Arus listrik pada kutup positif dan negatif dicelup dalam air – Arus listrik pada kutub positif dan negatif dicelup dalam air bukan sekadar percikan eksperimen sekolah yang menggelembung, melainkan pintu masuk ke dunia mikro yang penuh drama. Bayangkan dua batang logam yang tiba-tiba menjadi panggung bagi pertunjukan besar: ion-ion yang berlarian, elektron yang menari-nari, dan molekul air yang dengan gagah berani terpecah belah. Fenomena yang dikenal sebagai elektrolisis ini adalah contoh nyata bagaimana energi listrik berubah wujud menjadi energi kimia, menciptakan sesuatu yang sama sekali baru dari sesuatu yang biasa kita minum setiap hari.
Proses ini mengungkap cerita menarik tentang hukum alam yang bekerja diam-diam di balik gelembung-gelembung gas yang naik ke permukaan.
Secara ilmiah, ketika dua elektroda terhubung ke sumber arus searah dicelupkan ke dalam air, sebuah transformasi kimiawi yang teratur segera dimulai. Kutub positif (anoda) akan menarik ion negatif seperti OH-, di mana terjadi reaksi oksidasi yang menghasilkan gas oksigen. Sementara itu, kutub negatif (katoda) menjadi tempat tujuan ion H+ untuk mengalami reduksi dan berubah menjadi gas hidrogen. Peristiwa ini tidak hanya menghasilkan dua gas dengan sifat yang berbeda, tetapi juga menciptakan perubahan pH lokal di sekitar setiap elektroda, membentuk lingkungan asam dan basa yang mini.
Kecepatan dan efisiensi pertunjukan kimia ini sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari jenis logam elektroda, kehadiran zat terlarut, hingga besarnya tegangan yang diberikan.
Fenomena Elektrolisis Air yang Terinduksi Arus Searah pada Dua Batang Logam Berbeda
Source: caramesin.com
Bayangkan dua batang logam, misalnya satu dari besi dan satu lagi dari tembaga, yang masing-masing terhubung ke kutub positif dan negatif sebuah baterai. Ketika kita celupkan ujungnya ke dalam segelas air, sesuatu yang menarik mulai terjadi: gelembung-gelembung kecil muncul di permukaan logam. Ini bukan sekadar gelembung udara biasa, melainkan hasil dari sebuah proses kimiawi yang dipicu oleh listrik, yang kita kenal sebagai elektrolisis.
Percobaan sederhana arus listrik pada kutub positif dan negatif yang dicelupkan dalam air, di mana reaksi elektrolisis terjadi, mengingatkan kita pada prinsip sebab-akibat yang juga mengatur pasar. Mirip seperti hubungan antara Fungsi Penawaran Roti: Harga vs Jumlah Terjual , di mana kenaikan harga mendorong peningkatan jumlah barang yang ditawarkan. Begitu pula, beda potensial listrik yang lebih besar akan mendorong aliran arus yang lebih kuat dalam air, menunjukkan dinamika yang saling terkait.
Pada dasarnya, air murni adalah penghantar listrik yang sangat buruk karena molekul H₂O-nya netral. Namun, air selalu mengandung sedikit ion H⁺ dan OH⁻ dari proses disosiasi diri air. Ion-ion inilah yang menjadi “kendaraan” bagi arus listrik untuk mengalir di dalam air.
Prosesnya dimulai ketika elektron dari kutub negatif baterai (katoda) membanjiri logam yang terhubung ke sana. Di permukaan logam ini, ion H⁺ yang ada di air tertarik dan menangkap elektron tersebut. Peristiwa ini disebut reduksi, di mana ion hidrogen “direduksi” menjadi gas hidrogen (H₂). Reaksinya: 2H⁺(aq) + 2e⁻ → H₂(g). Sementara itu, di kutub positif (anoda), logam kehilangan elektron.
Elektron-elektron ini ditarik kembali ke baterai. Kekurangan elektron ini membuat anoda “lapar” akan elektron, sehingga ia akan mengambilnya dari spesies kimia di sekitarnya. Dalam air murni, yang paling mudah dioksidasi adalah ion OH⁻. Ion OH⁻ kemudian melepaskan elektron ke anoda dan terurai menjadi gas oksigen dan air. Reaksi oksidasinya: 4OH⁻(aq) → O₂(g) + 2H₂O(l) + 4e⁻.
Pernah lihat percobaan arus listrik di air saat kutub positif dan negatif dicelupkan? Ion-ion dalam air bergerak membawa muatan, mirip prinsip distribusi barang dalam dunia bisnis. Nah, konsep Pengertian Distribusi dan Distributor ini intinya adalah proses penyaluran dari titik A ke B, layaknya elektron dan ion yang “didistribusikan” oleh beda potensial listrik. Jadi, dalam air, arus listrik pun mengalir karena ada mekanisme distribusi partikel bermuatan yang teratur.
Perbandingan Reaksi di Anoda dan Katoda
Dua reaksi yang berjalan simultan ini menciptakan dinamika yang unik di sekitar setiap elektroda. Di katoda, konsumsi ion H⁺ menyebabkan konsentrasi OH⁻ relatif meningkat, sehingga lingkungan di sekitarnya menjadi lebih basa (pH naik). Sebaliknya, di anoda, konsumsi ion OH⁻ membuat lingkungan menjadi lebih asam (pH turun) karena kelebihan ion H⁺. Jika kita menggunakan elektroda inert seperti platina atau grafit, reaksi ini akan berjalan murni.
Namun, jika elektroda terbuat dari logam aktif seperti besi atau seng, logam anoda itu sendiri bisa teroksidasi dan larut ke dalam air, mengubah produk reaksi yang dihasilkan.
| Parameter | Elektroda Negatif (Katoda) | Elektroda Positif (Anoda) |
|---|---|---|
| Jenis Reaksi | Reduksi | Oksidasi |
| Spesies yang Bereaksi | Ion H⁺ (dari air) | Ion OH⁻ (dari air) atau logam elektroda |
| Produk Gas Utama | Hidrogen (H₂) | Oksigen (O₂) atau gas lain jika elektroda larut |
| Perubahan pH Lokal | Meningkat (menjadi basa) | Menurun (menjadi asam) |
Faktor yang Mempengaruhi Laju Produksi Gas
Kecepatan munculnya gelembung gas tidak konstan; ia bergantung pada beberapa kondisi eksperimen. Memahami faktor-faktor ini memungkinkan kita mengontrol reaksi elektrolisis, baik untuk keperluan demonstrasi di kelas maupun aplikasi industri.
- Jenis Elektroda: Elektroda inert (seperti grafit atau platina) memungkinkan penguraian air murni. Logam aktif (seperti besi atau seng) akan teroksidasi lebih dulu daripada air, sehingga menghasilkan gas yang berbeda (misalnya klorin jika ada ion klorida) atau justru membuat elektroda terkikis.
- Konsentrasi Larutan: Penambahan sedikit elektrolit (asam, basa, atau garam) meningkatkan jumlah ion penghantar, sehingga arus listrik mengalir lebih kuat dan gelembung gas muncul lebih cepat.
- Besarnya Tegangan: Tegangan minimum untuk menguraikan air murni secara teoritis adalah 1,23 Volt. Dalam praktiknya, diperlukan tegangan lebih tinggi (biasanya >2V) untuk mengatasi hambatan dalam larutan dan di permukaan elektroda. Semakin tinggi tegangan (hingga batas tertentu), arus semakin besar dan reaksi berlangsung lebih cepat.
- Luas Permukaan Elektroda: Elektroda dengan permukaan yang lebih luas menyediakan lebih banyak situs untuk reaksi terjadi, sehingga produksi gas lebih efisien.
Simulasi Visual Aliran Muatan dan Transformasi Energi dalam Medium Air
Mari kita visualisasikan perjalanan energi dalam percobaan sederhana ini. Bayangkan sebuah baterai 9 Volt sebagai “pompa elektron”. Dari kutub negatif baterai, elektron-elektron terdorong keluar, mengalir deras melalui kabel tembaga menuju batang logam yang tercelup di air—katoda. Elektron-elektron ini menumpuk di permukaan logam, menciptakan area yang sangat kaya muatan negatif. Di dalam air, ion-ion positif (H⁺) yang tersebar secara acak tiba-tiba merasakan tarikan kuat dari katoda ini.
Mereka pun berenang menuju katoda, menembus lapisan air di sekitarnya.
Saat ion H⁺ menyentuh permukaan katoda, ia menangkap satu elektron. Dua atom hidrogen yang telah netral ini kemudian bergabung membentuk molekul gas hidrogen (H₂). Gelembung kecil pun mulai terbentuk, menempel di permukaan logam hingga cukup besar untuk terlepas dan mengambang ke permukaan air. Sementara itu, di ujung rangkaian lainnya, elektron-elektron dari batang logam kedua (anoda) tersedot keluar menuju kutub positif baterai.
Penarikan ini membuat permukaan anoda menjadi sangat positif, menarik ion-ion negatif (OH⁻) dari dalam air. Ketika ion OH⁻ menyumbangkan elektronnya ke anoda, ia terurai, melepaskan gas oksigen.
Transformasi Energi Listrik Menjadi Energi Kimia dan Panas
Seluruh proses ini pada hakikatnya adalah perubahan bentuk energi. Energi listrik dari baterai dikonversi menjadi energi kimia yang tersimpan dalam ikatan molekul gas hidrogen dan oksigen. Inilah prinsip dasar penyimpanan energi terbarukan: kelebihan listrik dari panel surya digunakan untuk elektrolisis air, menghasilkan hidrogen yang bisa disimpan dan digunakan kembali nanti dalam sel bahan bakar. Namun, konversi ini tidak pernah 100% efisien.
Sebagian energi listrik hilang berubah menjadi energi panas. Hal ini disebabkan oleh hambatan listrik (resistansi) pada kabel, sambungan, dan terutama di dalam larutan air itu sendiri. Semakin tinggi konsentrasi ion, hambatan semakin rendah dan panas yang dihasilkan pun lebih sedikit. Dalam percobaan dengan tegangan tinggi atau arus besar, kita bahkan bisa merasakan gelas atau elektroda menjadi hangat, bukti nyata dari disipasi energi ini.
Konsep Overpotensial: Secara teori, air terurai pada 1,23 Volt. Namun dalam dunia nyata, kita butuh tegangan lebih besar, misalnya 1,5 hingga 2 Volt, bahkan lebih untuk elektroda tertentu. Selisih tegangan tambahan ini disebut overpotensial. Ia muncul karena dibutuhkan “dorongan ekstra” untuk memulai reaksi di permukaan elektroda, mengatasi hambatan kinetika reaksi dan formasi gelembung gas. Overpotensial sangat bergantung pada material elektroda dan kondisi permukaannya. Inilah alasan utama efisiensi elektroliser komersial selalu kurang dari 100%, karena sebagian energi terbuang untuk mengatasi overpotensial ini.
Eksperimen Keamanan dan Variasi Elektrolit dalam Konteks Pengajaran Sains Dasar
Melakukan elektrolisis di rumah atau lab sekolah adalah cara yang mengasyikkan untuk belajar elektrokimia. Namun, seperti semua eksperimen sains, keselamatan harus jadi prioritas utama. Risikonya mungkin terlihat kecil, tetapi arus listrik dan gas yang dihasilkan bisa berbahaya jika diabaikan. Selain itu, dengan memodifikasi air murni menjadi berbagai larutan elektrolit, kita bisa menyaksikan perbedaan reaksi yang dramatis, memberikan pelajaran tentang konduktivitas dan deret elektrokimia.
Identifikasi Risiko dan Langkah Pencegahan, Arus listrik pada kutup positif dan negatif dicelup dalam air
- Syok Listrik: Gunakan sumber tegangan rendah (baterai 9V atau power supply DC dengan voltase di bawah 24V). Pastikan semua sambungan kabel rapat dan tidak ada kabel yang terkelupas. Jangan sentuh elektroda atau air saat rangkaian hidup.
- Produksi Gas Mudah Terbakar: Hidrogen yang dihasilkan di katoda sangat mudah terbakar. Lakukan eksperimen di area berventilasi baik, jauh dari sumber api, percikan, atau panas. Jangan mengumpulkan gas dalam wadah tertutup rapat tanpa pengawasan ahli.
- Kontaminasi Logam: Jika menggunakan elektroda logam aktif (selain grafit atau platina), logam dapat larut dan mencemari air. Jangan meminum atau menggunakan air hasil elektrolisis untuk hal lain. Buanglah sesuai prosedur limbah cair yang aman.
- Cairan Tumpah: Letakkan gelas atau wadah elektrolisis di atas nampan atau alas untuk menampung tumpahan.
Pengaruh Penambahan Asam, Basa, atau Garam
Air destilata hampir tidak menghantar listrik, sehingga gelembung gas muncul sangat lambat. Menambahkan sedikit zat terlarut mengubah segalanya. Asam (seperti cuka atau asam sulfat encer) meningkatkan ion H⁺, sehingga reaksi produksi hidrogen di katoda berjalan sangat lancar. Basa (seperti soda kue/NaHCO₃ atau NaOH) meningkatkan ion OH⁻, yang mempercepat produksi oksigen di anoda. Penambahan garam seperti natrium klorida (NaCl) justru bisa mengubah produk reaksi secara mendasar.
Ion klorida (Cl⁻) lebih mudah dioksidasi daripada ion OH⁻, sehingga di anoda yang dihasilkan adalah gas klorin (Cl₂) atau hipoklorit, bukan oksigen murni. Ini menunjukkan bagaimana sifat ion dalam larutan menentukan hasil akhir elektrolisis.
| Jenis Air/ Larutan | Kecepatan Reaksi | Produk Sampingan Potensial | Kejelasan Visual Gelembung |
|---|---|---|---|
| Air Destilata | Sangat lambat | Minimal (jika elektroda inert) | Jarang, sulit diamati |
| Air Keran | Sedang | Bergantung mineral; bisa mengandung klorin, logam terlarut | Terlihat, mungkin tidak merata |
| Air + Elektrolit (contoh: Na₂SO₄) | Cepat | Minimal (SO₄²⁻ sulit teroksidasi) | Banyak, konstan, dan jelas di kedua elektroda |
| Air + Garam (contoh: NaCl) | Sangat Cepat | Gas Klorin di anoda (berbahaya!), mungkin NaOH di katoda | Sangat banyak, terutama di anoda |
Implikasi Korosi Logam Elektroda dan Aplikasi dalam Teknologi Pemurnian
Pernah memperhatikan bahwa dalam percobaan elektrolisis, batang logam yang terhubung ke kutub positif lama-kelamaan menipis, berubah warna, atau larut? Itu bukan sekadar keausan biasa, melainkan korosi elektrokimia yang dipercepat. Fenomena ini, meski merugikan untuk elektroda kita, justru menjadi dasar dari teknologi penting seperti penyepuhan (electroplating) dan pemurnian logam. Semuanya bermuara pada deret elektrokimia, yang menentukan kecenderungan suatu logam untuk melepaskan elektron (teroksidasi) atau menerima elektron (tereduksi).
Logam yang lebih aktif dalam deret elektrokimia, seperti seng atau besi, akan lebih mudah teroksidasi. Ketika logam seperti besi menjadi anoda dalam larutan elektrolit, ia akan dengan rela melepaskan elektron menjadi ion Fe²⁺ dan larut ke dalam air. Reaksi oksidasi air (menghasilkan oksigen) menjadi terhambat karena logamnya sendiri yang lebih mudah bereaksi. Sebaliknya, logam kurang aktif seperti tembaga, ketika menjadi anoda dalam larutan yang sesuai, juga akan larut secara terkendali.
Logam inert seperti platina atau grafit hampir tidak terpengaruh; mereka memaksa reaksi oksidasi air terjadi. Pemilihan material elektroda sangat krusial: untuk menghasilkan gas murni, gunakan elektroda inert; untuk proses penyepuhan, gunakan logam yang ingin dilapisi sebagai anoda.
Aplikasi dalam Penyepuhan dan Pemurnian Logam
Prinsip anoda larut dan katoda menerima lapisan ini dimanfaatkan dalam electroplating. Misalnya, untuk menyepuh sendok besi dengan tembaga, kita jadikan batang tembaga murni sebagai anoda, sendok besi sebagai katoda, dan larutan garam tembaga (seperti CuSO₄) sebagai elektrolit. Saat arus mengalir, tembaga dari anoda larut menjadi ion Cu²⁺, kemudian ion ini bergerak ke katoda dan tereduksi menjadi logam tembaga yang melapisi permukaan sendok secara merata.
Prosedur Dasar Penyepuhan (Electroplating):
1. Bersihkan benda yang akan disepuh (katoda) secara menyeluruh dari minyak dan karat.
2. Siapkan anoda dari logam pelapis yang murni (misalnya, tembaga untuk lapisan tembaga).
3.Buat larutan elektrolit yang mengandung ion logam pelapis (misalnya, larutan tembaga sulfat).
4. Susun rangkaian: sumber DC (+) ke anoda, sumber DC (-) ke katoda (benda).
5. Celupkan kedua elektroda ke dalam larutan, hidupkan arus dengan tegangan rendah.6. Amati prosesnya; lapisan akan terbentuk secara bertahap. Waktu menentukan ketebalan lapisan.
7. Matikan arus, angkat benda, cuci, dan keringkan.
Pengaruh Jarak dan Luas Permukaan Elektroda
Dua faktor fisik yang sering diabaikan namun sangat berpengaruh adalah jarak antar elektroda dan luas permukaan yang tercelup. Jarak yang terlalu dekat berisiko menyebabkan gas dari satu elektroda bercampur (campuran H₂ dan O₂ yang berbahaya), sementara jarak terlalu jauh meningkatkan resistansi larutan. Air atau larutan elektrolit memiliki resistivitas tertentu; semakin jauh jaraknya, semakin besar hambatan listriknya (R = ρ
– L/A, di mana L adalah jarak).
Hambatan yang besar akan membatasi arus yang mengalir menurut Hukum Ohm (V = I*R), sehingga laju reaksi elektrolisis pun menurun. Di sisi lain, luas permukaan elektroda (A) berbanding terbalik dengan hambatan. Elektroda dengan permukaan yang lebih luas (misalnya pelat lebar dibandingkan kawat) menurunkan hambatan, memungkinkan arus lebih besar mengalir, dan pada akhirnya mempercepat reaksi secara signifikan.
Dinamika Gelembung Gas dan Pengukuran Kuantitatif Hasil Elektrolisis
Mengamati gelembung yang naik dari elektroda bisa sangat memuaskan, tetapi bagi seorang peneliti muda, tahap itulah yang paling informatif. Gelembung di kedua kutub punya karakter yang berbeda. Biasanya, gelembung hidrogen di katoda (negatif) lebih banyak dan terbentuk lebih cepat dibandingkan gelembung oksigen di anoda (positif). Ini karena setiap molekul H₂ hanya membutuhkan 2 elektron untuk terbentuk, sementara O₂ membutuhkan 4 elektron.
Ukuran gelembungnya pun bisa berbeda, bergantung pada sifat permukaan elektroda dan tegangan permukaan air. Dengan metode pengumpulan yang tepat, kita bisa menangkap dan menguji gas-gas ini, membuktikan bahwa yang kita hasilkan benar-benar hidrogen dan oksigen.
Untuk menguji hidrogen, metode “pop test” klasik sangat efektif: kumpulkan gas dalam tabung reaksi kecil yang terbalik, lalu dekatkan ke nyala api lilin. Hidrogen akan menghasilkan suara letupan yang khas (“pop”). Untuk oksigen, gunakan batang kayu yang membara. Nyala bara yang dimasukkan ke dalam tabung berisi oksigen akan menyala lebih terang. Pengamatan kualitatif ini menjadi gerbang menuju pengukuran kuantitatif yang didasarkan pada Hukum Faraday.
Hubungan Arus Listrik dan Volume Gas Teoritis
Hukum Faraday menghubungkan jumlah listrik yang lewat dengan jumlah zat yang bereaksi di elektroda. Intinya, muatan listrik (dalam Coulomb) sebanding dengan mol elektron yang ditransfer, yang selanjutnya sebanding dengan mol gas yang dihasilkan. Dengan mengetahui besarnya arus (I) dalam Ampere dan waktu (t) dalam detik, kita bisa memprediksi volume gas yang dihasilkan pada kondisi suhu dan tekanan tertentu.
| Arus (Ampere) | Waktu (Detik) | Muatan (Coulomb, Q=I×t) | Volume H₂ Teoritis* (mL) |
|---|---|---|---|
| 0.1 | 300 | 30 | ~3.5 |
| 0.5 | 300 | 150 | ~17.4 |
| 1.0 | 300 | 300 | ~34.8 |
| 1.0 | 600 | 600 | ~69.6 |
*Volume dihitung pada kondisi STP (0°C, 1 atm) dengan asumsi efisiensi 100%. Dalam praktik, volume aktual akan lebih kecil karena overpotensial dan kebocoran gas.
Teknik Pengukuran Perbandingan Volume Gas
Membuktikan bahwa volume hidrogen dua kali lebih besar daripada volume oksigen adalah eksperimen yang elegan. Kita bisa menggunakan alat sederhana seperti tabung ukur yang terbalik di atas elektroda dalam wadah air. Kunci dari teknik ini adalah memastikan pengumpulan gas yang terpisah dan akurat.
- Alat Ukur Gas Terbalik: Gunakan dua tabung ukur atau buret yang diisi penuh dengan air, lalu dibalik dalam bak berisi air. Tempatkan ujung setiap elektroda di bawah mulut tabung yang terbalik tersebut. Gas yang dihasilkan akan mengisi tabung dan menggantikan air di dalamnya.
- Mulai dari Kondisi Awal Sama: Pastikan kedua tabung berisi air hingga penuh dan tidak ada gelembung udara saat memulai eksperimen. Hidupkan arus secara bersamaan.
- Amati dan Catat: Setelah waktu tertentu, matikan arus. Baca volume gas di setiap tabung. Dalam elektrolisis air murni dengan elektroda inert, volume gas di tabung katoda (H₂) akan hampir persis dua kali volume di tabung anoda (O₂).
- Kontrol Variabel: Lakukan percobaan dengan arus konstan dan pastikan elektroda memiliki luas permukaan yang sebanding untuk mendapatkan hasil yang konsisten. Perbedaan suhu dan tekanan lokal juga perlu diperhatikan.
Penutupan Akhir
Dari sekadar gelembung di dalam gelas hingga aplikasi industri seperti penyepuhan logam dan pemurnian material, prinsip elektrolisis air membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dasar memiliki dampak yang sangat nyata. Eksperimen ini mengajarkan lebih dari sekadar reaksi kimia; ia mengajarkan tentang aliran energi, transformasi materi, dan pentingnya keamanan dalam bereksplorasi. Setiap gelembung gas yang naik adalah bukti nyata dari Hukum Faraday yang bekerja, sebuah pengingat elegan tentang hubungan kuantitatif antara listrik dan reaksi kimia.
Dengan memahami dinamika di balik arus listrik yang bertemu air, kita tidak hanya menguak rahasia molekul, tetapi juga membuka potensi untuk teknologi energi bersih di masa depan, seperti produksi hidrogen. Jadi, lain kali melihat gelembung dalam percobaan sederhana, ingatlah bahwa di sana sedang terjadi sebuah revolusi mikroskopis yang mendasar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan: Arus Listrik Pada Kutup Positif Dan Negatif Dicelup Dalam Air
Apakah air murni (destilasi) bisa menghantarkan listrik untuk elektrolisis?
Air murni sangat sulit menghantarkan listrik karena memiliki sangat sedikit ion bebas. Elektrolisis pada air destilata murni akan berjalan sangat lambat atau hampir tidak teramati. Penambahan sedikit elektrolit (seperti garam, asam, atau basa) sangat meningkatkan konduktivitasnya dengan menyediakan ion-ion yang dapat bergerak.
Mengapa kadang air berubah warna atau elektroda terkikis saat eksperimen?
Perubahan warna atau pengikisan elektroda, terutama di anoda (kutub positif), menandakan terjadinya reaksi samping atau korosi. Logam elektroda (seperti besi atau tembaga) mungkin teroksidasi dan larut ke dalam air, mengubah warna larutan. Grafit lebih stabil dan biasanya hanya menghasilkan gas.
Gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan berbahayakah?
Ya, campuran gas hidrogen dan oksigen yang dihasilkan adalah campuran yang sangat mudah meledak jika terkena percikan api atau panas. Eksperimen harus dilakukan di ruang berventilasi baik, jauh dari sumber api, dan volume gas yang besar tidak boleh dibiarkan terakumulasi.
Bagaimana cara membedakan gelembung gas hidrogen dan oksigen secara sederhana?
Secara visual sulit dibedakan. Metode pengujian sederhana adalah dengan mengumpulkan gas dalam tabung reaksi terbalik. Gas yang menyala dengan “pop” nyaring saat didekatkan api adalah hidrogen (dari katoda). Gas yang membuat bara api membara lebih terang adalah oksigen (dari anoda).
Apakah baterai yang digunakan bisa cepat habis karena percobaan ini?
Tergantung pada konduktivitas larutan. Larutan dengan konduktivitas tinggi (air asin) akan menarik arus listrik besar dari sumber, sehingga dapat menguras baterai dengan cepat. Pada air murni, arus yang mengalir sangat kecil sehingga baterai lebih awet.