Konversi 15% ke Desimal 0,02 Sebuah Kontradiksi Numerik

Konversi 15% ke desimal 0,02 adalah sebuah pernyataan yang sekilas tampak seperti tugas matematika biasa, namun segera terasa janggal. Bayangkan seseorang mengatakan sepotong kue 15% dari loyang besar ternyata hanya sebesar 2%. Pasti ada yang salah, bukan? Kontradiksi kecil ini justru menjadi pintu masuk yang sempurna untuk menjelajahi dunia angka, logika, dan bagaimana otak kita terkadang mempermainkan persepsi terhadap nilai.

Mari kita telusuri benang kusut ini, karena di balik kesalahan sederhana, tersimpan pelajaran berharga tentang ketelitian yang berlaku dari pasar tradisional hingga laboratorium sains.

Pada dasarnya, persentase adalah cara untuk menyatakan pecahan dari seratus. Jadi, 15% secara harfiah berarti 15 per
100. Logika konversinya pun sebenarnya sangat lugas: untuk mengubah persen ke desimal, kita hanya perlu memindahkan tanda desimal dua tempat ke kiri atau, dengan kata lain, membagi angka tersebut dengan 100. Dengan demikian, 15% berubah menjadi 0,15, sebuah nilai yang lima kali lebih besar dari 0,02.

Perbedaan antara 0,15 dan 0,02 mungkin terlihat kecil di atas kertas, namun dalam penerapan dunia nyata, selisih itu bisa berarti ribuan bahkan jutaan rupiah.

Mengurai Benang Kusut dalam Pernyataan Numerik yang Kontradiktif

Dalam dunia angka yang tampak kaku, terkadang kita menemukan pernyataan yang langsung terasa janggal, seperti klaim bahwa konversi 15% ke desimal adalah 0,02. Kontradiksi ini menarik bukan sebagai sekadar kesalahan, tetapi sebagai jendela untuk memahami logika dasar sistem numerik kita. Persentase, pada hakikatnya, adalah pecahan dengan penyebut seratus. Jadi, 15% secara harfiah berarti “15 dari 100” atau 15/100. Nilai ini, ketika diubah ke bentuk desimal, mengharuskan kita membagi 15 dengan 100.

Operasi matematika dasar ini akan selalu menghasilkan 0.15, karena membagi dengan 100 berarti memindahkan tanda desimal dua tempat ke kiri. Klaim bahwa hasilnya 0.02 sama saja dengan mengatakan 15/100 = 2/100, yang jelas-jelas melanggar prinsip kesetaraan paling fundamental. Menelusuri akar kontradiksi ini mengajak kita untuk lebih menghargai konsistensi dan keindahan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan antara nilai yang benar dan klaim yang keliru menjadi sangat jelas ketika kita membandingkannya secara visual dalam berbagai bentuk representasi angka.

Nilai Bentuk Pecahan Bentuk Desimal Bentuk Persentase
15% (Benar) 15/100 atau 3/20 0.15 15%
1.5% 1.5/100 atau 15/1000 0.015 1.5%
0.15 (Desimal) 15/100 0.15 15%
0.02 (Klaim Keliru) 2/100 atau 1/50 0.02 2%

Langkah Konversi Persentase ke Desimal yang Benar

Konversi persentase ke desimal adalah proses satu langkah yang sederhana jika kita memahami makna simbol “%”. Simbol ini bukan sekadar hiasan; ia mewakili konsep “per seratus”. Oleh karena itu, mengubah persentase menjadi desimal pada dasarnya adalah menghilangkan simbol “%” dan secara bersamaan membagi angka tersebut dengan 100. Logika pergeseran tanda desimal ini mirip dengan mengubah satuan, seperti mengubah centimeter ke meter.

Jika 15% diartikan sebagai 15 “perseratusan”, maka untuk menyatakannya dalam bentuk “keseluruhan” (desimal), kita perlu mengecilkannya seratus kali lipat.

Langkah-langkah konkretnya adalah sebagai berikut: pertama, hapus simbol persen (%) dari angka tersebut. Kedua, bayangkan atau letakkan tanda desimal di sebelah kanan angka terakhir (contoh: 15 menjadi 15.0). Ketiga, pindahkan tanda desimal tersebut dua tempat ke kiri. Untuk angka 15, memindahkan desimal dua tempat ke kiri dari 15.0 akan menghasilkan 0.150, yang biasanya ditulis sebagai 0.
15.

Proses ini berlaku universal: 50% menjadi 0.50, 7% menjadi 0.07, dan 125% menjadi 1.25.

Menganggap 15% sama dengan 0.02 ibaratnya menyamakan satu liter air dengan satu gelas belimbing. Meski sama-sama wadah cairan, kapasitasnya jauh berbeda. Satu liter jelas terisi penuh, sementara satu gelas belimbing hanya memuat sekitar 200-250 ml. Begitu pula, 15% mewakili 15 bagian dari seratus, suatu porsi yang cukup signifikan. Sementara 0.02 hanyalah 2 bagian dari seratus, porsi yang jauh lebih kecil. Keduanya tidak mungkin menggambarkan kuantitas yang sama dalam konteks yang identik.

Ngomong-ngomong soal konversi angka, tahu nggak sih kalau 15% itu sebenarnya 0.15, bukan 0.02? Nah, pemahaman yang akurat seperti ini krusial banget, lho, apalagi saat menganalisis data ekonomi global. Misalnya, untuk benar-benar mengukur seberapa besar pengaruh kerja sama lintas negara, kita perlu menyelami lebih dalam tentang Dampak Terbentuknya Organisasi Internasional dalam Perdagangan Internasional. Dengan mempelajarinya, kita jadi punya perspektif yang lebih tajam, persis seperti membedakan dengan tepat bahwa 0.02 dan 0.15 adalah dua nilai desimal yang sangat berbeda.

Pelacakan Sumber Kesalahan dalam Proses Konversi yang Keliru

Kesalahan mengonversi 15% menjadi 0.02 jarang terjadi secara kebetulan murni. Biasanya, ada pola pikir atau titik kritis tertentu dalam proses mental yang mengarah pada hasil yang melenceng itu. Dengan mengidentifikasi titik-titik rawan ini, kita bisa lebih waspada dan membangun sistem pengecekan internal untuk mencegah kesalahan serupa di masa depan, terutama dalam situasi yang membutuhkan ketepatan numerik tinggi.

BACA JUGA  TRIGONOMETRI (1 - sin² A)·tan² A = Menuju Penyederhanaan Ekspresi

Tiga titik kritis utama yang sering menjadi biang keladi adalah kesalahan penulisan atau pembacaan angka, miskonsepsi dalam operasi pembagian, dan kesalahan menghitung jumlah pergeseran desimal. Kesalahan penulisan bisa sesederhana salah menulis angka 15 menjadi 1.5 atau salah mencatat hasil dari tahap perhitungan lain. Miskonsepsi pembagian terjadi ketika seseorang merasa harus “membagi kecil” angka persen, lalu tanpa dasar yang jelas membagi 15 dengan 7.5 atau angka lain yang menghasilkan
2.

Yang paling umum adalah kesalahan dalam menghitung pergeseran desimal: seseorang mungkin tahu harus memindahkan desimal, tetapi bergeser tiga tempat ke kiri (15 -> 0.015) atau malah bergeser ke kanan, dan kemudian salah menulis atau membulatkan angka yang muncul.

Demonstrasi Titik Kesalahan dalam Perhitungan Manual

  • Kesalahan Penulisan/Pembacaan: Angka 15% yang tercetak samar atau tulisan tangan yang buruk dapat terbaca sebagai “1.5%”. Saat dikonversi, 1.5% menjadi 0.015. Jika angka nol di depan dan di belakang tidak hati-hati, 0.015 bisa dengan mudah tertulis sebagai 0.15, dan kemudian mungkin dikoreksi secara keliru menjadi 0.02 karena merasa “terlalu besar”.
  • Miskonsepsi Pembagian: Ada gagasan bahwa “mengubah ke desimal berarti membuatnya lebih kecil, jadi harus dibagi”. Tanpa mengingat aturan “dibagi 100”, seseorang mungkin mencoba membagi 15 dengan angka lain, misalnya 7.5, karena merasa itu setengahnya. 15 ÷ 7.5 = 2. Lalu, karena hasilnya 2, mereka menuliskannya sebagai 0.02.
  • Kesalahan Pergeseran Desimal: Langkah: 15% -> hapus % -> 15 -> pindahkan desimal dua tempat ke kiri. Di sini, karena 15 adalah bilangan bulat, desimal implisitnya di belakang angka 5 (15.0). Saat memindahkan dua tempat ke kiri, seharusnya: 15.0 -> 1.5 -> 0.
    15. Namun, jika seseorang bergeser tiga tempat: 15.0 -> 1.5 -> 0.15 -> 0.015, dan kemudian mereka mungkin melihat 0.015, menganggap angka 1 setelah nol adalah kesalahan, dan “memperbaikinya” menjadi 0.02.

Ilustrasi Alur Pikiran yang Keliru

Konversi 15% ke desimal 0,02

Source: kantinit.com

Bayangkan seseorang sedang terburu-buru menghitung diskon. Mereka melihat label “Diskon 15%”. Dalam pikiran mereka, “Oke, ubah 15% ke desimal. Caranya, bagi atau geser koma. Angkanya
15.

Koma nya di belakang
5. Geser dua kali ke kiri karena persen. Geser pertama: dari belakang 5 ke depan 5, jadi 1.
5. Geser kedua: dari depan 5 ke depan 1…

eh, ini jadi 0.15? Tunggu, sepertinya kurang kecil. Diskon 15% harusnya angka desimalnya kecil. Mungkin aku geser tiga kali? Coba, dari 15.0, geser satu jadi 1.5, geser dua jadi 0.15, geser tiga jadi 0.015.

Nah, ini lebih mirip angka diskon yang kecil. Tapi nol di tengah ini membingungkan, jangan-jangan ini 0.15 tapi kepanjangan. Ah, yang umum kan 0.02 atau 0.05. Ini mendekati 0.02 deh. Jadi, 0.02 saja.” Dan tertulislah angka 0.02 sebagai hasil konversi.

Prosedur Pengecekan Ulang Sederhana

Untuk segera menangkap ketidaksesuaian seperti 15% = 0.02, gunakan logika balik atau perkalian sederhana. Jika 15% benar-benar 0.02, maka seharusnya 0.02 dikalikan 100 akan menghasilkan
15. Mari kita uji: 0.02 x 100 = 2, bukan
15. Ini sudah cukup membuktikan kesalahan. Cara lain, gunakan angka referensi yang mudah: 10% itu 0.1.

Jika 10% adalah 0.1, maka 15% pasti lebih besar dari 0.1. Klaim 0.02 jauh lebih kecil dari 0.1, sehingga pasti salah. Pengecekan kilat semacam ini memakan waktu beberapa detik tetapi dapat menyelamatkan dari kesalahan besar.

Implikasi Nyata dari Kesalahan Numerik Minor dalam Konteks Finansial dan Ilmiah

Kesalahan sekecil apapun dalam konversi numerik, seperti menganggap 15% sebagai 0.02, bukanlah kesalahan yang steril. Ketika diterapkan dalam dunia nyata, terutama di bidang finansial dan ilmiah, dampaknya bisa berlipat ganda dan berujung pada kerugian material, keputusan yang salah, atau data penelitian yang cacat. Perbedaan antara 0.15 dan 0.02 adalah selisih 7.5 kali lipat. Bayangkan kesalahan sebesar itu diterapkan pada jumlah uang yang besar atau data yang sensitif; konsekuensinya menjadi sangat serius.

BACA JUGA  Umur Beraera Klok pada 2019 Lahir 6 Juli 2002 dan Kisah di Balik Angka

Untuk memahami skalanya, mari kita lihat perbandingan dalam beberapa skenario praktis. Perbedaan yang tampaknya kecil di belakang koma ternyata menghasilkan nilai uang yang sangat berbeda.

Skenario Dengan 15% yang Benar (0.15) Dengan Klaim Keliru (0.02) Konsekuensi
Bunga Pinjaman (Pokok Rp 50 Juta) Bunga/tahun: Rp 7.5 Juta Bunga/tahun: Rp 1 Juta Pengurangan pendapatan bank atau kerugian debitur jika underpaid.
Diskon Harga (Barang Rp 1 Juta) Potongan: Rp 150.000 Potongan: Rp 20.000 Pelanggan dirugikan Rp 130.000 atau toko kehilangan pendapatan.
Komisi Penjualan (Omset Rp 200 Juta) Komisi: Rp 30 Juta Komisi: Rp 4 Juta Sales kehilangan penghasilan Rp 26 Juta.
Kadar Bahan (Campuran 1000ml) Kandungan: 150ml Kandungan: 20ml Formula menjadi tidak akurat, produk gagal.

Dalam laporan keuangan, kesalahan seperti ini tidak berdiri sendiri. Ia akan berakumulasi di setiap transaksi, memperbesar selisih di neraca, dan pada akhirnya membuat laporan menjadi tidak mencerminkan kondisi usaha yang sebenarnya.

Studi Kasus: Usaha Katering “Lezat Selalu”. Pemilik menggunakan angka 0.02 untuk menghitung perkiraan biaya bahan baku yang naik 15% dari bulan sebelumnya. Jika bulan lalu belanja Rp 10 juta, perhitungan kenaikan yang benar adalah Rp 1.5 juta (menjadi Rp 11.5 juta). Namun, karena menggunakan 0.02, ia hanya menambah Rp 200.000 (menjadi Rp 10.2 juta). Selisih Rp 1.3 juta ini dianggap sebagai “efisiensi”. Di bulan beroperasi, ia kekurangan bahan, harus beli dadakan dengan harga lebih mahal, dan kehilangan pelanggan karena porsi berkurang. Kesalahan desimal kecil ini, yang diulang untuk beberapa item bahan, mengakumulasi kerugian nyata hingga jutaan rupiah per bulan dan merusak reputasi bisnis.

Contoh Perhitungan Selisih dalam Pajak Transaksi

  • Misalkan terdapat transaksi jual-beli properti senilai Rp 2.000.000.000 (dua miliar) dengan pajak 15% dari nilai transaksi.
  • Perhitungan dengan nilai benar (0.15): 0.15 x Rp 2.000.000.000 = Rp 300.000.000.
  • Perhitungan dengan nilai keliru (0.02): 0.02 x Rp 2.000.000.000 = Rp 40.000.000.
  • Selisih Kerugian Negara atau Kelebihan Bayar Wajib Pajak: Rp 260.000.000. Angka yang fantastis berasal dari “kesalahan kecil” di belakang koma.

Metode Visual dan Kinestetik untuk Menginternalisasi Hubungan Persen dan Desimal

Pemahaman konseptual yang kuat tentang hubungan persen dan desimal seringkali membutuhkan lebih dari sekadar rumus. Metode visual dan kinestetik, yang melibatkan penglihatan dan gerakan, dapat membantu menginternalisasi konsep ini sehingga intuisi numerik kita langsung tahu bahwa 15% tidak mungkin sama dengan 0.02. Pendekatan ini sangat berguna untuk pembelajaran maupun sebagai pengingat bagi siapa saja yang sering bekerja dengan angka.

Sebuah diagram lingkaran (pie chart) adalah alat visual yang sempurna. Bayangkan sebuah lingkaran dibagi menjadi 100 bagian kecil yang sama. Persentase mewakili jumlah bagian yang diarsir. Untuk 15%, kita akan mengarsir 15 bagian. Untuk 2% (yang diwakili oleh 0.02), kita hanya mengarsir 2 bagian.

Perbandingan visual antara 15 petak dan 2 petak sangatlah jelas dan tidak terbantahkan. Begitu pula dengan garis bilangan dari 0 hingga 1. Titik 0.15 akan berada jauh di depan dibandingkan titik 0.02. Melihat posisinya saja, kita langsung paham mana yang lebih besar.

Aktivitas Fisik dengan Kertas Berpetak, Konversi 15% ke desimal 0,02

  • Siapkan selembar kertas milimeter block atau buat sendiri grid 10×10, sehingga total ada 100 kotak kecil.
  • Minta seseorang untuk mewarnai 15% dari area kertas. Mereka akan secara alami mewarnai 15 kotak dari 100 kotak yang ada.
  • Selanjutnya, minta mereka mewarnai area yang merepresentasikan 0.02. Karena 0.02 = 2%, mereka hanya akan mewarnai 2 kotak.
  • Letakkan kedua hasil (atau ingat area yang diwarnai pertama) berdampingan. Perbandingan fisik antara blok 15 kotak dan 2 kotak memberikan pengalaman nyata tentang betapa besarnya perbedaan antara 15% dan 2% (0.02).

Deskripsi Alat Peraga Edukatif: Papan Geser Persen-Desimal

Bayangkan sebuah papan panjang horizontal dengan dua buah slider (penunjuk geser) yang terhubung secara mekanis. Di bagian atas papan, terdapat skala persentase dari 0% hingga 100%. Di bagian bawah, terdapat skala desimal dari 0.00 hingga 1.00. Kedua slider dihubungkan oleh sebuah batang atau tali yang diatur sehingga ketika slider persentase digeser ke angka 15%, slider desimal secara otomatis bergerak tepat ke angka 0.15 di skala bawah.

Jika seseorang mencoba memaksa slider desimal ke 0.02, slider persentase akan menunjukkan angka 2%, secara visual membuktikan ketidakcocokan. Alat ini memberikan umpan balik langsung dan menghubungkan representasi ganda dari nilai yang sama secara fisik.

Analoginya seperti mengubah meter ke sentimeter. Kita tahu 1 meter = 100 sentimeter. Jika kita mengklaim 15 meter sama dengan 2 sentimeter, itu jelas absurd karena faktor pengalinya salah (seharusnya dikali 100, bukan dibagi 7.5). Sama halnya, mengubah persen ke desimal memiliki faktor “pengali” tetap, yaitu 1/100 atau 0.01. Setiap 1% selalu setara dengan 0.01. Jadi, 15% harusnya 15 x 0.01 = 0.15, bukan 0.02. Konsistensi faktor pengali ini adalah kunci yang tidak boleh dilanggar, mirip dengan konsistensi konversi satuan panjang.

Strategi Kognitif untuk Mendeteksi Anomali Numerik dalam Hitungan Sekilas

Dalam banyak situasi, kita tidak punya waktu untuk menghitung ulang secara detail. Di sinilah number sense atau kepekaan angka berperan. Kepekaan ini adalah kemampuan untuk memperkirakan, membandingkan, dan merasakan apakah sebuah angka “masuk akal” atau tidak. Mengembangkan kemampuan ini adalah pertahanan pertama yang paling efektif terhadap kesalahan konversi seperti 15% = 0.02. Dengan melatih intuisi numerik, kita bisa menangkap anomali hanya dalam sekejap.

BACA JUGA  Umur saya pada Juli 2019 jika lahir Oktober 1997 adalah 21 tahun

Teknik estimasi cepat yang paling ampuh adalah menggunakan angka patokan (benchmark). Kita hafal beberapa konversi dasar yang menjadi jangkar, misalnya: 10% = 0.1, 25% = 0.25, 50% = 0.5, dan 100% = 1.
0. Ketika melihat 15%, kita tahu nilainya berada di antara 10% dan 20%. Kita juga tahu 20% adalah 0.

Nah, konversi 15% ke desimal seharusnya 0,15, bukan 0,02. Kesalahan kecil dalam perhitungan seperti ini bisa berdampak besar, lho, terutama saat menganalisis perubahan ekonomi, misalnya saat menghitung Titik keseimbangan pasar barang Y setelah pajak Rp20 per unit. Penelitian menunjukkan, ketelitian numerik fundamental sangat krusial untuk memahami dinamika pasar sebelum akhirnya kita kembali mengecek dan membenahi konversi persentase yang keliru tadi.

2. Jadi, 15% harusnya berada di antara 0.1 dan 0.
2. Klaim bahwa 15% adalah 0.02 jelas-jelas berada di luar rentang itu, bahkan lebih kecil dari patokan terendah kita (0.1). Otak kita langsung bisa membunyikan alarm: “Ada yang tidak beres!”

Latihan mengidentifikasi pasangan yang salah dalam tabel di bawah ini dapat mengasah kepekaan tersebut. Cermatilah dan temukan mana konversi yang tidak sesuai logika dasar.

Persentase Desimal yang Benar Desimal yang Salah (Contoh) Alasan Anomali
10% 0.10 0.01 Terlalu kecil (hanya 1%).
25% 0.25 0.025 Hanya 2.5%, sepersepuluh dari yang seharusnya.
50% 0.50 0.05 Sama kasusnya, tertukar dengan 5%.
75% 0.75 7.5 Terlalu besar, malah dikali 100.

Pola Kesalahan Umum dan Penyebab Kognitif

Selain kasus 15%, pola umum lainnya adalah tertukarnya 0.05 dengan 0.
5. Ini merepresentasikan kebingungan antara 5% dan 50%. Otak manusia terkadang membuat kekeliruan ini karena beberapa alasan. Pertama, kesalahan pemrosesan visual: angka-angkanya sama (5), hanya berbeda posisi desimal.

Kedua, kelelahan mental atau kurang fokus menyebabkan kita melewatkan jumlah nol atau letak koma. Ketiga, adanya “pola cepat” yang salah: karena seringnya melihat 50% sebagai 0.5, ketika melihat 5% otak secara otomatis mungkin masih mencetak pola 0.5 dan mengabaikan detail. Keempat, kurangnya pemahaman konseptual tentang makna “perseratus” sehingga pergeseran desimal tidak memiliki makna yang mendalam, hanya dihafal sebagai prosedur mekanis yang rentan lupa.

Latihan Berpikir Kilat untuk Melatih Kepekaan Angka

  • Tinjau pernyataan berikut dan tentukan apakah benar (B) atau salah (S) hanya dalam 3 detik per soal, gunakan patokan angka:
    1. 1% = 0.1 (S)
      -Patokan: 10% = 0.1, jadi 1% harusnya 0.01.
    2. 30% = 0.3 (B)
      -Patokan: 10% = 0.1, jadi 30% adalah 3 kali lipatnya, 0.3.
    3. 8% = 0.8 (S)
      -Patokan: 10% = 0.1, jadi 8% harusnya kurang dari 0.1.
    4. 100% = 1.0 (B)
      -Ini adalah definisi dasar.
    5. 150% = 1.5 (B)
      -Lebih dari 1 utuh, logis.
    6. 0.5% = 0.05 (S)
      -Patokan: 1% = 0.01, jadi setengahnya adalah 0.005.

Terakhir: Konversi 15% Ke Desimal 0,02

Jadi, perjalanan mengurai pernyataan “Konversi 15% ke desimal 0,02” membawa kita pada sebuah kesadaran numerik yang lebih tajam. Kontradiksi ini bukan sekadar soal angka yang tertukar, melainkan cerminan betapa pentingnya kepekaan dasar terhadap bilangan. Dengan menguasai konversi yang benar, menginternalisasi nilai melalui metode visual, dan melatih strategi deteksi cepat, kita membangun imunitas terhadap kesalahan yang berpotensi mahal. Angka adalah bahasa universal, dan memahaminya dengan tepat adalah kunci untuk membuat keputusan yang cerdas, baik saat menghitung diskon belanja maupun menganalisis data penting.

Mari jadikan ketelitian ini sebagai kebiasaan, karena dalam dunia yang digerakkan oleh data, presisi adalah sebuah superpower.

Sudut Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah kesalahan konversi seperti ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari?

Ya, cukup sering. Kesalahan menempatkan tanda desimal, seperti tertukar antara 0,5 dan 0,05 atau 1,5% dan 15%, adalah kesalahan umum, terutama dalam perhitungan cepat, isian formulir, atau saat membaca data statistik dengan sekilas.

Bagaimana cara paling cepat memeriksa apakah hasil konversi persen ke desimal sudah masuk akal?

Gunakan teknik “per sepuluh”. Ingatlah bahwa 10% sama dengan 0,10. Jika 15% lebih besar dari 10%, maka hasil desimalnya pasti lebih besar dari 0,10. Hasil 0,02 jelas jauh lebih kecil dari 0,10, jadi langsung terdeteksi salah.

Apakah ada aplikasi atau alat yang bisa membantu mencegah kesalahan ini?

Selain kalkulator, banyak spreadsheet (seperti Excel atau Google Sheets) yang memiliki format persentase bawaan. Ketika Anda mengetik “15%” di sebuah sel, program secara otomatis memahami nilainya sebagai 0,15 untuk perhitungan, meminimalkan risiko salah ketik manual.

Mengapa otak kita mudah terkecoh dengan angka-angka seperti ini?

Otak seringkali memproses informasi secara cepat dan heuristik (jalan pintas). Melihat angka “15” dan “0,02”, tanpa secara sadar memproses nilai tempat desimal dan hubungannya dengan “per seratus”, bisa menyebabkan otak menerima saja jika tidak waspada. Ini disebut bias kognitif dalam pemrosesan numerik.

Leave a Comment