Jelaskan Perbedaan Copyright dan Copyleft itu seperti memahami dua sisi dari satu koin yang sama-sama berharga, namun dengan prinsip yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada sistem yang sudah mapan untuk melindungi kepemilikan dan nilai ekonomi sebuah kreasi. Di sisi lain, muncul filosofi baru yang justru membuka pintu selebar-lebarnya untuk kolaborasi dan penyebaran pengetahuan. Keduanya sah secara hukum, tetapi membawa kita pada diskusi yang sangat relevan di era digital ini tentang apa artinya memiliki, membagikan, dan mengembangkan sebuah karya.
Pada intinya, copyright atau hak cipta adalah konsep hukum yang memberikan hak eksklusif kepada pencipta untuk mengontrol penggunaan karya mereka, sering ditandai dengan “All Rights Reserved”. Sementara itu, copyleft adalah sebuah metode lisensi yang menggunakan kerangka hukum hak cipta yang sama untuk menjamin kebebasan bagi setiap orang untuk menggunakan, memodifikasi, dan mendistribusikan ulang sebuah karya beserta semua turunannya, asalkan kebebasan yang sama tetap dijaga.
Ini bukan tentang menghapus hak, melainkan tentang menggunakan hak tersebut untuk menciptakan ekosistem berbagi yang berkelanjutan.
Pengertian Dasar dan Filosofi
Memahami perbedaan antara copyright dan copyleft ibarat memahami dua peta yang mengarah ke tujuan yang berbeda, meski berangkat dari titik yang sama: kepemilikan atas sebuah karya. Titik awal itu adalah hak cipta itu sendiri. Copyright, atau hak cipta, adalah konsep hukum yang otomatis melindungi karya orisinal (seperti buku, lagu, software, atau film) sejak karya itu diciptakan dan dituangkan dalam bentuk nyata.
Membahas perbedaan copyright dan copyleft itu menarik, lho. Intinya, copyright membatasi hak cipta secara ketat, sementara copyleft justru mengajak untuk berbagi dan memodifikasi. Nah, untuk memahami inti sebuah konsep seperti ini, kita butuh kemampuan merangkai Kalimat Ide Pokok dengan Kata Bermakna yang jelas. Dengan begitu, penjelasan tentang kedua sistem hak cipta yang berseberangan ini bisa dipahami dengan lebih mudah dan tepat sasaran.
Filosofinya berakar pada penghargaan atas usaha kreatif individu atau kelompok, dengan memberikan hak eksklusif untuk mengontrol reproduksi, distribusi, dan adaptasi karya tersebut, biasanya untuk jangka waktu tertentu. Tujuannya jelas: memberi insentif ekonomi dan pengakuan kepada pencipta.
Copyleft, di sisi lain, adalah sebuah permainan kata yang cerdas sekaligus filosofi lisensi yang menggunakan kerangka hukum copyright untuk mencapai tujuan sebaliknya. Alih-alih membatasi, copyleft memanfaatkan hak cipta untuk menjamin kebebasan pengguna. Filosofi dasarnya adalah bahwa pengetahuan dan kreativitas berkembang lebih pesat ketika orang bebas untuk menggunakan, mempelajari, memodifikasi, dan membagikan ulang sebuah karya. Tujuannya adalah memastikan kebebasan itu bersifat turun-temurun, sehingga karya turunan pun harus dilisensikan dengan kebebasan yang sama.
Intinya, copyright bertujuan melindungi hak pencipta dengan mengontrol penggunaan, sementara copyleft bertujuan melindungi kebebasan pengguna dengan mengontrol lisensi turunannya. Perbedaan filosofi ini melahirkan dampak yang sangat berbeda bagi ekosistem kreatif.
Perbandingan Filosofi dan Dampak
Untuk melihat perbedaan ini dengan lebih jelas, tabel berikut merangkum aspek-aspek kunci dari kedua konsep.
| Aspek | Copyright (Hak Cipta Tradisional) | Copyleft |
|---|---|---|
| Filosofi Inti | Perlindungan hak eksklusif pencipta sebagai insentif ekonomi dan moral. | Kebebasan untuk berbagi dan berkolaborasi sebagai pendorong inovasi dan akses pengetahuan. |
| Tujuan Utama | Mengontrol penggunaan, reproduksi, dan distribusi untuk mempertahankan nilai komersial dan integritas karya. | Memastikan karya dan semua turunannya tetap bebas digunakan, dimodifikasi, dan dibagikan. |
| Pandangan terhadap Kontrol | Kontrol terpusat pada pemegang hak cipta (biasanya pencipta atau penerbit). | Kontrol terdistribusi untuk mencegah pembatasan kebebasan di masa depan (melalui syarat lisensi). |
| Dampak pada Pengguna Akhir | Pengguna umumnya adalah konsumen pasif yang harus meminta izin untuk penggunaan di luar ketentuan wajar (fair use). | Pengguna menjadi partisipan aktif yang dapat berinteraksi, memperbaiki, dan berkontribusi pada pengembangan karya. |
Hak dan Batasan bagi Pengguna: Jelaskan Perbedaan Copyright Dan Copyleft
Ketika kamu membaca sebuah novel, mendengarkan lagu, atau menggunakan software, hak dan batasan apa yang sebenarnya berlaku? Ini sangat ditentukan oleh model lisensi yang dipilih oleh pemegang hak. Dalam dunia copyright tradisional, hak-hak itu cenderung terkonsentrasi. Sebaliknya, copyleft dengan sengaja mendistribusikan hak-hak tersebut dengan batasan yang spesifik.
Hak Eksklusif dalam Copyright
Pemegang hak cipta (copyright holder) diberikan seperangkat hak eksklusif yang diakui hukum. Hak-hak ini biasanya mencakup hak untuk mereproduksi salinan karya, mendistribusikan salinan tersebut kepada publik, menampilkan atau mempertunjukkan karya secara publik, serta membuat karya turunan atau adaptasi berdasarkan karya asli. Dalam konteks software, ini termasuk hak untuk membuat salinan untuk diinstal. Intinya, tindakan-tindakan ini adalah domain eksklusif pencipta atau pihak yang mereka beri lisensi, kecuali ada pengecualian hukum seperti doktrin fair use.
Kebebasan Inti dalam Copyleft
Lisensi copyleft membalik paradigma tersebut dengan secara tegas memberikan empat kebebasan inti kepada setiap pengguna:
- Kebebasan 0: Kebebasan untuk menggunakan karya untuk tujuan apa pun.
- Kebebasan 1: Kebebasan untuk mempelajari bagaimana karya itu bekerja, dan untuk mengubahnya sesuai kebutuhan. Akses ke kode sumber (untuk software) atau format yang dapat diedit (untuk karya lain) adalah prasyarat mutlak untuk kebebasan ini.
- Kebebasan 2: Kebebasan untuk mendistribusikan kembali salinan karya asli, sehingga membantu sesama.
- Kebebasan 3: Kebebasan untuk mendistribusikan salinan versi modifikasi milikmu, sehingga komunitas dapat menikmati manfaat dari perbaikanmu. Kebebasan ke-3 inilah yang menjadi jantung “left” dalam copyleft.
Batasan dan Kewajiban dalam Copyleft, Jelaskan Perbedaan Copyright dan Copyleft
Source: jagoanhosting.com
Kebebasan dalam copyleft bukanlah kebebasan tanpa aturan. Justru, aturan-aturan inilah yang menjamin kebebasan tersebut lestari. Dua kewajiban utama yang hampir selalu ada adalah:
- Atribusi (Penghargaan): Kamu wajib memberikan kredit yang sesuai kepada pencipta asli. Ini adalah bentuk penghormatan dasar.
- Share-Alike (Berbagi Serupa): Ini adalah syarat copyleft yang paling khas. Jika kamu mendistribusikan karya yang telah dimodifikasi, kamu harus melisensikan karya turunanmu di bawah lisensi yang sama persis (atau kompatibel) dengan lisensi karya asli. Syarat ini mencegah seseorang memanfaatkan karya bebas, memodifikasinya, lalu menguncinya dengan copyright restriktif.
Batasan lain bisa berupa larangan menggunakan teknologi Digital Rights Management (DRM) yang membatasi kebebasan yang telah diberikan, atau kewajiban untuk menyertakan teks lisensi asli dalam setiap distribusi.
Jenis dan Contoh Lisensi
Konsep copyright dan copyleft tidak hidup dalam ruang hampa; mereka diwujudkan melalui dokumen lisensi yang spesifik. Lisensi-lisensi ini seperti bahasa hukum yang menerjemahkan filosofi menjadi aturan praktis yang dapat diterapkan.
Lisensi Copyright Umum
Dalam model tradisional, lisensi copyright paling umum adalah “All Rights Reserved” atau “Semua Hak Dilindungi”. Ini berarti semua hak eksklusif yang dijelaskan sebelumnya dipegang sepenuhnya oleh pemilik. Penggunaan karya memerlukan izin eksplisit, baik melalui pembelian, perjanjian lisensi berbayar (seperti lisensi software proprietary), atau kesepakatan tertulis lainnya. Contoh lainnya adalah lisensi hak cipta yang diberikan penerbit kepada penulis, atau label rekaman kepada musisi, yang merinci pembagian royalti dan hak kontrol.
Lisensi Copyleft yang Populer
Di sisi copyleft, ada beberapa lisensi yang menjadi pilar gerakan sumber terbuka dan budaya bebas. Untuk perangkat lunak, GNU General Public License (GPL) adalah pelopor dan yang paling ketat. Untuk karya kreatif non-software (seperti artikel, foto, musik, video), lisensi Creative Commons ShareAlike (CC BY-SA) adalah adaptasi populer dari prinsip copyleft.
Perbandingan Lisensi Copyleft Utama
Meski berbagi filosofi yang sama, lisensi copyleft memiliki nuansa dan penerapan yang berbeda. Berikut perbandingan beberapa yang utama.
| Nama Lisensi | Bidang Penerapan Utama | Syarat Utama | Contoh Proyek/Karya Terkenal |
|---|---|---|---|
| GNU GPL v3 | Perangkat Lunak | Share-Alike kuat, wajib menyediakan kode sumber, anti-tivoization (larangan DRM pada hardware). | Linux kernel, WordPress, GIMP. |
| GNU AGPL v3 | Perangkat Lunak Jaringan/Web | Syarat GPL v3, ditambah ketentuan bahwa pengguna yang berinteraksi dengan software via jaringan berhak mendapatkan kode sumbernya. | Nextcloud, MongoDB (versi lama). |
| Creative Commons BY-SA | Karya Kreatif (Teks, Seni, dll.) | Atribusi dan Share-Alike; modifikasi harus dilisensikan dengan CC BY-SA yang sama. | Wikipedia, foto-foto di Wikimedia Commons, buku “The Rise of the Network Society”. |
| Mozilla Public License 2.0 | Perangkat Lunak | Copyleft “lemah” atau file-based; modifikasi pada file yang ada harus dibagikan, tetapi penautan dengan kode berlisensi lain lebih fleksibel. | Mozilla Firefox, Thunderbird. |
Copyleft Kuat versus Lemah
Dalam konteks perangkat lunak, istilah “kuat” dan “lemah” digunakan untuk menggambarkan seberapa ketat syarat Share-Alike-nya. Lisensi copyleft kuat seperti GPL mensyaratkan bahwa seluruh karya turunan, bahkan yang hanya ditautkan (linked) secara dinamis dengan kode berlisensi GPL, harus dirilis di bawah lisensi GPL juga. Ini memastikan ekosistem yang sepenuhnya bebas.
Lisensi copyleft lemah seperti MPL atau LGPL lebih longgar. Mereka umumnya hanya mewajibkan modifikasi pada file-file spesifik dari proyek asli yang dibagikan ulang dengan lisensi yang sama. Kode lain yang hanya ditautkan atau digunakan sebagai library dapat tetap memiliki lisensi yang berbeda, termasuk lisensi proprietary. Pendekatan ini memungkinkan adopsi yang lebih luas oleh proyek komersial yang ingin menggunakan komponen bebas tanpa harus membuka seluruh kode produk mereka.
Aplikasi dalam Berbagai Bidang Karya
Copyright dan copyleft bukan hanya teori untuk pengacara; mereka membentuk lanskap nyata dari budaya dan teknologi kita sehari-hari. Penerapannya di berbagai bidang menunjukkan bagaimana filosofi yang berbeda menghasilkan ekosistem yang berbeda pula.
Copyright di Bidang Tradisional
Di bidang sastra, musik, dan film, copyright adalah model standar. Seorang novelis memberikan hak eksklusif kepada penerbit untuk mencetak dan mendistribusikan bukunya. Sebuah lagu dilindungi hak cipta untuk lirik, komposisi, dan rekamannya, menghasilkan royalti setiap kali diputar di radio atau platform streaming. Studio film mengontrol ketat penayangan, distribusi DVD, dan pembuatan merchandise. Model ini mendanai industri kreatif skala besar, meski sering dikritik karena dapat menghambat akses dan kreativitas turunan seperti fan fiction atau sampel musik.
Copyleft di Dunia Open Source Software
Dunia pengembangan perangkat lunak adalah bukti nyata kekuatan copyleft. Sistem operasi Linux, yang berlisensi GPL, adalah fondasi dari sebagian besar server internet dan Android. Setiap perbaikan bug, penambahan fitur, atau distribusi ulang oleh perusahaan seperti Red Hat atau SUSE harus menjaga kode tersebut tetap terbuka dan bebas. Ini menciptakan model kolaborasi global di mana ribuan developer saling memperbaiki dan membangun karya bersama, dengan kecepatan inovasi yang luar biasa.
Adaptasi Copyleft untuk Karya Kreatif
Creative Commons (CC) membawa semangat copyleft ke ranah non-software. Lisensi CC BY-SA memungkinkan seorang fotografer membagikan fotonya dengan bebas, asalkan pengguna yang memakainya untuk poster kampanye memberi kredit dan membagikan poster akhirnya dengan lisensi yang sama. Seorang akademisi dapat menerbitkan papernya dengan lisensi ini, memastikan analisis dan adaptasinya oleh peneliti lain tetap terbuka untuk komunitas. Wikipedia adalah monumen terbesar dari penerapan ini, di mana setiap kontribusi secara otomatis menjadi CC BY-SA, memungkinkan pengetahuan disintesis dan dibagikan tanpa batas.
Ilustrasi: Novel dengan Lisensi Copyleft
Bayangkan seorang penulis merilis novel fiksi ilmiahnya dengan lisensi Creative Commons BY-SA. Siapa pun dapat mengunduh, mencetak, dan membagikannya gratis. Seorang penggemar di negara lain dapat menerjemahkan novel itu ke dalam bahasanya dan menerbitkan terjemahannya, asalkan menyebutkan penulis asli dan merilis terjemahan itu dengan lisensi CC BY-SA yang sama. Selanjutnya, seorang seniman dapat mengambil karakter dari novel itu dan membuat komik web adaptasi.
Komik web itu juga harus berlisensi CC BY-SA. Rantai kreativitas ini terus berlanjut, menciptakan alam semesta cerita yang kaya dan kolaboratif, di mana sang penulis asli melihat karyanya hidup dan berkembang dalam cara-cara yang tak terduga, tanpa kehilangan pengakuan sebagai sumber awalnya.
Implikasi Hukum dan Praktik Berbagi
Pilihan antara copyright dan copyleft bukan hanya soal etika berbagi; ia membawa konsekuensi hukum yang nyata dan membentuk praktik berbagi dalam masyarakat. Memahami implikasi ini membantu kita melihat mengapa perdebatan antara model tertutup dan terbuka begitu penting.
Konsekuensi Pelanggaran Hak Cipta
Pelanggaran hak cipta (copyright infringement) adalah tindakan melawan hukum yang dapat berakibat serius. Pemegang hak cipta dapat menggugat pelanggar untuk mendapatkan ganti rugi, baik yang bersifat kompensatori maupun statutory (yang ditetapkan undang-undang). Pengadilan dapat mengeluarkan perintah untuk menghentikan distribusi (injunction) dan memerintahkan penghancuran salinan bajakan. Dalam yurisdiksi tertentu, pelanggaran berat bahkan dapat berujung pada sanksi pidana. Inilah yang mendasari teguran dari label musik atau tuntutan hukum oleh studio film.
Mekanisme Penegakan Copyleft
Lisensi copyleft juga memiliki kekuatan hukum, karena ia dibangun di atas kerangka hak cipta. Jika seseorang melanggar syarat lisensi copyleft—misalnya, menggunakan kode GPL dalam produk proprietary tanpa membagikan kode sumbernya—maka izin penggunaan yang diberikan oleh lisensi secara otomatis dicabut. Tindakan itu kemudian menjadi pelanggaran hak cipta biasa. Pemegang hak cipta asli (biasanya pemimpin proyek atau yayasan seperti Free Software Foundation atau Software Freedom Conservancy) dapat menuntut pelanggar untuk mematuhi lisensi atau menghadapi konsekuensi hukum.
Penegakan ini bertujuan untuk “menyembuhkan” pelanggaran, yaitu memaksa pihak yang melanggar untuk kembali mematuhi syarat copyleft, bukan sekadar mencari ganti rugi.
Dampak terhadap Inovasi dan Kolaborasi
Dampak kedua sistem ini terhadap ekosistem kreatif sangat kontras. Copyright, dengan kontrol terpusat, dapat memberikan insentif finansial yang kuat untuk penciptaan karya beranggaran besar. Namun, ia juga dapat menciptakan “silos” pengetahuan, menghambat inovasi turunan, dan memperlambat perkembangan karena proses perizinan yang rumit.
Copyleft, sebaliknya, dirancang untuk memaksimalkan kolaborasi dan percepatan inovasi. Dengan menghilangkan hambatan untuk menggunakan dan memodifikasi, ia memungkinkan ribuan orang untuk mengerjakan masalah yang sama secara paralel, saling memperbaiki kesalahan, dan membangun di atas pundak satu sama lain tanpa perlu memulai dari nol. Kecepatan perkembangan proyek seperti kernel Linux atau browser Firefox adalah buktinya. Namun, model ini sering kali mengandalkan motivasi non-komersial seperti gengsi komunitas, dukungan donasi, atau model bisnis layanan di sekitar produk yang bebas.
Kutipan dari Teks Lisensi
Semangat dari kedua pendekatan ini dapat dirasakan langsung dari teks lisensinya. Berikut adalah kutipan yang menggambarkan syarat inti dari masing-masing sisi.
“Anda tidak diperbolehkan untuk menyalin, mengadaptasi, mengedarkan, atau menggunakan karya ini di luar ketentuan yang diatur dalam Lisensi ini tanpa izin tertulis dari Pemegang Hak Cipta.” – Kalimat khas dalam pernyataan hak cipta “All Rights Reserved”.
“Anda diperbolehkan untuk menjalankan program yang dilisensikan ini untuk tujuan apa pun… Anda dapat menyebarluaskan salinan program ini (dan dapat menarik imbalan untuk itu jika Anda mau), asalkan Anda menyediakan kode sumber yang lengkap saat menyebarluaskannya.” – Parafrase dari esensi GNU General Public License.
Mitos dan Kesalahpahaman Umum
Pembahasan tentang copyright dan copyleft sering kali dikelilingi oleh anggapan yang keliru. Meluruskan mitos-mitos ini penting agar kita dapat membuat pilihan yang tepat, baik sebagai pencipta maupun pengguna karya.
Copyleft Bukan Berarti Public Domain
Ini adalah kesalahpahaman yang paling umum. Banyak orang mengira bahwa copyleft berarti karya tersebut tidak memiliki pemilik (public domain). Itu salah. Karya berlisensi copyleft tetap memiliki pemegang hak cipta. Bedanya, pemegang hak cipta tersebut telah menggunakan haknya untuk memberikan izin yang sangat luas kepada publik melalui lisensi copyleft.
Jika sebuah karya benar-benar berada di public domain, berarti hak ciptanya telah kadaluarsa atau secara sukarela dilepaskan, sehingga siapa pun dapat melakukan apa pun tanpa syarat apa pun, termasuk mengubahnya menjadi karya proprietary. Copyleft secara aktif mencegah hal terakhir itu terjadi.
Open Source Tidak Selalu Copyleft
Istilah “sumber terbuka” (open source) dan “copyleft” sering disamakan, padahal tidak. Copyleft adalah salah satu jenis lisensi dalam payung besar open source. Banyak lisensi open source yang non-copyleft atau “permissive”, seperti lisensi MIT atau Apache 2.0. Lisensi ini membebaskan kamu untuk menggunakan, mengubah, dan mendistribusikan kode, bahkan dalam software proprietary, dengan syarat yang sangat minimal (biasanya hanya atribusi). Jadi, meski semua software copyleft adalah open source, tidak semua software open source adalah copyleft.
Copyright Memiliki Pengecualian Fair Use
Di sisi lain, ada anggapan bahwa copyright melarang semua bentuk penggunaan ulang. Ini juga tidak sepenuhnya benar. Hukum hak cipta di banyak negara mengenal doktrin “fair use” (AS) atau “fair dealing” (Inggris, Kanada). Doktrin ini mengizinkan penggunaan terbatas karya berhak cipta tanpa izin untuk tujuan tertentu seperti kritik, komentar, pelaporan berita, pengajaran, atau penelitian. Jadi, mengutip sebagian buku untuk resensi, atau menggunakan cuplikan film untuk ulasan video di YouTube, dapat dianggap sebagai penggunaan yang wajar dan tidak melanggar hukum.
Daftar Klarifikasi Kesalahpahaman
- Mitos: Menggunakan logo copyleft (huruf c terbalik) berarti melepas semua hak.
Fakta: Logo itu adalah simbol bahwa karya dilisensikan di bawah lisensi copyleft. Hak cipta tetap ada dan dilindungi oleh syarat lisensi tersebut.
- Mitos: Karya copyleft tidak boleh dikomersialkan.
Fakta: Boleh. Kamu dapat menjual salinan software GPL atau buku berlisensi CC BY-SA. Yang dilarang adalah membatasi kebebasan yang telah diberikan kepada pembelimu (misalnya, mereka harus tetap bisa mendapatkan kode sumber atau membagikan ulang).
- Mitos: Copyright selalu menghalangi kreativitas.
Fakta: Copyright dirancang untuk mendorong kreativitas dengan memberi imbalan. Persoalannya sering terletak pada durasi yang terlalu panjang dan penegakan yang terlalu kaku terhadap penggunaan yang sebenarnya transformatif.
- Mitos: Semua konten di internet adalah gratis dan bebas dipakai.
Fakta: Default hukum adalah “All Rights Reserved”. Jika sebuah foto, artikel, atau video tidak secara jelas menyatakan lisensinya (seperti Creative Commons), maka ia dilindungi copyright penuh dan penggunaannya memerlukan izin.
Ringkasan Terakhir
Jadi, setelah menelusuri perbedaan mendasar antara copyright dan copyleft, kita sampai pada kesimpulan bahwa pilihan antara keduanya bukan sekadar soal legalitas, tetapi lebih kepada filosofi dan tujuan kita menciptakan. Copyright menawarkan kendali penuh dan perlindungan komersial yang ketat, cocok untuk mereka yang ingin menjaga karya tetap utuh dan bernilai ekonomi. Sebaliknya, copyleft adalah sebuah undangan terbuka untuk berkolaborasi, mempercepat inovasi, dan memastikan bahwa pengetahuan serta kreasi dapat terus hidup dan berkembang di tangan banyak orang.
Dalam dunia yang semakin terhubung, memahami kedua alat ini memungkinkan kita untuk lebih bijak dalam menciptakan, membagikan, dan menghormati karya orang lain, membentuk lanskap kreativitas yang lebih kaya dan inklusif untuk masa depan.
Ringkasan FAQ
Apakah menggunakan lisensi copyleft berarti saya melepas semua hak saya sebagai pencipta?
Tidak sama sekali. Anda tetap memegang hak cipta atas karya Anda. Lisensi copyleft hanya merupakan cara Anda memberikan izin tertentu kepada publik secara advance, dengan syarat tertentu. Anda tidak kehilangan status sebagai pencipta atau pemegang hak.
Bisakah saya mengubah karya berlisensi copyleft menjadi produk komersial?
Bisa. Lisensi copyleft umumnya tidak melarang penjualan karya. Anda boleh mengenakan biaya untuk salinan yang Anda distribusikan. Namun, Anda harus tetap mematuhi syarat lisensi, seperti menyertakan kode sumber (untuk perangkat lunak) dan menjaga lisensi copyleft yang sama pada karya turunan.
Mana yang lebih baik untuk melindungi bisnis startup teknologi, copyright atau copyleft?
Tergantung model bisnisnya. Copyright cocok jika ingin menjaga kode sumber sebagai rahasia dagang dan menjual lisensi tertutup. Copyleft (seperti GPL) bisa digunakan untuk membangun komunitas dan standar, tetapi mengharuskan kode modifikasi dibuka, yang mungkin kurang cocok untuk produk proprietary. Banyak startup menggunakan hybrid, yaitu inti produk tertutup (copyright) dengan bagian tertentu yang open source.
Apakah semua konten Creative Commons itu copyleft?
Tidak. Creative Commons memiliki beberapa jenis lisensi. Hanya lisensi CC yang mengandung syarat “ShareAlike” (SA) yang merupakan bentuk copyleft untuk karya kreatif. Lisensi CC seperti “Attribution” (BY) atau “NonCommercial” (NC) bukanlah copyleft karena tidak mewajibkan karya turunan menggunakan lisensi yang sama.
Jika saya menemukan pelanggaran pada karya saya yang berlisensi copyleft, apa yang bisa saya lakukan?
Sebagai pemegang hak cipta, Anda berhak menegakkan lisensi. Anda dapat mengingatkan pelanggar untuk mematuhi syarat (seperti atribusi atau share-alike). Jika tidak dipatuhi, Anda dapat mengajukan gugatan pelanggaran hak cipta, karena penggunaan di luar ketentuan lisensi dianggap sebagai penggunaan tanpa izin.