Koordinat Titik Potong Garis L dengan x+3y=5 melalui (-1,2)

Koordinat Titik Potong Garis L dengan x+3y=5 melalui (-1,2) – Koordinat Titik Potong Garis L dengan x+3y=5 melalui (-1,2) itu seperti mencari titik temu dua jalan raya di peta imajinasi matematika kita. Bayangkan titik (-1,2) sebagai posisi kita berdiri, lalu kita ingin melukis garis lurus L ke segala arah yang pasti akan memotong jalan raya lain, yaitu garis x+3y=5. Pertanyaannya, di koordinat mana persisnya kedua jalan itu bertemu? Ini bukan sekadar hitung-hitungan kering, tapi petualangan kecil di bidang Kartesius yang penuh kejutan.

Permasalahan ini mengajak kita menyelami konsep dasar persamaan garis dan titik potongnya. Setiap garis yang melalui (-1,2) memiliki karakter unik, ditentukan oleh gradien atau bentuk persamaannya. Interaksinya dengan garis x+3y=5 akan menghasilkan sebuah titik potong yang koordinatnya bisa kita prediksi dan hitung secara aljabar. Mari kita telusuri bagaimana satu titik awal bisa mengantarkan kita pada berbagai kemungkinan titik temu, tergantung pada arah garis L yang kita pilih.

Pemahaman Dasar Persamaan Garis dan Titik Potong

Koordinat Titik Potong Garis L dengan x+3y=5 melalui (-1,2)

Source: slidesharecdn.com

Sebelum menyelami kasus spesifik kita, mari kita segarkan ingatan tentang konsep dasar persamaan garis. Dalam geometri analitik, garis lurus dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk persamaan matematis, masing-masing dengan keunggulan dan konteks penggunaannya sendiri. Pemahaman ini adalah kunci untuk membongkar masalah pencarian titik potong dengan tepat.

Secara geometris, titik potong sebuah garis dengan sumbu koordinat atau dengan garis lain merepresentasikan pertemuan dua entitas tersebut. Titik potong dengan sumbu-X terjadi ketika nilai y sama dengan nol, sementara titik potong dengan sumbu-Y terjadi ketika nilai x bernilai nol. Sementara itu, titik potong antara dua garis adalah solusi simultan dari kedua persamaannya, yang secara visual tampak sebagai koordinat tempat kedua garis tersebut beririsan atau bersilangan di bidang Kartesius.

Bentuk-Bentuk Persamaan Garis

Persamaan garis dapat diungkapkan dalam beberapa format. Berikut adalah tabel perbandingan singkat untuk tiga bentuk yang paling umum dijumpai.

Nama Bentuk Persamaan Umum Keterangan dan Komponen
Bentuk Eksplisit (Kemiringan-Titik Potong) y = mx + c m adalah gradien (kemiringan) garis, c adalah konstanta yang menunjukkan titik potong dengan sumbu-Y.
Bentuk Implisit (Umum) Ax + By + C = 0 A, B, C adalah bilangan real. Bentuk ini sangat berguna untuk operasi aljabar seperti mencari titik potong.
Bentuk Titik-Kemiringan y – y₁ = m(x – x₁) Bentuk ini secara langsung menggunakan informasi titik yang dilalui (x₁, y₁) dan gradien m.

Langkah Umum Mencari Titik Potong

Prosedur untuk menemukan titik potong, baik dengan sumbu koordinat maupun dengan garis lain, mengikuti logika aljabar yang sistematis. Untuk titik potong dengan sumbu-X, kita mensubstitusi y = 0 ke dalam persamaan garis dan menyelesaikan untuk x. Sebaliknya, untuk sumbu-Y, kita substitusi x = 0 dan cari nilai y.

Sedangkan untuk mencari titik potong antara dua garis, misalnya garis L₁ dan L₂, langkahnya adalah menyelesaikan sistem persamaan linear yang dibentuk oleh kedua persamaan garis tersebut. Metode substitusi atau eliminasi dapat digunakan untuk menemukan pasangan nilai (x, y) yang memenuhi kedua persamaan secara bersamaan.

Mencari koordinat titik potong garis L yang melalui (-1,2) dengan x+3y=5 itu seperti menyelesaikan teka-teki logika. Proses berpikirnya mirip saat kamu memahami struktur Kalimat yang Menggunakan Kata Ganti Orang Kedua , di mana setiap elemen harus ditempatkan pada posisi yang tepat agar maknanya utuh. Dengan demikian, setelah menemukan persamaan garis L, titik potongnya dengan garis lain dapat dihitung secara definitif melalui metode eliminasi atau substitusi.

BACA JUGA  Banyaknya gelombang pada tali 20 m dengan v = 30 m/s, f = 15 Hz

Analisis Spesifik Garis Melalui Titik (-1, 2)

Fokus kita sekarang beralih ke garis L yang misterius. Satu-satunya informasi pasti yang kita miliki adalah bahwa garis L ini melewati titik koordinat (-1, 2). Dari satu titik ini, sebenarnya terbentang tak terhingga banyaknya garis yang dapat ditarik, masing-masing dibedakan oleh satu parameter kunci: gradien atau kemiringannya.

Keluarga Garis yang Melalui (-1, 2)

Dengan menggunakan bentuk titik-kemiringan, semua kemungkinan garis L dapat dinyatakan dalam satu persamaan umum: y – 2 = m(x – (-1)) atau disederhanakan menjadi y – 2 = m(x + 1). Dalam persamaan ini, m bisa berupa bilangan real apa pun. Jika m = 0, garisnya horizontal. Jika m tak terdefinisi (penyebut nol), garisnya vertikal dengan persamaan x = -1. Setiap nilai m yang berbeda menghasilkan anggota berbeda dari “keluarga garis” yang berpusat di titik (-1,2).

Syarat Memotong Garis x + 3y = 5

Agar garis L tidak hanya melalui (-1,2) tetapi juga memotong garis x + 3y = 5, syaratnya adalah gradien m tidak boleh menyebabkan L menjadi sejajar dengan garis tersebut. Jika dua garis sejajar, mereka tidak akan pernah berpotongan. Garis x + 3y = 5 dapat ditulis sebagai y = (-1/3)x + 5/3, yang memiliki gradien -1/3. Oleh karena itu, syarat utama garis L memotong adalah gradien m ≠ -1/3.

Selama m bukan -1/3, garis L pasti akan berpotongan dengan garis x + 3y = 5 di tepat satu titik.

Posisi Titik (-1,2) Relatif terhadap Garis x + 3y = 5

Mari kita periksa posisi titik (-1,2). Dengan mensubstitusikan koordinatnya ke dalam persamaan x + 3y, kita peroleh: (-1) + 3*(2) = -1 + 6 =
5. Hasilnya tepat sama dengan konstanta di ruas kanan persamaan. Ini berarti titik (-1,2) terletak tepat pada garis x + 3y = 5. Ilustrasinya, jika kita menggambar garis x + 3y = 5 di bidang Kartesius, titik (-1,2) akan berada persis di atas garis tersebut.

Fakta ini memiliki implikasi penting: titik potong antara garis L dan garis x + 3y = 5 bisa saja adalah titik (-1,2) itu sendiri, tetapi hanya jika garis L bersinggungan atau berimpit dengan garis tersebut.

Menentukan Koordinat Titik Potong

Dengan informasi yang lengkap, kita kini dapat menjabarkan prosedur aljabar untuk menemukan koordinat titik potong. Proses ini pada dasarnya adalah menyelesaikan sistem persamaan antara persamaan garis L (dalam bentuk yang mengandung m) dan persamaan garis yang sudah diketahui.

Prosedur Aljabar

Pertama, nyatakan garis L dalam bentuk yang mudah diolah. Menggunakan bentuk titik-kemiringan: y – 2 = m(x + 1). Kita bisa mengubahnya menjadi bentuk eksplisit: y = m(x + 1) + 2, atau y = mx + m +
2. Kedua, kita memiliki persamaan garis target: x + 3y =
5. Sistem persamaannya adalah:
1) y = mx + m + 2
2) x + 3y = 5
Substitusikan persamaan (1) ke dalam persamaan (2):
x + 3(mx + m + 2) = 5
x + 3mx + 3m + 6 = 5
x(1 + 3m) = 5 – 6 – 3m
x(1 + 3m) = -1 – 3m
Dengan asumsi m ≠ -1/3 (agar tidak sejajar), kita dapat mencari x:

x = (-1 – 3m) / (1 + 3m)

Setelah mendapatkan nilai x, substitusikan kembali ke persamaan y = mx + m + 2 untuk mendapatkan nilai y. Hasil (x, y) inilah koordinat titik potongnya.

Perbandingan Titik Potong Berdasarkan Gradien

Nilai gradien m yang berbeda akan menghasilkan titik potong yang berbeda pula. Tabel berikut menunjukkan beberapa contoh.

Gradien (m) Garis L Persamaan Garis L (Bentuk Eksplisit) Titik Potong dengan x+3y=5
0 (Garis Horizontal) y = 2 (-1, 2)
Tak Terdefinisi (Garis Vertikal) x = -1 (-1, 2)
1 y = x + 3 (-1, 2)
2 y = 2x + 4 (0.2, 4.4) atau (1/5, 22/5)
-2 y = -2x (-1, 2)

Pola menarik terlihat: untuk m = 0, tak terdefinisi, 1, dan -2, titik potongnya selalu kembali ke (-1,2). Ini bukan kebetulan. Karena titik (-1,2) berada di garis x+3y=5, maka setiap garis L yang melalui (-1,2) dan memiliki gradien berbeda dengan -1/3, akan memotong garis tersebut di titik yang sama, yaitu (-1,2) itu sendiri. Kecuali jika garis L berimpit, yang terjadi jika gradiennya sama, yaitu -1/3.

BACA JUGA  Cara Meningkatkan Keterlibatan Emosional Penonton dalam Pembacaan Puisi

Dalam kasus m=2, kita mendapatkan titik potong yang baru karena perhitungan aljabar menghasilkan koordinat berbeda.

Contoh Perhitungan Konkret

Mari kita ambil dua contoh dengan bentuk persamaan L yang berbeda. Pertama, misalkan garis L didefinisikan dalam bentuk implisit: 2x – y + k = 0. Karena melalui (-1,2), maka 2*(-1)
-2 + k = 0 → -4 + k = 0 → k =
4. Jadi persamaan L: 2x – y + 4 = 0 atau y = 2x +
4.

Sistem persamaannya: y = 2x + 4 dan x + 3y =
5. Substitusi: x + 3(2x+4)=5 → x+6x+12=5 → 7x = -7 → x = -1. Lalu y = 2*(-1)+4 = 2. Titik potongnya (-1,2).

Kedua, misalkan kita ingin garis L yang memotong di titik lain selain (-1,2). Kita tentukan gradien m=2 seperti di tabel. Dari rumus umum: x = (-1 – 3*2)/(1 + 3*2) = (-7)/(7) = –
1. Ternyata hasilnya tetap x = –
1. Substitusi ke y = 2*(-1) + 2 + 2 =
2.

Ini konsisten. Untuk mendapatkan titik potong yang berbeda, garis L harus memiliki gradien m = -1/3 (sejajar), tetapi itu justru tidak akan berpotongan. Kesimpulan sementara: karena titik (-1,2) sudah berada pada kedua garis, maka itu adalah satu-satunya titik potong kecuali garis L berimpit.

Variasi Kondisi dan Solusi yang Mungkin

Analisis menjadi lebih kaya ketika kita mengeksplorasi skenario-skenario batas atau khusus. Kasus kita memiliki keunikan karena titik yang diberikan berada persis pada garis target, yang membawa kita pada diskusi tentang garis sejajar dan berimpit.

Skenario Khusus: Kesejajaran dan Ketertegaklurusan

Jika garis L sejajar dengan garis x + 3y = 5, maka gradiennya m = -1/
3. Persamaan L menjadi y – 2 = (-1/3)(x + 1). Dalam kasus ini, sistem persamaan tidak memiliki solusi tunggal karena kedua garis tidak berpotongan. Secara geometris, mereka berjalan berdampingan tanpa pernah bertemu. Sebaliknya, jika garis L tegak lurus, gradiennya adalah lawan kebalikan dari -1/3, yaitu m =
3.

Persamaan L: y – 2 = 3(x + 1). Karena garis ini tetap melalui (-1,2) yang juga ada di garis target, maka titik potongnya tetaplah (-1,2). Garis tegak lurus ini akan memotong garis x+3y=5 di titik yang sama dengan garis-garis L lainnya yang bukan sejajar.

Kasus Tidak Adanya Titik Potong

Titik potong tidak dapat ditemukan (dalam arti titik tunggal) hanya dalam satu kondisi: ketika garis L sejajar dengan garis x + 3y =
5. Implikasinya, sistem persamaan linear yang terbentuk menjadi tidak konsisten atau dependen. Dalam konteks grafik, dua garis sejajar tidak memiliki titik persekutuan. Namun, ada kasus khusus lain: jika garis L berimpit (sama persis) dengan garis x + 3y = 5, maka sebenarnya terdapat tak terhingga banyak titik potong, yaitu semua titik yang berada pada garis tersebut.

Untuk kasus kita, agar berimpit, garis L harus memiliki gradien -1/3 DAN melalui (-1,2). Karena titik (-1,2) memang ada di garis x+3y=5, maka garis dengan persamaan y – 2 = (-1/3)(x + 1) sebenarnya adalah garis yang sama dengan x+3y=5, hanya dalam bentuk yang berbeda.

Hubungan Kunci Gradien, Titik, dan Titik Potong

Berikut adalah rangkuman hubungan penting antara elemen-elemen dalam masalah ini:

  • Sebuah titik yang dilalui garis dan gradiennya secara unik menentukan persamaan garis.
  • Titik potong dua garis adalah solusi dari sistem persamaan yang dibentuk oleh keduanya.
  • Dua garis akan sejajar jika gradiennya sama tetapi konstanta titik potong sumbu-Y-nya berbeda. Dalam kasus ini, tidak ada titik potong.
  • Dua garis akan berimpit jika semua koefisien (A, B, C) dalam bentuk umumnya proporsional. Dalam kasus ini, terdapat tak hingga titik potong.
  • Jika sebuah titik yang diberikan terletak pada salah satu garis, maka setiap garis lain yang melalui titik tersebut (dan tidak sejajar) akan memotong garis pertama tepat di titik tersebut.
  • Gradien garis tegak lurus adalah lawan kebalikan (negative reciprocal) dari gradien garis asal.

Aplikasi dan Representasi Visual

Masalah ini, meskipun tampak sederhana, adalah batu pijakan untuk memahami konsep geometri koordinat yang lebih kompleks. Representasi visual sangat membantu dalam membangun intuisi spasial dari solusi aljabar yang kita dapatkan.

Deskripsi Grafik Masalah

Bayangkan bidang Kartesius. Gambarlah garis x + 3y = 5. Garis ini akan memotong sumbu-Y di sekitar (0, 1.67) dan sumbu-X di (5, 0). Titik (-1, 2) akan terletak pada garis ini. Sekarang, untuk merepresentasikan garis L, kita bisa menggambar beberapa contoh.

BACA JUGA  Contoh Kontravensi Taktis Penghasutan Memfitnah Mengejutkan Lawan Memaki

Gambar satu garis horizontal (m=0) melalui (-1,2), yaitu y=2. Garis ini akan berpotongan dengan garis pertama tepat di (-1,2). Gambar juga garis vertikal (m tak terdefinisi) x=-1, yang juga berpotongan di titik yang sama. Terakhir, gambar garis dengan gradien m=2 yang melalui (-1,2), yaitu y=2x+4. Meskipun kemiringannya curam, garis ini tetap akan menembus garis x+3y=5 di (-1,2), bukan di tempat lain.

Visualisasi ini memperkuat kesimpulan bahwa selama titik (-1,2) menjadi anggota kedua garis, maka dialah titik potongnya, kecuali jika kedua garis adalah satu garis yang sama.

Langkah-Langkah Kunci Penyelesaian:

1. Kenali informasi

titik yang dilalui garis L (-1,2) dan persamaan garis kedua (x+3y=5).

  • Verifikasi posisi titik terhadap garis kedua. Di sini, titik (-1,2) ternyata berada pada garis x+3y=5.
  • Nyatakan persamaan garis L dalam bentuk yang mengandung parameter (biasanya gradien m), yaitu y – 2 = m(x + 1).
  • Selesaikan sistem persamaan antara persamaan L dan x+3y=5. Akan ditemukan bahwa solusinya bergantung pada m.
  • 5. Analisis kasus khusus

    jika m = -1/3 (garis sejajar), tidak ada titik potong unik. Untuk m lainnya, titik potongnya adalah (-1,2).

  • Interpretasi hasil secara geometris pada bidang koordinat.

Penerapan dalam Konteks Geometri yang Lebih Luas, Koordinat Titik Potong Garis L dengan x+3y=5 melalui (-1,2)

Konsep mencari titik potong garis ini adalah fundamental. Ia diterapkan dalam mencari titik temu dua lintasan, titik kesetimbangan dalam model ekonomi, solusi dari sistem persamaan linear dua variabel, dan penentuan titik puncak atau perpotongan dalam bangun datar seperti segitiga atau segiempat yang didefinisikan oleh koordinat titik-titik sudutnya. Misalnya, untuk membuktikan apakah tiga garis berpotongan di satu titik (konkuren), kita akan menggunakan prinsip yang sama: menyelesaikan sistem persamaan secara berpasangan dan memeriksa konsistensinya.

Pemahaman mendalam tentang hubungan antara persamaan aljabar dan makna geometrisnya, seperti yang telah kita lakukan, adalah keterampilan inti dalam matematika dan aplikasinya di berbagai bidang sains dan teknologi.

Penutupan Akhir

Jadi, perjalanan mencari Koordinat Titik Potong Garis L dengan x+3y=5 melalui (-1,2) pada akhirnya menunjukkan keindahan sistem yang teratur dalam matematika. Titik (-1,2) berperan sebagai portal yang menghubungkan kita dengan tak terhingga kemungkinan garis, dan masing-masing garis itu akan menemukan jalannya untuk berinteraksi dengan x+3y=5 di satu titik yang unik. Pemahaman ini bukan cuma untuk menyelesaikan soal, tetapi juga membuka pikiran tentang bagaimana hubungan geometris dan aljabar bekerja secara harmonis.

Dengan menguasai logika dasarnya, kita bisa menerjemahkan setiap titik dan garis menjadi cerita visual yang menarik di atas bidang koordinat.

Panduan Tanya Jawab: Koordinat Titik Potong Garis L Dengan X+3y=5 Melalui (-1,2)

Apakah hanya ada satu jawaban untuk koordinat titik potongnya?

Tidak. Karena garis L yang melalui (-1,2) bisa memiliki kemiringan (gradien) yang berbeda-beda, maka titik potongnya dengan garis x+3y=5 juga akan berbeda. Ada tak terhingga kemungkinan, kecuali jika ada syarat tambahan untuk garis L (misalnya sejajar atau tegak lurus).

Bagaimana jika garis L ternyata sejajar dengan x+3y=5?

Jika sejajar, maka garis L tidak akan pernah memotong garis x+3y=5. Dengan kata lain, tidak ada titik potong yang memenuhi karena kedua garis tidak akan bertemu.

Apakah titik (-1,2) terletak pada garis x+3y=5?

Tidak. Jika kita substitusi x=-1 dan y=2 ke persamaan x+3y=5, hasilnya adalah (-1) + 3*(2) = 5, yang bernilai benar (5=5). Tunggu, itu benar. Jadi, titik (-1,2) justru terletak PADA garis x+3y=5. Artinya, jika garis L melalui (-1,2) dan juga merupakan garis yang sama (berhimpit) dengan x+3y=5, maka titik potongnya adalah semua titik pada garis tersebut, termasuk (-1,2).

Menentukan koordinat titik potong garis L yang melalui (-1,2) dan memotong x+3y=5 itu ibarat mencari solusi elegan dari sebuah persamaan. Proses analitis semacam ini adalah fondasi inovasi, layaknya terobosan dalam Contoh barang dan jasa dengan nilai inovasi yang mengubah pola lama. Pada akhirnya, baik dalam matematika maupun bisnis, ketepatan menemukan titik potong atau nilai unik itulah yang menghasilkan kejelasan dan dampak nyata.

Namun jika L garis lain yang melalui (-1,2), maka ia akan memotong di titik itu juga, sehingga (-1,2) sendiri adalah titik potongnya.

Metode apa saja yang bisa digunakan untuk mencari titik potong ini?

Dua metode utama adalah: (1) Substitusi, di mana persamaan garis L (dalam bentuk y=mx+c atau lainnya) disubstitusi ke persamaan x+3y=5, atau (2) Eliminasi, dengan menganggap kedua persamaan sebagai sistem persamaan linear dua variabel yang diselesaikan bersama.

Leave a Comment