamu hafal kepada keluarga atau teman. Mengajarkan adalah cara terbaik untuk menguatkan memori.
  6. Refleksi Mingguan. Di akhir pekan, renungkan: Dari hadis yang saya hafal minggu ini, mana yang sudah saya amalkan? Di bagian mana saya masih gagal? Refleksi ini akan menghidupkan hadis itu dalam tindakan.

Intinya, jangan jadikan menghafal sebagai tujuan akhir. Tujuannya adalah mengamalkan. Hafalan yang tidak diamalkan bagai buku yang disegel rapat di perpustakaan, indah tapi tidak memberi manfaat bagi kehidupan.

Simpulan Akhir

Jadi, gimana? Sudah kebayang kan betapa kayanya khazanah ilmu yang kita punya? Mempelajari contoh-contoh hadis kecil dan besar tadi bukan cuma urusan hafalan, tapi lebih ke urusan penyelaman makna. Coba deh, ambil satu atau dua hadis dari yang udah dibahas, renungkan, lalu praktikkan pelan-pelan dalam keseharian. Percayalah, dampaknya bakal kerasa, bikin hidup lebih terarah dan penuh ketenangan.

Pertanyaan Populer dan Jawabannya

Apakah hadis qudsi (hadis kecil) ada dalam Al-Qur’an?

Tidak. Hadis Qudsi isinya dari Allah, tetapi redaksi penyampaiannya dari Nabi Muhammad SAW dan diriwayatkan oleh beliau. Sedangkan Al-Qur’an, baik lafal maupun maknanya langsung dari Allah.

Mana yang lebih utama, menghafal hadis qudsi atau hadis nabawi?

Keduanya utama. Namun, dari sisi hukum pengamalan, hadis nabawi lebih luas cakupannya karena menjadi sumber syariat langsung. Menghafal dan memahami keduanya akan memberikan keseimbangan antara pengetahuan spiritual dan praktis.

Bagaimana cara membedakan hadis qudsi dan nabawi jika hanya membaca terjemahannya?

Ciri khas hadis qudsi sering diawali dengan frasa seperti “Allah berfirman” atau “Rasulullah bersabda atas apa yang diriwayatkan dari Tuhannya”. Jika tidak ada indikasi seperti itu dan langsung berupa sabda Nabi, kemungkinan besar itu hadis nabawi.

Apakah semua hadis qudsi derajatnya shahih?

Tidak. Seperti hadis pada umumnya, hadis qudsi juga memiliki beragam derajat keshahihan (shahih, hasan, dhaif). Keabsahannya tetap harus diteliti melalui sanad dan matannya.

Bolehkah membaca hadis qudsi dalam shalat seperti membaca ayat Al-Qur’an?

Tidak boleh. Dalam shalat, yang dibaca adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Membaca hadis qudsi sebagai pengganti ayat di dalam shalat akan membatalkan shalat karena ia bukan bagian dari Al-Qur’an.

BACA JUGA  Pengertian Sektor Primer Sekunder dan Tersier dalam Ekonomi

Leave a Comment