Hukum Newton Kedua: Besar Resultan Gaya – Hukum Newton Kedua Besar Resultan Gaya merupakan fondasi utama dalam memahami bagaimana benda bergerak di alam semesta ini. Prinsip fundamental ini menyatakan bahwa percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Dengan kata lain, semakin besar gaya yang diberikan, semakin besar pula percepatannya, namun semakin besar massa benda, semakin kecil percepatan yang dihasilkan untuk gaya yang sama.
Rumus ikonik F = m × a menjadi jantung dari hukum ini, di mana F adalah resultan gaya (Newton), m adalah massa (kilogram), dan a adalah percepatan (m/s²).
Konsep ini bukan hanya sekadar teori di dalam buku teks fisika, melainkan sebuah hukum alam yang dapat diamati dalam berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari mendorong gerobak pasar hingga desain canggih mesin mobil balap. Pemahaman mendalam tentang hubungan antara gaya, massa, dan percepatan ini memungkinkan para insinyur merancang kendaraan yang aman, ilmuwan memprediksi gerak planet, dan kita semua untuk memahami dunia fisik di sekitar kita dengan lebih baik.
Pengertian Dasar dan Rumus Utama Hukum Newton Kedua
Hukum Newton Kedua merupakan landasan fundamental dalam mekanika klasik yang menjelaskan bagaimana gerak suatu benda berubah ketika dikenai gaya. Jika Hukum Pertama membahas kondisi ketika benda tidak mengalami percepatan (resultan gaya nol), maka Hukum Kedua secara kuantitatif menjabarkan apa yang terjadi ketika resultan gaya itu tidak nol. Intinya, hukum ini adalah rumus matematika yang menghubungkan cause (penyebab) dan effect (akibat) dari suatu gerak.
Rumus inti dari Hukum Newton Kedua adalah persamaan yang elegan dan powerful: F = m × a. Dalam persamaan ini, F adalah resultan gaya yang bekerja pada suatu benda, diukur dalam Newton (N). Massa benda, disimbolkan dengan m, adalah ukuran inersia atau kelembaman benda dan satuannya adalah kilogram (kg). Sementara a adalah percepatan benda, yaitu tingkat perubahan kecepatannya, yang satuannya meter per detik kuadrat (m/s²).
Persamaan ini menyatakan bahwa percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya.
Perbandingan Massa, Percepatan, dan Gaya
Untuk memahami interaksi ketiga besaran ini, tabel berikut memberikan gambaran visual tentang bagaimana mereka saling mempengaruhi dalam berbagai skenario.
| Massa Benda (kg) | Percepatan (m/s²) | Resultan Gaya (N) | Contoh Penerapan |
|---|---|---|---|
| 5 (ringan) | 4 | 20 | Mendorong keranjang belanja kosong. |
| 10 (sedang) | 4 | 40 | Mendorong keranjang belanja yang terisi penuh. |
| 5 (ringan) | 10 | 50 | Mengerem sepeda secara mendadak. |
| 1000 (berat) | 2 | 2000 | Mobil sedan mulai bergerak dari keadaan diam. |
Arah Resultan Gaya dan Percepatan
Sebuah konsep krusial yang sering terlupakan adalah bahwa percepatan selalu searah dengan resultan gaya. Bayangkan sebuah kotak di lantai licin. Jika kita mendorong kotak itu ke kanan dengan gaya F, maka kotak akan mengalami percepatan a ke kanan. Arah panah gaya dan arah panah percepatan selalu sejajar dan searah. Jika gaya yang diberikan diperbesar, panjang panah percepatan juga akan bertambah.
Jika gaya diubah arahnya menjadi ke kiri, percepatan pun akan berbalik arah ke kiri, memperlambat dan akhirnya menggerakkan benda ke kiri.
Perbandingan dengan Hukum Newton Lainnya
Hukum Kedua tidak berdiri sendiri; ia melengkapi Hukum Pertama dan Ketiga. Hukum Pertama adalah kasus khusus dari Hukum Kedua di mana F = 0, yang berarti a = 0 (benda diam atau bergerak lurus beraturan). Sementara Hukum Ketiga menjelaskan asal-usul gaya itu sendiri (setiap aksi memiliki reaksi yang sama besar dan berlawanan arah). Hukum Kedua memanfaatkan gaya-gaya yang dijelaskan dalam Hukum Ketiga untuk menghitung percepatan yang dialami oleh sebuah benda tertentu.
Penerapan Hukum Newton Kedua dalam Kehidupan Sehari-hari
Prinsip F = m × a bukan hanya rumus abstrak di buku teks; ia aktif bekerja dalam setiap gerak yang kita lakukan. Dari aktivitas paling sederhana di dapur hingga teknologi canggih dalam otomotif, hukum ini menjadi penjelas utamanya. Memahaminya memberikan kita lensa baru untuk melihat dunia di sekitar kita.
Contoh Konkret dalam Aktivitas Sehari-hari
Berikut adalah lima situasi umum yang secara langsung mendemonstrasikan Hukum Newton Kedua:
- Mendorong Mobil yang Mogok: Mendapatkan mobil yang mogok untuk bergerak membutuhkan gaya yang sangat besar (F) karena massanya (m) yang sangat tinggi, sehingga percepatan (a) yang dihasilkan sangat kecil hingga terkadang tidak terlihat.
- Mengayunkan Pemukul Baseball: Pemukul yang lebih berat (m besar) membutuhkan otot yang lebih kuat (F besar) untuk diayunkan dengan percepatan (a) yang tinggi agar menghasilkan pukulan yang keras. Seorang pemain yang kuat dapat memberikan gaya yang lebih besar pada pemukul dengan massa yang sama, sehingga percepatan ayunan dan kekuatan pukulan lebih besar.
- Mengerem Sepeda: Saat kamu menekan rem, kamu menerapkan gaya gesek (F) pada velg ban. Gaya ini menimbulkan percepatan negatif (perlambatan atau a) pada sepeda, yang besarnya tergantung pada massa total kamu dan sepeda (m).
- Mengangkat Barang Belanjaan: Mengangkat karung beras (m besar) terasa lebih berat daripada mengangkat sekantung roti (m kecil) karena dibutuhkan gaya angkat (F) yang lebih besar untuk melawan percepatan gravitasi (a = g) yang sama.
- Memindahkan Furnitur: Menddorong lemari es (m besar) membutuhkan usaha jauh lebih berat daripada mendorong kursi kayu (m kecil) untuk mencapai percepatan yang sama. Jika kamu dan teman mendorong bersama, resultan gaya (F) yang lebih besar dihasilkan, sehingga percepatannya lebih besar.
Sebuah mobil yang sedang berakselerasi dari keadaan diam adalah contoh sempurna dari Hukum Newton Kedua. Mesin mobil menghasilkan gaya, yang diteruskan melalui transmisi dan poros penggerak untuk memutar roda. Gaya gesek antara ban dan jalan (F) kemudian mendorong mobil ke depan. Resultan gaya inilah (F_resultan) yang mengatasi inersia mobil (m) dan menyebabkan mobil mendapatkan percepatan (a) ke depan. Semakin besar gaya yang dihasilkan mesin (dalam rentang tertentu di mana gesekan masih dapat mendukung), semakin besar percepatannya. Namun, jika mobil tersebut adalah truk tangki yang penuh (m sangat besar), gaya mesin yang sama akan menghasilkan percepatan yang jauh lebih kecil.
Peran Massa dalam Memengaruhi Percepatan
Massa bertindak sebagai “penghambat” alami terhadap percepatan. Ia adalah ukuran kelembaman. Bayangkan memberikan dorongan yang sama persis (F sama) pada sebuah bola pingpong dan sebuah bola bowling. Bola pingpong dengan massa kecil akan melesat dengan percepatan sangat tinggi. Sebaliknya, bola bowling dengan massa besar hampir tidak bergerak, menunjukkan percepatan yang sangat rendah.
Ini membuktikan hubungan berbanding terbalik antara massa dan percepatan ketika gaya yang diberikan konstan.
Eksperimen Rumahan Sederhana
Kebenaran Hukum Newton Kedua dapat dibuktikan dengan eksperimen mudah menggunakan beberapa buku tebal, seutas benang, dan dua benda dengan massa berbeda (misalnya, sebuah penghapus dan sebuah pulpen). Ikatkan kedua benda pada kedua ujung benang. Letakkan benang di atas dua buku yang ditumpuk, sehingga kedua benda menggantung bebas di kedua sisi. Karena massanya berbeda, sistem akan bergerak—benda yang lebih berat akan turun dan menarik benda yang lebih ringan ke atas.
Ukur percepatannya dengan mencatat waktu yang dibutuhkan untuk bergerak dari atas ke bawah. Ulangi dengan menambahkan massa pada benda yang lebih ringan (misalnya dengan menempelkan klip kertas). Kamu akan melihat bahwa penambahan massa total sistem mengurangi percepatannya, sesuai dengan prediksi a = F / m.
Pentingnya dalam Desain Teknik
Dalam dunia teknik, pemahaman mendalam tentang F = m × a adalah kunci keselamatan dan efisiensi. Insinyur otomotif menggunakannya untuk menghitung kekuatan mesin yang dibutuhkan untuk mengakselerasi massa kendaraan hingga kecepatan tertentu, serta merancang sistem rem yang mampu menghasilkan perlambatan (percepatan negatif) yang cukup untuk menghentikan kendaraan dengan aman. Dalam konstruksi, hukum ini digunakan untuk menganalisis gaya-gaya yang akan dialami oleh jembatan atau gedung pencakar langit akibat angin atau gempa bumi, memastikan strukturnya memiliki massa dan kekuatan yang tepat untuk menahan percepatan yang ditimbulkan oleh gaya-gaya tersebut tanpa runtuh.
Analisis Gaya dan Diagram Benda Bebas
Untuk menerapkan Hukum Newton Kedua secara akurat pada situasi kompleks, kita membutuhkan alat yang memvisualisasikan semua gaya yang bekerja pada suatu benda. Alat itu disebut Diagram Benda Bebas (Free-Body Diagram). Diagram ini menyederhanakan objek menjadi sebuah titik (biasanya sebuah kotak) dan menggambarkan semua gaya yang bekerja padanya sebagai panah yang berasal dari titik tersebut, dengan panjang panah yang merepresentasikan besar gaya.
Langkah-Langkah Membuat Diagram Benda Bebas
Menggambar diagram benda bebas yang benar adalah proses sistematis yang memastikan tidak ada gaya yang terlewat atau salah diidentifikasi.
- Identifikasi Benda yang Dianalisis: Tentukan dengan tepat objek mana yang ingin kamu analisis geraknya.
- Gambarkan Benda sebagai Titik: Gambarlah sebuah titik sederhana atau kotak kecil untuk merepresentasikan benda tersebut. Ini membantu fokus pada gaya, bukan pada bentuk benda.
- Tentukan dan Gambarkan Semua Gaya yang Bekerja: Ini adalah langkah kritis. Identifikasi setiap gaya yang berinteraksi dengan benda. Gaya-gaya umum meliputi:
- Gaya berat (W): selalu vertikal ke bawah.
- Gaya normal (N): gaya dari permukaan yang tegak lurus terhadap permukaan sentuh.
- Gaya tegangan (T): dari tali, kabel, atau string.
- Gaya gesek (f): sejajar dengan permukaan sentuh dan berlawanan arah dengan kecenderungan gerak.
- Gaya yang diberikan (F): gaya langsung dari dorongan atau tarikan.
Gambarkan setiap gaya sebagai panah yang berasal dari titik, dengan arah yang benar.
- Beri Label pada Setiap Gaya: Beri nama setiap panah dengan simbol standar (seperti W, N, F_push, f_k) untuk kejelasan.
- Pilih Sistem Koordinat: Tentukan arah sumbu x dan y. Biasanya, sumbu x sejajar dengan bidang gerak yang diharapkan. Ini akan memudahkan perhitungan vektor.
Analisis Skenario Gaya Multiple
Bayangkan sebuah kotak dengan massa 10 kg ditarik di atas lantai kasar dengan gaya 50 N yang membentuk sudut 30 derajat di atas horizontal. Gaya gesek kinetis yang melawan gerakan adalah 10 N. Untuk mencari resultan gaya, kita uraikan gaya tarik 50 N ke dalam komponen x dan y. Komponen x (F_x) = 50 N
– cos(30°) ≈ 43.3 N.
Komponen y (F_y) = 50 N
– sin(30°) = 25 N ke atas. Gaya ke atas ini mengurangi gaya normal. Resultan gaya pada sumbu x adalah F_resultan,x = 43.3 N (ke kanan)
-10 N (gesekan ke kiri) = 33.3 N. Resultan gaya pada sumbu y adalah F_resultan,y = Gaya Normal + 25 N – Berat (100 N) = 0 (karena tidak ada gerak vertikal).
Jadi, resultan gaya total adalah 33.3 N ke arah horizontal.
Jenis-Jenis Gaya dan Pengaruhnya
Pemahaman tentang karakteristik setiap jenis gaya sangat penting untuk melakukan analisis yang tepat.
Hukum Newton Kedua, F = m × a, menjelaskan bagaimana resultan gaya memengaruhi percepatan suatu benda. Prinsip kalkulasi yang presisi ini juga diterapkan dalam operasi matriks, seperti saat Menentukan A⁻¹ + BC untuk Matriks A, B, dan C , di mana akurasi menentukan hasil akhir. Demikian halnya dalam fisika, ketepatan menghitung besar resultan gaya adalah kunci untuk memprediksi dinamika gerak secara absolut.
| Jenis Gaya | Simbol | Arah | Efek pada Resultan Gaya dan Percepatan |
|---|---|---|---|
| Gaya Berat | W | Selalu menuju pusat bumi (vertikal ke bawah) | Selalu berkontribusi pada komponen vertikal resultan gaya. Menyebabkan percepatan gravitasi. |
| Gaya Normal | N | Tegak lurus menjauhi permukaan sentuh | Biasanya menyeimbangkan komponen gaya lain untuk mencegah percepatan ke arah permukaan. |
| Gaya Gesek Kinetis | f_k | Berlawanan dengan arah gerak benda | Selalu mengurangi resultan gaya dalam arah gerak, sehingga mengurangi percepatan atau menyebabkan perlambatan. |
| Gaya Tegangan | T | Menjauhi benda, sepanjang tali | Menarik benda dan memberikan kontribusi pada resultan gaya sesuai arah tali. |
| Gaya Dorong/Tarik | F_app | Tergantung pada sumbernya | Langsung menambah atau mengurangi resultan gaya pada arah yang ditentukan. |
Menghitung Percepatan dengan Resultan Gaya
Dari contoh kotak sebelumnya, kita telah mendapatkan resultan gaya pada sumbu x sebesar 33.3 N. Massa kotak adalah 10 kg. Menerapkan F = m × a, kita dapat menghitung percepatannya: a = F / m = 33.3 N / 10 kg = 3.33 m/s². Arah percepatan ini searah dengan resultan gaya, yaitu ke kanan (sumbu x positif).
Kasus Khusus Resultan Gaya Nol
Ketika resultan gaya total yang bekerja pada sebuah benda adalah nol (ΣF = 0), maka menurut F = m × a, percepatannya juga nol (a = 0). Ini membawa kita langsung kembali ke Hukum Newton Pertama: benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan terus bergerak dengan kecepatan konstan dalam garis lurus. Keadaan ini disebut keadaan setimbang.
Misalnya, sebuah buku yang diam di atas meja memiliki resultan gaya nol karena gaya normal ke atas (N) menyeimbangkan gaya berat ke bawah (W).
Pemecahan Masalah dan Latihan Soal Hukum Newton Kedua: Hukum Newton Kedua: Besar Resultan Gaya
Menguasai Hukum Newton Kedua membutuhkan latihan dalam menerapkan rumus F = m × a ke dalam berbagai skenario masalah. Kemampuan untuk mengidentifikasi gaya, menggambar diagram benda bebas, dan memecahkan persamaan adalah kunci utamanya.
Contoh Soal dengan Tingkat Kesulitan Berbeda
Source: co.id
Berikut adalah tiga soal yang disusun dari mudah hingga menantang, dilengkapi dengan pembahasan langkah demi langkah.
Soal Mudah: Sebuah benda bermassa 5 kg dikenai gaya konstan 20 N. Berapakah percepatan yang dialami benda tersebut?
Penyelesaian:
Diketahui: m = 5 kg, F = 20 N
Ditanya: a = ?
Rumus: F = m × a → a = F / m
Substitusi: a = 20 N / 5 kg = 4 m/s²
Jadi, percepatan benda adalah 4 m/s².
Soal Sedang: Sebuah mobil mainan bermassa 2 kg ditarik dengan gaya 15 N yang membentuk sudut 37° di atas lantai horizontal yang licin. Hitunglah percepatan mobil mainan tersebut! (cos 37° ≈ 0.8)
Penyelesaian:
Diketahui: m = 2 kg, F = 15 N, θ = 37°, lantai licin (artinya tidak ada gesekan)
Ditanya: a = ?
Karena lantai licin, hanya komponen horizontal gaya (F_x) yang menyebabkan percepatan.
Hukum Newton Kedua, F = m × a, menjelaskan percepatan suatu benda berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja padanya. Prinsip ini, meski tampak abstrak, bahkan berlaku di puncak ekstrem seperti Gunung Jaya Wijaya: Titik Tertinggi dan Terdingin di Indonesia , di mana gaya gravitasi dan gesekan angin memengaruhi setiap gerakan pendaki. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang resultan gaya menjadi kunci fundamental dalam menganalisis dinamika gerak di segala kondisi.
F_x = F × cosθ = 15 N × 0.8 = 12 N.
Gunakan F_resultan,x = m × a → 12 N = 2 kg × a
a = 12 N / 2 kg = 6 m/s² (ke arah horizontal).
Soal Sulit: Dua balok dihubungkan dengan tali ringan dan tak bermassa. Balok A (4 kg) berada di atas meja licin, sedangkan balok B (6 kg) menggantung vertikal di ujung meja. Katrol di ujung meja dianggap ringan dan licin. Tentukan percepatan sistem dan tegangan tali!
Penyelesaian:
Langkah 1: Gambar diagram benda bebas untuk setiap balok.
Untuk Balok A (di meja): Gaya yang bekerja adalah Tegangan tali (T) ke kanan.
Karena meja licin, tidak ada gesekan.
Untuk Balok B (menggantung): Gaya yang bekerja adalah Tegangan tali (T) ke atas dan Berat (W_b = m_b × g = 60 N) ke bawah.
Langkah 2: Tulis persamaan Hukum Newton Kedua untuk setiap balok. Asumsikan sistem bergerak searah berat balok B (ke bawah).
Untuk Balok A (sumbu x): ΣF_x = m_a × a → T = 4 × a …(Persamaan 1)
Untuk Balok B (sumbu y): ΣF_y = m_b × a → W_b – T = 6 × a → 60 – T = 6 × a …(Persamaan 2)
Langkah 3: Substitusikan Persamaan 1 ke Persamaan 2.
60 – (4a) = 6a
60 = 10a
a = 6 m/s²
Langkah 4: Substitusikan nilai a ke Persamaan 1 untuk mencari T.
T = 4 × 6 = 24 N
Jadi, percepatan sistem adalah 6 m/s² dan tegangan talinya adalah 24 N.
Konversi Satuan Gaya
Meskipun Sistem Internasional (SI) menggunakan Newton (N), satuan gaya lain seperti dyne (sistem CGS) atau pound-force (lbf) masih digunakan. Konversi dapat dilakukan menggunakan hubungan F = m × a. Sebagai contoh, 1 Newton didefinisikan sebagai gaya yang dibutuhkan untuk memberikan percepatan 1 m/s² kepada massa 1 kg. Sementara 1 dyne adalah gaya untuk memberikan percepatan 1 cm/s² kepada massa 1 gram.
Karena 1 kg = 1000 gram dan 1 m/s² = 100 cm/s², maka 1 N = 1 kg⋅m/s² = (1000 g) × (100 cm/s²) = 100,000 dyne = 10⁵ dyne.
Kesalahan Umum dalam Pemecahan Masalah
Beberapa jebakan sering menjerat siswa ketika menyelesaikan soal Hukum Newton Kedua:
- Mencampuradukkan Massa dan Berat: Massa (m) adalah besaran skalar dalam kg, sedangkan berat (W) adalah gaya dalam Newton yang dihitung dari W = m × g.
- Melupakan bahwa F adalah Resultan Gaya: Kesalahan terbesar adalah memasukkan hanya satu gaya ke dalam rumus F = m × a, padahal F adalah jumlah total semua gaya (resultan).
- Tidak Menguraikan Gaya yang Miring: Gaya yang bekerja pada sudut harus selalu diuraikan menjadi komponen x dan y sebelum dimasukkan ke dalam persamaan.
- Salah Menganalisis Sistem Benda Terhubung: Pada sistem multiple benda, setiap benda harus dianalisis secara terpisah dengan diagram benda bebasnya sendiri.
Skenario Problem-Based Learning, Hukum Newton Kedua: Besar Resultan Gaya
Seorang insinyur keselamatan sedang menganalisis kecelakaan. Sebuah kotak logam bermassa 50 kg ditemukan tergelincir sejauh 20 meter di lantai gudang yang kasar sebelum akhirnya berhenti. Dari CCTV, diperkirakan kotak itu bergerak dengan kecepatan awal 4 m/s saat mulai tergelincir. Tantangannya adalah membantu insinyur tersebut memperkirakan besar gaya gesek rata-rata yang bekerja untuk menghentikan kotak tersebut. Peserta harus menggunakan persamaan kinematika untuk mencari perlambatan (a) kotak terlebih dahulu (misalnya, menggunakan v² = v₀² + 2aΔx), kemudian menerapkan Hukum Newton Kedua (F_gesek = m × a) untuk menghitung besar gaya gesek.
Hukum Newton Kedua menyatakan bahwa percepatan benda berbanding lurus dengan resultan gaya yang bekerja padanya. Prinsip fundamental ini, misalnya, menjelaskan fenomena Gaya Angkat Benda Volume 2,5 m³ di Air Laut , di mana selisih antara gaya apung dan berat benda menghasilkan resultan gaya yang menentukan apakah benda tersebut terapung, melayang, atau tenggelam, membuktikan relevansi hukum ini dalam dinamika fluida.
Panduan Identifikasi Besaran dalam Soal Cerita
Menganalisis soal cerita dengan efektif memerlukan strategi yang jelas:
- Baca soal dengan cermat: Garis bawahi semua angka dan informasi fisik yang diberikan (massa, gaya, kecepatan, jarak, dll.).
- Identifikasi benda yang dianalisis: Tentukan dengan pasti objek mana yang menjadi fokus soal.
- Tentukan besaran yang ditanya: Apakah percepatan (a)? Tegangan tali (T)? Gaya gesek (f)? Massa (m)?
- Gambarkan diagram benda bebas: Visualisasi ini penting untuk mengidentifikasi semua gaya yang bekerja dan arahnya.
- Tuliskan besaran yang diketahui dan yang ditanya: Buat daftar singkat. Contoh: Diketahui: m = 10 kg, F = 25 N, θ = 30°. Ditanya: a = ?
- Pilih rumus yang tepat: Rumus utama adalah ΣF = m × a. Jika gaya tidak sejajar, uraikan menjadi komponen dan terapkan rumus pada setiap sumbu.
Penutupan Akhir
Dengan demikian, Hukum Newton Kedua tentang Besar Resultan Gaya bukan sekadar persamaan matematis, melainkan sebuah lensa yang memperjelas cara kita memandang gerak. Dari hal sederhana seperti menendang bola hingga kompleksitas penerbangan roket ke luar angkasa, prinsip F = m × a tetap berlaku dan tak terbantahkan. Memahami hukum ini membuka pintu untuk menganalisis dinamika gerak secara lebih kritis dan aplikatif, menegaskan bahwa fisika adalah ilmu yang hidup dan terus bergerak bersama setiap percepatan yang kita ciptakan.
Pertanyaan Umum yang Sering Muncul
Apakah Hukum Newton Kedua masih berlaku di luar angkasa?
Ya, absolut. Hukum Newton Kedua adalah hukum fundamental fisika yang berlaku di mana saja, termasuk di luar angkasa yang hampa udara. Yang berubah adalah tidak adanya gaya gesek udara, sehingga benda dapat bergerak dengan percepatan konstan lebih mudah.
Bagaimana jika resultan gaya pada sebuah benda adalah nol?
Jika resultan gaya bernilai nol, maka menurut F = m × a, percepatan benda juga nol. Ini berarti benda tersebut akan tetap diam atau terus bergerak dengan kecepatan konstan lurus, yang sejalan dengan Hukum Newton Pertama tentang kelembaman.
Mengapa satuan gaya disebut Newton?
Satuan gaya dalam Sistem Internasional (SI) dinamai Newton (N) sebagai penghormatan kepada Sir Isaac Newton, ilmuwan yang merumuskan hukum-hukum gerak ini. Satu Newton didefinisikan sebagai gaya yang dibutuhkan untuk memberikan percepatan 1 m/s² kepada massa 1 kg.
Apakah berat badan (weight) sama dengan massa dalam rumus F = m × a?
Tidak. Massa (m) adalah jumlah materi dalam suatu benda dan satuannya kilogram (kg), sedangkan berat (W) adalah gaya yang dialami benda akibat gravitasi dan dihitung dengan rumus W = m × g, di mana g adalah percepatan gravitasi. Jadi, berat adalah aplikasi spesifik dari Hukum Newton Kedua.