Jenis‑jenis Prosa Bentuk dan Fungsinya dalam Sastra

Jenis‑jenis prosa adalah kekayaan yang membentuk dunia tulis‑menulis, jauh lebih dari sekadar teks yang berjejer rapi di halaman. Jika puisi adalah konsentrat rasa yang padat, maka prosa adalah aliran cerita dan gagasan yang mengajak kita berjalan‑jalan, menjelajahi setiap sudut imajinasi dan realita. Dari narasi yang menghanyutkan hingga argumentasi yang memikat, setiap bentuk prosa punya suara dan misinya sendiri, menunggu untuk ditemukan dan dinikmati.

Secara mendasar, prosa dalam sastra Indonesia adalah bentuk tulisan yang mengalir bebas, tanpa terikat oleh rima, ritme, atau penyusunan baris tertentu seperti puisi. Perannya sebagai medium penyampaian cerita, informasi, dan gagasan membuatnya sangat fleksibel, terbagi dalam dua ranah besar: fiksi yang mencipta dunia dan non‑fiksi yang membedah kenyataan. Perbedaan utama keduanya terletak pada tujuannya; yang satu bertutur untuk menghibur dan menyentuh, sementara yang lain menyajikan fakta dan pemikiran untuk menginformasikan atau membujuk.

Pengantar dan Definisi Prosa

Dalam percakapan sehari-hari, kita mungkin lebih sering menyebutnya “karangan” atau “tulisan biasa”. Itulah kira-kira gambaran sederhana dari prosa. Secara akademis, prosa adalah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk narasi bebas, tidak terikat oleh aturan rima, ritme, atau penyusunan baris dan bait seperti pada puisi. Bahasa yang digunakannya mengalir natural, mendekati cara kita berbicara atau bercerita, meski tentu saja dengan pilihan kata dan struktur yang lebih teratur.

Peran prosa sangat sentral sebagai medium penyampaian. Ia adalah kendaraan utama untuk bercerita, menyampaikan informasi yang mendetail, mengungkapkan gagasan yang kompleks, hingga membujuk pembaca. Dari cerita pengantar tidur hingga laporan penelitian, semuanya bisa dibungkus dalam bentuk prosa. Pada dasarnya, prosa terbagi menjadi dua kubu besar: fiksi dan non-fiksi. Prosa fiksi lahir dari imajinasi penulis, dengan tujuan utama menghibur dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan melalui dunia rekaan.

Sementara prosa non-fiksi berakar pada fakta dan realitas, ditulis untuk menginformasikan, menjelaskan, meyakinkan, atau merekam suatu peristiwa yang benar-benar terjadi.

Prosa Fiksi dan Non-Fiksi

Pembagian fiksi dan non-fiksi ini bukan sekadar soal benar-tidaknya cerita, tetapi lebih pada kontrak antara penulis dan pembaca. Dalam fiksi, pembaca diajak untuk “mensuspend disbelief”, menerima dunia yang dibangun penulis untuk kemudian mengambil makna di baliknya. Novel, cerpen, dan dongeng adalah contohnya. Di sisi lain, non-fiksi menuntut akurasi dan pertanggungjawaban atas data. Pembaca datang untuk mendapatkan pemahaman baru tentang dunia nyata, melalui esai, biografi, atau artikel jurnalistik.

Meski berbeda tujuan, keduanya sama-sama memanfaatkan kekuatan narasi untuk menyentuh pikiran dan perasaan.

Klasifikasi Prosa Berdasarkan Bentuk dan Ciri

Selain dikategorikan berdasarkan fakta dan fiksi, prosa juga bisa kita pilah berdasarkan bentuk dan tujuan komunikasinya. Klasifikasi ini membantu kita memahami mengapa sebuah tulisan terasa berbeda, entah itu karena ingin menggambarkan sebuah pemandangan, menceritakan kejadian, menjelaskan konsep, atau membela suatu pendapat. Masing-masing bentuk punya ciri bahasa dan struktur yang khas.

Bentuk Prosa Definisi Tujuan Utama Contoh Karakter
Naratif Prosa yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian secara berurutan. Menghibur, menyampaikan pengalaman, atau mengisahkan suatu peristiwa. Alur kronologis, tokoh, konflik, klimaks.
Deskriptif Prosa yang melukiskan atau menggambarkan suatu objek, tempat, atau suasana dengan detail. Membuat pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan objek yang digambarkan. Dominasi kata sifat, pencitraan indrawi (penglihatan, pendengaran, dll).
Eksposisi Prosa yang memaparkan informasi, pengetahuan, atau penjelasan tentang suatu topik. Memberikan penjelasan, menginformasikan, atau membuat suatu hal menjadi jelas. Definisi, klasifikasi, ilustrasi, perbandingan.
Argumentatif Prosa yang menyajikan pendapat disertai bukti dan alasan untuk memengaruhi atau meyakinkan pembaca. Meyakinkan pembaca agar menerima suatu pandangan atau melakukan suatu tindakan. Tesis, argumen pendukung, data fakta, sanggahan terhadap pendapat lain.
BACA JUGA  Molekul Tertanam dalam Lipid Bilayer Penjelasan Struktur dan Fungsi

Ciri bahasa dalam prosa naratif cenderung dinamis, didominasi kata kerja yang menunjukkan aksi dan perubahan. Struktur deskriptif, sebaliknya, statis dan sensual, berusaha “memotret” suatu momen. Bahasa eksposisi bersifat jelas, objektif, dan sistematis, sering menggunakan istilah teknis. Sementara prosa argumentatif bernada persuasif, menggunakan kata-kata yang bernilai seperti “harus”, “sebaiknya”, serta data statistik atau kutipan ahli untuk memperkuat posisi.

Contoh Kalimat Berbagai Bentuk Prosa

Naratif: “Dengan langkah gontai, ia meninggalkan rumah itu untuk terakhir kalinya, tanpa menoleh sedikit pun.”

Deskriptif: “Pagi di kampung itu selalu disambut oleh kabut tipis yang menyelimuti atap-atap seng, berbaur dengan asap kayu bakar yang beraroma harum.”

Eksposisi: “Komposting adalah proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tertentu menjadi humus yang dapat menyuburkan tanah.”

Argumentatif: “Mengingat tingginya tingkat polusi udara di kota metropolitan, penerapan pajak progresif bagi kendaraan pribadi bermotor bukan lagi sebuah wacana, melainkan kebutuhan yang mendesak.”

Jenis-Jenis Prosa Fiksi

Dunia prosa fiksi itu luas dan berlapis-lapis, mulai dari cerita turun-temurun yang diwariskan secara lisan hingga novel-novel tebal yang mengangkat kompleksitas psikologis manusia modern. Jenis-jenis ini berkembang seiring waktu, menyesuaikan dengan selera dan kebutuhan zamannya, namun esensi sebagai karya imajinatif tetap menjadi nyawanya.

Secara umum, prosa fiksi dapat dibedakan menjadi tradisional dan modern. Yang tradisional, seperti dongeng, mite, dan legenda, seringkali anonim, bersifat moralistis, dan penuh dengan simbol-simbol universal. Sementara prosa fiksi modern lebih menekankan individualitas pengarang, realisme, dan eksplorasi psikologi tokoh. Roman dan novel adalah contoh utama dari fiksi modern, meski keduanya punya perbedaan signifikan dalam cakupan dan kompleksitas cerita.

Ciri Utama Roman, Novel, Cerpen, dan Dongeng

  • Roman: Cakupan cerita yang sangat luas, sering meliputi kisah hidup seorang tokoh secara lengkap dari kecil hingga tua, atau menceritakan sejarah sebuah keluarga besar. Alurnya kompleks dengan banyak tokoh dan konflik sampingan. Contoh: “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli.
  • Novel: Memiliki cerita yang lebih terfokus dibanding roman. Meski bisa tebal, konflik utamanya lebih tunggal dan pengembangan tokoh lebih mendalam. Novel modern sering mengangkat isu-isu kontemporer. Contoh: “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata.
  • Cerpen (Cerita Pendek): Fokus pada satu peristiwa, satu konflik, dengan jumlah tokoh yang terbatas. Efek yang ingin dicapai tunggal dan kuat. Segala deskripsi dan dialog harus mendukung efek tersebut. Contoh: karya-karya Kuntowijoyo atau A.A. Navis.

  • Dongeng: Cerita rekaan sederhana yang sering diwariskan secara lisan. Bertujuan menghibur dan memberi pesan moral. Tokohnya sering stereotip (si baik, si jahat) dan menggunakan unsur-unsur ajaib. Contoh: “Malin Kundang”, “Timun Mas”.

Novelet dan Novela

Jenis‑jenis prosa

Source: akamaized.net

Di antara cerpen dan novel, ada bentuk yang sering disebut novelet atau novela. Keduanya merujuk pada prosa fiksi yang panjangnya di antara cerpen dan novel. Perbedaan mendasarnya lebih pada konvensi istilah. “Novelet” sering digunakan untuk menyebut karya fiksi yang lebih pendek dan ringan, mungkin dengan konflik yang tidak terlalu kompleks. Sementara “Novela” (dari bahasa Italia ‘novella’) cenderung mengacu pada karya yang lebih serius, padat, dan memiliki kedalaman tema meski dalam bentuk yang singkat.

BACA JUGA  Definisi Brexit Proses dan Dampak Keluarnya Inggris dari Uni Eropa

Novela “Animal Farm” karya George Orwell adalah contoh sempurna: ceritanya tidak sepanjang novel biasa, tetapi muatan alegori dan kritik sosialnya sangat dalam dan kompleks.

Jenis-Jenis Prosa Non-Fiksi

Jika fiksi adalah pelarian, non-fiksi adalah penjelajahan. Bentuk prosa ini mengajak kita memahami realitas dengan lebih jernih, belajar dari pengalaman orang lain, atau mendalami suatu bidang ilmu. Keberagaman prosa non-fiksi mencerminkan luasnya kebutuhan manusia akan pengetahuan dan refleksi.

Mulai dari catatan perjalanan pribadi yang intim hingga laporan jurnalistik yang ketat, semuanya punya tempat. Esai, misalnya, bisa sangat personal dan reflektif, sementara biografi menuntut riset yang rigor untuk merekonstruksi hidup seseorang. Artikel di media bisa bersifat informatif murni atau mengandung opini yang tajam. Kunci dari prosa non-fiksi yang baik adalah kejujuran pada fakta dan kejelasan dalam penyampaian.

Jenis Esai Struktur Nada Penulisan Contoh Tema
Formal Strukturnya ketat: pendahuluan, tubuh argumen, kesimpulan. Menggunakan referensi akademis. Objektif, impersonal, serius, dan akademis. Analisis dampak kebijakan moneter terhadap UMKM, Tinjauan kritis atas teori sastra struktural.
Informal Struktur lebih luwes, mirip percakapan. Tidak selalu membutuhkan referensi formal. Santai, personal, reflektif, dan sering menggunakan sudut pandang orang pertama. Pengalaman belajar bahasa daerah di tengah keluarga multikultural, Renungan tentang budaya antre.
Kritik Biasanya diawali dengan ringkasan objek yang dikritik, diikuti analisis kelebihan/kekurangan, dan diakhiri penilaian. Analitis, evaluatif, berusaha adil, dan berbasis pada kriteria tertentu. Kritik film “Penyalin Cahaya” dari sudut pandang sinematografi, Tinjauan atas pameran seni rupa kontemporer tertentu.
Personal Sangat luwes, sering mengalir seperti diary atau memoar. Fokus pada pengalaman dan perasaan pribadi. Intim, subjektif, emosional, dan jujur. Catatan tentang hari-hari pertama menjadi orang tua, Ingatan tentang aroma dapur nenek.

Prosa Lama dan Prosa Baru: Jenis‑jenis Prosa

Perkembangan prosa di Nusantara adalah sebuah perjalanan panjang dari tradisi lisan dan naskah-naskah istana menuju percetakan dan ekspresi individual. Prosa lama, yang hidup pada masa sebelum pengaruh Barat dan kesadaran modern kuat, memiliki semangat dan bentuk yang sangat berbeda dengan prosa baru yang kita kenal sekarang.

Karya prosa lama seperti hikayat, sejarah (babad), dan kisah-kisah cerita panji, umumnya tidak diketahui pengarangnya secara individual (anonim). Fungsinya seringkali untuk meneguhkan kekuasaan raja, menyebarkan agama, atau sekadar hiburan di kalangan istana. Ceritanya bersifat istanasentris dan penuh dengan keajaiban. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu klasik atau bahasa daerah tertentu, dengan struktur yang diulang-ulang dan statis.

Karakteristik Prosa Lama, Jenis‑jenis prosa

Ciri yang paling mencolok dari prosa lama adalah penggambarannya yang hitam-putih. Tokoh protagonis digambarkan sempurna, sementara antagonis sangat jahat. Alurnya sering linier dan bisa sangat panjang karena menceritakan banyak petualangan. Unsur didaktis atau pengajaran moral sangat kental, begitu pula dengan campuran antara dunia nyata dan dunia gaib. Contoh yang terkenal adalah “Hikayat Hang Tuah”, yang menceritakan kesetiaan dan kepahlawanan yang absolut, atau “Babad Tanah Jawi” yang merekam sejarah raja-raja Jawa dengan campuran fakta dan mitos.

Perbandingan dengan Prosa Baru

Prosa baru, yang mulai berkembang sejak akhir abad ke-19 dan terutama setelah Sumpah Pemuda 1928, membawa revolusi dalam cara bercerita. Pengarang muncul dengan identitas dan gaya individualnya, seperti Chairil Anwar atau Pramoedya Ananta Toer. Tema yang diangkat lebih beragam, menyentuh masalah rakyat kecil, kritik sosial, dan pergulatan batin manusia yang kompleks. Nilai yang disampaikan pun tidak lagi absolut; ada nuansa, keraguan, dan ironi.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang terus berkembang, dengan struktur kalimat yang lebih variatif dan dinamis. Pendekatannya realis atau psikologis, meninggalkan dunia dewa-dewa dan kesaktian untuk fokus pada manusia dan masalah kemanusiaannya.

BACA JUGA  Mencari Garis Bersinggungan Parabola y = x²‑4x+2 Panduan Lengkap

Teknik dan Unsur Pembangun dalam Prosa

Mengapa sebuah cerita bisa menyentuh atau sebuah deskripsi terasa hidup? Rahasianya ada pada unsur-unsur pembangun yang dirajut dengan teknik tertentu. Memahami unsur intrinsik ini seperti memiliki peta untuk mengapresiasi lebih dalam atau bahkan menciptakan karya prosa sendiri. Unsur-unsur ini saling terkait, membentuk sebuah jaringan makna yang koheren.

Unsur utama tersebut antara lain tema (ide pokok cerita), penokohan (cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan tokoh), alur (urutan peristiwa), latar (tempat, waktu, dan suasana), sudut pandang (dari mata siapa cerita dikisahkan), dan gaya bahasa (pilihan diksi dan majas). Kekuatan sebuah prosa sering terletak pada bagaimana unsur-unsur ini diolah secara harmonis.

Membangun Latar melalui Deskripsi

Latar bukan sekadar backdrop yang pasif. Ia adalah elemen aktif yang membentuk suasana, memengaruhi tokoh, dan bahkan bisa menjadi simbol. Membangun latar yang efektif membutuhkan deskripsi yang mengaktifkan indra pembaca. Bayangkan mendeskripsikan sebuah stasiun kereta tua: bukan hanya menyebut “stasiun tua”, tetapi melukiskan bau besi berkarat yang tercampur asap mesin, bunyi gemeretak kayu lantai yang reyot, cahaya temaram dari lampu neon yang berkedip-kedip, serta kesunyian yang terasa berat di tengah hari.

Deskripsi sensorik seperti itu tidak hanya memberitahu lokasi, tetapi juga menciptakan suasana muram, terabaikan, atau mungkin nostalgia. Latar yang dibangun dengan baik membuat pembaca merasa hadir di tempat itu.

Prosedur Analisis Sudut Pandang

Sudut pandang (point of view) menentukan jarak dan kedekatan emosional pembaca dengan cerita. Menganalisisnya dalam sebuah kutipan prosa bisa dilakukan dengan langkah sistematis berikut:

  • Identifikasi kata ganti narator. Apakah menggunakan “aku” (first person), “dia” (third person), atau “kamu” (second person)?
  • Tentukan pengetahuan narator. Apakah narator tahu segalanya tentang semua tokoh dan peristiwa (mahatahu/omniscient), atau pengetahuannya terbatas pada apa yang diketahui satu tokoh (third person limited)? Jika menggunakan “aku”, apakah si “aku” ini terlibat dalam cerita atau hanya pengamat?
  • Analisis dampaknya. Bagaimana pilihan sudut pandang ini memengaruhi pemahaman dan empati pembaca terhadap tokoh atau peristiwa? Apakah kita mendapatkan informasi yang terpercaya atau justru bias?
  • Cari kata-kata yang menunjukkan opini, perasaan, atau keterbatasan pengetahuan narator. Ini akan memperkuat analisis tentang posisi narator.

Penutupan Akhir

Dari hikayat yang berbisik tentang zaman lampau hingga esai tajam yang menganalisis kekinian, perjalanan menjelajahi jenis‑jenis prosa pada akhirnya adalah perjalanan memahami cara manusia mencerap dan menceritakan dunianya. Setiap bentuk, baik yang naratif, deskriptif, eksposisi, maupun argumentatif, adalah alat yang berbeda untuk mengukir makna. Memahami keragamannya bukan hanya menambah wawasan sastra, tetapi juga melatih kepekaan kita dalam menulis dan membaca—dua kegiatan yang membuat setiap ide bisa hidup lebih lama dan menjangkau lebih jauh.

Jadi, prosa mana yang akan kamu gunakan untuk menyampaikan ceritamu?

Tanya Jawab (Q&A)

Apa perbedaan utama antara prosa dan artikel?

Prosa adalah bentuk tulisan yang luas, mencakup segala jenis karangan bebas. Artikel adalah salah satu jenis prosa non-fiksi yang spesifik, biasanya lebih pendek, faktual, dan diterbitkan di media seperti koran, majalah, atau situs web dengan tujuan informatif atau persuasif.

Apakah naskah pidato termasuk dalam kategori prosa?

Ya, naskah pidato termasuk prosa non-fiksi, tepatnya dalam bentuk eksposisi atau argumentatif. Ia disusun untuk disampaikan secara lisan, dengan struktur dan gaya bahasa yang persuasif dan retoris untuk memengaruhi pendengar.

Bagaimana cara membedakan novelet dengan novela?

Perbedaan utama terletak pada panjang dan kompleksitas. Novelet lebih pendek dari novel tetapi lebih panjang dari cerpen, biasanya sekitar 20.000-40.000 kata dengan alur dan tokoh yang lebih sederhana. Novela (novella) berada di antara cerpen dan novel, sekitar 40.000-70.000 kata, dengan alur yang lebih kompleks dan pengembangan karakter yang lebih dalam daripada novelet.

Apakah semua prosa non-fiksi harus benar-benar faktual tanpa imajinasi?

Tidak selalu mutlak. Prosa non-fiksi berakar pada fakta dan realita, tetapi dalam bentuk seperti creative nonfiction atau esai personal, penulis boleh menggunakan teknik sastra (seperti deskripsi imajinatif atau alur dramatis) untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang lebih menarik, tanpa mengubah fakta intinya.

Leave a Comment