Menghitung Panjang AB Segitiga ABC Diketahui BC 10 AC 40 Sudut C 120 Derajat

Menghitung Panjang AB pada Segitiga ABC dengan BC=10, AC=40, ∠C=120° bukan sekadar latihan angka, melainkan petualangan menarik dalam dunia geometri yang menguji logika dan ketelitian. Soal ini menghadirkan tantangan klasik tentang segitiga sembarang, di mana aturan trigonometri biasa tak lagi memadai, sehingga memerlukan pendekatan yang lebih kuat dan elegan untuk mengungkap misteri panjang sisi yang belum diketahui.

Dalam konteks matematika, kasus seperti ini sering dijumpai dalam berbagai aplikasi, mulai dari perhitungan jarak dalam survei tanah hingga analisis gaya dalam fisika teknik. Dengan dua sisi dan sudut apit yang telah diketahui, perhitungan bergeser dari metode Pythagoras ke wilayah aturan cosinus, sebuah rumus andalan yang mampu menjembatani hubungan antara panjang sisi dan besar sudut dalam segitiga apa pun, termasuk ketika sudutnya tumpul seperti 120 derajat.

Menghitung panjang sisi AB pada segitiga ABC dengan aturan cosinus melibatkan logika matematis yang presisi, mirip dengan ketelitian yang dibutuhkan dalam analisis kimia seperti saat Menghitung Derajat Ionisasi H3PO4 0,4 M dengan pH 5‑2 log5. Keduanya memerlukan pemahaman konsep dan penerapan rumus secara tepat. Kembali ke segitiga, setelah menerapkan cos 120° = -½, perhitungan panjang AB pun dapat diselesaikan dengan langkah yang sistematis dan jelas.

Pengantar dan Konsep Dasar Segitiga

Segitiga merupakan bangun datar paling sederhana yang terbentuk dari tiga sisi lurus dan tiga titik sudut. Berdasarkan panjang sisinya, segitiga terbagi menjadi segitiga sama sisi, sama kaki, dan sembarang. Sementara berdasarkan besar sudutnya, dikenal segitiga lancip, siku-siku, dan tumpul. Segitiga dalam soal ini, dengan data satu sudut 120 derajat, secara otomatis dikategorikan sebagai segitiga tumpul sembarang, karena memiliki semua sisi dengan panjang berbeda dan satu sudut lebih dari 90 derajat.

Dalam notasi standar, segitiga biasanya dilambangkan dengan huruf kapital pada titik sudutnya (A, B, C) dan sisi yang berhadapan dengan suatu sudut dilambangkan dengan huruf kecil yang sama atau dengan dua huruf titik ujungnya. Sisi di hadapan sudut A disebut sisi a atau BC, sisi di hadapan sudut B disebut sisi b atau AC, dan sisi di hadapan sudut C disebut sisi c atau AB.

Hubungan mendasar antara sisi dan sudut dalam segitiga sembarang, di luar kasus khusus siku-siku, dijelaskan oleh Aturan Cosinus. Aturan ini menjadi perluasan dari Teorema Pythagoras yang berlaku universal.

BACA JUGA  Tahapan Acara Nikah Sunda Prosesi Adat Penuh Makna

Aturan Cosinus sebagai Fondasi Perhitungan

Aturan Cosinus menghubungkan kuadrat panjang satu sisi dengan kuadrat panjang dua sisi lainnya dan cosinus sudut yang diapit oleh kedua sisi tersebut. Rumus ini sangat penting ketika informasi yang tersedia adalah dua sisi dan sudut apitnya (Sisi-Sudut-Sisi) atau ketika diketahui ketiga sisinya dan ingin mencari besar sebuah sudut (Sisi-Sisi-Sisi).

c² = a² + b²

2ab cos(C)

Rumus di atas secara spesifik digunakan untuk mencari panjang sisi c (AB) yang berhadapan dengan sudut C, apabila panjang sisi a (BC), sisi b (AC), dan besar sudut C diketahui. Cosinus dari sudut dapat bernilai positif, negatif, atau nol, yang secara langsung mempengaruhi hasil perhitungan panjang sisi.

Analisis Soal dan Penerapan Aturan Cosinus

Soal memberikan data: BC = 10, AC = 40, dan ∠C = 120°. Dalam notasi segitiga ABC, sisi BC adalah sisi yang berhadapan dengan sudut A (sisi a), sisi AC adalah sisi yang berhadapan dengan sudut B (sisi b), dan sudut C adalah sudut yang diapit oleh sisi CA dan CB. Sisi yang ingin dicari, AB, adalah sisi yang berhadapan langsung dengan sudut C, sehingga kita dapat menyebutnya sebagai sisi c.

Konfigurasi ini persis memenuhi syarat penggunaan Aturan Cosinus bentuk c² = a² + b²
-2ab cos(C).

Langkah-Langkah Substitusi ke dalam Rumus

Proses substitusi nilai yang diketahui ke dalam rumus harus dilakukan secara sistematis untuk meminimalisir kesalahan perhitungan. Perhatikan bahwa sudut 120° bukanlah sudut istimewa yang nilai cosinusnya berupa bilangan rasional sederhana, sehingga perlu kehati-hatian dalam penanganannya.

Langkah Deskripsi Rumus Substitusi Nilai
1 Identifikasi variabel sesuai rumus c² = a² + b²

2ab cos(C)

a = BC = 10, b = AC = 40, C = 120°
2 Substitusi nilai sisi a dan b c² = (10)² + (40)²

  • 2*(10)*(40)* cos(120°)
c² = 100 + 1600 – 800
  • cos(120°)
  • 3 Substitusi nilai cosinus 120° cos(120°) = -½ c² = 1700 – 800 – (-½)
    4 Lakukan operasi perkalian c² = 1700 – (-400) c² = 1700 + 400
    5 Lakukan operasi penjumlahan c² = 2100 c = √2100

    Penyelesaian Perhitungan dan Penyederhanaan: Menghitung Panjang AB Pada Segitiga ABC Dengan BC=10, AC=40, ∠C=120°

    Setelah nilai-nilai disubstitusi, langkah selanjutnya adalah melakukan operasi aritmatika secara berurutan. Titik kritis dalam soal ini terletak pada penanganan nilai cos 120°. Sudut 120° terletak di kuadran II, di mana nilai cosinusnya negatif. Secara tepat, cos 120° = -cos 60° = -½. Nilai negatif ini akan berdampak signifikan karena dikalikan dengan -2ab, menghasilkan operasi tanda negatif yang berinteraksi.

    Perhitungan panjang sisi AB pada segitiga ABC dengan aturan cosinus, di mana BC=10, AC=40, dan ∠C=120°, menghasilkan nilai yang presisi. Presisi koordinat geografis, seperti yang digunakan untuk menentukan Garis Lintang dan Bujur Kota Klaten , juga mengandalkan ketepatan matematis. Demikian halnya, solusi dari soal segitiga tumpul ini menegaskan bahwa prinsip trigonometri tetap berlaku universal, baik dalam peta maupun geometri.

    Proses Aljabar Menuju Hasil Akhir

    Dari substitusi, kita peroleh c² = 100 + 1600 – 800
    – (-½). Perkalian -800 dengan -½ menghasilkan +400. Persamaan kemudian menjadi c² = 1700 + 400 = 2100. Untuk mendapatkan panjang sisi c (AB), kita perlu menarik akar kuadrat dari 2100. Penyederhanaan bentuk akar dapat dilakukan dengan memfaktorkan bilangan di dalam akar.

    Menghitung panjang sisi AB pada segitiga ABC dengan data BC=10, AC=40, dan sudut C=120° memerlukan penerapan aturan cosinus secara tepat. Proses ini mengingatkan pada pentingnya keseimbangan dan proporsi yang tepat dalam sebuah sistem, sebagaimana prinsip Menjamin Hubungan Selaras, Serasi, dan Seimbang Antar Lembaga Negara dalam ketatanegaraan. Layaknya relasi antar-lembaga yang harmonis, perhitungan sisi AB yang akurat hanya tercapai ketika semua variabel dan hukum trigonometri diterapkan secara koheren dan saling mendukung.

    √2100 dapat diuraikan menjadi √(100
    – 21) = √100
    – √21 = 10√21. Nilai √21 merupakan bilangan irasional yang jika didekati secara numerik adalah sekitar 4.5826. Dengan demikian, panjang AB = 10√21 ≈ 45.826 satuan panjang. Hasil dalam bentuk akar 10√21 dianggap sebagai bentuk eksak yang paling disederhanakan untuk permasalahan ini.

    Interpretasi Hasil dan Verifikasi

    Panjang AB sebesar 10√21 satuan memberikan gambaran lengkap tentang proporsi segitiga ABC. Hasil ini konsisten dengan data awal dimana sisi AC (40) lebih pendek dari AB (~45.83), dan sisi BC (10) jauh lebih pendek. Dalam segitiga tumpul, sisi terpanjang selalu berhadapan dengan sudut tumpul. Hasil perhitungan mengonfirmasi bahwa AB adalah sisi terpanjang, yang sesuai karena berhadapan dengan sudut C sebesar 120°.

    Ilustrasi Deskriptif Segitiga ABC

    Menghitung Panjang AB pada Segitiga ABC dengan BC=10, AC=40, ∠C=120°

    Source: colearn.id

    Bayangkan sebuah segitiga dengan titik sudut C di sebelah kiri. Dari titik C, tarik sebuah ruas garis ke bawah sepanjang 10 satuan ke titik B. Dari titik C yang sama, tarik ruas garis lain dengan panjang 40 satuan membentuk sudut 120 derajat terhadap garis CB, mengarah ke kanan-atas, menuju titik A. Titik A dan B kemudian dihubungkan oleh sisi AB yang melintang dengan panjang sekitar 45.83 satuan, menyempurnakan bentuk segitiga tumpul dimana sudut tumpulnya berada di titik C.

    Untuk memastikan hasil perhitungan masuk akal, beberapa pemeriksaan logis dapat dilakukan:

    • Panjang sisi AB harus lebih besar dari selisih mutlak panjang dua sisi lainnya: AB > |AC – BC| = |40 – 10| = 30. Hasil 45.83 > 30 (BENAR).
    • Panjang sisi AB harus kurang dari jumlah panjang dua sisi lainnya: AB < AC + BC = 40 + 10 = 50. Hasil 45.83 < 50 (BENAR).
    • Sisi terpanjang (AB) berhadapan dengan sudut terbesar (120°), dan sisi terpendek (BC) berhadapan dengan sudut terkecil. Ini sesuai dengan sifat geometri segitiga.

    Aplikasi dan Variasi Soal Serupa

    Aturan Cosinus tidak terbatas pada konfigurasi sisi-sudut-sisi seperti soal utama. Aturan ini juga dapat diterapkan dalam berbagai skenario lain. Memahami variasi ini memperkaya kemampuan dalam menyelesaikan masalah geometri yang lebih kompleks.

    Contoh Variasi Penerapan Aturan Cosinus

    Berikut dua contoh variasi soal dengan pendekatan yang sedikit berbeda:

    1. Mencari Sudut (SSS): Diketahui segitiga PQR dengan PQ=7, QR=8, PR=13. Tentukan besar sudut R. Di sini, sisi di hadapan sudut R adalah PQ. Maka, cos(R) = (PR² + QR²
      • PQ²) / (2
      • PR
      • QR).
    2. Sisi dengan Sudut Apit Berbeda (SAS): Diketahui segitiga KLM dengan KL=15, LM=20, dan ∠L=60°. Cari panjang KM. Konfigurasi ini mirip soal utama, hanya sudut apitnya 60° yang bernilai cosinus positif (½).
    Aspek Soal Utama (AB) Variasi 1 (Sudut R) Variasi 2 (KM)
    Konfigurasi Sisi-Sudut-Sisi (SAS) Sisi-Sisi-Sisi (SSS) Sisi-Sudut-Sisi (SAS)
    Yang Dicari Panjang Sisi (c) Besar Sudut (C) Panjang Sisi (c)
    Rumus Inti c² = a² + b²

    • 2ab cos(C)
    cos(C) = (a² + b²
  • c²)/(2ab)
  • c² = a² + b²
  • 2ab cos(C)
  • Kunci Penyelesaian Cos(120°) bernilai negatif (-½) Substitusi ketiga sisi yang diketahui ke dalam rumus cosinus Cos(60°) bernilai positif (½)

    Tips Penting dalam Menerapkan Aturan Cosinus, Menghitung Panjang AB pada Segitiga ABC dengan BC=10, AC=40, ∠C=120°

    Agar penerapan Aturan Cosinus efektif dan akurat, perhatikan hal-hal berikut. Pastikan untuk mengidentifikasi dengan benar sisi mana yang berhadapan dengan sudut yang diketahui atau yang dicari. Selalu perhatikan satuan sudut (derajat atau radian) pada kalkulator Anda. Ingat sifat kuadran dari fungsi cosinus: positif untuk sudut lancip dan negatif untuk sudut tumpul, yang secara langsung mempengaruhi penjumlahan atau pengurangan dalam rumus.

    Lakukan pengecekan realibilitas hasil dengan memastikannya memenuhi pertidaksamaan segitiga. Terakhir, usahakan untuk menyederhanakan bentuk akar atau menyimpan hasil dalam bentuk eksak selama mungkin sebelum melakukan pendekatan desimal.

    Kesimpulan

    Dengan demikian, perjalanan menghitung panjang AB telah membawa kita pada pemahaman bahwa matematika, khususnya geometri, menyediakan alat yang presisi untuk mengkuantifikasi bentuk dan ruang. Hasil perhitungan yang didapat bukanlah angka mati, melainkan representasi numerik dari hubungan spasial yang konsisten. Penguasaan terhadap aturan cosinus, seperti yang telah didemonstrasikan, membuka pintu untuk menyelesaikan berbagai masalah geometri yang lebih kompleks dan nyata, menegaskan kembali keindahan dan kegunaan matematika dalam menjelaskan struktur dunia di sekitar kita.

    Bagian Pertanyaan Umum (FAQ)

    Mengapa tidak bisa menggunakan rumus Pythagoras biasa untuk soal ini?

    Rumus Pythagoras hanya berlaku khusus untuk segitiga siku-siku. Dalam soal ini, sudut C adalah 120 derajat (sudut tumpul), sehingga segitiga ABC bukan segitiga siku-siku dan mengharuskan penggunaan aturan cosinus yang lebih umum.

    Apakah hasil panjang AB bisa bernilai negatif?

    Tidak. Panjang sisi suatu segitiga selalu bernilai positif. Meskipun dalam perhitungan aturan cosinus kita berurusan dengan kuadrat, hasil akhir setelah menarik akar kuadrat haruslah bilangan positif, yang merepresentasikan jarak absolut.

    Bagaimana jika sudut C yang diketahui adalah 90 derajat?

    Jika sudut C adalah 90 derajat, maka cos 90° = 0. Rumus aturan cosinus akan berubah menjadi c² = a² + b², yang persis seperti teorema Pythagoras, membuktikan bahwa Pythagoras adalah kasus khusus dari aturan cosinus.

    Apakah mungkin menghitung sudut lain setelah panjang AB diketahui?

    Sangat mungkin. Setelah panjang ketiga sisi diketahui (AB, BC, AC), kita dapat menggunakan aturan cosinus kembali, atau menggunakan aturan sinus yang lebih sederhana, untuk menghitung besar sudut A dan sudut B yang belum diketahui.

    Leave a Comment