Hadis Tholakal Ilmi: Keistimewaan bagi Semua Muslim bukan sekadar seruan, melainkan sebuah jaminan istimewa yang tertuang dalam sabda Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, pesan timeless ini justru menemukan relevansinya yang paling mendalam, menawarkan peta jalan spiritual dan intelektual bagi setiap insan yang ingin meraih kemuliaan. Hadis ini, dengan sanad yang diperbincangkan para ulama, telah menjadi fondasi motivasi yang menggetarkan hati para pencari ilmu sepanjang zaman.
Makna literal “Tholakal Ilmi” yang merujuk pada penolakan atau penghindaran dari ilmu justru dibalik menjadi sebuah paradigma menarik. Hadis ini mengajak kita untuk melihat bahwa dalam setiap usaha menjangkau dan meraih ilmu, tersimpan janji keutamaan yang luar biasa. Posisinya dalam khazanah keilmuan Islam sangat sentral, menjadi penguat bagi ratusan ayat Al-Qur’an yang mendorong umat untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan potensi akal budi sebagai bentuk ibadah.
Pengenalan dan Konteks Hadis Tholakal Ilmi
Dalam khazanah keilmuan Islam, motivasi untuk menuntut ilmu tidak hanya bersifat instrumental, tetapi juga spiritual. Salah satu hadis yang menjadi penyemangat abadi bagi para penimba ilmu adalah hadis yang dikenal dengan sebutan “Tholakal Ilmi”. Frasa ini berasal dari bahasa Arab yang secara literal berarti “tolaklah ilmu” atau “carilah ilmu”, diambil dari potongan sabda Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umatnya untuk aktif dalam mencari ilmu.
Konteks kemunculan hadis ini erat kaitannya dengan semangat awal Islam yang mentransformasi masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat yang berpengetahuan, di mana masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran.
Hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur, dengan perawi utama seperti Anas bin Malik, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Mas’ud. Para ulama hadis, seperti Imam Al-Baihaqi dan Imam Ibnu Abdil Barr, banyak yang membawakan hadis ini dalam kitab-kitab mereka tentang keutamaan ilmu. Kualitas sanadnya beragam, ada yang dinilai hasan (baik) dan ada pula yang didapati memiliki penguat dari jalur lain, sehingga pesan moral (matan) yang dikandungnya diterima secara luas oleh umat.
Posisi hadis ini sangat sentral, karena ia menjadi fondasi motivasi yang menghubungkan antara aktivitas intelektual dengan janji pahala dan keistimewaan dari Allah SWT, menegaskan bahwa mencari ilmu adalah jihad dan ibadah yang tinggi nilainya.
Perawi dan Kualitas Sanad Hadis
Penelusuran terhadap sanad atau rantai periwayatan hadis merupakan disiplin ilmu yang ketat dalam Islam. Untuk hadis tentang keutamaan menuntut ilmu, beberapa jalur periwayatan memberikan kekuatan secara makna, meskipun detail redaksionalnya bisa berbeda. Kajian ulama menunjukkan bahwa esensi perintah untuk mengejar ilmu dan janji keistimewaan bagi penuntutnya adalah sahih dan tidak diragukan lagi. Penerimaan ulama terhadap kandungan hadis ini menjadikannya rujukan utama dalam bab fadhailul ‘ilmi (keutamaan-keutamaan ilmu).
Penjelasan Makna dan Kandungan Hadis
Hadis “Tholakal Ilmi” dalam salah satu redaksinya menyatakan, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” Setiap frasa dalam hadis ini sarat dengan makna. “Menempuh suatu jalan” (sulukan thariiqon) tidak dibatasi secara fisik; ia mencakup perjalanan hati, pikiran, waktu, dan tenaga yang dikerahkan. “Mencari ilmu” (tholabal ‘ilmi) merujuk pada ilmu yang bermanfaat, yang mengantarkan pada pengenalan akan Allah dan pelaksanaan syariat-Nya.
Hadis Tholakal Ilmi menegaskan keistimewaan menuntut ilmu bagi setiap Muslim, yang mencakup pula pemahaman mendalam terhadap lafal-lafal doa. Dalam konteks ini, penting untuk mengkaji Arti Perbedaan Wabarik dan Wabarak sebagai bagian dari ketelitian berbahasa dalam ibadah. Dengan demikian, semangat hadis tersebut tidak hanya mengajak untuk mencari ilmu, tetapi juga mengapresiasi nuansa makna yang memperkaya spiritualitas seorang Muslim dalam praktik keagamaannya.
Sementara “jalan menuju surga” (thariiqan ilal jannah) adalah metafora untuk segala kemudahan, rahmat, dan keberkahan yang mengantar pada tujuan akhir yang mulia.
Konsep “keistimewaan” (al-khashaish) yang dijanjikan bersifat multidimensional. Ia bukan sekadar kehormatan duniawi, tetapi merupakan bentuk kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam menambah ilmu. Keistimewaan ini mencakup kemudahan dalam urusan, dilapangkannya rezeki, diangkatnya derajat, dan yang paling utama adalah ridha Allah. Janji ini bersifat inklusif, terbuka bagi setiap muslim tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonominya.
Perbandingan Penafsiran Ulama
Para ulama, dari masa ke masa, telah memberikan penafsiran yang memperkaya pemahaman kita terhadap hadis ini. Perbandingan penafsiran mereka menunjukkan kesatuan dalam pesan utama, namun dengan penekanan yang beragam sesuai dengan konteks dan kebutuhan umat di zamannya.
| Nama Ulama | Kitab Rujukan | Penafsiran | Catatan Penting |
|---|---|---|---|
| Imam An-Nawawi | Syarh Shahih Muslim | Menekankan bahwa “jalan” yang dimaksud mencakup semua cara untuk mendapatkan ilmu, baik dengan mendatangi majelis, membaca, maupun mengkaji. Kemudahan menuju surga dimulai dari dimudahkannya memahami ilmu agama dan mengamalkannya. | Penafsiran ini sangat populer dan menjadi rujukan standar di pesantren dan madrasah. |
| Ibnu Hajar Al-Asqalani | Fathul Bari | Mengaitkan “jalan menuju surga” dengan dihilangkannya berbagai rintangan dan kegelapan (kebodohan) dari kehidupan pencari ilmu, sehingga hidupnya terang dan lurus menuju tujuan akhir. | Penekanan pada aspek transformasi diri dari kegelapan menuju cahaya. |
| Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin | Syarh Riyadhus Shalihin | Menjelaskan bahwa kemudahan menuju surga bersifat bertahap; Allah memudahkan baginya ilmu, kemudian memudahkan amal berdasarkan ilmu, kemudian memudahkan untuk istiqamah, hingga akhirnya dimudahkan masuk surga. | Penafsiran kontemporer yang sistematis dan aplikatif. |
| Prof. Dr. Quraish Shihab | Membumikan Al-Qur’an | Memaknai “ilmu” secara luas, tidak terbatas ilmu agama, selama ilmu itu bermanfaat bagi kemanusiaan dan diniatkan untuk ibadah. Jalan ke surga dimaknai sebagai kehidupan yang berkah dan penuh ketenangan. | Memberikan perspektif kontekstual yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. |
Manifestasi Keistimewaan bagi Muslim Pencari Ilmu: Hadis Tholakal Ilmi: Keistimewaan Bagi Semua Muslim
Janji keistimewaan dalam hadis “Tholakal Ilmi” bukanlah janji yang abstrak, melainkan dapat termanifestasi dalam kehidupan nyata, baik di dunia maupun di akhirat. Manifestasi ini menjadi bukti nyata dari kebenaran sabda Nabi dan menjadi pendorong bagi setiap muslim untuk konsisten dalam belajar.
Keistimewaan Duniawi
Di dunia, seorang penuntut ilmu akan merasakan berbagai bentuk kemudahan. Pertama, adalah kemudahan dalam memahami persoalan hidup. Dengan ilmu, seseorang mampu menganalisis masalah, mencari solusi yang tepat, dan menghindari kesalahan yang berulang. Kedua, ilmu membuka pintu rezeki dan karir. Keahlian dan pengetahuan yang mendalam akan dihargai oleh masyarakat, sehingga meningkatkan status sosial ekonominya.
Ketiga, ilmu memberikan ketenangan batin dan wibawa. Orang yang berilmu cenderung lebih percaya diri dan tidak mudah terombang-ambing oleh informasi yang menyesatkan, sehingga ia dihormati dan menjadi rujukan di lingkungannya.
Keistimewaan Ukhrawi
Keistimewaan di akhirat tentu lebih agung dan kekal. Hadis “Tholakal Ilmi” secara langsung menjanjikan kemudahan jalan ke surga. Janji ini diperkuat oleh dalil-dalil lain, seperti sabda Nabi bahwa orang berilmu akan diberi kemudahan hisab (perhitungan amal) dan bahwa pahala ilmu yang diajarkan akan terus mengalir meskipun pemiliknya telah wafat. Derajat tertinggi adalah ridha Allah, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Keistimewaan ukhrawi ini menjadi modal utama untuk meraih kehidupan abadi yang penuh kenikmatan.
Peningkatan Martabat Individu
Proses mencari ilmu secara intrinsik adalah proses memanusiakan manusia. Setiap tahap pembelajaran melatih disiplin, kesabaran, kerendahan hati, dan kejujuran intelektual. Sifat-sifat mulia ini, yang terpancar dari seorang penuntut ilmu, secara alami akan mengangkat martabatnya di mata masyarakat. Ia tidak lagi dipandang hanya dari latar belakang keluarganya, tetapi dari kontribusi pemikiran dan solusi yang diberikannya. Dalam konteks sosial, ilmuwan atau ulama seringkali menjadi penengah dalam sengketa dan pemersatu komunitas, menunjukkan bagaimana ilmu secara nyata meningkatkan posisi dan pengaruh seseorang untuk kebaikan bersama.
Aplikasi dalam Kehidupan Kontemporer
Semangat “Tholakal Ilmi” justru lebih relevan di era digital yang penuh distraksi dan informasi berlebihan. Tantangannya berubah bentuk, namun esensi untuk bersungguh-sungguh menempuh jalan ilmu tetap sama. Aplikasinya membutuhkan strategi yang disesuaikan dengan konteks kekinian.
Hadis Tholakal Ilmi menegaskan keistimewaan menuntut ilmu bagi setiap Muslim, yang mencakup segala aspek kehidupan, termasuk pertanian berkelanjutan. Prinsip ini tercermin dalam praktik modern seperti Pergiliran Tanaman (Crop Rotation) Sesuai Tipe Pertanian , sebuah ilmu yang meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen. Dengan demikian, mengadopsi ilmu semacam ini bukan sekadar teknik, melainkan bagian dari menjalankan anjuran agama untuk mengelola bumi secara bijak, memperkuat esensi dari keutamaan ilmu yang diajarkan.
Cara Menerapkan Semangat Tholakal Ilmi di Era Digital
Penerapan semangat ini dapat dimulai dari langkah-langkah yang terstruktur dan berkelanjutan. Berikut adalah beberapa poin praktis yang dapat dilakukan.
- Menetapkan niat yang ikhlas dan tujuan belajar yang jelas, baik untuk mendekatkan diri kepada Allah maupun untuk memecahkan masalah umat.
- Memanfaatkan teknologi secara bijak dengan mengikuti kelas online (e-learning) dari institusi atau ulama terpercaya, mendengarkan podcast kajian ilmiah, dan mengakses digital library.
- Membuat kurasi konten ilmu. Di tengah banjir informasi, kemampuan menyaring dan memilih sumber yang valid adalah bagian dari “menempuh jalan” ilmu.
- Membangun komunitas belajar (learning circle) kecil-kelompok, baik secara daring maupun luring, untuk saling mengkaji, berdiskusi, dan menguatkan motivasi.
- Mengalokasikan waktu khusus (time blocking) untuk belajar secara konsisten, meskipun hanya 30 menit sehari, jauh lebih baik daripada belajar marathon tetapi tidak berkelanjutan.
- Mempraktikkan dan mengajarkan ilmu yang telah didapat, karena pengamalan dan pengajaran akan menguatkan pemahaman dan melipatgandakan pahala.
Perbandingan Tantangan dan Solusi Mencari Ilmu, Hadis Tholakal Ilmi: Keistimewaan bagi Semua Muslim
Memahami perbedaan konteks antara masa awal Islam dan era modern dapat membantu kita menemukan solusi yang tepat berdasarkan spirit hadis yang sama.
| Aspect | Tantangan di Masa Awal Islam | Tantangan di Era Modern | Solusi Berdasarkan Spirit Hadis |
|---|---|---|---|
| Akses Informasi | Sangat terbatas, harus melakukan perjalanan fisik jauh (rihlah) untuk menemui seorang guru. | Informasi berlebihan (information overload) dan sulit membedakan sumber yang sahih. | Semangat “rihlah” dialihkan pada kesungguhan mencari guru/sumber yang valid di dunia digital dan kesabaran dalam melakukan verifikasi. |
| Media Belajar | Bergantung pada hafalan, tulisan di lembaran kulit atau tulang, dan majelis langsung. | Dominasi media pasif (scroll media sosial) yang minim kedalaman, mengurangi daya konsentrasi. | Menggunakan beragam media (video, audio, ebook) secara aktif untuk mendalami satu disiplin ilmu, dan kembali membiasakan membaca buku secara mendalam. |
| Lingkungan Sosial | Tekanan dari masyarakat jahiliyah yang memandang aneh aktivitas belajar. | Lingkungan yang hedonis dan mengukur kesuksesan secara materialistik, sehingga ilmu agama/non-praktis dianggap kurang bergengsi. | Meneguhkan niat bahwa tujuan utama adalah ridha Allah dan surga, serta membangun komunitas yang mendukung untuk tetap istiqamah. |
| Biaya dan Waktu | Biaya perjalanan dan waktu yang lama meninggalkan keluarga. | Biaya pendidikan formal yang tinggi dan waktu yang tersita oleh kesibukan kerja. | Memaksimalkan sumber ilmu yang gratis dan berkualitas (open courseware, kajian masjid), serta manajemen waktu yang ketat untuk belajar mandiri. |
Aktivitas Mencari Ilmu untuk Semua Kalangan
Source: tribunnews.com
Aktivitas menuntut ilmu dapat disesuaikan dengan usia dan kapasitas. Untuk anak-anak, dapat dimulai dengan menghafal surat pendek dan doa harian melalui metode yang menyenangkan, serta membaca kisah teladan Nabi. Remaja dapat mengikuti kajian tematik tentang akhlak, fikih remaja, atau sains Islam, serta berlatih menulis refleksi dari bacaan. Dewasa dapat mendalami ilmu spesifik sesuai profesi yang diniatkan untuk ibadah, mengikuti majelis taklim rutin, atau melakukan studi mandiri terhadap kitab-kitab ulama dengan bimbingan.
Hadis Tholakal Ilmi menegaskan keistimewaan menuntut ilmu bagi setiap muslim, yang aplikasinya bahkan merambah ke ranah logika dan pola pikir analitis. Seperti halnya mengurai pola dalam Rumus Un untuk barisan: 2,1120,29; 16,13,10,7; 11,19,31,47 , semangat keilmuan ini mendorong kita untuk selalu mencari keteraturan dan hikmah, mengokohkan bahwa kebenaran agama dan nalar sains berjalan beriringan dalam membentuk pribadi muslim yang paripurna.
Lansia pun tetap dapat berkontribusi dengan berbagi pengalaman hidup yang penuh hikmah dan mendoakan para penuntut ilmu. Intinya, tidak ada kata pensiun dalam mencari ilmu.
Ilustrasi dan Visualisasi Konseptual
Bayangkan sebuah tangga besar yang menjulang tinggi menembus awan, dengan anak tangga yang jumlahnya tak terhitung. Setiap anak tangga terbuat dari buku, pena, dan niat yang tulus. Seorang muslim, dengan pakaian sederhana namun wajah penuh tekad, sedang mendaki tangga itu. Di tangannya ia membawa lentera yang cahayanya semakin terang seiring ketinggian yang ia capai. Di sekelilingnya, ada tangan-tangan tak terlihat (malaikat) yang membentangkan sayapnya, memudahkan langkahnya.
Semakin tinggi ia naik, semakin luas pemandangan yang ia lihat; masalah-masalah kehidupan di bawah mulai terlihat jelas polanya dan solusinya. Di puncak tangga, cahaya surga menyilaukan, menyambutnya dengan janji kemudahan.
Visualisasi lain adalah seorang pencari ilmu digambarkan sebagai mata air. Ia aktif menimba dari berbagai sumber (hujan, salju leleh) yang mewakili guru, buku, dan pengalaman. Air yang jernih itu kemudian tidak hanya memenuhi telaganya sendiri (kehidupan pribadi), tetapi juga mengalir membentuk sungai kecil yang menghidupi tanaman di sekitarnya (keluarga), lalu bergabung menjadi sungai besar yang mengairi sawah dan memberi minum suatu komunitas (masyarakat).
Setiap tetes air yang mengalir adalah berkah (barakah) yang berasal dari proses pencariannya. Ilmu yang dikejar bukan untuk ditimbun, tetapi untuk dialirkan, dan dalam proses mengalirkannya itulah keberkahannya berlipat.
Metafora Perjalanan dan Terminal Keistimewaan
Menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan panjang (safar) yang penuh makna. Perjalanan ini dimulai dari terminal “Niat Ikhlas”. Dari sana, kereta kebajikan berangkat melewati beberapa stasiun penting. Stasiun pertama adalah “Kesabaran dalam Belajar”, di mana penumpang diuji dengan kesulitan memahami materi. Stasiun berikutnya adalah “Kerendahan Hati”, di mana ego harus diturunkan untuk bertanya dan mengakui ketidaktahuan.
Kemudian kereta singgah di stasiun “Pengamalan”, di mana ilmu yang didapat mulai diuji dalam praktik. Setiap kali kereta meninggalkan sebuah stasiun, penumpang mendapatkan sebuah “koper keistimewaan”: kemudahan rezeki, ketenangan jiwa, penghormatan sosial, dan yang terbesar adalah bertambah dekatnya relasi dengan Sang Maha Pencipta. Terminal akhir perjalanan ini bukanlah gelar akademik, tetapi “Ridha Ilahi” yang menjadi tiket utama memasuki surga.
Hubungan dengan Nilai-Nilai Islam Universal
Hadis “Tholakal Ilmi” bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari bangunan nilai Islam yang kokoh. Ia bersinergi dengan ajaran-ajaran fundamental lainnya, membentuk kerangka pandang dunia (worldview) Islam yang mendorong kemajuan dan kemuliaan.
Korelasi dengan Perintah Berpikir dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an secara tegas dan berulang kali memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya. Ayat- seperti “Iqra” (Bacalah), “Afala ta’qilun” (Apakah kamu tidak berpikir?), dan “Afala tatafakkarun” (Apakah kamu tidak merenungi?) adalah seruan intelektual yang paling dasar. Hadis “Tholakal Ilmi” adalah penjabaran operasional dari seruan tersebut. Ia memberikan motivasi praktis dan janji balasan agar manusia tidak malas untuk berpikir dan meneliti. Dengan demikian, Islam menempatkan aktivitas intelektual sebagai bentuk ketaatan yang tinggi.
Memperkuat Konsep Kesetaraan Kesempatan
Islam mematahkan sistem kasta dan kesombongan keturunan. Sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi kepada hati dan amal kalian.” Hadis Tholakal Ilmi memperkuat prinsip ini dengan menawarkan jalan meraih kemuliaan yang setara bagi semua: melalui ilmu dan amal shaleh. Seorang anak petani dari desa terpencil memiliki akses yang sama untuk meraih keistimewaan di sisi Allah melalui ketekunannya menuntut ilmu, sebagaimana anak seorang pejabat.
Ini adalah konsep meritokrasi ilahiah yang sangat adil.
Sinergi dengan Pengembangan Akhlak dan Tanggung Jawab Sosial
Proses mencari ilmu yang benar akan melahirkan akhlak mulia. Kesabaran, kejujuran, rendah hati, dan menghargai pendapat orang lain adalah sifat yang tumbuh subur di taman ilmu. Lebih jauh, ilmu bukan untuk kebanggaan pribadi. Hadis ini mengisyaratkan tanggung jawab sosial, karena orang yang dimudahkan jalannya oleh Allah sudah sepatutnya menjadi pemudah urusan orang lain. Ilmuwan muslim dalam bidang kedokteran, teknologi, ekonomi, atau sosial, yang bekerja dengan niat ibadah, pada hakikatnya sedang menjalankan semangat hadis ini: menggunakan ilmunya untuk memudahkan “jalan” hidup sesama manusia, yang pada akhirnya juga merupakan bagian dari jalan menuju surga.
Penyajian Data dan Referensi
Untuk memperdalam pemahaman, penting untuk merujuk pada pernyataan para ulama serta kitab-kitab induk yang menjadi sumber otoritatif. Data berikut dapat menjadi starting point bagi mereka yang ingin menelusuri lebih lanjut.
Kutipan Inspiratif dari Ulama
“Menuntut ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah.” (Sufyan Ats-Tsauri). Pernyataan ini menunjukkan prioritas dalam pembagian waktu untuk aktivitas yang mendatangkan manfaat jangka panjang.
“Ilmu adalah kehidupan bagi hati dari kebodohan, pelita bagi penglihatan dari kegelapan, dan kekuatan bagi tubuh dari kelemahan.” (Imam Al-Ghazali). Metafora yang indah tentang fungsi ilmu sebagai sumber vital bagi segala aspek manusia.
“Siapa yang menginginkan dunia, maka wajib baginya berilmu. Siapa yang menginginkan akhirat, maka wajib baginya berilmu. Dan siapa yang menginginkan keduanya, maka wajib baginya berilmu.” (Imam Asy-Syafi’i). Penegasan tentang universalitas kebutuhan akan ilmu untuk meraih kebahagiaan di manapun.
Kitab Hadis yang Meriwayatkan Hadis Tholakal Ilmi
| Nama Kitab | Penyusun | Klasifikasi Derajat | Catatan Redaksi |
|---|---|---|---|
| Sunan At-Tirmidzi | Imam At-Tirmidzi | Hadis Hasan | Redaksi: “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu…” |
| Sunan Ibnu Majah | Imam Ibnu Majah | Beragam, ada yang dhaif namun punya penguat | Diriwayatkan dari beberapa sahabat. |
| Shahih Ibnu Hibban | Ibnu Hibban Al-Busti | Disahkan (Shahih) menurut syaratnya | Termasuk dalam bab keutamaan ilmu. |
| Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain | Al-Hakim An-Naisaburi | Menilainya Shahih menurut syarat Muslim | Imam Adz-Dzahabi menyetujui keshahihannya. |
Karya Turats Klasik tentang Fadhailul Ilmi
Beberapa ulama telah menyusun karya khusus yang menghimpun dalil-dalil tentang keutamaan ilmu. Karya-karya ini menjadi rujukan primer.
- Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘ala ‘Ilmi Khalaf karya Imam Ibnul Jauzi, membahas keutamaan ilmu para salafush shalih.
- Al-Faqih wal Mutafaqqih karya Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, membahas detail tentang etika pencari dan pemberi ilmu.
- Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih karya Imam Ibnu Abdil Barr, merupakan ensiklopedia lengkap tentang kedudukan ilmu dalam Islam.
- Al-‘Ilmu karya Imam Abu Khaitsamah, kitab yang lebih awal yang menghimpun hadis-hadis tentang ilmu.
- Iqtidha’ul ‘Ilmi al-‘Amal karya Imam Al-Khatib Al-Baghdadi, menekankan pada kewajiban mengamalkan ilmu.
Simpulan Akhir
Dengan demikian, semangat Hadis Tholakal Ilmi bukanlah warisan yang beku, melainkan api yang terus menyala, mengajak setiap muslim dari segala usia dan latar untuk terlibat dalam petualangan intelektual dan spiritual. Keistimewaan yang dijanjikan—baik yang terasa dalam ketenangan hati, penghormatan sosial, hingga cahaya di hari akhir—adalah buah nyata dari perjalanan tersebut. Dalam dunia yang kerap mengukur segala sesuatu dengan materi, hadis ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati justru bermula dari kerendahan hati untuk belajar, membuka pikiran, dan terus bergerak maju menuju cahaya ilmu yang memancarkan keberkahan.
FAQ dan Informasi Bermanfaat
Apakah keistimewaan dalam hadis ini hanya untuk ilmu agama saja?
Tidak. Meski ilmu agama memiliki prioritas utama, para ulama menjelaskan bahwa keutamaan mencakup semua ilmu yang bermanfaat dan halal, selama diniatkan untuk ibadah dan kemaslahatan umat, termasuk ilmu alam, kedokteran, teknologi, dan sosial.
Bagaimana jika seseorang menuntut ilmu tetapi tidak merasa mendapat keistimewaan duniawi seperti dijanjikan?
Keistimewaan dalam hadis bersifat multiaspek dan tidak selalu material. Bisa berupa ketenangan batin, kemudahan dalam memahami masalah, dihormati karena integritas, atau terbukanya pintu rezeki dari arah yang tidak disangka. Sikap sabar dan ikhlas dalam belajar adalah kunci untuk merasakannya.
Apakah hadis ini berlaku bagi mereka yang belajar secara otodidak atau melalui kursus online?
Ya, mutlak berlaku. Metode belajar tidak membatasi keutamaan. Esensinya adalah kesungguhan (tholabul ilmi) dalam mencari dan menguasai ilmu yang bermanfaat, terlepas dari jalur formal, non-formal, atau informal yang ditempuh.
Bagaimana membedakan semangat “Tholakal Ilmi” dengan sekadar mengejar gelar akademik?
Semangat “Tholakal Ilmi” berporos pada niat ikhlas karena Allah, rasa haus akan pemahaman, dan tujuan untuk mengamalkan serta membagikan ilmu. Sementara mengejar gelar bisa saja hanya berorientasi pada pencapaian duniawi, walaupun keduanya dapat berjalan beriringan jika diniatkan dengan benar.