Nama Senyawa Sr(OH)2 Strontium Hidroksida Basa Kuat

Nama Senyawa Sr(OH)2 atau strontium hidroksida membuka jendela ke dunia kimia alkali tanah yang penuh reaktivitas. Di pagi yang menyegarkan ini, mari kita telusuri senyawa putih ini, yang meski kurang terkenal dari saudaranya kalsium hidroksida, menyimpan peran dan sifat yang tak kalah menarik dalam laboratorium dan industri.

Senyawa dengan rumus Sr(OH)2 ini merupakan padatan kristalin putih yang tergolong sebagai basa kuat. Ia adalah contoh sempurna dari hidroksida logam alkali tanah, terikat secara ionik antara ion stronsium (Sr²⁺) dan dua ion hidroksida (OH⁻), siap memberikan pasangan elektronnya dalam berbagai reaksi kimia.

Pengenalan Dasar Senyawa Sr(OH)2

Kalau kamu pernah main-main dengan bahan kimia di lab, atau mungkin sekadar penasaran dengan isi tabel periodik, kamu mungkin pernah dengar tentang kalsium atau magnesium. Nah, saudara mereka yang kurang terkenal tapi tak kalah penting adalah stronsium. Salah satu bentuk senyawa stronsium yang cukup sering disebut adalah Sr(OH)₂. Dalam bahasa Indonesia, senyawa ini bernama Stronsium hidroksida, sedangkan dalam bahasa Inggris namanya tetap Strontium hydroxide.

Senyawa ini adalah contoh klasik dari basa kuat logam alkali tanah. Ia termasuk dalam kelompok senyawa anorganik ionik. Artinya, ia tersusun dari ion positif (kation) stronsium (Sr²⁺) dan ion negatif (anion) hidroksida (OH⁻) yang saling tarik-menarik layaknya magnet. Pada kondisi ruang, Sr(OH)₂ umumnya berwujud padatan kristalin berwarna putih. Ia tidak berbau, tapi jangan salah, dia punya sifat yang cukup “berapi-api” karena sifat basanya yang kuat dan korosif.

Jenis dan Wujud Fisik

Sebagai basa kuat, Sr(OH)₂ memiliki kemampuan tinggi untuk menerima proton (H⁺) dari asam. Dalam dunia kimia anorganik, ia dikategorikan sebagai hidroksida logam alkali tanah, sebarisan dengan kalsium hidroksida (Ca(OH)₂ atau kapur sirih) dan barium hidroksida (Ba(OH)₂). Secara fisik, ia sering ditemui sebagai serbuk halus putih atau butiran kecil. Yang menarik, senyawa ini bisa mengikat molekul air dari udara, membentuk hidrat.

Bentuk yang paling umum adalah oktahidrat, Sr(OH)₂·8H₂O, yang berupa kristal tak berwarna.

Tata Nama dan Struktur Kimia

Penamaan senyawa kimia punya aturannya sendiri, dan Sr(OH)₂ mengikuti aturan IUPAC yang cukup straightforward. Nama IUPAC-nya adalah stronsium hidroksida. Tidak ada nama tradisional atau nama umum yang berbeda, jadi kita cukup menyebutnya begitu. Penamaannya sederhana: sebut nama logam (stronsium) diikuti dengan nama gugusnya (hidroksida), dengan jumlah gugus OH ditunjukkan oleh angka indeks dalam rumus kimia.

Ilustrasi Struktur Molekul

Bayangkan sebuah struktur kristal seperti tatanan kotak-kotak yang sangat rapi. Di dalam tatanan itu, ion stronsium (Sr²⁺) yang relatif besar duduk di posisi tertentu, dikelilingi oleh beberapa ion hidroksida (OH⁻). Ikatan antara Sr²⁺ dan OH⁻ adalah ikatan ionik murni—sangat kuat karena perpindahan elektron dari logam ke gugus hidroksida. Dalam bentuk padatannya, setiap ion stronsium akan berkoordinasi dengan beberapa ion OH⁻ dari arah yang berbeda, membentuk jaringan kristal tiga dimensi yang stabil.

BACA JUGA  Hitung Rapat Muatan Permukaan Bola Konduktor 20 cm 30 C dan Analisisnya

Struktur ini menjadi lebih kompleks pada bentuk hidratnya, dimana molekul air terjebak dalam kisi kristal, mengelilingi ion-ion tersebut.

Rumus Kimia Massa Molar Tingkat Oksidasi Stronsium Jenis Ikatan
Sr(OH)₂ 121.64 g/mol (anhidrat)
265.76 g/mol (oktahidrat)
+2 Ionik (antara Sr²⁺ dan OH⁻)

Sifat-sifat Fisik dan Kimia

Memahami sifat Sr(OH)₂ adalah kunci untuk memprediksi bagaimana dia akan bersikap di lab atau di pabrik. Sifat fisik dan kimianya sangat dipengaruhi oleh statusnya sebagai basa kuat logam alkali tanah.

Sifat Fisik Utama

Senyawa ini memiliki titik lebur yang cukup tinggi, sekitar 375°C untuk bentuk anhidratnya, yang menunjukkan kestabilan kisi kristal ioniknya. Densitasnya sekitar 3.63 g/cm³. Salah satu sifat yang paling mencolok adalah kelarutannya dalam air. Berbeda dengan kalsium hidroksida yang sukar larut, Sr(OH)₂ memiliki kelarutan yang cukup baik, dan kelarutan ini meningkat seiring suhu. Larutannya yang jernih, disebut air kapur stronsium, bersifat sangat basa.

Sifat Kimia dan Reaksi Khas

Sebagai basa kuat, sifat kimia utama Sr(OH)₂ adalah menetralkan asam. Reaksi ini eksotermik dan menghasilkan garam stronsium dan air. Selain itu, seperti basa kuat lainnya, ia bereaksi dengan gas asam seperti karbon dioksida (CO₂) dari udara, membentuk stronsium karbonat yang berwarna putih keruh. Ini prinsip yang digunakan dalam beberapa aplikasi penyerapan CO₂.

Ketika dipanaskan dengan kuat, Sr(OH)₂ akan mengalami dekomposisi termal. Ia tidak meleleh begitu saja, tetapi terurai menjadi stronsium oksida dan uap air.

Sr(OH)₂ (padat) → SrO (padat) + H₂O (gas)

Berikut adalah contoh reaksi kimia spesifik yang melibatkan Sr(OH)₂:

  • Reaksi Netralisasi dengan Asam Klorida: Sr(OH)₂(aq) + 2HCl(aq) → SrCl₂(aq) + 2H₂O(l). Reaksi ini menghasilkan garam stronsium klorida.
  • Reaksi dengan Karbon Dioksida: Sr(OH)₂(aq) + CO₂(g) → SrCO₃(s) + H₂O(l). Reaksi ini menyebabkan larutan bening menjadi keruh karena endapan SrCO₃ yang putih.
  • Reaksi Pertukaran dengan Garam: Sr(OH)₂(aq) + Na₂SO₄(aq) → SrSO₄(s) + 2NaOH(aq). Reaksi ini menghasilkan endapan stronsium sulfat yang berwarna putih dan larutan natrium hidroksida.

Metode Pembuatan dan Sintesis

Sr(OH)₂ bisa didapatkan melalui beberapa rute sintesis, mulai dari yang sederhana di skala lab hingga proses industri. Prinsip dasarnya adalah mengikat ion stronsium dengan gugus hidroksida.

Metode Umum Laboratorium dan Industri

Di laboratorium, metode paling langsung adalah mereaksikan stronsium oksida (SrO) dengan air. Reaksi ini sangat eksotermik, mirip dengan reaksi kalsium oksida (kapur tohor) dengan air, dan menghasilkan Sr(OH)₂. Cara lain adalah melalui reaksi stronsium logam dengan air, tetapi ini lebih berbahaya karena menghasilkan gas hidrogen yang mudah terbakar. Secara industri, produksi skala besar mungkin melibatkan pemurnian dari bijih stronsium (seperti stronsianit, SrCO₃) dengan proses yang melibatkan kalsinasi dan hidrasi.

Prosedur Sintesis Skala Kecil di Laboratorium

Bahan: Stronsium oksida (SrO) bubuk, air destilasi.
Alat: Gelas kimia, pengaduk, penangas es, kertas saring, corong.
Prosedur:
1. Timbang sejumlah SrO yang diinginkan dengan hati-hati di dalam lemari asam.
2.

Secara perlahan dan sedikit demi sedikit, tambahkan SrO ke dalam air destilasi dingin yang ditempatkan dalam gelas kimia di atas penangas es. Aduk terus.
3. Reaksi sangat eksotermik. Hati-hati terhadap percikan dan panas.

4. Setelah semua SrO ditambahkan dan campuran mendingin, saring larutan untuk memisahkan produk Sr(OH)₂ yang larut dari pengotor yang tidak larut.
5. Larutan jernih yang diperoleh adalah larutan Sr(OH)₂. Untuk mendapatkan padatannya, lakukan penguapan pelan di atas penangas air.

Keamanan: Selalu gunakan jas lab, sarung tangan, dan kacamata pengaman. Kerjakan di area berventilasi baik.

Aplikasi dan Kegunaan Praktis

Meski tidak sepopuler saudara kalsiumnya, Sr(OH)₂ punya cerita sendiri dalam aplikasi industri dan laboratorium. Keunikan kelarutan dan sifat basanya yang kuat menjadi nilai jualnya.

BACA JUGA  Help Panduan Lengkap Makna Ekspresi hingga Psikologi

Peran dalam Berbagai Bidang

Dalam industri gula, terutama pada proses pemurnian gula bit, larutan Sr(OH)₂ pernah digunakan untuk mengendapkan pengotor seperti gula invers dan senyawa lainnya, meski kini penggunaannya telah digantikan oleh bahan lain karena pertimbangan biaya dan keamanan. Aplikasi lain yang lebih modern adalah sebagai penyerap karbon dioksida (CO₂) dalam sistem tertutup, misalnya di dalam pesawat ruang angkasa atau kapal selam, karena kemampuannya bereaksi dengan CO₂ membentuk padatan karbonat.

Di laboratorium, ia berfungsi sebagai reagen basa kuat untuk sintesis senyawa stronsium lainnya, seperti stronsium karbonat atau stronsium kromat, dan digunakan dalam analisis kimia tertentu.

Bidang Aplikasi Fungsi Alasan Penggunaan Pertimbangan Keamanan
Industri Gula (Historris) Pemurnian sirup gula bit Mampu mengendapkan pengotor spesifik untuk menghasilkan gula yang lebih murni. Korosif, limbahnya mengandung stronsium yang perlu penanganan khusus.
Pengendalian Atmosfer Penyerap Karbon Dioksida (CO₂) Bereaksi cepat dengan CO₂ membentuk padatan stabil (SrCO₃), efektif dalam sistem sirkulasi udara tertutup. Debu atau larutannya bersifat iritan dan korosif. Perlu sistem penanganan tertutup.
Laboratorium Kimia Reagen Basa Kuat dan Prekursor Menyediakan sumber ion Sr²⁺ dan OH⁻ yang baik untuk sintesis dan reaksi netralisasi. Penanganan sebagai bahan kimia korosif. Hindari kontak dengan kulit, mata, dan jangan dihirup.

Penanganan, Penyimpanan, dan Keamanan

Jangan remehkan si putih yang satu ini. Karena sifat basanya yang kuat, Sr(OH)₂ dikategorikan sebagai bahan korosif. Penanganan yang ceroboh bisa berakibat tidak menyenangkan, jadi selalu utamakan keselamatan.

Panduan Penanganan dan Penyimpanan

Selalu gunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat menangani Sr(OH)₂, minimal terdiri dari jas lab, sarung tangan tahan bahan kimia (nitril atau neoprene), dan kacamata pengaman. Jika berurusan dengan serbuk, masker debu sangat dianjurkan untuk mencegah inhalasi. Kerjakan di dalam lemari asam atau area dengan ventilasi yang sangat baik. Untuk penyimpanan, simpan dalam wadah kedap udara yang terbuat dari plastik (seperti HDPE) atau gelas.

Beri label yang jelas. Tempatkan di tempat yang sejuk, kering, dan jauh dari sumber asam, karena pencampuran dengan asam akan menyebabkan reaksi netralisasi yang sangat eksotermik. Jauhkan juga dari kelembaban agar tidak menggumpal.

Identifikasi Bahaya dan Pertolongan Pertama

Bahaya utama Sr(OH)₂ berasal dari sifat korosifnya terhadap jaringan hidup.

  • Kulir: Dapat menyebabkan iritasi hingga luka bakar kimia. Jika terkena, segera lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan bilas kulit dengan air mengalir yang banyak minimal selama 15 menit.
  • Mata: Sangat berbahaya, dapat menyebabkan kerusakan kornea. Segera bilas mata dengan air mengalir lembut sambil membuka kelopak mata, teruskan selama minimal 15 menita, dan segera cari pertolongan medis.
  • Tertelan: Dapat menyebabkan luka bakar parah pada saluran pencernaan. Jangan dimuntahkan. Segera berkumur dengan air, tetapi jangan minum apa pun jika korban tidak sadar. Segera hubungi layanan gawat darurat.
  • Terhirup: Debu atau aerosol dapat mengiritasi saluran pernapasan, menyebabkan batuk dan sesak. Pindahkan korban ke udara segar. Jika sulit bernapas, berikan oksigen dan cari bantuan medis.
BACA JUGA  Buku Harian Dunia Pribadi yang Menginspirasi

Data dan Perbandingan dengan Senyawa Sejenis

Untuk benar-benar mengenal Sr(OH)₂, kita perlu melihat posisinya dalam keluarga alkali tanah. Dengan membandingkannya dengan Ca(OH)₂ dan Ba(OH)₂, kita bisa melihat pola atau tren yang menarik dalam tabel periodik.

Perbandingan dalam Golongan Alkali Tanah

Secara umum, dari atas ke bawah dalam golongan IIA (Be, Mg, Ca, Sr, Ba), kelarutan hidroksida dalam air meningkat. Itulah mengapa kalsium hidroksida (Ca(OH)₂) hanya sedikit larut (dikenal sebagai air kapur), stronsium hidroksida (Sr(OH)₂) lebih larut, dan barium hidroksida (Ba(OH)₂) bahkan lebih larut lagi. Namun, kestabilan termalnya justru sedikit menurun ke bawah, meski semua cukup stabil. Kekuatan basanya (kebasaan) meningkat seiring ukuran ion logam yang semakin besar, karena ion OH⁻ lebih mudah dilepaskan.

Senyawa Nama Umum Kelarutan dalam Air (kira-kira, 20°C) Kekuatan Basa Relatif
Ca(OH)₂ Kapur Sirih / Air Kapur 1.73 g/L (sangat rendah) Basa kuat, paling lemah di antara ketiganya
Sr(OH)₂ Stronsium Hidroksida 17.8 g/L (anhidrat, meningkat drastis dengan suhu) Basa kuat, lebih kuat dari Ca(OH)₂
Ba(OH)₂ Barium Hidroksida 38.9 g/L (oktahidrat) Basa kuat, paling kuat di antara ketiganya

Tren dan Deskripsi Data, Nama Senyawa Sr(OH)2

Data numerik seperti Ksp (Hasil Kali Kelarutan) mengkonfirmasi tren ini. Nilai Ksp Sr(OH)₂ lebih besar daripada Ca(OH)₂, menunjukkan kelarutannya yang lebih tinggi. Dari segi reaktivitas, semua adalah basa kuat, tetapi Sr(OH)₂ dan Ba(OH)₂ akan bereaksi lebih cepat dalam beberapa reaksi karena kelarutannya yang lebih baik, menyediakan lebih banyak ion OH⁻ bebas dalam larutan. Dalam aplikasi, perbedaan kelarutan inilah yang sering menjadi penentu pemilihan bahan.

Misalnya, Ca(OH)₂ yang murah dan kurang larut cocok untuk aplikasi seperti penjernihan air dimana pengendapan dibutuhkan, sedangkan Sr(OH)₂ yang lebih larut lebih cocok untuk aplikasi yang memerlukan larutan basa yang pekat.

Kesimpulan Akhir: Nama Senyawa Sr(OH)2

Sebagai penutup, perjalanan mengenal strontium hidroksida mengajarkan bahwa di balik rumus kimia yang sederhana tersimpan dinamika sifat yang kompleks. Dari reaksi netralisasinya yang eksotermik hingga perannya dalam pemurnian gula, Sr(OH)2 adalah bukti betapa senyawa anorganik menjadi tulang punggung banyak proses penting. Semoga penjelasan di pagi ini memberikan pencerahan dan semangat baru untuk terus menjelajah keajaiban dunia kimia.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Apakah Sr(OH)2 berbahaya dan bagaimana cara menanganinya?

Ya, sebagai basa kuat, Sr(OH)2 bersifat korosif dan dapat mengiritasi kulit, mata, serta saluran pernapasan. Penanganan memerlukan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan kacamata laboratorium. Hindari menghirup debunya.

Mengapa kelarutan Sr(OH)2 dalam air terbilang rendah dibanding basa kuat lain?

Meski tergolong basa kuat, Sr(OH)2 memiliki kelarutan yang terbatas dalam air karena energi kisi kristalnya yang cukup tinggi. Kelarutannya meningkat seiring suhu, berbeda dengan kebanyakan senyawa yang kelarutannya menurun saat dipanaskan.

Apakah Sr(OH)2 dapat mengubah warna kertas lakmus?

Tentu, karena merupakan basa kuat, larutan Sr(OH)2 akan mengubah warna kertas lakmus merah menjadi biru, menunjukkan sifat alkalinya yang jelas.

Bagaimana membedakan Sr(OH)2 secara visual dari Ca(OH)2 atau Ba(OH)2?

Sulit dibedakan hanya dari penampilan fisiknya karena ketiganya umumnya berupa padatan putih. Perbedaan yang jelas memerlukan uji kimia, seperti uji nyala yang memberikan warna merah tua khas untuk stronsium, atau pengukuran kelarutan yang berbeda-beda.

Apakah ada aplikasi Sr(OH)2 dalam kehidupan sehari-hari selain di industri?

Aplikasi langsung pada konsumen sangat terbatas karena sifatnya yang korosif. Penggunaannya lebih banyak berada di balik layar, seperti dalam proses industri pemurnian gula bit atau sebagai prekursor untuk senyawa stronsium lain dalam pembuatan kembang api (memberikan warna merah).

Leave a Comment