“Ubah kalimat berikut menjadi bentuk pasif” sering terdengar seperti latihan sekolah yang kaku, bukan? Tapi tunggu dulu. Kalimat pasif ternyata bukan sekadar soal menukar posisi subjek dan objek. Ia adalah sebuah kunci ajaib yang bisa membuka peti harta karun sejarah, mengungkap kedalaman puisi, menerjemahkan bahasa isyarat, bahkan mengajari AI bercerita. Dari goresan pada prasasti berusia ribuan tahun hingga algoritma yang sedang belajar menulis, transformasi ini punya cerita seru untuk diceritakan.
Mari kita telusuri bersama bagaimana aturan tata bahasa yang satu ini menjelma menjadi alat analisis bagi filolog, kuas ekspresi bagi penyair, sistem visual bagi komunitas tuli, dan logika naratif bagi kecerdasan buatan. Kita akan melihat bahwa di balik struktur yang tampak sederhana, tersimpan kekuatan untuk menggeser fokus, menyembunyikan pelaku, dan menciptakan nuansa makna yang sama sekali baru, bahkan dalam dialek-dialek daerah yang unik.
Transformasi Kalimat Aktif ke Pasif dalam Konteks Naskah Kuno: Ubah Kalimat Berikut Menjadi Bentuk Pasif
Membongkar makna dari sebuah prasasti atau manuskrip kuno seringkali seperti menyusun kembali puzzle yang hilang beberapa kepingnya. Salah satu kunci penting dalam proses ini adalah memahami bagaimana struktur kalimat, khususnya peralihan dari bentuk aktif ke pasif, bekerja dalam bahasa masa lampau. Prinsip transformasi ini bukan sekadar permainan tata bahasa modern, melainkan sebuah lensa untuk melihat bagaimana masyarakat kuno memandang sebuah peristiwa: siapa yang dianggap penting untuk ditekankan, atau justru sengaja disembunyikan.
Dalam banyak teks kuno, terutama yang bersifat resmi seperti prasasti piagam atau kutukan, bentuk pasif sering digunakan untuk memberikan otoritas dan fokus pada tindakan atau hasilnya, terlepas dari pelaku yang mungkin sudah diketahui umum atau dianggap kurang penting untuk disebutkan berulang kali.
Penerapan prinsip ini membutuhkan kehati-hatian ekstra. Bahasa proto atau bahasa kuno sering memiliki partikel atau afiks yang fungsinya spesifik untuk membentuk pasif, yang mungkin sudah punah atau berevolusi dalam bahasa turunannya. Seorang filolog harus membandingkan berbagai contoh kalimat dalam korpus teks yang sama untuk menemukan pola ini. Misalnya, dalam bahasa Jawa Kuno, afiks ka- dan -in- sering menjadi penanda pasif.
Dengan mengidentifikasi pola ini, kita dapat lebih akurat menentukan siapa subjek (penerima tindakan) dan siapa agen (pelaku) dalam sebuah kalimat, bahkan ketika urutan katanya tidak mengikuti logika bahasa Indonesia modern. Pemahaman ini membuka pintu untuk interpretasi sejarah yang lebih mendalam tentang hubungan sosial dan kekuasaan.
Contoh Transliterasi dan Terjemahan Prasasti
Sebagai ilustrasi, mari kita lihat sebuah contoh hipotetis dari sebuah prasasti yang memerintahkan pembangunan. Analisis terhadap kalimat pasif di dalamnya dapat mengungkap prioritas dari sang pembuat prasasti.
Transliterasi: “ikang watu prasasti ini kalagyan dening sang rakryan mapatih i hino.”
Terjemahan Aktif (rekonstruksi): “Sang Rakryan Mapatih i Hino mendirikan batu prasasti ini.”
Terjemahan Pasif (literal): “Batu prasasti ini didirikan oleh Sang Rakryan Mapatih i Hino.”
Terjemahan pasif literal ini mempertahankan fokus teks asli pada ikang watu prasasti (batu prasasti ini) sebagai subjek yang dikenai tindakan. Pilihan bentuk pasif dalam prasasti tersebut secara sengaja menempatkan benda atau hasil karya sebagai hal utama yang ingin diabadikan, meskipun nama pejabat tinggi sebagai pelaku tetap disebut untuk legitimasi. Ini adalah strategi penulisan yang umum ditemui.
Perbandingan Frasa Aktif Modern dan Rekonstruksi Proto
Berikut adalah tabel yang membandingkan konstruksi dalam bahasa Indonesia modern dengan rekonstruksi hipotetis dalam konteks bahasa proto Austronesia, untuk menunjukkan evolusi bentuk pasif. Rekonstruksi ini berdasarkan pada studi perbandingan linguistik historis.
Mengubah kalimat aktif menjadi pasif itu sebenarnya sederhana, kok. Fokusnya pada objek yang dikenai tindakan. Nah, prinsip serupa tentang ‘fokus’ ini bisa kita temui saat menyusun ungkapan baik seperti pada ulasan tentang Terjemahan Bahasa Inggris: Harapan Kebahagiaan dan Terima Kasih. Setelah memahami nuansa makna di balik kata, kita kembali ke teknik dasar: dalam kalimat pasif, subjeklah yang menerima aksi dari kata kerja.
| Frasa Aktif (Indonesia Modern) | Makna | Rekonstruksi Pasif (Konteks Proto) | Catatan Linguistik |
|---|---|---|---|
| Raja memerintahkan pembangunan. | Pelaku (Raja) aktif memberi perintah. | *Pembangunan di-perintah-(i)
|
Penggunaan partikel
|
| Mereka menawarkan persembahan. | Subjek “mereka” sebagai pelaku aktif. | *Persembahan di-tawar
|
Prefiks
|
| Pasukan menaklukkan daerah itu. | Fokus pada tindakan pasukan. | *Daerah itu ka-takluk
|
Prefiks
|
| Pandai besi menempa keris. | Fokus pada keahlian pelaku. | *Keris di-tempa
|
Konstruksi ini menjadi dasar bagi bentuk pasif “di-” yang dominan di banyak bahasa daerah dan Indonesia modern. |
Langkah Identifikasi dalam Kalimat Ambigu
Ketika menghadapi kalimat yang ambigu dalam naskah kuno, misalnya karena kerusakan fisik atau struktur yang tidak biasa, filolog menggunakan metode sistematis untuk mengidentifikasi pelaku dan penerima tindakan. Berikut adalah langkah-langkah umum yang dilakukan.
- Mencari Penanda Gramatikal Khusus: Langkah pertama adalah memindai seluruh klausa untuk menemukan afiks atau partikel yang dikenal sebagai penanda pasif (seperti ka-, -in-, pin-) atau penanda agen (seperti dening, sang, ning). Kehadiran ini langsung memberi petunjuk besar.
- Analisis Konteks Semantik Kata Kerja: Beberapa kata kerja secara semantik lebih sering dikenakan pada objek tertentu. Kata kerja seperti “didirikan”, “ditulis”, atau “dianugerahkan” secara logika membutuhkan suatu benda atau orang sebagai penerima. Kata benda mana dalam kalimat yang paling masuk akal sebagai penerima tindakan tersebut?
- Membandingkan dengan Kalimat Paralel: Tidak ada naskah yang berdiri sendiri. Seorang peneliti akan mencari kalimat dengan struktur atau kosakata serupa dalam teks yang sama atau teks sezaman. Pola yang berulang adalah kunci untuk memecahkan ambiguitas pada satu bagian.
- Mempertimbangkan Konteks Budaya dan Historis: Pengetahuan tentang struktur sosial, hierarki, dan kebiasaan pada periode tersebut sangat menentukan. Dalam masyarakat feodal, misalnya, sangat jarang nama seorang raja menjadi objek langsung dari kata kerja dalam prasasti resmi; raja biasanya adalah pelaku atau subjek yang dihormati.
Ilustrasi Proses Analisis Seorang Filolog, Ubah kalimat berikut menjadi bentuk pasif
Di sebuah ruang penelitian yang tenang, cahaya lampu meja LED yang terang namun tidak silau menyoroti permukaan lempengan batu andesit replika yang penuh dengan ukiran aksara. Seorang filolog, sebut saja Arini, duduk membungkuk dengan kaca pembesar di tangan kirinya. Ekspresinya penuh konsentrasi, alisnya sedikit berkerut, sementara matajnya dengan teliti menelusuri setiap lekukan huruf Jawa Kuno. Di meja, terdapat alat-alat pendukung: kuas halus untuk membersihkan debu, penggaris kecil untuk mengukur jarak baris, dan beberapa buku referensi tipis yang terbuka berisi tabel aksara dan tata bahasa.
Jari kanannya sesekali menunjuk ke sebuah kata pada layar tablet di sampingnya, yang menampilkan foto digital beresolusi tinggi dari lempengan asli. Dia membandingkan bentuk aksara di foto dengan yang dihadapinya, memastikan tidak ada goresan yang terlewat. Bibirnya komat-kamit membaca pelan transliterasi yang dia buat: “… sang … mahārāja … ka-sambandha …“. Dia berhenti pada kata ” ka-sambandha“. Wajahnya menunjukkan tanda tanya, lalu berubah menjadi pencerahan.
Afiks ” ka-” di awal kata kerja itu adalah petunjuk kuat. Dengan pensil merah, dia melingkari kata benda sebelum frasa tersebut di catatannya, menandainya sebagai “subjek (dikenai tindakan)”. Proses deduksi dari bentuk pasif itu telah membantunya memetakan satu bagian kecil dari narasi sejarah yang terpahat di batu.
Memadankan Bentuk Pasif dengan Nuansa Emosi dalam Puisi Kontemporer
Dalam puisi, setiap pilihan kata adalah sebuah keputusan yang membawa beban emosi. Konversi dari kalimat aktif ke pasif bukan sekadar perubahan gramatikal; ia adalah alat penata fokus yang ampuh. Dengan menggeser subjek dari pelaku ke penerima tindakan, penyair secara halus mengalihkan pusat gravitasi emosional puisi tersebut. Pembaca tidak lagi diajak untuk mengidentifikasi diri dengan si penindas, si pencinta, atau si pelaku, melainkan dengan yang ditindas, yang dicintai, atau yang mengalami.
Perubahan ini dapat menimbulkan rasa empati yang lebih dalam, kesepian yang lebih menyayat, atau ketidakberdayaan yang lebih terasa. Bentuk pasif sering kali mampu menyampaikan keadaan atau kondisi yang dialami, bukan aksi yang dilakukan, sehingga cocok untuk menggambarkan kesedihan, keterpaksaan, atau penerimaan.
Pergeseran ini memengaruhi dinamika pembacaan. Sebuah puisi yang menggunakan banyak konstruksi pasif mungkin terasa lebih reflektif, melankolis, atau bahkan lebih impersonal dan dingin, tergantung konteksnya. Fokus pada objek yang “dikenai” membuat peristiwa dalam puisi terasa seperti takdir yang tak terelakkan, sebuah realitas yang harus ditanggung. Di sisi lain, bentuk aktif memberikan energi, agensi, dan kejelasan tentang siapa yang bertanggung jawab.
Penyair kontemporer memainkan kedua bentuk ini seperti konduktor memainkan orkestra, untuk menciptakan irama emosi yang diinginkan, terkadang dengan mengejutkan pembaca dengan perubahan tiba-tiba dari aktif ke pasif di tengah larik.
Contoh Larik Puisi Aktif dan Variasi Pasifnya
Untuk melihat efek nyata dari transformasi ini, mari kita amati beberapa contoh larik hipotetis dan perubahan nuansa yang terjadi ketika bentuk aktif diubah menjadi pasif.
- Aktif: “Angin menerbangkan daunan cokelat itu.”
Pasif: “Daunan-daunan cokelat itu diterbangkan angin.”
Perubahan Nuansa: Fokus beralih dari kekuatan aktif “angin” ke keadaan rentan “daunan”. Puisi menjadi lebih tentang kehilangan dan ketidakberdayaan objek yang diombang-ambingkan, bukan tentang kekuatan alam. - Aktif: “Aku melukai hatimu dengan kata-kata.”
Pasif: “Hatimu terluka oleh kata-kataku.”
Perubahan Nuansa: Dari pengakuan dan agresi (“aku melukai”) menjadi penekanan pada dampak dan penderitaan (“hatimu terluka”). Bentuk pasif di sini bisa membuat pernyataan terdakin lebih dramatis dan berpusat pada korban, atau justru lebih menghindar karena pelaku (“oleh kata-kataku”) menjadi frasa tambahan. - Aktif: “Cahaya pagi menyentuh wajahnya.”
Pasif: “Wajahnya disentuh cahaya pagi.”
Perubahan Nuansa: Aktif terasa seperti deskripsi adegan objektif. Pasif membuat “wajahnya” menjadi subjek utama yang mengalami sensasi halus, lebih intim dan personal, seolah-olah kita merasakan sentuhan itu dari sudut pandang pemilik wajah.
Kata Kerja Emosional dan Transformasi Pasifnya
Tabel berikut mengkategorikan beberapa jenis kata kerja yang sarat emosi dan bagaimana transformasi ke bentuk pasif dapat menghasilkan efek stilistik tertentu dalam karya sastra.
| Jenis Kata Kerja Emosional | Contoh Aktif | Transformasi Pasif | Efek Stilistik yang Dihasilkan |
|---|---|---|---|
| Verba Penindasan/Agresi | Mengabaikan, menghancurkan, mengikat | Diabaikan, dihancurkan, diikat | Menonjolkan korban, menciptakan narasi penderitaan, ketidakberdayaan, atau kritik sosial yang tajam. |
| Verba Afeksi/Kelembutan | Menyayangi, membelai, melindungi | Disayangi, dibelai, dilindungi | Menggambarkan penerimaan kasih sayang, perasaan diterima, atau justru kerinduan akan hal-hal tersebut (jika dalam bentuk negatif atau diinginkan). |
| Verba Persepsi/Perasaan | Melihat, mendengar, merasakan | Dilihat, didengar, dirasakan | Mengobjektifikasi subjek, membuatnya merasa diawasi, dihakimi, atau justru diakui keberadaannya. Menciptakan atmosfer introspeksi. |
| Verba Perubahan Keadaan | Mengubah, menerangi, membekukan | Berubah, diterangi, membeku | Bentuk pasif atau resultatif ini menekankan pada hasil transformasi atau keadaan akhir, sering kali menghilangkan pelaku untuk memberi kesamaan bahwa perubahan itu alamiah atau misterius. |
Prosedur Menguji Intensitas Diksi Pasca-Transformasi
Setelah mengubah sebuah diksi atau kalimat menjadi bentuk pasif, penting untuk menguji apakah intensitas emosional yang diinginkan tercapai atau justru melemah. Berikut adalah prosedur sederhana yang dapat dilakukan, baik oleh penyair maupun editor.
- Pembacaan Keras: Ucapkan kedua versi (aktif dan pasif) dengan suara lantang. Perhatikan mana yang lebih natural mengalir dalam irama puisi secara keseluruhan, dan mana yang memberikan penekanan vokal pada kata-kata kunci yang ingin disoroti.
- Analisis Titik Fokus: Tanyakan, setelah transformasi, kata apa yang sekarang menjadi subjek kalimat? Apakah kata itu adalah pusat emosi yang ingin disampaikan? Jika fokus sekarang adalah “kesepian” bukan “dia”, apakah itu lebih kuat?
- Pemeriksaan Kejelasan dan Ambigu: Evaluasi apakah bentuk pasif menambah kedalaman makna yang diinginkan atau justru membuatnya menjadi kabur dan kehilangan agensi yang penting untuk pesan puisi. Terkadang, kejelasan pelaku justru diperlukan.
- Uji Resonansi dengan Tema Besar: Cocokkan pilihan bentuk pasif tersebut dengan tema puisi secara menyeluruh. Apakah nada pasif yang reflektif ini selaras dengan suasana melankoli yang dibangun dari awal, atau justru bertolak belakang?
Skenario Pengujian: Sebuah puisi tentang kenangan memiliki larik awal: “Waktu menghapus jejak-jejak kita di pantai itu.” Penulis mempertimbangkan versi pasif: “Jejak-jejak kita di pantai itu terhapus oleh waktu.”
Analisis Intensitas: Versi aktif (“Waktu menghapus”) memberi waktu sifat personifikasi yang aktif dan kejam. Versi pasif (“Jejak-jejak kita … terhapus”) lebih berfokus pada kepiluan objek yang lenyap. Untuk puisi yang ingin menekankan ketidakberdayaan kenangan, versi pasif mungkin lebih intens.Namun, jika ingin menonjalkan antagonisme waktu, versi aktif lebih kuat. Pembacaan keras mungkin menunjukkan bahwa “terhapus” memiliki bunyi yang lebih lembut dan final, cocok untuk penutupan bait.
Dekonstruksi Kalimat Pasif pada Teknis Berbahasa Isyarat
Menerjemahkan konsep tata bahasa verbal seperti kalimat pasif ke dalam bahasa isyarat, yang bersifat visual-spasial, adalah tantangan yang menarik sekaligus kompleks. Bahasa isyarat tidak mengandalkan urutan kata linear semata, tetapi memanfaatkan ruang di depan tubuh penutur, ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan arah pandangan untuk menyampaikan makna dan hubungan gramatikal. Konsep “pasif” dalam konteks ini harus didekonstruksi ulang: bukan sekadar mengubah prefiks “di-“, tetapi bagaimana memanipulasi parameter visual untuk mengalihkan fokus dari pelaku ke penerima tindakan.
Tantangan utamanya adalah menciptakan kejelasan tanpa keambiguan, terutama karena banyak informasi disampaikan secara simultan, bukan berurutan.
Aspek kunci dalam membentuk “pasif” visual adalah penempatan dan peran. Dalam kalimat aktif bahasa isyarat, pelaku (agen) biasanya ditetapkan pada satu lokasi spesifik di ruang isyarat, dan tindakan dikeluarkan dari lokasi itu menuju objek. Untuk bentuk pasif, fokus pertama-tama diberikan pada objek atau penerima tindakan. Objek ini mungkin diperkenalkan atau ditetapkan terlebih dahulu, baik secara eksplisit atau melalui konteks. Kemudian, tindakan dapat digambarkan seolah-olah datang dari arah yang kurang spesifik, atau pelaku bisa diperkenalkan setelahnya dengan ekspresi wajah atau gerakan tubuh yang menandainya sebagai informasi tambahan, bukan subjek utama.
Ekspresi wajah memainkan peran sangat besar dalam menandai siapa yang mengalami atau merasakan dampak dari tindakan tersebut.
Perbedaan Penekanan Subjek dalam Pasif Verbal dan Visual
Tabel berikut merangkum perbedaan mendasar dalam cara penekanan subjek (penerima tindakan) dilakukan dalam kalimat pasif bahasa verbal dan bahasa isyarat visual.
| Aspek Penekanan | Kalimat Pasif Verbal (contoh: B.I.) | Kalimat Pasif Visual (B. Isyarat) | Implikasi Komunikasi |
|---|---|---|---|
| Urutan Penyampaian | Linear: Subjek (penerima) + di- + kata kerja + (oleh + pelaku). | Spasial: Penerima ditetapkan di ruang -> Tindakan digambarkan mengenainya -> Pelaku mungkin muncul di lokasi lain. | Visual memungkinkan fokus lebih fleksibel dan bisa menonjolkan penerima sejak awal melalui kontak mata dan postur tubuh. |
| Penanda Gramatikal | Menggunakan morfem terikat (afiks) seperti di-, ter-, ke-an. | Menggunakan ekspresi wajah (simpulan), arah gerakan, kecepatan gerakan, dan penempatan tubuh. | Penanda visual bersifat simultan dan paralinguistik, menambah lapisan nuansa emosi atau intensitas. |
| Peran Ekspresi Wajah | Ekspresi wajah bersifat tambahan dan tidak gramatikal. | Ekspresi wajah (seperti raut pasrah, kaget, netral) adalah penanda gramatikal wajib yang membedakan makna pasif dari aktif. | Tanpa ekspresi wajah yang tepat, makna kalimat pasif dalam BISINDO atau SIBI bisa tidak utuh atau salah ditafsirkan. |
| Kejelasan Pelaku | Pelaku dapat dihilangkan (“Buku itu dibaca”) atau disebut dalam frasa “oleh…”. | Pelaku bisa dihilangkan, atau ditunjukkan dengan menunjuk/ mengarahkan pandangan ke lokasi spesifik di ruang yang telah ditetapkan sebelumnya untuk seseorang. | Penghilangan pelaku dalam visual lebih umum dan natural karena konteks ruang sudah memberikan petunjuk. |
Urutan Gerakan untuk Pernyataan Pasif dalam Pengajaran Prosedur
Bayangkan sebuah konteks pengajaran prosedur keselamatan: “Tombol darurat harus ditekan jika terjadi kebakaran.” Berikut adalah deskripsi tekstual mendalam tentang urutan gerakan untuk menyampaikan pernyataan pasif ini dalam bahasa isyarat, dengan fokus pada penekanan objek/tindakan.
Pertama, penutur akan menetapkan konsep “TOMOH DARURAT” (menggunakan isyarat spesifik untuk tombol darurat, biasanya dengan mengepalkan tangan dan menekankan jempol ke depan, atau membentuk kotak lalu menunjuk). Isyarat ini dilakukan di ruang netral di depan dada, dengan ekspresi wajah serius dan tegas untuk menunjukkan pentingnya. Kemudian, untuk kata kerja “DITEKAN”, penutur tidak memulai gerakan dari dirinya sendiri (sebagai pelaku hipotetis).
Alih-alih, tangan yang membentuk “tombol” tadi tetap berada di posisinya, sementara tangan yang lain (atau tangan yang sama setelah jeda) melakukan gerakan menekan ke arah “tombol” tersebut. Arah gerakan “menekan” ini adalah menuju objek yang sudah ditetapkan.
Ekspresi wajah selama gerakan “menekan” tetap serius dan imperatif. Untuk klausa “jika terjadi kebakaran”, penutur mungkin akan mengisyaratkan “API” atau “KEBAKARAN” di lokasi lain di ruang isyarat (misalnya di sisi), lalu menggunakan gerakan tubuh atau pandangan mata untuk menghubungkan kondisi itu dengan tindakan menekan tombol. Seluruh urutan ini menekankan pada TOMOH DARURAT sebagai subjek yang harus mengalami tindakan “ditekan”, sementara pelaku (siapa pun orang yang melihat kebakaran) tidak ditampilkan secara eksplisit, karena fokusnya pada prosedur yang benar.
Pengaruh Bentuk Pasif pada Kejelaran Pedoman Keselamatan
Penggunaan konstruksi yang menyerupai pasif dalam penyampaian pedoman keselamatan melalui bahasa isyarat memiliki dampak langsung pada kejelasan dan potensi ambiguitas. Berikut adalah poin-poin yang perlu dipertimbangkan.
- Fokus pada Objek/Tindakan yang Kritis: Bentuk pasif visual sangat efektif untuk menempatkan objek keselamatan (seperti alat pemadam, tombol, jalur evakuasi) sebagai pusat perhatian. Ini memastikan pesan utama tentang “apa yang harus dilakukan pada benda itu” tersampaikan dengan jelas, terlepas dari siapa pelakunya.
- Risiko Ambigu jika Penanda Non-Manual Kurang: Jika ekspresi wajah (seperti raut wajah yang memerintah atau sangat serius) tidak diberikan dengan tepat, pernyataan pasif seperti “Pintu dibuka” bisa ditafsirkan sebagai deskripsi fakta (“pintunya terbuka”), bukan sebuah instruksi (“buka pintunya!”). Kejelasan antara perintah dan deskripsi sangat bergantung pada penanda non-manual ini.
- Efisiensi dalam Situasi Darurat: Menghilangkan pelaku dalam instruksi pasif visual membuat pesan lebih singkat dan langsung ke inti tindakan. Dalam situasi panik, instruksi “DIKENAKAN pelampung” (dengan gerakan mengenakan ke tubuh sendiri) lebih cepat dan universal dipahami daripada “Anda kenakan pelampung” yang mungkin membutuhkan lebih banyak gerakan untuk menunjuk “anda”.
- Potensi Kaburnya Tanggung Jawab: Di sisi lain, untuk pedoman yang mensyaratkan tanggung jawab personal tertentu (misalnya, “Penanggung jawab area harus memeriksa…”), bentuk pasif yang menghilangkan pelaku bisa membuat instruksi menjadi kabur. Dalam kasus seperti ini, bentuk aktif dengan penunjukan subjek yang jelas (menunjuk ke arah umum atau menggunakan isyarat untuk “PENANGGUNG JAWAB”) mungkin lebih disarankan untuk menghindari keraguan.
Rekayasa Ulang Kalimat Pasif untuk Sistem Kecerdasan Buatan dalam Generasi Narasi
Dalam pelatihan model bahasa besar untuk menghasilkan narasi, variasi struktur kalimat adalah kunci untuk menghindari output yang kaku dan monoton. Di sinilah kalimat pasif memainkan peran strategis. Dengan menyediakan data pelatihan yang kaya akan konstruksi pasif, kita mengajari model untuk tidak hanya bercerita dari sudut pandang pelaku utama, tetapi juga untuk mengadopsi sudut pandang korban, saksi, atau bahkan objek mati yang mengalami suatu peristiwa.
Hal ini memungkinkan sistem kecerdasan buatan menghasilkan cerita dengan perspektif yang tidak biasa, seperti kisah yang diceritakan oleh sebuah rumah tua, sebuah pedang yang dilewati dari tangan ke tangan, atau sebuah kota yang “dilanda” perubahan. Bentuk pasif membantu mesin merepresentasikan keadaan, menerima dampak, dan membangun suasana yang lebih reflektif atau dramatis.
Proses rekayasa ulang ini melibatkan pemetaan yang cermat. Model perlu memahami bahwa frasa “kerajaan diserang” memiliki fokus dan implikasi naratif yang berbeda dengan “pasukan musuh menyerang kerajaan”. Yang pertama membangun ketegangan seputar nasib kerajaan (yang mungkin menjadi subjek cerita selanjutnya), sementara yang kedua memulai cerita tentang aksi pasukan musuh. Dengan memprioritaskan informasi melalui konstruksi pasif, penulis AI atau data scientist dapat mengarahkan model untuk menghasilkan alur cerita tertentu, misalnya dengan selalu memulai paragraf deskripsi keadaan dengan kalimat pasif untuk menetapkan setting sebelum masuk ke aksi karakter.
Pemetaan Input Aktif, Transformasi Pasif, dan Output Naratif
Tabel berikut menggambarkan bagaimana elemen kalimat aktif input dapat ditransformasikan menjadi pasif, dan potensi output naratif yang dapat dihasilkan oleh model bahasa berdasarkan fokus yang berubah tersebut.
| Input Kalimat Aktif | Transformasi Pasif | Potensi Output Naratif oleh Mesin | Perubahan Sudut Pandang |
|---|---|---|---|
| Penyelam menemukan harta karun di kapal karam. | Harta karun ditemukan di kapal karam oleh penyelam. | Generasi cerita tentang sejarah harta karun itu sendiri, kutukan yang melekat, atau nasib kapal karam, dengan penyelam sebagai figur sekunder. | Dari petualangan penyelam menjadi misteri objek (harta karun). |
| Kekeringan panjang menghancurkan panen. | Panen dihancurkan oleh kekeringan panjang. | Generasi narasi tentang penderitaan petani, keputusasaan di desa, atau personifikasi alam (kemarahan kekeringan), dengan fokus pada dampak sosial. | Dari fenomena alam menjadi tragedi kemanusiaan. |
| Seniman itu melukis kembali dinding yang kusam. | Dinding yang kusam dilukis kembali oleh seniman itu. | Generasi deskripsi puitis tentang transformasi visual dinding, perbandingan masa lalu dan sekarang, atau kisah tentang lingkungan sekitar yang terinspirasi oleh perubahan itu. | Dari aksi kreatif individu menjadi transformasi sebuah ruang. |
| Sistem baru akan menggantikan prosedur lama. | Prosedur lama akan digantikan oleh sistem baru. | Generasi cerita tentang resistensi terhadap perubahan di kantor, nostalgia akan cara lama, atau narasi tekno-thriller dari sudut pandang “prosedur lama” yang akan dihapus. | Dari kemajuan teknologi menjadi konflik dan pergantian era. |
Proses Algoritma Mengubah Aktif Menjadi Pasif Puitis
Skenario Input Aktif dari Model: “Embun pagi membasahi dedaunan yang layu.”
Proses Algoritma: Model yang telah terlatih mengenali pola Subjek (Embun pagi) + Verba Transitif (membasahi) + Objek (dedaunan). Modul transformasi sintaksis mengidentifikasi objek (“dedaunan”) sebagai kandidat subjek baru. Kata kerja diubah menjadi bentuk “di-” pasif (“dibasahi”). Agen (“oleh embun pagi”) dapat dipertahankan atau dihilangkan. Model kemudian mengakses lapisan “puitisasi” yang telah dipelajari, mengganti diksi biasa dengan yang lebih sensorial.Output Deskripsi Pasif Puitis: “Dedaunan yang layu itu dibasahi oleh keringat dingin fajar, setiap tetesnya seperti kebangkitan singkat sebelum terik menyapu.”
Langkah Prioritisasi Informasi Pasca-Transformasi Pasif
Ketika sebuah elemen kunci dalam paragraf panjang diubah ke dalam konstruksi pasif, struktur informasi seluruh paragraf perlu ditata ulang untuk menjaga koherensi dan penekanan. Berikut adalah langkah-langkah prioritisasinya.
- Identifikasi Fokus Baru: Tentukan kata atau frasa yang sekarang menjadi subjek kalimat pasif. Elemen ini harus dianggap sebagai topik utama dari klausa tersebut, dan mungkin dari beberapa klausa berikutnya.
- Susun Ulang Urutan Klausa: Klausa yang berisi subjek baru (penerima tindakan) ini sebaiknya ditempatkan di awal kalimat atau awal paragraf untuk langsung menarik perhatian pembaca kepada entitas tersebut, sebelum memberikan detail tambahan.
- Simplifikasi atau Hilangkan Agen jika Tidak Esensial: Evaluasi frasa “oleh…”. Jika pelaku sudah jelas dari konteks, tidak penting, atau sengaja ingin disembunyikan, hapus frasa agen tersebut. Ini akan membuat kalimat lebih ringkas dan fokus sepenuhnya pada keadaan subjek.
- Harmonisasikan Kalimat Berikutnya: Kalimat-kalimat setelah kalimat pasif tersebut harus konsisten mendukung atau menjelaskan lebih lanjut tentang subjek yang telah ditegaskan. Gunakan kata ganti yang tepat (“Ia”, “Benda itu”, “Tempat tersebut”) untuk menjaga kelancaran dan menghindari pengulangan yang canggung.
- Periksa Alur Logis: Pastikan perubahan fokus ini tidak memutus alur logis paragraf secara keseluruhan. Transisi dari membahas keadaan (pasif) ke membahas aksi (aktif) pada kalimat berikutnya harus dilakukan dengan kata sambung atau frasa transisi yang mulus.
Fenomena Pasif Semu dalam Percakapan Dialek Daerah yang Terancam Punah
Dalam banyak dialek daerah di Indonesia, terutama yang memiliki sistem kesantunan dan hierarki sosial yang kompleks, terdapat konstruksi gramatikal unik yang secara bentuk menyerupai kalimat pasif, tetapi fungsinya jauh melampaui sekadar mengubah fokus subjek. Konstruksi ini, yang dapat disebut sebagai “pasif semu” atau “pasif kesantunan”, sering kali digunakan bukan untuk menyembunyikan pelaku, melainkan justru untuk menghormatinya, merendahkan diri si pembicara, atau menyesuaikan diri dengan norma sosial yang ketat.
Penggunaannya yang halus ini menjadi penanda identitas budaya yang kuat, sayangnya semakin terkikis seiring dengan dominasi bahasa Indonesia baku dan berkurangnya penutur asli generasi muda. Mempelajari fenomena ini adalah upaya menyelamatkan bukan hanya kata-kata, tetapi juga cara berpikir dan berinteraksi suatu komunitas.
Misalnya, dalam beberapa dialek Jawa halus (Krama), kalimat yang secara struktural mirip pasif seperti “Buku punika dipun-ginakaken” (Buku itu digunakan) sering dipakai dalam konteks dimana pelakunya adalah orang yang dihormati. Fungsinya bukan untuk mengaburkan siapa pelakunya (yang mungkin sudah diketahui), tetapi untuk tidak secara frontal menyebut sang pelaku sebagai subjek yang “melakukan” tindakan terhadap objek, yang dianggap kurang sopan. Ini adalah strategi linguistik untuk “menjauhkan” tindakan dari pelaku terhormat.
Demikian pula, dalam berbagai dialek lainnya, bentuk serupa digunakan untuk menyatakan permintaan atau perintah secara sangat tidak langsung, sehingga terdengar lebih halus dan tidak memaksa.
Contoh Frasa Pasif Semu dari Berbagai Dialek
Berikut adalah beberapa contoh ilustratif dari berbagai dialek yang menunjukkan bagaimana konstruksi mirip pasif berfungsi dalam konteks sosial tertentu.
- Dialek Jawa (Krama Inggil): “Pintu menika dipun-tingali.” Secara harfiah: “Pintu itu dilihat.” Konteks: Digunakan untuk mempersilakan seseorang yang dihormati untuk melihat/memasuki ruangan, sebagai pengganti perintah langsung “Silakan lihat/masuk”.
- Dialek Sunda (Lembur tertentu): “Ieu buku mah dibere ka Bapa.” Secara harfiah: “Buku ini diberikan kepada Bapak.” Konteks: Frasa “dibere” (diberikan) digunakan oleh anak kepada orang tua untuk maksud “saya memberikan buku ini kepada Bapak”, sebagai bentuk pernyataan yang sangat santun dan tidak menonjolkan diri sebagai pemberi.
- Dialek Bali (Tingkat Alus): “Puniki sampun ka-pangan.” Secara harfiah: “Ini sudah dimakan.” Konteks: Dikatakan oleh pelayan atau orang yang lebih rendah statusnya kepada yang lebih tinggi, untuk melaporkan bahwa makanan telah dihabiskan (oleh tamu/atasan), tanpa perlu menyebut “Anda telah menghabiskannya”.
- Dialek Bugis (Tata Cara Sopan): “Buku iyae na issengngi.” Terdapat konstruksi dengan prefiks na- dan suffiks -i yang memberi nuansa pasif/hormat. Konteks: Bisa digunakan untuk menyampaikan bahwa sesuatu “telah dikerjakan/diambil” oleh orang yang dihormati, menekankan pada penyelesaian tugas daripada pelakunya.
Kelompok Dialek Berdasarkan Fitur Pasif Semu
Tabel ini mengelompokkan beberapa dialek berdasarkan wilayah dan menyoroti fitur pasif semu serta fungsi sosiolinguistik utamanya.
| Wilayah/ Rumpun Dialek | Contoh Dialek | Fitur Pasif Semu yang Khas | Fungsi Sosiolinguistik Utama |
|---|---|---|---|
| Jawa (Krama) | Jawa Halus (Krama Inggil) | Penggunaan prefiks dipun- + verba + suffiks -aken/-i untuk tindakan yang melibatkan pihak superior. | Penghormatan ekstrem (unggah-ungguh), menghindari penyebutan subjek pihak atasan secara langsung sebagai pelaku aktif. |
| Sunda | Sunda Priangan (Tingkat Lemes) | Penggunaan prefiks di- dengan pola tertentu untuk permintaan halus atau pelaporan tindakan sendiri kepada yang dituakan. | Kesantunan horizontal dan vertikal, perendahan diri (soméah). |
| Bali | Bali Alus Singgih | Penggunaan prefiks ka- untuk membentuk verba pasif yang sering digunakan dalam bahasa halus kepada orang yang dihormati. | Penghormatan berdasarkan kasta dan status (sor-singgih), ketidaklangsungan dalam berbicara. |
| Sulawesi Selatan | Bugis, Makassar (Tingkat Sopan) | Konstruksi dengan infiks atau kombinasi afiks (seperti na- -i, ri- -ang) yang memberikan nuansa di- atau ter- dalam konteks hormat. | Menunjukkan hierarki dan kehalusan dalam interaksi sosial, terutama dalam keluarga dan kerajaan tradisional. |
Deskripsi Situasi Adat Penggunaan Bahasa Pasif Semu
Source: kompas.com
Di sebuah rumah adat yang teduh, sinar matahari sore menyaring melalui jendela kayu berukir. Seorang pemuda, sebut saja Rama, duduk bersila di bagian ruangan yang lebih rendah, menghadap kepada sang paman yang dituakan, Pak Béh. Di antara mereka terdapat sebuah nampan perak berisi gelas teh yang telah habis dan piring kecil berisi sisa kue tradisional.
Rama, dengan suara lembut dan ritme yang dijaga, tidak langsung berkata, “Pak Béh sudah menghabiskan teh dan kuenya.” Alih-alih, dia menggunakan konstruksi pasif semu yang halus dalam dialek mereka: ” Teh jeung kuéhnya geus di-engah ku Pak Béh.” (Secara harfiah: Teh dan kuenya sudah di-engah oleh Pak Béh). Kata kerja ” di-engah” adalah bentuk halus dari “dihabiskan/dimanfaatkan”.
Dengan ucapannya itu, Rama mencapai beberapa hal sekaligus: dia melaporkan keadaan tanpa menunjuk langsung bahwa Pak Béh sebagai pelaku yang “melakukan” penghabisan, yang bisa terdengar kasar. Dia juga mengangkat status Pak Béh dengan menyebut namanya di akhir kalimat sebagai agen, sebuah bentuk pengakuan. Ekspresi wajah Pak Béh yang sedikit mengangguk dan senyum tipis menunjukkan penerimaan dan pemahaman atas kesantunan yang ditunjukkan oleh keponakannya.
Interaksi singkat ini, yang terjadi dalam balutan bahasa yang hampir punah itu, bukan sekadar tentang teh yang habis, tetapi tentang penguatan ikatan, pengakuan hierarki, dan pelestarian sebuah kode budaya yang kompleks yang diwujudkan melalui pilihan struktur kalimat yang tampak sederhana.
Penutupan Akhir
Jadi, lain kali ada yang menyuruh “ubah kalimat berikut menjadi bentuk pasif”, ingatlah bahwa kita sedang tidak hanya sekadar mengubah struktur kata. Kita sedang bermain dengan lensa perspektif. Kita memilih apa yang ingin disorot dan apa yang boleh tetap samar. Dari upaya memahami maksud seorang raja kuno hingga merancang cerita yang memikat dari sudut pandang korban, kalimat pasif adalah jembatan antara si pengucap dan si pendengar, antara penulis dan pembaca, antara manusia dan mesin.
Ia membuktikan bahwa dalam bahasa, cara mengatakan sesuatu sering kali sama pentingnya dengan apa yang dikatakan.
FAQ Umum
Apakah semua kalimat aktif bisa diubah menjadi pasif?
Tidak selalu. Kalimat yang memiliki kata kerja intransitif (tidak memerlukan objek), seperti “dia tidur” atau “awan berlalu”, tidak dapat diubah menjadi bentuk pasif karena tidak ada objek yang dapat menjadi subjek pasif.
Mengapa dalam berita sering digunakan kalimat pasif?
Kalimat pasif sering digunakan dalam berita untuk memberikan penekanan pada peristiwa atau korban yang terdampak, bukan pada pelaku. Ini juga berguna ketika pelaku tindakan tidak diketahui atau tidak penting untuk disebutkan, sehingga fokus berita tetap pada kejadian itu sendiri.
Bagaimana cara membedakan kalimat pasif sejati dengan “pasif semu” dalam percakapan sehari-hari?
Kalimat pasif sejati biasanya dapat dilengkapi dengan frasa “oleh…” untuk menunjukkan pelaku. “Pasif semu” dalam beberapa dialek lebih berfungsi sebagai penanda kesantunan atau penghormatan, dan sering kali pelakunya justru tetap menjadi subjek kalimat, hanya kata kerjanya yang berubah bentuk untuk menunjukkan sikap rendah hati.
Apakah penggunaan kalimat pasif membuat tulisan menjadi kurang jelas atau tidak efektif?
Tidak selalu. Penggunaannya tergantung konteks dan tujuan. Dalam tulisan teknis atau instruksi keselamatan, kalimat aktif sering lebih jelas karena langsung menunjukkan pelaku. Namun, dalam karya sastra atau narasi tertentu, kalimat pasif justru dapat menciptakan efek dramatik, misteri, atau empati yang lebih dalam dengan memusatkan perhatian pada penerima tindakan.