3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di Negara Maju Kunci Kemakmuran

3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di Negara Maju bukan sekadar wacana, melainkan peta jalan nyata menuju kemakmuran yang dirasakan seluruh lapisan masyarakat. Berbeda dari pertumbuhan konvensional yang kerap hanya mengejar angka Produk Domestik Bruto, paradigma inklusif menitikberatkan pada bagaimana buah pembangunan didistribusikan secara adil dan menciptakan peluang yang setara bagi semua warga negara. Di jantungnya, terdapat tiga pilar utama: pemerataan pendapatan, akses ke pasar kerja yang adil, serta jaring pengaman sosial yang kokoh, yang bersama-sama membentuk fondasi ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan.

Negara-negara maju seperti Jerman atau negara-negara Nordik telah lama mengintegrasikan prinsip ini ke dalam kebijakan mereka, menunjukkan bahwa efisiensi pasar dan keadilan sosial bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Justru, kombinasi keduanyalah yang menghasilkan stabilitas politik, inovasi yang inklusif, dan ketahanan ekonomi dalam menghadapi krisis. Melalui pendekatan multidimensi ini, pertumbuhan ekonomi yang dicapai tidak hanya tinggi, tetapi juga berkualitas dan mampu mengangkat harkat hidup seluruh masyarakat.

Pengantar dan Definisi Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Pertumbuhan ekonomi seringkali diukur dari angka-angka makro seperti PDB dan tingkat investasi. Namun, pertumbuhan semacam ini bisa saja hanya dinikmati oleh segelintir kelompok, sementara sebagian besar masyarakat tertinggal. Di sinilah konsep pertumbuhan ekonomi inklusif hadir sebagai jawaban. Pertumbuhan ekonomi inklusif adalah pertumbuhan yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan menciptakan peluang yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dan menikmati hasilnya.

Berbeda dengan pertumbuhan konvensional yang mungkin mengabaikan pemerataan, pertumbuhan inklusif secara sengaja memasukkan dimensi keadilan sosial ke dalam kerangka kebijakan ekonomi.

Kerangka kerja pertumbuhan inklusif di negara maju umumnya bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, pemerataan pendapatan dan pengurangan kemiskinan yang nyata. Kedua, perluasan akses dan kesempatan yang setara di pasar tenaga kerja. Ketiga, ketersediaan jaring pengaman sosial dan akses universal terhadap layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Ketiganya saling terkait dan memperkuat satu sama lain untuk menciptakan siklus pertumbuhan yang sehat dan stabil.

Penerapan Prinsip Inklusif di Negara Maju: Kasus Jerman

Jerman kerap dijadikan contoh negara maju yang berhasil mengintegrasikan prinsip inklusif dalam kebijakan ekonominya. Salah satu kebijakan kuncinya adalah sistem pendidikan vokasi ganda (dual vocational training) yang terkenal. Sistem ini memadukan pembelajaran di sekolah kejuruan dengan magang langsung di perusahaan, memastikan lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kebijakan ini secara efektif mengurangi pengangguran kaum muda, menyediakan jalur karir yang jelas bagi mereka yang tidak mengambil jalur akademik, dan pada akhirnya menciptakan tenaga kerja terampil yang menjadi tulang punggung perekonomian Jerman.

Hal ini menunjukkan bagaimana investasi pada kesempatan yang setara dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.

Indikator 1: Pemerataan Pendapatan dan Pengurangan Kemiskinan

Indikator pertama dan paling krusial untuk mengukur inklusivitas suatu pertumbuhan adalah seberapa merata hasil pertumbuhan tersebut didistribusikan. Pemerataan bukan berarti semua orang mendapat penghasilan yang sama persis, tetapi memastikan bahwa kesenjangan tidak melebar dan kemiskinan dapat ditekan hingga titik terendah. Pengukuran ini penting karena kesenjangan yang tinggi dapat memicu ketidakstabilan sosial dan justru menghambat pertumbuhan ekonomi itu sendiri dalam jangka panjang.

Metrik Pengukur Pemerataan Pendapatan

Untuk mengukur ketimpangan, ahli ekonomi umumnya menggunakan Koefisien Gini. Angka ini berkisar antara 0 (pemerataan sempurna) hingga 1 (ketimpangan sempurna). Selain itu, rasio pendapatan, seperti perbandingan pendapatan 10% kelompok terkaya dengan 10% kelompok termiskin, juga memberikan gambaran yang lebih nyata tentang jurang yang ada. Tingkat kemiskinan relatif, yang didefinisikan sebagai proporsi penduduk dengan pendapatan di bawah 50% atau 60% dari median pendapatan nasional, menjadi alat ukur lainnya untuk melihat seberapa banyak masyarakat yang tertinggal dari kemajuan rata-rata.

BACA JUGA  Prinsip Ekoefisien Kunci Pembangunan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan
Negara Koefisien Gini (Pendapatan) Rasio Pendapatan (S10/P10) Tingkat Kemiskinan Relatif (% dari median)
Swedia 0.29 4.1 9.3%
Amerika Serikat 0.39 9.1 17.8%
Jepang 0.34 6.2 15.7%

Data di atas menunjukkan variasi yang signifikan di antara negara maju. Swedia, dengan kebijakan fiskal yang sangat progresif dan sistem kesejahteraan yang kuat, mencatat ketimpangan yang relatif rendah. Sebaliknya, Amerika Serikat menunjukkan tingkat ketimpangan dan kemiskinan relatif yang lebih tinggi, mencerminkan perbedaan dalam pendekatan kebijakan sosial dan perpajakan.

Peran Kebijakan Fiskal dalam Pemerataan

Kebijakan fiskal menjadi instrumen utama pemerintah untuk mendorong pemerataan. Pajak progresif, di mana tarif meningkat seiring dengan tingginya penghasilan, berfungsi untuk mengumpulkan sumber daya dari mereka yang lebih mampu. Sumber daya ini kemudian didistribusikan kembali melalui transfer sosial, seperti tunjangan anak, bantuan perumahan, pensiun sosial, dan jaminan pengangguran. Mekanisme redistribusi ini tidak hanya mengurangi kemiskinan secara langsung, tetapi juga menstabilkan permintaan agregat karena kelompok berpenghasilan rendah cenderung memiliki kecenderungan mengonsumsi yang lebih tinggi.

“Masyarakat dengan kesenjangan pendapatan yang lebih kecil cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan. Ketimpangan yang tinggi dapat melemahkan kohesi sosial, mengurangi kepercayaan pada institusi, dan pada akhirnya menghambat investasi dan inovasi yang diperlukan untuk kemajuan jangka panjang.”Dr. Elina Scheja, Ekonom Senior di Forum Ekonomi Dunia.

Indikator 2: Akses dan Kesempatan yang Setara di Pasar Tenaga Kerja

Pertumbuhan ekonomi yang inklusif mensyaratkan bahwa setiap individu, terlepas dari latar belakangnya, memiliki kesempatan yang adil untuk berkontribusi dan mendapatkan manfaat dari pertumbuhan tersebut. Pasar tenaga kerja adalah arena utama di mana prinsip ini diuji. Ketika akses terhadap pekerjaan yang layak terhambat oleh faktor-faktor di luar kompetensi, maka potensi ekonomi suatu bangsa tidak akan pernah tercapai secara maksimal.

Faktor Penghambat Kesetaraan Akses Pekerjaan

Diskriminasi tetap menjadi tantangan nyata, meski sering kali tersamar. Diskriminasi gender terlihat dari adanya kesenjangan upah dan hambatan karir bagi perempuan. Diskriminasi usia mempengaruhi baik kaum muda yang kesulitan mendapatkan pengalaman pertama, maupun pekerja senior yang dianggap kurang adaptif. Sementara itu, penyandang disabilitas sering kali menghadapi hambatan fisik dan persepsi yang membatasi partisipasi mereka. Mengatasi hal-hal ini membutuhkan lebih dari sekadar regulasi anti-diskriminasi, tetapi juga perubahan budaya dan insentif bagi perusahaan.

Program Pelatihan dan Pendidikan Sepanjang Hayat

Finlandia memberikan contoh nyata bagaimana pendidikan sepanjang hayat dapat meningkatkan inklusivitas pasar kerja. Negara ini memiliki jaringan “Universitas Ilmu Terapan” dan pusat pelatihan dewasa yang sangat luas, didukung kuat oleh pemerintah. Program-programnya dirancang fleksibel, sering kali modular, dan terkait erat dengan kebutuhan industri yang berkembang, seperti teknologi hijau dan digital. Seorang pekerja paruh baya yang terdampak otomatisasi dapat dengan mudah mengakses pelatihan ulang (reskilling) untuk beralih ke bidang baru tanpa harus menanggung beban biaya yang besar.

Ini menjaga tingkat partisipasi angkatan kerja tetap tinggi dan mengurangi risiko pengucilan sosial akibat kehilangan pekerjaan.

Langkah-Langkah Kebijakan Ketenagakerjaan yang Efektif

3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di Negara Maju

Source: golektruk.com

Beberapa kebijakan aktif ketenagakerjaan telah terbukti efektif dalam menciptakan peluang yang lebih inklusif. Kebijakan-kebijakan ini tidak hanya reaktif, tetapi juga proaktif dalam mempersiapkan tenaga kerja.

  • Subsidi Upah Tertarget: Memberikan insentif kepada perusahaan untuk merekrut kelompok yang kurang terwakili, seperti penganggur jangka panjang atau penyandang disabilitas.
  • Layanan Penempatan Kerja yang Diindividualisasikan: Menyediakan konselor karir yang membantu pencari kerja berdasarkan keahlian dan kebutuhan spesifik mereka, bukan sekadar pencocokan lowongan.
  • Dukungan Kewirausahaan Sosial: Memberikan pembiayaan dan pendampingan untuk usaha-usaha yang secara khusus menciptakan lapangan kerja bagi kelompok rentan.
  • Fleksibilitas Kerja yang Teratur: Mengatur kerja jarak jauh dan waktu kerja fleksibel dengan jelas, sehingga dapat diakses oleh orang tua, pengasuh, atau penyandang disabilitas tanpa mengurangi hak mereka.

Lingkungan Kerja yang Inklusif dan Beragam

Bayangkan sebuah perusahaan teknologi di Amsterdam yang tim pengembang perangkat lunaknya terdiri dari berbagai latar belakang: veteran militer yang ahli dalam logistik, ibu yang kembali bekerja setelah cuti panjang, programmer dengan spektrum autisme yang memiliki kemampuan logika luar biasa, dan insinyur muda dari berbagai negara. Lingkungan kerja yang sengaja dibangun untuk merangkul keberagaman ini menjadi kawah candradimuka ide-ide segar. Perspektif yang berbeda-beda dalam memandang suatu masalah menghasilkan solusi yang lebih kreatif dan komprehensif.

Kolaborasi antar latar belakang yang unik ini tidak hanya mendorong inovasi produk, tetapi juga meningkatkan produktivitas melalui rasa memiliki dan keterlibatan (engagement) karyawan yang lebih tinggi. Perusahaan seperti ini tidak sekadar memenuhi kuota, tetapi memahami bahwa inklusivitas adalah sumber keunggulan kompetitif.

BACA JUGA  Pengertian Meningkatkan Taraf Hidup Masyarakat dan Strateginya

Indikator 3: Jaring Pengaman Sosial dan Akses ke Layanan Dasar: 3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Di Negara Maju

Pilar ketiga ini berfungsi sebagai fondasi yang menopang dua pilar sebelumnya. Tanpa jaring pengaman sosial yang kuat dan akses terhadap layanan dasar, individu dan keluarga akan sangat rentan terhadap guncangan ekonomi, sehingga sulit bagi mereka untuk berpartisipasi penuh dalam pertumbuhan. Sistem ini memastikan bahwa jatuh bangunnya seseorang tidak menentukan nasibnya secara mutlak, dan setiap orang memiliki titik start yang lebih adil dalam perlombaan ekonomi.

Komponen Sistem Jaminan Sosial yang Komprehensif

Sistem jaminan sosial di negara maju yang komprehensif biasanya mencakup beberapa komponen inti. Pertama, sistem kesehatan universal yang menjamin akses layanan kesehatan tanpa membebani finansial secara katastropik. Kedua, pendidikan publik berkualitas dari tingkat dasar hingga menengah, sering kali diperluas hingga subsidi untuk pendidikan tinggi. Ketiga, jaminan pensiun yang memadai untuk lansia. Keempat, bantuan perumahan dan tunjangan pengangguran yang dapat diandalkan.

Kelima, tunjangan anak dan keluarga untuk mencegah kemiskinan antargenerasi. Kelima komponen ini bekerja sama untuk menciptakan rasa aman dan memungkinkan warga negara mengambil risiko yang produktif, seperti memulai usaha atau mengubah karier.

Negara Model Sistem Kesehatan Pembiayaan Utama Cakupan Populasi
Inggris (NHS) Beveridge Pajak umum Universal, hampir 100%
Jerman Bismarck Asuransi sosial wajib (premi dibayar bersama oleh pekerja dan pemberi kerja) Hampir universal (wajib bagi pekerja di bawah ambang batas pendapatan tertentu)

Perbandingan antara model Beveridge di Inggris dan Bismarck di Jerman menunjukkan bahwa ada berbagai jalan untuk mencapai tujuan yang sama: akses kesehatan universal. NHS di Inggris didanai langsung dari pajak dan pemerintah bertindak sebagai penyedia dan pembayar tunggal. Sementara di Jerman, sistem didanai melalui premi asuransi sosial yang dikelola oleh lembaga non-profit, dengan pemerintah mengatur secara ketat.

Prosedur Akses Bantuan Sosial: Contoh di Kanada

Di Kanada, seorang warga yang kehilangan pekerjaan dapat mengakses bantuan sosial melalui program Employment Insurance (EI). Prosedurnya relatif terdigitalisasi dan terstruktur. Setelah kehilangan pekerjaan, individu tersebut mendaftar secara online melalui portal pemerintah. Mereka harus melaporkan alasan pemutusan hubungan kerja dan menunjukkan upaya aktif mencari pekerjaan baru. Setelah disetujui, manfaat EI dibayarkan secara berkala, biasanya sebesar 55% dari penghasilan rata-rata mereka, hingga maksimum 45 minggu.

Selain tunjangan uang, program EI juga sering kali menyediakan dana tambahan untuk pelatihan keterampilan. Proses ini dirancang untuk memberikan dukungan cepat dan mendorong reintegrasi ke pasar kerja, bukan ketergantungan jangka panjang.

Kaitan Pendidikan Berkualitas dengan Mobilitas Sosial

Akses pendidikan berkualitas yang merata adalah mesin utama mobilitas sosial dan pertumbuhan inklusif. Ketika seorang anak dari keluarga berpenghasilan rendah dapat bersekolah di sekolah dengan fasilitas, kurikulum, dan guru yang setara dengan anak dari keluarga kaya, maka potensinya dapat berkembang optimal. Pendidikan yang baik membuka pintu ke perguruan tinggi dan pekerjaan dengan upah yang lebih tinggi, memutus siklus kemiskinan. Dari perspektif ekonomi makro, hal ini berarti negara memanfaatkan seluruh bakat yang tersedia dalam populasinya, bukan hanya dari kalangan tertentu.

Investasi dalam pendidikan yang inklusif menghasilkan tenaga kerja yang lebih terampil, adaptif, dan inovatif, yang pada akhirnya mendorong produktivitas nasional dan daya saing ekonomi dalam jangka panjang.

Studi Kasus: Integrasi Tiga Indikator dalam Kebijakan

Untuk memahami bagaimana ketiga indikator pertumbuhan inklusif ini bekerja secara sinergis, kita dapat melihat penerapannya dalam satu paket kebijakan yang konkret. Analisis terhadap suatu negara maju akan menunjukkan bahwa keberhasilan tidak datang dari kebijakan yang terpisah-pisah, melainkan dari pendekatan yang terintegrasi dan saling memperkuat.

Integrasi Kebijakan di Denmark: Fleksicurity

Denmark sering menjadi rujukan berkat model “Flexicurity”-nya, sebuah konsep yang dengan cerdas memadukan fleksibilitas pasar kerja, jaminan sosial yang kuat, dan kebijakan ketenagakerjaan yang aktif. Model ini mengintegrasikan ketiga indikator inklusif dengan cara yang unik. Di satu sisi, perusahaan diberi fleksibilitas tinggi untuk mempekerjakan dan memberhentikan karyawan sesuai kebutuhan bisnis (mendorong efisiensi ekonomi). Di sisi lain, pekerja yang diberhentikan dilindungi oleh sistem pengangguran yang sangat komprehensif, memberikan tunjangan hingga 90% dari gaji sebelumnya untuk periode yang cukup lama (jaring pengaman sosial yang kuat).

Syaratnya, mereka harus aktif berpartisipasi dalam program pelatihan dan penempatan kerja yang disediakan oleh pemerintah (akses ke kesempatan baru). Sistem pajak progresif yang tinggi membiayai model ini, sekaligus menjaga pemerataan pendapatan.

BACA JUGA  Menentukan Nilai Hambatan R pada Kawat Kumparan Panduan Lengkap

Analisis mendalam terhadap tiga indikator pertumbuhan ekonomi inklusif di negara maju—kesetaraan pendapatan, akses kesehatan, dan partisipasi angkatan kerja—memerlukan ketelitian layaknya proses merasionalkan penyebut pecahan dalam matematika. Seperti halnya upaya untuk Rasionalkan penyebut pecahan‑pecahan berikut ini , kebijakan inklusif harus menghilangkan ‘irasionalitas’ dalam distribusi manfaat pembangunan. Dengan demikian, pertumbuhan yang terukur secara kuantitatif dapat benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, menciptakan fondasi ekonomi yang berkelanjutan dan adil.

Tantangan dan Keberhasilan Implementasi Flexicurity

Keberhasilan utama model Flexicurity adalah kemampuannya menciptakan pasar kerja yang dinamis sekaligus aman. Tingkat perputaran pekerjaan (job turnover) di Denmark tinggi, tetapi tingkat pengangguran jangka panjangnya rendah. Pekerja tidak takut kehilangan pekerjaan karena ada jaminan transisi yang kuat, sehingga mereka lebih terbuka terhadap perubahan dan inovasi. Tantangan utamanya adalah biaya fiskal yang sangat besar. Sistem ini membutuhkan tingkat penerimaan pajak yang tinggi dari masyarakat, yang mensyaratkan tingkat kepercayaan (trust) yang luar biasa antara warga negara dan pemerintah.

Tantangan lain adalah menjaga relevansi program pelatihan dengan kecepatan perubahan industri, agar para pencari kerja benar-benar terserap kembali ke pekerjaan yang bermutu.

Dampak pada Kehidupan Masyarakat Kelas Menengah ke Bawah, 3 Indikator Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di Negara Maju

Bayangkan seorang tukang kayu bernama Lars di Kopenhagen. Perusahaan konstruksi tempatnya bekerja mengalami penurunan pesanan dan terpaksa melakukan PHK. Di bawah model Flexicurity, Lars tidak langsung dilanda kepanikan. Ia mendaftar untuk mendapatkan tunjangan pengangguran, yang memungkinkan keluarganya tetap memenuhi kebutuhan pokok sambil mencari solusi. Dalam beberapa minggu, konselor dari pusat ketenagakerjaan menjumpainya.

Setelah mendiskusikan minat dan melihat tren industri, Lars diarahkan untuk mengikuti kursus intensif tentang pemasangan dan perawatan panel surya, sebuah bidang yang sedang booming di Denmark. Selama pelatihan, ia tetap menerima tunjangan. Enam bulan kemudian, Lars telah tersertifikasi dan mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan energi terbarukan dengan gaji yang lebih baik daripada sebelumnya. Cerita Lars menggambarkan bagaimana kebijakan inklusif yang terintegrasi mengubah kemalangan menjadi peluang, menjaga martabat individu, dan sekaligus mengarahkan tenaga kerja ke sektor-sektor ekonomi masa depan.

Kesimpulan

Dengan demikian, perjalanan menuju pertumbuhan ekonomi yang benar-benar inklusif di negara maju pada akhirnya adalah sebuah komitmen berkelanjutan. Bukan proyek sekali jadi, melainkan proses dinamis yang membutuhkan evaluasi kebijakan secara terus-menerus, kesiapan beradaptasi, dan political will yang kuat. Keberhasilan menerapkan ketiga indikator—pemerataan, kesempatan kerja, dan jaminan sosial—menunjukkan bahwa kemakmuran kolektif adalah tujuan yang dapat diwujudkan. Pada akhirnya, ekonomi yang inklusif bukan hanya tentang angka statistik yang membaik, tetapi lebih tentang membangun masyarakat yang lebih kohesif, resilient, dan memberikan rasa percaya akan masa depan yang lebih baik bagi setiap warganya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah pertumbuhan ekonomi inklusif membuat pertumbuhan GDP menjadi lebih lambat?

Tidak selalu. Banyak penelitian, termasuk dari IMF dan OECD, menunjukkan bahwa ketimpangan yang tinggi justru dapat menghambat pertumbuhan jangka panjang. Ekonomi inklusif dengan pemerataan yang lebih baik cenderung menciptakan permintaan domestik yang stabil, sumber daya manusia yang lebih sehat dan terdidik, serta stabilitas sosial yang mendukung iklim investasi, yang pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Bagaimana mengukur “akses yang setara” di pasar tenaga kerja selain dari tingkat pengangguran?

Selain angka pengangguran, indikator kunci meliputi kesenjangan upah berdasarkan gender dan etnis, tingkat partisipasi angkatan kerja dari kelompok difabel dan lansia, proporsi perempuan dan minoritas dalam posisi manajerial, serta durasi rata-rata pengangguran jangka panjang. Data ini memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang inklusivitas sebuah pasar kerja.

Apakah sistem jaminan sosial yang komprehensif tidak memberatkan anggaran negara dan menciptakan ketergantungan?

Pertumbuhan ekonomi inklusif di negara maju tak hanya diukur dari PDB, namun juga pemerataan pendapatan dan akses kesehatan. Prinsip ini mirip dengan ketepatan dalam matematika, seperti saat kita perlu Tentukan relasi sudut sin 1.000° untuk menemukan nilai pastinya. Demikian pula, ketepatan dalam menerapkan tiga indikator tersebut menentukan keberhasilan suatu negara dalam membangun kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.

Sistem yang dirancang dengan baik justru berfungsi sebagai stabilisator otomatis ekonomi. Pada saat resesi, transfer sosial menjaga daya beli masyarakat dan mencegah kemerosotan ekonomi yang lebih dalam. Selain itu, akses ke kesehatan dan pendidikan yang terjangkau meningkatkan produktivitas dan kapasitas inovasi tenaga kerja, yang merupakan investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar beban anggaran.

Pertumbuhan ekonomi inklusif di negara maju tak hanya soal angka PDB, tetapi juga pemerataan pendapatan, akses ke lapangan kerja berkualitas, dan mobilitas sosial. Diskursus ini mengingatkan kita bahwa nilai mata uang dan daya beli, seperti yang diulas dalam Seringgit = 2,5 Rupiah, 1 Ketip Setara Dengan , merupakan elemen dasar dalam memahami kesejahteraan riil. Oleh karena itu, ketiga indikator tersebut harus selalu dianalisis dalam konteks kemampuan ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Bisakah model pertumbuhan inklusif negara maju diterapkan langsung di negara berkembang?

Tidak bisa serta-merta dicopy-paste. Setiap negara memiliki konteks sejarah, kapasitas fiskal, dan struktur institusi yang berbeda. Namun, prinsip-prinsip intinya—seperti pentingnya mengurangi ketimpangan, memperluas akses layanan dasar, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas—bersifat universal. Yang diperlukan adalah adaptasi dan inovasi kebijakan yang sesuai dengan kondisi dan sumber daya lokal.

Leave a Comment