Koefisien Suku x²y² pada Empat Ekspansi Binomial Berbeda

Koefisien suku x²y² pada (x+y)^4, (2x+3y)^3, (3x-2y)^4, (½x-¼y)^3 mungkin terdengar seperti urusan rumit aljabar yang hanya hidup di buku teks, namun sebenarnya ini adalah petualangan kecil yang rapi untuk memahami bagaimana pola tersembunyi bekerja. Bayangkan kita sedang menyusun puzzle, di mana Teorema Binomial dan Segitiga Pascal menjadi peta harta karunnya. Setiap ekspresi binomial itu seperti resep berbeda dengan bumbu khusus—ada yang polos, ada yang diberi koefisien 2 atau 3, bahkan ada yang pakai pecahan dan tanda minus.

Tantangannya adalah menemukan satu potongan spesifik, si x²y², di tengah lautan suku hasil ekspansi.

Mencari koefisiennya bukan sekadar hitung-hitungan mekanis. Proses ini mengajak kita melihat simetri, memahami dampak pengali di depan variabel, dan mengapresiasi keanggunan rumus kombinasi. Dari bentuk sederhana (x+y)^4 hingga yang terlihat lebih rumit seperti (½x-¼y)^3, setiap soal punya cerita dan trik perhitungannya sendiri. Mari kita telusuri langkah demi langkah, mengungkap nilai-nilai numerik yang tersembunyi di balik bentuk aljabar tersebut dan melihat pola indah yang menghubungkan semuanya.

Mengurai Koefisien dalam Pola Simetris Binomial Newton

Teorema Binomial adalah salah satu alat paling elegan dalam aljabar untuk membongkar ekspresi yang dipangkatkan. Intinya, teorema ini memberikan kita resep langsung untuk mengembangkan (a + b)^n menjadi penjumlahan suku-suku tanpa harus melakukan perkalian berulang yang melelahkan. Kekuatan utamanya terletak pada pola kombinatorial yang sangat teratur, yang secara visual termanifestasi dalam Segitiga Pascal. Setiap baris dalam segitiga tersebut mewakili koefisien untuk ekspansi (a+b)^n, dimulai dari n=0 di puncak.

Polanya simetris karena memilih r objek dari n objek (kombinasi) memiliki jumlah cara yang sama dengan memilih n-r objek, yang tercermin dalam koefisien binomial C(n, k) = C(n, n-k).

Dalam ekspansi (a+b)^n, suku umumnya berbentuk C(n, k)
– a^(n-k)
– b^k, dimana k berjalan dari 0 hingga n. Inilah yang membuatnya sistematis. Ketika kita mencari suku spesifik seperti x²y², kita sebenarnya sedang mencari nilai k yang tepat sehingga pangkat dari x dan y sesuai. Untuk bentuk (x+y)⁴, suku x²y² berarti pangkat x adalah 2 dan pangkat y adalah 2.

Karena total pangkatnya harus 4 (nilai n), maka ini sesuai dengan k=2, dimana a^(n-k) = x^(4-2) = x² dan b^k = y². Koefisiennya adalah C(4, 2) = 6. Pola simetris Segitiga Pascal memastikan bahwa suku x²y² dan suku x¹y³ (misalnya) memiliki koefisien yang ditentukan oleh posisi yang simetris dalam baris ke-4.

Pola Eksponen untuk Suku x²y² pada Berbagai Binomial

Meski suku target kita sama, yaitu x²y², pola eksponen dari variabel asli dalam binomial berbeda-beda karena adanya koefisien dan tanda. Tabel berikut membandingkan kondisi yang diperlukan pada setiap binomial untuk menghasilkan suku akhir berbentuk x²y².

Ekspresi (a+b)^n Total Pangkat (n) Syarat untuk Suku Akhir x²y² Nilai k (dalam C(n,k)a^(n-k)b^k)
(x + y)⁴ 4 Pangkat x=2, Pangkat y=2 k=2 (karena b=y pangkat 2)
(2x + 3y)³ 3 Pangkat (2x)=1, Pangkat (3y)=2 k=2 (karena b=3y pangkat 2)
(3x – 2y)⁴ 4 Pangkat (3x)=2, Pangkat (-2y)=2 k=2 (karena b=-2y pangkat 2)
(½x – ¼y)³ 3 Pangkat (½x)=1, Pangkat (-¼y)=2 k=2 (karena b=-¼y pangkat 2)

Perhitungan Manual Koefisien (2x+3y)³

Mari kita telusuri langkah demi langkah untuk menemukan koefisien numerik dari suku yang mengandung x²y² dalam (2x + 3y)³. Perhatikan, karena bentuknya (2x) dan (3y), suku akhir x²y² tidak datang langsung dari x² dan y², tetapi dari (2x)¹ dan (3y)². Kita gunakan rumus suku umum: C(n, k)
– (a)^(n-k)
– (b)^k, dengan a=2x, b=3y, n=3, dan k=2 (karena kita butuh b=3y dipangkatkan 2).

Koefisien = C(3, 2)

  • (2x)^(3-2)
  • (3y)^2 = C(3, 2)
  • (2x)¹
  • (3y)²

Langkah kritisnya adalah memisahkan perhitungan koefisien numerik dari variabel. C(3,2) = 3. Kemudian, (2x)¹ memberikan faktor 2, dan (3y)² memberikan faktor 3² = 9. Variabelnya adalah x¹
– y² = xy². Jadi, perhitungan koefisien numeriknya adalah: 3
– 2
– 9 = 54.

Suku lengkapnya adalah 54 x y². Perhatikan bahwa pangkat x-nya adalah 1, bukan 2, karena koefisien 2 pada 2x ikut dipangkatkan. Inilah titik yang sering menjadi sumber kesalahan.

Analogi Kombinatorial dalam Kehidupan Sehari-hari

Proses memilih suku dalam ekspansi binomial ini mirip dengan menyusun tim proyek dari kumpulan karyawan dengan keahlian berbeda. Bayangkan (x+y)⁴ sebagai memiliki 4 slot lowongan yang bisa diisi oleh karyawan dengan keahlian X atau Y. Suku x²y² merepresentasikan formasi tim dengan tepat 2 ahli X dan 2 ahli Y. Banyaknya cara menyusun tim seperti itu persis seperti koefisien binomial C(4,2)=
6.

Jika setiap ahli X membawa “dampak” senilai 2 (seperti pada 2x) dan setiap ahli Y membawa “dampak” senilai 3 (seperti pada 3y), maka total kontribusi tim 1X dan 2Y bukan lagi sekadar menghitung jumlah formasi (C(3,2)=3), tetapi mengalikannya dengan “dampak” masing-masing: 3 formasi
– (2¹)
– (3²) = 54. Ini menunjukkan bagaimana teorema binomial tidak hanya menghitung kemungkinan, tetapi juga menimbang setiap kemungkinan tersebut.

Dampak Koefisien Variabel dan Tanda Negatif pada Hasil Ekspansi

Kehadiran koefisien selain satu dan tanda negatif pada variabel dalam binomial mengubah permainan secara signifikan. Ekspansi (x+y)^n murni hanya tentang menghitung kombinasi. Namun, begitu ada angka seperti 2, 3, atau bahkan pecahan ½ yang menempel pada x atau y, serta tanda minus, nilai akhir koefisien suku target menjadi hasil dari interaksi yang lebih kompleks antara kombinatorik dan aritmetika. Koefisien variabel ini ikut dipangkatkan, sehingga efeknya bersifat eksponensial.

Sementara itu, tanda negatif, ketika dipangkatkan genap akan menghasilkan nilai positif, dan ketika dipangkatkan ganjil akan tetap negatif. Interaksi inilah yang menentukan nilai akhir, membuat koefisien suku x²y² dari berbagai binomial bisa sangat berbeda meski pola kombinatorialnya mirip.

Sebagai contoh, bandingkan (x+y)⁴ dan (3x-2y)⁴. Keduanya berpangkat 4. Untuk suku dengan x²y², keduanya menggunakan kombinasi C(4,2)=6. Namun, pada (x+y)⁴, koefisiennya tetap 6. Pada (3x-2y)⁴, kita punya faktor (3x)² dan (-2y)².

(3)²=9 dan (-2)²=4, sehingga koefisien numeriknya menjadi 6
– 9
– 4 = 216. Perbedaan yang sangat besar, bukan? Ini murni akibat dari koefisien dan tanda yang melekat pada variabel.

Perbedaan Pendekatan dengan Binomial Murni

Ketika variabel memiliki koefisien selain satu, pendekatan kita harus lebih hati-hati. Berikut poin-poin perbedaannya:

  • Identifikasi Pangkat Parsial: Kita tidak lagi langsung mencari pangkat akhir x²y². Kita harus mencari pangkat dari “blok” variabel beserta koefisiennya. Untuk mendapatkan x² dari (2x)^k, kita perlu (2x)^1, karena (2x)^1 memberikan 2¹
    – x¹, dan kita butuh x¹ saja.
  • Perhitungan Koefisien Terpisah: Koefisien numerik akhir adalah perkalian dari tiga komponen: bilangan kombinasi C(n,k), koefisien dari a yang dipangkatkan (n-k), dan koefisien dari b yang dipangkatkan k.
  • Pengaruh Tanda: Tanda negatif harus diperlakukan sebagai bagian dari koefisien b. (-2y)² menghasilkan +4, tetapi (-2y)³ menghasilkan -8. Penentuan tanda akhir suku menjadi krusial.
  • Transformasi Variabel: Sering kali membantu untuk melakukan substitusi sementara, misal u=2x dan v=3y, untuk mereduksi binomial ke bentuk (u+v)^n yang lebih sederhana untuk dianalisis, sebelum mengembalikan nilai u dan v.

Evolusi Suku x²y² dalam Ekspansi (3x-2y)⁴

Mari kita bayangkan proses ekspansi (3x-2y)⁴ secara suku demi suku. Binomial ini adalah (a+b)⁴ dengan a=3x dan b=-2y. Ekspansi lengkapnya memiliki lima suku, dari k=0 hingga k=
4. Suku yang mengandung x²y² muncul tepat ketika kita memilih ‘a’ sebanyak 2 kali dan ‘b’ sebanyak 2 kali dari total 4 kali pemilihan. Dalam setiap kemungkinan susunan (misalnya, a,a,b,b atau a,b,a,b), kita selalu mengalikan dua buah (3x) dan dua buah (-2y).

Setiap (3x) menyumbang faktor 3 dan x, setiap (-2y) menyumbang faktor -2 dan y. Karena ada C(4,2)=6 susunan yang berbeda, kita memiliki 6 kelompok hasil perkalian yang identik: (3*3*x*x)
– ((-2)*(-2)*y*y) = (9x²)*(4y²) = 36x²y². Ketika keenam kelompok ini dijumlahkan, kontribusinya menjadi 6
– 36x²y² = 216 x²y². Jadi, suku x²y² “berevolusi” dari enam jalur kombinatorial yang berbeda, namun karena struktur binomialnya simetris, semua jalur itu memberikan produk numerik dan variabel yang persis sama, sehingga hanya perlu dihitung sekali lalu dikalikan dengan banyaknya jalur.

Breakdown Kontribusi Setiap Kombinasi

Koefisien suku x²y² pada (x+y)^4, (2x+3y)^3, (3x-2y)^4, (½x-¼y)^3

Source: z-dn.net

Tabel berikut merinci kontribusi dari komponen kombinasi dan aritmetika untuk menghasilkan koefisien akhir x²y². Perhatikan bagaimana C(n,k) berinteraksi dengan pangkat dari koefisien variabel.

Ekspresi Kombinasi C(n,k) Kontribusi dari ‘a’ (koefisien^pangkat) Kontribusi dari ‘b’ (koefisien^pangkat) Koefisien Final (Hasil Kali)
(x+y)⁴ C(4,2)=6 (1)² = 1 (1)² = 1 6
(2x+3y)³ C(3,2)=3 (2)¹ = 2 (3)² = 9 54
(3x-2y)⁴ C(4,2)=6 (3)² = 9 (-2)² = 4 216
(½x-¼y)³ C(3,2)=3 (½)¹ = ½ (-¼)² = 1/16 3

  • (½)
  • (1/16) = 3/32

Strategi Isolasi Suku Spesifik Tanpa Mengekspansi Lengkap: Koefisien Suku X²y² Pada (x+y)^4, (2x+3y)^3, (3x-2y)^4, (½x-¼y)^3

Menuliskan seluruh ekspansi binomial, terutama untuk pangkat yang tinggi, adalah pekerjaan yang tidak efisien dan rentan kesalahan jika tujuan kita hanya mencari satu suku tertentu. Untungnya, teorema binomial memberikan jalan pintas yang sangat powerful melalui rumus suku ke-k. Strategi ini memungkinkan kita melompat langsung ke suku yang kita inginkan, menghemat waktu dan kertas. Kuncinya adalah identifikasi parameter yang tepat: nilai n (pangkat binomial), dan nilai k (yang sesuai dengan pangkat dari komponen kedua ‘b’ dalam suku umum).

Setelah itu, perhitungan menjadi masalah substitusi yang terstruktur ke dalam rumus C(n,k)
– a^(n-k)
– b^k.

Metode ini sangat bergantung pada pemahaman bahwa ‘b’ dalam rumus adalah seluruh blok variabel kedua, termasuk koefisien dan tandanya. Kesalahan umum terjadi ketika seseorang salah mengidentifikasi pangkat untuk a dan b yang menghasilkan bentuk variabel akhir yang diinginkan. Latihan sistematis dengan berbagai bentuk binomial, seperti yang memiliki koefisien pecahan atau negatif, akan membangun intuisi untuk menentukan nilai k dengan cepat dan akurat.

Penerapan Rumus Suku ke-k pada Empat Kasus, Koefisien suku x²y² pada (x+y)^4, (2x+3y)^3, (3x-2y)^4, (½x-¼y)^3

Rumus suku ke-(k+1) adalah T_(k+1) = C(n, k)
– a^(n-k)
– b^k, dengan k mulai dari 0. Untuk semua kasus kita mencari suku yang mengandung x²y², tetapi nilai k ditentukan oleh pangkat pada ‘b’.

  • (x+y)⁴: a=x, b=y, n=
    4. Untuk x²y², kita perlu y^2, jadi k=
    2. Suku: C(4,2)
    – x^(2)
    – y^(2) = 6x²y².
  • (2x+3y)³: a=2x, b=3y, n=
    3. Untuk bentuk akhir punya y², maka b=3y harus dipangkatkan 2, jadi k=
    2. Suku: C(3,2)*(2x)^(1)*(3y)^2 = 3
    – 2x
    – 9y² = 54 x y².
  • (3x-2y)⁴: a=3x, b=-2y, n=
    4. Untuk y², b=-2y dipangkatkan 2, jadi k=
    2. Suku: C(4,2)*(3x)^(2)*(-2y)^2 = 6
    – 9x²
    – 4y² = 216 x²y².
  • (½x-¼y)³: a=½x, b=-¼y, n=3. Untuk y², b=-¼y dipangkatkan 2, jadi k=2.

Perhitungan untuk (½x-¼y)³:T_(k+1) = T_(3) = C(3, 2)

  • (½x)^(3-2)
  • (-¼y)^2

= 3

  • (½x)^1
  • (-¼y)^2

= 3

  • (½x)
  • ( (-4)^(-2)
  • y² ) // Ingat

    (-¼)^2 = ( (-1)^2

  • (¼)^2 )

= 3

  • (½x)
  • (1/16
  • y²)

= (3

  • ½
  • 1/16)
  • x y²

= (3/32) x y².Jadi, koefisien dari suku yang berbentuk x²y² (atau tepatnya x y²) adalah 3/32.

Batasan dan Kehati-hatian dalam Metode Isolasi

Meski ampuh, metode isolasi ini memerlukan kehati-hatian ekstra dalam beberapa situasi. Pertama, ketika berhadapan dengan pangkat pecahan atau negatif pada binomial (bukan di sini), rumus suku umum tetap berlaku tetapi interpretasi kombinatorial C(n,k) tidak lagi berupa kombinasi sederhana. Kedua, penanganan tanda negatif harus sistematis; pastikan tanda tersebut termasuk dalam ‘b’ dan ikut dipangkatkan sesuai k. Ketiga, untuk suku dengan banyak variabel atau lebih dari dua suku (trinomial), rumus binomial tidak langsung berlaku dan diperlukan pendekatan multinomial.

Keempat, penting untuk selalu memeriksa kembali apakah pangkat dari variabel akhir setelah perhitungan memang sesuai dengan yang diminta, karena kesalahan identifikasi k dapat menghasilkan suku yang salah.

Panduan Algoritmik Visual untuk Masalah Serupa

Bayangkan sebuah diagram alur untuk menemukan koefisien suku spesifik dalam (Aa ± Bb)^n. Pertama, tentukan bentuk suku target, misalnya X^p Y^q. Kedua, pisahkan koefisien dan variabel: Aa dan Bb, dimana a dan b adalah variabel murni (koefisien 1). Ketiga, selesaikan dua persamaan dari syarat pangkat akhir: pangkat dari a harus p, dan pangkat dari b harus q. Ini memberikan: (pangkat dari Aa) = p -> tetapi hati-hati, (Aa)^(n-k) memberikan A^(n-k)
– a^(n-k).

Kita perlu a^(n-k) = a^p, jadi n-k = p. Dari sini kita dapat k = n-p. Keempat, verifikasi bahwa dengan k ini, pangkat dari b juga sesuai: b^k harus sama dengan b^q, jadi k harus sama dengan q. Jika n-p = q, maka sistem konsisten dan k = q. Kelima, masukkan ke rumus: Koefisien = C(n, k)
– (A)^(n-k)
– (B)^k
– (tanda dari B)^k.

Menghitung koefisien suku x²y² dalam ekspansi binomial seperti (x+y)⁴ atau (3x-2y)⁴ itu seru, mirip meracik rumus yang presisi. Ketepatan hitung ini ternyata punya semangat yang sama dengan Perhitungan Jarak Tempuh Mobil dengan 25 Liter Bensin , di mana efisiensi dan angka jadi kunci. Nah, setelah paham logika perhitungan praktis itu, kita bisa kembali dengan perspektif lebih tajam untuk mengurai koefisien pada (2x+3y)³ atau (½x-¼y)³ dengan lebih percaya diri.

Keenam, kalikan semua faktor numerik tersebut untuk mendapatkan jawaban akhir.

Interpretasi Geometris dan Kontekstual dari Suku Berpangkat Dua

Suku berbentuk x²y² dalam hasil ekspansi binomial bukan sekadar kumpulan simbol aljabar. Ia memiliki makna geometris yang menarik ketika kita memandang x dan y sebagai dimensi. Dalam ruang dua dimensi, x² merepresentasikan luas sebuah persegi dengan sisi x, dan y² adalah luas persegi dengan sisi y. Namun, x²y² adalah hasil kali kedua luas tersebut, yang secara dimensional setara dengan (panjang)^4.

Ini mengisyaratkan bahwa suku ini hidup dalam ruang empat dimensi, atau lebih tepatnya, merepresentasikan interaksi antara dua besaran kuadratik. Dalam konteks polinomial hasil ekspansi, suku x²y² sering muncul sebagai suku “tengah” ketika pangkatnya genap, menandai puncak interaksi seimbang antara kedua variabel sebelum pangkat salah satunya mulai dominan lagi.

Nilai koefisiennya, seperti 6, 54, 216, atau 3/32, dapat dilihat sebagai “faktor penguat” atau “bobot” dari interaksi seimbang tersebut. Dalam model fisika atau ekonomi sederhana, jika x dan y mewakili dua sumber pengaruh yang independen, suku x²y² bisa mewakili efek sinergi orde tinggi di mana kedua pengaruh muncul secara kuadratik sekaligus. Koefisiennya menentukan seberapa kuat sinergi itu berkontribusi terhadap hasil total.

Pemetaan ke Skenario Naratif Terapan

Mari berikan konteks fiktif untuk mengaitkan keempat koefisien yang kita hitung dengan situasi yang lebih nyata. Anggap x adalah investasi dalam teknologi (dalam ribu dolar) dan y adalah intensitas pelatihan karyawan (dalam ratus jam). Ekspresi binomial mewakili model prediksi keuntungan.

Ekspresi Binomial Skenario Naratif Makna Koefisien x²y²
(x+y)⁴ Model dasar dimana setiap dolar investasi dan setiap jam pelatihan memiliki dampak satuan yang sama. Ada 6 jalur kombinasi berbeda (alokasi sumber daya) yang menghasilkan interaksi seimbang antara kuadrat investasi dan kuadrat pelatihan, masing-masing berkontribusi penuh (faktor 1).
(2x+3y)³ Investasi lebih leverage (faktor 2), pelatihan jauh lebih kritis (faktor 3). Total anggaran terbatas (pangkat 3). Koefisien 54 pada suku x y² menunjukkan bahwa interaksi dimana pelatihan dominan (y²) namun didukung investasi (x) memiliki kontribusi sangat besar akibat faktor leverage 3²=9 dan 2.
(3x-2y)⁴ Investasi sangat positif (faktor 3), tetapi pelatihan yang berlebihan justru memiliki efek negatif (faktor -2) jika tidak diimbangi. Koefisien 216 yang besar pada suku x²y² menunjukkan bahwa ketika investasi dan pelatihan yang “dirasakan negatif” tersebut diseimbangkan tepat (masing-masing kuadrat), interaksinya justru menghasilkan kontribusi positif yang sangat signifikan, karena tanda negatif dari y hilang saat dipangkatkan genap.
(½x-¼y)³ Sumber daya sangat terbatas dan bernilai pecahan. Investasi dampaknya kecil (½), pelatihan berlebih dampak negatifnya juga kecil (¼). Koefisien 3/32 yang kecil pada suku x y² mencerminkan bahwa interaksi apa pun dalam model ini kontribusinya sangat minim, dan konfigurasi pelatihan dominan hanya menyumbang pecahan kecil dari total hasil.

Posisi Khusus Suku dengan Pangkat Kuadrat Kedua Variabel

Suku seperti x²y² sering menempati posisi khusus karena ia adalah suku “simetris penuh” dalam ekspansi. Untuk (x+y)^4, suku-sukunya adalah x⁴, 4x³y, 6x²y², 4xy³, y⁴. Suku x²y² berada tepat di tengah, dengan koefisien terbesar (6). Ia merepresentasikan keadaan keseimbangan maksimal antara kedua variabel. Dalam Segitiga Pascal, ia adalah angka terbesar di baris genap (untuk n genap).

Fenomena ini mencerminkan prinsip kombinatorial: jumlah cara untuk membagi sumber daya secara merata (2 dan 2 dari 4) biasanya lebih banyak daripada membaginya secara tidak merata (3 dan 1). Dalam konteks perluasan binomial dengan koefisien, meski posisi tengah ini mungkin tidak lagi memiliki koefisien binomial terbesar setelah dikalikan faktor lain, ia tetap mewakili titik di mana pengaruh kedua variabel mencapai puncaknya secara bersamaan.

Inilah yang membuat suku dengan pangkat kuadrat pada kedua variabel menjadi titik perhatian dalam analisis, karena ia menangkap momen interaksi yang paling intens dan seimbang antara dua faktor yang sedang dimodelkan.

Transformasi Koefisien Melalui Substitusi Variabel yang Cerdik

Menghadapi binomial dengan koefisien pecahan seperti (½x – ¼y)³ bisa terasa rumit. Perhitungan melibatkan pecahan yang dipangkatkan, yang rawan kesalahan aritmetika. Sebuah teknik yang elegan dan sering menghemat waktu adalah melakukan substitusi variabel untuk menyederhanakan bentuk binomial menjadi (u + v)^n atau (u – v)^n dengan koefisien u dan v yang lebih bersahabat, biasanya 1. Ide dasarnya adalah memfaktorkan keluar koefisien dari setiap suku dalam binomial, sehingga variabel baru muncul dengan koefisien 1.

Setelah menemukan koefisien untuk suku target dalam variabel baru, kita “mengembalikan” substitusi dengan mengalikan faktor-faktor yang tadi dikeluarkan sesuai dengan pangkatnya.

Hubungannya langsung: jika kita menulis (Aa + Bb)^n sebagai [A(a + (B/A)b)]^n = A^n
– (a + (B/A)b)^n, atau lebih umum, memisahkan faktor sepenuhnya menjadi (Aa + Bb)^n = A^n
– (a + (B/A)b)^n. Dengan substitusi u = a dan v = (B/A)b, kita bekerja pada (u + v)^n yang lebih sederhana. Koefisien akhir dari suku asli adalah hasil kali antara A^n (atau faktor lain yang dikeluarkan) dengan koefisien dari suku yang setara dalam ekspansi (u+v)^n.

Prosedur Substitusi untuk (3x-2y)⁴

Mari terapkan teknik ini pada (3x-2y)⁴ untuk mencari koefisien x²y².

  • Langkah 1: Faktorkan koefisien dari x dan y. Kita tulis: (3x – 2y)⁴ = [ 3x + (-2y) ]⁴ = (3)⁴
    – [ x + (-2/3)y ]⁴ = 81
    – [ x – (2/3)y ]⁴.
  • Langkah 2: Lakukan substitusi. Misal u = x dan v = -(2/3)y. Sekarang kita bekerja pada (u + v)⁴.
  • Langkah 3: Dalam (u+v)⁴, suku yang mengandung u²v² adalah suku dengan k=2. Koefisiennya dari segitiga Pascal adalah C(4,2)=6. Jadi suku tersebut adalah 6 u² v².
  • Langkah 4: Kembalikan substitusi. v = -(2/3)y, jadi v² = [-(2/3)y]² = (4/9) y². u² = x². Maka 6 u² v² = 6
    – x²
    – (4/9) y² = (24/9) x²y² = (8/3) x²y².
  • Langkah 5: Ingat faktor yang dikeluarkan di Langkah 1, yaitu 81. Koefisien akhir dari suku asli adalah 81
    – [koefisien dari suku dalam u dan v] = 81
    – (8/3) = (81/3)*8 = 27*8 = 216.

Hasilnya sama, 216, persis seperti perhitungan langsung.

Ilustrasi Perbandingan Jalur Perhitungan

Bayangkan dua jalur menuju sebuah kota. Jalur langsung (perhitungan manual) seperti melalui jalan pegunungan berliku: kita harus menghitung C(4,2)=6, lalu (3)^2=9, lalu (-2)^2=4, dan akhirnya mengalikan 6*9*4=
216. Setiap tanjakan (pangkat dan tanda) harus dilalui dengan hati-hati. Jalur substitusi seperti menggunakan jalan tol yang lebih panjang tapi mulus: kita ambil faktor besar 81 keluar dulu, lalu berjalan di jalan datar (u+v)^4 yang polanya sangat kita hafal (C(4,2)=6), lalu kita hitung kontribusi dari v² yang melibatkan pecahan (4/9), dikalikan menjadi 6*(4/9)=8/3, dan terakhir kita bayar “biaya tol” dengan mengalikan faktor awal 81, menghasilkan 216.

Meski langkahnya lebih banyak, perhitungan di setiap langkah sering kali lebih sederhana dan mengurangi peluang kesalahan aritmetika dengan bilangan besar atau tanda, terutama ketika koefisiennya adalah pecahan kompleks.

Penutupan

Jadi, setelah menjelajahi keempat kasus tersebut, terlihat jelas bahwa mencari koefisien suku tertentu seperti x²y² adalah lebih dari sekadar penerapan rumus. Ini adalah latihan dalam memperhatikan detail—bagaimana tanda negatif membalikkan hasil, bagaimana koefisien variabel dinaikkan pangkat, dan bagaimana pecahan memperhalus nilai akhir. Nilai 6, 36, 216, dan -3/64 yang kita dapatkan bukanlah angka acak, melainkan konsekuensi logis dari struktur setiap binomial.

Mereka adalah bukti bahwa matematika, dalam kompleksitasnya, tetap konsisten dan dapat diprediksi.

Pada akhirnya, penguasaan terhadap masalah spesifik ini membuka pintu untuk menyelesaikan masalah yang lebih luas. Prinsip isolasi suku, interpretasi kombinatorial, dan teknik substitusi yang telah dibahas adalah alat serbaguna. Kemampuan untuk mengekstrak satu bagian informasi dari suatu ekspansi besar tanpa harus membangun seluruhnya adalah keterampilan yang berharga, baik untuk menyelesaikan soal ujian maupun untuk membongkar pola dalam analisis yang lebih kompleks.

Intinya, setiap suku punya cerita, dan koefisien adalah inti cerita itu.

Pertanyaan Umum yang Sering Muncul

Apakah suku x²y² selalu ada dalam setiap ekspansi binomial?

Tidak. Suku x²y² hanya muncul jika jumlah pangkat x dan y sama dengan total pangkat binomial (n), dan kedua pangkatnya (2 dan 2) memang mungkin. Misalnya, pada (x+y)^3, tidak ada suku x²y² karena 2+2=4, sedangkan n hanya 3.

Mengapa pada (2x+3y)^3 koefisiennya sangat besar (36), padahal pangkatnya kecil?

Koefisien besar berasal dari pengali di depan variabel (2 dan 3) yang juga dipangkatkan. Rumusnya melibatkan kombinasi dikali (koefisien_x)^pangkat_x dikali (koefisien_y)^pangkat_y. Faktor 2² dan 3¹ berkontribusi besar pada hasil akhir 36.

Bagaimana cara cepat mengetahui koefisien tanpa menghafal rumus untuk setiap soal?

Gunakan rumus umum suku ke-k: C(n, k)
– (suku_pertama)^(n-k)
– (suku_kedua)^k. Identifikasi nilai ‘k’ yang membuat pangkat y menjadi 2. Untuk x²y² pada (x+y)^4, k=2, jadi sukunya adalah C(4,2)
– x^(2)
– y^(2) = 6x²y².

Apa arti geometris dari suku seperti x²y²?

Dalam konteks geometri, suku x²y² dapat merepresentasikan semacam “volume” atau besaran dalam ruang 4 dimensi (karena total pangkat 4), yang menggambarkan interaksi non-linear antara dua besaran x dan y. Ia bukan area atau volume sederhana dalam dunia 3D kita, tetapi memiliki interpretasi dalam matematika murni dan fisika teoretis.

Apakah tanda negatif pada (3x-2y)^4 mempengaruhi suku x²y²?

Ya, sangat mempengaruhi. Tanda negatif melekat pada variabel y. Karena kita membutuhkan y², maka (-2y)² = (+4)y². Jadi, tanda negatifnya menjadi positif karena dipangkatkan genap. Kontribusi tanda pada perhitungan akhir harus diperhatikan dengan cermat.

BACA JUGA  Rasio Momentum Relativistik Saat Energi Total Turun 75 Persen

Leave a Comment