Makna awalan me‑ yang berarti “menuju ke” ini seringkali luput dari perhatian, padahal ia adalah salah satu penanda arah yang paling elegan dalam bahasa Indonesia. Sementara kebanyakan dari kita lebih familiar dengan ‘me‑’ yang menunjukkan tindakan aktif seperti ‘membaca’ atau ‘menulis’, awalan yang sama ternyata bisa berubah fungsi menjadi penunjuk arah, layaknya kompas linguistik yang halus. Ia tidak sekadar menunjukkan pergerakan fisik, tetapi juga mampu membawa kita pada tujuan yang lebih abstrak, bahkan melompati batas waktu.
Dalam tata bahasa, awalan ini melekat pada kata kerja tertentu untuk menyatakan arah atau tujuan dari suatu tindakan. Proses fonologisnya pun menarik, ada yang menyebabkan kata dasar luluh dan ada yang tidak, menambah lapisan keunikan dalam penggunaannya. Dengan memahami ‘me‑’ yang satu ini, kita bukan cuma memperkaya kosakata, tapi juga mendapatkan lensa baru untuk melihat bagaimana bahasa Indonesia merepresentasikan konsep ruang dan pergerakan dengan sangat cerdas.
Pengertian dan Konsep Dasar Awalan “me‑” yang Bermakna “Menuju ke”
Dalam tata bahasa Indonesia, awalan “me-” terkenal sebagai pembentuk kata kerja aktif. Namun, di balik fungsi utamanya itu, terselip satu makna yang lebih spesifik dan gamblang: menunjukkan arah atau tujuan, alias “menuju ke”. Makna ini muncul ketika “me-” dilekatkan pada kata dasar yang merujuk pada suatu tempat, ruang, atau titik tujuan. Hasilnya adalah kata kerja yang menyatakan perbuatan bergerak atau diarahkan ke tempat yang dimaksud.
Berbeda dengan “me-” yang menyatakan tindakan aktif seperti “membaca” atau “menulis”, “me-” bermakna “menuju ke” lebih menekankan pada aspek pergerakan dan orientasi spasial. Misalnya, “melaut” bukan sekadar aktif di laut, tetapi secara spesifik bermakna “pergi atau menuju ke laut”. Dari segi fonologis, aturan peluluhan konsonan pada kata dasar tetap berlaku. Kata dasar yang berawalan K, T, S, P akan luluh, seperti “kandung” menjadi “mengandung” (menuju ke dalam kandungan).
Sementara kata dasar yang berawalan L, M, N, Ng, Ny, R, W, Y biasanya tidak luluh, contohnya “rantau” menjadi “merantau” (menuju ke rantau).
Perbandingan Makna dan Perubahan Fonologis
Pemahaman menjadi lebih jelas ketika kita membandingkan langsung. Kata “mendarat” dari dasar “darat” dengan “me-” aktif seperti “mendaratkan” pesawat, memiliki nuansa yang berbeda. “Mendarat” subjeknya yang bergerak menuju darat, sementara “mendaratkan” subjeknya menyebabkan objek (pesawat) itu menuju darat. Pola peluluhan ini membantu mengidentifikasi kata dasar aslinya. Kata “menepi” berasal dari “tepi” dengan T yang luluh, menunjukkan pergerakan ke arah tepi.
Pemahaman ini menjadi kunci untuk membedakan kata kerja “me-” arah dari jenis “me-” lainnya.
Identifikasi dan Klasifikasi Kata Kerja
Kata kerja dengan awalan “me-” bermakna “menuju ke” dapat dikelompokkan berdasarkan sifat tujuan atau arah yang dituju. Kelompok ini tidak terlalu besar jumlahnya, tetapi penggunaannya sangat khas dan produktif dalam membentuk istilah baru. Kata dasarnya biasanya adalah kata benda yang merujuk pada lokasi, wilayah, atau batasan tertentu.
Ciri semantik yang menonjol adalah kata dasar tersebut mewakili sebuah “domain” atau “ruang lingkup”. Pergerakan “menuju ke” domain itulah yang menjadi inti makna kata kerjanya. Bisa domain fisik yang sangat konkret seperti “darat” atau “laut”, maupun domain yang lebih abstrak seperti “alam” dalam “mengalam” (yang kini lebih jarang dipakai).
Pengelompokan Contoh Kata Kerja
Berikut adalah beberapa contoh kata kerja yang terbentuk dari awalan “me-” dengan makna “menuju ke”, dikelompokkan berdasarkan kemiripan konsep tujuannya.
| Konsep Tujuan | Kata Dasar | Kata Kerja (me- + dasar) | Contoh Kalimat Singkat |
|---|---|---|---|
| Domain Alam/Besar | darat, laut, udara, alam, rimba | mendarat, melaut, mengudara, mengalam, merimba | Burung itu mendarat di ranting. Ia memutuskan untuk melaut. |
| Batas/Sisi | tepi, pinggir, sisi | menepi, meminggir, menyisi | Mobil itu menepi untuk memberi jalan. Perahu itu menyisi pantai. |
| Status/Keadaan | tua, dewasa, sembuh | menua, mendewasa, menyembuh | Semua makhluk akan menua. Penyakitnya perlahan menyembuh. |
| Arah Relatif | atas, bawah, samping, belakang | mengatas, membawah, menyamping, membelakang | Dia berusaha mengatasi masalah. Langkahnya tiba-tiba menyamping. |
Contoh Penggunaan dalam Kalimat dan Konteks
Untuk memahami nuansanya, mari kita lihat kata-kata ini dalam aksi. Penggunaannya tidak hanya terbatas pada pergerakan fisik yang kasat mata, tetapi juga dapat meluas ke ranah abstrak dan bahkan temporal, memberikan kedalaman makna yang menarik.
Setelah pesawat lepas landas, ia akan mengudara selama lima jam sebelum akhirnya mendarat di bandara tujuan. Di tengah kesulitan hidup, dia memilih untuk merantau ke kota besar. Perahu kecil itu menepi menghindari ombak besar. Harapannya adalah keadaan ekonomi akan segera menyembuh pasca krisis.
Variasi Makna “Menuju Ke”
Berdasarkan contoh-contoh yang ada, makna “menuju ke” dari awalan “me-” dapat memiliki beberapa nuansa:
- Fisik/Spatial: Menunjukkan pergerakan jasmani menuju suatu tempat. Contoh: “melaut”, “mendarat”, “menepi”.
- Abstrak: Menunjukkan peralihan menuju suatu keadaan, kondisi, atau status. Contoh: “menyembuh” (menuju kondisi sehat), “menua” (menuju kondisi tua), “mendewasa” (menuju kedewasaan).
- Temporal: Menunjukkan pergerakan dalam waktu menuju suatu titik waktu. Contoh: “menjelang” (menuju ke suatu waktu yang dekat), meskipun “jelang” bisa juga dianggap sebagai preposisi.
- Metaforis: Menggunakan konsep ruang fisik untuk menggambarkan hal non-fisik. Contoh: “mengatas”i masalah (seolah-olah masalah adalah sesuatu yang berada di atas dan perlu didekati/ditaklukkan).
Analisis Kalimat: “Setelah sekian tahun berkarya di ibu kota, pelukis itu memutuskan untuk merimba guna mencari inspirasi baru.”
Pada kalimat ini, kata kerja ” merimba” (dari dasar “rimba”) menjadi inti aksi. Awalan “me-” memberikan makna “menuju ke hutan rimba”. Pilihan kata ini jauh lebih kuat dan bernuansa daripada sekadar “pergi ke hutan”. “Merimba” menyiratkan sebuah perjalanan yang mendalam, memasuki, dan mungkin menjadi bagian dari rimba tersebut untuk sementara waktu. Unsur “guna mencari inspirasi baru” berinteraksi dengan makna “menuju ke” ini, menjelaskan bahwa tujuan fisik (ke rimba) sebenarnya adalah sarana untuk mencapai tujuan abstrak (inspirasi).
Dengan demikian, “me-” di sini tidak hanya memandu pergerakan fisik pelukis, tetapi juga metafora perjalanan kreatifnya.
Perbandingan dengan Preposisi dan Kata Kerja Lain
Lalu, apa bedanya dengan menggunakan preposisi “ke” atau “menuju” saja? Perbedaannya terletak pada kelas kata dan kepadatan informasinya. Preposisi seperti “ke”, “menuju”, “kepada” adalah kata tugas yang membutuhkan kata benda setelahnya untuk membentuk keterangan. Sementara “me-” yang bermakna arah telah mengubah kata dasar (biasanya kata benda tempat) menjadi satu kata kerja utuh yang padat.
Kita menggunakan konstruksi “me- + kata dasar” ketika ingin membuat kata kerja yang spesifik dan ekonomis, sering kali untuk konsep yang sudah baku. Kita menggunakan preposisi ketika ingin menyatakan arah secara umum dan fleksibel, diikuti dengan nama tempat yang spesifik. Misalnya, kita bilang “dia pergi ke laut” (menggunakan preposisi “ke”). Tapi, seorang nelayan yang mata pencahariannya di laut, kita katakan sedang ” melaut” (menggunakan kata kerja bentukan “me-“).
Pemetaan Persamaan dan Perbedaan, Makna awalan me‑ yang berarti “menuju ke”
Source: kompas.com
| Aspek | Kata Kerja “me-” (arah) | Preposisi Arah (ke, menuju) |
|---|---|---|
| Kelas Kata | Kata Kerja (Verba) | Kata Tugas (Preposisi) |
| Fungsi Kalimat | Dapat berfungsi sebagai predikat utama. | Membentuk frasa keterangan yang melengkapi predikat. |
| Kepadatan Makna | Sangat padat, kata dasar sekaligus menunjukkan tujuan. | Umum, tujuan harus dinyatakan oleh kata benda setelahnya. |
| Contoh | Ia merantau. | Ia pergi ke rantau. |
| Fleksibilitas | Tertutup, tujuan sudah tetap (dalam kata dasar). | Terbuka, dapat diikuti berbagai nama tempat. |
Eksplorasi pada Kata-Kata Spesifik dan Pembentukan Istilah: Makna Awalan Me‑ Yang Berarti “menuju Ke”
Beberapa istilah yang sudah sangat lazim di telinga kita ternyata menyimpan logika “menuju ke” ini dengan sangat elegan. Ambil contoh “mendarat”. Kata dasarnya “darat”. Proses pembentukannya adalah me- + darat, dengan D yang tidak luluh. Secara harfiah berarti “menuju ke darat”.
Awalan “me‑” dalam bahasa Indonesia memang menarik, karena salah satu maknanya adalah “menuju ke”, seperti dalam kata “melaut” atau “menepi”. Nah, proses berpikir menuju jawaban juga terjadi saat kita mencoba menyelesaikan soal Jika 1/5 = Rp 50, berapa rupiah untuk 3/4. Setelah menemukan nilainya, pemahaman kita pun kembali “mengarah” atau “menuju” ke konsep awal bahwa awalan “me‑” bisa merepresentasikan sebuah pergerakan menuju suatu titik, baik secara harfiah maupun metaforis dalam nalar.
Istilah ini kemudian dikhususkan untuk pesawat, burung, atau wahana antariksa yang bergerak dari udara atau angkasa menuju permukaan darat. Begitu pula dengan “melaut” (menuju ke laut) dan “mengudara” (menuju ke udara).
Perluasan makna dari arah fisik ke abstrak adalah hal yang wajar dalam bahasa. Kata ” menyembuh” adalah contoh sempurna. Dasar “sembuh” adalah keadaan sehat. “Menyembuh” (dengan S yang luluh) secara metaforis berarti “menuju ke keadaan sembuh”. Pergerakannya bukan fisik, tetapi perubahan kondisi.
Demikian pula ” menua“, yang menggambarkan perjalanan hidup menuju ke fase tua. Kata ” membelakang” bisa berarti memutar badan menuju arah belakang (fisik), tetapi juga bisa bermakna tidak setia atau meninggalkan (abstrak).
Ilustrasi Konsep Ruang dan Pergerakan
Bayangkan kata ” merantau“. Kata dasar “rantau” menggambarkan sebuah wilayah asing yang luas, bukan sekadar titik di peta. Awalan “me-” kemudian menghidupkannya menjadi sebuah kata kerja yang membayangkan sebuah pergerakan panjang, meninggalkan titik asal (kampung halaman) dan secara aktif memasuki serta menyusuri wilayah “rantau” yang luas itu. Pergerakan yang dimaksud bukan perjalanan singkat, melainkan perpindahan hidup. Sementara ” menepi” membayangkan sebuah garis batas, yaitu “tepi”.
Pergerakan “menuju ke tepi” ini bersifat relatif singkat, menggeser posisi dari tengah atau jalur utama untuk mencapai sisi atau batas. Keduanya menggunakan awalan yang sama, tetapi membangkitkan gambaran ruang dan skala pergerakan yang sangat berbeda.
Latihan dan Penerapan Praktis
Untuk memantapkan pemahaman, cobalah berlatih mengidentifikasi dan menggunakan kata-kata ini. Latihan berikut bisa membantu kamu lebih peka terhadap kehadiran awalan “me-” bermakna “menuju ke” dalam teks maupun dalam menyusun kalimat.
Sebagai langkah awal analisis, kamu bisa mengikuti prosedur sistematis ini ketika membaca sebuah teks:
- Pindai teks untuk menemukan semua kata kerja yang berawalan “me-“, “mem-“, “men-“, “meng-“, “meny-“, atau “menge-“.
- Periksa apakah kata kerja tersebut bisa dipisahkan awalan “me-“nya. Jika bisa, lihat kata dasarnya.
- Tanyakan pada diri sendiri: Apakah kata dasar ini merujuk pada tempat, ruang, batas, atau keadaan? Jika ya, cek maknanya.
- Uji dengan pertanyaan: Apakah kata kerja ini mengandung arti “bergerak atau menjadi menuju ke [kata dasar]”? Jika jawabannya ya, kemungkinan besar itulah “me-” bermakna arah.
- Kumpulkan contoh-contoh yang ditemukan dan bandingkan dengan konteks kalimatnya.
Kuis Pemahaman Singkat
Isilah titik-titik pada kalimat berikut dengan kata kerja berawalan “me-” yang tepat dari pilihan yang tersedia. Perhatikan konteks kalimatnya.
| Soal Kalimat | Pilihan Kata Dasar | Jawaban | Pembahasan Singkat |
|---|---|---|---|
| Pesawat tempur itu ______ dengan cepat untuk menghindari rudal. | udara, atas, samping | mengudara | “Mengudara” berarti menuju ke udara, sesuai konteks manuver pesawat. “Mengatas” dan “menyamping” kurang tepat karena tidak menggambarkan arah vertikal ke atas secara umum. |
| Demi kesembuhan, pasien disarankan untuk beristirahat total agar bisa ______ dengan optimal. | sembuh, tua, pinggir | menyembuh | “Menyembuh” berarti menuju keadaan sembuh, yang merupakan tujuan perawatan. “Menua” (menuju tua) dan “meminggir” (menuju pinggir) tidak relevan dengan konteks kesehatan. |
| Mobil yang mogok itu akhirnya berhasil ______ ke bahu jalan. | darat, tepi, rantau | menepi | “Menepi” dari dasar “tepi” berarti bergerak menuju tepi (jalan), yaitu bahu jalan. “Mendarat” untuk permukaan darat yang solid, “merantau” untuk pergi ke daerah jauh. |
| Sebagai anak kelahiran pesisir, darahnya seolah sudah mengandung garam; jiwa ______ nya sangat kuat. | laut, alam, belakang | melaut | “Melaut” berarti menuju/pergi ke laut, yang menjadi panggilan hidup orang pesisir. “Mengalam” dan “membelakang” tidak memiliki kaitan semantik dengan konteks laut. |
Ringkasan Penutup
Jadi, begitulah kisah si awalan ‘me‑’ yang bermakna “menuju ke”. Ia lebih dari sekadar imbuhan; ia adalah pemandu arah dalam kalimat, pencipta nuansa, dan saksi betapa dinamisnya bahasa kita. Dari ‘melaut’ yang menggambarkan keberanian mengarungi samudra hingga ‘menua’ yang secara halus menunjuk pada perjalanan waktu, awalan ini membuktikan bahwa tata bahasa bisa jadi sangat puitis. Memahaminya berarti kita tak hanya bisa menyusun kalimat yang benar, tetapi juga yang hidup dan penuh makna.
Pertanyaan Populer dan Jawabannya
Apakah semua kata yang menunjukkan arah bisa diberi awalan “me‑” dengan makna “menuju ke”?
Tidak. Awalan “me‑” dengan makna ini hanya melekat pada kelompok kata kerja tertentu, terutama yang berasal dari kata benda yang menyatakan tempat atau arah (seperti
-laut*,
-darat*,
-udara*) atau kata kerja yang sudah mengandung konsep pergerakan. Kata seperti “timur” atau “kanan” tidak bisa langsung menjadi “menimur” atau “mekanan”.
Bagaimana membedakan “me‑” yang berarti “menuju ke” dengan “me‑” untuk kata kerja aktif biasa?
Perhatikan objek dan konteksnya. “Me‑” yang berarti “menuju ke” biasanya diikuti oleh kata yang menunjukkan tujuan atau arah, dan sering kali dapat diparafrasekan dengan “pergi ke” atau “bergerak menuju”. Misalnya, “melaut” (menuju/pergi ke laut). Sementara “me‑” aktif biasanya diikuti oleh objek yang dikenai tindakan, seperti “membaca buku”.
Apakah kata seperti “mendarat” hanya bisa untuk pesawat?
Tidak. Meski umum untuk pesawat, “mendarat” bisa digunakan untuk segala sesuatu yang bergerak dari udara atau ketinggian menuju ke darat, seperti burung, penerjun payung, atau bahkan bola yang jatuh. Maknanya tetap “menuju ke darat”.
Apakah ada kata berawalan “me‑” bermakna “menuju ke” yang objeknya bukan tempat fisik?
Ada. Beberapa kata mengalami perluasan makna metaforis. Contohnya “menua” (menuju ke keadaan tua), “meriah” (menuju ke keadaan ramai/riuh), atau “merendah” (menuju ke posisi yang lebih rendah, bisa fisik atau sikap). Di sini, tujuan yang dimaksud bersifat abstrak.