IPS Terpadu Terintegrasi: Soal Pilihan Ganda OKI, Islam, Palestina, Tradisi Pertanian Jawa bukan sekadar kumpulan topik yang terpisah, melainkan sebuah kanvas luas untuk memahami realitas dunia yang saling terhubung. Pendekatan pembelajaran ini menantang kita untuk melihat setiap isu bukan sebagai fakta yang mandiri, tetapi sebagai simpul dalam jaringan kompleks sejarah, geografi, ekonomi, dan sosial budaya. Dari dinamika politik global di Timur Tengah hingga kearifan lokal di pedesaan Jawa, semuanya terajut dalam sebuah narasi besar tentang peradaban manusia.
Pembelajaran IPS Terpadu yang mengintegrasikan soal tentang OKI, Islam, Palestina, hingga tradisi pertanian Jawa, bukan sekadar hafalan. Ia membentuk pola pikir holistik, sebuah proses yang sejalan dengan Tahapan Pembentukan Kepribadian Seseorang. Pemahaman lintas budaya dan sejarah ini akhirnya mengkristal menjadi nilai-nilai yang membentuk karakter siswa dalam menyikapi isu global yang kompleks.
Melalui integrasi disiplin ilmu, pembahasan tentang peran Organisasi Kerja Sama Islam dalam konflik Palestina menjadi lebih kaya dimensi. Demikian pula, tradisi pertanian Jawa yang tampaknya lokal ternyata dapat menjadi lensa untuk menganalisis prinsip ekonomi berkelanjutan dan ketahanan pangan yang relevan dengan situasi global. Soal-soal pilihan ganda yang dirancang dalam kerangka ini tidak lagi menguji hafalan, tetapi mendorong kemampuan analisis, menghubungkan titik-titik, dan membangun pemahaman yang holistik serta kontekstual terhadap persoalan nyata.
Konsep dan Ruang Lingkup IPS Terpadu Terintegrasi
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang konvensional seringkali memisahkan disiplin ilmu seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Pendekatan terpadu terintegrasi hadir untuk meruntuhkan sekat-sekat tersebut. Konsep ini menyatukan berbagai perspektif ke dalam satu tema besar, sehingga siswa tidak hanya melihat fakta secara terpisah, tetapi memahami jaringan sebab-akibat dan keterkaitan yang kompleks di kehidupan nyata. Prinsip dasarnya adalah holistik, kontekstual, dan bermakna, di mana sebuah peristiwa atau fenomena dianalisis dari berbagai sudut pandang ilmiah secara simultan.
Kelebihan dan Tantangan Pendekatan Terintegrasi
Kelebihan utama dari model ini adalah kemampuannya membentuk pemikiran kritis dan sistematis. Siswa diajak untuk tidak sekadar menghafal tahun bersejarah, tetapi juga menganalisis dampak geografis, implikasi ekonomi, dan perubahan sosial yang terjadi. Misalnya, mempelajari Perang Dunia II menjadi lebih kaya ketika dibahas melalui geografi strategis medan perang, ekonomi biaya perang dan Marshall Plan, serta sosiologi perubahan peran gender di masyarakat.
Tantangannya terletak pada perencanaan kurikulum yang matang dan kompetensi guru yang harus menguasai lintas disiplin. Sumber belajar yang terintegrasi juga seringkali lebih sulit disusun dibandingkan buku teks yang terpisah-pisah.
Analisis Tradisi Pertanian Jawa dalam Lensa IPS Terpadu
Salah satu tema yang ideal untuk pendekatan terintegrasi adalah Tradisi Pertanian Jawa. Tema ini bukan sekadar tentang cara menanam, tetapi sebuah mosaik kompleks dari interaksi manusia dengan lingkungan dan sosialnya. Tabel berikut menunjukkan bagaimana keempat disiplin IPS berkontribusi dalam memahami tema ini secara utuh.
| Geografi | Sejarah | Ekonomi | Sosiologi |
|---|---|---|---|
| Kondisi tanah vulkanik yang subur, pola curah hujan muson, dan topografi dataran rendah hingga pegunungan. | Warisan sistem pertanahan dari era kerajaan Hindu-Buddha dan Mataram Islam, pengaruh kolonial Belanda (sistem tanam paksa). | Sistem ekonomi subsisten dan pasar tradisional, pola distribusi hasil bumi, konsep bagi hasil (“maro” atau “mertelu”). | Stratifikasi sosial petani, nilai gotong royong (“sambatan”), relasi patron-klien antara pemilik tanah dan penggarap. |
| Adaptasi dengan kondisi geografis melalui terasering dan sistem irigasi “subak”. | Evolusi alat pertanian dari tradisional (luku, garu) ke modern, dampak Revolusi Hijau. | Peran pertanian dalam struktur PDRB Jawa, ketahanan pangan lokal, dan kerentanan terhadap fluktuasi harga. | Perubahan struktur keluarga dan komunitas akibat urbanisasi dan alih fungsi lahan. |
Studi Kasus Analisis Terpadu: Konflik Palestina
Konflik Palestina adalah contoh sempurna yang menuntut analisis terpadu. Melalui lensa geografi, kita membahas pentingnya lokasi Palestina yang strategis di persimpangan tiga benua, serta sumber daya alam seperti air. Perspektif sejarah menguraikan kronologi sejak Deklarasi Balfour, Perang 1948, hingga pendudukan 1967. Analisis ekonomi melihat blokade Gaza, kontrol Israel atas sumber ekonomi Palestina, dan ketergantungan pada bantuan luar negeri. Sementara itu, sosiologi mengkaji identitas nasional, pengungsi, kehidupan di bawah pendudukan, dan dinamika masyarakat Palestina itu sendiri.
Hanya dengan menggabungkan semua lensa ini, kita bisa mendapatkan gambaran yang mendekati utuh tentang akar konflik dan kompleksitas penyelesaiannya.
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI): Peran dan Dinamika
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), yang sejak 2011 bernama Organisasi Kerjasama Islam, berdiri sebagai respons konkret dunia Islam terhadap peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada 21 Agustus 1969. Didirikan pada September 1969 di Rabat, Maroko, organisasi ini mewadahi 57 negara anggota yang tersebar di empat benua. Tujuannya adalah untuk melindungi kepentingan umat Islam, memajukan kerja sama antarnegara anggota, dan mendukung perdamaian dunia berdasarkan keadilan.
Struktur dan Kontribusi dalam Politik Global
Struktur OKI terdiri dari Sidang Tertinggi (KTT) yang dihadiri kepala negara, Dewan Menteri Luar Negeri, dan Sekretariat Jenderal sebagai pelaksana harian. Kontribusinya di panggung global tidak hanya terbatas pada isu-isu spiritual, tetapi juga politik praktis. OKI aktif menjadi suara kolektif dunia Islam dalam forum seperti PBB, terutama menyangkut isu Palestina, anti-Islamofobia, dan konflik di kawasan mayoritas Muslim seperti Rohingya di Myanmar atau Kashmir.
Organisasi ini juga memiliki lembaga khusus seperti Islamic Development Bank (IsDB) yang berperan dalam pembangunan ekonomi dan sosial negara anggota.
Posisi Resmi OKI Terkait Konflik Palestina
Dukungan bagi perjuangan rakyat Palestina dan pembebasan Al-Quds (Yerusalem) merupakan raison d’être (alasan keberadaan) utama OKI. Sikap organisasi ini konsisten menolak segala bentuk pendudukan dan pemukiman ilegal Israel. Pernyataan-pernyataan resmi KTT OKI selalu menegaskan komitmen ini.
“Kami menegaskan kembali penolakan kami yang tegas terhadap semua kebijakan dan langkah ilegal Israel yang bertujuan untuk mengubah status historis dan legal Kota Suci Yerusalem… Kami juga menegaskan kembali dukungan kami yang tak tergoyahkan bagi perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh hak-hak nasional mereka yang tidak dapat dicabut, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri dan kembalinya para pengungsi.” (Kesimpulan dari KTT OKI ke-14 di Mekkah, 2019).
Daftar Negara Anggota OKI Berdasarkan Kawasan
Keanggotaan OKI mencerminkan keragaman dunia Islam, mencakup negara-negara dari Timur Tengah, Asia, Afrika, dan bahkan Amerika Selatan (Suriname dan Guyana). Tabel berikut merinci beberapa contoh negara anggota berdasarkan kawasan dan tahun bergabungnya.
| Asia | Afrika | Timur Tengah | Tahun Bergabung |
|---|---|---|---|
| Indonesia | Mesir | Arab Saudi | 1969 (Anggota Pendiri) |
| Pakistan | Nigeria | Iran | 1969 |
| Bangladesh | Maroko | Yordania | 1969 |
| Malaysia | Aljazair | Uni Emirat Arab | 1972 |
| Afghanistan | Senegal | Qatar | 1972 |
Palestina dalam Perspektif Sejarah dan Politik Global
Narasi tentang Palestina seringkali disederhanakan menjadi konflik agama yang abadi. Padahal, memahami kronologi sejarah dan permainan geopolitik global adalah kunci untuk melihat akar persoalan yang sebenarnya. Titik balik modern dimulai setelah Perang Dunia I, ketika Liga Bangsa-Bangsa memberikan Mandat atas Palestina kepada Britania Raya pada 1920, dengan janji ganda yang kontradiktif kepada bangsa Arab dan Zionis.
Kronologi dari Mandat Britania hingga Konflik Kontemporer
Era Mandat Britania (1920-1948) diwarnai meningkatnya imigrasi Yahudi dan ketegangan dengan masyarakat Arab Palestina. Pada 1947, PBB mengajukan Rencana Pembagian (Resolusi 181) yang membagi Palestina menjadi negara Yahudi dan Arab. Rencana ini diterima pihak Yahudi tetapi ditolak pihak Arab. Setelah Britania hengkang pada 14 Mei 1948, negara Israel diproklamirkan. Perang Arab-Israel 1948 (Al-Nakba) berakibat pada pendudukan wilayah lebih luas dari yang diusulkan PBB dan pengusiran sekitar 700.000 warga Palestina.
Pembahasan IPS Terpadu yang mengintegrasikan soal pilihan ganda tentang OKI, Islam, Palestina, hingga tradisi pertanian Jawa, mengajak kita melihat koneksi lintas disiplin. Misalnya, kerusakan lingkungan pada lahan pertanian tradisional bisa dikaji melalui pemahaman tentang Jenis Asam Umum dalam Hujan Asam , sebuah fenomena kimia atmosfer yang dampaknya global. Analisis semacam ini memperkaya diskusi, menghubungkan isu kemanusiaan di Palestina dengan keberlanjatan ekologi dan kearifan lokal secara komprehensif.
Perang 1967 semakin memperparah situasi, dengan Israel menduduki Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur. Proses perdamaian seperti Kesepakatan Oslo pada 1990-an gagal mencapai penyelesaian dua negara, dan hingga kini pendudukan serta pembangunan permukiman ilegal Israel terus berlanjut.
Faktor Geopolitik dan Kepentingan Global
Konflik ini tidak terjadi dalam vakum. Dukungan Amerika Serikat yang konsisten terhadap Israel, baik secara militer, diplomatik, maupun finansial, adalah faktor geopolitik terpenting. Di sisi lain, dukungan tradisional dari negara-negara Arab kepada Palestina seringkali terfragmentasi oleh kepentingan nasional masing-masing dan hubungan mereka dengan AS. Eropa memiliki posisi yang lebih ambivalen, secara resmi mendukung solusi dua negara tetapi seringkali tidak mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran Israel.
Isu ini juga menjadi alat legitimasi bagi kelompok-kelompok non-negara dan mempengaruhi opini publik global, jauh melampaui batas-batas kawasan Timur Tengah.
Resolusi-Resolusi PUN Penting terkait Palestina
Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB telah menerbitkan ratusan resolusi terkait Palestina. Beberapa yang paling fundamental menjadi pijakan hukum internasional untuk menyelesaikan konflik.
- Resolusi PBB 181 (1947): Mengusulkan pembagian Palestina menjadi negara Yahudi dan Arab. Menjadi dasar klaim Israel, tetapi ditolak oleh pihak Arab Palestina.
- Resolusi PBB 242 (1967): Diterbitkan setelah Perang Enam Hari, menyerukan penarikan diri Israel dari wilayah yang diduduki dan pengakuan kedaulatan semua negara di kawasan. Menjadi landasan utama formula “tanah untuk perdamaian”.
- Resolusi PBB 338 (1973): Menyerukan gencatan senjata dalam Perang Yom Kippur dan pelaksanaan Resolusi 242.
- Resolusi PBB 478 (1980): Menyatakan bahwa undang-undang Israel yang mencaplok Yerusalem Timur adalah batal dan menyerukan negara-negara untuk menarik kedutaan mereka dari Yerusalem. Sebagian besar negara masih mematuhinya.
- Resolusi Majelis Umum 67/19 (2012): Meningkatkan status Palestina di PBB dari “entitas pengamat” menjadi “Negara Pengamat Bukan Anggota”, pengakuan simbolis yang penting atas kenegaraan Palestina.
Deskripsi Peta Demografi dan Wilayah Administrasi Palestina
Secara geografis, wilayah Palestina saat ini terfragmentasi menjadi dua entitas utama yang terpisah: Tepi Barat (West Bank) di sebelah timur Israel, dan Jalur Gaza di barat daya, berbatasan dengan Mesir. Tepi Barat memiliki topografi berbukit, dengan kota-kota penting seperti Ramallah (pusat administratif Otoritas Palestina), Bethlehem, dan Hebron. Wilayah ini dipotong-motong oleh permukiman ilegal Israel, checkpoint militer, dan Tembok Pemisah yang dibangun Israel.
Jalur Gaza adalah sebuah enclave sempit di pesisir Mediterania dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, akibat blokade darat, laut, dan udara oleh Israel dan Mesir sejak 2007. Yerusalem Timur, yang diklaim sebagai ibu kota masa depan Palestina, sepenuhnya berada di bawah kendali Israel. Fragmentasi wilayah ini adalah tantangan terbesar bagi kelangsungan hidup sebuah negara Palestina yang layak dan terhubung secara teritorial.
Tradisi Pertanian Jawa: Kearifan Lokal dan Sistem Ekonomi
Lanskap pertanian Jawa bukan sekadar hamparan sawah hijau, tetapi sebuah kanvas hidup yang di atasnya terukir sistem pengetahuan lokal yang telah bertahan berabad-abad. Kearifan ini lahir dari interaksi intensif dan penuh penghormatan antara manusia dengan alam tropisnya yang dinamis. Sistem seperti “pranata mangsa” dan “subak” menunjukkan bahwa masyarakat agraris Jawa telah mempraktikkan konsep keberlanjutan dan pengelolaan sumber daya bersama jauh sebelum istilah-istilah modern itu populer.
Sistem Pranata Mangsa dan Subak
Pranata mangsa adalah kalender musim tradisional Jawa yang membagi satu tahun menjadi 12 periode (mangsa) berdasarkan pengamatan fenomena alam seperti pola angin, migrasi burung, perilaku binatang, dan pembungaan tanaman. Setiap mangsa memiliki karakteristik cuaca, jenis tanaman yang cocok ditanam, serta aktivitas pertanian dan budaya tertentu. Sistem ini adalah bentuk adaptasi cerdas terhadap iklim muson yang tidak selalu pasti. Sementara itu, subak—yang meski lebih identik dengan Bali, juga memiliki prinsip serupa di Jawa—adalah sistem pengelolaan air irigasi secara kolektif dan demokratis yang dipimpin oleh seorang pekaseh.
Pembagian air dilakukan secara adil berdasarkan luas lahan dan kebutuhan tanaman, mencerminkan nilai keadilan sosial dan gotong royong.
Nilai Sosial, Budaya, dan Ekonomi dalam Tradisi Pertanian
Di balik aktivitas bercocok tanam, tersimpan nilai-nilai yang menjadi perekat sosial masyarakat Jawa. Sistem bagi hasil (misalnya “maro” atau separuh) antara pemilik tanah dan penggarap, meski memiliki sisi eksploitatif, pada prinsipnya mengakui kontribusi tenaga kerja. Gotong royong atau “sambatan” dalam menggarap lahan atau membangun rumah adalah praktik ekonomi non-moneter yang memperkuat kohesi komunitas. Hasil bumi juga tidak lepas dari ritual budaya, seperti sesaji saat mulai tanam atau panen (slametan), yang menandakan rasa syukur dan harmonisasi dengan alam semesta.
Secara ekonomi, tradisi ini mendukung sistem pasar tradisional (pasar pagi) dan menciptakan mata pencaharian yang saling terkait, dari petani, pedagang, hingga pengrajin alat pertanian.
Pembahasan soal IPS Terpadu yang mengintegrasikan topik OKI, Islam, Palestina, hingga tradisi pertanian Jawa memerlukan analisis multidimensi. Kemampuan berpikir sistematis ini juga terasah dalam menyelesaikan masalah matematika praktis, seperti Menghitung Jumlah Kelereng Dani dari Total 60 dan Perbandingan 4:2. Pemahaman akan perbandingan dan proporsi tersebut, pada akhirnya, dapat diaplikasikan untuk menganalisis data kependudukan atau distribusi sumber daya dalam konteks studi sosial yang lebih kompleks dan aktual.
Perbandingan Beberapa Tradisi Pertanian Jawa, IPS Terpadu Terintegrasi: Soal Pilihan Ganda OKI, Islam, Palestina, Tradisi Pertanian Jawa
Berbagai tradisi pertanian di Jawa memiliki kekhasannya masing-masing, yang disesuaikan dengan kondisi lokal dan jenis komoditas. Tabel berikut membandingkan beberapa di antaranya.
| Tradisi/Alat | Metode | Waktu/Waktu | Nilai Sosial yang Dominan |
|---|---|---|---|
| Pranata Mangsa | Penanaman berdasarkan kalender musim dan tanda alam. | Sepanjang tahun, terbagi dalam 12 mangsa. | Kepatuhan pada siklus alam, kearifan ekologis. |
| Sistem Subak | Pengelolaan air irigasi secara kolektif dan bergiliran. | Terutama pada musim tanam padi. | Keadilan, demokrasi, dan gotong royong. |
| Bercocok tanam dengan Luku & Garu | Membajak dan meratakan tanah dengan ternak (sapi/kerbau). | Sebelum musim tanam. | Kerja keras, kesabaran, dan relasi manusia dengan hewan. |
| Sistem Surjan (lahan kering) | Membuat bedengan tinggi dan parit untuk menanam palawija di lahan kering atau rawa. | Di luar musim hujan atau di lahan marginal. | Inovasi dan adaptasi terhadap lingkungan yang sulit. |
Kearifan Lokal dalam Ekonomi Kreatif dan Kelestarian Lingkungan
Kearifan lokal pertanian Jawa bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi sumber inspirasi untuk model pembangunan masa depan. Konsep pranata mangsa dapat diintegrasikan dalam aplikasi pertanian presisi modern untuk memprediksi pola tanam yang lebih akurat, mengurangi risiko gagal panen. Sistem subak menjadi studi kasus sempurna untuk pendidikan tentang pengelolaan sumber daya bersama (common-pool resources) yang lestari. Dari sisi ekonomi kreatif, pola-pola tanam yang menghasilkan lanskap indah (seperti sawah berundak) memiliki potensi besar untuk agrowisata.
Selain itu, varietas padi lokal dan teknik penanaman organik tradisional dapat dikembangkan sebagai produk unggulan bernilai tinggi, mendukung gerakan pangan lokal dan kesehatan.
Perancangan Soal Pilihan Ganda Berbasis Integrasi IPS
Soal pilihan ganda yang baik tidak hanya menguji ingatan, tetapi kemampuan analisis dan sintesis. Dalam konteks IPS Terpadu, soal harus dirancang untuk menggiring siswa menghubungkan konsep dari berbagai disiplin ilmu untuk memecahkan sebuah masalah atau menganalisis sebuah fenomena. Distraktor (pilihan jawaban yang salah) pun harus dibuat menantang, dengan mengandung sebagian kebenaran atau berasal dari kesalahan logika analisis yang umum terjadi.
Contoh Soal Integrasi Geografi dan Sejarah Peradaban Islam
Soal: Faktor geografis manakah yang paling berkontribusi terhadap pesatnya perkembangan perdagangan dan penyebaran Islam di Kepulauan Indonesia pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi?
A. Adanya gunung berapi aktif yang menyuburkan tanah untuk rempah-rempah.
B. Posisinya yang strategis di jalur pelayaran dan perdagangan antara Tiongkok dan India.
C. Iklim tropis yang memungkinkan pelayaran sepanjang tahun tanpa gangguan badai.
D. Ketersediaan sumber daya kayu jati untuk pembuatan kapal yang kokoh.
Kunci Jawaban: B
Analisis: Soal ini mengintegrasikan konsep lokasi absolut/jalur dagang (geografi) dengan penyebab historis penyebaran Islam (sejarah). Distraktor A, C, dan D adalah fakta tentang Indonesia, tetapi bukan faktor utama yang secara langsung menghubungkan geografi dengan proses penyebaran Islam melalui jaringan dagang Samudra Hindia.
Contoh Soal Analisis Peran OKI dalam Ekonomi Politik Global
Soal: Dalam upaya mendukung perekonomian Palestina, OKI tidak hanya bergantung pada dukungan politik, tetapi juga instrument ekonomi. Lembaga keuangan di bawah OKI yang berperan memberikan pembiayaan pembangunan untuk proyek-proyek di Palestina adalah…
A. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
B. Bank Pembangunan Islam (Islamic Development Bank/IsDB).
C. Dana Moneter Internasional (IMF).
D. Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS).
Kunci Jawaban: B
Analisis: Soal ini menguji pengetahuan tentang struktur dan kontribusi nyata OKI (sosiologi politik) dalam konteks ekonomi pembangunan. Distraktor A dan C adalah lembaga ekonomi global yang tidak berada di bawah naungan OKI. Distraktor D adalah lembaga lokal Indonesia, bukan instrumen multilateral OKI.
Contoh Soal Hubungan Tradisi Pertanian dan Ekonomi Berkelanjutan
Soal: Sistem “Pranata Mangsa” dalam pertanian tradisional Jawa mencerminkan prinsip ekonomi berkelanjutan, terutama karena…
A. Menggunakan alat-alat dari bahan lokal yang mudah terurai.
B. Mengutamakan penanaman padi varietas unggul untuk swasembada.
C. Menyesuaikan pola tanam dengan siklus alam untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
D. Melibatkan seluruh anggota keluarga dalam proses produksi.
Kunci Jawaban: C
Analisis: Soal ini menghubungkan kearifan lokal (sosiologi) dengan prinsip ekologi dalam ekonomi berkelanjutan. Inti dari keberlanjutan adalah menjaga kapasitas regenerasi alam. Distraktor A, B, dan D adalah praktik yang mungkin ada, tetapi tidak secara langsung menjawab esensi prinsip berkelanjutan yang ada dalam Pranata Mangsa, yaitu harmoni dengan siklus alam.
Teknik Pembuatan Distraktor untuk Tema Dinamika Timur Tengah
Membuat distraktor yang menantang untuk tema kompleks seperti Timur Tengah memerlukan pemahaman terhadap kesalahan analisis yang umum. Misalnya, untuk soal tentang penyebab konflik Palestina-Israel, distraktor bisa dibuat dari:
1. Generalisasi Berlebihan: “Karena perbedaan agama Yahudi dan Islam yang tidak bisa didamaikan.” (Mengabaikan faktor politik dan historis).
2. Mengaburkan Kronologi: “Akibat serangan Palestina terhadap Israel pada tahun 1948.” (Membalikkan urutan kejadian sejarah).
3. Faktor Sekunder yang Diberatkan: “Utamanya disebabkan oleh persaingan memperebutkan sumber minyak di Gaza.” (Fakta yang tidak akurat secara geografis).
4. Menyamakan Pihak: “Kedua belah pihak memiliki kekuatan militer dan motivasi yang seimbang.” (Mengabaikan ketimpangan kekuasaan dan status sebagai pihak pendudukan vs terjajah).
Studi Kasus: Integrasi Materi OKI, Islam, Palestina, dan Pertanian Jawa
Bayangkan sebuah skenario pembelajaran di mana siswa ditantang untuk menjadi “konsultan pembangunan” untuk sebuah proyek kemanusiaan. Tugas mereka adalah merancang program bantuan ketahanan pangan berkelanjutan untuk masyarakat petani di Tepi Barat, Palestina, dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam, mekanisme kelembagaan OKI, dan mengadaptasi prinsip kearifan lokal pertanian Jawa. Skenario ini memaksa siswa untuk mensintesiskan keempat topik yang tampaknya berbeda ke dalam satu kerangka solusi yang koheren dan praktis.
Narasi Pembelajaran: Proyek “Kebun Sakinah”
Otoritas Palestina, melalui Kementerian Pertaniannya, mengajukan proposal kepada Islamic Development Bank (IsDB)
-lembaga keuangan OKI – untuk membangun pertanian keluarga yang mandiri di desa-desa yang terisolasi oleh Tembok Pemisah. Proposal ini dinamai “Kebun Sakinah” (Kebun Kedamaian). Siswa, berperan sebagai tim ahli dari IsDB, harus mengevaluasi proposal dengan mempertimbangkan: prinsip keadilan sosial dalam Islam (seperti larangan riba dan kewajiban zakat), kondisi geografis dan politik Palestina yang terfragmentasi, serta mencari model pertanian berkelanjutan yang bisa diadaptasi.
Di sinilah studi tentang sistem subak dan pranata mangsa Jawa menjadi referensi untuk model pengelolaan air komunal dan penanaman sesuai musim di lahan terbatas.
Hubungan Sebab-Akibat Solidaritas Islam dan Dukungan Pertanian Palestina
Solidaritas Islam yang diwadahi OKI tidak hanya bersifat retorika politik, tetapi dapat ditransformasikan menjadi dukungan konkret bagi sektor pertanian Palestina, yang merupakan tulang punggung ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
- Sebab: Doktrin Islam tentang ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Muslim) dan kewajiban menolong yang tertindas (mustad’afin).
- Sebab: Status Masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam yang berada di Palestina.
- Akibat: Pembentukan Islamic Development Bank (IsDB) yang mengalokasikan dana khusus untuk pembangunan di Palestina.
- Akibat: Program pelatihan dan transfer teknologi pertanian dari negara-negara anggota OKI (seperti Indonesia atau Turki) kepada petani Palestina.
- Akibat: Kampanye global untuk membeli produk pertanian Palestina (seperti zaitun dan kurma) sebagai bentuk dukungan ekonomi (boycott, divestment, and sanctions yang positif).
Perbandingan Ketahanan Pangan: Jawa dan Palestina
Ketahanan pangan di Jawa tradisional dan Palestina kontemporer dibangun dalam konteks tekanan yang berbeda, namun keduanya menunjukkan ketangguhan.
Pertanian Jawa (Tradisional): Ketahanan pangan bersifat lokal dan komunal. Berdasarkan pranata mangsa dan sistem irigasi kolektif, masyarakat mengelola risiko iklim secara bersama. Lumbung padi desa (bulog) menjadi penyangga di musim paceklik. Ancaman utamanya adalah bencana alam dan eksploitasi kolonial.
Pertanian Palestina (Modern di Bawah Pendudukan): Ketahanan pangan bersifat politis dan bertahan hidup. Ancaman utamanya adalah pembatasan akses ke lahan dan air oleh Israel, penghancuran kebun dan sumur, serta blokade. Ketahanan dibangun melalui pertanian keluarga skala kecil, hidroponik di atap rumah di Gaza, dan upaya keras mempertahankan pohon zaitun yang umurnya ratusan tahun sebagai simbol identitas dan ekonomi. Bantuan luar negeri, termasuk dari OKI, menjadi komponen kritis.
Aktivitas Diskusi: Menjalin Benang Keadilan Sosial
Aktivitas diskusi kelompok dirancang untuk menemukan benang merah konsep keadilan sosial dalam tiga konteks yang berbeda.
Tema Diskusi: “Keadilan Sosial dari Kitab ke Kebun: Menelusuri Prinsip yang Sama dalam Ajaran Islam, Diplomasi OKI, dan Sistem Bagi Hasil Jawa.”
Panduan Pertanyaan untuk Diskusi:
1. Bagaimana prinsip larangan riba dan perintah zakat dalam Islam mendorong distribusi kekayaan yang adil?
2. Dalam konteks diplomasi OKI untuk Palestina, upaya apa yang mencerminkan prinsip keadilan tersebut? (Misal: dukungan untuk hak pengungsi, kecaman terhadap permukiman ilegal).
3. Sistem bagi hasil “maro” (separuh) dalam pertanian Jawa, meski tidak ideal, bagaimana mencoba menerapkan keadilan berbasis kontribusi antara pemilik tanah dan penggarap?
4. Jika kalian harus merancang program bantuan pertanian yang adil untuk Palestina berdasarkan ketiga inspirasi ini, seperti apa kira-kira skemanya?
Aktivitas ini mendorong siswa untuk berpikir abstrak, mengidentifikasi nilai universal, dan menerapkannya dalam konteks kebijakan yang nyata.
Penutup
Pada akhirnya, menjelajahi tema-tema seperti OKI, Palestina, dan tradisi pertanian Jawa melalui pendekatan IPS Terpadu Terintegrasi mengajarkan satu hal mendasar: pengetahuan adalah sebuah mosaik. Setiap keping informasi—entah itu resolusi PBB, pranata mangsa, atau peta demografi—baru menemukan makna sejatinya ketika disusun bersama keping lainnya. Pembelajaran seperti ini tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk ujian, tetapi lebih penting lagi, membekali mereka dengan kerangka berpikir kritis untuk mencerna kompleksitas dunia.
Integrasi menjadi kunci untuk membongkar sekat-sekat disipliner dan melihat realitas secara utuh, sebuah kompetensi yang sangat berharga di era saling ketergantungan global saat ini.
Tanya Jawab (Q&A): IPS Terpadu Terintegrasi: Soal Pilihan Ganda OKI, Islam, Palestina, Tradisi Pertanian Jawa
Apakah pendekatan IPS Terpadu Terintegrasi cocok untuk semua jenjang pendidikan?
Pendekatan ini dapat diadaptasi untuk berbagai jenjang, namun kompleksitas integrasi dan kedalaman analisis harus disesuaikan dengan tingkat kognitif dan kurikulum masing-masing jenjang, dari SD hingga SMA/SMK.
Bagaimana cara mengevaluasi pemahaman siswa selain dengan soal pilihan ganda dalam pembelajaran terintegrasi?
Evaluasi dapat dilakukan melalui penilaian proyek, diskusi, presentasi, esai analitis, atau portofolio yang menuntut siswa untuk menunjukkan kemampuan menghubungkan konsep dari berbagai disiplin ilmu secara mandiri.
Di mana guru dapat menemukan sumber bahan ajar yang terpercaya untuk topik sensitif seperti konflik Palestina?
Sumber dapat diperoleh dari dokumen resmi PBB dan OKI, publikasi jurnal akademik terindeks, buku teks sejarah yang diakui, serta laporan dari organisasi kemanusiaan internasional yang kredibel untuk mendapatkan perspektif yang berimbang.
Apakah tradisi pertanian lokal seperti di Jawa masih relevan untuk dibahas dalam konteks ekonomi global saat ini?
Sangat relevan. Kearifan lokal dalam pertanian seringkali mengandung prinsip keberlanjutan, ketahanan iklim, dan keadilan sosial yang justru menjadi fokus dalam diskusi ekonomi global kontemporer tentang ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan.