Instrumen Penilaian Kognitif dan Afektif 5 Contoh Masing‑Masing

Instrumen Penilaian Kognitif dan Afektif: 5 Contoh Masing‑Masing menjadi topik krusial dalam dunia pendidikan yang terus berevolusi. Di tengah tuntutan untuk mencetak generasi unggul, pemahaman mendalam tentang bagaimana mengukur kemampuan berpikir sekaligus karakter peserta didik bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah keharusan. Pendidik ditantang untuk tidak hanya melihat angka di kertas ujian, tetapi juga menyelami sikap, nilai, dan motivasi yang membentuk pribadi siswa seutuhnya.

Ranah kognitif, yang berpusat pada pengetahuan dan keterampilan intelektual, serta ranah afektif, yang menyentuh wilayah sikap, emosi, dan nilai, adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam proses belajar. Artikel ini akan mengupas tuntas prinsip-prinsip penyusunan alat ukur yang valid untuk kedua ranah tersebut, lengkap dengan contoh konkret mulai dari tes esai dan portofolio hingga skala sikap dan jurnal refleksi, memberikan panduan praktis bagi para praktisi pendidikan.

Pengantar dan Konsep Dasar Penilaian

Dalam dunia pendidikan yang dinamis, instrumen penilaian adalah alat vital yang digunakan pendidik untuk mengumpulkan bukti tentang sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai. Secara sederhana, instrumen ini adalah wujud konkret dari teknik penilaian, berupa perangkat tertulis atau prosedur sistematis yang dirancang untuk mengukur kemampuan, sikap, atau perilaku peserta didik. Tanpa instrumen yang tepat, penilaian menjadi subjektif dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Penilaian dalam pendidikan tidak hanya berfokus pada apa yang diketahui siswa (kognitif), tetapi juga pada bagaimana perasaan, nilai, dan motivasi mereka (afektif). Ranah kognitif merujuk pada proses mental seperti mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Karakteristik utamanya terletak pada kemampuan intelektual yang dapat diukur melalui produk seperti jawaban tes, karya tulis, atau solusi masalah. Sementara itu, ranah afektif mencakup dimensi emosional dan sosial, seperti sikap, minat, nilai-nilai, apresiasi, dan pola penyesuaian diri.

Aspek ini lebih sulit diukur karena bersifat internal dan sering kali hanya terlihat melalui perilaku atau ekspresi.

Pentingnya Instrumen yang Tepat untuk Dua Ranah

Menggunakan instrumen yang tepat untuk masing-masing ranah bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah keharusan pedagogis. Instrumen kognitif yang baik akan memetakan secara akurat tingkat penguasaan materi dan keterampilan berpikir siswa. Di sisi lain, instrumen afektif yang dirancang dengan cermat dapat membuka jendela untuk memahami kondisi psikologis dan sosial siswa, yang pada akhirnya sangat memengaruhi proses belajar mereka. Keduanya saling melengkapi; pemahaman yang baik terhadap aspek afektif dapat menjelaskan mengapa seorang siswa yang secara kognitif cerdas mungkin tidak menunjukkan performa optimal, atau sebaliknya.

Prinsip dan Kriteria Instrumen yang Baik

Membangun instrumen penilaian yang berkualitas ibarat merancang alat ukur yang presisi. Hasilnya harus dapat dipercaya dan menggambarkan kondisi sebenarnya. Untuk mencapai itu, ada prinsip-prinsip mendasar yang harus dipegang, baik untuk instrumen kognitif maupun afektif. Validitas dan reliabilitas adalah dua pilar utama. Validitas menjamin bahwa instrumen benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur, sementara reliabilitas menjamin konsistensi hasil pengukuran jika diulang dalam kondisi yang sama.

Selain dua prinsip inti tersebut, kriteria seperti objektivitas, kelayakan, dan kepraktisan juga tidak kalah penting. Objektivitas menuntut agar penilaian bebas dari bias subjektif si penilai. Kelayakan berkaitan dengan kesesuaian instrumen dengan tingkat perkembangan dan konteks peserta didik. Kepraktisan menyangkut efisiensi dalam hal waktu, biaya, dan kemudahan administrasi. Meski prinsipnya sama, penerapan kriteria ini pada instrumen kognitif dan afektif memiliki nuansa yang berbeda.

Perbandingan Kriteria Instrumen Kognitif dan Afektif

Perbedaan mendasar antara mengukur pengetahuan dan mengukur sikap tercermin dalam cara kriteria penilaian diterapkan. Tabel berikut merangkum perbandingan tersebut untuk memberikan kejelasan.

Kriteria Instrumen Kognitif Instrumen Afektif
Validitas Kesesuaian butir soal dengan indikator kompetensi dasar. Sering diuji secara statistik. Kemampuan instrumen mengungkap sikap/nilai yang sering tersembunyi. Lebih mengandalkan konstruksi teoritis yang kuat.
Reliabilitas Dapat diukur dengan koefisien korelasi antar butir (consistency). Jawaban cenderung stabil. Lebih sulit diukur secara statistik karena sifat afektif yang fluktuatif. Mengandalkan triangulasi data dari berbagai sumber.
Objektivitas Tinggi, terutama pada tes pilihan ganda. Kunci jawaban yang jelas meminimalkan subjektivitas. Lebih rendah. Memerlukan rubrik observasi yang sangat terstruktur atau skala yang jelas untuk mengurangi bias penilai.
Kepraktisan Umumnya mudah diskor dan dianalisis secara massal, terutama dengan bantuan teknologi. Memerlukan waktu lebih lama untuk observasi, wawancara, atau analisis jurnal secara mendalam.
BACA JUGA  Konsentrasi H⁺ pada Kesetimbangan 2AgI dan H₂ 0,50 atm

Contoh Instrumen Penilaian Kognitif

Untuk mengukur perkembangan intelektual peserta didik, guru memiliki beragam pilihan instrumen. Masing-masing instrumen memiliki kekuatan dan konteks penggunaan yang berbeda, memungkinkan penilaian yang lebih komprehensif daripada sekadar tes tertulis konvensional. Berikut adalah lima contoh instrumen penilaian kognitif yang umum digunakan.

Tes Pilihan Ganda dan Tes Uraian

Dua bentuk tes tertulis ini adalah yang paling akrab di dunia pendidikan. Meski sering disandingkan, keduanya memiliki tujuan dan cara pengerjaan yang berbeda.

  • Tes Pilihan Ganda: Instrumen ini menyajikan sebuah pertanyaan atau pernyataan tidak lengkap (stem) diikuti beberapa pilihan jawaban. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan mengingat, memahami, dan menerapkan pengetahuan secara efisien pada cakupan materi yang luas. Cara pengerjaannya adalah dengan memilih satu atau lebih jawaban yang dianggap paling tepat dari opsi yang tersedia. Keunggulannya terletak pada objektivitas dan kemudahan penskoran.
  • Tes Uraian: Berbeda dengan pilihan ganda, tes uraian meminta peserta didik untuk mengonstruksi jawaban mereka sendiri dalam bentuk esai singkat atau panjang. Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan tingkat tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi, serta kemampuan mengorganisasi gagasan. Cara pengerjaannya adalah dengan merespons pertanyaan secara tertulis dengan argumentasi, penjelasan, atau perhitungan yang sistematis.

Portofolio, Penilaian Kinerja, dan Penilaian Proyek

Ketiga instrumen ini mewakili penilaian autentik yang berusaha menangkap proses dan produk belajar dalam konteks yang lebih nyata.

Portofolio adalah kumpulan karya peserta didik yang terpilih dan tersusun secara sistematis, yang menunjukkan usaha, perkembangan, dan pencapaiannya dalam bidang tertentu. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan proses belajar dari waktu ke waktu. Penilaian Kinerja (Performance Assessment) meminta peserta didik untuk mendemonstrasikan kompetensinya melalui suatu tindakan atau produk, seperti presentasi, eksperimen, atau memainkan alat musik. Penilaian ini fokus pada proses dan produk secara langsung.

Sementara itu, Penilaian Proyek adalah penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan dalam periode tertentu, melibatkan investigasi dari perencanaan, pengumpulan data, pengolahan, hingga pelaporan. Instrumen ini mengukur kemampuan mengintegrasikan berbagai pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikan masalah kompleks.

Contoh Instrumen Penilaian Afektif: Instrumen Penilaian Kognitif Dan Afektif: 5 Contoh Masing‑Masing

Mengukur hati dan sikap memang lebih rumit daripada mengukur pikiran, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Dunia pendidikan telah mengembangkan sejumlah instrumen yang dapat digunakan untuk memetakan ranah afektif peserta didik dengan lebih terstruktur. Instrumen-instrumen ini berusaha menerjemahkan hal-hal yang abstrak menjadi data yang dapat diobservasi dan dianalisis.

Skala Sikap, Kuesioner, dan Observasi Sistematis, Instrumen Penilaian Kognitif dan Afektif: 5 Contoh Masing‑Masing

Tiga instrumen awal ini sering menjadi andalan untuk pengumpulan data afektif secara lebih terukur. Skala Sikap (misalnya Skala Likert) berbentuk serangkaian pernyataan tentang suatu objek sikap, dimana responden memilih tingkat kesetujuan atau ketidaksetujuannya (contoh: Sangat Setuju hingga Sangat Tidak Setuju). Aspek yang diukur bisa berupa minat, apresiasi, atau nilai. Kuesioner Afektif mirip dengan skala sikap tetapi dapat mencakup pertanyaan terbuka dan tertutup yang lebih variatif untuk menggali informasi tentang perasaan, motivasi, atau keyakinan.

Observasi Sistematis dilakukan dengan menggunakan lembar pengamatan berisi indikator perilaku afektif yang telah dirumuskan sebelumnya, seperti kerjasama, disiplin, atau rasa ingin tahu, yang diamati dalam situasi belajar yang alami.

Penilaian Diri dan Jurnal Refleksi

Instrumen ini memberikan ruang bagi suara peserta didik sendiri untuk didengar, yang sangat berharga untuk perkembangan metacognition dan kesadaran diri. Penilaian Diri (Self-Assessment) adalah instrumen dimana peserta didik mengevaluasi pencapaian, perilaku, atau sikap mereka sendiri terhadap suatu kriteria yang telah ditetapkan. Bentuknya bisa berupa checklist atau rubrik sederhana. Jurnal Refleksi adalah catatan pribadi yang ditulis peserta didik secara berkala untuk merefleksikan pengalaman belajar, perasaan, tantangan, dan pemahaman baru yang mereka dapatkan.

Aspek yang diukur sangat personal dan mendalam, mencakup pertumbuhan emosional dan perubahan perspektif.

Penilaian ranah afektif pada esensinya adalah upaya untuk memahami “manusia” di balik angka dan nilai kognitif. Ia bukan mencari jawaban benar atau salah, melainkan memetakan lanskap emosi, nilai, dan motivasi yang menjadi tenaga penggerak sekaligus penentu kebermaknaan dari seluruh proses belajar seorang peserta didik.

Teknik Penyusunan dan Penerapan Instrumen

Memahami contoh saja tidak cukup. Guru perlu memiliki kemampuan untuk menyusun instrumennya sendiri sesuai dengan kebutuhan kelasnya. Proses penyusunan ini memerlukan langkah-langkah sistematis untuk memastikan instrumen yang dihasilkan valid dan dapat digunakan dengan baik.

BACA JUGA  Bagian Plasma yang Berperan dalam Proses Pembekuan Darah Faktor dan Mekanismenya

Langkah Menyusun Instrumen Kognitif Sederhana

Mari ambil contoh menyusun tes uraian terbatas untuk topik “Dampak Revolusi Industri”. Pertama, tentukan kompetensi dasar dan indikator pencapaiannya, misalnya “Menganalisis dampak sosial Revolusi Industri di Inggris”. Kedua, rumuskan kisi-kisi yang memetakan indikator ke dalam bentuk soal. Ketiga, tulis soal yang jelas dan merujuk langsung pada indikator, contoh: “Jelaskan dua dampak sosial positif dan dua dampak sosial negatif dari Revolusi Industri di Inggris bagi kaum buruh!” Keempat, buat pedoman penskoran (rubrik) yang berisi poin-poin jawaban esensial beserta skornya.

Terakhir, lakukan uji coba terbatas dan revisi jika diperlukan.

Langkah Menyusun Instrumen Afektif Sederhana

Sebagai contoh, kita akan menyusun skala sikap Likert untuk mengukur “Sikap terhadap Kerja Kelompok”. Pertama, definisikan konstruk “sikap terhadap kerja kelompok” secara operasional menjadi aspek-aspek yang dapat diamati, seperti: kesediaan berbagi tugas, menghargai pendapat orang lain, dan kontribusi aktif. Kedua, tulis sekitar 8-10 pernyataan yang mewakili sikap positif dan negatif terhadap aspek-aspek tersebut (contoh pernyataan positif: “Saya merasa kerja kelompok membuat pemahaman saya lebih mendalam”; pernyataan negatif: “Kerja kelompok sering membuang-buang waktu saja”).

Ketiga, tentukan skala respons, misalnya dari SS (Sangat Setuju) sampai STS (Sangat Tidak Setuju) dengan nilai 4 sampai 1 untuk pernyataan positif (dan sebaliknya untuk negatif). Keempat, berikan petunjuk pengisian yang jelas dan jamin kerahasiaan jawaban.

Penerapan instrumen penilaian kognitif dan afektif—seperti tes esai, portofolio, dan skala sikap—memang krusial untuk memetakan kompetensi peserta didik secara holistik. Namun, penting diingat bahwa efektivitasnya dapat tergerus jika lingkungan belajar kurang terstruktur, sebuah risiko yang juga muncul dalam konteks Dampak Negatif Pendidikan Nonformal. Oleh karena itu, pemilihan kelima contoh instrumen tersebut harus mempertimbangkan konteks pembelajaran agar hasil asesmen benar-benar reflektif dan bermakna bagi pengembangan individu.

Strategi Integrasi dalam Satu Aktivitas Pembelajaran

Integrasi penilaian kognitif dan afektif dapat dilakukan secara elegan dalam satu aktivitas. Misalnya, dalam pembelajaran berbasis proyek “Membuat Kampanye Hemat Energi di Sekolah”. Aspek kognitif dinilai melalui ketepatan data yang dikumpulkan, kualitas analisis penyebab pemborosan energi, dan efektivitas solusi yang ditawarkan dalam proposal. Sementara aspek afektif dinilai secara bersamaan melalui lembar observasi yang mencatat sikap kerjasama, tanggung jawab terhadap tugas, dan kepedulian terhadap isu lingkungan selama proses pengerjaan proyek.

Dengan demikian, satu aktivitas menghasilkan dua peta perkembangan yang saling melengkapi.

Analisis dan Interpretasi Hasil Penilaian

Data yang terkumpul dari instrumen penilaian adalah bahan mentah yang perlu diolah menjadi informasi bermakna. Cara pengolahan ini berbeda antara data kuantitatif dari instrumen kognitif dan data kualitatif dari instrumen afektif. Analisis yang tepat akan mengubah sekumpulan angka dan catatan menjadi dasar untuk pengambilan keputusan pedagogis yang cerdas.

Analisis Kuantitatif untuk Instrumen Kognitif

Untuk tes seperti pilihan ganda, analisis dimulai dengan penskoran objektif berdasarkan kunci jawaban. Selanjutnya, guru dapat melakukan analisis butir soal untuk melihat tingkat kesukaran dan daya beda setiap soal. Analisis yang lebih sederhana adalah menghitung nilai rata-rata kelas, persentase ketuntasan, dan mengidentifikasi kompetensi dasar mana yang telah dikuasai dan mana yang masih lemah. Teknik statistik deskriptif ini memberikan gambaran menyeluruh tentang pencapaian kognitif siswa secara individu maupun kelompok.

Analisis Kualitatif untuk Instrumen Afektif

Data dari observasi, jurnal, atau kuesioner terbuka memerlukan pendekatan yang berbeda. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan mencari pola, tema, atau kecenderungan. Misalnya, guru membaca jurnal refleksi semua siswa untuk menemukan kata-kata kunci seperti “bingung”, “senang”, atau “tertantang”. Dari observasi, guru mencatat frekuensi munculnya perilaku seperti “mengajukan pertanyaan” atau “membantu teman”. Data dari skala Likert dapat dikuantifikasi, tetapi interpretasinya tetap bersifat kualitatif, misalnya dengan menyimpulkan bahwa “sebagian besar siswa menunjukkan sikap positif terhadap pembelajaran daring, namun masih ada kecemasan dalam hal teknis”.

Contoh Interpretasi dan Tindak Lanjut

Tabel berikut memberikan ilustrasi bagaimana hasil dari kedua ranah diinterpretasikan dan ditindaklanjuti untuk kepentingan perbaikan pembelajaran.

Jenis Instrumen Contoh Hasil Interpretasi Tindak Lanjut
Tes Kognitif (Uraian) 70% siswa tidak dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat dalam peristiwa sejarah X. Kemampuan analisis sebab-akakit (kognitif tingkat tinggi) pada topik tersebut masih rendah. Mengadakan remedial dengan metode diskusi kasus dan peta konsep untuk memperkuat pemahaman hubungan kausal.
Skala Sikap (Afektif) Skor rata-rata minat terhadap mata pelajaran Matematika adalah 2.1 dari skala 4. Terdapat kecenderungan minat yang rendah dan mungkin ada persepsi negatif terhadap Matematika. Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan menyenangkan, serta melakukan wawancara singkat untuk mengetahui akar permasalahannya.
Observasi & Jurnal Catatan observasi: Beberapa siswa dominan dalam diskusi; Jurnal: Beberapa siswa menulis merasa tidak percaya diri untuk berbicara. Dinamika kelompok tidak seimbang; ada isu kepercayaan diri yang menghambat partisipasi. Menerapkan teknik diskusi yang lebih terstruktur (seperti think-pair-share) dan memberikan pembinaan personal untuk membangun kepercayaan diri siswa.
BACA JUGA  Pengertian Musyawarah untuk Mufakat Nilai dan Penerapannya

Tantangan dan Inovasi dalam Penilaian

Meski telah banyak teori dan instrumen yang dikembangkan, praktik penilaian di lapangan, khususnya untuk ranah afektif, masih menghadapi sejumlah tantangan nyata. Di saat yang sama, tuntutan pembelajaran abad ke-21 mendorong munculnya berbagai inovasi untuk mengadaptasi instrumen konvensional agar lebih relevan.

Tantangan Umum dalam Pengukuran Afektif

Tantangan terbesar adalah sifat afektif itu sendiri yang abstrak dan mudah dipengaruhi oleh kecenderungan memberikan jawaban yang dianggap socially desirable (diinginkan secara sosial). Siswa mungkin memilih jawaban yang tampak “baik” pada skala sikap, bukan yang sebenarnya mereka rasakan. Selain itu, pengukuran afektif memerlukan waktu dan kesabaran ekstra untuk observasi yang berkelanjutan serta analisis data kualitatif yang mendalam, sesuatu yang sering terkendala oleh beban administratif guru yang sudah padat.

Konsistensi juga menjadi masalah, karena mood dan sikap siswa bisa berubah-ubah tergantung situasi.

Instrumen penilaian kognitif dan afektif, seperti tes esai dan skala sikap Likert, mendorong analisis mendalam. Prinsip analitis serupa diterapkan dalam eksperimen kimia, misalnya saat menghitung Jumlah NaOH untuk menaikkan pH 5 pada 50 mL cuka 60% , yang memerlukan pemahaman konseptual dan ketelitian prosedural. Keterampilan evaluatif ini justru menjadi inti dari instrumen penilaian yang efektif untuk mengukur pemahaman dan sikap peserta didik secara komprehensif.

Inovasi untuk Konteks Pembelajaran Abad ke-21

Inovasi muncul dengan memanfaatkan teknologi dan pendekatan yang lebih autentik. Portofolio digital, misalnya, tidak hanya menampilkan karya tapi juga dapat menyertakan rekaman video refleksi siswa yang menampilkan aspek afektif seperti antusiasme dan percaya diri. Learning Analytics pada platform pembelajaran daring dapat menganalisis pola interaksi siswa (seperti frekuensi login, partisipasi forum, waktu pengerjaan tugas) sebagai indikator tidak langsung dari motivasi dan keterlibatan.

Instrumen penilaian diri dan sejawat juga dikembangkan dalam bentuk yang lebih interaktif dan real-time menggunakan aplikasi kolaboratif.

Skenario Penerapan Terintegrasi di Kelas

Bayangkan sebuah kelas Bahasa Indonesia dimana siswa secara berkelompok diminta membuat podcast bertema “Kearifan Lokal di Sekitarku”. Penilaian kognitif berfokus pada kedalaman riset, struktur penulisan naskah, ketepatan penggunaan bahasa, dan teknik penyiaran yang diterapkan. Rubrik dengan kriteria jelas telah disiapkan. Secara bersamaan, penilaian afektif berjalan. Guru menggunakan lembar observasi untuk menilai dinamika kerjasama: bagaimana pembagian peran, penyelesaian konflik, dan dukungan antartim.

Setelah produksi selesai, setiap siswa diminta mengisi jurnal refleksi digital yang menanyakan tantangan terbesar yang dihadapi, pelajaran hidup apa yang didapat tentang kerja tim, dan perasaan mereka saat karyanya didengar orang lain. Dalam satu proyek ini, guru mendapatkan gambaran utuh tidak hanya tentang kemampuan membuat podcast, tetapi juga tentang perkembangan karakter kolaboratif, resilience, dan rasa bangga akan budaya lokal setiap peserta didik.

Terakhir

Dengan demikian, penguasaan terhadap Instrumen Penilaian Kognitif dan Afektif membuka jalan bagi terciptanya evaluasi yang lebih holistik dan manusiawi. Tantangan dalam mengukur hal-hal yang tak kasat mata seperti empati atau ketekunan memang nyata, namun bukan mustahil diatasi dengan instrumen yang kreatif dan penerapan yang konsisten. Pada akhirnya, integrasi penilaian kognitif dan afektif yang mulus bukan sekadar memetakan capaian belajar, melainkan juga merawat benih-benih karakter dan kecerdasan yang akan tumbuh menjadi kekuatan nyata bagi peserta didik di masa depan.

Jawaban untuk Pertanyaan Umum

Apakah penilaian afektif bisa dinilai secara objektif seperti penilaian kognitif?

Objektivitas dalam penilaian afektif memang lebih menantang karena menyangkut interpretasi terhadap sikap dan nilai. Namun, objektivitas dapat ditingkatkan dengan menggunakan instrumen terstandar seperti skala Likert, rubrik observasi yang jelas, serta triangulasi data dari berbagai sumber (misalnya, guru, diri sendiri, dan teman sebaya) untuk mengurangi bias subjektif.

Bagaimana jika siswa memberikan jawaban yang tidak jujur pada kuesioner sikap?

Ini adalah tantangan umum. Untuk meminimalkannya, ciptakan suasana yang aman dan terjamin kerahasiaannya, tekankan bahwa tujuan penilaian adalah untuk pengembangan diri, bukan untuk menghakimi. Kombinasi dengan metode lain seperti observasi jangka panjang dan jurnal refleksi juga dapat memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan mengandalkan satu instrumen saja.

Dalam merancang instrumen penilaian kognitif dan afektif, pendidik dituntut kreatif meramu soal yang menantang sekaligus mengukur pemahaman mendalam. Tantangan numerik seperti Bilangan ganjil 6‑7 juta, digit ribuan & dasar sama, total 30 digit dapat menjadi contoh soal kognitif yang memicu analisis, sementara refleksi terhadap proses penyelesaiannya dapat menjadi bagian dari penilaian afektif. Dengan demikian, integrasi kedua aspek ini mampu menciptakan evaluasi yang lebih holistik dan autentik.

Apakah penilaian proyek termasuk ranah kognitif atau afektif?

Penilaian proyek terutama mengukur ranah kognitif (seperti kemampuan analisis, sintesis, dan aplikasi pengetahuan). Namun, dalam pelaksanaannya, proyek juga sangat potensial untuk sekaligus menilai aspek afektif, seperti tanggung jawab, kerja sama, ketekunan, dan manajemen waktu, yang dapat dinilai melalui observasi dan catatan proses.

Bagaimana cara sederhana memulai integrasi penilaian kognitif dan afektif di kelas?

Mulailah dengan aktivitas kecil. Contohnya, setelah diskusi kelompok (kognitif), mintalah siswa menulis refleksi singkat tentang kontribusi anggota kelompok dan perasaan mereka selama berkolaborasi (afektif). Atau, selain menilai hasil tes (kognitif), amati dan beri catatan tentang kedisiplinan dan usaha siswa selama persiapan.

Leave a Comment