Pengaruh El Nino dan La Nina terhadap Suhu Permukaan Laut Pasifik bukan sekadar teori iklim yang rumit, melainkan drama alam terbesar di planet kita yang panggung utamanya adalah samudra luas itu sendiri. Bayangkan Pasifik sebagai wajan raksasa yang sedang dimasak oleh matahari, di mana El Nino dan La Nina adalah dua koki dengan karakter bertolak belakang yang mengaduk dan mengatur panasnya.
Satu menghangatkan secara ekstrem, yang lain mendinginkan dengan ganas, dan gerakan mereka ini menggetarkan ritme cuaca hingga ke pelosok dunia yang jauh sekalipun.
Intinya, dua fenomena yang merupakan bagian dari siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO) ini adalah penentu utama mode iklim global. Mereka lahir dari interaksi rumit antara laut dan atmosfer di Pasifik tropis, di mana perubahan tekanan udara dan pelemahan atau penguatan angin pasat memicu perpindahan masif kolam air hangat. Pergeseran suhu permukaan laut inilah yang kemudian menjadi katalis, mengubah pola hujan, memicu banjir di satu benua sambil mendatangkan kekeringan parah di benua lain, serta memberi sinyal pada seluruh sistem iklim Bumi.
Pengeritan dan Mekanisme Dasar El Nino dan La Nina
Sebelum menyelami lebih dalam tentang pengaruhnya terhadap suhu laut, kita perlu paham dulu apa sebenarnya El Nino dan La Nina. Keduanya bukan badai atau angin topan, melainkan fase ekstrem dari sebuah fenomena iklim yang lebih besar bernama El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Bayangkan ENSO sebagai sebuah ayunan raksasa di Samudra Pasifik tropis, di mana El Nino adalah ayunan ke satu sisi (kondisi hangat) dan La Nina adalah ayunan ke sisi sebaliknya (kondisi dingin).
Inti dari semua ini adalah interaksi yang kompleks antara lautan dan atmosfer.
Proses Fisika Pemicu El Nino, Pengaruh El Nino dan La Nina terhadap Suhu Permukaan Laut Pasifik
Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang khatulistiwa, mendorong massa air laut hangat berkumpul di wilayah Pasifik barat dekat Indonesia. Ini menyebabkan permukaan laut di sana lebih tinggi dan suhunya hangat, sementara di Pasifik timur dekat Peru, air yang lebih dingin dari dasar laut naik ke permukaan (upwelling). Pada peristiwa El Nino, angin pasat ini melemah secara signifikan, bahkan bisa berbalik arah.
Melemahnya “dorongan” ini menyebabkan kolam air hangat yang biasanya tertahan di barat “meluncur” kembali ke arah timur, menutupi wilayah Pasifik tengah dan timur. Upwelling dingin di Peru pun terhambat, sehingga suhu permukaan laut di daerah itu memanas drastis.
Proses Fisika Pemicu La Nina
La Nina pada dasarnya adalah kondisi normal yang diperkuat. Angin pasat justru bertiup lebih kencang dari biasanya. Dorongan yang lebih kuat ini semakin mengonsentrasikan air hangat ke wilayah Pasifik barat, membuat perbedaan suhu antara barat dan timur Pasifik semakin ekstrem. Upwelling air dingin di Pasifik timur menjadi lebih intens, sehingga wilayah itu menjadi lebih dingin dari kondisi normal. Pada fase ini, kolam air hangat Pasifik barat menjadi lebih luas dan panas.
Karakteristik Utama El Nino dan La Nina
Meski berasal dari sistem yang sama, kedua fase ini menampilkan karakter yang hampir berlawanan. Tabel berikut merangkum perbandingan utamanya.
| Aspek | El Nino | La Nina | Kondisi Netral |
|---|---|---|---|
| Suhu Permukaan Laut Pasifik Tengah/Timur | Menghangat secara signifikan (Anomali Positif) | Mendingin secara signifikan (Anomali Negatif) | Mendekati rata-rata |
| Posisi Kolam Air Hangat | Bergerak/Berkembang ke arah timur | Lebih terkonsentrasi di Pasifik Barat | Stabil di Pasifik Barat |
| Melemah atau berbalik arah | Menguat | Normal, dari timur ke barat | |
| Dampak Curah Hujan Pasifik Tropis | Hujan berpindah ke Pasifik tengah/timur; Kering di Indonesia & Australia | Hujan lebih intens di Indonesia & Australia; Kering di Pasifik timur | Pola curah hujan normal |
Pola Angin Pasat dan Pergerakan Massa Air
Visualisasinya seperti ini: saat El Nino, bayangkan angin pasat yang lemah gagal menahan tumpukan air hangat di barat. Air hangat itu kemudian “menggulung” kembali ke arah timur, seperti gelombang yang merambat di sepanjang khatulistiwa, menghangatkan wilayah yang biasanya dingin. Sebaliknya, saat La Nina, angin pasat yang kencang seperti mendorong semua air hangat dengan lebih agresif ke arah barat, memperdalam kolam hangat di sana dan membiarkan wilayah timur “terbuka” sehingga upwelling air dingin dari bawah menjadi lebih dominan dan ekstensif.
Pola Spasial Perubahan Suhu Permukaan Laut
Anomali suhu permukaan laut selama ENSO tidak terjadi merata. Ada pola spasial yang khas dan dapat diprediksi, yang menjadi penanda utama fase mana yang sedang aktif. Pemahaman atas pola sebaran ini krusial untuk memantau perkembangan dan memperkirakan dampaknya.
Wilayah Anomali SPL Terkuat Selama El Nino
Selama El Nino, anomali positif (pemanasan) terkuat biasanya terpusat di dua wilayah utama. Pertama, di daerah Nino 3.4 dan Nino 3 (sekitar 170°W hingga 90°W di ekuator), di mana pemanasan bisa mencapai lebih dari 2°C di atas normal. Kedua, di sepanjang pesisir Amerika Selatan, khususnya dari Ekuador hingga Peru utara, di mana upwelling dingin tertekan. Sementara itu, anomali negatif (pendinginan) ringan sering terlihat di sebagian wilayah Pasifik barat dan barat daya, seperti di sekitar Filipina dan Indonesia timur laut, karena air hangat yang biasanya ada di sana berpindah.
Wilayah Anomali SPL Terkuat Selama La Nina
Pola La Nina hampir merupakan kebalikan sempurna. Anomali negatif (pendinginan) terkuat terpusat di Pasifik tengah dan timur, tepatnya di wilayah yang sama yang memanas saat El Nino. Suhu permukaan laut di sana bisa turun 1-2°C di bawah normal. Sebaliknya, anomali positif terkuat justru terjadi di Pasifik barat dan wilayah laut Indonesia. Kolam air hangat di sini menjadi lebih panas dan lebih luas dari biasanya, sering kali memecahkan rekor suhu tertinggi regional.
Pergeseran Kolam Air Hangat Pasifik Barat
Kolam air hangat Pasifik barat adalah jantung dari sistem iklim tropis. Dalam kondisi La Nina, jantung ini berdenyut lebih kuat: wilayahnya mengembang, suhunya meningkat, dan mendorong aktivitas konveksi dan hujan yang sangat aktif di atasnya. Sebaliknya, saat El Nino terjadi, jantung ini seolah-olah “melemah” dan bergeser. Massa air hangat yang menjadi sumber energinya bermigrasi ke arah timur, meninggalkan wilayah barat yang lebih dingin dan kering, sementara “nyawa” baru untuk hujan dan badai muncul di tengah Samudra Pasifik.
Perbedaan Pola Sebaran SPL Antara Kedua Fase
Source: kompas.com
- El Nino ditandai dengan “blob” atau bercak pemanasan yang dominan di Pasifik tengah dan timur ekuator, dengan pola pemanasan yang sering kali memanjang ke arah pesisir Amerika.
- La Nina ditandai dengan bercak pendinginan yang kuat di Pasifik tengah-timur, dikelilingi oleh wilayah hangat yang lebih intens di bagian barat dan kadang di lintang tinggi subtropis Pasifik utara dan selatan.
- Gradien suhu zonal (barat-timur) di Pasifik tropis melemah saat El Nino dan menguat secara ekstrem saat La Nina.
- Respons suhu di wilayah “pinggiran” seperti Laut China Selatan atau Samudra Hindia juga sering berbeda, dengan El Nino cenderung menghangatkan sebagian wilayah tersebut, sementara La Nina memiliki sinyal yang lebih bervariasi.
Dinamika dan Skala Temporal Fenomena
ENSO bukan peristiwa yang muncul dan lenyap dalam sekejap. Ia memiliki siklus hidup yang berkembang selama berbulan-bulan, bertahan, lalu memudar. Memahami tahapan dan variabilitas waktunya membantu kita mengantisipasi durasi dan puncak dampaknya.
Fase Perkembangan Peristiwa El Nino
Sebuah peristiwa El Nino biasanya dimulai dengan tanda-tanda awal di musim semi (Maret-Mei) belahan bumi utara. Tahap ini ditandai dengan melemahnya angin pasat dan munculnya anomali suhu hangat lemah di Pasifik timur. Kemudian, jika kondisi mendukung, peristiwa itu berkembang (onset) di akhir musim semi hingga awal musim panas. Pemanasan meluas dan menguat menuju musim gugur, mencapai puncaknya pada periode November hingga Januari.
Setelah puncak, fase peluluhan (decay) terjadi pada musim semi berikutnya, di mana anomali suhu mulai mereda. Seringkali, transisi menuju kondisi netral atau bahkan La Nina terjadi setelahnya.
Fase Perkembangan Peristiwa La Nina
Siklus La Nina seringkali, tetapi tidak selalu, mengikuti El Nino. Pemicunya adalah penguatan angin pasat yang mendorong air permukaan hangat ke barat, memungkinkan upwelling dingin yang lebih kuat di timur. Ia biasanya berkembang di akhir musim panas atau musim gugur, mencapai puncak intensitasnya pada periode yang sama dengan El Nino, yaitu November hingga Januari. La Nina cenderung lebih “bandel”, sering bertahan lebih lama dari El Nino, terkadang hingga dua tahun berturut-turut (multi-year La Nina).
Peluruhannya juga bertahap, seringkali berakhir menjelang musim semi.
Variabilitas Durasi dan Intensitas
Tidak ada dua peristiwa ENSO yang benar-benar sama. Durasi rata-rata sebuah peristiwa adalah 9-12 bulan, tetapi bisa berkisar dari hanya beberapa bulan hingga lebih dari 18 bulan. Intensitasnya juga sangat bervariasi, dari yang lemah hingga sangat kuat (mega). Variabilitas ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi awal laut, interaksi dengan fenomena iklim lain seperti Indian Ocean Dipole, dan umpan balik laut-atmosfer internal yang kompleks.
El Nino 1997-1998 dan La Nina 1998-2000 adalah contoh peristiwa berurutan yang sangat kuat, sementara El Nino 2014-2016 terkenal karena durasinya yang panjang.
Contoh Periode Kejadian Kuat dan Dampak SPL
Peristiwa El Nino 1997-1998, yang sering disebut “El Nino abad ini”, mencapai anomali suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4 lebih dari 2.8°C di atas normal pada November 1997. Pemanasan masif ini tidak hanya terbatas di ekuator, tetapi menjalar hingga ke pesisir Amerika, menyebabkan kerusakan terumbu karang secara global akibat pemutihan (bleaching) dan mengubah pola badai di seluruh dunia. Di sisi lain, La Nina 2010-2012 yang berlangsung dalam dua musim berturut-turut mempertahankan anomali dingin di Pasifik tengah hingga -2°C, dikaitkan dengan banjir besar di Australia dan kekeringan parah di Texas, AS.
Interaksi dengan Atmosfer dan Umpan Balik
Kekuatan sebenarnya dari ENSO terletak pada hubungan simbiosis mutualisme yang erat antara lautan dan atmosfer. Perubahan kecil di salah satu sistem dapat diperkuat oleh yang lain, menciptakan siklus umpan balik yang mengunci fenomena ini dalam fase yang bertahan berbulan-bulan.
Peran Osilasi Selatan dalam Memperkuat Anomali SPL
Komponen “Southern Oscillation” (Osilasi Selatan) dalam ENSO merujuk pada ayunan tekanan udara permukaan antara Pasifik timur (Tahiti) dan barat (Darwin). Saat tekanan tinggi di Tahiti dan rendah di Darwin, angin pasat menguat (kondisi mendukung La Nina). Saat pola tekanan berbalik (rendah di Tahiti, tinggi di Darwin), angin pasat melemah (kondisi mendukung El Nino). Perbedaan tekanan ini bukan hanya penanda, tetapi juga penggerak.
Perubahan tekanan mengubah kekuatan angin, yang kemudian menggerakkan massa air dan mengubah pola SPL. Perubahan SPL selanjutnya memengaruhi pemanasan atmosfer dan menguatkan kembali pola tekanan tersebut, membentuk sebuah lingkaran.
Proses Umpan Balik Laut-Atmosfer
Mekanisme umpan balik ini, disebut umpan balik Bjerknes, adalah mesin penggerak ENSO. Misalnya pada El Nino: Anomali SPL hangat di Pasifik tengah memanaskan udara di atasnya. Udara hangat ini naik, menciptakan pusat konveksi dan rendah tekanan baru. Perubahan ini melemahkan sirkulasi Walker normal dan mengurangi perbedaan tekanan timur-barat, yang pada gilirannya semakin melemahkan angin pasat. Angin pasat yang melemah mengurangi upwelling dingin dan mendorong lebih banyak air hangat ke timur, sehingga anomali SPL hangat makin kuat.
Siklus ini berputar hingga mencapai keseimbangan baru atau diganggu oleh faktor lain.
Pengaruh SPL terhadap Formasi Awan dan Curah Hujan
Air laut yang hangat adalah sumber bahan bakar bagi atmosfer. Udara di atas permukaan laut yang hangat menjadi lebih panas dan lembap, sehingga menjadi tidak stabil dan naik dengan cepat. Saat naik, udara mendingin, uap air mengembun membentuk awan cumulonimbus raksasa yang menghasilkan hujan lebat dan badai petir. Inilah mengapa selama El Nino, hujan lebat dan aktivitas badai bergeser ke Pasifik tengah yang menghangat.
Sebaliknya, di atas air laut yang dingin (seperti di Pasifik timur saat La Nina), udara lebih stabil, sulit naik, sehingga pembentukan awan terhambat dan wilayah tersebut cenderung kering. Perpindahan “pabrik awan” inilah yang menyebabkan pola curah hujan global berubah drastis.
Bagan Alur Hubungan Timbal Balik Laut-Atmosfer
Bayangkan sebuah diagram alur sederhana yang dimulai dari Anomali SPL Awal (misalnya, hangat di timur). Ini menyebabkan Pemanasan Udara & Perubahan Tekanan, yang memicu Melemahnya Angin Pasat. Angin yang melemah menyebabkan Berkurangnya Upwelling Dingin & Adveksi Air Hangat ke Timur, yang pada akhirnya menghasilkan Penguatan Anomali SPL Awal. Panah dari langkah terakhir kembali ke langkah pertama, membentuk sebuah lingkaran tertutup yang memperkuat dirinya sendiri (positive feedback loop). Loop ini akan terus berjalan hingga energi dari lautan habis atau gangguan dari luar (seperti angin musiman yang kuat) memutus rantainya.
Dampak pada Sistem Iklim Regional dan Global
Efek dari anomali SPL di Pasifik tidak berhenti di tepian samudra. Melalui modifikasi sirkulasi atmosfer global dan apa yang disebut “koneksi jarak jauh” (teleconnections), El Nino dan La Nina mengirimkan sinyal iklimnya ke hampir setiap sudut planet, memengaruhi cuaca di benua-benua yang jauh sekalipun.
Pengaruh terhadap Sirkulasi Walker dan Atmosfer Global
Sirkulasi Walker adalah sirkulasi udara skala besar di ekuator yang digerakkan oleh perbedaan pemanasan antara Pasifik barat (hangat) dan timur (dingin). El Nino dan La Nina secara fundamental mengganggu sirkulasi ini. Saat El Nino, pusat konveksi dan naiknya udara bergeser ke Pasifik tengah, melemahkan atau bahkan membalikkan aliran Walker normal. Gangguan pada “ban berjalan” raksasa ini kemudian memengaruhi pola tekanan dan angin di lintang yang lebih tinggi melalui propagasi gelombang atmosfer (gelombang Rossby), yang akhirnya mengubah jalur jet stream dan posisi sistem tekanan tinggi/rendah di belahan bumi utara dan selatan.
Konektivitas Jarak Jauh (Teleconnections)
Teleconnection adalah hubungan antara kondisi cuaca/iklim di wilayah yang terpisah jauh. Pola tekanan yang berubah akibat gangguan ENSO di Pasifik tropis menciptakan pola osilasi tertentu di peta tekanan global, seperti Pacific-North American (PNA) pattern. Pola PNA positif yang sering dikaitkan dengan El Nino, misalnya, dapat menyebabkan musim dingin yang lebih hangat dan kering di sebagian Kanada dan AS bagian utara, sementara lebih dingin dan basah di AS bagian tenggara.
Sinyal ENSO juga terdeteksi kuat di wilayah seperti Afrika Timur, India, dan bahkan Eropa, meski dengan pengaruh yang lebih tidak langsung dan bervariasi.
Dampak Iklim Regional Selama El Nino
Berikut adalah rangkuman beberapa dampak iklim regional yang konsisten terjadi selama fase El Nino.
| Benua/Wilayah | Dampak Curah Hujan & Suhu | Potensi Risiko Iklim |
|---|---|---|
| Asia Tenggara & Australia | Lebih kering dan panas dari normal. | Kekeringan, kebakaran hutan (seperti karhutla Indonesia), gagal panen. |
| Pasifik Tengah & Barat | Lebih basah, peningkatan aktivitas badai. | Banjir, tanah longsor, kerusakan infrastruktur. |
| Pesisir Amerika Selatan (Peru, Ekuador) | Sangat basah, suhu hangat. | Banjir bandang, wabah penyakit, kerusakan pertanian pesisir. |
| Afrika Selatan & Timur | Variabel; Afrika Selatan cenderung kering, sebagian Afrika Timur basah. | Kekeringan di selatan, banjir dan wabah malaria di timur. |
Dampak Iklim Regional Selama La Nina
Sebagai fase berlawanan, La Nina membawa pola dampak yang juga sering berkebalikan, seperti terlihat pada tabel berikut.
| Benua/Wilayah | Dampak Curah Hujan & Suhu | Potensi Risiko Iklim |
|---|---|---|
| Asia Tenggara & Australia | Lebih basah dari normal, musim hujan intens. | Banjir besar, tanah longsor, peningkatan penyakit berbasis air. |
| Pasifik Tengah & Timur | Lebih kering dari normal. | Kekeringan, khususnya di kepulauan Pasifik. |
| Pesisir Amerika Selatan (Peru, Ekuador) | Lebih dingin dan kering. | Kekeringan, penurunan produktivitas perikanan anchovy. |
| Amerika Utara Bagian Selatan & Tenggara | Musim dingin lebih kering dan hangat di selatan, lebih basah di Pacific Northwest. | Peningkatan risiko kebakaran hutan, kekeringan di AS bagian selatan. |
Data, Pengukuran, dan Indeks Monitoring
Untuk memantau, mengukur, dan memprediksi fase ENSO, ilmuwan bergantung pada jaringan pengamatan yang komprehensif dan serangkaian indeks numerik yang telah distandardisasi. Indeks-indeks ini menjadi bahasa universal untuk menyatakan seberapa kuat atau lemah sebuah peristiwa El Nino atau La Nina.
Indeks-Intensitas Utama ENSO
Beberapa indeks kunci yang paling sering dirujuk adalah:
- Indeks Nino 3.4: Ini adalah indeks utama yang menentukan fase ENSO. Ia menghitung anomali suhu permukaan laut rata-rata di wilayah ekuator Pasifik tengah (5°U-5°S, 170°W-120°W). El Nino dinyatakan ketika anomali Nino 3.4 mencapai +0.5°C selama minimal lima bulan berturut-turut, dan La Nina saat anomali -0.5°C. Kategori kuat biasanya di atas/bawah 1.5°C.
- Indeks Osilasi Selatan (SOI): Mengukur perbedaan tekanan permukaan antara Tahiti dan Darwin. Nilai SOI negatif yang persisten mengindikasikan El Nino (tekanan rendah di Tahiti), sementara SOI positif mengindikasikan La Nina.
- Indeks Nino 1+2, 3, dan 4: Masing-masing mengukur anomali SPL di wilayah yang lebih spesifik di sepanjang ekuator Pasifik, dari timur (1+2 di lepas Peru) hingga barat (4 di dekat garis tanggal internasional).
Prosedur Pengamatan Anomali SPL
Pemantauan anomali SPL untuk ENSO adalah operasi global yang melibatkan multi-platform. Prosedur standarnya dimulai dengan pengumpulan data mentah suhu permukaan laut dari berbagai sumber: satelit penginderaan jauh yang mengukur radiasi termal dari permukaan laut, serta pengamatan in-situ dari kapal, bouy (seperti jaringan TAO/TRITON di Pasifik tropis), dan pelampung Argo yang menyelam hingga kedalaman. Data-data ini kemudian dikoreksi, dikalibrasi silang, dan diolah untuk menghitung suhu rata-rata harian atau mingguan di setiap kotak wilayah.
Anomali kemudian dihitung dengan mengurangi nilai observasi tersebut dengan suhu rata-rata klimatologis jangka panjang (biasanya periode 30 tahun) untuk tanggal yang sama.
Data Satelit dan In-Situ untuk Analisis Komprehensif
Analisis yang solid membutuhkan gabungan data dari berbagai sumber untuk mengatasi kelemahan masing-masing platform.
- Data Satelit: Memberikan cakupan spasial yang luas dan hampir real-time. Data dari sensor seperti AVHRR (NOAA) atau MODIS (NASA) memberikan peta global SPL setiap hari. Data altimetri satelit juga penting untuk mengukur ketinggian permukaan laut, yang berkorelasi dengan kandungan panas laut.
- Data In-Situ: Bouy-bouy tetap di Pasifik tropis (TAO/TRITON, PIRATA) memberikan data suhu tidak hanya di permukaan, tetapi juga pada berbagai kedalaman, serta data angin, kelembapan, dan tekanan udara secara langsung. Data dari kapal dan pelampung Argo melengkapi dengan profil suhu-salinitas hingga kedalaman 2000 meter, yang penting untuk memahami kandungan panas laut total.
Visualisasi Data Anomali SPL yang Efektif
Visualisasi yang paling efektif untuk menunjukkan evolusi sebuah peristiwa ENSO adalah Diagram Hovmöller. Bayangkan sebuah diagram dengan sumbu horizontal sebagai garis bujur (dari Pasifik barat ke timur) dan sumbu vertikal sebagai waktu (dari atas ke bawah, misalnya dari Januari 2022 hingga Desember 2023). Setiap “iris” horizontal adalah peta anomali SPL pada minggu tertentu, yang kemudian dirangkai ke bawah. Pada diagram ini, peristiwa El Nino akan tampak sebagai “blob” berwarna merah (hangat) yang muncul di Pasifik tengah/timur dan kemudian meluas serta menguat seiring waktu bergerak ke bawah grafik, sebelum akhirnya memudar.
Visual ini dengan sangat jelas menunjukkan onset, puncak, dan peluruhan sebuah peristiwa dalam satu gambar.
Simpulan Akhir: Pengaruh El Nino Dan La Nina Terhadap Suhu Permukaan Laut Pasifik
Jadi, begitulah ceritanya. El Nino dan La Nina, dua sisi koin yang sama-sama powerful, terus bergantian mendikte irama suhu permukaan laut Pasifik dan, pada akhirnya, cuaca global kita. Memahami dinamika mereka bukan cuma untuk memuaskan rasa ingin tahu ilmiah, tapi lebih sebagai bekal penting untuk beradaptasi. Data dari satelit dan indeks seperti Nino 3.4 adalah alat vital kita untuk mengintip niat alam, memberi kita jeda waktu yang berharga untuk bersiap.
Dalam narasi perubahan iklim yang semakin kompleks, mengenal kedua karakter ini dengan baik adalah langkah pertama yang cerdas untuk merespons masa depan yang penuh ketidakpastian dengan lebih tangguh.
FAQ Terkini
Apakah El Nino dan La Nina selalu terjadi bergantian secara teratur?
Tidak selalu teratur. Siklus ENSO bersifat kuasi-periodik, artinya memiliki pola berulang tetapi dengan interval waktu, durasi, dan intensitas yang sangat bervariasi, biasanya antara 2 hingga 7 tahun. Terkadang juga terjadi fase netral yang panjang di antara keduanya.
Manakah yang lebih berbahaya, El Nino atau La Nina?
Tidak ada yang secara universal “lebih berbahaya”. Dampaknya sangat bergantung pada lokasi. El Nino sering dikaitkan dengan kekeringan parah dan kebakaran hutan di Asia Tenggara dan Australia, sementara La Nina bisa menyebabkan banjir besar dan tanah longsor di area yang sama. Bahaya yang ditimbulkan relatif terhadap kerentanan wilayah terdampak.
Bisakah terjadi El Nino dan La Nina pada waktu yang bersamaan di lokasi berbeda?
Tidak. El Nino dan La Nina didefinisikan oleh kondisi suhu permukaan laut yang berlawanan di wilayah kunci Samudra Pasifik tropis (seperti Nino 3.4). Mereka adalah fase yang saling bertolak belakang dari satu osilasi yang sama, sehingga tidak mungkin terjadi secara bersamaan.
Apakah perubahan iklim memperkuat El Nino dan La Nina?
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat memodifikasi karakter ENSO. Meski belum pasti meningkatkan frekuensinya, ada indikasi bahwa intensitas peristiwa El Nino yang ekstrem mungkin akan lebih sering terjadi, dan pola curah hujan yang dikaitkan dengan ENSO bisa menjadi lebih kuat akibat latar belakang suhu global yang lebih panas.
Bagaimana nelayan tradisional di Pasifik mengetahui datangnya El Nino atau La Nina?
Secara tradisional, mereka mengamati tanda-tanda alam seperti perubahan pola angin dan arus laut, waktu serta arah migrasi ikan tertentu, perilaku burung laut, dan kondisi cuaca lokal yang tidak biasa yang telah dikenal melalui pengetahuan turun-temurun.