Perhitungan Jarak Tempuh Mobil dengan 25 Liter Bensin itu ibarat teka-teki yang jawabannya nggak cuma ada di spesifikasi brosur. Bayangin, isi penuh tangki bisa bawa kita menjelajah pegunungan, terjebak macet metropolitan, atau meluncur mulus di tol, dengan hasil jarak yang bisa beda jauh! Nah, artikel ini bakal mengajak kita membedah berbagai skenario nyata, dari medan ekstrem sampai perawatan rutin, untuk menguak sejauh apa sebenarnya potensi dari 25 liter bahan bakar yang kita miliki.
Dengan pendekatan yang komprehensif, kita akan menganalisis bagaimana faktor-faktor teknis seperti karakteristik medan, kondisi lalu lintas, tekanan ban, jenis kendaraan, dan kualitas perawatan secara signifikan mempengaruhi angka efisiensi. Pemahaman ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan contoh perhitungan, tabel perbandingan, serta tips praktis yang langsung bisa diterapkan untuk memaksimalkan setiap tetes bensin dalam perjalanan sehari-hari maupun petualangan jarak jauh.
Menghitung Jarak Jelajah Bensin 25 Liter pada Medan Pegunungan Berbatu
Mengemudi di pegunungan berbatu adalah ujian nyata bagi efisiensi bahan bakar kendaraan. Medan ini menantang dengan dua faktor utama: permukaan jalan yang tidak rata dan kemiringan yang ekstrem. Permukaan berbatu dengan banyak tonjolan meningkatkan rolling resistance secara signifikan. Ban harus terus-menerus beradaptasi dan mendorong mobil melewati hambatan kecil, yang membutuhkan tenaga lebih dari mesin. Sementara itu, kemiringan jalan adalah faktor penguras bensin yang paling dominan.
Saat menanjak, mesin harus bekerja melawan gaya gravitasi. Untuk mempertahankan kecepatan, dibutuhkan torsi besar yang biasanya diperoleh dengan menurunkan gigi dan membuka throttle lebar-lebar, sehingga bahan bakar yang dihisap ke ruang bakar jauh lebih banyak.
Sebagai contoh perhitungan, mari ambil sebuah SUV dengan rasio kompresi mesin 10.5:1 dan konsumsi bahan bakar rata-rata di jalan rata sebesar 10 km/liter. Di tanjakan dengan kemiringan 10%, konsumsi bahan bakar bisa memburuk hingga 40-50%. Jika di jalan rata dengan 25 liter bensin bisa menempuh 250 km, di tanjakan 10% jaraknya mungkin hanya tersisa 140-150 km. Perhitungan sederhananya: konsumsi menjadi sekitar 5.8 – 6 km/liter (dari 10 km/liter).
Jadi, jarak tempuh = 25 liter x 6 km/liter = 150 km. Ini belum memperhitungkan faktor permukaan berbatu yang bisa menambah pemborosan sekitar 10-15%.
Perbandingan Jarak Tempuh Berdasarkan Jenis Mobil dan Kemiringan
Source: kompas.com
Berikut adalah tabel estimasi jarak tempuh untuk tiga jenis mobil populer dengan 25 liter bensin pada berbagai tingkat kemiringan di medan pegunungan. Angka ini merupakan perkiraan berdasarkan karakteristik umum kendaraan dan asumsi medan berbatu.
| Jenis Mobil | Kemiringan 5% (km) | Kemiringan 10% (km) | Kemiringan 15% (km) |
|---|---|---|---|
| SUV (AWD, 2000cc) | ~175 | ~145 | ~120 |
| MPV (1500cc) | ~190 | ~160 | ~130 |
| Hatchback (1300cc) | ~200 | ~170 | ~140 |
Strategi mengemudi efisien di pegunungan: Saat menanjak, jangan paksakan kecepatan. Gunakan momentum dari jalan datar sebelumnya, dan naikkan gigi tepat setelah putaran mesin cukup untuk menjaga laju tanpa tersendat. Saat menurun, manfaatkan engine brake dengan menurunkan gigi (bukan hanya mengandalkan rem kaki) untuk mengontrol kecepatan. Ini menghemat bahan bakar karena sistem injeksi dapat memotong suplai bensin sepenuhnya saat roda mendorong mesin, sementara mobil tetap meluncur.
Pengaruh Faktor Eksternal di Ketinggian
Selain medan, kondisi lingkungan pegunungan juga berpengaruh. Suhu udara yang lebih dingin di ketinggian sebenarnya meningkatkan densitas udara, yang bisa menguntungkan untuk pembakaran mesin bernafas alami. Namun, tekanan angin yang sering berubah-ubah dan lebih kencang menjadi faktor lain. Angin headwind yang kuat akan meningkatkan drag aerodinamis, memaksa mesin bekerja lebih keras untuk mempertahankan kecepatan, terutama di bagian puncak atau punggungan bukit yang terbuka.
Penguapan bahan bakar dari sistem karburator atau tangki sudah jarang terjadi pada mobil modern, tetapi efisiensi pembakaran tetap bisa turun jika mesin belum mencapai suhu kerja optimal di cuaca yang sangat dingin.
Simulasi Pemakaian 25 Liter Bensin dalam Skenario Macet Total di Perkotaan Metropolitan
Kondisi macet parah di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya mengubah logika konsumsi bahan bakar dari kilometer per liter menjadi jam per liter. Di sini, faktor waktu idle, beban sistem pendukung, dan pola berkendara stop-and-go mendominasi. Ketika mobil berhenti total namun mesin tetap hidup, konsumsi bahan bakar tetap terjadi untuk menjaga putaran idle, menyalakan AC, dan menggerakkan berbagai perangkat elektronik.
Penggunaan AC maksimal, terutama di siang hari terik, membebani kompresor yang digerakkan oleh mesin, sehingga meningkatkan konsumsi bahan bakar idle hingga 10-20%.
Frekuensi stop-and-go yang tinggi, yaitu berhenti lalu melaju pelan hanya untuk berhenti lagi dalam jarak dekat, sangat tidak efisien. Setiap kali menginjak gas dari posisi diam, mobil membutuhkan tenaga besar untuk menggerakkan massa yang berat dari kondisi diam, yang membutuhkan campuran bahan bakar yang kaya. Jika dalam satu jam kita hanya bisa bergerak sejauh 5 km dalam kondisi macet total, sementara konsumsi bahan bakar saat idle dan merayap bisa mencapai 1.5 – 2 liter per jam untuk mobil 1500cc, maka 25 liter bensin mungkin hanya bertahan 12 hingga 16 jam operasional.
Dengan kecepatan rata-rata 5 km/jam, jarak efektif yang ditempuh hanya sekitar 60 hingga 80 km saja.
Komponen Penyumbang Pemborosan Bensin Saat Macet
Berikut adalah daftar komponen yang paling banyak menyedot daya dari mesin saat mobil terjebak macet, berkontribusi pada pemborosan bahan bakar:
- Sistem Pengkondisi Udara (AC): Kompresor AC adalah beban terbesar saat idle. Blower yang menyala tinggi dan siklus kompresor yang sering aktif untuk mendinginkan kabin meningkatkan konsumsi secara signifikan.
- Sistem Kelistrikan: Audio, charger ponsel, lampu, dan berbagai perangkat elektronik lainnya mengambil daya dari alternator, yang beban kerjanya ditanggung oleh mesin melalui belt.
- Transmisi Otomatis: Pada posisi D (Drive) saat merayap, torque converter terus menerus dalam keadaan slip parsial, yang menghasilkan panas dan memboroskan energi mesin dibandingkan posisi N (Neutral).
- Sistem Manajemen Mesin: Saat idle, ECU tetap mengatur pembakaran untuk menjaga stabilitas putaran mesin, tetap menyuntikkan bahan bakar meski dalam jumlah kecil yang terus menerus.
Pola Aliran Bahan Bakal Saat Merayap
Bayangkan aliran bahan bakar di jalan lancar seperti aliran sungai yang stabil dan terukur. Injektor menyemprotkan bahan bakar dalam durasi pendek-pendek namun teratur sesuai dengan beban mesin yang konstan. Sebaliknya, dalam kondisi macet dan merayap, pola alirannya menjadi seperti sentakan-sentakan yang tidak efisien. Saat pedal gas diinjak sedikit untuk merayap, ECU memerintahkan suntikan bahan bakar yang relatif banyak untuk mencegah mesin stall.
Namun, beberapa detik kemudian, saat kaki beralih ke rem untuk berhenti, aliran bahan bakar dikurangi ke mode idle. Siklus “suntikan besar – idle – suntikan besar” ini terjadi berulang kali dalam jarak dekat, menyebabkan lebih banyak bahan bakar terbuang untuk akselerasi singkat yang tidak menghasilkan jarak tempuh yang berarti, dibandingkan dengan akselerasi sekali lalu meluncur stabil di jalan lancar.
Perhitungan Jelas: Macet vs Lancar
Mari bandingkan untuk mobil matic 1500cc. Di jalan lancar non-tol, dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam dan konsumsi 12 km/liter, 25 liter bensin dapat menempuh 300 km. Di jalan macet parah dengan kecepatan rata-rata 6 km/jam dan konsumsi memburuk menjadi 4 km/liter karena faktor idle dan stop-and-go, jarak tempuhnya hanya 100 km. Artinya, volume bensin yang sama hanya menghasilkan sepertiga dari jarak tempuh normal.
Perbedaan tiga kali lipat ini menggambarkan betapa mahalnya biaya kemacetan, tidak hanya waktu, tetapi juga sumber daya energi.
Optimasi Tekanan Ban dan Distribusi Beban untuk Maksimisasi Jarak dari 25 Liter Bensin
Tekanan ban yang tidak tepat adalah musuh diam-diam dari efisiensi bahan bakar. Ban merupakan titik kontak mobil dengan jalan, dan hambatan gelinding (rolling resistance) yang terjadi di sini menentukan sebagian besar energi yang harus dikeluarkan mesin. Tekanan ban yang kurang (underinflated) menyebabkan tapak ban lebih banyak menempel ke permukaan jalan. Area kontak yang lebih luas ini meningkatkan friksi dan membuat dinding samping ban lebih fleksibel, sehingga banyak energi mesin yang terbuang untuk terus-menerus mengubah bentuk ban alih-alih menggerakkan mobil maju.
Studi menunjukkan, tekanan ban 20% di bawah rekomendasi dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar hingga 10%.
Sebaliknya, tekanan berlebih (overinflated) memang mengurangi rolling resistance, tetapi memiliki konsekuensi lain. Traksi berkurang, kenyamanan memburuk, dan keausan ban menjadi tidak merata (bagian tengah lebih cepat aus). Yang lebih berbahaya, risiko pecah ban meningkat. Titik optimalnya adalah pada tekanan yang direkomendasikan pabrikan mobil (bukan pabrikan ban) untuk kondisi muatan tertentu. Tekanan ideal ini sudah dihitung untuk menyeimbangkan antara efisiensi, kenyamanan, keamanan, dan umur pakai ban.
Estimasi Jarak Tempuh Berdasarkan Tekanan Ban dan Muatan
Tabel berikut menunjukkan bagaimana variasi tekanan ban dan muatan kendaraan dapat mempengaruhi estimasi jarak tempuh dengan 25 liter bensin pada sebuah mobil sedan. Angka dasar diasumsikan konsumsi ideal 12 km/liter (jarak 300 km).
| Kondisi Muatan | Underinflated (-25%) | Tekanan Ideal | Overinflated (+25%) |
|---|---|---|---|
| Ringan (1-2 penumpang) | ~270 km | ~300 km | ~285 km |
| Sedang (3-4 penumpang) | ~255 km | ~290 km | ~275 km |
| Penuh (5 penumpang + bagasi) | ~240 km | ~280 km | ~265 km |
Panduan praktis pengecekan tekanan ban: Periksa tekanan ban saat ban dalam kondisi dingin (sebelum berkendara atau setelah berjalan kurang dari 3 km). Gunakan tekanan rekomendasi pabrikan mobil yang biasanya tertera di stiker di pintu pengemudi atau tutup tangki bensin. Untuk perjalanan jarak jauh dengan muatan penuh, naikkan tekanan 2-4 psi dari rekomendasi normal, tetapi jangan melebihi tekanan maksimum yang tertera di dinding ban. Selalu setel ulang ke tekanan normal setelah perjalanan berat selesai.
Pola dan Kompon Ban yang Efisien, Perhitungan Jarak Tempuh Mobil dengan 25 Liter Bensin
Untuk perjalanan antar kota yang mengutamakan efisiensi, pilihlah ban dengan pola telapak (pattern) yang didominasi oleh alur membujur (rib) dan memiliki banyak blok kecil yang kaku. Pola seperti ini mengurangi distorsi dan getaran saat bergulir di jalan aspal yang mulus. Hindari pola ban off-road yang agresif karena hambatan gelindingnya tinggi. Dari sisi kompon, ban dengan kompon keras (high silica compound) biasanya menawarkan rolling resistance yang lebih rendah dibandingkan kompon lunak yang berorientasi pada cengkeraman.
Ban yang dikategorikan sebagai “Eco” atau “Fuel Saver” dari berbagai merek biasanya telah dioptimalkan dengan kombinasi pola telapak dan kompon khusus untuk mencapai efisiensi bahan bakar yang lebih baik.
Analisis Komparatif Jarak Tempuh 25 Liter antara Mobil Konvensional, Hybrid, dan Diesel
Dengan volume bahan bakar yang sama, jarak tempuh yang bisa dicapai sangat bergantung pada bagaimana kendaraan mengonversi energi kimia dalam bahan bakar menjadi gerak. Mobil konvensional bensin mengandalkan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) sebagai satu-satunya sumber penggerak. Efisiensinya terbatas oleh siklus termodinamika dan banyak energi yang hilang sebagai panas. Mobil hybrid menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik dan baterai.
Sistem ini memungkinkan mesin bensin bekerja di zona efisiensi optimalnya, dan saat kondisi kurang efisien (seperti start-stop, akselerasi rendah), motor listrik mengambil alih. Selain itu, energi yang biasanya terbuang saat pengereman diubah menjadi listrik (regenerative braking).
Mobil diesel memiliki prinsip berbeda. Bahan bakar solar memiliki kandungan energi per liter yang lebih tinggi daripada bensin, dan mesin diesel bekerja dengan kompresi tinggi tanpa busi pengapian, yang secara termodinamis lebih efisien, terutama pada putaran rendah hingga menengah. Inilah yang memberikan torsi besar dan konsumsi bahan bakar yang lebih irit untuk ukuran mesin yang setara, meski sering diimbangi dengan emisi partikulat yang lebih tinggi.
Dengan 25 liter solar, sebuah mobil diesel bisa menempuh jarak yang jauh lebih panjang dibandingkan mobil bensin dengan kapasitas serupa.
Keuntungan dan Kerugian Masing-Masing Sistem Propulsi
- Mobil Konvensional (Bensin)
- Keuntungan: Harga pembelian lebih murah, perawatan lebih sederhana dan familiar, respons throttle yang responsif.
- Kerugian: Efisiensi terendah di antara ketiganya, sangat sensitif terhadap kondisi berkendara (macet, tanjakan), jarak tempuh 25 liter paling terbatas.
- Mobil Hybrid
- Keuntungan: Efisiensi tertinggi di kondisi perkotaan dan lalu lintas padat, konsumsi bahan bakar sangat rendah untuk jarak tempuh yang sama, pengalaman berkendara lebih halus dan senyap.
- Kerugian: Harga pembelian lebih tinggi, kompleksitas sistem yang membutuhkan teknisi khusus, efisiensi di jalan tol tinggi bisa turun mendekati mobil konvensional.
- Mobil Diesel
- Keuntungan: Efisiensi tinggi untuk perjalanan jarak jauh dan konstan di jalan tol, torsi besar cocok untuk muatan berat atau medan berat, harga solar biasanya lebih murah.
- Kerugian: Harga pembelian tinggi, biaya perawatan komponen seperti injector dan turbocharger mahal, suara mesin lebih berisik, emisi gas buang yang berbeda.
Momen Penghematan pada Mobil Hybrid
Ilustrasikan sebuah mobil hybrid mendekati lampu merah. Pengemudi melepas pedal gas dan menginjak rem. Pada mobil konvensional, energi kinetik mobil yang meluncur akan diubah menjadi panas yang sia-sia di kampas rem. Pada mobil hybrid, saat pedal rem diinjak, motor listrik berubah fungsi menjadi generator. Roda yang masih berputar memutar generator, yang menghasilkan listrik untuk mengisi baterai sambil sekaligus memberikan efek pengereman.
Listrik yang disimpan ini nantinya akan digunakan untuk menggerakkan mobil dari posisi diam atau membantu akselerasi, sehingga mesin bensin tidak perlu bekerja keras dan menghemat bahan bakar. Momen “menghidupkan” mobil dari parkir juga sering hanya menggunakan motor listrik dari baterai, tanpa mesin bensin menyala sama sekali.
Prosedur Perkiraan Jarak Tempuh
Untuk memperkirakan jarak tempuh 25 liter pada masing-masing jenis, kita perlu mempertimbangkan faktor kunci. Pertama, berat kendaraan dan koefisien drag mempengaruhi energi yang dibutuhkan. Kedua, kapasitas mesin dan teknologi injeksi (seperti direct injection) menentukan seberapa efisien bahan bakar diubah menjadi tenaga. Sebagai contoh perhitungan kasar:
Mobil konvensional (1500cc, teknologi port injection): Konsumsi rata-rata 12 km/liter → Jarak = 25 x 12 = 300 km.
Mobil hybrid (1500cc, sistem parallel): Konsumsi rata-rata 22 km/liter → Jarak = 25 x 22 = 550 km.
Mobil diesel (2000cc, turbo intercooler): Konsumsi rata-rata 16 km/liter → Jarak = 25 x 16 = 400 km.
Angka ini sangat bergantung pada siklus berkendara. Hybrid unggul mutlak di kota, sementara diesel bisa unggul di jalan bebas hambatan yang konstan.
Pengaruh Pola Perawatan Mesin dan Kualitas Bensin terhadap Konsumsi 25 Liter: Perhitungan Jarak Tempuh Mobil Dengan 25 Liter Bensin
Kondisi mesin yang prima adalah prasyarat untuk mencapai angka efisiensi bahan bakar yang optimal. Banyak komponen sederhana yang jika diabaikan, menjadi penyebab tersembunyi pemborosan. Filter udara yang kotor menghambat aliran udara ke ruang bakar. Mesin membutuhkan perbandingan udara dan bensin yang tepat (stoichiometric). Jika udara yang masuk sedikit, ECU mungkin akan memerintahkan injektor menyemprotkan lebih banyak bensin untuk menjaga performa, yang berujung pada campuran kaya dan pemborosan.
Mencoba menghitung jarak tempuh mobil dengan 25 liter bensin, kita perlu ketelitian angka. Mirip seperti saat mengurai soal matematika, misalnya memahami Hasil (-30) – (-75) + (-28) yang membutuhkan logika bertahap. Nah, prinsip perhitungan bertahap dan akurat itu sendiri yang kita terapkan untuk memperkirakan sejauh apa mobil bisa melaju dengan bahan bakar yang tersedia.
Busi yang aus atau celah elektrodanya tidak tepat menyebabkan percikan api yang lemah atau tidak tepat waktu. Pembakaran menjadi tidak sempurna, tenaga berkurang, dan untuk mencapai performa yang sama, pengemudi cenderung menginjak gas lebih dalam.
Oli mesin yang sudah aus, kentalnya berkurang, atau terkontaminasi akan meningkatkan gesekan internal di dalam mesin. Gesekan ini adalah energi yang terbuang, memaksa mesin bekerja lebih keras untuk menghasilkan tenaga yang sama ke roda. Demikian pula throttle body yang kotor dapat menyebabkan respon pedal gas yang lambat dan pengaturan udara yang tidak akurat. Semua faktor ini bekerja secara kumulatif. Sebuah mobil yang jarang dirawat bisa kehilangan efisiensi bahan bakarnya hingga 20-30% tanpa disadari pemiliknya, karena penurunan terjadi bertahap.
Dampak Komponen Perawatan terhadap Efisiensi
Tabel ini memetakan dampak dari kondisi beberapa komponen kritis terhadap efisiensi bahan bakar dan jarak tempuh estimasi dari 25 liter bensin, dengan asumsi awal mobil dalam kondisi prima dapat menempuh 400 km.
| Komponen | Kondisi Buruk | Penurunan Efisiensi | Jarak Tempuh Estimasi |
|---|---|---|---|
| Filter Udara | Sangat Kotor | 10% | ~360 km |
| Busi | Aus / Celah Tidak Standar | 5-8% | ~368 km |
| Oli Mesin | Terlalu Kental / Aus | 2-5% | ~384 km |
| Throttle Body | Kotor Berkerak | 3-7% | ~372 km |
Tindakan perawatan rutin untuk efisiensi maksimal: Ganti filter udara sesuai jadwal atau lebih cepat jika sering melalui jalan berdebu. Periksa dan ganti busi tepat waktu sesuai rekomendasi pabrikan. Ganti oli mesin dan filter oli secara berkala dengan spesifikasi yang tepat. Bersihkan throttle body setiap 40.000 – 50.000 km. Selain itu, pastikan roda tidak tersangkut dengan periksa rem secara berkala, dan lakukan spooring-balancing untuk mengurangi hambatan roda yang tidak perlu.
Pengaruh Angka Oktan Bensin
Menggunakan bensin dengan oktan lebih rendah dari yang direkomendasikan pabrikan dapat menyebabkan knocking atau ngelitik, yaitu pembakaran spontan yang tidak terkendali sebelum busi memercik. ECU mobil modern biasanya memiliki sensor knock yang akan mendeteksi hal ini dan menyesuaikan timing pengapian menjadi lebih mundur (retard) untuk mencegah kerusakan. Penyesuaian ini membuat pembakaran kurang optimal, mengurangi tenaga, dan pada akhirnya untuk mendapatkan akselerasi yang sama, pengemudi akan menginjak gas lebih dalam sehingga boros.
Sebaliknya, menggunakan bensin beroktan lebih tinggi dari yang diperlukan umumnya tidak memberikan manfaat efisiensi tambahan yang signifikan pada mesin yang tidak dirancang untuk itu. Kuncinya adalah menggunakan oktan yang tepat sesuai manual buku panduan. Dengan 25 liter bensin beroktan tepat, mesin bekerja optimal dan jarak tempuh akan maksimal sesuai desain.
Ulasan Penutup
Jadi, kesimpulannya, jarak tempuh 25 liter bensin itu jauh lebih dari sekadar angka tetap. Ia adalah cerminan dari interaksi yang dinamis antara pilihan kendaraan, gaya berkendara, perawatan, dan kondisi lingkungan. Dengan menyadari dan mengoptimalkan faktor-faktor kunci yang telah dibahas—mulai dari teknik mengemudi di tanjakan, menjaga tekanan ban ideal, hingga memilih bahan bakar yang tepat—kita bisa mengambil kendali. Pada akhirnya, memahami hal ini bukan cuma soal menghemat budget, tapi juga tentang menjadi pengendara yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.
Siap untuk mengeksplor lebih jauh dengan tangki bensin Anda?
Kumpulan Pertanyaan Umum
Apakah menghidupkan AC saat macet benar-benar menguras bensin lebih banyak daripada membuka jendela?
Ya, terutama dalam kemacetan parah dengan kecepatan sangat rendah atau idle. Kompresor AC mengambil daya langsung dari mesin, meningkatkan beban dan konsumsi bahan bakar. Membuka jendela pada kecepatan rendah seperti ini memiliki dampak gesekan angin (drag) yang minimal, sehingga lebih efisien.
Mobil diesel selalu lebih irit dari mobil bensin untuk jarak tempuh 25 liter, benarkah?
Tidak selalu mutlak. Mesin diesel memang memiliki efisiensi termal yang lebih tinggi, sehingga untuk perjalanan jarak jauh konstan biasanya lebih unggul. Namun, dalam skenario stop-and-go perkotaan yang ekstrem, keunggulan ini bisa menyusut. Selain itu, pertimbangkan juga harga solar yang seringkali berbeda dengan bensin.
Berapa sering sebaiknya mengecek tekanan ban untuk optimalisasi jarak tempuh?
Disarankan untuk mengecek tekanan ban minimal sebulan sekali, dan selalu sebelum melakukan perjalanan jarak jauh. Periksa saat ban dalam kondisi dingin (mobil belum berjalan lebih dari 2-3 km) untuk mendapatkan pembacaan yang akurat sesuai rekomendasi pabrikan.
Apakah menggunakan bahan bakar dengan oktan lebih tinggi dari rekomendasi mesin akan menambah jarak tempuh?
Tidak secara signifikan, dan justru bisa sia-sia. Oktan tinggi mencegah knocking pada mesin berkompresi tinggi. Jika mesin Anda dirancang untuk RON 90, menggunakan RON 98 tidak akan meningkatkan efisiensi atau tenaga, hanya membebani kantong. Gunakan sesuai spesifikasi untuk hasil terbaik.