Sederhanakan bentuk akar berikut: a. 3 akar(15) (2 akar(6) – 4 akar(5)) b. (9 akar(5) – akar(13)) (13 akar(18) – 7 akar(3)) – Sederhanakan bentuk akar berikut: a. 3 akar(15) (2 akar(6)
-4 akar(5)) b. (9 akar(5)
-akar(13)) (13 akar(18)
-7 akar(3)). Dengar-dengar, soal kayak gini suka bikin dag-dig-dug ya? Tenang aja, sebenarnya ini cuma soal main-main dengan sifat distributif dan sedikit trik menyederhanakan akar.
Bayangkan bentuk akar itu seperti bahan masakan; kalau kita tahu resep dan cara mengolahnya, hidangan matematika yang terlihat kompleks ini bisa jadi santapan yang lezat dan mudah dicerna.
Pada dasarnya, menyederhanakan bentuk akar adalah upaya untuk membuat ekspresi matematika menjadi lebih ringkas dan elegan tanpa mengubah nilainya sedikitpun. Kita akan mengaplikasikan prinsip aljabar dasar, seperti perkalian suku dan pengelompokan, sambil memastikan setiap akar disajikan dalam bentuk yang paling sederhana. Prosesnya mirip merapikan kamar yang berantakan—semua barang yang sejenis dikelompokkan, yang bisa disederhanakan ditata ulang, hingga akhirnya tampak rapi dan tertib.
Pengantar dan Konsep Dasar Bentuk Akar
Sebelum kita terjun ke dalam penyelesaian soal yang terlihat rumit, mari kita sepakati dulu apa yang dimaksud dengan bentuk akar. Dalam matematika, bentuk akar adalah ekspresi yang memuat tanda akar (√), yang menunjukkan akar kuadrat atau pangkat lainnya dari suatu bilangan. Bentuk sederhana dari sebuah akar dicapai ketika radikan (bilangan di dalam akar) tidak memiliki faktor kuadrat sempurna selain 1, tidak ada akar di penyebut, dan tidak ada bentuk akar di dalam penyebut pecahan.
Operasi aljabar seperti penjumlahan, pengurangan, dan perkalian tetap berlaku untuk bentuk akar, dengan aturan-aturan khusus. Sifat distributif, misalnya, adalah senjata utama kita. Ingatlah bahwa kita hanya bisa menjumlahkan atau mengurangkan bentuk akar yang memiliki radikan yang sama, mirip seperti menggabungkan variabel yang sejenis. Untuk perkalian, aturan dasarnya sangat elegan: √a × √b = √(a×b).
Contoh sederhana: Menyederhanakan 2√12. Kita urai 12 menjadi 4×3, di mana 4 adalah kuadrat sempurna. Maka, 2√12 = 2√(4×3) = 2 × √4 × √3 = 2 × 2 × √3 = 4√3.
Sifat Operasi Aljabar pada Bentuk Akar
Source: z-dn.net
Memahami sifat-sifat ini adalah fondasi untuk menyelesaikan soal-soal yang lebih kompleks. Sifat distributif memungkinkan kita membuka kurung, sementara sifat perkalian akar memungkinkan kita menggabungkan atau memisahkan radikan. Kemampuan untuk mengidentifikasi bilangan kuadrat sempurna (seperti 4, 9, 16, 25) di dalam radikan adalah keterampilan kunci yang akan terus kita gunakan.
- Penjumlahan/Pengurangan: k√a + l√a = (k+l)√a. Hanya berlaku jika radikan (a) sama.
- Perkalian: √a × √b = √(a×b). Konstanta di luar akar mengalikan dengan konstanta, akar mengalikan dengan akar.
- Sifat Distributif: a(b + c) = ab + ac. Ini juga bekerja ketika a, b, atau c berbentuk akar.
Analisis dan Penyederhanaan Soal Bagian A
Mari kita praktikkan konsep dasar tadi pada soal pertama: 3√15 (2√6 – 4√5). Soal ini adalah perkalian antara sebuah monomial (3√15) dengan sebuah binomial (2√6 – 4√5). Pendekatan paling langsung dan efektif adalah dengan menerapkan sifat distributif.
Langkah Penyelesaian Soal A
Kita akan mengalikan 3√15 secara berurutan ke setiap suku di dalam kurung. Perhatikan dengan seksama bagaimana konstanta dikalikan dengan konstanta, dan bentuk akar dikalikan dengan bentuk akar menggunakan aturan √a × √b = √(a×b).
| Langkah Kerja | Penjelasan | Operasi | Hasil Sementara |
|---|---|---|---|
| Distribusikan | Kalikan 3√15 dengan 2√6 dan dengan -4√5 secara terpisah. | 3√15 × 2√6 dan 3√15 × (-4√5) | 6√90 dan -12√75 |
| Kalikan Konstanta | Kalikan angka di luar akar: 3×2=6, 3×(-4)=-12. | 3 × 2 = 6; 3 × (-4) = -12 | Koefisien sudah diperoleh. |
| Kalikan Bentuk Akar | Kalikan radikan: √15 × √6 = √90; √15 × √5 = √75. | √(15×6)=√90; √(15×5)=√75 | 6√90 – 12√75 |
| Sederhanakan Radikan | Uraikan 90 dan 75 menjadi faktor yang mengandung kuadrat sempurna. | √90 = √(9×10) = 3√10; √75 = √(25×3) = 5√3 | 6×3√10 – 12×5√3 = 18√10 – 60√3 |
Setelah penyederhanaan, kita mendapatkan hasil akhir 18√10 – 60√3. Periksa kembali, kedua suku ini memiliki radikan yang berbeda (10 dan 3), sehingga tidak dapat digabungkan lebih lanjut. Inilah bentuk paling sederhananya.
Analisis dan Penyederhanaan Soal Bagian B
Sekarang kita naik level kesulitannya dengan soal: (9√5 – √13) (13√18 – 7√3). Ini adalah perkalian antara dua binomial yang masing-masing mengandung bentuk akar. Strateginya adalah melakukan perkalian bersusun (seperti (a-b)(c-d)) dan menyederhanakan bentuk akar yang bisa disederhanakan, seperti √18, sebelum atau sesudah perkalian. Menyederhanakan lebih awal seringkali lebih rapi.
Langkah Penyelesaian Soal B
Pertama, kita sederhanakan √18 menjadi 3√2 karena 18 = 9 × 2. Jadi, soal menjadi (9√5 – √13) (13×3√2 – 7√3) = (9√5 – √13) (39√2 – 7√3). Selanjutnya, kita lakukan perkalian setiap suku.
- Langkah 1: Kalikan suku pertama binomial pertama dengan seluruh suku binomial kedua.
9√5 × 39√2 = 351√10 (karena √5 × √2 = √10).
9√5 × (-7√3) = -63√15.
- Langkah 2: Kalikan suku kedua binomial pertama dengan seluruh suku binomial kedua.
-√13 × 39√2 = -39√26.
-√13 × (-7√3) = +7√39.
- Langkah 3: Gabungkan semua hasil perkalian.
Ekspresi sementara: 351√10 – 63√15 – 39√26 + 7√39.
Keempat suku hasil tersebut memiliki radikan yang berbeda-beda (10, 15, 26, 39). Tidak ada faktor persekutuan antar radikan yang dapat disederhanakan lebih lanjut, dan semua radikan sudah tidak memiliki faktor kuadrat sempurna. Jadi, bentuk sederhana akhirnya adalah 351√10 – 63√15 – 39√26 + 7√39.
Teknik dan Strategi Penyederhanaan Umum
Berdasarkan dua contoh tadi, kita bisa menarik beberapa strategi universal. Efisiensi dalam menyederhanakan bentuk akar seringkali terletak pada urutan operasi dan kewaspadaan terhadap detail. Terburu-buru dalam mengalikan tanpa menyederhanakan radikan terlebih dahulu bisa menghasilkan bilangan yang sangat besar dan mempersulit langkah akhir.
Pola dan Kewaspadaan dalam Perhitungan, Sederhanakan bentuk akar berikut: a. 3 akar(15) (2 akar(6) – 4 akar(5)) b. (9 akar(5) – akar(13)) (13 akar(18) – 7 akar(3))
Sebuah pendekatan sistematis akan mengurangi kemungkinan kesalahan. Selalu prioritaskan untuk menyederhanakan setiap bentuk akar individual sebelum melakukan operasi penjumlahan atau perkalian. Periksa apakah radikan dapat difaktorkan dengan bilangan kuadrat sempurna. Dalam perkalian binomial, gunakan metode FOIL (First, Outer, Inner, Last) atau tabel secara konsisten untuk memastikan tidak ada suku yang terlewat.
- Kesalahan Umum 1: Menjumlahkan √a + √b menjadi √(a+b). Ini salah besar! Operasi penjumlahan tidak berlaku di dalam akar.
- Kesalahan Umum 2: Melupakan untuk mengalikan konstanta. Saat √a sudah disederhanakan, pastikan konstanta di luarnya ikut dikalikan.
- Kesalahan Umum 3: Tidak menyederhanakan radikan hingga paling sederhana sebelum menyatakan jawaban akhir.
- Strategi Cepat: Jika menemukan bentuk seperti (√a ± √b)(√a ∓ √b), ingatlah ini mengarah ke pola selisih kuadrat: (√a)^2 – (√b)^2 = a – b.
Penerapan dan Latihan Soal Serupa
Untuk menguasai teknik ini, tidak ada cara selain berlatih. Berikut tiga soal latihan dengan struktur mirip, dirancang untuk menguatkan pemahamanmu. Cobalah selesaikan sendiri, lalu cocokkan dengan panduan dan kunci jawaban yang disediakan.
Clue untuk semua soal: Terapkan sifat distributif dengan sabar, sederhanakan bentuk akar yang bisa disederhanakan di setiap langkah, dan kumpulkan suku-suku sejenis di akhir.
| Soal Latihan | Langkah Inti | Hasil Akhir | Catatan Khusus |
|---|---|---|---|
| 1. 2√3 (5√6 + √12) | Distribusikan, sederhanakan √12 menjadi 2√3 terlebih dahulu, lalu kalikan dan gabungkan suku sejenis. | 10√18 + 4×3 = 30√2 + 12 | Perhatikan √3 × √12 = √36 = 6, sebuah bilangan bulat. |
|
2. (√8 + √2)(√50 – √18) |
Sederhanakan semua akar sebelum dikali
Nah, buat yang lagi belajar menyederhanakan bentuk akar kayak soal a dan b tadi, ada trik penting nih. Konsep manipulasi aljabar itu nyambung banget sama logika di balik persamaan kuadrat, kayak di kasus Persamaan kuadrat x^2 + px + q = 0 mempunyai akar-akar x1 dan x2 dengan x1 – x2 = -1. Jika x1 + 1 dan x2 juga akar-akar persamaan kuadrat x^2 + (p – 1. Pahamin relasi antar akar, nanti jago deh ngolah ekspresi radikal yang keliatan ribet kayak soal pertama tadi. Jadi, yuk kita fokus lagi ke penyederhanaan bentuk akarnya biar hasilnya rapi dan akurat! √8=2√2, √50=5√2, √18=3√2. Soal menjadi (2√2+√2)(5√2-3√2) = (3√2)(2√2). |
3√2 × 2√2 = 6 × 2 = 12 | Contoh bagus di mana penyederhanaan awal menghasilkan operasi yang sangat mudah. |
|
3. (4√7 – 3)(2√7 + 5) |
Gunakan perkalian binomial
Bentar, kita bahas soal sederhanakan bentuk akar berikut: a. 3√15 (2√6 – 4√5) b. (9√5 – √13)(13√18 – 7√3). Ini soal yang butuh ketelitian, tapi tenang, logika aljabarnya sama kaya ketika kamu belajar konsep Didefinisikan a = bilangan bulat terbesar yang lebih kecil atau sama dengan a. Sebagai contoh, 2 = 2; 3/4 = 0; 5/4 = 1. Jika x = 7, maka nilai —keduanya melatih ketepatan berpikir. Jadi, fokus dulu ke penyederhanaan akar-akar tadi, kalikan dengan sabar, pasti ketemu hasil akhir yang rapi dan memuaskan. First: 8×7=56, Outer: 20√7, Inner: -6√7, Last: -15. Gabungkan suku sejenis (yang mengandung √7). |
56 + 14√7 – 15 = 41 + 14√7 | Hasil akhir berupa bentuk a + b√c, yang juga merupakan bentuk sederhana. |
Ulasan Penutup
Jadi, begitulah langkah-langkah detailnya. Kunci utamanya ada pada kesabaran dan ketelitian dalam mengalikan setiap suku serta keberanian untuk memecah akar menjadi faktor-faktor yang lebih sederhana. Setelah beres, pasti ada rasa puas sendiri kan, liat ekspresi yang awalnya panjang dan ruwet jadi lebih kompak?
Itulah keindahan matematika yang sering tersembunyi di balik kesan rumitnya.
Jangan berhenti di sini. Coba terapkan logika yang sama pada soal-soal lain. Semakin sering kamu berlatih, insting untuk melihat pola dan jalan pintas penyederhanaan akan semakin terasah. Ingat, skill matematika itu seperti otot, butuh latihan konsisten. Selamat berhitung, dan semoga angka-angka selalu berpihak padamu!
Detail FAQ: Sederhanakan Bentuk Akar Berikut: A. 3 Akar(15) (2 Akar(6) – 4 Akar(5)) B. (9 Akar(5) – Akar(13)) (13 Akar(18) – 7 Akar(3))
Apa bedanya “menyederhanakan bentuk akar” dengan “menghitung nilai numerik” akar?
Menyederhanakan bertujuan menulis ekspresi dalam bentuk aljabar yang lebih ringkas (misal, √18 menjadi 3√2), sementara menghitung nilai numerik berarti mencari angka desimalnya (misal, √2 ≈ 1.414).
Mengapa kita harus menyederhanakan √18 menjadi 3√2 terlebih dahulu?
Penyederhanaan awal memudahkan perkalian karena angka menjadi lebih kecil dan sering kali mengungkap faktor yang sama dengan suku lain, sehingga proses selanjutnya jadi lebih efisien dan rapi.
Bagaimana jika di akhir penyederhanaan masih ada bentuk akar yang berbeda, seperti √5 dan √13?
Itu sudah bentuk paling sederhana. Bentuk akar yang berbeda (tidak sejenis) tidak bisa dijumlahkan atau dikurangkan langsung, jadi biarkan dalam ekspresi yang sudah disederhanakan seperti 6√30 – 12√75.
Apakah sifat distributif selalu digunakan dalam penyederhanaan soal seperti ini?
Hampir selalu, terutama jika ada tanda kurung yang mengindikasikan perkalian terhadap penjumlahan atau pengurangan. Sifat distributif adalah alat utama untuk membuka ekspresi yang dikurung.
Kesalahan paling umum apa yang harus dihindari?
Kesalahan umum meliputi: lupa mengalikan semua suku, salah mengalikan angka di dalam akar (misal, √a
– √b bukan √(a+b)), dan gagal menyederhanakan akar sempurna (seperti √4, √9, √16) setelah perkalian.