Isi dan Makna Teks Proklamasi Sejarah Singkat hingga Nilainya

Isi dan Makna Teks Proklamasi bukan sekadar rangkaian kata yang dibacakan pada 17 Agustus 1945. Ia adalah kristalisasi dari perjuangan panjang, keberanian kolektif, dan cita-cita luhur sebuah bangsa yang memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri. Dalam naskah yang singkat namun dahsyat itu, terkandung semangat, filosofi, dan janji kemerdekaan yang menjadi fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Membongkar lapisan-lapisannya berarti menyelami jiwa dari Indonesia itu sendiri.

Dari proses perumusan yang mendebarkan di rumah Laksamana Maeda hingga pembacaannya yang bersejarah oleh Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, setiap kata dalam teks tersebut dipilih dengan sangat hati-hati. Teks Proklamasi dirancang bukan hanya sebagai pengumuman, melainkan sebagai pernyataan kedaulatan yang efektif kepada dunia, sekaligus panduan pertama bagi bangsa yang baru lahir untuk menjalani tahap-tahap selanjutnya menuju pengakuan internasional.

Pengantar Teks Proklamasi

Detik-detik menjelang kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945 diwarnai oleh ketegangan dan kecepatan keputusan yang luar biasa. Kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu menciptakan vakum yang harus segera diisi. Para tokoh pergerakan, terutama golongan muda, mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa menunggu “hadiah” dari Jepang. Peristiwa Rengasdengklok menjadi klimaks dari perbedaan pendapat ini, yang akhirnya memaksa Soekarno dan Hatta untuk memutuskan proklamasi dilakukan di Jakarta.

Tokoh-tokoh Perumus Naskah

Perumusan naskah Proklamasi berlangsung dini hari di rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Soebardjo menjadi tiga tokoh inti yang merumuskan konsep kalimat-kalimat pendek namun penuh makna tersebut. Sumbangan pemikiran juga datang dari para tokoh lain yang hadir, termasuk para pemuda, meski Soekarno bertindak sebagai penulis utama. Naskah kemudian diketik oleh Sayuti Melik, dengan perubahan-perubahan kecil namun signifikan, seperti penggantian kata “tempoh” menjadi “tempo” dan penambahan tanda tangan.

Suasana Pembacaan di Jalan Pegangsaan Timur 56

Pembacaan teks Proklamasi dilakukan pada hari Jumat, 17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi, di halaman rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Upacara berlangsung sederhana, tanpa protokol ketat. Suasana pagi itu tegang namun penuh haru. Sekitar seribu orang hadir menyaksikan momen bersejarah itu.

Suara Soekarno yang lantang membacakan teks singkat itu disambung dengan pengibaran Sang Saka Merah Putih yang dijahit oleh Fatmawati, dan sambutan singkat oleh Soewirjo, Wakil Walikota Jakarta saat itu. Momen itu, meski sederhana, menjadi ledakan sukacita yang diam-diam menyebar seperti api di tengah sekam.

Isi dan Struktur Teks

Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan dokumen yang sangat padat, terdiri hanya dari dua alinea. Keringkasannya justru menjadi kekuatan, memuat pernyataan fundamental sebuah bangsa yang ingin berdiri sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Jabaran Isi Teks

Berikut isi teks Proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno:

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.

Analisis Struktur dan Pilihan Kata

Strukturnya sangat jelas: alinea pertama adalah pernyataan kemerdekaan yang mutlak dan final. Alinea kedua menangani aspek teknis peralihan kekuasaan. Pilihan kata seperti “menjatakan” (menyatakan) bersifat deklaratif dan otoritatif, bukan meminta atau mengusulkan. Penggunaan “kami bangsa Indonesia” langsung menegaskan subjek kolektif, sementara frasa “atas nama bangsa Indonesia” di akhir mengukuhkan legitimasi para penandatangan sebagai wakil sah seluruh rakyat. Ejaan yang digunakan adalah ejaan lama (Van Ophuijsen), yang merupakan ejaan resmi pada masa itu.

Isi dan makna teks Proklamasi yang ringkas namun dahsyat menjadi landasan kemerdekaan bangsa, membuka jalan bagi pembentukan identitas nasional. Perjuangan memaknai kemerdekaan ini juga tercermin dalam upaya rakyat membangun kehidupan ekonomi, di mana Hubungan antara kondisi geografis dan mata pencaharian penduduk menjadi faktor kunci yang membentuk corak perekonomian daerah. Dengan demikian, semangat Proklamasi untuk mencapai kehidupan yang adil dan makmur menemukan realitasnya dalam bagaimana masyarakat beradaptasi dan memanfaatkan potensi alamiah negerinya sendiri.

BACA JUGA  Setarakan Reaksi Ba(OH)2(aq) + (NH4)2SO4(aq) → BaSO4(s) + NH3(g) + H2O(l)

Perbandingan dengan Konsep Awal

Isi dan Makna Teks Proklamasi

Source: buguruku.com

Terdapat perbedaan antara konsep tulisan tangan Soekarno dengan naskah akhir yang diketik. Konsep awal berbunyi: “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.” Dalam proses pengetikan, terjadi perubahan penting: kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”, dan yang paling krusial, penambahan frasa “Atas nama bangsa Indonesia” serta tempat, tanggal, dan tanda tangan.

Perubahan ini memperkuat sisi formal dan legitimasi dokumen tersebut sebagai pernyataan resmi bangsa.

Makna dan Filosofi Setiap Bagian

Di balik kesederhanaan katanya, setiap frasa dalam teks Proklamasi menyimpan filosofi mendalam tentang hakikat kemerdekaan, kedaulatan, dan tanggung jawab sebuah bangsa yang baru lahir.

Makna “Kami Bangsa Indonesia”

Frasa pembuka ini bukan sekadar kata ganti. Ini adalah deklarasi identitas yang memutuskan mata rantai kolonialisme. “Kami” merujuk pada suatu entitas kolektif yang sudah ada, yang memiliki kesadaran sebagai satu bangsa, meski terdiri dari ribuan pulau dan suku. Ini adalah penegasan bahwa kemerdekaan ini adalah kehendak bersama, bukan keinginan segelintir elite. Frasa ini menjadi fondasi dari konsep persatuan Indonesia, yang kemudian dimanifestasikan dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Filosofi “Menjatakan Kemerdekaan” dan Kedaulatan

Kata “menjatakan” atau menyatakan mengandung makna yang sangat kuat. Bangsa Indonesia tidak “meminta” atau “mengumumkan” kemerdekaan atas izin pihak lain, melainkan “menyatakan” suatu hak yang sudah melekat. Ini adalah prinsip kedaulatan yang berdiri sendiri (auto-determination). Pernyataan ini bersifat final dan tidak memerlukan pengakuan dari pihak manapun untuk sah secara moral dan politis. Kedaulatan sepenuhnya ada di tangan bangsa Indonesia, sebuah konsep yang revolusioner setelah berabad-abad dikuasai.

Implikasi Kalimat tentang Pemindahan Kekuasaan

Alinea kedua sering kali dipandang sebagai kalimat “transisional”. Frasa “hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain” menunjukkan kesadaran bahwa proklamasi adalah titik awal, bukan akhir perjuangan. Ada proses kompleks yang harus diselesaikan. Namun, janji untuk menyelenggarakannya “dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” adalah komitmen untuk menata ulang tatanan kehidupan berbangsa secara bertanggung jawab, cepat, dan terukur. Ini adalah pesan kepada dunia bahwa Indonesia siap mengelola negaranya sendiri dengan baik.

Dampak dan Penerimaan

Gelombang euforia dan aksi spontan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara seiring tersiarnya kabar Proklamasi. Berita yang awalnya disebarkan secara mulut ke mulut dan melalui media bawah tanah ini memicu reaksi yang beragam namun umumnya penuh dukungan.

Dampak Langsung terhadap Masyarakat

Dampak langsungnya adalah meledaknya rasa percaya diri dan keberanian. Bendera Merah Putih yang sebelumnya dilarang, tiba-tiba berkibar di mana-mana. Rakyat biasa, pemuda, dan buruh mulai mengambil alih kantor-kantor pemerintahan dan aset-aset vital dari tangan Jepang. Terbentuklah badan-badan perjuangan dan komite nasional di daerah-daerah. Proklamasi menjadi legitimasi untuk melakukan perlawanan fisik dan politik, yang memuncak dalam pertempuran-perttempuran heroik seperti di Surabaya.

Respons Berbagai Kelompok Masyarakat

Kelompok Masyarakat Bentuk Respons Motivasi Dampak Jangka Pendek
Kalangan Pemuda & Pelajar Aksi pengambilalihan kekuasaan, rapat-rapat akbar, pembentukan laskar. Semangat revolusioner, anti-kolonial, dan keinginan untuk berperan aktif. Mempercepat jatuhnya struktur kekuasaan Jepang di daerah; menjadi tulang punggung perjuangan fisik.
Tokoh Agama (Ulama & Pemuka) Mengeluarkan seruan jihad, fatwa perang suci, menggerakkan massa dari pesantren dan masjid. Memandang perjuangan kemerdekaan sebagai kewajiban agama membela tanah air. Memberikan legitimasi religius yang kuat, memobilisasi dukungan massa yang sangat luas.
Rakyat Biasa (Buruh, Tani, Pedagang) Mengibarkan bendera, menyambut para pejuang, mendukung logistik, dan ikut dalam demonstrasi. Harapan akan kehidupan yang lebih baik, bebas dari penindasan dan kerja paksa. Menciptakan suasana revolusi di akar rumput; menjadi basis dukungan sosial bagi pemerintahan baru.
Birokrat & Pamong Praja Banyak yang beralih loyalitas, mendukung Republik, atau mengambil posisi netral menunggu perkembangan. Pertimbangan pragmatis, nasionalisme, dan membaca arah angin politik. Mempermudah transisi administrasi di beberapa daerah; mencegah kekacauan total.

Penyebaran Berita Proklamasi, Isi dan Makna Teks Proklamasi

Penyebaran berita di awal sangat bergantung pada jaringan manusia dan media sederhana. Surat kabar seperti “Soeara Asia” di Surabaya dan “Tjahaja” di Bandung memuat berita proklamasi pada tanggal 19-20 Agustus 1945. Di Jakarta, para pemuda seperti Syahruddin berhasil menyelundupkan teks Proklamasi ke kantor berita Domei (milik Jepang) untuk disiarkan. Berita juga disebarkan melalui selebaran, coretan di tembok, dan siaran radio gelap.

BACA JUGA  Singkatan PRSI Wadah Periset Sistem Informasi Indonesia

Figur seperti Adam Malik memanfaatkan jaringan pemuda dan wartawan untuk menyebarkannya ke Sumatera dan luar Jawa.

Representasi dalam Media dan Pendidikan

Teks Proklamasi tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga terus direpresentasikan dan dihadirkan kembali melalui berbagai medium untuk mengukuhkan ingatan kolektif bangsa.

Evolusi dalam Buku Pelajaran

Dalam buku pelajaran sejarah dari masa ke masa, representasi teks Proklamasi mengalami pergeseran penekanan. Pada era Orde Lama, konteks revolusioner dan peran Bung Karno sangat dominan. Di masa Orde Baru, penekanan lebih pada ketertiban proses, peran militer, dan semangat persatuan di bawah kepemimpinan. Pasca-Reformasi, buku pelajaran cenderung lebih kritis dan komprehensif, menyajikan berbagai versi dan peran aktor sejarah (golongan muda, Jepang, perdebatan) di sekitar peristiwa proklamasi, dengan teks itu sendiri tetap menjadi pusat narasi yang tak terganggu.

Unsur-unsur Visual dalam Poster dan Monumen

Representasi visual teks Proklamasi memiliki pola yang konsisten dan mudah dikenali. Berikut adalah unsur-unsur visual yang umum ditemui:

  • Font dan Tipografi: Biasanya menggunakan font serif yang tegas dan formal, seperti Times New Roman atau jenis yang mirip ketikan mesin tik, untuk menciptakan kesan otentik dan historis.
  • Tata Letak: Teks ditempatkan di tengah (center-aligned) dengan judul “PROKLAMASI” di bagian paling atas dalam huruf kapital semua. Spasi antar baris dibuat lega untuk kemudahan membaca dan kesan khidmat.
  • Warna: Dominasi warna dwi-warna: hitam untuk teks dan merah-putih sebagai elemen pendukung seperti border, background bendera, atau hiasan. Kombinasi ini langsung mengingatkan pada Sang Saka Merah Putih.
  • Elemen Pendukung: Sering disertai gambar mikrofon tua (lambang pembacaan), gambar Soekarno-Hatta, atau ilustrasi sederhana rumah di Pegangsaan Timur. Pada monumen, teks biasanya diukir pada lempengan logam atau batu granit hitam.

Ilustrasi Suasana Pembacaan Proklamasi

Sebuah ilustrasi suasana pembacaan Proklamasi yang khas biasanya menggambarkan Soekarno berdiri tegak di depan mikrofon sederhana yang terbuat dari kayu, dengan selembar kertas kecil di tangannya. Di belakangnya, terlihat Mohammad Hatta dengan kacamata dan setelan putih, berdiri tenang namun waspada. Latarnya adalah serambi rumah dengan pilar-pilar, dan di halaman depan dipadati oleh kerumunan massa yang menyatu dalam satu pandangan penuh harap.

Ekspresi wajah Soekarno tegas dan lantang, sementara wajah-wajah di kerumunan menunjukkan campuran rasa tegang, haru, dan kebanggaan. Cahaya pagi menyinari scene tersebut, menciptakan kontras terang-gelap yang dramatis, melambangkan terbitnya fajar baru setelah malam panjang penjajahan. Tidak ada kemewahan protokol, hanya kesederhanaan yang justru mengandung energi monumental.

Isi dan makna Teks Proklamasi yang singkat padat menjadi poros utama kemerdekaan, menggerakkan seluruh elemen bangsa. Seperti halnya perhitungan Panjang rantai mengelilingi dua roda gigi bersinggungan , proklamasi menghubungkan dan menyelaraskan dinamika perjuangan dengan cita-cita berdaulat, menciptakan gerakan yang tepat dan tak terputus menuju Indonesia merdeka.

Kajian Bahasa dan Retorika

Dari kacamata linguistik dan retorika, teks Proklamasi adalah sebuah masterpiece komunikasi politik. Keringkasannya yang ekstrem justru menjadi sumber kekuatannya, dirancang untuk menyampaikan pesan yang tak terbantahkan dengan dampak maksimal.

Gaya Bahasa dan Teknik Retorika

Teks ini menggunakan gaya bahasa deklaratif yang sangat lugas dan otoritatif. Setiap kalimat adalah pernyataan fakta yang harus diterima. Teknik retorika yang utama adalah asyndeton, yaitu penghilangan kata sambung untuk menciptakan ritme yang tegas dan cepat (“diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”). Pengulangan kata “Indonesia” pada alinea pertama (“bangsa Indonesia… kemerdekaan Indonesia”) berfungsi sebagai penegasan (emphasis) dan pengukuhan identitas.

Strukturnya yang simetris—alinea pertama untuk substansi, alinea kedua untuk teknis—menunjukkan pemikiran yang sistematis.

Pendapat Ahli tentang Keefektifannya

“Teks Proklamasi adalah contoh klasik dari kekuatan kata-kata yang terukur. Ia menghindari retorika yang bombastis dan emosional, justru memilih pernyataan yang dingin, faktual, dan legalistik. Pilihan kata ‘menyatakan’ bukan ‘mengumumkan’ atau ‘memproklamirkan’ adalah pilihan genius; ia menempatkan bangsa Indonesia sebagai subjek yang berdaulat penuh, yang tidak meminta persetujuan siapa pun. Dari sudut pandang komunikasi politik internasional, teks ini dirancang untuk dipahami oleh dunia luar sebagai dokumen yang sah dan serius, bukan teriakan revolusi semata.”

Alasan Keringkasan dari Sudut Pandang Komunikasi

Keringkasan teks Proklamasi adalah strategi komunikasi yang cerdas. Pertama, dalam situasi darurat dan berbahaya, dokumen yang pendek lebih cepat disusun, disetujui, dan disebarkan. Kedua, pesan yang singkat dan padat lebih mudah diingat dan diteruskan secara lisan, penting mengingat sarana komunikasi massa yang terbatas. Ketiga, ia menghindari kerumitan detail yang bisa memicu perdebatan dan menunda esensi utama: pernyataan kemerdekaan. Keempat, dari sisi hukum internasional, pernyataan yang jelas dan tidak berbelit-belit lebih kuat dan sulit dibantah.

BACA JUGA  Grafik Garis Persamaan 3x − 4y = 12 dan Cara Menggambarnya

Isi dan makna teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia merupakan fondasi utama negara, menandai titik awal perjalanan bangsa yang berdaulat. Dalam konteks ini, setiap posisi dalam suatu deret memiliki signifikansinya sendiri, sebagaimana analisis mendalam mengenai Posisi Bilangan 393 di Deret Ganjil yang mengungkap pola dan urutan. Pemahaman akan posisi yang tepat ini paralel dengan penghayatan terhadap posisi historis naskah proklamasi sebagai penentu arah bangsa yang tak tergantikan.

Ia seperti sebuah pedang yang diasah hingga tajam, setiap kata memiliki mata yang mampu menebas belenggu kolonialisme.

Nilai-nilai yang Terkandung: Isi Dan Makna Teks Proklamasi

Lebih dari sekadar dokumen historis, teks Proklamasi adalah gudang nilai-nilai luhur yang menjadi roh bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai ini tidak beku di masa lalu, tetapi terus relevan sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan kekinian.

Pemetaan Nilai dan Penerapannya Masa Kini

Nilai Inti Contoh dalam Teks Penerapan dalam Konteks Saat Ini Manifestasi Nyata
Keberanian & Kemandirian “…menjatakan kemerdekaan.” (Menyatakan sendiri tanpa menunggu izin). Berani mengambil keputusan strategis untuk kepentingan nasional, mandiri dalam ekonomi dan politik. Penguatan industri dalam negeri, kebijakan luar negeri yang aktif dan berdikari, inovasi teknologi lokal.
Persatuan & Kebangsaan “Kami bangsa Indonesia…” (Subjek kolektif). Menjaga kerukunan dalam keberagaman, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Gotong royong mengatasi bencana, toleransi dalam kehidupan beragama, semangat tim dalam prestasi olahraga internasional.
Kedaulatan & Tanggung Jawab “Atas nama bangsa Indonesia.” (Legitimasi dan akuntabilitas). Menjaga kedaulatan wilayah NKRI, bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya alam untuk rakyat. Penegakan hukum di wilayah perbatasan, transparansi dan akuntabilitas pemerintahan, diplomasi menjaga kedaulatan di forum global.
Kesaksamaan & Kecepatan “…dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” Bekerja cermat, teliti, namun efisien dan tidak menunda-nunda dalam pembangunan dan pelayanan publik. Penyusunan regulasi yang matang namun cepat tanggap, pelayanan perizinan yang mudah dan cepat, penanganan krisis yang terencana dan tepat waktu.

Relevansi bagi Generasi Muda

Bagi generasi muda masa kini, nilai-nilai Proklamasi diterjemahkan dalam konteks yang lebih personal dan global. Semangat “menyatakan kemerdekaan” bisa dimaknai sebagai kemerdekaan berpikir kritis, berinovasi, dan berani menjadi pionir di bidangnya. Nilai persatuan direfleksikan dalam kemampuan berkolaborasi dengan orang dari latar belakang berbeda, baik di dunia nyata maupun digital. Tanggung jawab “atas nama bangsa” berarti bahwa setiap prestasi individu di kancah global pada hakikatnya adalah kebanggaan kolektif, dan setiap tindakan negatif juga berdampak pada nama baik bangsa.

Proklamasi mengajarkan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, tetapi awal dari sebuah tanggung jawab besar untuk mengisi dan memajukan.

Frasa “Atas Nama Bangsa Indonesia” sebagai Cermin Tanggung Jawab Kolektif

Frasa penutup ini adalah penegasan paling gamblang tentang tanggung jawab kolektif. Soekarno dan Hatta tidak menandatangani untuk diri mereka atau kelompoknya, melainkan sebagai perwakilan seluruh entitas yang disebut “bangsa Indonesia”. Ini berarti bahwa keputusan kemerdekaan itu diambil dengan mandat yang diandaikan dari seluruh rakyat. Konsekuensinya, segala hal yang dilakukan setelahnya—mulai dari berperang, berdiplomasi, hingga membangun negara—harus dilakukan untuk dan demi nama baik bangsa tersebut.

Frasa ini mengikat masa lalu, sekarang, dan future dalam satu ikatan tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan bahwa setiap warga negara, dalam kapasitasnya masing-masing, bertindak “atas nama bangsa Indonesia”, dan karena itu harus mempertanggungjawabkannya pada sejarah dan pada sesama.

Ulasan Penutup

Dengan demikian, mengkaji Isi dan Makna Teks Proklamasi adalah upaya yang tak pernah usang. Lebih dari artefak sejarah, teks tersebut adalah kompas yang terus menunjuk arah. Nilai-nilai persatuan dalam “Kami bangsa Indonesia”, ketegasan dalam “menyatakan kemerdekaan”, serta tanggung jawab dalam frasa “atas nama bangsa Indonesia” tetap relevan untuk menjawab tantangan kekinian. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan titik akhir, melainkan sebuah proses berkelanjutan yang harus diisi dengan karya, keadilan, dan persatuan sejati oleh seluruh anak bangsa.

Bagian Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah teks Proklamasi asli masih tersimpan dan di mana?

Ya, naskah asli tulisan tangan dan ketikan Sayuti Melik masih disimpan dengan baik. Saat ini, naskah asli tersebut menjadi koleksi penting di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Mengapa teks Proklamasi sangat singkat, hanya terdiri dari dua alinea?

Kesingkatan ini disengaja untuk kejelasan, ketegasan, dan efektivitas komunikasi. Dalam situasi genting, pesan harus langsung ke inti, mudah diingat, dan cepat disebarluaskan kepada rakyat Indonesia dan dunia internasional tanpa multitafsir yang berlebihan.

Apa perbedaan utama antara konsep teks Proklamasi yang dirumuskan di rumah Laksamana Maeda dengan teks final yang dibacakan?

Perubahan signifikan ada pada kata “tempoh” menjadi “tempo” (dari ejaan lama ke lebih umum), dan yang paling penting adalah perubahan klausul tentang pemindahan kekuasaan. Konsep awal lebih bersifat deklaratif murni, sementara final menambahkan klausul yang menegaskan bahwa pemindahan kekuasaan akan dilakukan secara tertib dan cepat, menunjukkan kesiapan bernegara.

Bagaimana cara masyarakat di luar Jakarta mengetahui berita Proklamasi pada saat itu?

Penyebaran berita mengandalkan jaringan bawah tanah para pemuda, kurir, dan siaran radio. Figur seperti Syahruddin berperan sebagai kurir yang membawa teks ke kantor berita Domei (sekarang ANTARA), sementara stasiun radio seperti Radio Domei dan kemudian Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkannya, meski sempat diblokir. Berita juga disebarkan melalui selebaran dan coretan di tembok-tembok.

Leave a Comment