Kebijakan Fiskal Pemerintah pada Era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla

Kebijakan Fiskal Pemerintah pada Era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla menjadi titik balik penting yang memengaruhi arah perekonomian Indonesia pasca krisis Asian tahun 1998, sekaligus mencerminkan dinamika politik‑ekonomi yang unik di dua periode kepemimpinan tersebut.

Melalui serangkaian reformasi pajak, program stimulus, investasi infrastruktur, serta kebijakan pengelolaan utang dan subsidi, pemerintah berupaya menstabilkan pertumbuhan, mengurangi kemiskinan, dan menyiapkan fondasi fiskal yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan global dan domestik yang terus berubah.

Daftar Isi

Latar Belakang Ekonomi Nasional pada Masa Pemerintahan Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla

Indonesia memasuki dekade 2000-an dengan beban krisis finansial yang masih terasa. Pada akhir masa pemerintahan Megawati, pertumbuhan ekonomi melambat, inflasi masih tinggi, dan cadangan devisa menurun. Menjelang pemilihan 2004, Susilo Yudhoyono (SBY) mengambil alih dengan mandat stabilisasi makroekonomi, sementara pada 2009 Jusuf Kalla (JK) melanjutkan kebijakan tersebut di tengah gejolak global pasca krisis keuangan dunia.

Kondisi Perekonomian Menjelang 2004 dan 2009, Kebijakan Fiskal Pemerintah pada Era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla

Pada tahun 2004, Indonesia mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang mulai pulih setelah tiga tahun kontraksi. Pada 2009, meski terjadi resesi global, ekonomi tetap menunjukkan ketahanan berkat stimulus fiskal dan reformasi struktural. Berikut ringkasan data tahunan yang relevan:

Tahun PDB (miliar USD) Pertumbuhan (%) Inflasi (%)
2004 166,8 5,1 6,0
2005 176,5 5,7 5,5
2006 187,3 5,8 6,3
2007 200,1 6,3 5,9
2008 215,0 6,0 6,3
2009 224,5 4,5 7,4

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Kebijakan Fiskal

Berbagai dinamika luar negeri menuntun penyesuaian kebijakan fiskal pada periode tersebut:

  • Fluktuasi harga komoditas utama (minyak kelapa sawit, batu bara) yang memengaruhi penerimaan ekspor.
  • Krisis keuangan global 2008‑2009 yang menurunkan permintaan eksternal dan menggerakkan arus modal.
  • Kebijakan moneter Federal Reserve AS yang memengaruhi nilai tukar rupiah.
  • Ketidakpastian politik di kawasan Asia Tenggara, khususnya terkait keamanan maritim.

Perubahan Struktural Sektor Industri dan Agrikultur

Selama dua dekade itu, sektor industri manufaktur meningkat dari 13 % menjadi 18 % dari total PDB, didorong oleh industri otomotif, tekstil, dan elektronik. Sektor agrikultur, meski tetap menyumbang lebih dari 13 % PDB, mengalami pergeseran dari produksi pangan tradisional ke komoditas ekspor bernilai tinggi seperti kelapa sawit dan kakao. Transformasi ini menciptakan pola permintaan tenaga kerja baru, mempercepat urbanisasi, dan menuntut penyesuaian kebijakan subsidi pertanian.

Tren Inflasi

Inflasi Indonesia pada periode 2004‑2009 berfluktuasi antara 5 %‑7 %, dengan puncak pada 2009 akibat kenaikan harga pangan dan energi. Jika digambarkan dalam grafik garis, sumbu horizontal menunjukkan tahun, sementara sumbu vertikal menandai persentase inflasi; garis naik tajam pada 2009 mencerminkan tekanan harga global yang menembus pasar domestik.

BACA JUGA  Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama dan Penjelasannya

Kebijakan Pajak Penghasilan dan Pajak Konsumsi

Pemerintahan SBY dan JK menata ulang struktur perpajakan untuk meningkatkan kepatuhan, mengurangi distorsi, dan menarik investasi asing. Reformasi mencakup penurunan tarif pajak penghasilan pribadi, penyesuaian tarif badan, serta perubahan pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Reformasi Tarif Pajak Penghasilan Pribadi dan Badan Usaha

Tarif pajak penghasilan pribadi diturunkan secara bertahap; lapisan tertinggi menurun dari 30 % menjadi 25 % pada 2006, sementara tarif badan usaha dipangkas dari 25 % menjadi 22 % pada 2009. Penyesuaian ini diharapkan meningkatkan daya saing investasi dan memperluas basis pajak.

Perbandingan Tarif Pajak Konsumsi (PPN) Sebelum dan Sesudah Reformasi

Periode Tarif PPN (%) Keterangan Efek Terhadap Pendapatan Fiskal
Sebelum 2005 10 Tarif standar sejak 1984 Pendapatan relatif stabil
Setelah 2005 10 Tarif dipertahankan, namun basis kena pajak diperluas Peningkatan pendapatan sekitar 1,5 % dari APBN

Dampak Kebijakan Pajak terhadap Investasi Asing

  • Penurunan tarif badan usaha meningkatkan profitabilitas proyek multinasional.
  • Ketentuan tax holiday dan tax allowance menjadi insentif tambahan untuk sektor manufaktur.
  • Perbaikan kepastian hukum perpajakan meningkatkan peringkat sovereign rating Indonesia.

Skema Alur Pengumpulan Pajak

  • Wajib pajak mendaftar melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
  • Pengajuan SPT (Surat Pemberitahuan) dilakukan secara elektronik setiap tahun.
  • DJP memverifikasi data, menghitung kewajiban, dan mengirimkan tagihan.
  • Pembayaran dapat dilakukan melalui bank, ATM, atau sistem pembayaran digital.
  • Audit dan penagihan kembali dilakukan bila ditemukan selisih.

Diagram Alur Pemungutan Pajak

Jika digambarkan dalam diagram alur, kotak pertama menampilkan “Pendaftaran Wajib Pajak”, dihubungkan dengan panah ke “Pengajuan SPT”. Dari sana, alur bercabang ke “Verifikasi & Penilaian” dan “Pembayaran”. Selanjutnya, alur kembali ke “Audit & Penagihan” sebelum menutup ke “Pelaporan & Evaluasi”.

Pengeluaran Pemerintah untuk Infrastruktur dan Pembangunan: Kebijakan Fiskal Pemerintah Pada Era Susilo Yudhoyono Dan Jusuf Kalla

Pembangunan infrastruktur menjadi prioritas utama pada kedua era, dengan fokus pada transportasi, energi, dan konektivitas digital. Dana dialokasikan melalui APBN, dana alokasi khusus, serta kemitraan publik‑swasta (PPP).

Proyek Infrastruktur Utama

Proyek‑proyek besar meliputi Jalan Tol Trans‑Jakarta, Bandara Internasional Kualanamu, Pembangunan PLTU Batang, dan jaringan kereta cepat Jakarta‑Bandung. Setiap proyek dirancang untuk mempercepat mobilitas barang dan orang, serta mengurangi biaya logistik nasional.

Alokasi Anggaran per Sektor

Sektor Anggaran 2004‑2009 (Triliun IDR) Persentase APBN Proyek Utama
Transportasi 420 30 % Jalan Tol Trans‑Jakarta, Kereta Cepat
Energi 250 18 % PLTU Batang, Pembangkit Listrik Tenaga Air
Telekomunikasi 80 5 % Jaringan Serat Optik Nasional
Pembangunan Daerah 300 22 % Bandara Kualanamu, Pelabuhan Patimban

Mechanisme Pembiayaan Publik‑Swasta (PPP)

PPP di Indonesia mengadopsi model Build‑Operate‑Transfer (BOT) dan Design‑Build‑Finance‑Operate (DBFO). Pemerintah menyediakan lahan dan jaminan regulasi, sementara pihak swasta menanggung sebagian besar investasi awal, mengelola aset selama periode kontrak, dan memperoleh pendapatan melalui tarif pengguna atau pembayaran layanan.

Peta Distribusi Proyek Infrastruktur

Peta visual menampilkan proyek‑proyek strategis tersebar di pulau Jawa (Jakarta‑Bandung, Trans‑Jakarta), Sumatera (Kualanamu, Patimban), dan Kalimantan (PLTU Batang). Garis berwarna merah menandai jalur transportasi utama, sementara titik biru menandai fasilitas energi.

Dampak Sosial‑Ekonomi Proyek‑proyek Tersebut

  • Pengurangan waktu tempuh perjalanan rata‑rata sebesar 25 % di wilayah Jawa Barat.
  • Peningkatan volume barang yang diangkut melalui pelabuhan Patimban sebesar 40 % dalam tiga tahun pertama.
  • Penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 120.000 orang dan tidak langsung lebih dari 500.000 orang.
  • Peningkatan akses listrik di daerah terpencil, menurunkan tingkat kemiskinan energi hingga 8 %.

Program Stimulus dan Bantuan Sosial

Stimulus fiskal pada era SBY dan JK difokuskan pada pemulihan pertumbuhan pasca‑krisis, sekaligus menanggulangi kemiskinan melalui program bantuan sosial terarah.

Tujuan Utama Program Stimulus Ekonomi

Program dirancang untuk mempercepat permintaan domestik, menjaga lapangan kerja, serta menguatkan jaringan perlindungan sosial bagi kelompok rentan.

Jenis Bantuan Sosial, Target Penerima, dan Nilai Total Alokasi

Program Target Penerima Nilai Alokasi (Triliun IDR) Deskripsi Singkat
Program Keluarga Harapan (PKH) Keluarga miskin 55 Transfer tunai berbasis prestasi pendidikan dan kesehatan.
Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rumah tangga berpendapatan di bawah ambang kemiskinan 30 Pembayaran satu kali untuk membantu kebutuhan dasar.
Subsidi Bahan Pokok (SBP) Seluruh rumah tangga 45 Pengurangan harga beras, gula, minyak goreng.
Program Padat Karya Pencari kerja 20 Pekerjaan temporer dalam proyek infrastruktur kecil.
BACA JUGA  Irisan Set A dan B Konsep Dasar dan Aplikasi Lengkap

Efektivitas Program Stimulus dan Bantuan Sosial

  • PKH berhasil meningkatkan angka partisipasi sekolah dasar hingga 92 % pada tahun 2008.
  • BLT menurunkan rasio kemiskinan nasional dari 13,5 % menjadi 11,3 % dalam dua tahun.
  • Subsidi bahan pokok menstabilkan inflasi pangan pada level 4‑5 %.
  • Program Padat Karya mengurangi tingkat pengangguran terbuka sebesar 1,2 % pada 2009.

Prosedur Penyaluran Bantuan

Kebijakan Fiskal Pemerintah pada Era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla

Source: go.id

  • Identifikasi penerima melalui basis data Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
  • Verifikasi data oleh Dinas Sosial setempat.
  • Penetapan jumlah bantuan berdasarkan kriteria ekonomi.
  • Transfer dana melalui sistem perbankan atau penyedia layanan keuangan digital.
  • Monitoring dan evaluasi pasca‑penyaluran untuk memastikan kepatuhan dan efektivitas.

Infografis Alur Distribusi Bantuan

Infografis menggambarkan alur mulai dari “Pengumpulan Data Demografis”, kemudian mengalir ke “Verifikasi Lapangan”, “Penetapan Kriteria”, “Transfer Dana”, dan berakhir pada “Monitoring & Laporan”. Setiap tahap dihubungkan oleh panah berwarna hijau, dengan ikon representatif (misalnya, kartu keluarga, komputer, bank, dan grafik).

Kebijakan Defisit Anggaran dan Manajemen Utang Publik

Defisit anggaran menjadi tantangan utama, terutama pada masa krisis global. Pemerintah mengadopsi strategi penyeimbangan melalui peningkatan penerimaan pajak, penangguhan belanja modal, serta restrukturisasi utang.

Tingkat Defisit Anggaran Tahunan dan Strategi Penyeimbangannya

Selama 2004‑2009, defisit anggaran rata‑rata berada di kisaran 3‑4 % dari PDB. Strategi penyeimbangan meliputi penyesuaian belanja operasional, penerbitan obligasi negara, serta program penjualan aset non‑strategis.

Rasio Utang terhadap PDB pada Akhir Masing‑Masing Era

Tahun Akhir Era Rasio Utang terhadap PDB (%) Catatan Kebijakan Utama
2009 (Akhir Era SBY) 31,2 Stabilisasi setelah krisis Penerbitan Obligasi Ritel
2014 (Akhir Era JK) 28,5 Penurunan berkelanjutan Restrukturisasi Utang Luar Negeri

Kebijakan Restrukturisasi Utang

Restrukturisasi melibatkan perpanjangan tenor, penurunan suku bunga, serta swap mata uang untuk mengurangi beban pembayaran bunga. Pemerintah juga memanfaatkan mekanisme “Debt‑for‑Equity” pada proyek infrastruktur, mengonversi sebagian utang menjadi kepemilikan saham negara pada perusahaan terkait.

Langkah‑Langkah Pengelolaan Utang Jangka Panjang

  • Penggunaan instrumen obligasi berkelanjutan (green bonds) untuk proyek ramah lingkungan.
  • Peningkatan transparansi melalui publikasi profil utang bulanan.
  • Penyusunan rencana pembayaran berbasis cash‑flow yang realistis.
  • Negosiasi ulang dengan kreditur multilateral untuk memperoleh suku bunga yang lebih rendah.

Diagram Tren Utang Publik

Grafik garis yang menampilkan tren rasio utang dari 2004 hingga 2014 menunjukkan puncak pada 2009 (≈31 %) dan penurunan perlahan hingga 2014 (≈28 %). Garis berwarna biru menandakan periode SBY, sementara warna hijau menandakan periode JK, menyoroti perbedaan kebijakan.

Kebijakan Subsidi Energi dan Harga Komoditas

Subsidi BBM dan listrik menjadi beban fiskal signifikan. Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan sosial dan keberlanjutan fiskal melalui penyesuaian tarif serta program penggantian energi terbarukan.

Kebijakan Subsidi BBM dan Listrik

Subsidi BBM dipertahankan pada tingkat tinggi selama periode 2004‑2009, mencapai 2,5 % dari APBN. Pada sektor listrik, tarif listrik subsidized untuk rumah tangga berpendapatan rendah, sementara tarif industri mengalami penyesuaian bertahap.

Besaran Subsidi per Tahun dan Dampaknya pada APBN

Tahun Subsidi BBM (Triliun IDR) Subsidi Listrik (Triliun IDR) Total Beban Subsidi (% APBN)
2004 12,0 8,5 4,2 %
2007 15,3 10,2 5,0 %
2009 18,7 12,0 5,8 %

Konsekuensi Ekonomi Penyesuaian Harga

Penyesuaian harga BBM mengakibatkan kenaikan biaya transportasi, yang pada gilirannya memengaruhi harga barang konsumsi. Namun, pengurangan subsidi juga menurunkan defisit fiskal, membuka ruang bagi investasi infrastruktur dan program sosial lainnya.

Alternatif Kebijakan Pengurangan Subsidi

  • Implementasi skema “Cash‑Transfer” langsung kepada rumah tangga miskin sebagai pengganti subsidi BBM.
  • Peningkatan tarif listrik progresif dengan subsidi silang untuk industri yang berpotensi menghasilkan pendapatan pajak lebih tinggi.
  • Pengembangan energi terbarukan (surya, angin) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Grafik Perbandingan Harga BBM Sebelum dan Sesudah Reformasi

Grafik batang menggambarkan harga eceran BBM Premium, Pertalite, dan Pertamax pada tahun 2004 dan 2009. Pada 2009, harga naik 20‑30 % dibandingkan 2004, sementara selisih harga antara varian premium dan subsidized menyempit, mencerminkan upaya penyesuaian pasar.

BACA JUGA  Hitung Bayangan Cermin Cekung Jarak Perbesaran Tinggi Sifat

Perbandingan Kebijakan Fiskal Antara Era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla

Menganalisis kebijakan fiskal secara komparatif memperlihatkan pergeseran prioritas antara dua periode, terutama pada bidang pajak, belanja, dan manajemen utang.

Di era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla, kebijakan fiskal menekankan stabilitas makro dan stimulus infrastruktur, menyasar pertumbuhan berkelanjutan. Seolah kita mengerjakan Integral (2x‑2)^3 dx untuk mengukur efek kumulatif kebijakan, hasilnya menegaskan pentingnya koordinasi anggaran dan reformasi pajak dalam menavigasi tantangan ekonomi.

Perbandingan Utama Kebijakan Fiskal

Aspek Era SBY (2004‑2009) Era JK (2009‑2014) Catatan Perubahan
Pajak Penghasilan Badan 25 % 22 % Penurunan tarif untuk menarik investasi.
Pajak Konsumsi (PPN) 10 % 10 % (basis diperluas) Peningkatan kepatuhan melalui e‑faktur.
Belanja Infrastruktur 30 % APBN 35 % APBN Peningkatan alokasi pada proyek transportasi.
Rasio Utang terhadap PDB 31,2 % 28,5 % Penurunan berkat restrukturisasi utang.

Perbedaan Pendekatan Fiskal

SBY menekankan stabilisasi makroekonomi melalui peningkatan penerimaan pajak dan kontrol inflasi, sementara JK lebih fokus pada stimulus fiskal pasca‑krisis dengan memperbesar belanja publik dan memperluas jaringan PPP.

Faktor Politik yang Memengaruhi Perbedaan Kebijakan

  • Konsolidasi koalisi politik SBY memaksa kebijakan fiskal bersifat konservatif untuk menjaga dukungan parlemen.
  • JK menghadapi tekanan internasional untuk menurunkan defisit, sehingga mempercepat reformasi pajak dan restrukturisasi utang.
  • Perubahan kepemimpinan di Bappenas dan Kementerian Keuangan memengaruhi prioritas alokasi anggaran.

Evaluasi Kinerja Fiskal Masing‑Masing Era

SBY berhasil menurunkan inflasi ke level 5 % dan meningkatkan cadangan devisa, namun defisit tetap tinggi pada 2009. JK menurunkan defisit melalui peningkatan penerimaan pajak dan penurunan rasio utang, sambil memperluas infrastruktur melalui PPP.

Matriks SWOT Kebijakan Fiskal Kedua Periode

Strengths: Peningkatan kepatuhan pajak (SBY), kemitraan PPP yang kuat (JK). Weaknesses: Beban subsidi energi (keduanya), ketergantungan pada pembiayaan luar negeri (JK). Opportunities: Diversifikasi sumber pendapatan, pengembangan energi terbarukan. Threats: Fluktuasi harga komoditas, risiko politik domestik.

Kebijakan fiskal di era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla menekankan stabilitas makroekonomi lewat pengendalian defisit dan reformasi pajak. Dalam konteks ini, pemilihan kata yang tepat, khususnya negasi dan konjungsi, menjadi krusial untuk menyampaikan kebijakan secara jelas, seperti yang dibahas dalam Penggunaan Kata Tepat: Negasi dan Konjungsi dalam Kalimat. Kembali ke kebijakan fiskal, era tersebut tetap menjadi studi penting bagi pembuat kebijakan masa depan.

Tantangan dan Peluang Kebijakan Fiskal di Masa Depan

Masa depan fiskal Indonesia menuntut penyesuaian terhadap dinamika global, perubahan demografis, serta tuntutan pembangunan berkelanjutan.

Tantangan Struktural Kebijakan Fiskal

  • Ketergantungan pada pendapatan pajak tidak langsung (PPN, bea cukai) yang rentan terhadap siklus ekonomi.
  • Struktur subsidi energi yang masih tinggi, menekan defisit anggaran.
  • Kesenjangan fiskal antar daerah, menghambat pemerataan pembangunan.
  • Risiko utang publik yang meningkat seiring kebutuhan pembiayaan infrastruktur.

Pemetaan Peluang Reformasi Fiskal

Bidang Peluang Strategi Manfaat
Pajak Digital Pengenaan pajak pada layanan digital asing Peraturan khusus dan mekanisme pemungutan otomatis Penambahan penerimaan tanpa beban tambahan pada UMKM.
Subsidi Energi Transisi ke subsidi selektif dan cash‑transfer Targetkan rumah tangga miskin, kurangi subsidi BBM umum Penurunan beban APBN, peningkatan keadilan sosial.
PPP Peningkatan partisipasi sektor swasta dalam proyek hijau Skema green PPP dengan insentif pajak Pengembangan infrastruktur berkelanjutan.
Manajemen Utang Diversifikasi sumber pembiayaan (green bonds, sukuk) Emisi obligasi berkelanjutan dengan rating tinggi Pengurangan biaya pinjaman, peningkatan likuiditas.

Rekomendasi Kebijakan untuk Meningkatkan Ketahanan Fiskal

  • Memperluas basis pajak melalui digitalisasi layanan perpajakan dan integrasi data lintas lembaga.
  • Mengimplementasikan skema subsidi terarah berbasis data Kartu Keluarga Sejahtera.
  • Mendorong pembangunan infrastruktur hijau melalui skema PPP berkelanjutan.
  • Mengoptimalkan manajemen utang dengan mengeluarkan sukuk hijau dan obligasi sosial.
  • Memperkuat koordinasi fiskal antar pemerintah daerah untuk mengurangi disparitas.

Langkah‑Langkah Implementasi Rekomendasi

  • Pengembangan platform e‑tax terintegrasi dengan sistem perbankan digital.
  • Pilot program cash‑transfer di tiga provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi.
  • Penetapan regulasi khusus untuk green PPP, termasuk standar lingkungan.
  • Kerjasama dengan lembaga keuangan internasional untuk penerbitan green bonds.
  • Pembentukan forum koordinasi fiskal antar daerah yang dipimpin Kementerian Keuangan.

Roadmap Kebijakan Fiskal 2025‑2030

Roadmap terdiri dari tiga fase: (1) 2025‑2027 – digitalisasi pajak dan pengurangan subsidi terarah; (2) 2028‑2029 – peluncuran green PPP dan sukuk hijau; (3) 2030 – evaluasi dampak kebijakan, penyesuaian target pertumbuhan fiskal, serta penyusunan kebijakan pasca‑pandemi yang adaptif. Diagram alur menampilkan tahapan “Riset & Desain”, “Legislasi”, “Implementasi”, “Monitoring”, dan “Evaluasi” yang saling terhubung dengan panah progresif berwarna oranye.

Ringkasan Penutup

Secara keseluruhan, kebijakan fiskal pada era Susilo Yudhoyono dan Jusuf Kalla menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan pajak progresif, pengeluaran infrastruktur terukur, serta disiplin dalam mengelola defisit dapat menciptakan pertumbuhan inklusif, meski tidak lepas dari kontroversi politik dan tekanan eksternal; pelajaran ini tetap relevan bagi perumusan kebijakan fiskal Indonesia ke depan.

FAQ Lengkap

Apa perbedaan utama tarif PPN sebelum dan sesudah reformasi?

Sebelum reformasi tarif PPN berada pada 10%, kemudian dinaikkan menjadi 10% tetap dengan penyesuaian basis perhitungan pada beberapa sektor.

Bagaimana mekanisme PPP (Public‑Private Partnership) diimplementasikan?

PPP dijalankan melalui kontrak jangka panjang antara pemerintah dan pihak swasta, dimana risiko proyek dibagi secara proporsional dan pembayaran biasanya berbasis hasil atau kinerja.

Apakah kebijakan subsidi energi berhasil menurunkan beban APBN?

Subsidi energi tetap menjadi beban signifikan bagi APBN; meski ada upaya penyesuaian harga, penurunan beban belum optimal karena ketergantungan konsumen.

Berapa rata‑rata pertumbuhan PDB pada tahun 2004‑2009?

Pertumbuhan PDB rata‑rata sekitar 5‑6% per tahun, dengan puncak pada 2007 mencapai 6,5% sebelum dampak krisis keuangan global.

Apakah investasi asing meningkat setelah reformasi pajak?

Ya, reformasi pajak memberikan insentif yang lebih jelas, sehingga aliran FDI naik terutama di sektor manufaktur dan layanan.

Bagaimana kebijakan fiskal memengaruhi inflasi?

Kebijakan fiskal yang ekspansif pada awal era menambah tekanan inflasi, namun penyesuaian pajak dan subsidi membantu menstabilkan tingkat harga.

Apa tantangan utama kebijakan fiskal di masa depan?

Menyeimbangkan kebutuhan pembangunan infrastruktur dengan kontrol defisit, mengurangi ketergantungan subsidi, serta meningkatkan basis pajak tanpa menghambat pertumbuhan.

Leave a Comment