Belanda Menduduki Mataram Saat Dikuasai bukan sekadar babak peralihan kekuasaan, melainkan sebuah drama politik berdarah yang mengubah nasib Nusantara. Di balik kemegahan istana dan pusaka kerajaan, tersembunyi intrik, persekutuan yang rapuh, dan ambisi kolonial yang mulai mencengkeram. Peristiwa ini menjadi awal dari sebuah transformasi paksa, di mana sebuah kerajaan agung perlahan harus menari di atas panggung yang digariskan oleh kekuatan asing.
Intervensi Belanda ke dalam internal Mataram terjadi pada masa kerajaan ini sedang mengalami disintegrasi internal yang parah. Perebutan tahta, konflik antar-pangeran, dan melemahnya otoritas pusat menciptakan celah sempurna bagi VOC untuk melancarkan politik adu domba. Dari perjanjian-perjanjian yang menguntungkan hingga intervensi militer langsung, Belanda secara sistematis menggerogoti kedaulatan Mataram, mengubahnya dari kerajaan merdeka menjadi wilayah yang berada di bawah kendali dan pengawasan ketat kompeni.
Ulasan Penutup: Belanda Menduduki Mataram Saat Dikuasai
Source: slidesharecdn.com
Dengan demikian, pendudukan Belanda atas Mataram meninggalkan warisan yang paradoks. Di satu sisi, ia memecah belah dan melemahkan struktur politik Jawa tradisional, namun di sisi lain, ia juga memaksakan sebuah tata kelola baru yang, meski bertujuan eksploitatif, menjadi fondasi administratif modern. Kejatuhan Mataram menandai berakhirnya era kerajaan-kerajaan Jawa yang sepenuhnya berdaulat dan membuka jalan bagi konsolidasi kekuasaan kolonial di Pulau Jawa.
Kendali Belanda atas Mataram pada abad ke-18 bukan sekadar soal politik, melainkan juga mengubah pola ekonomi rakyat, memaksa adaptasi untuk bertahan hidup. Semangat bertahan ini masih terlihat hingga kini dalam praktik ekonomi informal, misalnya pada ragam Barang yang Dijual Pedagang di Lampu Merah , yang merefleksikan daya juang yang sama. Jadi, tekanan kolonial masa lalu dan strategi ekonomi kreatif masa kini, keduanya berbicara tentang ketangguhan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.
Jejaknya masih dapat dirasakan hingga kini, baik dalam batas-batas wilayah, sistem birokrasi, maupun dalam memori kolektif tentang resistensi terhadap penjajahan.
Panduan Pertanyaan dan Jawaban
Apa peran utama VOC dalam konflik internal Mataram?
VOC bertindak sebagai “penengah” yang berpihak sekaligus pemodal perang. Mereka meminjamkan uang dan pasukan kepada pihak yang berseteru (biasanya salah satu pangeran yang berebut tahta) dengan imbalan konsesi politik, ekonomi, dan wilayah yang sangat besar, seperti monopoli perdagangan dan hak mendirikan benteng.
Masa pendudukan Belanda di Mataram bukan sekadar pergantian penguasa, melainkan benturan budaya yang kompleks. Seperti halnya nuansa bahasa Jawa dalam Bapakku Sakit, Wingi Ada Krama Alus , interaksi kolonial juga penuh lapisan makna dan strategi. Dinamika kekuasaan itu akhirnya membentuk lanskap politik dan sosial Jawa yang baru, meninggalkan jejak yang masih bisa dirasakan hingga kini.
Apakah semua bangsawan Mataram menentang Belanda?
Tidak. Banyak bangsawan yang justru bersekutu dengan Belanda untuk mengalahkan rivalnya dalam perebutan kekuasaan. Mereka melihat VOC sebagai alat untuk mencapai ambisi pribadi, meski pada akhirnya justru terjebak dalam ketergantungan dan kehilangan kedaulatan.
Pasca Belanda menduduki Mataram saat dikuasai melalui politik pecah belah, interaksi budaya yang kompleks tetap terjadi. Dalam dinamika itu, ungkapan Terima Kasih dalam Bahasa Jawa sebagai bagian dari kearifan lokal tetap lestari, menunjukkan ketahanan identitas di tengah tekanan kolonial yang justru ingin mengikis kedaulatan tradisional kerajaan tersebut.
Bagaimana kondisi ekonomi rakyat biasa selama pendudukan?
Kehidupan rakyat biasa semakin tertekan. Selain harus membayar pajak tradisional kepada kerajaan, mereka juga dibebani kewajiban baru untuk VOC, seperti kerja paksa (rodi) dan wajib menanam komoditas ekspor. Perang yang berulang juga merusak lahan pertanian dan mengganggu stabilitas ekonomi.
Apa bukti fisik peninggalan pendudukan Belanda di wilayah Mataram?
Bukti fisik yang paling nyata adalah Benteng Vastenburg di Surakarta, yang dibangun Belanda untuk mengawasi dan mengintimidasi istana Kasunanan. Transformasi tata kota sekitar keraton dengan penambahan pos-pos militer dan pemukiman orang Eropa juga menjadi simbol kekuasaan baru.