Martin Luther Demonstrated Protestant Attitudes in His Personal Life – “Martin Luther Demonstrated Protestant Attitudes in His Personal Life” bukan cuma teori teologi yang digaungkan dari mimbar, tapi napas hidup yang dihembuskan dalam keseharian. Tokoh pembaharu ini dengan sengaja menjadikan ruang keluarga, meja makan, hingga pergumulan batinnya sebagai kanvas untuk melukiskan apa artinya hidup oleh iman, bukan ritual. Dia menolak dikotomi suci-duniawi dengan cara yang paling personal: menikahi mantan biarawati, mendidik anak perempuannya dengan serius, dan bergumul terbuka tentang depresinya, sehingga prinsip seperti
-sola fide* dan imamat semua orang percaya menjadi nyata dan bisa disentuh.
Melalui keputusannya untuk membangun rumah tangga di Wittenberg, Luther secara efektif menciptakan prototipe baru bagi kehidupan rohani Protestan. Rumahnya yang terbuka, penuh diskusi teologis yang hidup diiringi bir dan nyanyian, menjadi antitesis dari biara yang tertutup. Di sini, etos kerja, pernikahan, dan pendidikan anak ditinggikan sebagai panggilan ilahi, menawarkan sebuah visi yang revolusioner tentang kesalehan yang terletak bukan dalam pelarian dari dunia, tetapi dalam keterlibatan yang penuh iman di dalamnya.
Pendahuluan dan Konteks Teologis
Untuk memahami bagaimana kehidupan pribadi Martin Luther menjadi cerminan dari semangat Protestan, kita perlu merujuk pada dua prinsip dasar yang ia perjuangkan: sola fide (iman saja) dan imamat semua orang percaya. Sola fide menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang diterima melalui iman, bukan melalui perbuatan atau ritual gerejawi. Sementara itu, doktrin imamat semua orang percaya meruntuhkan tembok pemisah antara rohaniwan dan awam, menyatakan bahwa setiap orang beriman memiliki akses langsung kepada Tuhan dan dipanggil untuk melayani dalam peran masing-masing di dunia.
Luther bukan hanya seorang teolog yang berdebat di ruang kuliah; ia adalah seorang manusia yang hidup di tengah masyarakat. Keputusan-keputusan pribadinya—dari menikah hingga mendidik anak—selalu dilihat oleh publik dan dengan sengaja ia jadikan sebagai perwujudan praktis dari ajarannya. Dalam konteks ini, kehidupan rumah tangganya di Wittenberg menjadi semacam laboratorium hidup, tempat ide-ide reformasi yang abstrak diuji dan diterapkan dalam kenyataan sehari-hari.
Perbandingan Konsep Katolik Roma dan Sikap Protestan Luther
Source: osu.edu
Pergeseran paradigma yang dibawa Luther dapat dilihat dengan jelas ketika membandingkan praktik dan keyakinan Gereja Katolik Roma pada masanya dengan sikap yang ia tunjukkan dalam hidupnya. Tabel berikut merangkum beberapa perbedaan mendasar tersebut.
| Aspect | Konsep Katolik Roma (Abad Pertengahan Akhir) | Sikap Protestan Luther | Manifestasi dalam Hidup Pribadi Luther |
|---|---|---|---|
| Jalan Keselamatan | Melalui sakramen dan perbuatan baik, dengan perantaraan institusi gereja. | Sola Fide: Hanya melalui iman kepada anugerah Kristus. | Pergumulan batinnya dengan Anfechtung berakhir pada penemuan damai sejahtera yang bersumber dari keyakinan akan pengampunan, bukan dari ritual. |
| Status Rohaniwan | Klerus (terutama yang hidup selibat) dianggap memiliki status spiritual yang lebih tinggi daripada kaum awam. | Imamat Semua Orang Percaya: Semua orang beriman setara di hadapan Tuhan. | Menikahi mantan biarawati, hidup sebagai suami dan ayah, menunjukkan bahwa panggilan domestik sama mulianya dengan hidup membiara. |
| Sumber Otoritas | Otoritas berada pada Tradisi dan Magisterium Gereja, dengan Alkitab dalam bahasa Latin. | Sola Scriptura: Alkitab sebagai otoritas tertinggi yang harus dapat diakses umat. | Menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman dan mendorong literasi. Ibadah pribadinya berpusat pada pendalaman Alkitab. |
| Pekerjaan & Vokasi | Pekerjaan religius (biarawan/biarawati) dianggap lebih suci daripada pekerjaan duniawi. | Semua pekerjaan yang jujur adalah panggilan (Beruf) dari Tuhan untuk melayani sesama. | Melihat perannya sebagai suami, ayah, profesor, dan penulis sebagai bagian dari panggilan ilahi, bukan sekadar profesi. |
Sikap Terhadap Biarawati dan Pernikahan
Mungkin tidak ada tindakan pribadi Luther yang lebih menggemparkan dan simbolis daripada pernikahannya dengan Katharina von Bora, seorang mantan biarawati yang melarikan diri dari biara. Pada tahun 1525, langkah ini bukan sekadar urusan hati, melainkan sebuah pernyataan teologis yang nyata. Dengan menikah, Luther secara terbuka menolak dogma wajib selibat bagi rohaniwan, yang ia anggap sebagai aturan manusiawi yang tidak alkitabiah dan seringkali memicu kemunafikan.
Rumah tangga “Katie dan Luther” di bekas biara Agustinian di Wittenberg dengan cepat menjadi prototipe bagi keluarga pendeta Protestan. Di sana, Luther tidak hanya menjadi seorang suami, tetapi juga mengelola sebuah rumah tangga yang kompleks—sebuah “rumah tangga besar” yang berfungsi sebagai asrama mahasiswa, pusat penerbitan informal, dan tempat penerimaan tamu dari seluruh Eropa. Kehidupan mereka yang sibuk dan produktif menjadi bukti nyata bahwa kesalehan dapat dan harus hidup dalam kesibukan duniawi, bukan melarikan diri darinya.
Nilai-Nilai Domestik yang Dipromosikan Luther
Melalui surat-surat, khotbah, dan tulisan-tulisannya tentang pernikahan dan keluarga, Luther secara konsisten mempromosikan seperangkat nilai yang mendefinisikan ulang kehidupan rumah tangga Kristen. Nilai-nilai ini bertujuan untuk mengangkat status pernikahan dan mengisiinya dengan makna spiritual yang baru.
- Kesetaraan dalam Pelayanan: Luther melihat pernikahan sebagai kemitraan di mana suami dan istri saling melayani. Ia memuji Katharina atas kemampuannya mengelola rumah tangga dan keuangan, yang ia sebut sebagai “kepala rumah tangga” yang jauh lebih baik darinya.
- Sekolah Kasih Karunia: Keluarga dipandang sebagai “sekolah” pertama di mana karakter Kristen dibentuk. Di dalamnya, anggota belajar kesabaran, pengorbanan, dan kasih—cerminan kasih Kristus kepada jemaat-Nya.
- Tempat Ibadat yang Nyata: Rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan komunitas iman kecil. Luther menekankan pentingnya doa keluarga, pembacaan Alkitab, dan nyanyian pujian di rumah, menerapkan prinsip imamat semua orang percaya dalam lingkup domestik.
- Penolakan terhadap Romantisisme Kosong: Bagi Luther, fondasi pernikahan yang utama bukanlah gairah romantis yang labil, tetapi komitmen yang kokoh, saling menghormati, dan kerja sama dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.
Kehidupan Doa dan Ibadah Pribadi
Jika prinsip sola scriptura (hanya Alkitab) adalah pilar ajaran Luther, maka menara di Wittenberg adalah tempat pilar itu berdiri. Di sanalah, sebagai seorang biarawan muda, ia mengalami pergumulan teologis mendalam yang membawanya pada penemuan tentang pembenaran oleh iman. Pengalaman ini membentuk kebiasaan spiritualnya seumur hidup. Ibadah pribadi Luther bukanlah ritual yang kaku, tetapi percakapan yang hidup dan terkadang bergumul dengan Tuhan, yang berpusat pada pendalaman Firman.
Rutinitas hariannya dipenuhi dengan disiplin rohani. Ia berdoa dengan tekun, sering kali menggunakan Doa Bapa Kami sebagai model. Ia juga adalah seorang musisi yang mencintai nyanyian pujian; banyak himne yang ia tulis, seperti ” Ein feste Burg ist unser Gott” (Benteng yang Teguh adalah Allah Kita), lahir dari pergumulan pribadi dan menjadi alat untuk mengajar teologi kepada jemaat biasa. Baginya, musik adalah “pelayan” teologi yang ampuh.
Contoh Penerapan Sola Scriptura dalam Rutinitas
Luther menghidupi sola scriptura dengan cara yang sangat praktis. Ia tidak hanya memperdebatkan otoritas Alkitab, tetapi menjadikannya makanan sehari-hari. Setiap hari, ia menyediakan waktu khusus untuk membaca, merenungkan, dan menulis tentang Alkitab. Bahkan di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai profesor, penulis, dan kepala keluarga, ia dikenal selalu membawa serta bagian-bagian kecil Alkitab untuk direnungkan kapan pun ada kesempatan. Pendekatannya terhadap teks alkitabiah adalah ekspositori dan personal; ia mencari Kristus dalam setiap halaman dan menerapkan kebenarannya langsung pada kondisi jiwanya sendiri dan situasi gereja pada zamannya.
“Alkitab adalah buaian di mana Kristus dibaringkan.” Pernyataan ini menggambarkan bagaimana Luther mendekati ibadah pribadinya. Baginya, membaca Alkitab bukan sekadar tugas akademis, tetapi perjumpaan dengan pribadi Kristus. Dalam percakapan meja, ia pernah berkata, “Aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk memuliakan dan mengucap syukur kepada Tuhan dengan menyanyikan sebuah kidung pujian, atau membaca dari Mazmur, atau setidaknya mengatakan Doa Bapa Kami, setiap kali aku menyelesaikan satu bagian pekerjaan tulisanku.” Ini menunjukkan bagaimana spiritualitasnya terjalin erat dengan produktivitas dan kehidupan sehari-hari.
Hubungan dengan Uang dan Kesederhanaan Hidup
Sebagai salah satu penulis paling produktif dan laris di era percetakan awal, Martin Luther sebenarnya berpotensi menjadi kaya raya. Buku-bukunya, terutama terjemahan Alkitab bahasa Jerman, terjual dalam jumlah besar. Namun, sikapnya terhadap kekayaan dan gaya hidup mencerminkan penolakannya terhadap kemewahan yang sering dikaitkan dengan hierarki gereja Roma pada masanya. Luther memandang uang sebagai alat untuk menopang pelayanan dan membantu sesama, bukan tujuan untuk dikejar.
Ia hidup dengan relatif sederhana di tengah rumah tangganya yang besar dan sibuk. Pendapatannya yang beragam—dari gaji sebagai profesor, honorarium dari penulis, dan sumbangan dari bangsawan—sebagian besar digunakan untuk menopang rumah tangganya yang sering menjadi tempat penampungan, membiayai proyek penerjemahan dan penerbitan, serta memberi kepada yang membutuhkan. Ia secara terbuka mengkritik praktik simoni (jual-beli jabatan gerejawi) dan bunga yang tinggi, menekankan etika Kristen dalam transaksi ekonomi.
Detail Keuangan dan Sikap Materi Luther
Untuk memahami hubungan Luther dengan materi, kita dapat melihat sumber pendapatannya, pola pengeluarannya, dan sikap yang mendasarinya. Data berikut memberikan gambaran umum yang diverifikasi dari berbagai catatan sejarah tentang kehidupannya di Wittenberg.
| Sumber Pendapatan | Pengeluaran Utama | Sikap Dasar | Contoh Tindakan Nyata |
|---|---|---|---|
| Gaji sebagai Profesor Teologi di Universitas Wittenberg. | Biaya hidup rumah tangga besar (makanan, perawatan, pelayan). | Pekerjaan adalah panggilan (vokasi), bukan sekadar cara mencari nafkah. | Menolak untuk mengenakan biaya untuk penahbisan atau pelayanan gerejawi. |
| Honorarium dari penerbit untuk buku dan pamflet yang laris. | Mendanai penerjemahan dan pencetakan Alkitab serta karya lainnya. | Uang harus digunakan untuk kemajuan Injil dan kesejahteraan bersama. | Ia tidak pernah mengklaim hak cipta atas terjemahan Alkitabnya, membiarkannya dicetak ulang secara luas. |
| Sumbangan dan hadiah dari pendukung seperti Pangeran Friedrich yang Bijaksana. | Menyumbang kepada fakir miskin, mahasiswa yang kekurangan, dan tamu yang membutuhkan. | Kepemilikan membawa tanggung jawab untuk berbagi. | Rumahnya terkenal sebagai tempat di mana “meja selalu terbuka” bagi siapa saja yang membutuhkan makanan atau tempat tinggal. |
| Hasil dari kebun dan peternakan kecil yang dikelola Katharina. | Pemeliharaan dan perluasan properti bekas biara yang ditempati. | Hidup sederhana dan mandiri lebih terpuji daripada kemewahan yang boros. | Meski tinggal di bekas biara, gaya hidupnya tidak mewah; fokus pada fungsi rumah sebagai pusat pelayanan dan komunitas. |
Pendidikan Anak-anak dan Peran Ayah
Luther mempraktikkan doktrin imamat semua orang percaya dengan cara yang paling intim: dalam pendidikan anak-anaknya sendiri. Ia menolak pandangan yang meremehkan peran orang tua dalam pendidikan rohani anak. Bagi Luther, ayah dan ibu adalah “uskup” dan “pendeta” pertama bagi anak-anak mereka. Ia sangat berkomitmen untuk mendidik semua anaknya, termasuk anak-anak perempuannya, suatu hal yang tidak biasa pada masa itu.
Surat-suratnya yang penuh kasih kepada istri dan anak-anaknya, yang sering ditulis saat ia sedang dalam perjalanan, mengungkapkan seorang ayah yang peduli sekaligus tegas. Ia percaya pada disiplin yang diperlukan untuk membentuk karakter, tetapi selalu menyeimbangkannya dengan kasih sayang dan kehangatan. Rumahnya menjadi tempat di mana pendidikan akademik, rohani, dan praktis berjalan beriringan.
Prinsip-Prinsip Pedagogis Luther di Rumah
Pendekatan Luther terhadap pengasuhan anak dan pendidikan didasarkan pada keyakinan teologisnya tentang pentingnya setiap individu memahami Firman Tuhan. Prinsip-prinsip ini tidak hanya ia terapkan di rumah, tetapi juga ia promosikan melalui tulisan seperti ” Khotbah untuk Menasihati agar Anak-Anak Dikirim ke Sekolah“.
- Literasi untuk Semua, Termasuk Perempuan: Luther bersikeras bahwa anak perempuan juga harus belajar membaca dan menulis, terutama agar mereka dapat membaca Alkitab sendiri dan menjadi ibu yang dapat mengajar anak-anaknya. Ini adalah aplikasi radikal dari imamat semua orang percaya.
- Pendidikan Agama yang Terintegrasi: Pendidikan dimulai dengan doa, nyanyian pujian, dan pembelajaran Katekismus Kecil yang ia tulis. Katekismus itu dirancang sebagai panduan sederhana bagi orang tua untuk mengajar anak-anak tentang Sepuluh Perintah Tuhan, Pengakuan Iman, dan Doa Bapa Kami.
- Disiplin dengan Kasih dan Penjelasan: Luther menentang kekerasan yang sewenang-wenang. Ia menasihati agar hukuman fisik, jika memang diperlukan, harus diikuti dengan pelukan dan penjelasan mengapa perilaku tertentu salah, sehingga anak memahami bahwa disiplin berasal dari kasih, bukan kemarahan.
- Mengangkat Martabat Pekerjaan Rumah Tangga: Anak-anak juga diajarkan tugas-tugas praktis di rumah dan kebun. Luther melihat ini sebagai bagian dari pendidikan vokasi, mempersiapkan mereka untuk menjalani panggilan mereka di dunia dengan tanggung jawab.
Pergumulan Pribadi dan Konsep Anugerah: Martin Luther Demonstrated Protestant Attitudes In His Personal Life
Di balik sosok pembaharu yang tegas dan produktif, Martin Luther adalah seorang yang akrab dengan kegelapan batin. Ia menyebut pergumulan spiritual yang mendalam ini dengan istilah Anfechtung—sebuah perasaan keputusasaan, keraguan, dan serangan iblis yang menyiksa jiwa. Justru melalui lorong-lorong gelap inilah pemahamannya tentang anugerah dan sola fide ditempa menjadi keyakinan yang tak tergoyahkan. Pengalaman pribadinya dengan Anfechtung membuat doktrin pembenaran oleh iman bukan sekadar teori, tetapi kebenaran yang menyelamatkan nyawa.
Yang menarik, Luther tidak menyembunyikan pergumulan ini. Sebaliknya, ia membagikannya secara terbuka dalam tulisan-tulisannya, khotbah, dan terutama dalam Tischreden (Percakapan Meja) yang dicatat oleh murid-muridnya. Dengan berbagi keraguannya, ia menunjukkan bahwa iman bukanlah ketiadaan keraguan, tetapi kepercayaan yang berpegang pada Kristus di tengah badai keraguan. Ini adalah teladan pastoral yang kuat: seorang pemimpin rohani yang otentik tentang kelemahannya.
Keterbukaan tentang Pergumulan Batin
Luther percaya bahwa Anfechtung adalah alat Tuhan untuk merendahkan manusia dan membuatnya bergantung sepenuhnya pada anugerah. Dalam percakapan meja, ia sering membahas topik ini dengan gamblang, menasihati orang lain untuk melawan dengan Firman Tuhan dan doa. Ia menggambarkan pengalamannya sendiri dengan gambaran yang hidup, seperti seorang yang bertarung dengan iblis atau seorang yang hampir tenggelam. Keterbukaan ini menghancurkan citra kesalehan yang sempurna dan tak tersentuh, dan justru membuat ajarannya tentang kasih karunia menjadi sangat relatable bagi orang biasa yang juga bergumul.
“Tanpa Anfechtung, tidak ada seorang pun yang dapat memahami Alkitab atau iman… Anfechtung mengajarkan kita bukan hanya untuk mengetahui dan memahami, tetapi juga untuk mengalami bagaimana benar, jujur, manis, menyenangkan, perkasa, dan menghibur firman Allah itu.” Kutipan ini mengungkap jantung spiritualitas Luther. Baginya, pengalaman penderitaan batin adalah sekolah teologi yang paling mendalam. Dalam momen keputusasaan lain, ia terkenal berkata, “Aku telah dibaptis!”—sebuah pernyataan sederhana yang merupakan gema dari sola fide, mengingatkan dirinya sendiri bahwa identitas dan keamanannya terletak pada anugerah yang diterima dalam baptisan, bukan pada perasaannya yang bergejolak.
Interaksi Sosial dan Semangat Komunal
Gaya komunikasi Martin Luther bisa dibilang… tidak biasa untuk seorang bapak gereja. Dalam Tischreden (Percakapan Meja), ia berbicara dengan lugas, penuh humor, terkadang kasar, dan selalu tanpa pretensi. Gaya ini adalah penolakan sadar terhadap formalitas hierarkis dan bahasa Latin yang berbelit-belit dari akademisi dan rohaniwan pada masanya. Di mejanya, semua orang—mahasiswa, tamu asing, rekan profesor—duduk bersama, makan, minum bir, dan mendiskusikan segala hal, dari teologi yang paling dalam hingga urusan rumah tangga yang paling praktis.
Rumah Luther bukanlah tempat yang tertutup dan eksklusif. Sebaliknya, ia adalah pusat komunitas yang hidup dan inklusif. Pintunya terbuka bagi siapa saja: dari bangsawan terpelajar hingga mahasiswa miskin, dari pendukung yang bersemangat hingga orang yang sekadar penasaran. Kehidupan komunal ini adalah perwujudan fisik dari gereja sebagai persekutuan orang percaya, di mana hubungan dibangun bukan pada status, tetapi pada iman yang sama dan percakapan yang jujur.
Suasana dan Aktivitas di Meja Makan Luther, Martin Luther Demonstrated Protestant Attitudes in His Personal Life
Bayangkan sebuah ruang makan besar di bekas biara, dengan meja panjang yang dipenuhi piring-piring sederhana. Di ujung meja, duduk Luther, sering kali dengan anak bungsunya di pangkuannya. Di sekelilingnya, duduk sepuluh hingga dua puluh mahasiswa yang tinggal di asrama rumahnya, bersama dengan tamu-tamu yang lewat. Udara dipenuhi aroma makanan yang dimasak Katharina dan suara percakapan yang ramai. Luther memimpin diskusi, tetapi bukan sebagai seorang dosen yang memberi kuliah.
Ia memancing pendapat, bercanda, menceritakan kisah, dan berdebat dengan penuh semangat.
Topiknya bisa melompat dari penafsiran kitab Roma, ke kritik terhadap Paus, lalu ke nasihat tentang pertanian atau kesehatan. Seorang mahasiswa yang rajin mencatat perkataannya di buku catatan kecil. Percakapan ini tidak direncanakan atau disensor; mereka mengalir secara alami. Inilah “universitas rakyat” yang sebenarnya, tempat teologi turun dari menara gading dan bercampur dengan kehidupan. Meja makan itu menjadi simbol yang kuat: di situlah tubuh dan jiwa dipelihara, di situlah komunitas dibangun, dan di situlah iman menjadi percakapan sehari-hari yang hidup.
Penutupan
Jadi, warisan Luther yang paling mendalam mungkin justru terletak pada bagaimana dia menjalani hidupnya, bukan hanya pada apa yang dia tulis. Dari meja makan yang riuh di Wittenberg hingga surat-surat penuh kasih kepada anak-anaknya, dia membuktikan bahwa reformasi sejati dimulai dari dalam hati, lalu merembes ke setiap aspek kehidupan domestik dan sosial. Kisahnya mengajarkan bahwa keyakinan teologis paling radikal pun harus diuji dan dihidupi dalam realitas yang paling manusiawi: cinta, uang, pendidikan, dan pergumulan batin.
Akhirnya, hidup Luther sendiri adalah manifesto terbaik dari ajaran yang diperjuangkannya—sebuah pengingat bahwa iman yang menyelamatkan adalah iman yang hidup, bernafas, dan terlibat penuh dalam kompleksitas dunia.
Panduan Tanya Jawab
Apakah pernikahan Luther dengan Katharina von Bora murni karena cinta atau alasan teologis?
Motifnya kompleks. Meski ada unsur saling menghormati dan kasih yang berkembang, pernikahan itu terutama adalah pernyataan teologis publik. Luther ingin mencontohkan bahwa pernikahan adalah keadaan yang terhormat dan saleh bagi para pendeta, menolak doktrin selibat wajib yang dianggapnya tidak alkitabiah.
Bagaimana reaksi masyarakat umum dan otoritas Gereja Katolik terhadap gaya hidup “duniawi” Luther setelah menikah?
Reaksinya sangat keras dan penuh cemooh. Banyak lawan, termasuk para biarawan dan pejabat gereja, menyerangnya dengan tuduhan menghancurkan kesucian imamat dan menyerah pada hawa nafsu. Pernikahannya dijadikan bahan propaganda untuk menggambarkannya sebagai seorang apostat yang bejat.
Apakah Luther konsisten menerapkan kesederhanaan dalam kehidupannya sendiri, mengingat bukunya laris dan dia cukup terkenal?
Luther hidup lebih sederhana dibanding pejabat gereja tinggi masa itu, tetapi keluarganya tidak miskin. Penghasilan dari bukunya digunakan untuk membiayai rumah tangga besar yang sering menjamu tamu, membeli properti (biara bekas yang ditempati), dan mendukung kerabat. Namun, dia mengkritik keras praktik mengumpulkan kekayaan melalui indulgensi dan tidak menjadikan kekayaan sebagai tujuan.
Bagaimana pengaruh pengalaman Luther sebagai seorang ayah terhadap teologinya tentang Allah dan anugerah?
Pengasuhan anak memberinya analogi yang kuat untuk memahami hubungan Allah dengan manusia. Dia sering menggunakan contoh kasih dan disiplin seorang ayah kepada anaknya untuk menjelaskan bagaimana Allah mendidik dan menjaga umat-Nya, memperkaya pemahamannya tentang anugerah yang bersifat personal dan relational, bukan hanya hukum.
Apakah “Percakapan Meja” Luther itu sumber sejarah yang bisa diandalkan untuk memahami pemikirannya?
“Percakapan Meja” adalah kumpulan catatan mahasiswa tentang obrolan informal Luther selama makan. Sumber ini sangat berharga untuk melihat sisi pribadi, humor, dan opini spontannya, tetapi harus dibaca dengan hati-hati karena dicatat oleh pihak ketiga, tidak disunting oleh Luther sendiri, dan terkadang berisi hiperbola atau lelucon kasar yang tidak dimaksudkan sebagai doktrin resmi.