Seringgit 2,5 Rupiah dan Nilai Satu Ketip dalam Sejarah

Seringgit = 2,5 Rupiah, 1 Ketip Setara Dengan adalah sebuah fragmen menarik dari mozaik sejarah moneter Nusantara yang kerap terlupakan. Ungkapan ini bukan sekadar rumus konversi kuno, melainkan jendela untuk memahami dinamika ekonomi, perdagangan, dan kehidupan sosial masyarakat pada zamannya. Melalui istilah-istilah seperti ‘ringgit’ dan ‘ketip’, kita diajak menyelami sebuah sistem nilai yang berjalan paralel dengan mata uang resmi, mencerminkan kearifan lokal dalam bertransaksi jauh sebelum era digital.

Pada periode tertentu di Hindia Belanda, terutama di luar Jawa, satuan ‘ringgit’ merujuk pada mata uang perak Belanda, sementara ‘rupiah’ yang dimaksud adalah gulden kertas atau perak dengan nilai berbeda. Di dalam ekosistem transaksi harian yang rumit inilah ‘ketip’ hadir sebagai satuan nilai fraksional yang sangat kecil, sering kali mewakili barang atau jasa tertentu, sehingga menciptakan mata uang tersendiri yang hidup di pasar-pasar tradisional.

Konteks Historis dan Asal-usul Istilah

Membincang sejarah mata uang di Nusantara tak ubahnya menyusuri labirin yang penuh dengan pertukaran nilai, pengaruh asing, dan adaptasi lokal. Sebelum keseragaman mata uang nasional, wilayah-wilayah di Indonesia memiliki sistem moneter yang sangat beragam, di mana istilah seperti ‘Ringgit’ dan ‘Ketip’ hidup dan digunakan dalam transaksi sehari-hari. Memahami konteks historisnya adalah kunci untuk membuka makna di balik konversi yang tampaknya sederhana, seperti “Seringgit = 2,5 Rupiah”.

Sejarah Penggunaan Ringgit dan Ketip di Nusantara, Seringgit = 2,5 Rupiah, 1 Ketip Setara Dengan

Istilah ‘Ringgit’ sendiri berasal dari bahasa Jawa, merujuk pada uang perak yang bergigi atau bergerigi di pinggirannya, sebuah ciri khas dari koin perak Spanyol (Real de a Ocho atau “Pillar Dollar”) yang beredar luas di perdagangan internasional abad ke-16 hingga ke-19. Koin ini begitu dominan sehingga namanya melekat menjadi sebutan umum untuk uang perak. Di Hindia Belanda, pemerintah kolonial kemudian menerbitkan mata uang Gulden yang juga sering disebut “ringgit” oleh masyarakat lokal.

Sementara itu, ‘Ketip’ adalah istilah yang jauh lebih lokal dan bernuansa. Kata ini diduga berasal dari bahasa Jawa ‘kethip’ yang berarti ‘sedikit’ atau ‘sejumlah kecil’, atau bisa pula merujuk pada ‘kepingan’. Ia mewakili satuan nilai pecahan yang sangat kecil, seringkali bukan dalam bentuk uang logam resmi, melainkan sebagai satuan hitung dalam barter atau menggunakan uang kepeng (uang logam Tiongkok) yang sudah lama beredar.

Periode dan Wilayah Berlaku Konversi Seringgit = 2,5 Rupiah

Konversi “Seringgit = 2,5 Rupiah” ini berlaku pada periode akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, khususnya di Jawa dan sebagian Sumatra, ketika sistem moneter Hindia Belanda mulai distandardisasi. Pada masa itu, terdapat dualisme antara mata uang resmi (Nederlandsch Indische Gulden) yang berbasis perak dan mata uang rekening (Rupiah) yang berbasis emas. Satu Gulden (seringgit) perak nilainya setara dengan 2,5 Rupiah emas dalam sistem rekening.

Perbandingan nilai seperti “Seringgit = 2,5 Rupiah” atau “1 Ketip” mengingatkan kita bahwa nilai-nilai dasar perlu kontekstualisasi. Di era digital, tantangannya adalah menerapkan prinsip-prinsip Pancasila yang luhur dalam gelombang informasi yang masif, sebagaimana diulas dalam artikel Jelaskan bagaimana penerapan Pancasila pada massa informasi. Pada akhirnya, seperti halnya konversi mata uang kuno, penerapan nilai-nilai kebangsaan memerlukan pemahaman mendalam agar relevan dan bermakna dalam setiap transaksi sosial.

Perbedaan basis nilai inilah yang melahirkan konversi unik tersebut, yang terutama digunakan dalam transaksi besar, perdagangan antar-pulau, dan pencatatan resmi, sementara di pasar rakyat, perhitungannya bisa lebih cair.

Perbandingan Nilai Mata Uang Lokal Historis

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kompleksitas sistem moneter Nusantara pada masa lalu, berikut adalah tabel perbandingan nilai beberapa mata uang lokal terhadap Rupiah Hindia Belanda pada periode sekitar tahun 1900. Perlu diingat, nilai ini bersifat perkiraan dan dapat berfluktuasi berdasarkan wilayah dan waktu.

BACA JUGA  Quiz Kelas 5 50 Murid Perbandingan Laki-Laki Perempuan 3 5 Hitung Jumlah
Nama Mata Uang Asal/Wilayah Bahan Nilai Perkiraan (dalam Rupiah Hindia Belanda)
Gulden/Ringgit Hindia Belanda (Resmi) Perak 1 Gulden = 2,5 Rupiah (rekening)
Kepeng Tiongkok (tersebar luas) Tembaga/Campuran 100-200 Kepeng ≈ 1 Rupiah
Duit Hindia Belanda Tembaga 1 Gulden = 120 Duit
Picis (Uang Gobog) Jawa & Bali Timah/Tembaga Nilai sangat rendah, untuk transaksi kecil

Makna dan Nilai ‘1 Ketip’

Jika ‘Ringgit’ mewakili nilai yang substansial, maka ‘1 Ketip’ adalah antitesisnya—sebuah representasi dari nilai yang paling remeh namun esensial dalam ekonomi subsisten. Nilainya tidak selalu tetap pada sebuah koin fisik, tetapi lebih kepada sebuah konsensus sosial tentang sejumlah kecil barang atau jasa. Inilah keunikan sistem nilai tradisional, di mana uang sebagai alat tukar seringkali berbaur dengan konsep barter.

Interpretasi Ketip sebagai Satuan Nilai

‘1 Ketip’ secara harfiah dapat diartikan sebagai ‘satu bagian kecil’. Dalam praktiknya, ia bisa merujuk pada beberapa hal: pertama, sebagai pecahan uang kepeng yang sudah aus dan nilainya dianggap separuh atau seperempat dari kepeng utuh; kedua, sebagai satuan hitung untuk komoditas tertentu, seperti seikat kecil sayuran atau segenggam beras; ketiga, sebagai nilai tukar dalam jasa sederhana. Dengan demikian, ‘ketip’ beroperasi dalam ruang yang lentur antara uang logam, barang, dan tenaga.

Contoh Barang dan Jasa Setara 1 Ketip

Pada era akhir abad 19 hingga awal abad 20, daya beli 1 ketip sangatlah terbatas, namun cukup untuk transaksi yang sangat mendasar. Berikut adalah beberapa contoh barang atau jasa yang kira-kira setara dengan 1 ketip:

  • Segenggam kecil beras ketan atau jagung.
  • Dua atau tiga buah cabai rawit.
  • Sebatang rokok lintingan tradisional (klembak menyan).
  • Jasa menyematkan jarum atau menambal tambalan kecil pada pakaian.
  • Sewa sederhana sebuah cangkir tanah liat di warung untuk minum.

Daya Beli Ketip dan Kebutuhan Pokok

Dibandingkan dengan kebutuhan pokok, 1 ketip hampir tidak berarti. Sebagai ilustrasi, untuk membeli satu liter beras berkualitas standar pada masa itu mungkin diperlukan puluhan bahkan ratusan ketip. Oleh karena itu, transaksi dengan satuan ketip biasanya terjadi untuk barang-barang yang sangat murah atau sebagai ‘tukar tambah’ untuk menyempurnakan nilai dalam transaksi yang lebih besar. Keberadaannya memungkinkan perdagangan tetap berjalan lancar bahkan untuk masyarakat dengan likuiditas yang sangat minim.

Proses Konversi Nilai Ketip ke Masa Modern

Melacak nilai ketip hingga ke nilai modern adalah sebuah upaya memperkirakan yang penuh dengan asumsi, namun bisa memberikan gambaran. Mari kita coba lakukan konversi bertingkat berdasarkan catatan historis yang ada.

Langkah 1: Asumsikan 1 Ketip setara dengan 1/4 dari uang Kepeng yang utuh. Catatan sejarah menunjukkan sekitar 200 Kepeng setara dengan 1 Rupiah Hindia Belanda (masa kolonial). Maka, 1 Ketip ≈ (1/4 Kepeng) = (1/4)

(1/200 Rupiah) = 1/800 Rupiah Hindia Belanda.

Langkah 2

Konversi ke nilai Gulden. Karena 1 Gulden (Ringgit) = 2,5 Rupiah, maka 1 Ketip ≈ 1/800 Rupiah = 1/(800*2.5) Gulden = 1/2000 Gulden.

Langkah 3: Mencari nilai perkiraan modern. Pada tahun 1913, 1 Gulden Hindia Belanda memiliki daya beli yang kira-kira setara dengan €10-12 di masa sekarang (berdasarkan indeks harga konsumen). Dengan asumsi konservatif €10, maka 1 Ketip ≈ (1/2000)

€10 = €0.005 atau setara dengan kurang lebih Rp 85-90 (dengan kurs €1 ≈ Rp 17.000).

Dari perhitungan kasar ini, terlihat bahwa 1 Ketip memiliki nilai yang sangat kecil, setara dengan beberapa puluh rupiah saja saat ini, yang mencerminkan posisinya sebagai satuan nilai terkecil dalam sistem waktu itu.

Aplikasi dalam Transaksi Masa Lalu

Bayangkan suasana sebuah pasar tradisional di pedalaman Jawa pada awal 1900-an. Teriakan penjual, aroma rempah, dan tumpukan barang berbaur dengan sistem hitung yang bagi kita sekarang terlihat rumit. Di sinilah “Seringgit”, “Rupiah”, dan “Ketip” berinteraksi dalam sebuah koreografi ekonomi yang telah mapan, mengatur transaksi dari yang paling besar hingga yang paling remeh.

Skenario Transaksi di Pasar Tradisional

Seringgit = 2,5 Rupiah, 1 Ketip Setara Dengan

Source: cointalk.com

Seorang ibu rumah tangga datang ke pasar untuk membeli bahan-bahan. Ia ingin membeli sekarung kecil gabah seharga 1 Ringgit (2,5 Rupiah), seikat bayam seharga 10 Ketip, dan jasa membetulkan sangganya (keranjang) yang rusak senilai 5 Ketip. Penjual gabah mungkin hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang logam Gulden atau Rupiah resmi. Sementara penjual bayam dan tukang sangganya mungkin lebih fleksibel, menerima pembayaran dengan uang kepeng yang sudah pecah (ketip) atau bahkan dengan barang tukar seperti telur.

Prosedur Perhitungan Transaksi Campuran

Transaksi seringkali melibatkan konversi antar satuan. Misalnya, si ibu membayar dengan uang kertas 1 Rupiah dan beberapa keping uang logam. Penjual akan menghitung: 1 Rupiah = 0,4 Ringgit (karena 1 Ringgit = 2,5 Rupiah). Untuk menutup sisa pembayaran yang nilainya dalam ketip, ia akan mengonversi ketip ke kepeng, lalu ke duit, dan akhirnya ke bagian dari Ringgit. Proses ini membutuhkan keahlian mental dan pemahaman mendalam tentang nilai relatif setiap jenis uang yang beredar.

Kutipan dan Cerita Rakyat

Istilah-istilah ini mengakar dalam budaya tutur. Dalam sebuah cerita rakyat dari Jawa Tengah, ada pesan bijak yang berbunyi, ” Ora usah ngoyo ngentipi ringgit, nanging ngupaya rejeki sing patitis.” (Jangan memaksakan diri untuk mengumpulkan ketip demi ringgit, tetapi carilah rezeki yang halal). Ungkapan ini menggunakan kontras antara ‘ketip’ (kecil) dan ‘ringgit’ (besar) untuk menekankan etos kerja yang benar. Dalam percakapan sehari-hari, “wis ora ketipan maneh” (sudah tidak bersisa ketip pun) menggambarkan keadaan yang benar-benar habis atau bangkrut.

Contoh Transaksi Lengkap dengan Konversi

Tabel berikut mengilustrasikan sebuah transaksi lengkap yang melibatkan ketiga satuan nilai, dengan asumsi konversi dasar: 1 Ringgit = 2,5 Rupiah = 2000 Ketip (berdasarkan perhitungan pecahan kepeng).

Barang/Jasa Harga Awal Konversi ke Rupiah Keterangan
1 Liter Minyak Kelapa ½ Ringgit 1,25 Rupiah Dibayar dengan uang logam 1 Gulden (1 Ringgit)
5 Buah Pisang 50 Ketip 0,0625 Rupiah Dibayar dengan 2 keping kepeng utuh (1 kepeng ≈ 25 ketip)
Jasa Pikul Barang 100 Ketip 0,125 Rupiah Dibayar dengan 10 keping ‘duit’ tembaga
TOTAL ½ Ringgit + 150 Ketip ~1,4375 Rupiah Sisa kembalian: Nilai dari 1 Ringgit dikurangi total, mungkin dalam bentuk ketip atau barang kecil.

Warisan Budaya dan Ekspresi Modern

Meskipun sistem moneter yang melahirkan istilah ‘Ringgit’ dan ‘Ketip’ telah lama tergantikan oleh Rupiah yang seragam, jejaknya tidak serta-merta hilang. Ia bermigrasi dari domain ekonomi ke ranah bahasa dan budaya, bertahan sebagai metafora, peribahasa, dan memori kolektif yang sesekali muncul dalam interaksi masyarakat.

Jejak dalam Peribahasa dan Idiom

Kontras antara nilai besar dan kecil yang diwakili Ringgit dan Ketip menjadi sumber analogi yang kaya. Peribahasa ” Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sugih tanpa bandha, ringgit tanpa ketip.” (Menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan, kaya tanpa harta, ringgit tanpa ketip) menggambarkan kesempurnaan dan kemandirian yang ideal. Idiom ” dikethipi” dalam bahasa Jawa bisa berarti diperlakukan dengan remeh atau hanya diberi bagian yang sangat kecil. Dalam lagu daerah, terutama genre campursari, kata ‘ringgit’ masih sering muncul sebagai simbol kekayaan atau uang secara umum.

Penggunaan Modern dalam Komunitas Tertentu

Di beberapa daerah pedesaan atau di kalangan generasi tua, istilah ‘ringgit’ masih digunakan secara informal untuk menyebut uang kertas lima ribu rupiah, karena warnanya yang mirip dengan uang kertas Gulden lama. Sementara ‘ketip’ nyaris punah dalam percakapan ekonomi, tetapi semangatnya hidup dalam praktik seperti ” nguthik-nguthik” (mengumpulkan sedikit-sedikit) atau dalam transaksi ‘tambahan’ kecil yang tidak dibahas secara formal, misalnya saat membeli sayur lalu penjual menambahkan seikat kemangi sebagai ‘bonus’.

Ilustrasi Deskriptif Pasar Tempo Dulu

Gambarkan sebuah los pasar yang teduh, atapnya dari genteng tanah liat. Di satu sisi, seorang pedagang kain duduk di depan tumpukan batik, menawar dengan seorang pembeli menggunakan satuan ‘ringgit’. Di tangan pedagang, terdapat sebuah timbangan kecil untuk menimbang uang perak jika diperlukan. Beberapa los di sampingnya, seorang nenek menjual bumbu dapur—kencur, kunyit, dan lengkuas—yang ditata dalam tumpukan kecil senilai ‘satu ketip’ per tumpukannya.

Pembeli menukar dua butir telur ayam kampung dengan beberapa tumpukan bumbu dan menerima kembali selembar daun yang diisi dengan bubuk merica sebagai ‘kembalian ketip’. Suasana ini menunjukkan hierarki transaksi: dari yang melibatkan uang logam resmi hingga ke pertukaran barang berbasis satuan nilai kecil yang disepakati bersama.

Perbandingan dengan Sistem Ekonomi Tradisional Lain

Konsep ‘ketip’ sebagai nilai pecahan terkecil yang fleksibel memiliki kemiripan dengan sistem ekonomi tradisional lainnya. Dalam sistem ‘ tukar tambah‘ (barter dengan kompensasi nilai selisih), selisih yang kecil seringkali diabaikan atau dibayarkan dengan barang lain yang nilainya tidak persis sama, mirip dengan fungsi ketip sebagai penyempurna transaksi. Demikian pula dengan sistem ‘ bagi hasil‘ pertanian, di bagian hasil yang sangat kecil untuk buruh harian bisa dianggap sebagai ‘ketip’ dari panen besar.

Esensinya adalah pengakuan terhadap nilai fraksional dan non-standar dalam ekonomi yang mengutamakan hubungan sosial dan kelancaran transaksi di atas presisi akuntansi.

Konversi historis seperti “Seringgit = 2,5 Rupiah” atau “1 Ketip” bukan sekadar trivia, melainkan cerminan dinamika nilai yang tertanam dalam struktur bangsa. Esensi perubahan nilai ini menemukan relevansinya ketika dikaji dalam kerangka Perubahan Sistem Struktur Sesuai Pancasila dan UUD 1945 , di mana landasan konstitusional mengarahkan transformasi sistemik. Pada akhirnya, pemahaman terhadap satuan lama seperti seringgit dan ketip justru menguatkan apresiasi terhadap stabilitas sistem keuangan yang terus diperjuangkan.

Perspektif Numismatik dan Ekonomi

Dari sudut pandang numismatik (studi tentang mata uang) dan ekonomi makro, peralihan dari sistem Seringgit/Ketip ke mata uang nasional bukan sekadar perubahan alat tukar, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam cara negara mengatur kedaulatan ekonomi, mengontrol nilai, dan menyatukan wilayah perdagangan.

Ciri-ciri Fisik Uang ‘Ketip’

Secara fisik, ‘ketip’ kemungkinan besar bukan merupakan uang logam yang dicetak resmi oleh otoritas tertentu. Ia lebih mungkin adalah uang kepeng Tiongkok yang sudah sangat aus, terpotong, atau sengaja dipatahkan untuk dijadikan pecahan. Ciri-cirinya adalah bentuknya tidak beraturan, tulisan dan gambarnya sudah tidak jelas, dan bahannya dari tembaga atau campuran logam murah. Dalam konteks lain, ‘ketip’ bisa berupa token atau tanda dari bahan lain seperti timah, kayu, atau bahkan gigi binatang yang digunakan dalam lingkaran terbatas sebuah komunitas atau pasar tertentu.

Faktor Pergeseran ke Mata Uang Nasional

Beberapa faktor ekonomi makro yang mendorong unifikasi mata uang antara lain: kebutuhan pemerintah kolonial untuk administrasi pajak yang efisien, kemudahan dalam pembiayaan proyek-proyek besar seperti infrastruktur, stabilitas nilai tukar untuk mendukung ekspor komoditas, dan penghapusan kerumitan serta ketidakpastian yang ditimbulkan oleh beragamnya mata uang lokal. Kebijakan De Javasche Bank sebagai bank sentral yang kemudian menerbitkan uang kertas Rupiah secara bertahap meminggirkan sistem nilai lokal seperti ketip dan menstandarkan ringgit (Gulden) ke dalam sistem desimal yang kita kenal sekarang.

Garis Waktu Perkembangan Mata Uang

  • Era Pra-Kolonial hingga Awal Kolonial: Dominasi uang kepeng Tiongkok, uang gobog, dan mata uang lokal berbasis perak & emas. Istilah ‘ringgit’ dan ‘ketip’ mulai digunakan dalam konteks nilai.
  • Abad ke-19: Pemerintah Hindia Belanda memperkenalkan Gulden (berbasis perak) dan sistem Rupiah (berbasis emas) untuk rekening. Konversi “1 Ringgit = 2,5 Rupiah” berlaku.
  • Awal Abad ke-20 (1913-1942): Standar emas diadopsi secara penuh. Gulden menjadi satu-satunya mata uang resmi dengan satuan desimal (1 Gulden = 100 sen). Sistem ‘ketip’ dan konversi lama tersingkir ke pasar sangat tradisional.
  • 1942-1945: Pendudukan Jepang mengedarkan uang invasi, merusak stabilitas mata uang Gulden.
  • 1945-Sekarang: Oeang Republik Indonesia (ORI) diterbitkan, yang kemudian menjadi Rupiah Indonesia sebagai mata uang nasional tunggal, menutup riwayat panjang sistem moneter pluralistik.

Fluktuasi Nilai dan Dampak pada Kesetaraan

Kesetaraan “Seringgit = 2,5 Rupiah” bukanlah hukum yang abadi, melainkan hasil dari kebijakan moneter tertentu pada suatu masa. Fluktuasi nilai terjadi terutama karena perbedaan antara nilai intrinsik (kandungan logam) dan nilai nominal uang. Ketika harga perak dunia naik tajam, nilai intrinsik Gulden perak bisa melebihi nilai nominalnya dalam Rupiah emas, menciptakan arbitrase dan tekanan ekonomi. Kebijakan untuk menyamakan basis nilai (dari bimetalisme ke standar emas tunggal) pada akhirnya menghapus konversi unik ini.

Hal ini menunjukkan bagaimana kesetaraan nilai mata uang sangat rentan terhadap gejolak pasar komoditas global dan keputusan politik otoritas moneter, sebuah pelajaran yang masih relevan hingga saat ini.

Penutupan Akhir: Seringgit = 2,5 Rupiah, 1 Ketip Setara Dengan

Dengan demikian, jejak ‘seringgit’, ‘rupiah’, dan ‘ketip’ lebih dari sekadar nostalgia numismatik. Ia adalah bukti elastisitas sistem ekonomi tradisional yang mampu menciptakan solusi praktis di tengah keterbatasan alat tukar resmi. Meski telah tergantikan oleh standarisasi mata uang nasional, warisan konseptualnya masih dapat kita temui dalam praktik bagi hasil, tukar-menukar barang, atau bahkan dalam ungkapan sehari-hari yang menyiratkan nilai sangat kecil.

Mempelajari konversi kuno ini pada hakikatnya adalah upaya untuk menghargai kompleksitas dan kreativitas leluhur dalam mengelola urusan perniagaan, sebuah warisan budaya yang patut dikenang.

Tanya Jawab (Q&A)

Apakah uang koin “ketip” pernah dicetak secara resmi?

Konversi mata uang kuno seperti “seringgit = 2,5 rupiah” mengingatkan kita pada logika dan presisi dalam menghitung nilai. Prinsip ketelitian serupa sangat krusial dalam dunia matematika, misalnya saat Menyelesaikan Soal Aljabar: (a+b)^2 – 2ab dan (a+b)^2·(a-b)^2 , di mana setiap langkah ekspansi dan penyederhanaan harus akurat. Demikian pula, memahami kesetaraan “1 ketip” memerlukan pendekatan sistematis layaknya menyelesaikan persamaan, agar tidak terjadi kesalahan interpretasi terhadap nilai historisnya.

Tidak ada bukti kuat bahwa “ketip” merupakan mata uang resmi yang dicetak oleh otoritas pemerintah. Istilah ini lebih merujuk pada satuan nilai atau unit hitung dalam sistem barter dan perdagangan lokal, yang mungkin diwakili oleh token tertentu, barang kecil, atau hanya sebagai konsep akuntansi di pasar.

Bagaimana cara menghitung nilai 1 ketip dalam rupiah modern?

Menghitungnya secara tepat sangat sulit karena ketip adalah satuan nilai tidak tetap yang bergantung pada konteks barang dan waktu. Pendekatan yang mungkin adalah dengan memperkirakan daya belinya terhadap kebutuhan pokok masa lalu (misalnya, seikat kecil sayuran), lalu mengkonversi nilai barang tersebut ke harga masa kini, namun hasilnya hanya perkiraan kasar.

Apakah istilah “ringgit” dalam konteks ini berkaitan dengan mata uang Malaysia?

Ya, secara etimologis berkaitan. Kata “ringgit” berasal dari sisi bergerigi pada koin perak Spanyol yang dahulu banyak beredar di Nusantara. Malaysia kemudian mengadopsi nama ini untuk mata uang nasionalnya, sementara di Indonesia istilahnya menghilang dan digantikan sepenuhnya oleh “rupiah”.

Apakah masih ada daerah di Indonesia yang menggunakan istilah “ketip” dalam transaksi?

Penggunaan istilah “ketip” sebagai satuan nilai resmi sudah tidak ada. Namun, mungkin saja istilah ini bertahan sebagai leluhur bahasa atau sebutan informal untuk nilai yang sangat kecil dalam komunitas tertentu, terutama di kalangan generasi tua, namun bukan sebagai alat tukar yang sah.

Leave a Comment