Menentukan n pada persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30 dengan Sifat Asosiatif

Menentukan n pada persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30 itu seperti main teka-teki angka yang sebenarnya punya trik rahasia. Kalau lihat sekilas, mungkin langsung pengin hitung semua pakai kalkulator, tapi jangan buru-buru! Persamaan ini justru mau ngajakin kita buat mikir lebih cerdas dan paham sebuah prinsip matematika yang keren banget, yaitu sifat asosiatif. Prinsip ini bilang kalau kita mengelompokkan perkalian dengan cara berbeda, hasilnya akan tetap sama, lho.

Jadi, ini bukan cuma soal nemuin angka ‘n’, tapi lebih ke memahami logika fleksibel di balik operasi hitung yang selama ini mungkin kita anggap kaku.

Mari kita bayangkan kita punya 14 kelompok besar, di mana setiap kelompok berisi 21 bundel yang masing-masing bundel terdiri dari 30 batang cokelat. Total cokelatnya tentu segunung. Nah, persamaan di sebelah kanan, (n×21)×30, menggambarkan cara pengemasan ulang: kita buat kelompok baru yang berisi 21 bundel juga, tapi kali ini jumlah kelompok besarnya adalah ‘n’. Dengan memanfaatkan sifat asosiatif, kita bisa melihat bahwa jumlah bundel dan isi per bundelnya tidak berubah, yang berubah cuma cara kita melihat ‘kelompok besarnya’ saja.

Dari sinilah nilai ‘n’ yang misterius itu bisa kita ungkap tanpa perlu repot menghitung total semua cokelat satu per satu.

Menelusuri Jejak Sifat Asosiatif dalam Perkalian Bilangan Bulat: Menentukan N Pada Persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30

Dalam dunia matematika, ada prinsip-prinsip yang bekerja diam-diam di balik perhitungan kita, membuat segala sesuatunya menjadi lebih teratur dan sederhana. Salah satu prinsip yang paling berguna, terutama saat kita berhadapan dengan serangkaian perkalian, adalah sifat asosiatif. Sifat ini pada dasarnya memberi kita kebebasan untuk mengelompokkan bilangan yang kita kalikan tanpa perlu khawatir hasil akhirnya akan berubah. Bayangkan kita sedang menyusun buku di rak.

Kita bisa mengelompokkannya per tiga buku, lalu mengikat setiap kelompok dengan tali, kemudian menghitung berapa banyak kelompok yang ada. Atau, kita bisa mengambil semua buku, membaginya menjadi kelompok-kelompok yang lebih besar terlebih dahulu. Jumlah total buku tetap sama, bukan? Hanya cara kita ‘mengasosiasikan’ atau mengelompokkannya saja yang berbeda.

Contoh konkret lainnya bisa ditemukan dalam persiapan kue untuk acara besar. Sebuah resep mungkin dirancang untuk 12 muffin. Jika kita ingin membuat 4 batch resep tersebut, kita menghitung bahan dengan mengalikan: 4 batch × (12 muffin per batch). Namun, misalkan kita sudah menyiapkan adonan untuk 2 batch terlebih dahulu, lalu menyiapkan 2 batch lagi. Secara matematis, total muffin adalah (2 × 12) + (2 × 12) =
48.

Sifat asosiatif dalam perkalian, meski bukan penjumlahan, memiliki semangat yang sama: urutan pengelompokan perkalian tidak mengubah produk akhir. Dalam konteks perkalian tiga bilangan, seperti dalam persoalan kita, sifat ini menjadi penentu yang elegan untuk menemukan nilai yang hilang.

Perbandingan Hasil Perkalian dengan Pengelompokan Berbeda

Untuk membuktikan keabsahan sifat asosiatif secara nyata, mari kita lihat tabel berikut yang membandingkan hasil perkalian tiga bilangan dengan berbagai cara pengelompokan. Tabel ini menunjukkan bahwa terlepas dari bagaimana kita memasangkan bilangan-bilangan tersebut terlebih dahulu, hasil akhirnya selalu konsisten.

Pengelompokan Proses Hitung Hasil Keterangan
(a × b) × c (5 × 2) × 3 = 10 × 3 30 Mengalikan a dan b dahulu, lalu hasilnya dikali c.
a × (b × c) 5 × (2 × 3) = 5 × 6 30 Mengalikan b dan c dahulu, lalu a dikali hasilnya.
(a × c) × b (5 × 3) × 2 = 15 × 2 30 Mengelompokkan a dan c, menunjukkan fleksibilitas lebih lanjut.
Tanpa pengelompokan (urut kiri ke kanan) 5 × 2 × 3 = 10 × 3 30 Pada dasarnya sama dengan (a×b)×c karena operasi berjenjang.

Langkah Penyelesaian untuk Menentukan Nilai n

Persamaan yang kita hadapi adalah 14 × (21 × 30) = (n × 21) ×
30. Dengan mengamati strukturnya, kita melihat kedua sisi melibatkan perkalian tiga bilangan yang sama: 14, 21, dan 30. Perbedaannya hanya terletak pada pengelompokan atau tanda kurung. Inilah saatnya menerapkan sifat asosiatif perkalian, yang menyatakan bahwa (a × b) × c = a × (b × c).

Prinsip ini memungkinkan kita untuk mengabaikan atau mengatur ulang tanda kurung tanpa mengubah nilai total.

Prinsip inti yang digunakan adalah Sifat Asosiatif Perkalian: Untuk bilangan bulat a, b, dan c, berlaku (a × b) × c = a × (b × c). Pengelompokan tidak mengubah hasil.

Mari kita terapkan pada persamaan. Sisi kiri: 14 × (21 × 30). Sisi kanan: (n × 21) × 30. Agar kedua sisi setara berdasarkan sifat asosiatif, pengelompokan pada sisi kanan harus dapat diatur ulang menjadi 14 × (21 × 30). Dengan membandingkan, kita bisa melihat bahwa posisi bilangan 21 dan 30 sudah sama di kedua sisi.

Satu-satunya variabel adalah ‘n’ pada sisi kanan dan ’14’ pada sisi kiri yang menempati posisi yang sama secara struktural jika kita menerapkan sifat asosiatif pada sisi kanan. Jika kita mengubah pengelompokan sisi kanan menjadi n × (21 × 30), maka persamaan menjadi 14 × (21 × 30) = n × (21 × 30). Jelas terlihat bahwa agar persamaan ini benar, nilai n harus sama dengan 14.

Strategi Alternatif dan Analisisnya

Selain mengandalkan sifat asosiatif, kita bisa menyelesaikan persamaan ini dengan pendekatan yang lebih langsung, yaitu menghitung hasil perkalian di setiap sisi dan menyamakannya. Mari kita coba. Pertama, hitung sisi kiri: 21 × 30 = 630, kemudian 14 × 630 =
8820. Jadi, sisi kiri bernilai
8820. Untuk sisi kanan, kita biarkan n sebagai variabel: (n × 21) × 30 = (21n) × 30 = 630n.

Persamaan sekarang menjadi 8820 = 630n. Untuk mencari n, kita bagi kedua sisi dengan 630: n = 8820 ÷ 630 = 14.

Kelebihan dari strategi alternatif ini adalah kepastiannya yang mutlak. Kita tidak perlu mengingat atau menerapkan sifat matematika tertentu; kita hanya melakukan komputasi aritmetika dasar. Metode ini sangat berguna ketika bilangan-bilangannya sederhana atau ketika kita ragu dengan penerapan sifat. Namun, kekurangannya menjadi jelas ketika bilangan yang terlibat sangat besar atau rumit. Menghitung 14 × (21 × 30) mungkin masih mudah, tetapi bayangkan jika bilangannya adalah 147 × (213 × 305).

BACA JUGA  Hitung induksi magnetik ujung solenoid 50 cm 200 lilitan 4 A secara lengkap

Perhitungan langsung akan memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan hitung. Di sinilah keunggulan sifat asosiatif bersinar: kita dapat menarik kesimpulan tentang hubungan antar bilangan tanpa harus melalui proses hitung yang berat. Pendekatan sifat asosiatif lebih elegan, efisien, dan menekankan pada pemahaman struktur matematika daripada sekadar komputasi.

Mengungkap Nilai n Melalui Eksplorasi Visual Kelompok Benda

Matematika yang abstrak seringkali menjadi lebih mudah dicerna ketika kita dapat memvisualisasikannya. Untuk persamaan 14 × (21 × 30) = (n × 21) × 30, kita dapat membangun sebuah model fisik yang tidak hanya menunjukkan jawabannya, tetapi juga menjelaskan mengapa jawaban itu benar. Dengan menggunakan benda-benda sehari-hari seperti stik es krim, kancing, atau balok kecil, kita dapat membuat representasi nyata dari konsep pengelompokan dalam perkalian.

Ilustrasi Deskriptif Model Visual

Bayangkan kita memiliki sejumlah besar stik es krim. Pertama, kita akan memodelkan sisi kiri persamaan: 14 × (21 × 30). Kita mulai dengan membuat 30 bundel kecil, di mana setiap bundel berisi 21 stik. Ini merepresentasikan (21 × 30). Sekarang, kita memiliki 30 kelompok yang masing-masing berisi 21 stik.

Langkah berikutnya adalah mengambil semua 30 bundel tersebut dan mengulangi kumpulan besar ini sebanyak 14 kali. Jadi, kita memiliki 14 set besar, di mana setiap set besar terdiri dari 30 bundel (dan setiap bundel ada 21 stik). Total stik adalah 14 set × 30 bundel/set × 21 stik/bundel.

Sekarang, untuk sisi kanan: (n × 21) × 30. Kita mulai dengan cara yang berbeda. Kita membuat bundel yang masing-masing berisi 21 stik. Kita tidak tahu berapa banyak bundel ini, jadi kita sebut saja ada ‘n’ bundel. Ini adalah (n × 21).

Kemudian, kita mengambil semua ‘n’ bundel ini dan mengelompokkannya menjadi set-set yang lebih besar, di mana setiap set besar berisi tepat 30 bundel kecil (yang masing-masing 21 stik). Agar total stik sama dengan model sisi kiri, susunan fisik akhir dari kedua model harus identik. Jika di sisi kiri kita melihat 14 set besar yang masing-masing berisi 30 bundel, maka di sisi kanan, pengelompokan akhir menjadi set-set berisi 30 bundel juga harus menghasilkan tepat 14 set besar.

Dengan demikian, nilai ‘n’ haruslah 14 × 30 = 420 bundel? Tunggu, perlu hati-hati. Visualisasi ini menunjukkan bahwa ‘n’ bukan jumlah bundel kecil, tetapi jumlah set besar dari bundel kecil. Untuk menyamakan, pengelompokan ulang visual menunjukkan bahwa ‘n’ harus sama dengan 14.

Prosedur Pembuatan Model Langkah Demi Langkah

Untuk membuktikannya secara fisik, siapkan 8820 benda kecil (misal, kacang hijau atau manik-manik). Langkah pertama, buat 30 wadah kecil (gelas plastik atau cetakan), isi masing-masing dengan 21 benda. Ini adalah (21 × 30). Kemudian, siapkan 14 baki besar. Letakkan semua 30 wadah kecil tadi ke dalam satu baki besar.

Sekarang, kita punya 1 baki berisi 30 wadah. Untuk merepresentasikan “14 ×”, kita butuh 14 baki yang persis sama seperti ini. Karena kita hanya punya 8820 benda, kita tidak bisa membuat 14 baki fisik yang penuh. Jadi, kita lakukan secara konseptual atau dengan mencatat: total benda sudah tepat untuk mengisi 14 baki dengan konfigurasi 30 wadah per baki dan 21 benda per wadah.

Untuk sisi kanan, kita mulai dengan hipotesis. Misalkan kita tebak n=14. Kita buat 14 wadah, masing-masing diisi 21 benda. Itu adalah (14 × 21). Sekarang, kita ingin mengelompokkan ini menjadi beberapa baki, di mana setiap baki berisi 30 wadah.

Dari 14 wadah yang kita punya, kita tidak bisa membuat satu baki pun yang berisi 30 wadah. Jadi, tebakan n=14 untuk langkah awal ini salah? Ini adalah titik kebingungan umum. Kuncinya adalah memahami bahwa pada sisi kanan, (n × 21) adalah sebuah kelompok tingkat menengah. “n” adalah jumlah kelompok berisi 21 benda.

Kemudian, kelompok-kelompok ini dikelompokkan lagi menjadi kelompok besar yang berisi 30 kelompok kecil. Jadi, total kelompok kecil (n) harus merupakan kelipatan dari 30 agar bisa dibagi rata menjadi beberapa baki. Dari model sisi kiri, kita tahu total benda adalah untuk 14 baki × 30 wadah/baki = 420 wadah kecil. Jadi, n (jumlah wadah kecil) harus 420, bukan 14. Lalu di mana angka 14?

Angka 14 muncul sebagai jumlah baki besar ketika kita mengelompokkan 420 wadah kecil itu ke dalam baki yang masing-masing menampung 30 wadah (420 ÷ 30 = 14). Ini menunjukkan bahwa persamaan asli membandingkan dua pengelompokan yang berbeda dari total benda yang sama. Nilai ‘n’ dalam (n × 21) × 30 mengacu pada jumlah kelompok tingkat menengah, yang dalam hal ini adalah 420, yang kemudian dikelompokkan menjadi 14 set.

Namun, dalam konteks persamaan matematis murni, perbandingan langsung sifat asosiatif memberi hasil n=14. Model visual ini justru mengungkap lapisan interpretasi yang lebih dalam tentang apa yang sebenarnya dihitung.

Analoginya seperti membagi sejumlah besar kelereng ke dalam beberapa kotak. Kamu bisa memilih: masukkan 30 kelereng ke dalam 21 kotak kecil, lalu ambil 14 kotak besar untuk menampung semua kotak kecil itu. Atau, kamu bisa langsung membagi semua kelereng ke dalam beberapa kotak kecil yang masing-masing berisi 21 kelereng, lalu baru menyusun kotak-kotak kecil itu ke dalam kotak besar yang muat 30 kotak kecil. Jumlah akhir kotak besar yang kamu butuhkan akan sama, yaitu 14, karena total kelerengnya tidak berubah. Mencari ‘n’ dalam konteks ini seperti memastikan kedua metode pengemasan itu membutuhkan jumlah kotak besar yang sama.

Pertanyaan Pemandu untuk Penggalian Konseptual

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dapat diajukan kepada siswa ketika mereka pertama kali melihat model visual dari persamaan ini untuk mendorong pemikiran yang lebih mendalam:

  • Apa yang diwakili oleh setiap benda (stik atau kancing) dalam model ini?
  • Bagaimana cara kita memodelkan tanda “×” atau perkalian dengan menggunakan pengelompokan benda?
  • Jika kita mengubah cara mengelompokkan benda-benda ini, apakah jumlah total benda berubah? Mengapa?
  • Pada sisi kiri, kelompok mana yang dibuat terlebih dahulu? Bagaimana dengan sisi kanan?
  • Bisakah kamu menunjukkan dengan model bahwa kedua cara pengelompokan akhirnya menghasilkan susunan fisik yang sama?
  • Menurutmu, apa hubungan antara angka 14 yang ada di sisi kiri dengan nilai ‘n’ yang kita cari di sisi kanan?
  • Jika kita membuat model untuk sisi kanan dengan nilai ‘n’ yang salah, bagian mana dari model yang akan terlihat tidak sesuai?

Aplikasi Teknik Penyeimbangan Sisi Kiri dan Kanan dalam Persamaan

Persamaan pada hakikatnya adalah sebuah timbangan yang seimbang. Apa pun yang kita lakukan pada satu sisi, harus kita lakukan juga pada sisi lainnya agar keseimbangan tetap terjaga. Dalam persamaan 14 × (21 × 30) = (n × 21) × 30, kita memiliki dua sisi yang diklaim setara. Tugas kita adalah menemukan nilai ‘n’ yang membuat klaim tersebut benar, dengan memanipulasi kedua sisi secara adil atau dengan menganalisis komponen-komponennya.

BACA JUGA  5 Contoh Adat Istiadat di Indonesia dan Makna Mendalamnya

Komponen Numerik yang Tetap dan Berubah, Menentukan n pada persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30

Mari kita identifikasi elemen-elemen dalam persamaan ini. Bilangan 21 dan 30 muncul di kedua sisi dalam urutan yang sama secara berurutan. Mereka adalah konstanta yang tidak berubah. Perbedaan utama terletak pada dua hal: posisi pengelompokan (tanda kurung) dan bilangan yang dikalikan dengan kelompok (21×30). Di sisi kiri, bilangan itu adalah
14.

Di sisi kanan, bilangan itu adalah variabel ‘n’. Implikasinya terhadap keseimbangan sangat jelas: karena bilangan 21 dan 30 serta operasi perkaliannya identik di kedua sisi, satu-satunya cara agar hasil perkalian keseluruhan sama adalah jika pengali yang tersisa, yaitu 14 dan n, memiliki nilai yang sama. Jika n lebih kecil dari 14, maka sisi kanan akan menghasilkan nilai yang lebih kecil daripada sisi kiri, sehingga timbangan menjadi miring.

Sebaliknya, jika n lebih besar, sisi kanan akan menjadi lebih berat. Keseimbangan hanya tercapai ketika n = 14. Ini seperti memiliki dua resep smoothie yang menggunakan jumlah pisang dan jeruk yang sama persis, tetapi berbeda jumlah stroberi. Agar rasa dan volumenya sama, jumlah stroberi harus sama.

Tabel Pengujian Nilai n melalui Tebakan

Salah satu metode paling intuitif untuk menyelesaikan persamaan adalah dengan menebak dan menguji. Tabel di bawah ini mencatat apa yang terjadi jika kita mengganti n dengan beberapa angka tebakan yang masuk akal di sekitar dugaan kita.

Nilai n Hasil Sisi Kiri Hasil Sisi Kanan Status Keseimbangan
13 8820 (13×21)×30 = 273×30 = 8190 Tidak Seimbang (Sisi Kiri > Kanan)
14 8820 (14×21)×30 = 294×30 = 8820 Seimbang
15 8820 (15×21)×30 = 315×30 = 9450 Tidak Seimbang (Sisi Kiri < Kanan)

Teknik Penyeimbangan dengan Operasi Kebalikan

Alih-alih menebak, kita dapat menyelesaikan persamaan secara aljabar dengan mengisolasi variabel n. Kita mulai dengan persamaan dalam bentuk yang lebih sederhana setelah menghitung bagian yang sama. Dari perhitungan, kita tahu sisi kiri adalah
8820. Sisi kanan adalah (n × 21) × 30, yang dapat disederhanakan menjadi 630n (karena 21×30=630). Jadi persamaannya menjadi 8820 = 630n.

Sekarang, untuk mengisolasi n, kita perlu ‘membuang’ koefisien 630 yang menempel padanya. Karena 630 dikalikan dengan n, operasi kebalikannya adalah pembagian. Kita membagi kedua sisi persamaan dengan 630 untuk menjaga keseimbangan: 8820 ÷ 630 = 630n ÷ 630. Hasilnya adalah 14 = n, atau n = 14.

Kesalahan umum yang sering terjadi selama proses ini adalah melakukan operasi yang tidak sama pada kedua sisi, misalnya hanya membagi satu sisi dengan suatu bilangan. Kesalahan lain adalah urutan operasi yang salah pada sisi kanan, seperti mengira (n × 21) × 30 sama dengan n × (21 × 30) tanpa memahami bahwa sifat asosiatif membenarkan hal itu, sehingga langsung menulis 8820 = n × 630, yang sebenarnya adalah langkah yang benar dan efisien.

Menyelesaikan persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30 itu sederhana, kita temukan n=14 karena sifat asosiatif perkalian. Prinsip keteraturan ini juga penting dalam dunia nyata, misalnya dalam mengelola sumber daya secara efisien seperti yang dibahas dalam artikel tentang Tindakan yang Diperlukan di Industri dan Pertanian. Dengan pendekatan terstruktur dan tepat, baik dalam hitungan matematika maupun dalam kebijakan praktis, hasil yang optimal—seperti nilai n yang akurat—bisa tercapai.

Latihan Soal Variasi dengan Bilangan Lain

Menentukan n pada persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30

Source: gauthmath.com

Teknik penyeimbangan ini bersifat universal. Mari kita terapkan pada struktur serupa dengan bilangan berbeda. Misalkan persamaannya adalah 5.2 × (8 × 0.5) = (m × 8) × 0.
5. Pertama, hitung atau sederhanakan bagian yang sama: 8 × 0.5 =
4.

Sisi kiri menjadi 5.2 × 4 = 20.
8. Sisi kanan menjadi (m × 8) × 0.5 = 4m (karena 8 × 0.5 = 4). Persamaan menjadi 20.8 = 4m. Lakukan operasi kebalikan: bagi kedua sisi dengan 4, sehingga m = 20.8 ÷ 4 = 5.

2. Teknik yang sama juga berlaku untuk pecahan. Contoh: (3/4) × (12 × 2/3) = (p × 12) × 2/
3. Sisi kiri: 12 × 2/3 = 8, lalu 3/4 × 8 =
6. Sisi kanan: (p × 12) × 2/3 = p × (12 × 2/3) = p × 8 = 8p.

Persamaan 6 = 8p, sehingga p = 6/8 = 3/
4. Prinsipnya tetap: jaga keseimbangan dengan melakukan hal yang sama di kedua sisi.

Memanfaatkan Pola Perkalian dan Faktor Persekutuan untuk Mengurai n

Kadang-kadang, melihat bilangan-bilangan bukan sebagai entitas tunggal, tetapi sebagai produk dari faktor-faktor yang lebih kecil, dapat membuka jalan penyelesaian yang lebih cepat dan lebih dalam. Dalam persamaan 14 × (21 × 30) = (n × 21) × 30, ketiga bilangan bulat tersebut memiliki hubungan faktor yang menarik, yang jika dieksplorasi, akan memperkuat pemahaman kita mengapa nilai n harus 14, sekaligus memberikan teknik penyederhanaan yang ampuh.

Hubungan Faktor antara 14, 21, dan 30

Mari kita faktorkan ketiga bilangan ini menjadi faktor prima atau faktorisasi yang berguna. Angka 14 dapat ditulis sebagai 2 ×
7. Angka 21 adalah 3 ×
7. Angka 30 adalah 3 × 10, atau lebih dalam, 2 × 3 ×
5. Sekarang, perhatikan persamaan tersebut.

Sisi kiri: 14 × (21 × 30). Jika kita tulis ulang dengan faktorisasi: (2 × 7) × ((3 × 7) × (2 × 3 × 5)). Kita bisa mengelompokkan ulang faktor-faktor ini berdasarkan sifat asosiatif dan komutatif. Yang menarik, kita melihat faktor 7 muncul dalam 14 dan
21. Faktor 2 muncul dalam 14 dan
30.

Faktor 3 muncul dalam 21 dan
30. Pola ini menunjukkan bahwa bilangan-bilangan ini saling terkait. Ketika kita memindahkan pengelompokan di sisi kanan menjadi (n × 21) × 30, kita sebenarnya mempertanyakan: “Faktor apa yang harus dimiliki ‘n’ agar perkalian totalnya sama dengan sisi kiri?” Karena 21 dan 30 sudah tetap, ‘n’ harus menyediakan faktor-faktor yang ‘hilang’ atau melengkapi perkalian. Dari sisi kiri, faktor total adalah semua faktor dari 14, 21, dan 30.

Di sisi kanan, faktor dari 21 dan 30 sudah ada. Agar sama, ‘n’ haruslah mengandung faktor-faktor yang setara dengan 14. Dengan kata lain, n harus sama dengan 14.

Langkah Penyederhanaan Persamaan dengan Memfaktorkan

Berikut adalah rincian langkah penyederhanaan persamaan dengan memanfaatkan faktorisasi sebelum operasi hitung:

  • Identifikasi faktor-faktor umum di seluruh persamaan. Dalam hal ini, bilangan 21 dan 30 hadir di kedua sisi.
  • Tulis ulang persamaan dengan menekankan faktor-faktor tersebut: 14 × (21 × 30) = n × 21 × 30. (Tanda kurung di kanan bisa dihilangkan karena sifat asosiatif).
  • Bayangkan persamaan ini sebagai: 14 × K = n × K, di mana K adalah hasil dari (21 × 30) yang merupakan konstanta.
  • Dengan prinsip dasar aljabar, jika a × K = b × K dan K bukan nol, maka pasti a = b.
  • Karena K (21×30) jelas bukan nol, kita dapat ‘membagi’ kedua sisi persamaan dengan K. Ini secara efektif membatalkan faktor umum 21 dan 30 dari kedua sisi.
  • Setelah pembatalan, kita mendapatkan persamaan yang sangat sederhana: 14 = n.

Pernyataan Umum: Dalam persamaan perkalian yang melibatkan bilangan-bilangan identik di kedua sisi, selalu cari faktor atau produk bersama yang dapat disederhanakan. Jika struktur persamaan berbentuk a × (b×c) = n × (b×c) atau variannya, maka nilai n pasti sama dengan a, asalkan hasil kali (b×c) tidak nol. Penyederhanaan dengan membagi kedua sisi dengan faktor persekutuan adalah kuncinya.

Skenario Masalah Dunia Nyata dengan Struktur Tersembunyi

Skenario 1: Sebuah toko roti membuat paket donat. Setiap kotak kecil berisi 21 donat. Setiap kardus besar memuat 30 kotak kecil. Sebuah pesanan besar meminta 14 kardus yang sudah penuh. Di gudang, ada banyak kotak kecil yang sudah terisi, dan pekerja diminta untuk menyusunnya ke dalam kardus.

BACA JUGA  Mencari nilai x dan y dari 1/a+1/b+1/c+1/d dengan FPB dan KPK sebuah eksplorasi numerik

Seorang manajer menulis catatan: “Pesanan: 14 × (21 donat per kotak × 30 kotak per kardus).” Seorang pekerja baru membaca instruksi lain yang ambigu: “Siapkan (n × 21 donat per kotak) × 30 kotak per kardus.” Untuk memastikan jumlah donat total yang dikirim sama, si pekerja harus menyadari bahwa n harus mengacu pada jumlah total kotak kecil, yaitu 420, atau secara lebih cerdas, menyadari bahwa struktur instruksi kedua harus setara dengan yang pertama, yang berarti pengelompokan ulang, dan inti pesanannya adalah 14 kardus.

Skenario 2: Dalam proyek pertanian, sebuah lahan ditanami dengan pola. Setiap baris memiliki 30 pokok tanaman. Setiap pokok diperkirakan menghasilkan 21 buah. Seorang petani memiliki 14 lahan identik seperti ini. Total produksi dihitung sebagai 14 × (21 × 30).

Seorang peneliti ingin menganalisis data dengan mengelompokkan berdasarkan jenis buah, dan menulis rumus sebagai (n × 21) × 30, di mana n mewakili jumlah total pokok tanaman dari semua lahan per jenis. Untuk mempertahankan total produksi yang sama, n haruslah 14 × 30 =
420. Namun, jika persamaan ditulis sebagai perbandingan matematis murni seperti soal kita, maka n yang dicari adalah 14, yang mewakili jumlah lahan.

Koneksinya terletak pada interpretasi variabel: dalam konteks dunia nyata, n bisa merujuk pada elemen yang berbeda (jumlah lahan vs jumlah pokok), tetapi hubungan matematis di antara bilangan-bilangan itu tetap terjalin erat.

Verifikasi Solusi n Melalui Eksperimen Numerik dan Penalaran Logis

Menemukan nilai n = 14 adalah sebuah pencapaian, tetapi dalam matematika yang rigor, pekerjaan belum selesai sebelum kita melakukan verifikasi. Verifikasi adalah proses memastikan bahwa solusi yang kita dapatkan memang benar-benar memenuhi persamaan asli, dan bukan hanya hasil dari manipulasi aljabar yang mungkin mengandung kesalahan. Ini adalah langkah pengecekan akhir yang kritis.

Prosedur Verifikasi dengan Dua Metode

Metode pertama adalah substitusi balik. Ini adalah metode yang paling langsung. Kita mengganti variabel n dalam persamaan awal dengan nilai 14 yang kita temukan. Persamaan menjadi: 14 × (21 × 30) = (14 × 21) ×
30. Selanjutnya, kita hitung kedua sisi secara independen.

Untuk sisi kiri: hitung yang di dalam kurung, 21 × 30 =
630. Kemudian 14 × 630 =
8820. Untuk sisi kanan: hitung yang di dalam kurung, 14 × 21 = 294. Kemudian 294 × 30 = 8820. Karena kedua sisi menghasilkan nilai yang identik, yaitu 8820, solusi n=14 terbukti benar.

Metode kedua adalah pembuktian melalui diagram alur logika. Kita mulai dengan pernyataan: “Sifat asosiatif perkalian menyatakan bahwa pengelompokan tidak mengubah hasil.” Kemudian, kita analisis persamaan: Sisi kiri dikelompokkan sebagai a × (b × c) dengan a=14, b=21, c=30. Sisi kanan dikelompokkan sebagai (n × b) × c. Menurut sifat asosiatif, sisi kanan dapat ditulis ulang menjadi n × (b × c).

Sekarang, kita memiliki persamaan a × (b×c) = n × (b×c). Karena (b×c) adalah bilangan bukan nol yang sama di kedua sisi, satu-satunya cara persamaan itu benar adalah jika a = n. Karena a = 14, maka n harus 14. Diagram alur logika ini memvalidasi bahwa proses penyelesaian kita berdasar pada prinsip matematika yang sah.

Tabel Data Percobaan Perhitungan

Tabel berikut menyajikan hasil percobaan perhitungan menggunakan kalkulator untuk berbagai nilai n, menunjukkan bagaimana selisih antara kedua sisi menghilang hanya ketika n bernilai benar.

Nilai n yang Diuji Hasil Perhitungan Sisi Kiri Hasil Perhitungan Sisi Kanan Selisih (Kiri – Kanan)
13 8820 8190 630
14.1 8820 8883 -63
14 8820 8820 0
15 8820 9450 -630

Pentingnya Tahap Verifikasi dalam Matematika

Mengabaikan tahap verifikasi dalam penyelesaian masalah matematika ibarat membangun rumah tanpa memeriksa pondasinya. Verifikasi berfungsi sebagai penangkal kesalahan hitung, salah penerapan rumus, atau kesalahan logika yang mungkin luput selama proses penyelesaian. Dalam konteks yang lebih kompleks, seperti pemrograman atau rekayasa, solusi yang tidak diverifikasi dapat menyebabkan bug sistem atau kegagalan desain dengan konsekuensi serius. Dari sudut pandang pembelajaran, verifikasi memperkuat keyakinan siswa terhadap jawabannya dan memberikan kepuasan intelektual bahwa pekerjaannya telah tuntas dan benar.

Tanpa verifikasi, kita hanya berasumsi bahwa solusi kita benar; dengan verifikasi, kita memiliki bukti.

Pertanyaan Kritis untuk Menguji Ketahanan Solusi

Untuk memastikan solusi n=14 benar-benar kokoh, kita dapat menantangnya dengan serangkaian pertanyaan kritis berikut:

  • Apakah solusi ini masih berlaku jika salah satu bilangan (21 atau 30) diganti dengan nol? Bagaimana sifat asosiatif berlaku dalam kasus itu?
  • Bagaimana jika persamaan diubah menjadi 14 × (21 × 30) = (n × 21) × 31? Apakah masih ada solusi untuk n? Mengapa?
  • Jika kita menukar posisi bilangan, misalnya 14 × (30 × 21) = (n × 21) × 30, apakah nilai n berubah? Jelaskan berdasarkan sifat komutatif.
  • Dapatkah persamaan ini memiliki lebih dari satu solusi untuk n dalam sistem bilangan bulat? Dalam sistem bilangan real?
  • Bagaimana cara kita memodifikasi prosedur verifikasi jika persamaan asli mengandung kesalahan ketik (misalnya, tanda tambah salah satu perkalian)?

Penutup

Jadi, setelah menjelajahi berbagai cara, dari sifat asosiatif, ilustrasi visual, hingga teknik penyeimbangan, jawabannya tetap satu: n = 14. Keindahan dari persamaan 14×(21×30)=(n×21)×30 ini bukan cuma pada hasil akhirnya, tapi pada perjalanan bernalar yang ditawarkannya. Ia mengajarkan bahwa dalam matematika, seringkali ada jalan pintas yang elegan yang mengandalkan pemahaman konsep, bukan sekadar kekuatan komputasi. Hal ini mirip dengan menyusun ulang perabot di kamar; ruangnya tetap sama, tapi sudut pandang dan kemudahannya bisa berubah.

Dengan menguasai logika ini, kita jadi punya senjata ampuh untuk mengurai persamaan-persamaan lain yang tampak lebih rumit di masa depan.

Pertanyaan yang Kerap Ditanyakan

Apakah sifat asosiatif hanya berlaku untuk perkalian?

Tidak. Sifat asosiatif juga berlaku untuk penjumlahan, misalnya (2+3)+4 = 2+(3+4). Namun, sifat ini tidak berlaku untuk pengurangan dan pembagian.

Bagaimana jika angka 21 dan 30 di sisi kanan persamaan ditukar posisinya, apakah nilai n berubah?

Tidak berubah. Berdasarkan sifat komutatif (pertukaran), 21×30 sama dengan 30×21. Jadi persamaan menjadi 14×(21×30) = (n×30)×21, dan nilai n tetaplah 14.

Apakah metode menghitung langsung sisi kiri dan kanan lebih baik daripada menggunakan sifat asosiatif?

Untuk angka yang sederhana, menghitung langsung bisa lebih cepat. Namun, untuk angka yang besar atau kompleks, menggunakan sifat asosiatif lebih efisien dan mengurangi risiko kesalahan hitung, sekaligus mengasah pemahaman konseptual.

Bisakah persamaan ini diselesaikan dengan cara mencari faktor persekutuan?

Bisa. Perhatikan bahwa di kedua sisi terdapat faktor 21 dan 30. Dengan membagi kedua sisi persamaan dengan (21×30), kita langsung mendapatkan 14 = n.

Mengapa verifikasi solusi itu penting padahal kita sudah menggunakan logika matematika?

Verifikasi adalah langkah final untuk memastikan tidak ada kesalahan hitung atau logika selama proses. Ini adalah kebiasaan baik yang mencegah kesalahan kecil yang bisa berakibat besar, terutama dalam matematika yang lebih kompleks.

Leave a Comment