Menentukan Persamaan Lingkaran lewat Tiga Titik Rahasia Geometri Koordinat

Menentukan Persamaan Lingkaran lewat Tiga Titik itu seperti menyelesaikan teka-teki elegan di peta koordinat. Bayangkan saja, dari tiga titik acak yang tidak segaris, kita bisa menemukan satu lingkaran sempurna yang menyentuh ketiganya. Ini bukan cuma rumus mati di buku, tapi bukti nyata bagaimana aljabar dan geometri berjabat tangan dengan manis, mengubah titik-titik menjadi bentuk yang harmonis.

Topik ini membawa kita menyelami inti dari geometri analitik, di mana data koordinat mentah ditransformasikan menjadi pemahaman visual yang mendalam. Melalui beberapa pendekatan, mulai dari sistem persamaan yang sistematis hingga prinsip garis sumbu yang geometris, kita akan mengungkap cara menemukan persamaan lingkaran tersebut. Setiap metode punya cerita dan keunggulannya sendiri, menawarkan perspektif berbeda untuk menyelesaikan puzzle matematika yang sama.

Mengurai Rahasia Geometri Koordinat dari Tiga Titik Tunggal

Dalam geometri, ada sebuah prinsip yang elegan dan sangat kuat: tiga titik yang tidak segaris akan selalu menentukan satu lingkaran yang unik. Bayangkan kamu menancapkan tiga pasak di tanah yang tidak dalam satu garis lurus. Selalu ada satu lingkaran sempurna yang bisa melalui ujung ketiga pasak tersebut. Fakta inilah yang menjadi salah satu fondasi utama geometri analitik, karena ia menjembatani dunia bentuk murni dengan dunia hitungan aljabar.

Dengan memanfaatkan koordinat, kita bisa mengubah masalah geometris “mencari lingkaran” menjadi masalah aljabar “menyelesaikan sistem persamaan”, membuka pintu untuk solusi yang terstruktur dan komputasional.

Konsep ini tidak bekerja jika ketiga titik tersebut segaris. Titik-titik yang segaris hanya akan membentuk ruas garis, bukan suatu bentuk yang memiliki kelengkungan konstan seperti lingkaran. Oleh karena itu, langkah pertama dan terpenting adalah memastikan ketiga titik yang kita miliki memang membentuk sebuah segitiga. Karakter segitiga yang dibentuk—apakah lancip, siku-siku, atau tumpul—ternyata berpengaruh pada posisi pusat lingkaran luar (circumcenter) relatif terhadap segitiga tersebut.

Karakteristik Titik dan Posisi Pusat Lingkaran

Hubungan antara jenis segitiga yang dibentuk oleh tiga titik dengan letak pusat lingkaran luarnya memberikan intuisi geometris yang menarik. Pusat lingkaran luar adalah titik potong dari garis-garis sumbu sisi-sisi segitiga. Posisinya bisa berada di dalam, pada, atau di luar segitiga, bergantung pada sudut-sudut segitiga tersebut.

Jenis Segitiga Karakteristik Sudut Posisi Pusat Lingkaran (Circumcenter) Implikasi Geometris
Lancip Semua sudut < 90° Berada di dalam area segitiga. Jari-jari relatif lebih kecil dibanding segitiga siku-siku dengan titik yang sejajar.
Siku-Siku Satu sudut = 90° Tepat berada di titik tengah sisi miring (hipotenusa). Panjang jari-jari sama dengan setengah panjang hipotenusa.
Tumpul Satu sudut > 90° Berada di luar area segitiga. Jari-jari akan relatif lebih besar, dan pusatnya terletak di seberang sudut tumpul.

Contoh Titik dan Verifikasi Kolinearitas

Untuk memulai perjalanan kita, mari kita ambil tiga titik spesifik sebagai contoh yang akan kita gunakan konsisten di seluruh pembahasan. Titik-titik ini dipilih agar perhitungannya jelas dan mewakili sebuah segitiga lancip.

Titik P (1, 2), Titik Q (3, 0), dan Titik R (4, 3).

Sebelum mencari lingkaran, kita harus yakin ketiga titik ini tidak segaris. Prosedur verifikasinya cukup sederhana dan mengandalkan konsep kemiringan (gradien) atau determinan luas segitiga.

  1. Hitung kemiringan garis antara dua titik pertama, misalnya P(1,2) dan Q(3,0). Kemiringan m_PQ = (0 – 2) / (3 – 1) = -2 / 2 = -1.
  2. Hitung kemiringan garis antara titik pertama dan ketiga, yaitu P(1,2) dan R(4,3). Kemiringan m_PR = (3 – 2) / (4 – 1) = 1 / 3 ≈ 0.333.
  3. Bandingkan kedua kemiringan. Karena -1 ≠ 0.333, maka garis PQ dan PR tidak sejajar dan pasti berpotongan di titik P. Artinya, ketiga titik tidak terletak pada satu garis lurus yang sama. Mereka membentuk sebuah segitiga.

Metode alternatif yang lebih robust adalah menggunakan determinan untuk menghitung luas segitiga. Jika luasnya nol, maka titik-titik segaris. Untuk titik (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3), luas = ½ |x1(y2-y3) + x2(y3-y1) + x3(y1-y2)|. Dengan titik kita, luas = ½ |1*(0-3) + 3*(3-2) + 4*(2-0)| = ½ | -3 + 3 + 8 | = ½
– 8 =
4. Karena luas ≠ 0, konfirmasi selesai: titik-titik kita tidak segaris.

BACA JUGA  Mohon Jawaban Beserta Pembahasan Seni Mengurai Pertanyaan Mendalam

Metode Sistem Persamaan Linear dan Keanggunan Eliminasi Aljabar: Menentukan Persamaan Lingkaran Lewat Tiga Titik

Setelah memastikan tiga titik kita valid, kita beralih ke metode paling langsung: sistem persamaan linear. Pendekatan ini mengandalkan bentuk umum persamaan lingkaran. Bentuk ini mungkin terlihat sedikit berbeda dari bentuk baku (x-a)² + (y-b)² = r², tetapi ia setara dan lebih mudah untuk diolah secara aljabar ketika kita memiliki titik-titik.

Bentuk umum tersebut adalah x² + y² + Ax + By + C = 0. Perhatikan bahwa koefisien untuk x² dan y² sudah 1. Tugas kita adalah menemukan nilai konstanta A, B, dan C yang membuat persamaan ini berlaku untuk ketiga titik koordinat kita. Caranya? Substitusikan masing-masing titik (x, y) ke dalam persamaan.

Setiap titik akan memberikan satu persamaan linear dalam variabel A, B, dan C. Tiga titik memberikan tiga persamaan, yang membentuk sebuah sistem yang—jika titiknya tidak segaris—akan memiliki solusi unik.

Proses Penyusunan dan Penyelesaian Sistem

Mari kita terapkan pada titik contoh kita: P(1,2), Q(3,0), R(4,3). Substitusi menghasilkan tiga persamaan berikut:

Titik (x,y) Persamaan yang Diperoleh Bentuk Tersederhanakan
P(1,2) (1)² + (2)² + A*(1) + B*(2) + C = 0 A + 2B + C = -5 … (1)
Q(3,0) (3)² + (0)² + A*(3) + B*(0) + C = 0 3A + C = -9 … (2)
R(4,3) (4)² + (3)² + A*(4) + B*(3) + C = 0 4A + 3B + C = -25 … (3)

Sekarang kita memiliki sistem tiga persamaan linear. Kita bisa menyelesaikannya dengan eliminasi. Misalnya, kurangkan persamaan (1) dari (3) untuk mengeliminasi C: (4A+3B+C)
-(A+2B+C) = -25 – (-5) → 3A + B = -20 … (4). Selanjutnya, kurangkan persamaan (1) dari (2) dengan terlebih dahulu mengalikan (1) dengan faktor yang sesuai, atau lebih mudah: dari (2) kita punya C = -9 – 3A.

Substitusi nilai C ini ke persamaan (1): A + 2B + (-9 – 3A) = -5 → -2A + 2B = 4 → bagi 2: -A + B = 2 … (5). Sekarang kita punya dua persamaan dengan dua variabel (A dan B) dari (4) dan (5): 3A + B = -20 dan -A + B =
2. Kurangkan (5) dari (4): (3A+B)
-(-A+B) = -20 – 2 → 4A = -22 → A = -5.

5. Substitusi A = -5.5 ke (5): -(-5.5) + B = 2 → 5.5 + B = 2 → B = -3.
5. Terakhir, cari C dari (2): 3*(-5.5) + C = -9 → -16.5 + C = -9 → C = 7.5.

Interpretasi dalam Ruang Tiga Dimensi

Bayangkan sebuah ruang tiga dimensi dimana sumbu-sumbunya mewakili variabel A, B, dan C. Setiap persamaan linear seperti A + 2B + C = -5 merepresentasikan sebuah bidang datar di ruang tersebut. Ketiga bidang yang berasal dari tiga titik kita akan saling berpotongan. Karena ketiga titik kita tidak segaris, ketiga bidang ini tidak sejajar dan tidak berpotongan membentuk garis yang sama.

Sebaliknya, mereka akan bertemu pada satu titik tunggal di ruang A-B-C. Koordinat titik potong itulah solusi kita: (A, B, C) = (-5.5, -3.5, 7.5). Ini adalah manifestasi geometris yang indah dari solusi aljabar yang kita dapatkan.

Perbandingan Metode Sistem Persamaan

  • Kelebihan: Konsepnya sangat langsung dan mudah dipahami karena hanya membutuhkan substitusi dan penyelesaian sistem linear yang diajarkan di tingkat dasar. Metode ini bersifat umum dan selalu bekerja selama titik tidak segaris.
  • Kekurangan: Proses penghitungannya bisa panjang dan rentan terhadap kesalahan aritmatika, terutama dengan angka yang tidak bulat. Metode ini juga kurang memberikan insight geometris langsung tentang pusat dan jari-jari lingkaran, karena hasil akhir masih dalam bentuk umum yang perlu dikonversi ke bentuk baku untuk mendapatkan pusat (a, b) = (-A/2, -B/2).

Memanfaatkan Sifat Garis Sumbu untuk Menemukan Pusat Lingkaran

Jika metode aljabar terasa seperti “brute force”, maka metode garis sumbu ini adalah senjatanya geometri murni. Ia memanfaatkan definisi fundamental lingkaran: kumpulan titik yang berjarak sama dari satu titik pusat. Oleh karena itu, pusat lingkaran yang melalui titik P dan Q haruslah berjarak sama dari P dan Q. Himpunan semua titik yang berjarak sama dari P dan Q adalah garis sumbu (perpendicular bisector) dari ruas garis PQ.

Garis ini tegak lurus terhadap PQ dan melalui titik tengahnya.

Dengan tiga titik P, Q, R, kita bisa membuat dua ruas garis, misalnya PQ dan PR. Pusat lingkaran yang kita cari harus berada di garis sumbu PQ (karena berjarak sama dari P dan Q) dan juga di garis sumbu PR (karena berjarak sama dari P dan R). Dengan demikian, pusat lingkaran tidak lain adalah titik potong dari kedua garis sumbu tersebut.

Setelah pusat (a,b) ditemukan, jari-jari r dapat dihitung sebagai jarak dari pusat ke salah satu titik awal.

Langkah Konkret Mencari Pusat dan Jari-jari

Mari kita praktikkan dengan titik yang sama. Pertama, cari garis sumbu dari ruas PQ dengan P(1,2) dan Q(3,0).

  1. Titik tengah PQ: M_PQ = ((1+3)/2 , (2+0)/2) = (2, 1).
  2. Kemiringan PQ: m_PQ = (0-2)/(3-1) = -1.
  3. Kemiringan garis yang tegak lurus PQ: m_⊥ = 1 (karena hasil kali kemiringan = -1).
  4. Persamaan garis sumbu PQ (melalui (2,1) dengan gradien 1): y – 1 = 1*(x – 2) → y = x – 1.
BACA JUGA  Mencari nilai x sehingga deret geometri tak hingga p < 2 dan solusinya

Kedua, cari garis sumbu dari ruas PR dengan P(1,2) dan R(4,3).

  1. Titik tengah PR: M_PR = ((1+4)/2 , (2+3)/2) = (2.5, 2.5).
  2. Kemiringan PR: m_PR = (3-2)/(4-1) = 1/3.
  3. Kemiringan garis yang tegak lurus PR: m_⊥ = -3.
  4. Persamaan garis sumbu PR (melalui (2.5, 2.5) dengan gradien -3): y – 2.5 = -3*(x – 2.5) → y = -3x + 10.

Sekarang kita cari titik potong kedua garis sumbu: y = x – 1 dan y = -3x +
10. Samakan: x – 1 = -3x + 10 → 4x = 11 → x = 2.75. Substitusi ke y = x – 1 → y = 1.75.
Jadi, pusat lingkaran (a, b) = (2.75, 1.75) atau (11/4, 7/4).

Setelah pusat ditemukan, menghitung jari-jari menjadi langkah yang sangat sederhana, yaitu dengan menggunakan rumus jarak antara dua titik.

r = √[(x₁a)² + (y₁

b)²]. Misalnya, menggunakan titik P(1, 2) dan pusat (2.75, 1.75)

r = √[(1 – 2.75)² + (2 – 1.75)²] = √[(-1.75)² + (0.25)²] = √[3.0625 + 0.0625] = √3.125 = √(25/8) = 5/(2√2) ≈ 1.7678.

Efisiensi Komputasional Metode Garis Sumbu

Menentukan Persamaan Lingkaran lewat Tiga Titik

Source: slidesharecdn.com

Metode ini menjadi lebih efisien secara komputasi dalam beberapa situasi tertentu. Pertama, ketika koordinat titik-titiknya berupa bilangan bulat atau rasional sederhana, perhitungan titik tengah dan gradien seringkali menghasilkan persamaan garis yang bersih. Kedua, jika kita hanya membutuhkan pusat lingkaran dan bukan persamaan lengkapnya, metode ini memberikan jawaban langsung tanpa perlu menyelesaikan tiga variabel sekaligus. Ketiga, dalam pemrograman, algoritma untuk mencari titik potong dua garis lurus cenderung lebih stabil secara numerik dibandingkan menyelesaikan sistem tiga persamaan yang mungkin mengalami masalah jika titik-titiknya hampir segaris.

Namun, metode ini tetap membutuhkan ketelitian dalam manipulasi aljabar untuk mencari titik potong garis.

Pendekatan Determinan dan Rumus Ajaib dari Lingkaran yang Melalui Tiga Titik

Ada sebuah metode yang terlihat seperti mantra ajaib bagi yang pertama kali melihatnya: menggunakan determinan untuk langsung menuliskan persamaan lingkaran. Rumus ini adalah puncak dari penyederhanaan aljabar, mengemas seluruh proses substitusi dan eliminasi menjadi satu objek matematis yang padat—sebuah determinan 4×4. Pendekatan ini berasal dari sifat bahwa empat titik (x,y), (x1,y1), (x2,y2), (x3,y3) akan siklik (berada pada lingkaran yang sama) jika determinan tertentu bernilai nol.

Rumus determinan ini memanfaatkan fakta bahwa untuk titik (x,y) yang terletak pada lingkaran yang sama dengan tiga titik lain, luas yang “dibentuk” dengan cara tertentu akan bernilai nol. Bentuk determinannya menggabungkan koordinat dengan kuadrat jaraknya secara implisit melalui bentuk x²+y².

Anatomi Determinan Ajaib

Berikut adalah bentuk determinan yang dimaksud, diurai untuk menunjukkan makna setiap barisnya.

Baris Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 Kolom 4 Makna
1 x² + y² x y 1 Mewakili bentuk umum lingkaran untuk titik variabel (x,y).
2 x1² + y1² x1 y1 1 Substitusi titik pertama P(x1,y1).
3 x2² + y2² x2 y2 1 Substitusi titik kedua Q(x2,y2).
4 x3² + y3² x3 y3 1 Substitusi titik ketiga R(x3,y3).

Persamaan lingkaran diperoleh dengan menyamakan determinan matriks 4×4 di atas dengan nol. Ekspansi determinan ini akan menghasilkan bentuk x² + y² + Ax + By + C = 0, di mana A, B, dan C adalah konstanta yang dicari.

Demonstrasi dengan Contoh Titik

Mari kita isi determinan tersebut dengan titik kita: P(1,2), Q(3,0), R(4,3). Kita hitung juga x²+y² untuk masing-masing:
P: 1²+2²=5; Q: 3²+0²=9; R: 4²+3²=
25. Maka determinannya adalah:
| (x²+y²) x y 1 |
| 5 1 2 1 |
| 9 3 0 1 |
| 25 4 3 1 | =
0.

Menghitung determinan 4×4 ini secara manual cukup panjang (biasanya dengan ekspansi kofaktor), tetapi jika dilakukan dengan hati-hati, hasil akhirnya akan sama dengan persamaan yang kita peroleh dari metode sistem linear: x² + y²
-5.5x – 3.5y + 7.5 = 0. Perhitungan ini memverifikasi bahwa kedua metode tersebut konsisten.

Nilai Metode Determinan dalam Komputasi

  • Keuntungan Utama dalam Pemrograman: Metode ini sangat mudah diimplementasikan dalam kode komputer. Fungsi untuk menghitung determinan sudah tersedia di banyak library matematika. Kita hanya perlu menyusun matriksnya dan menghitung determinannya, tanpa perlu mengurus logika eliminasi atau substitusi yang rumit.
  • Kekurangan dalam Pembelajaran Manual: Perhitungan determinan 4×4 secara manual sangat rawan error, memakan waktu, dan tidak memberikan pemahaman intuitif tentang proses yang terjadi. Siswa bisa menghitung tanpa benar-benar memahami mengapa determinan itu mewakili lingkaran.
  • Stabilitas Numerik: Untuk titik-titik dengan koordinat yang sangat besar atau sangat kecil, perhitungan determinan langsung bisa mengalami masalah pembulatan (round-off error) yang lebih parah dibanding metode geometris seperti garis sumbu.
  • Nilai Estetika: Rumus ini dihargai karena keanggunan dan kekompakannya. Ia menunjukkan bagaimana aljabar linear dapat memberikan solusi langsung untuk masalah geometri yang klasik.

Verifikasi dan Interpretasi Visual dari Hasil Persamaan Lingkaran

Setelah melalui berbagai metode dan mendapatkan persamaan akhir, langkah penting terakhir adalah verifikasi. Kita harus memastikan bahwa lingkaran yang kita temukan benar-benar melalui ketiga titik awal. Proses ini sekaligus menjadi pengecekan akhir terhadap kemungkinan kesalahan hitung. Selain itu, membayangkan sketsa visual dari hasil ini membantu menginternalisasi hubungan antara aljabar dan geometri.

BACA JUGA  Silakan Jawab Kedua atau Tidak Sama Sekali Filosofi Pilihan Mutlak

Menentukan persamaan lingkaran dari tiga titik yang diketahui itu seperti menyusun puzzle geometri. Konsep dasarnya melibatkan substitusi koordinat ke bentuk umum persamaan. Nah, kalau kamu penasaran dengan diskusi lebih lanjut tentang penerapannya, coba intip thread seru berjudul Need Your Help, Let’s Discuss. Dari sana, kita bisa dapat insight untuk menyelesaikan sistem tiga persamaan dengan variabel A, B, dan C itu dengan lebih mantap.

Verifikasi dilakukan dengan cara yang sangat sederhana: substitusikan kembali koordinat masing-masing titik P, Q, dan R ke dalam persamaan lingkaran akhir. Jika persamaan kita benar, maka ruas kiri persamaan akan bernilai nol atau sangat mendekati nol (jika ada pembulatan). Untuk persamaan x² + y²
-5.5x – 3.5y + 7.5 = 0, mari kita uji:
-Titik P(1,2): (1) + (4)
-5.5*(1)
-3.5*(2) + 7.5 = 1+4 -5.5 -7 +7.5 = 12.5 – 12.5 = 0.

-Titik Q(3,0): (9) + (0)
-5.5*(3)
-3.5*(0) + 7.5 = 9 -16.5 +7.5 = 0.
-Titik R(4,3): (16) + (9)
-5.5*(4)
-3.5*(3) + 7.5 = 25 -22 -10.5 +7.5 = 32.5 – 32.5 = 0.
Ketiganya memenuhi, konfirmasi selesai.

Sketsa Geometri Koordinat Hasil, Menentukan Persamaan Lingkaran lewat Tiga Titik

Bayangkan sebuah bidang koordinat Kartesius. Pertama, plot ketiga titik: P(1,2) di kuadran I agak ke kiri atas, Q(3,0) tepat di sumbu x sebelah kanan, dan R(4,3) di kuadran I lebih ke kanan atas. Ketiganya membentuk segitiga tak beraturan. Selanjutnya, tandai pusat lingkaran kita, O(2.75, 1.75). Titik ini terletak di dalam segitiga PQR (karena segitiganya lancip).

Gambarlah ruas garis dari pusat O ke masing-masing titik P, Q, R. Panjang ketiga ruas garis ini identik, itulah jari-jari r ≈ 1.77 satuan. Terakhir, dengan menggunakan jangka imajiner yang berpusat di O dengan bukaan sepanjang r, gambarlah sebuah lingkaran yang melingkari ketiga titik tersebut. Lingkaran itu akan menyentuh tepat di lokasi P, Q, dan R, sementara titik pusatnya berada di perpotongan garis sumbu sisi-sisi segitiga.

Sensitivitas Posisi Titik terhadap Lingkaran

  • Perubahan kecil pada salah satu titik, misalnya menggeser Q sedikit saja, akan mengubah titik tengah dan gradien dari dua garis sumbu yang melibatkan Q.
  • Perpotongan kedua garis sumbu (pusat lingkaran) akan bergeser secara sensitif. Pergeseran ini bisa lebih besar daripada pergeseran titik asalnya, tergantung konfigurasi titik.
  • Jari-jari lingkaran juga akan berubah. Jika tiga titik digeser sedemikian rupa sehingga mereka menjadi lebih “rapat”, jari-jari cenderung mengecil. Sebaliknya, jika titik-titik direnggangkan mendekati kolinear, jari-jari akan membesar secara dramatis, mendekati tak hingga.
  • Jika perubahan itu membuat titik-titik menjadi hampir segaris, pusat lingkaran akan bergerak sangat jauh, menunjukkan ketidakstabilan numerik dalam perhitungan.

Hubungan Luas Segitiga dan Jari-jari Lingkaran

Ada hubungan yang rapi antara geometri segitiga yang dibentuk oleh tiga titik dengan lingkaran luarnya. Hubungan ini melibatkan luas segitiga (K) dan panjang sisi-sisinya (a, b, c).

Rumus jari-jari lingkaran luar (R) adalah: R = (a

  • b
  • c) / (4
  • K)

di mana a, b, c adalah panjang sisi-sisi segitiga, dan K adalah luas segitiga. Hubungan ini menunjukkan bahwa untuk luas segitiga yang tetap, hasil kali panjang sisi-sisi yang lebih besar akan menghasilkan lingkaran luar dengan jari-jari yang lebih besar.

Dengan kata lain, kuadrat jari-jari (R²) berbanding terbalik dengan kuadrat luas segitiga untuk suatu set panjang sisi yang diberikan. Ini adalah cara lain yang elegan untuk menghitung jari-jari setelah kita mengetahui sisi-sisi dan luas segitiga dari tiga titik koordinat awal.

Penutupan Akhir

Jadi, itulah petualangan kita dalam Menentukan Persamaan Lingkaran lewat Tiga Titik. Dari tiga titik sederhana, kita berhasil mengungkap keberadaan sebuah lingkaran dengan pusat dan jari-jari yang pasti. Proses ini mengajarkan lebih dari sekadar hitungan; ia menunjukkan keindahan struktur matematika yang tersembunyi di balik data yang tampak acak. Dengan menguasai konsep ini, kamu tak hanya punya alat untuk menyelesaikan soal, tetapi juga lensa baru untuk melihat keteraturan di dunia koordinat yang luas ini.

Pertanyaan dan Jawaban

Apakah selalu ada lingkaran yang melalui tiga titik sembarang?

Tidak selalu. Lingkaran hanya dapat ditentukan secara unik oleh tiga titik jika dan hanya jika ketiga titik tersebut tidak segaris atau tidak kolinear. Jika ketiganya terletak pada satu garis lurus, maka tidak ada lingkaran yang dapat melalui mereka.

Metode mana yang paling mudah dan cepat untuk dikerjakan secara manual?

Untuk perhitungan manual, metode sistem persamaan linear seringkali lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh kebanyakan orang karena langkah-langkahnya yang sistematis. Namun, jika koordinat titik-titiknya sederhana, metode garis sumbu bisa lebih cepat karena langsung fokus mencari pusat lingkaran.

Bagaimana jika dalam soal, salah satu titik koordinatnya mengandung variabel atau parameter yang tidak diketahui?

Jika ada parameter yang tidak diketahui, prosesnya akan menghasilkan persamaan yang melibatkan parameter tersebut. Kamu akan memerlukan informasi tambahan (misalnya, jari-jari tertentu atau posisi pusat tertentu) untuk membentuk sistem persamaan guna menyelesaikan nilai parameter yang dimaksud.

Apakah hasil persamaan lingkaran dari metode yang berbeda bisa tampak berbeda tetapi sebenarnya sama?

Ya, sangat mungkin. Bentuk persamaan lingkaran bisa ditulis dalam bentuk umum (x² + y² + Ax + By + C = 0) atau bentuk baku (x-a)² + (y-b)² = r². Hasil dari metode berbeda mungkin terlihat berbeda, tetapi setelah disederhanakan atau diolah aljabarnya, mereka akan merepresentasikan lingkaran yang sama. Verifikasi dengan mensubstitusi titik asli adalah cara memastikannya.

Leave a Comment