Tujuan Politik Luar Negeri Kerajaan Majapahit bukan sekadar mimpi ekspansi biasa, melainkan sebuah proyek besar yang berakar pada sumpah dan filosofi. Bayangkan, di abad ke-14, seorang mahapatih bernama Gajah Mada bersumpah untuk tidak menikmati palapa sebelum Nusantara bersatu. Sumpah Palapa itu menjadi jiwa dari setiap diplomasi dan pelayaran yang mereka lakukan, lebih dari sekadar perluasan wilayah, ini tentang menciptakan sebuah tata dunia baru di bawah mandala pengaruh Majapahit.
Dengan menggabungkan kekuatan armada laut yang tangguh, strategi perkawinan politik yang cerdik, dan jaringan perdagangan yang luas, Majapahit menjalin hubungan dari Siam hingga Tiongkok. Ibu kota kerajaan di Trowulan menjadi simbol kemegahan yang menarik utusan dan pedagang mancanegara, sementara nilai-nilai Hindu-Buddha menjadi kerangka moral dalam interaksi mereka. Politik luar negeri mereka adalah sebuah mesin rumit yang ditujukan untuk mencapai kedaulatan ekonomi dan pengakuan politik sebagai kekuatan maritim utama di Asia Tenggara.
Konsep dan Dasar Filosofis Politik Luar Negeri Majapahit
Sebelum membicarakan armada laut atau perjanjian dagang, kita perlu memahami dulu pikiran di balik semua aksi politik luar negeri Majapahit. Kerajaan ini tidak bergerak tanpa arah; ada sebuah pandangan dunia, sebuah kosmologi, yang menjadi kompasnya. Politik luar negeri mereka bukan sekadar soal perluasan wilayah, tetapi juga tentang memenuhi sebuah mandat kosmis dan menjaga harmoni.
Cakrawala Mandala dan Sumpah Palapa sebagai Landasan Filosofis
Inti dari politik ekspansi dan diplomasi Majapahit terangkum dalam konsep “Cakrawala Mandala” dan ikoniknya, “Sumpah Palapa” yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada. Cakrawala Mandala adalah konsep ruang hidup yang berpusat pada raja, di mana pengaruh kerajaan harus menyebar ke segala penjuru mata angin. Raja dipandang sebagai pusat dunia, dan stabilitas dunia bergantung pada pengakuan terhadap pusat ini. Sumpah Palapa Gajah Mada adalah manifestasi politik dari konsep ini: sebuah janji untuk tidak menikmati kesenangan duniawi sebelum Nusantara bersatu di bawah panji Majapahit.
Ini bukan sekadar ambisi militer, tetapi lebih sebagai dharma (kewajiban suci) untuk membawa ketertiban dan peradaban.
Nilai Budaya dan Keagamaan dalam Hubungan Antar Kerajaan
Nilai-nilai Hindu-Buddha sangat mempengaruhi cara Majapahit berinteraksi dengan kerajaan lain. Hubungan seringkali dilihat dalam hierarki spiritual. Kerajaan-kerajaan yang mengakui kekuasaan Majapahit seringkali ditempatkan dalam hubungan “vasal” atau “mitra” yang lebih rendah, mirip dengan hubungan antara dewa dan penyembah, atau guru dan murid. Upeti yang diberikan bukan semata-mata pajak, tetapi simbol pengakuan akan status spiritual dan politik sang raja sebagai “cakrawartin” (penguasa dunia).
Diplomasi juga diwarnai oleh pertukaran kaum agamawan, kitab suci, dan benda-benda religius, yang memperkuat ikatan budaya di atas sekadar kepentingan politik.
Ibu Kota sebagai Simbol Kekuatan dan Pengaruh
Ibu kota Majapahit, yang digambarkan megah dalam Kakawin Nagarakretagama, berfungsi sebagai jantung dari politik luar negeri. Kota ini adalah simbol kekuatan, kemakmuran, dan kecanggihan peradaban. Kedatangan duta asing ke ibu kota adalah sebuah prosesi yang penuh ritual, dirancang untuk mengesankan dan menimbulkan rasa hormat. Melihat kemegahan istana, tata kota yang tertib, dan kekayaan yang berlimpah, utusan dari kerajaan lain diharapkan membawa pulang kesan tentang keagungan Majapahit.
Dengan demikian, ibu kota bukan hanya pusat administrasi, tetapi juga alat diplomasi visual yang paling efektif.
Strategi Diplomasi dan Ekspansi Wilayah
Majapahit memahami bahwa kekuatan tidak selalu harus ditegakkan dengan ujung tombak. Mereka menguasai seni memadukan antara diplomasi yang cerdik dan kekuatan militer yang siap siaga. Portofolio strategi mereka beragam, disesuaikan dengan kondisi dan jarak wilayah yang hendak dipengaruhi. Dari pernikahan politik hingga ekspedisi laut, semuanya dikerahkan untuk mewujudkan cita-cita Cakrawala Mandala.
Politik luar negeri Majapahit punya tujuan ambisius: menciptakan mandala perdamaian Nusantara melalui diplomasi dan kekuatan. Ambisi ini mirip dengan usaha sistematis untuk mencapai target tertentu, seperti yang dijelaskan dalam ulasan tentang Pangkat Minimum 1: Hasilnya. Pada akhirnya, hasil dari strategi itu jelas: stabilitas kerajaan terjaga dan pengaruhnya meluas jauh, membuktikan keunggulan visi geopolitik Majapahit di masanya.
Metode Diplomasi dan Contoh Pelaksanaannya
Majapahit menggunakan berbagai instrumen diplomasi, seringkali secara bertahap atau bersamaan. Berikut adalah beberapa metode utama yang tercatat dalam sejarah.
| Metode Diplomasi | Deskripsi | Contoh Konkret |
|---|---|---|
| Pernikahan Politik | Mengikat hubungan kekerabatan dengan keluarga penguasa daerah/kerajaan lain untuk menjamin loyalitas dan aliansi. | Pernikahan Hayam Wuruk dengan puteri Sunda, meski berakhir tragis dalam Perang Bubat, adalah upaya untuk mengikat Kerajaan Sunda. Pernikahan dengan keluarga kerajaan di Bali juga sering dilakukan. |
| Penghormatan dan Upeti | Kerajaan-kerajaan yang takluk atau menjadi mitra diwajibkan mengirim upeti secara berkala sebagai simbol pengakuan kedaulatan Majapahit. | Wilayah seperti Swarnabhumi (Sumatra) dan Kapuas (Kalimantan) tercatat dalam Nagarakretagama mengirim upeti ke ibu kota. |
| Persekutuan Militer dan Politik | Membentuk aliansi dengan kerajaan yang setara atau memiliki kepentingan sama untuk menghadapi musuh bersama. | Hubungan dengan Champa dalam menghadapi tekanan dari Dai Viet, atau kerja sama dengan beberapa negara kota di Semenanjung Malaya untuk mengamankan Selat Malaka. |
| Penempatan Pejabat dan Pengaruh Budaya | Mengirimkan pejabat kepercayaan atau menyebarkan pengaruh budaya, agama, dan hukum ke wilayah vasal. | Setelah penaklukan Bali, Majapahit menempatkan pejabat dan membawa serta sistem sosial dan keagamaan yang mempengaruhi Bali hingga kini. |
Tahapan dan Alasan Ekspansi ke Berbagai Wilayah
Ekspansi Majapahit berlangsung secara sistematis. Tahap awal difokuskan pada penaklukan dan konsolidasi wilayah di Jawa Timur dan Tengah. Setelah basis kekuatan dalam negeri kuat, perhatian dialihkan ke luar Jawa. Sumatra, khususnya Kerajaan Sriwijaya yang sudah melemah, menjadi target utama untuk menguasai Selat Malaka—jalur perdagangan rempah dunia. Ekspansi ke Semenanjung Malaya (seperti Tumasek) bertujuan mengamankan sisi utara selat tersebut.
Sementara penaklukan Bali oleh Gajah Mada memiliki dimensi politik dan budaya yang kuat, sekaligus menjadi batu loncatan untuk pengaruh ke wilayah timur Nusantara. Setiap ekspansi didorong oleh motif ganda: ekonomi (kontrol perdagangan) dan ideologi (memenuhi Sumpah Palapa).
Peran Armada Laut dan Teknologi Pelayaran
Kekuatan utama yang menunjang semua kebijakan luar negeri Majapahit adalah armada lautnya yang tangguh. Kerajaan ini menguasai teknologi pembuatan kapal besar yang mampu mengarungi samudera. Armada ini berfungsi ganda: sebagai angkatan perang untuk ekspedisi militer dan sebagai pengawal kapal dagang dalam misi diplomasi dan perdagangan. Penguasaan rute angin muson juga sangat penting. Mereka bisa mengirim ekspedisi atau duta pada musim yang tepat, memastikan mobilitas yang efisien.
Tanpa kekuatan maritim ini, klaim Majapahit atas Nusantara hanya akan menjadi wacana belaka.
Hubungan dengan Kekuatan Regional dan Global: Tujuan Politik Luar Negeri Kerajaan Majapahit
Panggung politik luar negeri Majapahit tidak hanya terbatas di Nusantara. Sebagai kekuatan besar, mereka harus berinteraksi dengan kerajaan-kerajaan sejawat di Asia Tenggara daratan dan dengan raksasa global saat itu: Tiongkok Dinasti Ming. Hubungan ini penuh dinamika, diwarnai oleh sikap saling hormat, perdagangan yang menguntungkan, dan kadang ketegangan yang halus.
Dinamika dengan Ayutthaya, Champa, dan Dinasti Ming
Hubungan dengan Kerajaan Ayutthaya (Siam) bersifat kompleks, kombinasi antara persaingan dan penghormatan. Keduanya adalah kekuatan besar di wilayahnya masing-masing, dan meski ada catatan tentang pertukaran hadiah, potensi konflik selalu ada, terutama terkait pengaruh di Semenanjung Malaya. Dengan Champa, hubungannya cenderung lebih bersahabat, sering kali menjalin aliansi untuk menghadapi tekanan bersama dari Dai Viet (Vietnam). Puncak dari hubungan luar negeri Majapahit adalah dengan Dinasti Ming di Tiongkok.
Kaisar Yongle mengirimkan Laksamana Cheng Ho (Zheng He) dalam beberapa ekspedisi, yang salah satunya berkunjung ke Majapahit. Pertukaran duta dan hadiah ini menegaskan pengakuan Ming terhadap status Majapahit sebagai kekuatan utama di Nusantara.
Dampak Kunjungan Cheng Ho terhadap Politik dan Perdagangan
Kunjungan armada Cheng Ho ke Jawa pada awal abad ke-15 adalah peristiwa diplomasi tingkat tinggi. Kedatangan armada megah yang membawa misi damai dari Kaisar Tiongkok memperkuat legitimasi dan prestise Majapahit di mata kerajaan-kerajaan lain. Secara ekonomi, kunjungan ini membuka dan memperkuat jalur perdagangan langsung antara Jawa dan Tiongkok. Pedagang Tionghoa semakin banyak yang berdatangan, menetap di komunitas di Tuban dan Gresik, dan memperkaya jaringan perdagangan Majapahit.
Hubungan baik dengan Ming juga memberikan keuntungan politik, menciptakan semacam “payung” yang membuat kerajaan lain segan untuk menantang Majapahit.
Perbandingan Pendekatan dengan Kerajaan Kontemporer Nusantara
Jika dibandingkan dengan kerajaan maritim besar sebelumnya, Sriwijaya, pendekatan Majapahit lebih komprehensif. Sriwijaya sangat bertumpu pada kontrol perdagangan dan penyebaran pengaruh Buddhisme, dengan kekuatan militer sebagai penopang. Majapahit, selain menguasai perdagangan, juga menerapkan sistem politik yang lebih terintegrasi melalui jaringan vasal dan penerapan nilai-nilai budaya Jawa-Hindu secara lebih intensif. Sementara kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara sering kali hanya fokus pada perdagangan lokal atau menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar, Majapahit aktif membentuk dan mengendalikan jaringan itu sendiri, dengan konsep kenusantaraan yang lebih jelas.
Instrumen dan Mekanisme Pelaksanaan
Sebuah kebijakan luar negeri yang ambisius membutuhkan birokrasi dan protokol yang mumpuni untuk dijalankan. Majapahit membangun aparatus yang cukup rumit untuk mengurusi hubungan dengan dunia luar, mulai dari pejabat tinggi di istana hingga protokol di pelabuhan. Semua dirancang untuk menjaga martabat kerajaan dan memastikan setiap interaksi berjalan tertib.
Peran Pejabat Kerajaan dalam Urusan Luar Negeri
Di tingkat pusat, ada beberapa pejabat yang memegang peran kunci. Dharmadyaksa, sering kali merangkap sebagai penasihat utama raja, terlibat dalam perumusan kebijakan strategis. Sementara itu, untuk urusan teknis dan eksekusi, kerajaan mengandalkan para “duta” atau “utusan khusus” yang biasanya berasal dari kalangan bangsawan atau kerabat kerajaan yang terpercaya. Mereka bertugas membawa pesan, menegosiasikan perjanjian, atau menerima upeti dari wilayah vasal.
Selain itu, pejabat pelabuhan yang disebut “syahbandar” memegang peran vital sebagai ujung tombak interaksi dengan pedagang asing, mengurusi administrasi, pajak, dan keamanan.
Prosedur Penerimaan Utusan dan Pedagang Asing
Bayangkan Anda adalah seorang pedagang dari Gujarat yang baru berlabuh di Tuban. Kapal Anda akan disambut oleh petugas pelabuhan yang memeriksa barang dan memungut bea cukai sesuai peraturan. Setelah urusan administrasi selesai, Anda diizinkan berdagang di pasar pelabuhan. Jika Anda membawa surat dari penguasa asing atau misi khusus, Anda akan diantar ke ibu kota. Perjalanan ke istana adalah sebuah prosesi yang diatur.
Anda akan disambut dengan upacara, dijamu, dan baru kemudian dipertemukan dengan pejabat atau bahkan raja. Setiap langkah penuh dengan simbolisme dan ritual, yang dirancang untuk menunjukkan keagungan Majapahit dan menempatkan tamu asing dalam posisi yang tepat dalam hierarki kerajaan.
Gambaran Interaksi dengan Kerajaan Lain dalam Sastra dan Prasasti
Kitab Nagarakretagama karya Mpu Prapanca adalah sumber utama yang menggambarkan dinamika hubungan luar negeri Majapahit. Dalam pupuh-pupuhnya, digambarkan dengan puitis tentang wilayah-wilayah yang tunduk dan hubungan dengan negara asing.
“…Seluruh Pulau Jawa stabil dan tenteram di bawah perlindungan Sri Baginda. Demikian pula daerah-daerah di seberang: Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Tumasik, Sunda, Makasar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Solor, Muar, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seram, Timor, dan lain-lainnya, semuanya tunduk sebagai daerah taklukan…” (Nagarakretagama, pupuh 13-15, intisari).
Meski mungkin mengandung unsur pujian dan hiperbola, penggambaran ini menunjukkan kesadaran geografis yang luas dan klaim atas jaringan hubungan politik yang sangat besar.
Tujuan Ekonomi dan Pengaruh Perdagangan
Source: freedomsiana.id
Di balik semua retorika tentang persatuan Nusantara dan mandat kosmis, ada sebuah motivasi yang sangat nyata dan pragmatis: ekonomi. Politik luar negeri Majapahit sangat erat kaitannya dengan upaya menguasai sumber daya dan jalur perdagangan. Kemakmuran yang digambarkan dalam catatan sejarah tidak datang begitu saja, tetapi adalah hasil dari strategi ekonomi yang cerdas dan agresif.
Komoditas Utama dan Rute Perdagangan Internasional
Majapahit bertindak sebagai penghubung dan pengumpul utama komoditas Nusantara untuk dipasarkan ke dunia. Komoditas ekspor andalannya meliputi rempah-rempah (cengkeh, pala dari Maluku, lada dari Sumatra), kayu cendana dari Nusa Tenggara, kapur barus dari Sumatra, emas, timah, serta hasil kerajinan seperti batik dan keramik. Mereka mengimpor barang-barang mewah seperti kain sutra dan porselen dari Tiongkok, permata dan kain katun dari India, serta kuda dari Arabia.
Rute perdagangannya mengikuti pola angin muson, menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Jawa (Tuban, Gresik, Surabaya) dengan Malaka, lalu ke India, Teluk Persia, dan Tiongkok Selatan.
Kontrol atas Pusat-Pusat Perdagangan Strategis
Menguasai komoditas saja tidak cukup; menguasai jalurnya adalah kunci. Inilah mengapa Selat Malaka menjadi tujuan geopolitik utama. Dengan memengaruhi atau menguasai titik-titik penting di sekitar selat ini (baik di Sumatra maupun Semenanjung Malaya), Majapahit dapat mengendalikan arus perdagangan, memungut pajak, dan menjamin keamanan bagi kapal-kapal dagangnya. Kontrol ini juga menjadi alat diplomasi yang kuat, karena kerajaan lain yang ingin berdagang aman harus menjaga hubungan baik dengan Majapahit.
Jika kita telisik, tujuan politik luar negeri Kerajaan Majapahit sangat kompleks, mencakup diplomasi hingga pengamanan wilayah. Nah, soal pengamanan, status pekerjaan penjaga keamanan di era modern pun bisa jadi perdebatan menarik, seperti yang diulas dalam artikel Satpam: Wiraswasta atau Pegawai Swasta. Prinsipnya mirip: kejelasan posisi dan loyalitas, baik satpam kini maupun pasukan penjaga Nusantara kala itu, sangat vital bagi stabilitas dan pencapaian tujuan strategis sebuah entitas.
Kebijakan Menarik Minat Pedagang Asing
Majapahit menciptakan ekosistem yang menarik bagi pedagang asing. Mereka menawarkan pelabuhan yang aman dan terlindungi dari bajak laut, sistem administrasi dan pergudangan yang teratur, serta pasar yang ramai dengan barang beragam. Kebijakan kerajaan yang relatif terbuka dan memberikan otonomi tertentu pada komunitas pedagang asing (seperti permukiman Tionghoa dan Gujarat) membuat mereka betah tinggal dan berbisnis. Dengan menjadi “supermarket” terlengkap di Nusantara, Majapahit memastikan bahwa pedagang dari mana pun akan singgah di pelabuhannya, yang pada akhirnya mengisi kas kerajaan melalui bea dan pajak.
Warisan dan Pengaruh Historis
Kejatuhan Majapahit di akhir abad ke-15 bukan berarti pengaruhnya hilang begitu saja. Sebaliknya, warisan politik luar negeri dan sistem pemerintahannya meresap ke dalam DNA kerajaan-kerajaan penerusnya di Nusantara. Gagasan tentang pusat kekuatan, jaringan vasal, dan pentingnya kekuatan maritim terus bergaung selama berabad-abad berikutnya.
Pengaruh terhadap Kerajaan-Kerajaan Penerus
Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa seperti Demak dan Mataram, meski berbeda agama, banyak mewarisi pola pemerintahan dan hubungan luar negeri Majapahit. Konsep tentang “negara agung” yang dikelilingi oleh “mancanegara” (wilayah luar) dan “pasisir” (wilayah pesisir) tetap digunakan. Ambisi untuk menyatukan Jawa di bawah satu panji juga merupakan gema dari Sumpah Palapa. Bahkan di Bali, yang tidak masuk Islam, warisan Majapahit justru paling terawat dalam bentuk sistem sosial, ritual, dan seni, menunjukkan betapa pengaruh budaya adalah instrumen politik luar negeri yang paling tahan lama.
Peta Pengaruh Majapahit di Puncak Kejayaannya, Tujuan Politik Luar Negeri Kerajaan Majapahit
Bayangkan sebuah peta mental Nusantara di abad ke-14. Di pusatnya terdapat Pulau Jawa, dengan ibu kota Majapahit sebagai epicentrum. Dari sana, garis-garis pengaruh memancar ke segala arah. Ke barat, mencakup sebagian besar Sumatra (kecuali Aceh), dengan titik penting di Palembang dan Jambi. Ke utara, meliputi Semenanjung Malaya hingga ke Pattani.
Ke timur, mencakup seluruh Bali, Lombok, Sumbawa, dan jaringan perdagangan yang mencapai Maluku. Ke utara dari Kalimantan, pengaruhnya menyentuh Brunei dan bagian selatan Filipina. Wilayah inti (Jawa) dikelola secara langsung, sementara wilayah luar (seperti Sumatra, Kalimantan, Maluku) berstatus sebagai daerah vasal atau mitra dagang yang wajib membayar upeti dan mengakui kedaulatan Majapahit. Jalur laut digambar sebagai urat nadi yang menghubungkan semua titik ini, dijaga oleh kapal-kapal patroli Majapahit.
Kelebihan dan Kekurangan Sistem Hubungan Luar Negeri Majapahit
Berdasarkan catatan sejarah, sistem ini memiliki keunggulan dan kelemahan yang signifikan. Kelebihannya terletak pada fleksibilitasnya. Majapahit tidak perlu mengurus langsung setiap wilayah, cukup dengan pengakuan simbolis dan aliran ekonomi, mereka bisa mengklaim hegemoni. Sistem ini juga stabil selama kekuatan militer dan magnet ekonomi pusat tetap kuat. Namun, kelemahannya justru ada pada ketergantungan yang berlebihan pada figur sentral (raja dan mahapatih) dan kekuatan koersif.
Begitu kepemimpinan melemah atau terjadi konflik internal, seperti setelah wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada, wilayah-wilayah luar mulai melepaskan diri dengan cepat. Sistem vasal yang longgar lebih mudah dibentuk daripada dipertahankan dalam jangka panjang tanpa konsolidasi administrasi yang ketat.
Kesimpulan Akhir
Jadi, warisan politik luar negeri Majapahit itu kompleks dan penuh nuance. Di satu sisi, mereka berhasil menciptakan jaringan pengaruh yang belum pernah ada sebelumnya di Nusantara, mengontrol jalur perdagangan vital, dan menjadi mitra yang disegani oleh kekuatan global seperti Dinasti Ming. Namun, sistem yang sangat bergantung pada figur kuat dan kontrol longgar atas wilayah vasal juga mengandung bibit kerapuhan. Pelajaran terbesarnya mungkin terletak pada visi maritim yang ambisius dan kemampuan beradaptasi dalam diplomasi, sebuah cetak biru yang, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, terus menginspirasi wacana tentang persatuan dan kedaulatan di Nusantara hingga hari ini.
Pertanyaan yang Kerap Ditanyakan
Apakah Sumpah Palapa Gajah Mada benar-benar tercapai?
Secara historis, wilayah pengaruh Majapahit pada puncaknya (menurut kakawin Nagarakretagama) sangat luas, mencakup sebagian besar wilayah Indonesia modern dan Semenanjung Malaya. Namun, konsep “penyatuan” pada masa itu lebih berarti pengakuan kedaulatan dan hubungan vasal-upeti, bukan pemerintahan langsung secara administratif seperti negara modern. Jadi, dalam konteks zaman itu, tujuan dari sumpah tersebut dapat dikatakan tercapai.
Bagaimana sikap Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan Islam yang mulai berkembang, misalnya di pesisir utara Jawa?
Pada masa kejayaannya, Majapahit umumnya bersikap kooptatif dan menjalin hubungan diplomatik serta perdagangan. Banyak bukti menunjukkan hubungan yang relatif damai, dimana pedagang dan komunitas Muslim dapat beraktivitas di pelabuhan-pelabuhan utama Majapahit. Ketegangan lebih muncul pada periode kemunduran Majapahit, seiring dengan menguatnya kekuatan politik Islam yang kemudian menjadi pesaing.
Apakah ada bukti hubungan diplomatik Majapahit dengan wilayah di luar Asia, seperti Timur Tengah atau Eropa?
Tidak ada bukti kuat adanya hubungan diplomatik resmi langsung dengan kerajaan di Timur Tengah atau Eropa. Namun, hubungan perdagangan tidak langsung pasti terjadi. Komoditas Majapahit seperti rempah-rempah sampai ke wilayah tersebut melalui jaringan pedagang India, Arab, dan Tiongkok yang menjadi perantara. Interaksi lebih bersifat komersial daripada politis.
Mengapa armada laut begitu vital bagi politik luar negeri Majapahit?
Nusantara adalah dunia kepulauan. Kekuatan laut adalah satu-satunya cara untuk memproyeksikan kekuatan, mengontrol jalur perdagangan laut (seperti Selat Malaka dan Selat Sunda), mengangkut pasukan, serta mengamankan pengiriman upeti dari wilayah vasal. Tanpa armada yang kuat, klaim kedaulatan atas wilayah yang luas mustahil dipertahankan.
Apa yang terjadi dengan politik luar negeri Majapahit setelah era Hayam Wuruk dan Gajah Mada berakhir?
Setelah era keemasan, politik luar negeri Majapahit mengalami kemunduran. Fokus bergeser ke konflik internal dan perebutan takhta. Kemampuan untuk mempertahankan jaringan vasal dan hubungan diplomatis yang aktif melemah. Banyak wilayah mulai melepaskan diri, dan kekuatan baru seperti Kesultanan Malaka muncul, mengambil alih peran sebagai kekuatan maritim dan dagang dominan di kawasan.